Zyle Choi Presents

A FanFiction inspired by Autumn In Paris' Ilana Tan

.

Disclaimers

Some of the quotes and parts may belongs to Ilana Tan.

All similarity words and occurrences with Autumn In Paris by Ilana Tan is on purpose

Cover image credit goes to Light Year, via Ballerina_Petals on twitpic.

.

Warning(s)

No plagiarism, no harsh words, and no bashing characters allowed.

A newbie author, might be a boring story, might be late to publish the next chapter, might be stopped due to some reasons. No one knows what will happen.

I don't force you to read, so don't read if you don't like the story.

Thanks in advance and enjoy.

.


Saat ia meninggalkan Seoul, hatinya tidak akan sakit lagi.

Ia yakin itu, karena pada saat itu, hatinya juga akan mati.

Tidak akan merasakan apa-apa lagi.

.

Lemari Hankyung kini bersih, semuanya pindah ke dalam koper hitam itu. Hari yang ditunggunya sudah tiba. Hankyung menghela nafas lega dan melihat kesekelilingnya, kamar yang ia tempati selama delapan bulan terakhir akhirnya harus ia tinggalkan, dan kembali ke kamar sejak ia masih kecil di China. Pandangannya berhenti pada meja tulis Hankyung, mendapati ada satu barang penting yang hampir saja ia tinggalkan. A picture of his beloved and him.

Foto yang ia ambil di photo box game center tempat Heechul dan dirinya biasa bermain. Foto yang menunjukkan figur Heechul tersenyum lebar dengan telinga Minnie Mouse yang dipakainya dengan Hankyung sendiri yang menggunakan telinga Mickey Mouse. Hankyung tersenyum mengingat kejadian itu, saat Heechul merengek untuk berfoto bersamanya. Ia akan merindukan semua ini.

"HANKYUNG-AH!" terkejut Hankyung buru-buru memasukkan lembaran foto itu ke dalam koper dan menutupnya. Orang ini memang benar-benar, tiba-tiba datang dan tiba-tiba juga ia pergi. Hankyung menggelengkan kepalanya dan berjalan keluar dari kamarnya. Hankyung kenal suara itu tanpa harus melihat siapa pemiliknya.

"Heechul-ah, ada apa?" benar kan, pemilik suara itu sekarang sedang duduk di atas sofa apartemen Hankyung. Heechul memang memiliki kunci duplikat apartemen Hankyung, takut jika malam ia tidak bisa tidur dan tentu saja ia akan datang lalu mengganggu Hankyung yang terlelap, katanya.

"Hanya berkunjung ke tempat sahabatku yang sebentar lagi akan kembali ke tanah airnya." Heechul menjawabnya dengan nada riang, sama sekali tidak terlihat kesedihan tentang Hankyung yang sebentar lagi akan pergi. "Kau sudah mengepack semuanya?" lanjut Heechul.

Hankyung mengangkat bahunya, "Sudah, hanya tinggal hal-hal kecil seperti oleh-oleh untuk ibuku dan keluargaku yang lain."

"Kau sudah membelinya?"

"Sudah."

"Kapan?"

"Beberapa hari yang lalu."

"Kapan kau akan berangkat?"

"Hari ini."

"Your boarding time, idiot!"

Hankyung tertawa. "Watch your words, Madam."

"You idiot. I'm a man."

"You're too pretty for a man."

"Sounds so gay."

"You are."

"What the hell, I'm not a gay."

"You sure?"

"I am really sure."

Hankyung tertawa lagi. Ia menggelengkan kepalanya. Berdebat dengan Heechul tentang hal itu sama saja dengan mencoba untuk membuka rahasianya sendiri.

"Setengah tiga sore. Penerbanganku."

"Kapan kau berangkat ke bandara?"

Hankyung melihat ke arah jam dinding kamarnya. Pukul sebelas. "Dua jam lagi, mungkin?"

"Kenapa cepat sekali?"

"Aku tidak ingin ketinggalan pesawat. Harga tiket saat ini mahal, kau tau? jangan sampai aku mengeluarkan harga dua kali lipat hanya karena ketidak pawaiian ku mengatur waktu."

Heechul berdecak, perkataan Hankyung seolah menyindir dirinya yang kadang hampir tidak pernah tepat waktu jika memiliki janji dengan Hankyung. "Terserah kau saja, China."

Meledek Heechul merupakan kesenangan sendiri bagi Hankyung. Menurut apa yang ia perhatikan selama delapan bulan mengenal Heechul, pria itu tidak pernah mau mengalah jika merasa dirinya diledek seseorang. Berbeda saat Hankyung mempermainkan kata-kata pedasnya menjadi senjata makan tuan kembali untuk Heechul, pria itu hanya berdecak dan mengibaskan tangannya mengatakan atau berbahasa tubuh bahwa ia tidak ingin membantah Hankyung.

"Hankyung-ah, bawa aku ke China juga!" Heechul berseru saat ia mengetahui Hankyung tidak akan membalas perkataannya lagi.

Hankyung menoleh dan mengangkat satu alisnya, "Boleh saja kalau kau punya tiket."

"Aku tidak punya tiket, bagaimana kalau masuk dalam kopermu saja?"

"Jika kau bersedia tubuhmu aku pisahkan menjadi beberapa bagian, its ok."

"Silahkan saja jika kau siap kehilangan Yang Mulia Kim Heechul ini."

Heechul tertawa, Hankyung tersenyum. Jauh di dalam hatinya Hankyung ingin berkata tidak, tentu saja ia belum siap dan mungkin tidak akan pernah siap. Delapan bulan bersama Heechul membuat pria ini seolah mengkonsumsi drugs. Heechul memiliki candu tersendiri untuknya. Bisa kau buktikan seberapa kacaunya Hankyung saat ia tidak bertemu Heechul selama delapan hari minggu lalu.

Bahkan ia tidak dapat membayangkan bagaimana kehidupannya di China nanti, harus mulai terbiasa lagi untuk menjalani hari tanpa Primadona ini di sampingnya. Baginya sehari tanpa Heechul sama dengan sehari tanpa air. Kau tau? Sadar atau tidak setiap hari kau membutuhkan dan menghabiskan banyak air untuk keperluanmu. Mandi, minum, dan sebagainya.

.

NAME

Tan Hangeng

FROM

Seoul

TO

Beijing, China

DATE

JULY 09

CLASS

VIP

FLIGHT NO

SJ 0910

SEAT

15 H

BOARDING TIME

02.30 PM

.

Hankyung memandang tiket pesawatnya. Sedikit ia melirik Heechul yang sejak tadi duduk menemaninya menunggu jadwal keberangkatannya yang kurang lebih masih satu jam lagi. Seberkas rasa takut dan bersalah melintas dipikirannya. Takut jika ia gagal dan bersalah meninggalkan Seoul hanya untuk alasan pengecutnya.

"Heechul-ah, apa kau akan merindukanku?" pertanyaan yang ambigu sebenarnya. Heechul mengangkat sebelah alisnya, tidak pernah pria dihadapannya ini berbicara serius tentang kepindahannya ke China, dan sekarang ia bertanya apakah Heechul akan merindukannya? Aku pribadi yakin bahwa Heechul akan merindukan sahabat baiknya ini. Ya, mungkin hanya merindukan sebagai seorang sahabat. Siapa yang dapat menebak The Unpredictable Kim Heechul ini, kan?

Heechul mengalihkan perhatiannya dari sekerumunan orang yang melakukan aktivitasnya di Seoul International Airport itu. "Berapa lama kau akan pergi?" Hankyung tersenyum simpul. Pertanyaan Heechul seolah menyayat hatinya yang bahkan belum pulih. Ia akan pergi sebentar lagi. Meninggalkan kota indah dengan orang yang terindah pula untuknya. "Aku sudah bilang tidak tau. Tidak tau akan kembali atau tidak."

"Tidak tau mengapa dan bagaimana, aku berharap kau kembali. Atau setidaknya jangan pergi sekarang. Kau tau kan besok hari spesial untukku? Dasar tidak berprikemanusiaan. Meninggalkan sahabatmu yang berulang tahun tepat esok hari. Aku tidak tau kau sekejam ini, Tan Hangeng."

Hankyung menoleh menghadap Heechul. Tidak, Ia tidak lupa kalau besok adalah hari ulang tahun Heechul. Hari dimana Tuhan membuang manusia yang terlalu indah ini ke bumi karena takut akan menyaingi malaikat-malaikatnya. Ia tau benar tentang itu.

"Tenang saja, aku sudah mempersiapkan kejutan yang paling indah untukmu! Dan aku yakin namaku akan tercatat dalam sejarah hidupmu karena hadiah yang kupersiapkan ini. Kau tidak akan menyesal!" Hankyung mengatakannya dengan tersenyum lebar, yakin dengan apa yang sudah dipersiapkannya untuk Heechul. Walaupun ia tidak yakin dengan apa yang akan terjadi dengan hatinya atau bahkan hidupnya jika Heechul sudah menerima hadiah spesial ini.

Heechul mengedipkan matanya mencerna perkataan Hankyung barusan, "Hadiah apa?"

"Tidak boleh tau. Bukan kejutan namanya kalau aku membertaumu sekarang!"

"Yah! Aku penasaran!"

"Tidak mau~"

"TAN HANGENG!"

"Ah yah! Aku lupa kau tidak boleh dibiarkan penasaran, kalau tidak orang-orang disekitarmu bisa terluka."

"Apa-apaan?"

"Terbukti! Barusan saja kau meninju bahuku."

"Cengeng sekali, Tan Hankyung yang terhormat."

"Terserah, aku pamit ke toilet, Yang Mulia Kim Heechul." Hankyung beranjak berdiri dari kursinya dan berjalan menuju toilet. Heechul hanya menggedikan bahunya acuh tak acuh dan mengeluarkan ponselnya. Ia tersenyum melihat tampilan layar utama di ponsel berwarna putih itu, fotonya dan Hankyung.

Kalau boleh dikatakan dengan jujur, Heechul memang benar menyayangi Hankyung. Sangat malah. Hanya saja, kata-kata sayang itu tidak selalu dapat diartikan sebagai suatu ikatan perasaan yang dimiliki oleh dua orang yang saling mencintai,kan?

Aku pribadi berharap Heechul adalah seorang gay juga, atau mungkin bisex. Terdengar gila, ya, hubungan sesama jenis sebenarnya bukan hal yang tabu lagi dibeberapa kalangan, hanya saja, sama seperti perdebatan. Pasti ada pro dan pasti ada kontra.

Cinta memang rumit, kan? Atau mungkin harus kukatakan bukan cinta yang rumit, tapi perasaan manusia itu sendiri.

.

"Heechul-ah, aku pamit. Jaga dirimu baik-baik, ne? Berhentilah bersikap kekanakkan dan bertingkah aneh. Kurangi kebiasaan burukmu itu, jangan terlambat makan dan jangan melewatkan makan malammu hanya untuk alasan diet. Kau bukan wanita,kan? Ah dan ya, jangan lupa apa yang sudah aku sampaikan. Café tempat biasa pukul sepuluh pagi besok. Kejutan dan hadiah ulang tahunmu."

"Kau cerewet seperti ibuku. Ya aku inget tentang itu dan aku akan datang tepat waktu, tenang saja~ Sudah sana pergi, kau tidak mau ketinggalan pesawat dan membayar dua kali lipat hanya karena menasehatiku,kan?"

Hankyung tertawa. "Baiklah. Aku pamit sekarang, Kim Heechul. Sampai bertemu lagi, mungkin?" Hankyung terkekeh dan menatap Heechul. Ia mendapati mata bening itu berkaca-kaca. Seorang Kim Heechul bisa menangis juga ternyata. Sungguh Hankyung ingin memeluknya dan merasakan kehangatan tubuh itu untuk mungkin yang terakhir kalinya. Mungkin setelah ia pergi malaikat cantik ini akan menjadi milik orang lain. Tidak, ia memang sudah dimiliki orang lain sejak pertama Hankyung mengenalnya.

Hankyung tersenyum lembut, senyum yang benar-benar tulus. "Live well, Kim Heechul. Be happy and don't let those precious tears fall down from your beautiful eyes. We will meet again, someday. Or maybe in our next life, with a different condition." Hankyung membungkukkan badannya sembilan puluh derajat, berdiri tegak lagi dan berjalan membelakangi Heechul. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Tidak boleh, ia tidak boleh menunjukkan sisi lemahnya dihadapan Heechul. Walaipun sebenarnya sah-sah saja untuk menangis saat kau berpisah dengan sahabatmu. Tapi hei, dia lelaki. Bagaimana bisa seorang lelaki sebegitu lemahnya untuk pergi dan berpisah dengan sahabatnya?

Tanpa Hankyung sadari Heechul menatap punggungnya dari belakang. Dalam diam Heechul berbisik dengan angin. "Maafkan aku, Hankyung-ah. Aku tidak mau kau mengucapkan salam perpisahan itu. Tidak tau mengapa dan bagaimana aku merasa takut. Mungkin kau benar. Aku seorang wanita yang terjebak dalam tubuh seorang pria. Aku tidak tau mengapa aku bisa selemah ini hanya karena kepindahanmu. Aku tidak tau mengapa aku merasa sangat kehilangan. Terdengar menjijikkan untuk mengatakannya kepadamu. Sounds so gay. Terima kasih. Jaga dirimu baik-baik, Tan Hangeng. Aku…Kim Heechul, akan selalu merindukanmu." Semakin lama sosok tinggi itu semakin menjauh dari Heechul. Heechul melihatnya mengangkat tangan kanannya tanpa berbalik. Heechul tersenyum. "Cepat kembali, Hankyung-ah."

Tidak Heechul sadari ada seseorang dibalik salah satu tiang penyangga ruangan itu yang tersenyum melihat dirinya. Seseorang dengan perawakan mungil, berkulit putih, dan rambut sehitam kayu eboni.

.

Pasti butuh waktu lama sebelum ia bisa menatapnya tanpa merasakan apa yang dirasakan setiap kali ia melihat sosok itu. Mungkin suatu hari nanti – ia tidak tau kapan – rasa sakit ini akan hilang, dan saat itu mereka baru akan bertemu kembali.


Chapter tiga terbit.

Tetap absurd dan boring, ditambah lagi semakin singkat.

Typo mohon dimalkumi, no edit soalnya.

Bahasa berantakan, alur cerita mengalir begitu saja tanpa kerangka dan dipikirkan terlebih dahulu.

.

Seperti kemarin, balasan beberapa review silahkan dilihat:

paradisaea Rubra: Pertanyaan yang tidak bisa dijawab untuk pertanyaan nomor satu dan dua. Untuk pertanyaan nomor tiga, orang ketiga adalah Kibum (genderswitch) tentunya :) Terima kasih.

sasurissawinchester: Terima kasih, glad to read your review :)

JokerKiller: Kalo suka baca novel, tetralogi 4 musim Ilana Tan itu recommended banget deh, ga bakal nyesel bacanya :)

.

Untuk balasan review volum48, Zy tujukan juga buat semua pembaca Yaoi Does Exist.

Kesingkatan cerita dan to the point langsung ke inti memang disengaja.

Mengapa?

Karena Zy bukan tipe pembaca yang suka dengan cerita berchapter-chapter panjang dan muter-muter.

Jadi Zy terapin di cerita Zy sendiri kalo Zy ga boleh buat pembaca merasa bosan dengan never ending problems :)

Untuk beberapa pembaca yang lebih suka dengan chapter yang panjang, ditunggu saja waktu yang tepat untuk Zy punya lebih banyak ide dan inspirasi, dan Zy akan buat FanFiction dengan chapter seperti sinetron Cinta F- x) Hahaha

Happy ending atau engga buat HanChul, silahkan ditebak sendiri, kekeke~

.

SPECIAL THANKS TO

paradisaea Rubra - Kim Rae Sun - sasurissawinchester

JokerKiller - YunieNie - Volum48 - Ryu

.

The only one person that understands me even though he's a Chinese,

Hangeng.

The only one person that can hits him,

me - Kim Heechul.

But time has passed.

And I never treat that friend nicely.