baru bisa ngeupdate lagi nih. kalau rada membingungkan maaf ya! aku juga bingung waktu buatnya. *disambit reader*. baca aja deh. mudah-mudahan ga bingung.
Disclaimer: masashi kishimoto, kecuali plot dan beberapa tokoh ga penting.
Chapter 4
Naruto memasuki rumah kecilnya. Di ruang keluarga ada ibunya, Kushina, yang sedang membaca tabloid. Suasana rumah itu sangat hening. Maklumlah, Naruto adalah anak tunggal.
Naruto memasuki kamarnya. Dia mendesah ketika melihatnya. Kamar berukuran kecil itu berantakan. Buku-buku di rak sudah tidak teratur. Sampah-sampah bungkus makanan ringan bertebaran di lantai. Seprai sudah tidak tersangkut di tempat tidur.
Naruto mengenyakkan diri di tempat tidur. Dia menghela nafas. Suntuk rasanya melihat kamar yang berantakan itu tapi dia malas merapikannya. Dia hanya merapikannya sebulan sekali.
Angin berhembus melewati jendela kamar, membuat Naruto mengantuk. Dia memejamkan matanya. Rasanya sangat tenang. Dia semakin tenggelam ke alam bawah sadarnya. Selama lima menit dia tertidur.
Ketika dia kembali terbangun, dia teringat kejadian di depan toilet museum tadi: Hinata memberinya hadiah. Dia penasaran hadiah apa yang diberikan Hinata. Dia mengambil tasnya dan merogoh dalamnya. Dia mengeluarkan bungkusan yang tidak terlalu besar. Dibukanya bungkusan itu. Ada surat kecil di atas kotaknya. Dia membacanya.
Dear, Naruto,
Selamat ulangtahun. Semoga kamu mendapatkan yang terbaik dalam segala hal. Aku berharap kamu selalu diberikan kesehatan. Jadilah seseorang yang lebih baik.
Tetaplah ceria!
Salam hangat,
Hyuuga Hinata
Naruto tersenyum membaca surat Hinata. Dia senang masih ada teman yang Dia membuka kotaknya. Terdapat sebuah boneka kayu kecil berbentuk rubah. Dia mengeluarkan boneka itu. Ternyata ada tali pada boneka itu agar dapat digerakkan. Dia mencoba menggerak-gerakkan bonekanya.
Beberapa saat kemudian dia teringat sesuatu: dia belum mengucapkan terima kasih kepada boneka itu. Dia mengambil handphone-nya dan menelpon Hinata.
"Ha.. halo, Naruto?" Terdengar suara Hinata di seberang.
"Hai, Hinata! Terima kasih kadonya. Aku suka," kata Naruto.
"Syukurlah Naruto suka. A.. aku takut Naruto tidak suka."
"Tentu saja aku suka. Bonekanya bagus."
"Ng.. Terima kasih. Aku membuatnya sendiri."
"Sungguh? Kau pandai sekali."
Wajah Hinata, tanpa diketahui Naruto, sudah merah padam. "Aku.. baru belajar membuatnya tadi, di museum."
"Oh, aku tidak tahu kalau ada kerajinan seperti itu tadi. Hehe."
"Itu salah satu budaya asli kita. Naruto tidak tahu?"
"Aku tahu ada boneka seperti itu tapi aku tidak tahu itu budaya kita."
Hening sesaat. Lalu sebua pikiran terbersit di benak Naruto.
"Yang tadi me-request untukku itu kamu bukan?" Tanya Naruto.
Hinata tidak menjawab. Wajahnya sangat merah padam. Dia tidak berani menjawab "Iya."
"Ya sudah tidak perlu dijawab. Oh, ya, sudah dulu, ya. Sekali lagi terima kasih. Dah."
"Dah."
* * *
Cowok berambut merah itu berjalan di trotoar yang sepi diikuti seorang cewek dengan 4 ikatan dirambut kuningnya dan cowok berambut coklat. Dia seolah sudah mengenal jalan-jalan yang dilaluinya padahal dia belum pernah melaluinya sebelumnya. Dia berjalan dengan sangat cepat. Mata cowok berambut merah itu tidak menampakkan ekspresi apa pun. Dia seolah tidak memedulikan sekelilingnya. Dia terus berjalan diikuti kedua kakaknya.
"Gaara," panggil cewek berikat 4 kepada cowok berambut merah. "Sebenarnya kita mau ke mana?"
"Aku mau menunjukkan sesuatu," kata Gaara. "Aku tidak sengaja melihat anak kecil membawa 'itu'. Waktu aku tanya dia dapat dari mana, dia bilang dari Museum Kesenian."
"'Itu' apa?" tanya cowok berambut coklat.
"Nanti juga kau tahu, Kankuro."
Ketiga orang itu terus berjalan. Langkah Gaara sangat tergesa-gesa.
Mereka memasuki Museum Kesenian Pengunjung masih ramai. Orang-orang yang mereka lewati menoleh untuk melihat siapa yang berjalan dengan sangat tergesa-gesa begitu. Gaara mengelilingi museum itu dengan cepat, mencari sesuatu. Kedua kakaknya mengikuti di belakang, heran dengan kelakuan adiknya.
Akhirnya Gaara menemukan yang dicarinya. Dia berhenti di salah satu stan. Stan itu nyaris tertutupi pengunjung tapi dia tahu yang dicarinya ada di stan itu.
"Itu," katanya, mengangguk ke arah stan.
"Apa sih?" Kankuro berusaha melihat ke dalam stan di antara banyak pengunjung. "Kau lihat sesuatu, Temari?"
"Samar-samar," jawab cewek berikat 4.
Kankuro dan Temari menerobos pengunjung lain di stan itu untuk melihat apa yang dimaksudkan Gaara. Ketika mereka berhasil melihatnya dengan jelas, mereka kaget.
"Ini kan pameran kesenian Konoha!? Dan itu Karasu!" seru Temari.
"Memang," timpal seseorang tak dikenal di sebelah Temari.
"Tapi itu bukan kesenian asli Konoha," kata Kankuro.
Semua orang di stan sekarang memperhatikan mereka. Bahkan penjaga stan, yang sedang memperagakan cara membuat boneka kayu yang bisa digerakkan dengan tali, berhenti membuat boneka sejenak.
"Apa maksudmu?" tanya penjaga stan.
"Itu kesenian asli Suna! Karasu!" seru Kankuro menunjuk boneka kayu bertali di tangan penjaga stan ketika mengucapkan "Karasu."
"Ini jelas asli Konoha. Kami sudah mengenalnya sejak lama."
"Kalian tidak boleh mengaku-ngaku budaya kami!" timpal Temari.
"Kalian yang mengaku-ngaku!"
Beberapa pengunjung ikut menimpali. Mereka sangat marah. Salah satunya bahkan menunjukkan tanda-tanda akan menghajar mereka. Kankuro dan Temari tidak sanggup menimpali mereka semua. Mereka jelas kalah jumlah.
Tahu kedua kakaknya dalam masalah, Gaara menarik mereka keluar dari kerumunan. Mereka meninggalkan museum dengan kata-kata kasar dari para pengunjung sebagai ucapan selamat tinggal.
Mereka bergegas kembali ke hotel tempat mereka menginap. Mereka mengepak barang-barang mereka. Temari memesan tiket pesawat menuju Suna yang akan berangkat sejam kemudian. Setelah itu dia memanggil taksi. Nyaris tidak ada yang berbicara ketika itu.
Di dalam taksi, Kankuro berusaha menghubungi ayah mereka yang merupakan walikota Suna. Berkali-kali dia mencoba tapi nadanya selalu sibuk. Dia hampir putus asa. Telepon barulah tersambung ketika mereka tiba di bandara.
"Ayah," kata Kankuro. "Ada yang perlu kami beritahukan."
Kankuro menceritakan kejadian di museum dengan cepat. Ayahya sama sekali tidak menyela.
"Baiklah, Ayah akan mengambil tindakan." Terdengar suara sang Ayah ketika Kankuro selesai berbicara. Sambungan diputus.
Ketiga kakak-beradik menarik perhatian pengunjung bandara dengan kegelisaha mereka. Kankuro sesekali mengumpat. Temari menyuruhnya diam. Sedangkan Gaara tetap berwajah serius dan dingin. Beberapa orang uang melewati mereka berbisik-bisik sambil mencuri pandang, bahkan ada yang jelas-jelas mencibir.
Mereka harus menunggu selama satu jam sebelum pesawat akhirnya terbang. Penantian yang terasa sangat lama.
Di antara ketiganya, Kankuro-lah yang paling sangat tidak senag dengan kejadian tadi. Dia yang paling menjunjung tinggi budaya-budaya Suna, terutama boneka yang diplagiat Konoha itu. Dia sudah mempelajari cara pembuatannya sejak kecil dan sudah membuat puluhan boneka seperti itu. Bagaimana bisa budaya Suna diplagiat oleh Konoha, kota yang terkenal bersahabat dengan Suna.
Berbeda dengan Kankuro yang jelas-jelas menampakkan ekspresi ketidaksenangannaya dan kegelisahannya, Gaara masih tetap berwajah dingin. Dia sama sekali tidak berbicara sejak di museum tadi. Dia seolah tidak peduli dengan apa pun walau sebenarnya dia pun tidak suka dengan Konoha.
* * *
Halaman gedung berwarna coklat-pasir itu sudah dipenuhi warga Suna dari berbagai kalangan. Di bagian terdepan, para wartawan sudah menunggu berita dari Presiden dengan kegairahan yang memuncak. Mereka sudah mendengar desas-desus kabar yang akan mereka dapatkan namun desas-desus itu belum jelas. Semuanya tetap menanti kepastian.
Di dalam gedung, semua orang tampak sibuk. Sang Kepala Negara terlihat gelisah. Di dekatnya ada Perdana Menteri. Sesekali Presiden mengerling Perdana Menteri.
"Kau yakin apa yang dikatakan anak-anakmu?" tanya Presiden kepada Perdana Menteri.
"Sangat yakin!"
Ekspresi kedua pemimpin negara itu menampakkan ketidaksenangan.
"Mr. Daime Rei, anak-anak Anda datang," kata seorang wanita bertubuh kecil kepada Perdana Menteri.
"Suruh mereka masuk!" perintah Mr. Daime.
Wanita itu meninggalkan Perdana Menteri. Beberapa saat kemudian dia kembali bersama tiga orang anak: Temari, Kankuro, dan Gaara.
"Terima kasih atas informasi kalian. Pilihan kalian untuk berlibur ke Konoha sangat tepat.," kata Mr. Daime.
"Walaupun jika kami tidak tahu tentang hal itu pun, sudah seharusnya ini dilakukan sejak lama, kan," kata Temari.
Mr. Daime hanya diam.
Wanita bertubuh kecil tadi kembali lagi.
"Semua sudah siap," katanya.
Presiden berjalan mantap ke luar gedung. Suasana halaman langsung sunyi senyap, hanya terdengar suara gerakan para wartawan yang mengambil alat perekam, ketika dia muncul. Dia berdiri di podium, menatap rakyatnya.
"Warga Negara Angin sekalian, saya sangat menghargai kehadiran kalian. Bagi saya, kehadiran Anda semua adalah salah satu wujud kepedulian terhadap bangsa ini. Wujud kepedulian terhadap bangsa ini yang lain adalah dengan melestarikan budaya kita. Jangan sampai warisan leluhur kita diambil oleh bangsa lain. Tapi ternyata melestarikan budaya kita belumlah cukup untuk membuat bangsa lain tidak mengambil budaya kita. Perlu pengakuan secara resmi terhadap budaya kita. Maka dari itu, pada kesempatan ini, saya, selaku Kepala Negara Angin, menyatakan Karasu adalah budaya asli Negara Angin, tepatnya Kota Suna."
Seluruh yang hadir bertepuk tangan. Presiden mengangguk kepada warganya. Kemudian dia meninggalkan podium.
A/N: Karasu itu ceritanya boneka kayu yang bisa digerakkan dengan tali, bentuknya bukan cuma gagak kaya namaya kok. aku pakai nama itu karena bingung mau namain apa. terus nama ayahnya gaara kan ga diketahui, jadi aku namain sendiri. daime dari kata yondaime. hehe. maksa ya.
akhir kata: review!!!
