20:47 PM.
"Untung kita tidak terlambat." Setelah melihat waktu yang tertera pada jam tangan elegan yang melingkari pergelangan tangan kirinya, Sougo membetulkan kerah tuxedo abu-abu yang ia kenakan. Lalu kedua manik hazelnya melirik pada putrinya yang berjalan di belakangnya.
'Semoga kau tidak tumbang kembali karena ini, Suna-chan…'
Sedangkan Kuroko, hanya bisa berjalan sambil menunduk dibelakang tubuh kedua orang tuanya. Ia genggam kuat-kuat tas kecil putihnya yang berbentuk seperti dompet dengan kedua tangan. Ia merasakan firasat buruk. Ia sepertinya mulai menyadari kenapa ia dibawa ke restoran Takazawa dengan pakaian versi wanita yang sangat jarang bahkan baru pertama kali ia gunakan.
"Eijun-san, dimana kita akan mengambil posisi untuk pemotretan? Kira-kira di meja yang mana, ya?"
Tiba-tiba terdengar suara percakapan yang menurutnya semakin keras terdengar olehnya.
"Bagamana kalau—"
BRUK
Tubuh kecil Kuroko terhuyung. Ia merasakan ada seseorang yang menabraknya. Ia yang terkejut tidak bisa menjaga keseimbangannya dan ia yakin akan terjatuh…
Greb.
"Ah!"
Kagura menatap lega pada tubuh putrinya yang kini tubuh kecilnya itu telah ditahan seseorang untuk tidak terjatuh.
Kuroko melihat wajah seorang laki-laki berambut coklat yang terlihat seperti pria berumur 30 tahun-an sedang menatapnya khawatir. Ia bantu Kuroko untuk kembali berdiri tegak.
"Kau tidak apa-apa, Nona?!"
Sougo segera mendekati pria itu dan mengambil pergelangan tangan Kuroko. Kuroko masih dengan wajah shock-nya hampir kembali terhuyung jika Tou-sannya itu tidak menahan tubuh kecilnya.
Sougo membungkukkan badannya sedikit dan tersenyum, "Terima kasih banyak telah menolong putirku, Tuan."
Pria itu—yang berdiri disebelah seorang wanita, membalas senyuman Sougo dan membungkuk juga, "Sama-sama."
"Kami duluan." Ujar Sougo. Lalu ia menuntun putrinya untuk kembali berjalan, diikuti Kagura. Ingat, mereka buru-buru. Bisa gawat jika mereka telat sampai di hadapan kepala keluarga Akashi.
Wanita yang berdiri di sebelah pria berambut coklat itu pun memerhatikan Kuroko dan kedua orang tua-nya yang semakin menjauh dari pandangan, bahkan sebentar lagi akan menghilang karena akan memasuki lift.
"Mou, gadis yang tadi itu cantik sekali kan, Eijun-san?"
Eijun mengikuti arah dimana pandangan wanita itu tertuju, "Kau benar. Haah, sebenarnya sih aku sedang membutukan model perempuan yang baru. Mari kita rapatkan hal ini besok."
Wnita didekatnya itu tersenyum dan mengangguk.
"Eijun-san? Misaki-san?" Tiba-tiba sebuah suara pemuda yang sangat mereka kenal mengalihkan perhatian mereka berdua.
"Kau sudah selesai ganti baju, Kise-kun?" Tanya wanita itu yang bernama Misaki.
Kise, dengan pakaian jasnya yang berwarna hitam dengan kemeja berwarna abu-abu dan dasi berwarna putih, mengangkat salah satu alisnya.
"Dari pada itu, kalian memerhatikan siapa?"
Eijun kembali menatap ke arah lift yang baru saja dimasuki oleh tiga orang yang ditemuinya, "Itu, tadi aku tidak sengaja menabrak seorang gadis."
Kise, yang menyadari kemana arah pandangan managernya tersebut, memutuskan untuk melihat juga, "Itu—"
Kedua iris madunya menangkap pintu lift yang sedikit lagi akan tertutup, sebelum pintu itu tertutup sempurna, ia melihat surai panjang biru muda bergelombang yang ia sangat tahu warnanya.
"…Kurokocchi?" Kise berbisik.
Lalu pintu itu tertutup sempurna.
Bisikan Kise tersebut sangat pelan dan nyaris tidak bersuara.
.
.
.
.
DISGUISE
Anagata Lady's Fanfiction
Kuroko no Basuke belongs to Tadatoshi Fujimaki.
OCs © Anagata Lady
AKASHI SEIJUUROU | KUROKO TETSUYA | KISE RYOUTA
WARN: OOC, TYPO(S), GENDER BENDER, etc..
(Tinggi Kuroko 165 cm.)
FEM!KUROKO—YOU HAVE BEEN WARNED!
.
.
.
.
Keluarga bermarga Kuroko itu telah tiba pada lantai tujuh dari gedung tinggi yang menjulang tersebut. Setelah keluar dari lift, keluarga kecil tersebut berjalan menuju salah satu ruangan restoran dimana terdapat kepala keluarga Akashi beserta anak dan istrinya yang telah menunggu.
Sougo sedikit khawatir dengan putrinya yang kini berjalan beriringan bersama Okaa-sannya di belakang tubuh tegapnya itu. Ia takut dengan apa yang terjadi jika Kuroko tahu kalau ia akan bertemu keluarga Akashi malam ini juga.
Saat akan melewati pintu bercat keemasan yang terbuka lebar, dua orang pelayan menghampiri Sougo.
"Selamat malam. Apa anda kepala keluarga Kuroko?" Tanya salah satu pelayan tersebut.
"Ya benar." Sougo tersenyum.
"Baiklah, saya akan mengantar anda ke meja dimana sudah ada yang menunggu anda dan keluarga anda."
Pelayan yang menyambut mereka itu mengulurkan tangannya dengan sopan untuk mempersilahkan memasuki ruangan yang luas tersebut. Didalamnya terdapat ballroom yang luas.
Sougo, Kagura dan Kuroko mengikuti kemana arah pelayan tersebut berjalan menuntun mereka. Sampai akhirnya mereka tiba di dekat meja bundar yang besar beralaskan kain putih.
Pelayan tersebut membungkuk sopan pada seorang pria berambut merah yang duduk disalah satu kursi dekat meja tersebut, "Saya telah mengantarkan keluarga Kuroko kemari, Tuan."
Kedua mata Kuroko melebar sempurna. Tubuhnya terasa kaku, bahkan mulutnya juga terasa kaku.
Kedua iris blue ocean tersebut, bertemu dengan sepasang iris heterokromatik yang mengintimidasi. Seringaian terlukis disepasang bibir tipis sang emperor.
.
Setelah keenam anggota keluarga tersebut menduduki bangku yang mengelilingi meja bunda tersebut., terjadi percakapan ringan antara kedua sepasang orang tua. Mereka tidak menyadari tubuh gemetar seorang putri yang duduk di dekat mereka.
Kedua iris biru muda itu tidak mau melirik ke samping kirinya. Tubuhnya begitu kaku. Kedua tangannya ia kepal saling berdekatan diatas kedua paha putihnya yang terkespos. Akashi Seijuurou juga tidak melirik ke arah Kuroko sama sekali. Ntah apa yang dipikirkan dari kapten tim basket Rakuzan tersebut.
Akashi Reika melirik Kuroko dengan pandangan tertarik, "Putri kalian cantik sekali, Sougo, Kagura." Wanita berkepala tiga itu tersenyum, membuat Kagura ikut tersenyum dan ikut melirik putrinya itu.
Kuroko Tetsuna, yang menyadari kalau dirinya baru saja dipuji, membalas senyuman Reika dengan sedikit canggung.
"Terima kasih banyak atas pujiannya, Reika-san."
Akashi hanya menghela nafas mendengar jawaban Kuroko yang suaranya terdengar sedikit serak tersebut. Tentu ia tahu penyebabnya.
Akashi Raito ikut tersenyum lembut dan melihat ke arah Kuroko, "Ia mirip sepertimu saat SMA, Kagura."
Kagura terperanjat, "Benarkah? Kurasaka putriku lebih cantik ketimbang saat aku SMA dulu. Dan menurutku, Seijuurou-kun juga mirip sepertimu saat SMA."
"Tentu jelas berbeda." Ujar Reika cepat.
"Suamiku lebih lemah dari pada putraku yang sekarang."Lanjut Reika. Mengundang pandangan tidak suka dari Akashi Raito.
Kagura dan Sougo tertawa mendengarnya.
Kuroko merasa terasingkan dari keempat orang tua yang sedang asyik reuni tersebut—karena mereka sepertinya dulu bersekolah di SMA yang sama.
"Tetsuna."
Suara berat yang terdengar sangat kecil dan pelan tertangkap oleh indra pendengaran seorang putri dari keluarga Kuroko.
Kuroko tahu betul, itu suara Akashi yang menyebut namanya atau lebih tepatnya memanggil. Ia merasakan jantungnya berdetak cepat. Ia tidak tahu apa komentar Akashi setelah melihat dirinya yang seperti ini. Lalu, ia tidak tahu apa yang akan Akashi lakukan padanya mengetahui ia yang tidak masuk ke Rakuzan High School. Ia merasa sebentar lagi akan memasuki kandang yang telah Akashi Seijuurou siapkan untuknya.
Kedua iris biru itu tidak memandang kea rah Akashi sedikitpun—berpura-pura untuk tidak mendengar. Ia takut, terlalu takut.
"Aku tahu kau mendengarku, Tetsuna." Akashi kembali bersuara dengan sangat pelan. Bahkan keempat orang tua yang sedang asyik berbicara itu tidak menyadari Akashi Seijuurou yang akhirnya membuka mulut.
Kuroko tetap tidak bergeming.
Akashi menghela nafas, sedikit kesal.
"Kau pasti sudah tahu apa tujuan orang tuaku mengadakan pertemuan dengan keluargamu." Ujar Akashi. Kuroko berusaha menutup pendengarannya walau tidak menggunakan kedua tangan untuk menutupnya. Ia terlalu takut untuk mendengarnya.
Ya, ia sudah tahu betul apa maksud dari pertemuan kedua keluarga ini. Ia telah menyadarinya…
"Mengingat perintahku untukmu saat di Teikou yang tidak kau laksanakan, Aku pikir pertunangan ini menjadi jalan yang tepat untuk menghukummu, Tetsuna." Lanjut Akashi.
Kuroko sedikit menegang mendengarnya. Ia semakin erat menggenggam dompet miliknya. Ia biarkan minumannya yang belum ia sentuh sama sekali. Bahkan makananya baru ia makan dua suap.
'Sudah cukup, Akashi-kun…Jangan diteruskan…'
"Pertunangan ini tentu tidak bisa ditolak. Bagaimana pun caranya kau akan lari dari pertunangan ini, kau tidak akan bisa."
Kuroko menundukkan kepalanya, 'Cukup…'
"Dan aku tidak mengharapkan ada penolakan darimu—"
"M-Maaf…" Kuroko bersuara. Suara kecilnya itu cukup terdengar oleh keempat orang tua yang berada disana.
"Ya, Suna-chan?" Jawab Kagura.
"A-aku, ingin ke kamar kecil sebentar." Kuroko berdiri.
"Baiklah." Jawab Sougo.
Setelah mendapat sahutan, Kuroko segera pergi meninggalkan meja tersebut. Ia tidak tahan, mendengar ucapan Akashi yang membuatnya semakin tertekan. Ayolah, sejak tadi banyak sekali beban yang dipikirkannya. Dan itu karena seorang Akashi Seijuurou. Malam ini pun pemuda itu kembali menambah beban pikirannya. Dengan langkah cepat dan hawa keberadaannya yang tipis, ia diam-diam pergi keluar ballroom dan menuju lift. Ia tidak akan ke kamar kecil yang berada di lantai 7, ia akan ke lantai 6. Alasannya, ia tidak mau orang tuanya akan mudah menemukannya jika mereka mencarinya akibat ia yang terlalu lama izin.
Kedua mata dwiwarna itu menatap punggung kecil Kuroko Tetsuna.
.
.
.
.
.
Suara isakan kecil yang tertahan terdengar menggema di salah satu bilik kamar kecil khusus perempuan. Seorang gadis berambut biru muda terlihat berusaha menghapus setiap air matanya yang keluar—takut menghacurkan dandanan yang terpoles diwajahnya dan jika hancur, maka kedua orang tuanya pasti akan bertanya apa sebabnya.
'Kenapa…semuanya jadi seperti ini? Kenapa dulu Akashi-kun menyadari diriku yang ternyata adalah perempuan…?'
Sepuluh menit telah berlalu. Tangisannya sudah bisa ia hentikan. Walau sebenarnya ia masih terisak pelan. Ia keluar dari ruangan kamar kecil wanita tersebut dan berjalan disepanjang koridor yang akan membawanya kembali menuju aula dimana disana terdapat lift yang akan membawanya kembali ke lantai 7.
Koridor itu begitu sepi. Ya, sepi. Mengingat malam yang semakin larut maka restoran Takazawa tersebut tidak akan terlalu ramai. Awalnya ia hanya bisa mendengar suara langkah kakinya yang menggema di koridor tersebut. Namun beberapa saat kemudian terdengar dentuman dari langkah sepatu yang lain tepat di belakangnya yang lumayan jauh. Sepertinya tidak hanya ia sendiri di koridor tersebut.
.
.
.
.
.
"Terima kasih atas bantuannya!"
Eijun membungkuk pada para staff yang lainnya. Setelah itu ia melirik Kise yang sedang menatap layar smartphone hitam milik model muda tersebut.
Tiba-tiba Kise menghampirinya, "Eijun-san. Ano…sepertinya aku tidak bisa kembali pulang bersamamu. Tou-san bilang ia akan menjemputku sebentar lagi."
Eijun mengangkat salah satu alisnya, "Ayahmu sedang di Tokyo?"
"Sepertinya ia baru saja menjalani panggilan dari kantor cabang di sini." Jawab Kise menurut dugaannya.
Eijun tersenyum dan menepuk bahu Kise, "Baiklah, Kise. Terima kasih untuk hari ini."
Kise balas tersenyum, "Hai'!"
Setelah itu, Eijun pergi meninggalkannya bergabung dengan staff lain untuk membereskan peralatan sehabis sesi pemotretan tadi.
Kise memutuskan untuk pergi menuju toilet terlebih dahulu, maka ia berjalan keluar ballroom yang berada di lantai 6 tersebut dan menuju koridor yang akan menuntunnya menuju toilet untuk laki-laki.
Ia melangkahkan kaki jenjangnya di sepanjang koridor yang sepi tersebut. Sesekali ia mengecek sesuatu di layar smartphonenya, mungkin saja ayahnya telah memberi pesan bahwa sudah menunggu di parkiran yang berada di basement.
Sampai akhirnya saat ia berbelok menuju bagian dari koridor yang lain, ia menemukan seorang perempuan dengan rambut berwarna biru muda.
Persis dengan rambut yang ia lihat saat di lift.
'Rambut itu…'
"Kurokocchi!"
Kise berteriak menyebut nama temannya semasa di Teikou dulu. Ntah kenapa, ia merasa yang ia lihat itu adalah Kuroko Tetsuya yang ia kenal. Perempuan bertubuh mungil yang memakai mini dress berwarna baby blue dengan rambut berwarna biru itu mirip sekali dengan Kuroko Tetsuya walaupun dari belakang dan dalam tubuh wanita.
Kuroko—yang menyadari panggilan tersebut membelalakkan kedua matanya. Ia kenal suara itu, suara Kise Ryouta.
'Ki-Kise-kun?!'
Kuroko merasakan ketakutan menghampiri dirinya. Maka ia tidak meladeni panggilan tersebut. Berpura-pura bahwa sebenarnya ia itu bukanlah Kuroko yang Kise kenal.
Kise melihat punggung kecil Kuroko yang semakin menjauh, maka ia bertujuan untuk mengejarnya dan memastikan suatu hal—
Orang itu adalah Kuroko Tetsuya ataukah orang lain.
Kise akan memulai langkahnya namun sebuah telapak tangan menahan pergerakannya. Pergelangan tangan kirinya dicengkram seseorang.
"Ryouta."
Kise berbalik, dan mendapati mantan kapten basketnya di Teikou, "Akashicchi?" Ia melirik ke arah perempuan yang ia sangka Kuroko telah menghilang dibelokan.
Akashi menatap Kise dengan kedua iris dwiwarnanya, "Sedang apa kau disini, Ryouta?"
Kise menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, "Ah…aku baru saja melakukan sesi pemotretan disini, Akashicchi."
Akashi mengangguk pelan, mengerti.
Kise teringat akan perempuan yang baru saja ia lihat, "Akashicchi! Apa kau melihat perempuan tadi? Ia mirip sekali dengan Kurokocchi!"
Akashi memasukkan kedua tangannya pada saku celananya yang berwarna hitam, "Ya."
"Lalu, apa Akashicchi sependapat denganku? Dia mirip Kurokocchi sekali dari belakang. Aku belum lihat wajahnya, tapi aku merasa yakin kalau tadi itu…Kurokocchi."
Akashi tersenyum—senyum yang orang lain susah artikan apa maksud dari senyuman tersebut.
"Menurutmu apa pendapatku, Ryouta?" Tanya Akashi balik.
Kise sedikit mengangkat salah satu alisnya, "Apa maksud Akashicchi? Kenapa balik bertanya?"
Akashi berjalan melewati Kise, mengambil arah yang tadi Kuroko ambil.
"Aku duluan, Ryouta."
"O-Oi! Akashicchi!"
Namun Akashi tidak menyahut dan meninggalkannya.
Kise mendengus kesal, "Ada apa dengannya? Dan kenapa Akashicchi berada disini? Aaash, kenapa aku tadi lupa bertanya?"
.
.
.
.
Akashi berjalan mendekati lift, dan ia mendapati Kuroko yang berjalan sedikit gontai akan memasuki lift.
"Tetsuya."
"Eh?"
Tangan Akashi menangkap pergelangan tangan kiri Kuroko membuat Kuroko menoleh kearahnya—akhirnya.
"A-Akashi-kun?"
Akashi menarik pegelangan tangan itu memasuki lft. Akashi memencet tombol menuju basement.
"Basement?" Tanya Kuroko. Bukankah seharusnya mereka kembali ke lantai tujuh dimana orang tua mereka menunggu?
Akashi tidak menjawab. Ia terus mencengkram pergelangan tangan kiri Kuroko.
Kuroko merasakan firasat yang membuatnya gelisah akan hal ini, "A-Akashi-kun…" Kini suara kecinya yang terdengar begitu manis menggema dalam lift yang hanya ada mereka berdua di dalamnya.
Lift berbunyi. Menandakan bahwa mereka telah sampai pada basement. Akashi segera menyeret Kuroko keluar dan membawanya menuju sebuah mobil sport berwarna hitam yang telah terparkir mulus di dekat lift.
Sepertinya Akashi telah merencanakannya dari awal.
"A-Akashi-kun?! Kita akan pergi kemana?" Tanya Kuroko dengan mimik wajah ketakutan. Seberapa kuatpun dia berusaha untuk terlepas dari genggaman pemuda itu, namun tetap saja tidak berhasil. Tentu karena perbandingan antara tenaga Akashi dan Kuroko, Laki-laki dan Perempuan.
Setelah sampai di dekat mobil, Akashi segera membuka pintu di bagian depan yang ada jok disebelah pengemudi.
"Masuk, Tetsuna."
Kuroko bergidik.
"Ti-tidak!"
Akashi menguatkan cengkramannya pada pergelangan tangan kiri Kuroko. Membuat gadis itu merintih pelan.
"A-aa..Akashi-kun…"
"Cepat masuk."
Dengan berat hati, Kuroko memasuki mobil itu. Diikuti dengan Akashi yang duduk di jok pengemudi.
Dengan kecepatan yang bisa dikatakan cepat itu, Akashi membawa mobil itu—serta Kuroko Tetsuna—keluar dari restoran tersebut. Kini mobil sport itu melaju melewati jalanan yang cukup ramai di Tokyo malam itu. Malam semakin larut dan pejalan kaki yang selalu memenuhi trotoar bukannya berkurang jumlahnya tapi malah semakin bertambah.
Kuroko menatap Akashi dengan ekspresi ketakutan yang terlukis jelas diwajahnya, "A-Akashi-kun, kita akan kemana?"
Ia benar-benar tidak tahu kemana arah Akashi akan membawanya. Kini Akashi semakin jauh meninggalkan restoran dan Kuroko tidak tahu kemana arah tujuan Akashi akan membawanya. Bahkan kini mereka berada di suatu daerah yang sepi.
Merasa kesal karena tidak menjawab petanyaan dan membuat rasa takutnya bertambah, akhirnya ia berani untuk bersuara lebih keras, "Akashi-kun!"
Akashi, dengan ekspresi yang tidak bisa di artikan—datar—tiba-tiba saja membanting setirnya sehingga mobi itu kini menyingkir ke bahu kiri jalan dan berhenti. Sebenarnya kepolisian Jepang sangat melarang akan hal ini.
"Diamlah, Tetsuna."
Kuroko tidak bisa mebendung air matanya yang kembali siap untuk keluar. Melihat Akashi yang seperti ini tentulah membuatnya ketakutan.
"A-Akashi…-kun…"
Kini Kuroko terisak.
Dengan pergerakan cepat, tiba-tiba Akashi merendahkan sandaran jok yang Tetsuna duduki, sehingga membuat pemuda itu menjadi mudah untuk berada di atas tubuh sang gadis.
Kuroko semakin terisak.
Akashi menatap Kuroko intens, lalu tiba-tiba ia merendahkan kepalanya sehingga kini wajah mereka saling berdekatan.
"Jangan menangis."
Akashi mencium air mata Kuroko yang mengalir di pipi putihnya. Tentu membuat Kuroko kaget. Ia membelalakkan kedua matanya dan menatap tidak percaya pada kedua iris heterokronatik milik pemuda yang kini berada diatasnya.
"Dengarkan aku, Tetsuna." Ujar Akashi. Kini ia menghapus setiap air mata Kuroko yang keluar dengan ibu jarinya.
"Aku tahu kau menjadi takut denganku setelah aku mengancammu dengan hukuman-hukuman yang akan kuberikan."
Kuroko berusaha menghentikan isakannya. Kini ia memilih untuk mendengarkan pemuda diatasnya berbicara.
"Jika kau tidak membantahku dari awal, ku yakin kau tidak akan terjerumus kedalam masalah yang akan lebih jauh. Aku mempunyai firasat jika identitasmu akan terbongkar saat kau sudah menduduki bangku SMA. Dan aku berusaha membuat hal itu tidak terjadi." Ujar Akashi. Kini ia pandangi semakin dalam kedua iris blue ocean tersebut.
"Namun kau telah menghancurkan rencanaku. Rencana untuk identitasmu tidak terbongkar. Kau memasuki Seirin, dan itu sebenarnya membuat keadaan semakin parah."
Kuroko terpaku dengan perkataan Akashi barusan. Dimana Akashi menyuruhnya untuk memasuki Rakuzan adalah untuk menyelamatkannya…
"Maafkan aku, Akashi-ku—"
Sebelum bibir mungil itu menyelesaikan kata-katanya, kini pemuda diatasnya itu mencium bibirnya.
Kuroko Tetsuna mematung.
Akashi…menciumnya?
.
.
.
.
.
Raito menghela nafas lega, membuat ketiga orang tua yang lainnya segera bertanya.
"Bagaimana, Raito?" Tanya Sougo dengan wajah khawatir.
Raito kembali memasukkan smartphonenya pada saku celana tuxedo yang ia kenakan, "Sei bilang jika Tetsuna bersamanya."
"Syukurlah…" Kagura yang hampir menangis itu—bahkan pingsan—karena telah kehilangan putrinya selama hampir satu jam tersebut akhirnya bernafas lega. Jika dengan Akashi, ia tidak perlu takut. Ia yakin putrinya itu aman dalam jagaan Akashi.
Reika ikut merasa lega.
"Dan Sei bilang ia akan mengantarkan Tetsuna kembali pulang ke rumahmu, Sougo." Lanjut Akashi Raito.
Sougo mengangguk.
Reika menatap Kagura dengan antusias, "Jadi bagaimana? Besok putrimu jadi pindah ke sekolah yang sama dengan Sei-kun, kan?"
Kagura menatap suaminya, seperti meminta agar suaminya yang menjawab.
Seakan mengerti dengan maksud istrinya, akhirnya Sougolah yang menjawab, "Sepertinya Suna-chan tidak bisa pindah ke Rakuzan."
"Apa? Apa alasannya?" Tanya Reika.
Sougo menghela nafas, "Sepertinya kuroko lebih memilih untuk melanjutkan bersekolah di Seirin. Walau ia tahu akibatnya."
"Sepertinya putri kami sudah terlalu mencintai tim basket di Seirin." Lanjut Kagura.
Reika memasang raut wajah kecewa, "Bukannya jika Tetsuna di Rakuzan maka ia akan dijaga oleh Sei-kun? Dan jika ia di Seirin, identitasnya akan semakin terbongkar, bukan?"
Kini Kagura yang menghela nafas, "Kami telah membicarakan hal ini tadi di sepanjang perjalanan menuju ke sini. Dan untuk hal itu ia bilang…ia akan atasi sendiri."
.
.
.
.
.
Senin pagi telah tiba. Kuroko Kagura menaiki tangga menuju lantai dua dan mengetuk pintu berdaun putih susu kamar anak semata wayangnya tersebut.
"Suna-chan? Sudah pagi!" Ujar Kagura sambil mengetuk pintu.
Kuroko, yang mudah bangun, segera bangun dan bangkit dari posisi tidurnya.
"Ya Okaa-san…" Jawab Kuroko dengan suara paraunya.
"Kaa-san akan menyiapkanmu sarapan! Cepat bersiap! Tou-san akan mengantarmu!" Setelah teriakan itu selesai dan setelahnya tidak ada lagi suara memanggil, Kuroko bangkit dan dengan sedikit gontai berjalan kedepan kaca besar yang berada disalah satu sudut kamarnya yang ber-cat baby blue tersebut.
Ia, mendapati bad hairnya yang berwarna biru dan seperti laki-laki tersebut. Dan ia mendapati wajahnya memerah.
Tunggu—memerah?
Kuroko menyentuh kedua pipinya. Kenapa memerah?
Ah, Kini Kuroko ingat Akashi yang menciumnya dalam posisi yang tidak menguntungkan tadi malam. Ya, tadi malam. Ya, berciuman, dengan mantan kapten tim basketnya. Apa segitunya ia merasakan sensasi akibat ciuman tersebut? Wajahnya memerah hingga sekarang.
Mengingat hal itu membuat kedua pipi Kuroko semakin memerah. Kuroko menepuk kedua pipi putihnya.
Kedua iris shappire miliknya melirik ke arah jam yang menunjukan pukul…setengah enam pagi.
"Setengah enam?" kuroko mengangkat sebelah alisnya. Kenapa Okaa-sannya membangunkannya pagi-pagi sekali?
Tiba-tiba kedua mata Kuroko menangkap secarik kertas berwarna pink muda yang terletak diatas sebuah seragam. Seragam itu tersimpan rapih diatas meja rias putihnya.
Kuroko membelalakkan kedua matanya.
Seragam Seirin!...untuk perempuan.
Kuroko mengambil kertas itu dan membaca tulisan yang tertera. Ia hafal betul jika tulisan yang tertera tersebut adalah tulisan Okaa-sannya.
Ohayou, Suna-chan.
Okaa-san dan Otou-san tahu kalau Suna-chan tidak mau pindah ke Rakuzan karena tidak bisa meninggalkan teman-temanmu di Seirin. Maka dari itu Okaa-san membawakanmu seragam Seirin untuk perempuan. Jangan Tanya kenapa Okaa-san memberimu seragam perempuan. Kalau tidak mau pakai seragam ini, maka tidak ada pilihan lain. Okaa-san akan memasukkanmu ke Rakuzan dengan seragam perempuan juga.
Sebenarnya seragam ini sudah Okaa-san siapkan jauh-jauh hari karena sudah mengira akhirnya seperti ini.
Yosh, Gunakan ini ya, Suna-chan! jangan lupa wig dan barang-barang lainnya yan sudah Okaa-san siapkan di lemari pakaianmu!
-Okaa-san-
Kuroko tidak tahu harus senang atau sedih. Ia memang merasa berterimakasih karena tidak jadi pindah ke Rakauzan, tapi tetap saja fakta dimana ia harus menggunakan seragam perempuan itu mengganggunya. Namun ia sudah tahu harus menggunakan cara apa untuk membuat semua keadaan tetap baik-baik saja.
Ia ambil seragam Seirin yang berwarna putih itu yang masih terbungkus rapih di dalam plastik bening. Pada akhinya, ia kembali memakai seragam perempuan.
.
.
.
.
.
.
TBC
Yosh, ch 4 keluar…
Review Kudasai?^^
