THE TALES

Disclimer : Segala sesuatu yang berhubungan dengan Harry Potter didalam cerita ini adalah milik JK. Rowling.

Sore itu, Jimmy dan Neville sedang duduk di ruang keluarga sebuah bangunan kuno di daerah pedalaman hutan Skotlandia. Di depan mereka, kayu-kayu berderak dilalap api dalam perapian. Tiga cangkir teh dan beberapa potong makanan terhidang pada sebuah meja kecil di samping mereka.

Sementara, tak ada yang bicara. Mereka menikmati kesunyian yang hangat ini sambil menatap api karena salju diluar jauh lebih tebal daripada di daerah dari mana mereka baru saja tiba. Disini nafas seolah langsung membeku didalam paru-parumu jika kau nekat keluar tanpa mantel tebal.

Di dalam ruangan itu, tak ada sesuatu yang istimewa. Perkakas dan hiasan dindingnya hanya berupa koleksi yang menyimpan kenangan dari masa lalu. Jumlahnya pun hanya beberapa saja. Tapi, ada yang membuat bangunan kecil itu terasa begitu istimewa, terlebih untuk Jimmy dan Neville, yaitu penghuninya.
Seorang lelaki tua berkacamata bundar dengan rambut hampir putih sempurna masuk kedalam ruangan itu dengan membawa sepelukan kayu bakar. Jimmy dan Neville menoleh lalu keduannya bangkit untuk membantu si kakek tua meletakkan kayu-kayu itu.

"Ah, tidak perlu." Tolaknya sambil tersenyum tulus, lalu meletakkan kayu-kayunya sendiri. "Duduklah, aku sudah biasa melakukan ini sendiri."

Kedua orang tamu itu tak bisa menolaknya karena memang pekerjaan itu terlihat sangat mudah di kerjakan oleh sang lelaki tua, dan ia telah menyelesaikannya. Namun begitu, Jimmy tidak segera duduk kembali seperti yang dilakukan Neville. Ia bersikeras membantu si kakek menambahkan kayu kedalam perapian agar panasnya mampu memberikan kehangatan yang lebih.

Harry Potter berdiri lalu mengacak rambut cucu kesayangannya itu. Ya, Lelaki tua itu adalah Harry Potter yang telah pensiun dari tugasnya sebagai Auror dan kini ia mengasingkan diri di sebuah pedalaman hutan di Skotlandia setelah meninggalnya Ginny hampir lima tahun yang lalu.

Tubuh lelaki itu kini renta di makan usia walau badannya masih terlihat segar dan tenaganya belum nampak berkurang. Kumisnya yang tidak terlalu tebal serta jenggot yang tetap dirawat dengan baik kini hampir sepenuhnya telah memutih. Wajahnya cerah dengan senyum mengembang yang sangat meneduhkan walaupun bekas-bekas luka peninggalan masa lalunya yang keras masih nampak terpeta disana.

Jimmy bangkit setelah cukup memasukkan kayu kedalam perapian lalu berdiri di samping kakeknya. Neville yang memandang mereka tersenyum lalu meneguk tehnya yang masih mengepul sebelum berkata dengan sedikit kelakar.

"Kau luar biasa mirip dengan kakekmu Jimmy." Katanya sambil mengedip. "Kecuali rambutmu, kau memiliki rambut nenekmu!"

Harry tertawa mendengar itu. Kemudian setelah sekali lagi mengacak rambut cucunya, ia mengambil tempat duduk di sebelah Neville.

"Kau membuatku teringat tahun-tahun pertama kita di Hogwarts Neville." Kata Harry dengan senyum yang masih mengembang. Sementara Jimmy duduk di sisi lain Neville.

"Ya," Jawab Neville. "Aku juga masih teringat dengan jelas pada masa-masa dimana orang-orang tua sering mengatakan padamu bahwa kau luar biasa mirip dengan ayahmu..."

"Tapi aku memiliki mata ibuku.." Potong Harry.
Keduanya tertawa lepas mengenang masa-masa lampau ketika Harry dan Neville berada dalam tahun-tahun awal pendidikan mereka di Hogwarts. Dengan seru mereka membicarakan bagaimana Neville pernah menghilangkan Remembralnya yang anehnya justru membuat Harry mendapatkan posisi sebagai Seeker termuda. Lalu mereka juga tertawa cukup keras ketika Neville menceritakan kepada Jimmy tentang bagaimana Hermione menyerangnya dengan kutukan ikat tubuh sempurna saat ia mencoba mencegah Harry, Ron dan Hermione meninggalkan asrama selepas jam malam.

Pembicaraan itu tak dapat dihentikan sampai harry ingat bahwa sudah waktunya bagi mereka untuk makan malam. Harry segera bangkit untuk pergi ke dapur menyiapkan segalanya. Tapi Jimmy dan Neville tak dapat dicegah lagi, mereka berdua berkeras untuk membantu Harry menyiapkan makan malam mereka.

Bulir-bulir salju pada daun-daun akasia disamping rumah itu berguguran ditanah karena terusik oleh seekor jembalang yang nekat mengungsi di atas ranting. Sementara suara malam seolah beku terkubur oleh salju yan menumpuk disana-sini, menembus dedaunan hutan yang sebenarnya cukup lebat.

Ketika malam merayap semakin dalam, Jimmy dan Neville kembali mengajukan kepada Harry topik yang telah mereka bicarakan sejak awal kedatangan mereka siang tadi. Tentang malapetaka yang sedang menyelimuti negeri ini oleh dendam kesumat seorang penyihir hitam yang mengaku keturunan satu-satunya Tom Riddle Jr, sang Pangeran Kegelapan.

"Baru kali ini aku tau bahwa Voldemort mempunyai keturunan." Kata Harry serius setelah mendengar sekali lagi beberapa tragedi yang diceritakan dengan sangat antusias oleh Jimmy dan sesekali dibantu oleh Neville. "Ku pikir ia adalah seorang lelaki yang tak mengerti, apalagi memiliki cinta. Sehingga sangat mustahil bagi Voldemort berfikir untuk memiliki keturunan."

"Orang lain pun tak ada yang pernah menyangkanya demikian Harry." Jawab Neville.

"Tapi kek," Lanjut Jimmy. "Menurut mata-mata yang berhasil diselundupkan oleh Neville, Lelaki itu, yang mengaku Sang Pewaris Kegelapan..."

"Tunggu," Potong Harry. "Siapa sebenarnya nama lelaki itu?"

"Tak ada yang tau siapa persisnya nama lelaki itu kek." Jawab Jimmy. "Menurut informasi yang berhasil kami kumpulkan, generasi baru pelahap maut yang mendukungnya pun tak ada yang tau siapa sebenarnya nama pemimpin mereka itu."

"Apa lagi informasi yang kalian dapat?" Desak Harry ketika rasa ingin tau mulai menyergap jantungnya.

Jimmy berdehem sekali sambil menoleh kearah Neville yang memberikan senyuman menentramkan.

"Neville ini kebetulan mendapat kesempatan untuk berbincang dengan salah satu mantan pelahap maut Voldemort yang sampai sekarang masih hidup dan di bebaskan oleh kementrian sihir. Mantan Pelahap maut itu adalah Lucius Malfoy. Sudah sangat tua memang. Tapi dia masih hidup dan sehat."
Harry mengernyit mendengar nama itu, tapi tak ada reaksi lain. Maka Jimmy melanjutkan ceritanya.

"Lebih dari limapuluh tahun yang lalu, saat Voldemort kembali berada dalam masa kejayaanya dan mengetahui bahwa salah satu Horcrux yang ia titipkan kepada Mr. Malfoy berhasil dihancurkan, ia mengutus Mr. Malfoy ke Albania untuk menjemput seorang wanita yang pernah merawatnya saat Vodemort dalam pengasingan karena kegagalannya membunuh kakek ketika masih bayi." Jimmy mengambil nafas sejenak untuk melihat keseriusan di wajah kakeknya.

"Saat itu Mr. Malfoy diperintahkan menjemput si wanita untuk dibawa kerumahnya karena Malfoy Manor waktu itu di fungsikan sebagai Markas Voldemort dan para Pelahap Mautnya."

Harry masih ingat keadaan Malfoy Manor kala itu. Dan ia ingat dengan jelas saat-saat dimana Hermione mendapatkan luka permanen di tanggannya berupa tulisan "Mudblood" yang diukir oleh Bellatrix Lestrange.
"Ketika Mr. dan Mrs Malfoy mengantarkan makanan untuk si wanita yang di tempatkan dalam ruangan khusus, ternyata Voldemort sedang menemuinya. Dan tanpa sengaja, mereka berdua mendengar percakapan antara Voldemort dan si wanita walau hanya beberapa potong kalimat saja. Tapi menurut Mr. Malfoy, yang beberapa potong kalimat itu adalah inti dari sebuah pembicaraan rahasia antara Voldemort dan si wanita. Bahkan mereka yakin bahwa Voldemort tak akan membiarkan mereka hidup lagi jika ia tau pembicaraannya dengan si wanita dicuri dengar."
"Dalam pembicaraan itu, Voldemort mengatakan kepada si wanita bahwa ia ingin menitipkan sebuah "senjata" untuk melakukan pembalasan jika sesuatu kelak terjadi padanya. Senjata yang hanya bisa dititipkan kepadanya, senjata yang akan menjadi pengganti dirinya dimasa depan jika misi yang sedang dijalankannya gagal. Voldemort khawatir bahwa kepala sekolah Hogwarts kala itu telah mengetahui rahasianya yang paling dalam untuk menghancurkannya selamanya."

Suasana hening. Hanya angin dan salju yang tetap merajai nyanyian malam saat ini.

Harry merenungkan apa yang baru saja di ceritakan cucunya. Baginya, kabar bahwa Voldemort mempunyai keturunan adalah hal yang sangat tidak mungkin. Tapi "Sebuah Senjata, Sebuah pengganti diri di masa depan". Apakah Lucius Malfoy benar-benar menyimpulkan kata-kata Voldemort itu dengan tepat? Lalu apa yang bisa kulakukan? Apakah keberuntungan yang dulu selalu menyertaiku masih tetap tinggal dalam diri ini?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus mengikuti Harry Potter bahkan sampai saat Jimmy dan Neville meminta diri untuk bergabung dengan pasukan Auror yang sedang menyiapkan pertahanan mereka di London.

September, 20th 2011 2.00 - 05.30a

-masih nyambung-