| Different Love |

| Disclaimer : Masashi Kishimoto |

| Chapter 3 |

Kring!

Bel istirahat berbunyi. Hinata memasukan buku dan alat tulisnya kedalam tas. Disebelahnya ada Sasuke yang sedang melakukan hal yang sama. Tak lama dari itu, para gadis di kelasnya menghampiri Sasuke untuk mengajak berkenalan.

Sasuke tidak menjawab sapaan atau pertanyaan yang di lontarkan oleh mereka. Terlihat jelas dari raut mukanya kalau dia merasa risih akibat desakan teman kelasnya tersebut.

Hinata yang merasa kasihan dengan keadaannya mengajak Sasuke untuk berkeliling sekolah. Sasuke berdiri dan mengangguk menyetujui ajakan Hinata. Tak lupa pula Hinata mengajak Kiba untuk berkeliling bersama. Mereka bertiga pergi tanpa menghiraukan teriakan kecewa dari teman sekelasnya.

"Aku lupa, siapa nama anak baru itu tadi?." tanya Sakura entah kepada siapa. Naruto yang mendengar pertanyaan Sakura mengerutkan alisnya tidak suka.

"Untuk apa kau menanyainya?. Dari tampangnya saja dia itu anak yang sombong." kata Naruto ketus. Sakura tidak menjawab. Ia berdiri dan pergi ke luar kelas meninggalkan Naruto yang masih terdiam disana.

Kini mereka bertiga sedang duduk di kantin yang sangat begitu ramai. Hinata duduk berada di tengah mereka. Sasuke di samping kirinya, dan Kiba di samping kanannya. Mereka telah memesan makanan untuk mengisi perutnya yang kosong.

"Ne Hinata-chan. Kau mengenalnya?." tanya Kiba sambil menunjukkan telunjuknya kearah Sasuke. Yang di tunjuk hanya cuek dan terkesan tidak peduli. Hinata mengangguk lalu berkata.

"Hmm.. aku dan Sasuke-kun adalah temanku pada saat berusia 5 tahun. Pertama kali kami bertemu di sebuah taman bermain di sebuah sekolah tua. Saat itu aku sedang bermain sendirian. Lalu aku bertemu dengannya disana." Kiba mengangguk mengerti. Tetapi ia masih penasaran dengan berbagai hal. Banyak pertanyaan yang memutar di kepalanya tetapi tidak ada satupun yang keluar dari mulutnya.

Ibu kantin membawa pesanan mereka. Uap panas mengepul dari makanan yang ada di mangkuk. Aroma wangi dari bumbu membuat nafsu makan mereka meningkat.

Kiba yang sudah sangat lapar langsung melahap makanannya. Hinata yang melihat itu hanya terkikik geli. Ia melihat Sasuke yang juga sedang menikmati ramen yang ia pesan.

"Jadi, kapan kau pulang kesini Sasuke-kun?." tanya Hinata sambil menyuapkan ramen kedalam mulutnya.

"Kemarin sore aku baru sampai di bandara." jawab Sasuke datar. Hinata hanya ber–oh ria. Dulu pada saat ia mau masuk Elementary School. Ia mendengar kabar kalau keluarga Uchiha akan pindah ke Jerman.

Hinata sangat terkejut dan langsung mencari Sasuke untuk membicarakan hal itu. ia masih mengingat jelas pada saat itu ia menangis karena Sasuke mengiakannya. Entah kenapa ia terkekeh geli mengingat kejadian memalukan itu.

Tak lama dari itu Sakura datang dan duduk di sebelah Sasuke. Ia menyapa Sasuke dan tak dihiraukan olehnya. Hinata hanya memandangnya datar dan lebih memilih untuk fokus pada makanannya.

Dan tiba-tiba Naruto menyusul dan duduk di sebelah Sakura. Raut mukanya terlihat menahan emosi. Mungkin ia cemburu karena Sakura duduk disebelah Sasuke. Tapi bukannya ia juga duduk disebelah Sakura?. Entahlah.

Canggung melanda mereka. Hinata sangat tidak suka dengan suasana ini. Ia mengajak Kiba untuk membeli air mineral. Kiba mengangguk lalu berdiri sambil memegang tangan Hinata.

"Sasuke-kun, aku mau pergi membeli minum. Apa kau mau menitip?." tawar Hinata

"Aku I–" kata Sasuke dipotong oleh Sakura.

"Nih, tadi aku membelinya 3. Daripada terbuang mending untukmu saja." kata Sakura dengan senyumnya. Membuat Hinata, Kiba, Naruto, dan Sasuke memandangnya aneh.

"Hn." Hanya itu yang terucap. Sasuke menerima air dari Sakura lalu menoleh ke arah Hinata.

"Pergilah. Aku akan menunggu kalian disini." katanya datar. Hinata mengangguk lalu berjalan menuju penjual minuman. Sebelum itu, ia melihat wajah Naruto yang terlihat tidak suka disana. Ia bingung dengannya. Jika ia cemburu kenapa ia diam saja pikir Hinata.

Ia menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran tersebut. Ia harus melupakan Naruto. Harus!. Kiba yang melihat tingkah aneh Hinata menepuk pundaknya pelan.

"Kenapa kau menggelengkan kepalamu?." tanya Kiba. Hinata menggelengkan kepalanya lagi lalu berkata.

"Tidak ada. Kepalaku hanya terasa sedikit pusing saja hehehe." Kiba menempelkan punggung tangannya ke dahi Hinata. memang disana terasa panas walau tidak terlalu.

"Apa kau sakit?. aku akan mengantarmu ke UKS." kata Kiba

"Ti–tidak. Mungkin aku hanya sedikit kelelahan. Nanti juga akan hilang pusingnya." Kiba hanya menghela nafas. Ia tahu kalau gadis disebelahnya ini sangat keras kepala. Jadi ia lebih memilih untuk mengalah daripada berdebat dengannya.

"Yasudah kalau kau merasa tidak enak badan. Kau bilang saja kepadaku. Aku akan mengantar dan merawatmu disana." Hinata mengangguk. Mereka hampir sampai ditujuannya. Tiba-tiba sebuah teriakkan menghentikan langkah mereka.

Ternyata itu Lee, Temannya Kiba. Ia berlari menghampiri mereka berdua. Nafasnya terputus-putus karena kelelahan.

"Kiba, kau dipanggil oleh Guy-sensei di ruang olahraga sekarang. Katanya ingin membahas pertandingan basket nanti." kata Lee yang masih kelelahan.

"Baiklah, aku akan kesana." Lee pergi. Kiba menoleh kearah Hinata lalu berkata.

"Kau tidak apa sendiri?. atau mau kutemani sebentar?." tanya Kiba. Hinata menggelang dan mendorong Kiba untuk menjauh sambil berkata.

"Aku tidak apa. Kau pergi saja." katanya lembut sambil tersenyum. Kiba membalas senyuman Hinata dan menundukkan kepalanya mendekati wajah Hinata.

Cuph~

Ia mencium dahi Hinata yang membuat sang empunya terkejut. Ia terkekeh melihat raut terkejut Hinata yang sangat lucu lalu pergi menuju ruang olahraga meninggalkan Hinata disana.

Semu merah muncul. Malu, itulah yang saat ini ia rasakan. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya untuk menutupi semu merah di pipinya.

Tak jauh dari sana terlihat pemuda yang melihat kejadian itu tadi. Wajahnya sangat terlihat marah. Bahkan urat di tangannya terlihat karena kepalan tangannya yang kuat. Ia pergi menjauh dari tempat ia berdiri tadi dengan auranya yang menakutkan.

Hinata membeli C.C. Lemon dingin. Ia meneguk isinya hingga tandas tak tersisa. Rasa haus yang menyerangnya tadi kini menghilang. Ia membuang kaleng kosong itu di kotak sampah lalu berlari menuju ke tempatnya tadi untuk bertemu dengan Sasuke.

Sampai disana ia terkejut ketika melihat meja tempatnya tadi hanya ada Sasuke dan Sakura disana. Alisnya mengkerut tanda bingung. Ia menghampiri Sasuke dan menepuk pundaknya pelan.

"Kalian berdua saja?. Dimana Naruto?." tanya Hinata penasaran. Sasuke hanya diam karena memang ia tidak tahu kemana Naruto pergi.

"Tadi ia pamit pergi. katanya ada urusan denga Guy-sensei." kata Sakura ketus. Hinata tidak mempedulikan nada bicara Sakura. ia hanya mengangguk paham lalu berkata.

"Hmm.. yasudah Sasuke-kun ayo ke kelas. Bel pelajaran sebentar lagi akan berbunyi." ajak Hinata. Telinganya mendengar suara orang mendecih tidak suka. Mungkin hanya perasaannya saja.

"Kau saja yang masuk duluan Hinata. aku masih ingin berbicara banyak dengan Sasuke-kun." Ok kini Hinata sudah tau asal suara decihan itu. Ia tidak menjawab dan langsung berjalan untuk masuk ke dalam kelasnya. Sakura tersenyum senang namun luntur seketika Sasuke berdiri dan berjalan mengikuti Hinata menuju kelas meninggalkannya disana sendiri.

'Sial!'

| Bersambung di Chapter 4 |

Tanggal, dan Waktu Publish : 03-01-2018, 18:56

Tanggal Update Chapter 4 : 05-01-2018

Dan untuk Chapter selanjutnya sudah saya katakan akan telat untuk update karena saya akan fokus untuk PSG. Ini adalah Chapter terpendek dari Chapter 1 dan 2. Tapi bisa juga lebih ataupun kurang tergantung pikiran dan mood saya yang labil. Okey.. mungkin sampai disitu saja dulu untuk Chapter 3 nya karena Chapter 4 akan muncul mahkluk hina lainnya tetapi enggak terlalu banyak muncul. Cuma ada di saat tertentu aja.

C.C. Lemon : Salah satu merk minuman buatan produsen terbesar di jepang, Suntroy. Minuman ini biasa dijumpai di minimart atau vending machine.

| Nao |