(ATTANTION! Ini Perbaikannya. Maaf kalau banyak yang salah pada saat update tadi, maklum lah namanya juga orang lagi sakit T_T *alasan*. Karena tujuanku satu, 'Update Kilat', semua viewers mengharapkan itu, jadi aku gak ingin mengecewakan viewers ku. Maaf banget kalau ceritanya seperti dipercepat, sebenarnya aku gak mau bikin Flashback. Tapi karena banyak yang penasaran dengan masa lalu mereka, jadi aku bikini Flashback. Seperti yang aku bilang dibawah, aku membuat alurnya di percepat karena aku tidak menonjolkan masa lalu mereka, tapi kehidupan mereka kedepan nantinya. Oke deh, sekian. SELAMAT MEMBACA ^^)


Elfjoy137 present

KYUMIN FANFICTION

Do You Remember ?

Chapter 4

Cast: Cho Kyuhyun , Lee Sungmin , and other cast

Rate : T

Warning : Genderswitch , Typo, kosa kata yang berantakan

DLDR

Please enjoy ^^

Disclaimer : Kyuhyun punya orang tuanya, Sungmin punya orang tuanya, Kyumin punya JOYER, tapi FF ini murni milik saya. So, jangan ada yang nyontek ya ^^

.

.

~JOYER~

.

.


FLASHBACK

Ilsan

Pada saat ini, Kyuhyun baru saja lulus SMP. Ia pun memutuskan untuk melanjutkan SMA nya di Ilsan. Kyuhyun lebih memilih bersekolah di kampung halamannya, dari pada sekolah di Seoul dengan segala hiruk pikuk di kota tersebut.

Lagi pula ia sangat menyukai suasana di Ilsan. Sangat sejuk dan nyaman.

Kedua orang tua nya sudah meninggal sejak ia masih kecil, hal itu membuat ia dan kakaknya harus mau tidak mau memikul beban berat di pundak mereka, sebuah perusahaan yang saat itu sedang maju. Namun Kyuhyun saat itu hanyalah seorang anak SMP, sedangkan kakaknya, bahkan kakaknya itu belum lulus SMA. Terlebih lagi mereka tidak mengerti apa-apa tentang mengurus perusahaan. Sehingga dengan terpaksa perusahaan itu di urus oleh paman mereka.

Tanpa di duga, paman mereka merebut perusahaan itu dan memindah tangan kan perusahaan tersebut atas namanya. Hal ini membuat Kyuhyun dan kakak nya merasa bersalah kepada orang tuanya karena tidak bisa menjaga perusahaan itu. Namun apa yang mereka bisa lakukan, mereka hanya dianggap anak kecil. Sehingga mereka memilih untuk membiarkan hal itu.

Setelah lulus, kakak Kyuhyun mendapatkan beasiswa untuk kuliah di salah satu universitas yang ada di China. Kakak nya pun tidak melewatkan kesempatan itu, ia mengajak Kyuhyun bersamanya. Namun Kyuhyun yang saat itu sudah lulus SMP memutuskan tidak ikut, karena ia tidak ingin mengganggu konsentrasi kakak nya untuk menempuh pendidikan di negeri tirai bambu tersebut.

Setelah kakak nya berangkat ke China, Kyuhyun memutuskan untuk kembali ke Ilsan, tempat kelahirannya. Ia menempati rumah peninggalan ayahnya yang ada di Ilsan, ia beruntung karena rumah itu tidak diambil oleh paman nya.

Walaupun perusahaan itu di rebut oleh pamannya, namun harta warisan ayahnya tidak tersentuh sedikitpun oleh pamannya tersebut. Sehingga Kyuhyun memanfaatkan harta warisan itu untuk memenuhi kebutuhan hidup dan sekolahnya.

Rumah itu tidak sebesar rumah orang tua nya di Seoul, namun rumah itu sangat nyaman. Walaupun ia menempati rumah itu sendirian,tetapi ia tidak berniat untuk menyewa seorang maid, ia memutuskan untuk hidup mandiri mulai sekarang.

KYUHYUN POV

Hari ini aku baru saja kembali ke Ilsan. Mengapa aku bilang kembali? Karena Ilsan adalah tempat kelahiranku. Namun keluarga kami pindah ke Seoul ketika Ayahku berencana untuk membangun perusahaan disana. Walaupun pada akhirnya perusahaan tersebut di rebut Paman ku. Aku merasa sangat bersalah, karena aku tau betapa susah nya Ayah membangun perusahaan itu.

Aku pun sedikit membereskan rumah ini, rumah yang sudah dua belas tahun kami abaikan. Rumah ini hanya memiliki tiga kamar. Kamar yang pertama untuk Ayah dan Ibu ku, dan yang kedua adalah kamarku dan yang terakhir adalah kamar Noona ku.

Ya, aku memiliki seorang Noona. Kini ia sedang menempuh pendidikan di China karena ia mendapat beasiswa.

Setelah selesai dengan semua barang-barang ku, akhirnya aku memutuskan untuk membersihkan badanku sebelum mencari makanan di luar.

Tidak lama waktu untuk ku mandi, karena aku bukan tipe namja yang betah berlama-lama diruangan itu hanya untuk sekedar membersihkan diri.

Setelah selesai memakai pakaian, aku pun memutuskan untuk segera mencari makanan, kebetulan perutku sudah berbunyi minta diisi sejak tadi. Dan tentu saja aku tidak melupakan kacamata tebal ku itu.

Semenjak kasus percobaan penculikan saat aku SD, ayah memutuskan untuk menyembunyikan identitas asliku. Dan seperti inilah aku sekarang, dengan nama Cho Hyun, disertai kacamata tebal ini sudah tidak ada lagi yang mencoba untuk menculikku. Ya, inilah resiko menjadi anak salah satu orang terkaya di Korea.

Bukan bermaksud sombong, tapi beginilah aku.

Aku pun berjalan menyusuri jalanan di sekitar rumah ku untuk mencari kedai makanan. Tidak lama aku berjalan, aku melihat seorang yeoja sedang membereskan belanjaannya yang berserakan di jalan.

Karena aku orang yang baik, Ya, begitulah kata keluargaku, aku mendekati yeoja itu. Dan segera berjongkok didepannya untuk membantunya membereskan belanjaan itu.

Ia terkaget saat melihat ada yang membantunya, dan ketika ia mendongak, oh aku berani bersumpah yeoja itu adalah yeoja termanis yang pernah kutemui. Ia kemudian kembali menundukan kepalanya dan membereskan barang-barangnya saat menyadari tatapan takjub ku kepadanya.

Salahkah aku? Wajar saja aku takjub saat melihat wajah manis itu. Tapi aku segera tersadar, dan kembali membantunya.

Setelah semua barang-barangnya terkumpul dan tidak ada satupun yang hilang, kami berdua berdiri secara bersamaan.

"Gomawo." Ia pun tersenyum kearahku. Tadi aku terkagum melihat wajah manisnya, dan kini aku terkagum dengan senyum manis itu. Oh Tuhan, betapa hebatnya kau menciptakan yeoja semanis ini.

"Cheonma." Aku pun membalas senyum itu. Yeoja itu membungkuk sekilas lalu berlalu dari hadapan ku. Namun sebelum ia pergi jauh, aku kembali memanggilnya.

"Nona, tunggu!" aku memanggilnya. Dan yeoja itu pun berbalik.

"Apakah kau tau kedai makanan di dekat sini?" Aku bertanya kepadanya. Yeoja itu tampak berpikir sejenak lalu menunjuk arah belakang ku.

"Kau jalan saja terus kearah sana. Di pertigaan kau tinggal belok ke kiri. Disana banya kedai-kedai makanan, ada Supermarket juga." Setelah mendengar arahan dari yeoja itu, aku pun mengangguk mengerti.

"Gomawo." Aku membungkuk sekilas,mengucapkan terimakasih. Yeoja itu hanya mengangguk sekilas lalu melanjutkan jalannya.

Aku pun berjalan kearah yang ditunjuk yeoja tadi. Aku tersenyum bodoh selama berjalan, dan semakin merasa bodoh saat baru menyadari bahwa aku tidak menanyakan nama nya tadi. Tapi aku yakin, aku akan segera bertemu dengan yeoja itu lagi.

.

.

.

Hari ini adalah hari pertama ku memakai seragam SMA. Seragamnya lumayan bagus, celana hitam panjang dengan kemeja putih berlengan panjang dan juga Almamater berwarna hitam. Namun dasi inilah yang membedakan setiap tingkatan, dasi hitam dengan garis-garis biru tua untuk kelas 1, dasi hitam dengan garis-garis kuning untuk kelas 2, dan dasi kuning dengan garis-garis merah maroon untuk kelas 3.

Setelah siap aku pun memutuskan berangkat sekolah dengan berjalan kaki. Karena jarak sekolah sangat dekat dari rumahku, sehingga membantuku mengirit.

Saat tiba disekolah, aku pun langsung memasuki kelas. Aku sudah tau dimana kelasku saat hari terakhir MOS.

Dan disinilah aku, di kelas 1A. Keren bukan? Ini adalah kelas unggulan.

Tidak banyak yang aku lakukan saat di kelas, aku hanya berkenalan dengan beberapa orang yang duduk di dekat meja ku, tidak sedikit yeoja yang mengajakku untuk berkenalan, ya walaupun aku terkesan kutubuku dengan kacamata ini, namun pesona ku tidak dapat disembunyikan.

Setelah jam pelajaran pertama berakhir dan bel berbunyi, salah satu teman baru ku mengajakku untuk ke kantin. Shim Changmin namanya. Aku hanya mengikuti nya, karena kupikir akan sangat membosankan jika hanya berdiam diri di kelas.

Changmin pun segera memesankan makanan saat kami sudah duduk pada salah satu meja di kantin ini. Saat Changmin memesankan makan, aku hanya memperhatikan sekeliling.

Dan pandangan ku terpaku pada satu yeoja yang sedang duduk di pojok kantin ini. Ia sedang membaca buku sambil sesekali meminum susu kotak yang sepertinya rasa strawberry, karena kotaknya berwarna pink.

Aku tersenyum. Benar dugaanku, aku akan segera bertemu lagi dengan yeoja semalam.

Tanpa rasa bosan aku mengamati tingkah laku yeoja itu. Dan cara dia membalik lembar buku itu, terserah kalian ingin menganggapku berlebihan atau apa, tapi itu luar biasa menawan.

Kalian pernah mendengar cinta pada pandangan pertama? Seperti nya aku merasakan itu sekarang.

Lama aku memandangin yeoja itu. Tanpa sadar Changmin sudah duduk di samping ku membawa makanan kami berdua.

"Kau dari tadi memandang Sungmin Sunbae?" Changmin bertanya kepadaku, aku mengernyit bingung, lalu mengalihkan pandanganku kepadanya.

"Sungmin Sunbae?" Aku kembali bertanya kepadanya. Changmin mengangguk.

"Ya, Sungmin Sunbae. Yeoja yang duduk sambil membaca buku itu." Changmin menunjuk sekilas kearah yeoja itu. Aku kembali memandang yeoja itu.

"Kau mengenalnya?" Aku bertanya penasaran. Dan aku lihat Changmin sudah memulai makannya.

"Tentu saja, Hyung ku sering menceritakan tentang nya. Dulu dia adalah kakak kelas Sungmin Sunbae, dan sempat menyukai yeoja itu." Changmin menjelaskan sambil sesekali memakan makanannya. Aku kembali melihat kearah Changmin.

"Namun tentu saja hanya sebatas menyukai, tidak lebih. Kau boleh saja menyukainya, tapi kau tidak akan bisa lebih dari sekedar menjadi fansnya." Aku mengernyit bingung saat Changmin meneruskan kalimatnya.

"Kenapa?" Aku kembali bertanya.

"Karena di sudah memiliki tunangan. Lihat itu?" Changmin menunjuk kearah Sungmin dengan dagunya. Dan aku melihat ada seorang namja yang duduk disamping yeoja itu, Sungmin. Dengan posesif namja yang kata Changmin adalah tunangan yeoja itu, memeluk pinggang Sungmin, dan menciumi leher Sungmin.

Seketika aku merasa sangat kesal dengan namja itu. Lagi pula aku rasa Sungmin tidak menyukai namja itu, lihat saja Sungmin terus menghindar dari ciuman kurang ajar namja itu dengan wajah yang menyiratkan ketidaknyamanan.

"Kau menyerah saja, lihat tunangannya itu, begitu posesif terhadap yeoja nya. Menurut cerita Hyung ku, banyak namja nekad yang menyatakan cinta kepada Sungmin Sunbae dan berakhir di rumah sakit. Tidak disitu saja, namja-namja itu langsung di blacklist dari seluruh sekolah di Ilsan. Kau tidak tahu saja betapa berkuasanya Ayah namja itu." Changmin berkata dengan menggebu-gebu. Aku hanya mendengarkan Changmin tanpa mengalihkan perhatianku dari Sungmin dan tunangannya itu.

Tak beberapa lama aku pun melihat Sungmin seperti membentak namja itu dan meninggalkan namja itu, dan tentu saja namja itu mengikutinya.

"Aku tidak akan menyerah." Ucapku mantap. Sedangkan Changmin hanya menatapku horror.

"Jangan nekad Cho. Kau hanya anak baru disini." Dia tersenyum remeh. Aku hanya menyeringai sambil memperhatikan Sungmin dan tunangannya keluar dari kantin.

"Kau lihat saja nanti."

.

.

.

.

.

"Jungmo lepaskan aku!"

Ketika aku ingin segera pulang kerumah dan melewati ruang loker aku mendengar suara seorang yeoja dari dalam ruangan tersebut. Dan aku sangat mengenal suara itu, suara Sungmin. Ya, benar.

Tanpa pikir panjang aku membuka pintu ruangan itu dan terkejut saat melihat kelakuan bejat namja yang bernama Jungmo itu, yang ternyata adalah tunangan Sungmin sedang mencoba mencium bibir yeoja itu.

"Yak! Lepaskan dia." Aku berteriak agar namja itu melepaskan Sungmin, dia pun menoleh kearahku. Aku dapat melihat wajah kesalnya. Aku sudah bersiap-siap jika namja itu akan memukulku, namun ternyata namja itu hanya melewatiku lalu pergi. Pengecut, eoh?

Tanpa pikir panjang, aku menghampiri Sungmin.

"Noona, kau tidak apa-apa?" Aku berdiri di depan Sungmin. Yeoja itu menatapku panik. Kenapa?

"Seharusnya kau tidak membantuku. Lebih baik kau pergi dari sini." Yeoja itu berujar dengan panik. Aku melihat yeoja itu mengambil tas nya yang berada di lantai lalu segera menuju pintu keluar. Aku mengikutinya.

Ketika sampai diluar aku dan Sungmin terkejut saat melihat Jungmo dan beberapa orang lainnya sedang berjalan kearah kami. Langsung saja aku menggenggam tangan Sungmin dan membawanya ikut berlari bersamaku.

"Hey, berhenti!" Aku dapat mendengar teriakan Jungmo. Tapi aku tidak perduli, aku terus berlari sambil menyeret Sungmin. Sepertinya yeoja itu tidak menolak.

Ketika kami sampai di halte, aku pun segera memasuki Bis yang baru datang diikuti dengan Sungmin dibelakangku. Dan Bis itu pun melaju. Dari kaca, aku dapat melihat Jungmo dan kawan-kawannya masih mengejar kami.

Aku mecoba menghirup nafas sebanyak-banyaknya, dada ku terasa sesak karena berlari. Sungmin pun sepertinya sangat kelelahan, tapi kemudian ia tertawa, membuat ku ikut tertawa. Kami tertawa begitu kencang hingga membuat orang-orang di Bis melihat kearah kami.

Saat menyadari tatapan tak senang itu, kami segera menghentikan tawa kami. Dan memilih duduk di bangku yang kosong.

"Ini benar-benar luar biasa, aku belum pernah mengalami ini." Aku hanya tersenyum saat mendengar nada gembira yeoja itu.

"Aku merasa sangat bebas." Yeoja itupun semakin mengembangkan senyumnya.

"Gomawo. Ah, siapa namamu?"Tiba-tiba Sungmin bertanya. Aku terkesiap.

"Namaku Cho Hyun."Aku memberitahukan, ya, nama samaranku. Yeoja itu pun hanya mengangguk.

"Bukankah kau namja yang semalam itu?" Dia bertanya lagi. Dan, dia mengingatku. Aku pun mengangguk.

" Ah, aku Lee Sungmin. Salam kenal." Dia mengulurkan tangannya dihadapanku, aku memandang tangan mungil itu sekilas, lalu menjabatnya. Tangannya sangat lembut. Aku tidak bohong.

"Jadi akan kemana kita sekarang?" Yeoja itu menatapku, oh, aku sangat gugup.

"Ah, aku tau. Apa kau lapar? Bagaimana jika kita makan di kedai jajjangmyun di dekat rumahku." Yeoja itu berujar antusias. Aku hanya mengangguk.

.

.

.

.

.

Ketika turun dari bis, kami terpaksa harus berjalan cukup jauh. Tapi selama berjalan bersama Sungmin, aku rela sejauh apapun itu. Kami terlibat obrolan ringan selama perjalanan, kebanyakan sih cerita tentang sekolah.

Ketika sampai di kedai kami langsung menduduki salah satu kursi disana.

"Ahjussi, jajjangmyun seperti biasa dua porsi ya." Sungmin memesankan makanan untuk kami.

"Baiklah Sungmin-ah, tunggu sebentar." Ahjussi penjual jajjangmyun pun menjawab Sungmin. Yeoja itu bilang ini adalah kedai jajjangmyun langganannya, ia sudah mengenal dengan baik penjualnya.

"Kau akan ketagihan jika mencobanya. Jajjangmyun disini sangat enak." Sungmin berucap antusias, sunggguh pemandangan menakjubkan dapat melihatnya seperti ini.

"Noona, mengapa kau sangat senang saat kita terhindar dari tunanganmu itu?" Aku melihat Sungmin mengerutkan keningnya.

"Darimana kau tau dia tunanganku?" Yeoja itu menatapku.

"Dari temanku. Dan semua siswa tahu itu." Aku menjelaskannya. Sungmin pun mengangguk paham.

"Ah, kau benar. Mana mungkin kau dan yang lainnya tidak tahu. Bahkan namja itu terang-terangan mengumumkan pertunangannya denganku saat acara promnight tahun lalu." Yeoja itu menunduk.

"Apakah Noona senang menjadi tunangannya?" Aku tahu ini pertanyaan lancing, tapi aku sangat penasaran. Dan tanpa kuduga Sungmin menggeleng.

"Tentu saja tidak, semua orang tahu dia namja egois dan posesif. Dan juga mesum, kau melihatnya sendiri tadi." Aku membenarkan ucapan Sungmin, namja sialan itu memang mesum.

Jajjangmyun yang kami pesan pun tiba, Ahjussi itu segera menghidangkannya di meja kami.

"Lalu mengapa Noona menerima pertunangan itu?" Lagi-lagi pertanyaan tak sopan dari bibirku lah yang keluar. Sungmin mulai mengambil sumpitnya.

"Ah, maaf sekali. Aku tidak bisa menjawab itu." Aku sudah bisa menebak jawabannya. Aku hanya mengangguk paham. Lagi pula siapa aku, bertanya seperti itu kepada Sungmin.

"Aku sangat ingin berteman dengan Noona." Sebenarnya aku tidak ingin sekedar menjadi temannya, aku ingin lebih.

"Sepertinya tak bisa." Dan, dia berkata seperti itu. Aku menatapnya bingung.

"Jungmo selalu melarang orang-orang berdekatan denganku, terutama namja. Ya, kau sudah tau bagaimana sifatnya." Alasan Sungmin memang masuk akal. Aku pun kembali mengangguk paham.

"Tapi kita bisa berteman dibelakangnya." Aku tersenyum saat mendapat ide itu.

"Itu sangat nekad, tapi sepertinya menyenangkan. Baiklah, mulai sekarang kita berteman." Aku tersenyum mendengar jawaban yeoja itu. Dan kami pun segera menyantap jajjangmyun itu sebelum dingin.

.

.

.

.

.

Tidak terasa aku dan Sungmin berteman sudah hampir satu tahun. Aku sudah jarang bertemu Sungmin karena ia sibuk dengan bimbelnya, sebentar lagi ia akan menghadapi Ujian Nasional.

Setelah ujian selesai, dihari itu juga aku mengajaknya untuk ke taman. Tentu saja tanpa sepengetahuan Jungmo. Aku merasa seperti selingkuhan Sungmin jika begini, tapi aku sangat senang.

Ketika sampai di taman, aku mengungkapkan perasaanku selama ini kepadanya, dan tanpa disangka, ia juga memiliki perasaan yang sama denganku. Dia bercerita bahwa sebenarnya ia terpaksa bertunangan dengan Jungmo, tentu saja karena paksaan orang tua.

Tapi tetap saja aku merasa sangat bahagia saat ia menerimaku. Dan untuk pertama kali nya, aku menciumnya, mencium bibir manisnya itu. Bahkan itu adalah ciuman pertamaku.

Setelah bermain di taman sampai sore, akhirnya aku memutuskan untuk mengajaknya pulang. Ia menolak saat aku berniat untuk mengantarnya. Namun karena alasan takut orang tuanya tahu, aku pun merelakan Sungmin pulang sendiri.

Seminggu setelah kejadian ditaman, aku tidak bertemu lagi dengan Sungmin. Ia tidak masuk kesekolah, mungkin karena ujian sudah selesai.

Oleh karena aku tidak dapat menahan rasa rindu, aku memutuskan untuk kerumahnya.

Saat sampai dirumahnya, ayahnya lah yang menyambutku. Dan dia mengatakan untuk jangan mendekati Sungmin lagi. Apa jangan-jangan Ayah Sungmin sudah tau tentang hubunganku dengan Sungmin?

Dan hal yang paling mengejutkan adalah, ayahnya mengatakan bahwa Sungmin akan menikah dengan Jungmo besok. Seketika hatiku hancur. Apa sudah tidak ada harapan?

Aku melihat Sungmin dari balik jendela kamarnya, Sungmin menangis.

"Lee Sungmin, aku menunggumu di Taman." Aku berteriak berharap Sungmin dapat mendengarku, namun ayahnya mengusirku. Aku terus berteriak terus sampai akhirnya ayah Sungmin memukulku. Aku melihat Sungmin masih menangis sambil menatap kearahku.

"Aku akan menunggumu, Min."

.

.

.

.

.

Namun sampai pagi menjelang Sungmin tidak juga datang ketaman itu. Sepertinya aku benar-benar tidak ada harapan lagi.

Aku memilih pindah dari Ilsan, dan kembali ke Seoul. Memulai kehidupan baru disana. Aku menjalani hidupku sambil berusaha melupakan gadis itu. Namun sepetinya sampai kapanpun aku tidak akan bisa melupakan gadis itu.

Cinta pertamaku.

Belahan Jiwaku.

Setelah lulus SMA di Seoul, aku mendapat kabar dari Noona ku bahwa dia akan menikah. Aku turut senang atas kabar menggembirakan itu. Dalam kesempatan itu, aku pun meminta izin kepada Noona ku untuk melanjutkan Kuliah di Amerika. Kebetulan aku mendapat beasiswa, sebenarnya bukan kebetulan, tapi keberuntungan.

Setelah menghadiri pesta pernikahan Noona ku, aku segera berangkat ke Amerika.

Hanya dua tahun waktu yang kubutuhkan untuk mendapatkan gelar Sarjana ku, lagi-lagi aku beruntung karena memiliki otak cerdas.

Sebelum kembali ke Seoul, aku menyempatkan diri mengunjungi Noona ku di China. Namun sesampainya di rumah Noona ku, aku malah disambut oleh banyaknya petugas kepolisian dirumah tersebut.

"Ada apa ini?" Merasa sangat bingung, akhirnya aku bertanya kepada salah satu polisi itu.

"Maaf, anda siapa?" Polisi itu malah balik bertanya kepadaku.

"Aku adalah adik dari pemilik rumah ini." Jawabku.

"Jadi kau adalah adik dari Tan Heechul dan Tan Hangeng?" Polisi itu kembali bertanya.

"Tan Heecul adalah Noona ku. Ada apa sebenarnya?" Aku bertanya dengan bingung. Sebenarnya ada apa disini? Polisi itu malah menyuruhku untuk ikut ke kamar Noona ku.

Aku terbelalak saat melihat banyak darah dikamar itu. Ini benar-benar membuatku bingung.

"Tuan Hangeng dan Nyonya Heechul, baru saja kerampokan. Menurut analisa kami, perampok itu membunuh mereka saat mencoba untuk melawan perampk itu." Penjelasan dari polisi membuatku pusing mendadak. Ini tidak mungkin, Noona ku, keluarga ku satu-satu nya, meninggal dengan tragis.

"Cari perampok itu sampai dapat." Dengan emosi aku meraih kerah polisi itu.

"Tenang Tuan, tim kami sedang mencari nya. Kami akan berusaha." Polisi itu mencoba menenangkanku. Aku melepas cengkramanku pada kerah polisi itu dan mencoba menahan emosiku.

"Beruntung anak mereka tidak menjadi korban." Polisi itu bilang apa? Anak? Anak siapa? Aku mengernyit bingung menatap polisi itu.

"Anak?" Aku bertanya kepadanya. Polisi itu menunjuk seorang bayi yang sedang di gendong oleh salah satu polisi itu.

Aku pun segera menghampiri nya. Ku gendong bayi mungil tersebut. Mulai saat itu aku yang merawat anak mereka, yang bernama Sandeul. Aku berjanji akan menjaganya dengan sebaik-baiknya.

KYUHYUN POV END


TBC


Annyeong ^^

Author kembali hadir dengan chapter 4. Ada yang nunggu gak? Ngga ya? Huwee T_T

Oh iya, kok reviewnya menurun ya? Apa ceritanya membosankan? Mianhae T_T

Di chapter ini khusus flashback mereka dari sisi Kyuhyun. Maaf kalau alurnya kecepetan, karena aku bukan ingin menonjolkan masalalu mereka, tapi lebih kepada kehidupan mereka kedepan. Next Chap, aku bikin flashback mereka dari sisi Sungmin, itu juga kalau kalian mau T.T

Btw, maaf ya kalau banyak typo + kalimat rancu, karena aku ngetik FF ini sambil menahan rasa pusing di perutku *lebay-_-*

Thank's buat reviewnya kemarin. Banyak yang gak nyangka ya ceritanya gitu? Maaf kalau gak sesuai tebakan kalian u.u

Jangan panggil aku thor ya, berasa jadi thor tokoh Marvel deh u.u Jangan Min juga, aku plus lho bukan min *abaikan ini* Aku lahir tahun 96. Jadi panggilnya Eonnie, Noona, Saeng, Beb, Say, Darl, dll. Asal jangan Thor dan Min u.u

And Last, REVIEW PELISS ^^