Sakura melangkahkan kakinya menuju tempat yang mungkin orang lain sebut rumah. Rasanya Sakura merasa tak cocok menyebut tempat itu sebagai rumah dan sebenarnya Sakura sudah merasa malas untuk kembali kesana. Saat Sakura sudah menginjakkan kakinya didalam rumah, mendadak Sakura merasakan sakit dikepalanya diakibatkan oleh seseorang yang menjabak rambutnya dengan sangat keras.
"Akh!" Sakura meringis kesakitan sambil berusaha memegang tangan orang yang menjabak rambutnya untuk menahan rasa sakitnya dan agar orang tersebut melepaskan cengkraman tangannya pada rambut Sakura.
"Darimana saja kau bocah? Kau pikir ini sudah jam berapa? Kau masih ingat waktu, kan?"
Sakura hanya diam, tidak memiliki niatan sama sekali untuk menjawab pertanyaan tersebut.
"Kenapa kau diam? Sudah tidak punya mulut lagi untuk menjawab? Oh, iya, kau tahu saat ini aku sedang membutuhkan uang untuk bersenang-senang tapi uangku sudah habis. Apakah kau punya uang, hm?"
Masih dengan menjambak rambut Sakura, pria dengan mulut berbau alkohol itu mendekatkan wajahnya kehadapan Sakura.
"Cih, meskipun aku mempunyai uang, aku tidak sudi untuk memberikannya padamu."
"Kau bilang apa?"
"Apakah kau sudah mulai tuli, tua Bangka!"
"KAU - "
Dengan sekuat tenaga pria itu menampar Sakura dengan keras, menimbulkan suara debaman yang sangat keras saat tubuh Sakura bertemu dengan lantai kayu rumahnya.
"Aku sudah cukup berbaik hati selama ini bocah. Dan untuk kali ini kau sudah menghilangkan batas kesabaranku."
Pria tersebut memaksa Sakura untuk berdiri dengan menarik rambutnya.
"Aku tahu harus membawamu kemana untuk membuatmu jera dengan sikapmu. Setidaknya akupun bisa mendapatkan uang dari sana."
Dengan menyeringai, pria berambut hitam panjang tergerai itu menyeret Sakura menuju pintu keluar.
"Lepaskan aku, brengsek!"
.
.
.
You Found My Life
Naruto © Masashi Kishimoto
Pairing : Uchiha Sasuke x Haruno Sakura
Rated T
Genre : Hurt and comfort
Warnings : AU, OOC, Typo, dll
.
.
.
Sasuke dan Naruto sedang berjalan menuju rumah mereka masing-masing. Tidak begitu banyak percakapan yang mereka berdua lakukan, karena sepertinya, keduanya sedang sibuk dengan pemikiran mereka sendiri.
Terlihat Naruto seperti selalu mencoba mengatakan sesuatu pada Sasuke, hanya saja selalu diurungkan niatnya tersebut, hingga akhirnya Sasuke mulai melihat gelagat sahabatnya yang aneh.
"Ada apa?" Dan Sasuke memutuskan untuk memancing percakapan diantara mereka.
"Eh? Ada apa, apanya?" Naruto yang masih menimbang-nimbang antara memberitahu Sasuke atau tidak justru dikagetkan dengan pertanyaan Sasuke barusan.
Sasuke masih dengan pandangan lurus kedepan. "Gelagatmu aneh."
"Eh, aneh apanya? Biasa saja kok."
Sasuke melirik Naruto yang berjalan disampingnya. "Jika ada yang ingin dikatakan, katakana saja."
Naruto mencoba mencerna perkataan Sasuke, yah sepertinya Naruto lupa bahwa Sahabat disampingnya ini tidak mudah ditipu. Sampai akhirnya, Naruto mencoba memberanikan diri. Meskipun mungkin pertanyaannya ini akan sedikit mengejutkan sahabatnya.
"Sebenarnya saat dikoridor tadi, aku mendengar percakapanmu dengan Haruno. Semuanya."
Saat Naruto menyelesaikan kata-katanya dengan perasaan tidak nyaman, Sasuke berhenti berjalan. Dilihatnya lampu jalan masih berwarna merah untuk pejalan kaki.
"Hn."
"Kau marah?"
"Untuk? Lagipula aku tahu kalau kau ada disana." 'Aku diam karena aku tahu kau pasti bisa menjaga rahasia ini, Dobe' Lanjut Sasuke dalam hati
"Eh? Oh kau tahu ya? Lalu apa Haruno punya masalah dan hanya kau saja yang mengetahuinya?" Naruto mencoba lebih berani untuk bertanya.
"Ya, sebenarnya tidak juga. Aku tidak tahu dia punya masalah apa."
"Oh jadi begitu ya."
"Tapi Naruto, kau tahukan? Kau harus mrahasiakan ini?"
Naruto menoleh kearah Sasuke dan menunjukkan cengirannya. "Tentu saja."
Mereka berdua kembali berjalan saat lampu penyebrangan berubah warna menjadi hijau.
.
"Sachan kau ada didalam?"
Itachi memasuki kamar Sasuke saat Sasuke sedang berkutat dengan pekerjaan rumahnya.
"Kak, sudah kukatakan berapa kali, ketuk pintu dulu sebelum masuk dan berhenti memanggilku seperti itu."
Namun perkataan Sasuke sepertinya hanya masuk telinga kanan dan langsung keluar ke telinga kiri bagi Itachi.
"Apa kau sedang sibuk?" Itachi melongokkan kepalanya untuk melihat apa yang sedang dikerjakan oleh adiknya.
"Tidak begitu. Ada apa?"
"Ibu menyuruhku untuk membeli sesuatu di supermarket dan aku tidak mau pergi sendiri. Pasti merepotkan jika membawa semua belanjaan sendiri" Setelah puas melihat kegiatan adiknya, Itachi mendudukkan dirinya dikasur Sasuke.
"Hah, kakak ini bukan anak kecil, pergilah sendiri."
"Oh aku bisa pergi sendiri, tapi aku tidak akan membelikan tomat. Ibu bilang persedian tomatmu habis."
Skak mate.
Sasuke berhenti menggerakkan alat tulisnya, sesaat melihat kearah kakaknya yang sedang menyeringai dengan pandangan menyebalkan.
"Kalau begitu keluar sekarang, aku akan menyusul."
Dengan senyum kemenangan, Itachi meninggalkan kamar Sasuke. Hh, menyenangkan sekali menggoda sang adik tercinta.
"Ibu aku dan Sasuke pergi dulu." Itachi mengatakannya sebelum keluar dari rumah sedangkan Sasuke sudah berdiri didepan pagar rumah mereka.
"Iya, hati-hati." Mikoto menjawab dari dalam rumah.
Setelah memastikan pintu rumah tertutup, Itachi melangkahkan kakinya kearah Sasuke yang sudah menunggunya di depan pagar. Saat Itachi sudah berada didepannya, Sasuke juga melangkahkan kakinya menuju supermarket.
Ya, bisa dibilang supermarket yang dimaksud Ibunya tidak begitu jauh dari daerah komplek milik mereka, mungkin hanya sekitar 30 menit jika berjalan. Lagipula sebelumnya Sasuke sudah mengusulkan kepada kakaknya untuk memanggil taksi, tapi kakak tersayangnya justru menolak dengan alasan pengiritan.
"Sasuke?" Itachi membuka percakapan diantara mereka berdua.
"Hn"
"Kau ini. Tanggapanmu dingin sekali." Itachi menghela nafas mendramatisir.
"Ada apa?" Sasuke menolehkan sedikit kepalanya untuk melihat Itachi yang berjalan disampingnya.
"Begini, kau tahu keluarga Yamanaka?"
Sasuke mencoba mengingat nama keluarga yang baru saja disebutkan oleh Itachi barusan. Oh, keluarga yang memiliki toko bunga diujung komplek mereka.
"Ya, aku tahu. Memangnya ada apa?"
"Kepala keluarga Yamanaka sekarang sedang membutuhkan karyawan untuk toko bunganya. Katanya, belakangan ini tokonya semakin ramai dan banyak yang meminta kirim antar bunga. Sedangkan karyawan ditempatnya sekarang hanya ada tiga orang termasuk putri Yamanaka sendiri."
"Lalu?"
"Ya, Dia memintaku untuk mencari karyawan tambahan untuk tokonya."
Sasuke mendelik kearah Itachi. "Oh, jadi maksudmu kau memintaku untuk menjadi karyawan di toko bunga Yamanaka begitu?"
Itachi menoleh kearah Sasuke. "Benar! Wah kau ternyata sangat peka ya?"
"Dalam mimpimu! Aku tidak akan pernah melakukannya." Dan Sasuke mempercepat langkah kakinya meninggalkan Itachi yang sedang tawa terbahak-bahak.
"Hei Sasuke." Itachi berlari kecil menyusul Sasuke.
"Aku hanya bercanda. Kau ini malah dibawa serius." Itachi mengatakannya masih sambil memegang perutnya yang sakit. Ya ampun, mudah sekali untuk menggoda adiknya ini.
"Tidak lucu." Sasuke membalasnya dengan sinis.
"Oke. Jadi sebenarnya aku ingin meminta bantuanmu untuk mencarikan karyawan itu. Putri pemilik bunga tersebut siapa ya namanya? Eng.. oh Yamanaka Ino, menginginkan karyawan perempuan dan seumuran dengannya atau seumuran denganmu, karena dua karyawan yang lainnya itu laki-laki dan bisa dibilang lebih tua darinya. Katanya dia sering bosan kalau tidak ada teman mengobrol."
"Dan kau pikir aku punya teman perempuan yang kau maksud?"
Itachi menolehkan-lagi-kepalanya kearah Sasuke. "Benar. Kau kan memiliki banyak fangirl disekolahmu, mungkin saja kau bisa merekerut salah satu diantara mereka yang memang ingin bekerja sampingan."
"Lupakan saja. Aku tidak punya." Dan Sasuke meninggalkan-lagi-Itachi yang sedang menahan tawanya masuk ke supermarket.
.
Saat ini Sasuke sedang menunggu diluar Suermarket, sedangkan Itachi sedang membayar belanjaan mereka. Sasuke mengedarkan pandangannya ke sekitar supermarket. Ini memang sudah malam jadi tidak aneh jika jalanan sudah sepi begini, ditambah letak supermarket yang memang tidak begitu dekat dengan jalan utama.
"Lepaskan!"
Sasuke seperti mendengar suara teriakan tertahan tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Sasuke mengedarkan pandangannya dan saat melihat kearah yang tidak begitu jauh dari supermarket, disana terlihat samar-samar karena tempat tersebut tidak terkena lampu jalan, seorang perempuan yang dipaksa memasuki mobil yang ada disamping jalan.
Itachi yang sudah selesai mebayar belanjaan mereka segera menghampiri Sasuke.
"Sasuke ayo pulang."
Namun Sasuke tidak menanggapi dan tetap memperhatikan kejadian tersebut. Itachi yang tidak mendapatkan tanggapan dari Sasuke, mengikuti arah pandangan Sasuke. Itachi pun mulai memahami situasi yang ada dihadapannya. Dan saat kedua orang tersebut terkena sorotan lampu, Sasuke terperanjat mengetahui siapa perempuan yang sedang dipaksa memasuki mobil tersebut. Dan tanpa pikir panjang Sasuke segera berlari menuju kedua orang tersebut.
"Oy Sasuke. Mau kemana? Itu berbahaya. Hei Sasuke!" Itachi yang melihat tingkah Sasuke langsung mengambil ponselnya dan menghubungi penggilan darurat. Setelah selesai Itachi segera menyusul Sasuke dan meninggalkan belanjaannya didepan supermarket.
Sasuke yang sudah berada didepan kedua orang tersebut, "Hei apa yang sedang kau lakukan?"
Pria yang sebelah tangannya tadi sedang membekap mulut perempuan yang sedang membelakakan matanya melihat Sasuke, segera menoleh kearah Sasuke.
"Siapa kau bocah?"
"Lepaskan dia." Tanpa menghiraukan pertanyaan pria tersebut, Sasuke menatap pria tersebut dengan tajam dan dingin. Dan sepertinya hal tersebut sedikit berhasil saat pegangan pada perempuan tersebut mengendur.
Kesempatan tersebut tidak disia-siakan oleh perempuan yang ada dalam bekapan pria jangkung tersebut. Perempuan tersebut segera mengggit tangan dan menginjak kaki pria tersebut, sehingga dia terbebas dan segera menjauhi pria tersebut.
"Ugrh, bocah sialan! Kemari kau!"
Mengetahui Pria tersebut akan mengejarnya, peremuan tersebut segera berlari menjauh meskipun dengan tertatih-tatih. Namun jalan pria tersebut terhalang oleh badan tegap Sasuke yang mendadak ada dihadapannya, sedangkan perempuan tersebut bertubrukan dengan badan tegap Itachi.
"Sebaiknya kau segera pergi dari sini karena aku tidak ingin mengotori tanganku hanya untuk orang sepertimu." Sasuke masih memberikan tatapan mebunuh kepada pria tersebut.
"Heh, kau pikir kau siapa bocah! Berani menghalangi ja-"
Namun pria tersebut tidak berhasil melanjutkan ucapannya saat mendengar bunyi sirine polisi yang kian mendekat.
"Orochimaru, kita harus cepat. Sudah tidak perlu urusi mereka."
"Cih." Dan dengan itu Orochimaru meninggalkan Sasuke dengan meninggalkan pesan "Kau akan terima balasannya bocah tengik."
Sasuke segera menuju kearah kakaknya dan perempuan tersebut. Terlihat bahwa sepertinya perempuan tersebut memiliki cukup banyak luka disekitar tangan dan kakinya.
Itachi masih tetap berusaha menjaga perempuan dihadapannya. "Kau baik-baik saja?"
Namun sepertinya hal tersebut tidak berhasil dijawab oleh perempuan tersebut karena beberapa saat setelahnya perempuan tersebut sudah kehilangan kesadarannya.
"Hey!" Itachi kaget saat mengetahui bahwa beban perempuan tersebut semakin berat.
"Kita harus segera membawanya kerumah." Sasuke memberi usulan pada kakkanya.
Itachi menganggukkan kepalanya dan segera memberhentikan taksi yang kebetulan lewat didepan mereka.
Sasuke menggendong perempuan tersebut dipunggungnya dan segera berlari kearah taksi sedangkan Itachi mengambil belanjaan mereka yang ada di depan supermarket dan berjalan memasuki taksi.
HAHAHA 24 REVIEW? MAKASIH BANGET. KALIAN BENER-BENER #MENGHAPUS AIR MATA.
DAN CHAPTER 4 UDAH UPDATE HORE. Semoga bisa mengobati penantian kalian hehe. Oh iya sekedar untuk pemberitahuan. Saya akan mengupdate setiap chapter selanjutnya dalam jangka waktu seminggu!(Ga akan lebih dari seminggu) Karena ya ini salah saya juga karena mengpublish cerita yang belum selesai. Maaf-maaf ya. dan emang cerita ini alurnya lambat. tapi sih aku punya planing crita ini ga akan lebih dari 10 chapter. hehe
RnR? please
