"Pelarian"
Remake Story by Astrella
Park Chanyeol
Byun Baekhyun (GS)
Others
[Chanbaek]
.
.
.
.
.
.
Putri Baekhyun begitu marah saat mengetahui Ayahnya Yang Mulia Raja Kyuhyun menjodohkannya dengan pemuda yang tak pernah di kenalnya. Dengan kekesalan hati akhirnya sang tuan putri melarikan diri dari istananya yang serba mewah. Namun siapa sangka, perjalanannya malah terdampar di kastil sang tunangan. Chanyeol. Dengan berpura-pura sebagai gadis yang kehilangan ingatan, sang putri akhirnya memulai petualangannya dengan riang. Ternyata kebebasan di luar istana begitu memikatnya. Alam bebas, pohon-pohon, kicau burung dan padang rumput mengiringi kisah cinta sang putri yang biasanya penat oleh tugas-tugasnya sebagai putri mahkota.
.
.
.
.
.
.
Tepat seperti yang diramalkan Kris, hingga hari pertunangannya, Baekhyun masih belum ditemukan. Tentu saja hal ini membuat Raja Kyuhyun semakin marah. Tetapi Raja sendiri juga tahu tidak ada yang dapat dilakukannya selain menunda pesta tersebut.
"Jadi hingga hari ini Baekhyun belum ditemukan," kata Raja.
"Maafkan kami, Paduka. Kami telah mencari Tuan Puteri ke seluruh tempat tetapi hingga kini kami belum menemukan Tuan Puteri," kata Kris sambil membungkuk dalam-dalam.
Raja Kyuhyun menatap Kris. "Lupakan saja. Sekarang tidak ada yang dapat kita lakukan selain menunda pesta pertunangan itu. Baekhyun memang suka membuat masalah."
Kris diam menanti perintah selanjutnya dari Raja.
"Sebarkan perintah pencarian Baekhyun," kata Raja Kyuhyun,
"Sebelumnya sampaikan suratku kepada Duke of Kryntz."
Kris terkejut melihat Raja mengeluarkan secarik surat dari sakunya. Rupanya Raja juga merasa ia tidak akan dapat menemukan putrinya tetapi ia tetap menyuruh semua orang mencoba untuk menemukan Baekhyun. Walaupunia tidak berhasil, setidaknya ia telah mencoba. Kris mengagumi sikap Raja. Ia mengambil surat itu dari tangan Raja.
"Sampaikan juga permintaan maafku yang sedalam-dalamnya," kata Raja pada Kris.
Kemudian Raja memalingkan kepalanya kepada Menteri Dalam Negeri, Jungsoo. "Sebarkan pengumuman penundaan pesta pertunangan ini kepada seluruh undangan."
"Baik, Paduka," jawab Jungsoo sambil membungkuk.
"Dan jangan kau bongkar ruang yang telah dipersiapkan. Biarkan ruang itu apa adanya karena begitu Baekhyun ditemukan, aku akan segera melangsungkan pesta pertunangannya sehingga ia tidak dapat kabur lagi."
Sekali lagi Jungsoo membungkuk sambil berkata, "Baik, Paduka."
"Sebarkan prajuritmu ke seluruh pelosok Kerajaan Lyvion,Kangin. Jangan sampai ada yang terlewatkan."
Menteri Pertahanan yang mendapat tugas itu membungkuk dan berkata, "Baik, Paduka."
"Sekarang lakukan perintahku."
"Baik, Paduka," kata mereka serempak.
.
.
.
.
.
Kris segera menuju kediaman Duke of Kryntz. Ketika Kris sampai di sana, ia tidak menyadari sepasang mata hijau tengah mengawasinya dari atas pohon. Mata hijau itu bersinar penuh
kemenangan.
"Apa yang membuatmu kemari, Kris?" sambut Changmin.
Kris tersenyum. "Apa lagi selain perintah Paduka?"
Changmin terkejut. "Apakah terjadi sesuatu yang serius di Istana Urza?"
"Dapat dikatakan seperti itu."
"Apa yang terjadi?"
"Sebaiknya kau membaca surat ini."
Setelah membaca surat itu, Changmin tidak mengatakan apa-apa. Ia berkata kepada istrinya, "Panggilkan Chanyeol. Kurasa ia pasti tertarik mendengar hal ini."
Victoria segera meninggalkan ruangan itu.
"Kau mau minum apa?"
"Tidak, terima kasih."
Kris merasa heran melihat sikap Changmin yang tenang itu. Semula ia menduga Changmin akan sangat terkejut tetapi apa yang dilihatnya sekarang benar-benar bertentangan dengan apa yang dipikirkannya. Changmin terlihat sangat tenang seperti tidak terjadi apa-apa. Padahal masalah ini menyangkut pertunangan putranya. Untuk menghilangkan kesunyian, Changmin berkata,
"Bagaimana keadaan Raja Kyuhyun?"
"Raja Kyuhyun baik-baik saja."
"Apakah ia sudah tidak terguncang lagi karena kematian Ratu?"
Kris menghela napasnya. "Kurasa sampai saat ini Raja masih saja merasa terguncang tetapi Tuan Puteri sudah tidak lagi. Sepertinya Tuan Puteri telah melupakan kematian ibunya."
"Saat itu Putri Baekhyun masih kecil. Ia pasti dengan cepat melupakan ibunya," kata Changmin.
"Siapa yang dapat menduga, Ratu yang selalu sehat tiba-tiba meninggal karena sakit," kata Kris, "Dan malang sekali Ratu meninggal di Castil ini."
Changmin hendak mengatakan sesuatu ketika pintu Ruang Duduk terbuka. Victoria muncul beserta kedua putranya.
"Duduklah, Chanyeol," kata Changmin, "Aku mempunyai berita untukmu."
Chanyeol mendekati ayahnya. Ketika ia sudah dekat, Changmin menyodorkan surat Raja Kyuhyun kepadanya. Chanyeol menerima surat itu dan membacanya.
"Tidak mungkin?" tanya Chanyeol tidak percaya.
"Apa yang telah terjadi?" tanya Victoria ingin tahu.
"Putri Baekhyun kabur dari Istana Urza," kata Changmin memberi tahu.
"Oh…," kata Victoria sambil menutupi mulutnya.
Mereka memandang wajah Kris yang sudah siap dengan serentetan pertanyaan.
Sebelum setiap orang memberinya pertanyaan, Kris berkata, "Kemarin lusa Putri Baekhyun menghilang. Tidak seorangpun yang dapat menemukannya baik di dalam maupun di luar Istana Urza. Juga tidak seorangpun yang melihat kepergian Tuan Puteri."
"Hebat!" seru Sehun kagum, "Seperti ditelah bumi."
"Itulah yang selalu dikatakan Hana. Putri Baekhyun memang selalu begitu setiap kali ia menghilang tidak seorangpun yang dapat menemukannya. Ia hilang dan muncul seperti disihir."
Sehun berseru kagum. "Wow! Aku ingin belajar bersembunyi darinya."
"Kalian belum menemukannya?" tanya Changmin.
"Sejak Putri hilang, kami telah berusaha mencarinya tetapi hingga saat ini kami tetap tidak berhasil. Raja Kyuhyun marah sepanjang hari karenanya. Dan hari ini ia mengadakan pencarian besar-besaran. Semua prajurit dikerahkannya untuk mencari Tuan Puteri bahkan seluruh penduduk Kerajaan Lyvion."
"Itu artinya pesta pertunangan mereka ditiadakan?" tanya Victoria.
Kris mengangguk.
"Kau beruntung, Chanyeol. Tunanganmu kabur sehingga pertunangan kalian batal," kata Sehun.
"Tidak. Bukan begitu maksudku," Kris cepat-cepat membenarkan kata-kata Sehun, "Begitu Putri ditemukan, Paduka akan segera melangsungkan pesta pertunangan mereka."
"Pertunanganmu tidak jadi batal, Chanyeol," kata Sehun mengumumkan.
"Tetapi mungkin saja pertunangan itu batal," kata Kris, "Tidak seorangpun dapat menemukan Putri Baekhyun bila ia telah bersembunyi."
Kris tiba-tiba teringat sesuatu. "Paduka meminta maaf yang sedalam-dalamnya atas penundaan pesta pertunangan ini."
Changmin tersenyum. "Tidak apa-apa. Kami mengerti."
"Tugas pertamaku telah selesai. Sekarang aku harus segera kembali untuk menyelesaikan tugas keduaku."
"Kami tidak akan menghalangimu. Kami mengerti dengan menghilangnya Putri Baekhyun ini, engkau mempunyai banyak tugas," kata Changmin.
Merasa ia telah menyelesaikan tugasnya, Kris bangkit. "Kurasa aku telah menyampaikan semua pesan Paduka."
"Terima kasih, Kris," kata Changmin.
.
.
.
.
.
Dari tempat duduknya, Baekhyun melihat Changmin mengantarkan Kris hingga ke pintu depan. Baekhyun tersenyum puas melihat Kris telah pergi. Ia senang sekali telah berhasil membatalkan pesta pertunangan konyolnya. Baekhyun yakin tidak akan ada orang yang akan mencarinya di Castil Q`arde.
"Sekarang aku mempunyai sayap seperti kalian dan dengannya aku akan mengelilingi dunia." Membayangkan ia berjalan-jalan ke bukit yang selalu dilihatnya dari puncak menara membuat Baekhyun semakin senang. Tanpa pengawal. Tanpa tugas rutin. Tanpa larangan setiap orang. Dan yang lebih penting tidak seorangpun yang akan mengenalnya. Tidak akan ada orang yang mengenalnya sebagai Baekhyun. Mereka hanya tahu ia adalah gadis yang hilang ingatan yang bernama Rosse.
Setelah bertemu dengan Chanyeol sendiri, Baekhyun masih merasa pria itu adalah pria yang paling membosankan. Pria itu sama sekali tidak peduli apa yang terjadi di sekelilingnya. Bagaimana ia akan peduli terhadap istrinya? Baekhyun juga tidak mau mengakui pria itu adalah pria yang menarik walaupun Baekhyun mengakui pria itu tampan.
Melihat langit telah cerah, Baekhyun memutuskan untuk melihat apakah Jackson sudah bangun. Dengan hati-hati Baekhyun memanjat turun pohon itu. Tiba-tiba ada sepasang tangan yang memegang pinggang Baekhyun ketika ia hampir sampai di tanah. Baekhyun terkejut. Orang itu mengangkatnya dari batang pohon dan menurunkannya tepat di depannya. Baekhyun terkejut melihat wajah Chanyeol berada di dekatnya.
"Terima kasih," katanya gugup.
Chanyeol tersenyum sinis. "Sudah menjadi kebiasaanmu?" katanya sambil memandang puncak pohon.
Baekhyun menyadari tangan pria itu belum beranjak dari pinggangnya.
"Bisa kau melepaskan tanganmu?" tanyanya sopan namun tajam. Chanyeol segera menarik tangannya dari pinggang Baekhyun.
"Terima kasih," kata Baekhyun sambil berlalu.
Tetapi Chanyeol tidak melepaskan Baekhyun begitu saja. Chanyeol menangkap lengan gadis itu. "Apa yang dapat membuatku yakin kau tidak akan melakukan kebiasaanmu yang berbahaya itu?"
"Lepaskan aku!" kata Baekhyun.
"Ke mana kau akan pergi?"
"Aku tidak akan memanjat pohon lagi. Saat ini aku ingin melihat Jackson," kata Baekhyun sambil menyentakkan lengannya.
Begitu lengannya terlepas dari pegangan Chanyeol, Baekhyun segera berlari ke dalam Castil Q`arde. Baekhyun tahu pria itu mengikutinya tetapi ia tidak peduli. Ia tidak suka pria itu menemukan ia tengah menuruni pohon. Chanyeol tidak berusaha mengejar maupun menahan Baekhyun. Ia hanya berjalan di samping Baekhyun.
"Kau harus berjanji dulu padaku. Kau tidak akan melakukan kebiasaanmu yang berbahaya itu," kata Chanyeol.
"Berbahaya?" tanya Baekhyun santai.
"Apa kau tidak menyadari kau dapat jatuh dan terluka bila terus-menerus memanjat pohon seperti itu," kata Chanyeol, "Aku tidak tahu apa yang terjadi bila aku tidak menemukanmu turun dari pohon itu."
"Akan menjadi berbahaya bila kau mengejutkanku seperti itu," kata Baekhyun tajam, "Lagipula mengapa kau sibuk mengurusi aku? Bukankah masih banyak yang dapat kau lakukan? Pekerjaanmu yang membosankan itu, misalnya."
"Aku tidak melakukannya demi dirimu," balas Chanyeol tak kalah tajamnya, "Aku melakukannya karena aku tidak ingin kau mempengaruhi kemenakanku. Sejak kemarin ia tampak kagum dengan tindakan penyelamatanmu."
"Sudah kuduga," kata Baekhyun santai, "Bagaimana mungkin manusia yang paling acuh sepertimu akan mengurusi masalah selain tanggung jawab, tugas dan entah apa lagi pekerjaan yang membosankan."
"Aku mengingatkanmu untuk tidak mempengaruhi Jackson," kata Chanyeol memperingati.
Baekhyun mengabaikan peringatan itu. "Itu tidak ada dalam rencanaku." Chanyeol tiba-tiba berhenti. Ia menangkap lengan Baekhyun.
Baekhyun memandang tajam Chanyeol. "Lepaskan aku!"
"Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau berjanji padaku," kata Chanyeol tajam.
Pandangan mata Chanyeol yang tajam membuat Baekhyun merasa kecil dan itu membuat Baekhyun semakin merasa jengkel pada tunangannya itu. Baekhyun tidak suka pada segala macam perasaan yang ditimbulkan pria itu.
"Baiklah, aku berjanji," kata Baekhyun jengkel.
"Bagus," kata Chanyeol puas.
Baekhyun merasa semakin membenci pria itu ketika ia melihat sinar kemenangan di matanya. Dengan marah ia menyentakkan lengannya. Bagi Baekhyun cukup sekian saja ia berada di dekat Chanyeol. Belum sempat Baekhyun menjauhi Chanyeol, Sehun sudah muncul. Dalam hati Baekhyun mengeluh mengapa ia bertemu dengan dua pria yang menjengkelkan dalam satu saat. Yang satu hanya mementingkan kewajibannya dan yang satu hanya pandai menjual pujian. Tiba-tiba Baekhyun menyadari ia dapat memanfaatkan keberadaan Sehun untuk menemukan perisai yang lain di Castil Q`arde.
"Siapa pria yang tadi datang dengan kudanya bersama prajurit itu?" tanyanya.
"Orang itu adalah Kepala Pengawal Istana Urza, Kris," jawab Chanyeol.
"Mengapa ia kemari?"
"Ia menyampaikan surat Raja kepada ayahku," jawab Sehun.
"Apa isi surat itu?" tanya Baekhyun tertarik.
"Aku tidak tahu. Tanyalah kakakku," jawab Sehun sambil memandang wajah Chanyeol.
Walaupun enggan tetapi Baekhyun tetap menatap memohon pada Chanyeol. Ia ingin sekali mengetahui apa yang ditulis ayahnya untuk mengabarkan berita menghilangnya dirinya ini.
"Untuk apa kau mengetahuinya? Ini bukan urusanmu," kata Chanyeol sinis.
"Apa yang akan kaulakukan bila ini memang urusanku?" tantang Baekhyun, "Engkau telah mengurusi masalahku yang bukan menjadi masalahmu." Chanyeol diam saja.
"Kakakku batal menghadiri pesta pertunangannya hari ini," kata Sehun memberitahu.
Baekhyun terkejut mendengar nada mengejek dalam suara Sehun. Dalam hati Baekhyun tersenyum senang. Tetapi di luar, ia berpura-pura terkejut, "Pertunangan?"
"Ya, seharusnya petang hari ini kakakku akan mengumumkan pertunangannya dengan Putri Baekhyun tetapi sang Putri kabur dari Istana Urza."
Baekhyun hanya dapat memandang kasihan wajah Chanyeol tetapi dalam hati ia tersenyum mengejek. Baekhyun ingin sekali mengatakan sesuatu tetapi ia khawatir kata-katanya akan terdengar seperti mengejek sebab saat ini yang paling dirasakan Baekhyun hanya keinginannya untuk mengejek pria yang tidak disukainya itu.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Sehun.
"Biasa saja," kata Chanyeol santai.
Telinga Baekhyun menangkap nada senang dalam suara Chanyeol.
"Kau tidak lupa bukan? Setelah Putri Baekhyun ditemukan, Raja Kyuhyun akan segera melangsungkan pertunangan kalian sehingga Tuan Puteri tidak dapat kabur lagi," kata Sehun mengingatkan. Chanyeol diam saja. Baekhyun terkejut mendengarnya. Ia tidak menduga ayahnya akan melakukan itu. Dengannya, Baekhyun akan mengadakan pertempuran hanya antara dirinya dan ayahnya.
.
.
.
.
.
Baekhyun segera menuju Ruang Kanak-Kanak tanpa mengatakan apa-apa. Tetapi ketika telah dekat Ruang Kanak-Kanak, ia mendengar langkah kaki. Ia tahu langkah kaki itu adalah langkah Chanyeol. Baekhyun jengkel menyadari pria itu masih tidak mempercayai kata-katanya.
Ingin sekali ia berkata kepada pria itu, "Aku adalah Putri Mahkota dan tidak mungkin seorang Putri Mahkota melanggar janjinya sendiri." Tetapi bila ia mengatakan itu, semua penyamarannya akan terbongkar. Dan itu yang paling tidak diinginkannya.
Sebelum Chanyeol mendekatinya, Baekhyun mempercepat langkahnya ke Ruang Kanak-Kanak. Namun Baekhyun lupa, pria itu lebih cepat dari Sehun bahkan mungkin dari dirinya sendiri.
"Mau ke mana?" tanya Chanyeol setajam pandangan matanya.
Baekhyun membalas pandangan mata itu. "Melanjutkan rencanaku."
"Kuperingatkan kepadamu. Aku tidak akan membiarkanmu mempengaruhi kemenakanku."
Baekhyun yang keras kepala tidak mau mendengarkan nada mengancam itu. Dengan senyum menantang, ia berkata, "Semoga aku tidak melupakannya." Wajah Chanyeol tampak tegang mendengarnya. Tetapi hal itu tidak membuat Baekhyun merasa takut. Ia sudah sering melihat wajah murka ayahnya yang lebih menakutkan dari wajah Chanyeol. Terutama saat ia menolak pertunangan konyol yang dipersiapkan ayahnya.
"Lepaskan aku," kata Baekhyun dengan kemanisan yang tajam.
Kemanisan yang ditunjukkan Baekhyun sirna ketika Chanyeol semakin mengetatkan pegangannya pada lengannya.
Sekuat tenaga Baekhyun menyentakkan lengannya. "Aku ingin menemui Jackson." Chanyeol tidak melepaskan lengan Baekhyun melainkan ia semakin mempererat pegangannya sehingga gadis itu kesakitan.
"Lepaskan aku!" kata Baekhyun tajam, "Aku hanya ingin melihat apakah Jackson sudah bangun."
"Sepanjang hari kemarin kau terus bermain dengannya hingga larut malam. Kurasa saat ini ia belum bangun," kata Chanyeol sambil melonggarkan pegangannya.
Baekhyun memanfaatkan kesempatan itu untuk melepaskan diri dari Chanyeol. Baekhyun benar-benar tidak menyukai sikap Chanyeol. Ia tidak menyukai pria yang telah membuat dirinya merasa tidak berdaya itu. Baekhyun mengerti kekhawatiran Chanyeol tetapi ia tidak menyukai cara pria itu. Sebenarnya Chanyeol tidak perlu khawatir karena Baekhyun sendiri tidak berniat untuk membuat Jackson seperti dirinya.
Tadi pagi ketika Baekhyun melihat Jackson di Ruang Kanak-Kanak, anak itu masih tertidur. Baekhyun menduga sekarang anak itu sudah bangun. Apa yang diduga Baekhyun memang tepat. Jackson sudah berpakaian rapi. Anak itu segera menyambut kedatangan Baekhyun.
"Kau sudah bangun rupanya," kata Baekhyun.
"Ke mana kita akan pergi hari ini?" tanya Jackson.
Baekhyun menatap Chanyeol. "Tanyalah pamanmu. Aku tidak tahu ke mana ia akan membawamu."
"Ke mana kita hari ini?" tanya Jackson.
"Kurasa sebaiknya kita tidak pergi dulu hari ini. Luka di lututmu masih belum sembuh," jawab Chanyeol.
"Paman berjanji membawaku berjalan-jalan," kata Jackson merajuk.
Baekhyun membungkuk dan berkata lembut, "Pamanmu benar, Jackson. Lukamu masih belum sembuh benar."
"Kakiku sudah tidak sakit lagi kalau aku berjalan," kata Jackson merujuk.
"Sungguh?" tanya Baekhyun sambil tersenyum, "Coba kulihat."
Jackson segera mundur ketika tangan Baekhyun hampir menyentuh lututnya.
Baekhyun tersenyum, "Katamu sudah tidak sakit lagi?"
"Memang sudah tidak sakit lagi," kata Jackson mencoba membela
dirinya.
Baekhyun berdiri dan mendekati Jackson. "Mari kita mencobanya."
"Baiklah," sahut Jackson.
Baekhyun tersenyum senang. "Bagus. Sekarang duduklah di sini," kata Baekhyun sambil meraih sebuah kursi. Jackson segera duduk di kursi yang diberikan Baekhyun dan menanti apa yang akan dilakukan gadis itu untuk membuktikan kata-katanya. Seperti halnya Jackson, semua orang di ruangan itu menanti apa yang akan dilakukan Baekhyun. Haneul memandang ingin tahu sedangkan Chanyeol hanya memandang tak mengerti. Mereka sama-sama ingin tahu apa yang akan dilakukan Baekhyun.
Baekhyun membungkuk di depan Jackson. Ia tersenyum pada anak itu sebelum ia memegang kaki anak itu yang luka. Baekhyun menekuk lutut Jackson. Walaupun gerakan gadis itu sangat lembut dan perlahan tetapi itu cukup untuk membuat Jackson kesakitan.
Melihat Jackson menahan sakitnya, Baekhyun melepaskan kaki anak itu dengan hati-hati.
"Sakit bukan?" tanya Baekhyun sambil tersenyum.
Jackson mengangguk.
"Kau tidak boleh meninggalkan ruangan ini," kata Chanyeol menegaskan.
Baekhyun terkejut. Ia tidak setuju dengan sikap Chanyeol yang seperti ayahnya yang selalu mengurungnya di Ruang Belajar. Pengalamannya sendiri membuat Baekhyun tidak setuju dengan pengurungan kebebasan anak-anak. Ia telah kehilangan masa kecilnya yang bahagia dan ia tidak ingin melihat anak-anak lainnya mendapat hal yang sama seperti dirinya.
"Tidak!" bantah Baekhyun, "Kau tidak dapat mengurungnya sepanjang hari di sini."
Chanyeol menatap tajam wajah Baekhyun yang penuh tantangan. "Kau sendiri yang mengatakan lukanya masih sakit."
"Memang tetapi itu tidak berarti ia harus terus dikurung di sini," kata Baekhyun, "Aku akan membawanya keluar dari ruangan ini."
Sebelum Chanyeol sempat melarangnya, Baekhyun telah menggendong Jackson. Dan dengan tenang gadis itu mendekati Chanyeol. "Ia tidak perlu berjalan untuk meninggalkan ruangan ini," kata Baekhyun tajam kemudian ia segera meninggalkan Ruang Kanak-Kanak.
.
.
.
.
.
Baekhyun tahu Chanyeol mengikutinya tetapi ia tetap diam saja. Baekhyun akan tetap bertahan di Castil Q`arde karena ia telah menemukan kegembiraan ketika ia bersama Jackson. Juga pada diri Victoria, ia menemukan sosok seorang ibu yang lain. Bagi Baekhyun yang kehilangan ibunya saat ia masih tiga tahun, sosok seorang ibu tidak pernah dikenalnya. Pada diri Hana ia menemukan sosok seorang ibu yang penuh pengertian dan juga sangat disiplin. Tetapi pada diri Victoria, ia menemukan sosok seorang ibu yang lemah lembut. Baekhyun menyayangi keduanya baik Hana yang telah bersamanya kurang lebih selama delapan belas tahun maupun Duchess of Kryntz yang baru saja dijumpainya. Pada diri Haneul pun, Baekhyun juga melihat sosok seorang ibu, sosok seorang ibu yang pelupa.
Baekhyun mengakui ia menyukai pada semua yang ada di Castil Q`arde kecuali kedua putra Duke of Kryntz. Terlebih lagi Chanyeol. Baekhyun benar-benar tidak menyukai pria itu. Selama ini ia selalu merasa tidak ada yang dapat menentang keinginannya. Ia selalu merasa apa yang dilakukannya telah tepat. Ia tidak suka perasaan tidak berdaya yang timbul setiap kali ia bertemu dengan pria itu. Karena itulah Baekhyun tidak pernah mau mengalah bila ia telah berbicara dengan Chanyeol.
"Ya, kita sudah sampai," kata Baekhyun sambil menurunkan Jackson di Ruang Duduk.
"Bagaimana keadaanmu, Jackson? Lukamu sudah sembuh?" tanya Changmin ketika melihat Jackson datang menghampirinya.
"Belum," jawab Jackson.
"Mengapa kau meninggalkan kamarmu?" tanya Changmin terkejut.
"Karena aku tidak ingin siapa pun mengurung anak ini di Ruang Kanak- Kanak," kata Baekhyun tegas.
Changmin tersenyum. "Apakah baik Jackson berjalan-jalan dengan kaki seperti ini?"
"Justru akan menjadi sangat buruk bila ia terus-terus duduk selama lukanya masih belum sembuh," kata Baekhyun tenang, "Bila kalian memperlakukannya seperti itu, aku khawatir ia lupa bagaimana caranya berjalan." Kalimat terakhir Baekhyun membuat Changmin tertawa.
"Jawaban yang tepat," puji Changmin.
"Kata-katamu seperti Nanny yang telah tua saja," goda Victoria.
"Sebaliknya, saya masih bayi," sahut Baekhyun tenang.
"Kau pandai merangkai kata-kata," kata Changmin.
"Saya hanya mengatakan yang sebenarnya."
"Sayang sekali hingga saat ini kita masih belum tahu siapa dirimu," kata Victoria, "Aku menduga engkau semenarik pribadimu."
"Menarik?" tanya Baekhyun tak mengerti.
"Kau memang menarik," kata Sehun, "Telah berulang kali aku mengatakannya."
"Dan telah berulang kali pula aku membantahnya," sahut Baekhyun tajam.
Baekhyun mulai bosan mendengarkan suara Sehun. Ia merasa pria itu akan mulai memamerkan kepandaiannya lagi.
"Saya permisi dulu. Saya ingin berjalan-jalan," kata Baekhyun.
"Sepertinya kau tidak pernah puas berjalan-jalan di sekeliling Castil Q`arde," kata Changmin sambil tersenyum.
"Tempat ini terlalu indah walaupun ribuan kali saya mengelilinginya, saya tidak akan pernah merasa puas."
"Aku ikut," kata Jackson sambil mendekati Baekhyun.
"Tidak, Jackson. Kau tidak boleh berjalan jauh."
"Tetapi aku ingin menemanimu," kata Jackson merajuk.
Baekhyun tersenyum. "Tunggu hingga lukamu sembuh saja. Aku yakin saat itu tidak akan ada yang melarangmu," katanya sambil menatap tajam wajah Chanyeol. Chanyeol tahu ia tengah diawasi oleh mata hijau yang tajam itu tetapi ia tetap bersikap acuh. Sebelum meninggalkan ruang itu, Baekhyun menangkap senyum puas di wajah Chanyeol. Baekhyun benar-benar tidak dapat mengerti Chanyeol. Pria itu tampaknya tidak pernah peduli dengan sekitarnya tetapi masih memberikan senyum puas ketika Baekhyun memutuskan untuk pergi berkeliling seorang diri. Bila pria itu puas Baekhyun tidak mengajak serta kemenakannya yang selalu dikhawatirkannya, Baekhyun dapat mengerti hal itu. Tetapi tadi saat menolongnya, Chanyeol juga memberikan senyum. Senyum yang mengejek. Terlalu sulit bagi Baekhyun untuk mengerti pria itu. Baekhyun berhenti. "Untuk apa aku berusaha mengerti dia? Aku tidak akan menikah dengannya," katanya pada dirinya sendiri. Tetapi siapa dapat menebak masa depan?
Apa pun yang telah ditetapkan sang Takdir, ia tidak akan mau menyerah begitu saja. Ia berjanji ia akan membuat pertunangan ini batal. Baekhyun tidak mau menjadi korban keinginan dua keluarga tertua di Kerajaan Lyvion. Biarlah kedua keluarga itu mengikat hubungan keluarga asalkan tidak membuat dirinya menjadi korban.
.
.
.
.
.
.
TBC
READ , REVIEW , FAV PLEASE?
PS : Author note kali ini aku mau menjawab review review yang udah ada
Kata "Engkau" diganti "Kau"
Sebenernya aku juga ga nyaman sama kata "engkau" dan untuk ch 1,2 aku masih pake engkau krn aku awalnya ga terlalu permasalahin tp ada beberapa readers yang menyarankan akhirnya mulai ch 3 aku udah ngubah jadi "kau" dan seterusnya akan begitu. Tp tetep aku ga mengubah apapun dari keseluruhan cerita karena disini aku cuman berbagi dengan cast fav aku dan story belong to kak astrella.
Sehunnya gendut, ga bisa bayangin
Wkwkwkkw sebenernya aku juga ga bisa imagine sehun gendut guys bcs he is so damn hot in real life tapi namanya juga fiksi ya bayangin aja, karena aku cuman nyaman kalo cast sehun jadi adik chanyeol. Entar kebongkar kok awalnya sehun tuh sama-sama awesome kayak chanyeol
Kemenakan itu apa
Kemenakan sama kayak keponakan. Di ch 3 udah ada kalimat tersirat kalau victoria punya adik , dan adiknya itu punya anak Jackson.
Akhirnya selesai cuap-cuapnya. Aku bakal terima semua review dalam bentuk positif mau support,saran atau cuman sekedar "next" jadi disempatkan review ya guys! Karena review buat aku jadi semangat update!
Last but not least CHANBAEK IS REAL!
