Disclaimer: Hetalia Axis Powers © Hidekaz Himaruya-sensei

Warning : OUT OF CHARACTER aka OOC! (kenapa pake caps? Karena kemungkinan super *?* OOC), AU aka Alternative Universal, typo(s), Death Chara(?) don't like don't read. Happy reading =))

~~~ Chapter IV : My Soundless Voice ~~~

Tatkala Liech membuka kelopak matanya yang tertutup, yang ia lihat berupa ruangan putih bersih dengan lampu neon sebagai penerangan. Kepalanya pusing. Sedikit. Rasanya ia tahu dimana ia berada sekarang ini.

Rumah sakit.

Benar sekali. Tadinya Liech mengira bahwa ia sudah bebas keluar-masuk rumah sakit lagi setelah enam bulan ini. Namun ternyata ia kembali kemari. Dan ia tak siap untuk mendengar hasil pemeriksaannya nanti. Tapi, siapa yang membawanya kemari?

Gadis itu mengangkat pandangannya untuk melihat sekitar kamar tempat ia dirawat. Ia melihat ibunya yang berdiri di dekat jendela. Dan ayahnya yang segera menghampirinya melihat putrinya telah sadar. Mereka berdua berdiri di sisi ranjangnya dan Liech hampir tak kuat melihat ibunya menangis.

"Mengapa ayah dan ibu pulang sebelum waktunya? Seharusnya kalian pulang satu minggu lagi...?"

"Kau pikir kami bisa tenang saat mendapat kabar bahwa anak kami jatuh pingsan dan penyakitnya kumat?" Ibunya hampir histeris dan menggenggam telapak tangan Liech erat.

Vash—yang baru diketahui Liech keberadaannya di sudut kamar—berdeham kecil dan bergumam tentang sikap berlebihannya ibunya. Ia menggerutu keras dan memutar bola matanya.

"Aku sudah bilang padamu bahwa aku baik-baik saja, Ibu. Sungguh. Ayah, aku terlihat sehat kan? Iya kan, Ayah?"

Sang Ayah hanya tertunduk tanpa banyak bicara dan mengecup kening putrinya. "Kami sudah bilang, jika terjadi sesuatu beritahu kami. "

"Aku memberitahu kalian! " Vash nyaris memekik tak terima.

Liechtenstein memalingkan wajahnya. "Aku tahu ini salahku, aku lupa meminum obatku..."

"Dan kau tidak memberitahu kami bahwa penyakitmu makin parah. " Ibunya menyibak anak rambut di wajah pucat putrinya. "Beritahu kami jika kau merasa sakit, jika kau butuh sesuatu. Atau kau bisa beritahu kakakmu. "

"Aku tak ingin merepotkan Oniisan, Ayah, Ibu. Jujur saja, reaksi kalian berlebihan."

Vash menyeruak diantara kedua orangtuanya. Menatap adiknya dan selang infus di pergelangan tangan gadis itu tanpa rasa simpati. "Nah, dia sendiri berkata bahwa kalian berlebihan. Lagipula, kenapa sih kalian sampai sebegininya hanya karena dia masuk rumah sakit? Dia sakit apa? Maksudku, Liech sakit apa? Jangan katakan bahwa ia hanya flu! "

Liechtenstein kini tak hanya memalingkan wajahnya, namun tubuhnya kini menghadap dinding. Ia tak mau mendengar kalimat yang diucapkan ibunya berikutnya.

"Adikmu menderita Leukimia sejak tiga tahun lalu. Beruntung dia masih bertahan sampai sekarang, ia tak ingin menjalani kemoterapi dan sekarang berdampak pada kankernya yang kian parah. Kau dengar aku, Liechtenstein? Kau harus menjalani kemoterapi setelah ini, tak ada kata tidak. "

"Jangan becanda, Bu. Aku sedang serius. " Vash melipat tangan di dadanya dan tampak malas.

"Ibu takkan main-main dengan hal sekrusial ini, Vash. Tidakkah kau merasa kasihan pada adikmu ini?"

Vash terdiam sesaat dan ruangan itu kini berada dalam hening. Liech mengerjapkan matanya dan ia baru sadar cairan hangat mengalir dari matanya. Kini ada dua orang yang tengah berkubang dalam air mata. Dan keduanya menangis karena alasan yang sedikit berbeda.

"Mengapa tak ada yang memberitahuku tentang semua ini?" Suara Vash tenggelam dalam bisikan.

" Liechtenstein melarang kami." Sahut sang ayah. "Cukup, cukup untuk malam ini. Liech butuh istirahat, jangan ganggu dia. Mungkin dia sudah tertidur."

"Mengapa tak ada yang memberitahuku? " Vash masih terus mengulang-ulang kalimat itu dalam bisikan nyaris tak terdengar. Dia bergeming tatkala ayah dan ibunya hendak menggandengnya keluar kamar. Sampai tinggal ia sendiri yang masih sadar di ruang itu—atau seperti yang ia kira. Karena Liech masih sadar sepenuhnya.

"Kenapa—kenapa tak ada yang memberitahuku tentang penyakitmu, Liech?" bisiknya untuk yang kesekian kalinya. Ia pikir ia berbicara dengan seseorang yang telah jatuh tertidur.

"Karena kupikir Oniisan takkan peduli. Karena kupikir hal sepele macam ini hanya akan menambah beban pikiran Oniisan. Karena kupikir hal sepele ini juga takkan digubris oleh Oniisan. Karena kupikir percuma saja memberitahu Oniisan tentang ini. Katakan bahwa aku benar." Liechtenstein mencoba menahan air matanya yang kini makin deras mengalir.

"Ya… Ku—kupikir bahwa hal semacam ini juga takkan pernah kupedulikan—"

"Berarti aku benar kan dengan tidak memberitahu Oniisan? Oniisan pulang saja, istirahat. "

Vash menyentuh bahu Liech yang seidkit berguncang dan gadis itu menepisnya. "Maksudku, aku tidak pernah tahu bahwa kau selama ini—"

"Oniisan tidak pernah tahu bahwa selama ini aku sakit. Oniisan tidak pernah tahu. Dan Oniisan juga tidak tahu tentang aku. Sudahlah, Oniisan pulang saja. Aku pun ingin istirahat. "

"Liech, aku ingin memberitahumu sesuatu... "

"Oyasumi, Oniisan. " Liech menutup tubuhnya sampai ujung kepala dengan selimut dan memejamkan matanya yang panas erat-erat.

Vash terenyak lalu mengelus bagian yang ia pikir puncak kepala sang adik. "Oyasumi. "

XxxxxxXxxxxxX

"Ohayou, Nona Liechtenstein. " Sapa seorang suster berwajah ramah pagi itu.

"Ohayou, Suster. " Ia tersenyum kecil. Agak gemetar lantaran udara di luar kini benar-benar dingin. Tampaknya tadi malam salju yang turun sangat banyak sampai-sampai jendela tertutup warna putih. Dan meskipun kamar ini telah dinyalakan pemanas ruangan tapi hawa dingin itu tetap menyusup ke balik selimut ranjangnya.

"Dingin ya?" Suster itu menaikkan suhu pemanas kemudian menata baki sarapan di meja di samping tempat tidur. Liech rasanya ingin muntah jika ingat makanan rumah sakit, sebelum ini ia makan makananan rumah sakit lebih sering daripada masakan ibunya sendiri. Sumpah ia muak.

"Suster, salju yang turun tadi malam banyak sekali ya? Dingin sekali. " Liech memeluk tubuhnya sendiri.

"Yep. Semalam ada badai salju sampai subuh tadi. Jalanan tertutup salju beku dan diluar sangat dingin. Tapi suhu untuk pemanasnya sudah cukup kan?"

Liech mengangguk seraya tersenyum. "Biar aku menyuapnya sendiri. " Gadis itu meraih sendok dan menyuap bubur hambarnya sebagai sarapan. "Apa dosis obatnya juga ditambah?"

"Tentu saja. Penyakit Anda kian memburuk, apalagi Anda tidak menjalankan kemoterapi. "

"Kapan aku akan menjalani kemoterapi itu?"

"Setelah ada kepastian dari dokter yang menangani Anda. Kondisi fisik Anda tidak mendukung untuk melakukannya sekarang. " Suster itu tersenyum menyemangati. "Tenang saja, Anda pasti akan segera sembuh. "

Liechtenstein membalas senyumnya, dengan agak sedikit dipaksakan. Namun dia adalah seorang aktris yang pandai, senyumnya itu seolah senyum ramahnya yang biasa. Bahwa perih dihatinya yang seharusnya menyebabkan air matanya berlinang bisa ia tahan dengan amat baik.

"Apa Ayah dan Ibu sudah datang berkunjung pagi ini, Suster?"

"Ayah Anda berpesan bahwa beliau dan istrinya akan pergi ke bandara pagi ini, sebelum menjenguk Anda? "

"Ma-maksud Suster?"

"Ayah Anda berpesan, jika Anda mencari mereka, mereka pergi ke bandara untuk mengantarkan anak mereka yang satu lagi. Begitu pesan mereka. "

Sendok yang telah penuh berisi sarapannya itu tergantung di udara, setengah jalan menuju mulutnya. Jadi... tadi malam Vash ingin memberitahunya bahwa ia akan pergi ke Amerika pagi ini? Vash mungkin kemarin ingin berpamitan padanya dan ia menolaknya? Dan orangtuanya tidak memberitahunya sama sekali? Bahkan tentang rencana kuliah Vash yang bagi Liech terasa begitu mendadak? Jadi jika kemarin Vash yang merasa ditipu oleh keluarganya, kini ia yang ditipu mentah-mentah?

"Oniisan..."

Liechtenstein merenggut selang infuse di pergelangan tangannya, melompat turun dari temapt tidurnya dan berlari menginggalkan perawat yang memanggil-manggilnya. Ia menuruni anak tangga dua dua sekaligus, dan ia mengutuki letak kamarnya yang terletak di lantai tiga. Ia harus kembali ke rumah. Mungkin orangtuanya dan Oniisan-nya masih ada di rumah. Mungkin ia masih sempat berpamitan.

Gadis itu mengambil jalan pintas melewati jalan terjal yang agak berkelok. Dan ia sama sekali tidak memakai alas kaki. Hanya piyama rumah sakit yang ia kenakan di tengah lautan salju yang menutupi jalanan beraspal itu. Ditambah butiran salju lain yang kini turun dan mendarat secara acak di jalanan yang barusan ia tapaki.

Bagaimana jika ia tidak cukup cepat untuk kembali dan mengejar mereka? Liech memberikan perintah pada kakinya yang terasa seolah tersengat ratusan jarum beku agar berlari lebih cepat. Udara dingin yang ia hirup itu masuk ke paru-parunya seiring langkahnya yang kian cepat. Ia tak bisa memaksakan kakinya lebih jauh lagi.

Terlalu banyak kata-kata dan kalimat yang hendak ia sampaikan pada Oniisan-nya. Banyak hal yang belum tersampaikan. Ia hanya takut bahwa ia tidak memiliki waktu yang cukup untuk menunggu. Mungkin menunggu tidak akan jadi masalah. Tapi ia takut jika waktu yang akan membunuhnya kelak. Ia takkan mengulur waktu lagi. Semua yang ia pendam selama ini harus ia sampaikan. Tak apa meski hanya secuilnya, daripada tidak sama sekali.

Tubuhnya seolah membeku dalam pelukan hawa dingin pertengahan bulan Desember itu. Hanya kedua matanya yang terasa panas lantaran air mata yang terus mengalir. Kini telapak kakinya seolah mati rasa, dadanya seolah akan mengkerut oleh es tajam yang menusuk. Seolah oksigen yang ia hirup takkan mampu menopang kehidupannya lagi. Dan jarak yang masih harus ia tempuh menuju rumahnya seperti tidak terhitung. Bagaiman bisa ia menghitung jika kepalanya hanya penuh oleh kalimat yang ingin ia sampaikan? Kalimat yang belum terucapkan itu terlalu banyak...

Liech mendongakkan wajahnya tatkala melihat mobil sedan yang amat familier. Udara yang berkabut dan matanya yang berair nyaris membutakan pandangannya namun ia tahu betul bahwa sedan itu adalah sedan yang dikendarai oleh ayahnya.

Jalanan berkelok itu entah mengapa begitu sepi, baik oleh kendaraan roda empat ataupun para pejalan kaki. Ya, karena memang seharusnya orang yang waras tidak akan keluar rumah disaat badai salju ini. Oke, ini adalah badai salju kedua. Dan warga takkan keluar rumah kecuali dalam keadaan terpaksa. Dan, Liech mengira harusnya keluarganya berangkat saat badai salju reda karena toh jadwal penerbangan akan diundur. Atau, kecuali karena Vash memang sengaja berangkat secepat ini demi menghindarinya?

Jantungnya seolah diremas es beku tajam. Sekujur tubuhnya nyaris kebas, termasuk organ dalamnya. Otaknya seolah membeku bersamaan dengan ribuan kata yang coba ia susun untuk menjadi kalimat padu untuk mengungkapkan segalanya nanti. Namun entah kekuatan apa yang menyusupi tubuh mungilnya yang rapuh untuk tetap berlari sementara tubuhnya sudah begitu pucat dan lemas. Dingin itu nyaris tak terasa. Liech biasanya takkan seklise ini namun ungkapan tentang betapa kuatnya perasaan cinta memang benar adanya.

Sedan itu nyaris terkejar, dari sudut mata Liech jarak diantara ia dan mobil itu tak sampai dua puluh meter. Secepat itukah ia berlari? Oh ya, mobil itu melaju lamban karena jalanan beraspal itu licin karena es dan beberapa kali gadis itu nyaris terpeleset dan terjatuh.

OH TIDAK! Mobil itu menambah kecepatan.

Liech mengambil jalan pintas lain karena sedan itu telah hilang dari pandangannya. Bibirnya terkunci rapat. Wajahnya sudah seputih mayat. Ia tentang hawa dingin pembunuh itu dan ditambah lagi kecepatan gerak kakinya. Mungkin sumber kekuatannya saat ini adalah satu kalimat yang selama ini ia tahan-tahan dan tak jua tersampaikan setelah beberapa tahun.

Karena ketakutannya akan waktu yang kian memperpendek umurnya. Kini memorinya kembali berputar. Saat ia bermain suit dengan Vash, dan ia menang. Ia bertaruh jika ia menang maka saat Vash pulang nanti, entah kapan itu, Vash takkan lupa padanya. Seperti ia takkan lupa pada Oniisan-nya. Ia takut Vash akan ingkar janji. Ia takut Vash akan melupakannya. Meskipun Liech mungkin bukan orang yang spesial dalam hidup Oniisan-nya, ia tak ingin dilupakan begitu saja. Meski ia tidak menempati tempat khusus dan berharga dalam pikiran Oniisan-nya, tapi ia ingin memori tentang dirinya tetap menempel di pikiran Oniisan-nya.

Suhu di jalanan kali itu benar-benar dingin dan mungkin di bawah 0 derajat sampai air mata di pipi Liech membeku menjadi butiran es, begitu juga di kelopak matanya seperti butiran kristal indah. Sedan itu sudah sangat dekat. Seolah ia sanggup meraihnya. Sungguh, margin diantara ia dan orangtuanya dan Oniisan-nya sudah sangat dekat. Masih bisakah ia memeluknya?

Liech membuka mulutnya hendak berteriak memanggil namun tak ada suara yang keluar, seperti air matanya, mungkin pita suaranya membeku. Jika memang suara bisa membeku dan tertahan. Lalu bagaimana caranya ia berbicara menyampaikan satu kalimat itu?

Liechtenstein tersandung gumpalan salju beku dijalanan tersebut dan ia tergelincir di mulut terowongan tempat sedan silver tersebut telah setengah jalan dan tenggelam dalam kegelapan. Ia terpelanting dan tubuh mungilnya menghantam es dengan sangat keras. Ia sampai tak sanggup menangis lagi, air matanya telah membeku. Ia tak bisa mengeluarkan sepatah katapun, bahkan untuk menjerit kesakitan. Celana piyamanya pada bagian lutut tergores dan cairan hangat merembes di lutut kirinya.

"Oniisan..." Bibirnya bergerak membentuk kata tersebut. Ya, dia tak bisa bersuara, dia tak bisa menangis. Hanya hatinya dan wajahnya yang benar-benar menggambarkan perasaannya saat ini. Sesakit apa luka fisik dan luka hati yang ia derita. "Ayah... Ibu... Oniisan..."

Liechtenstein mencoba mengangkat lehernya setinggi yang ia bisa. Namun mobil sedan itu telah menghilang dari pandangannya. Perlahan butiran salju menumpuk di lengan dan punggungnya. "Oniisan, I love you..." Sejuta kata, dan ribuan kalimat yang hendak ia sampaikan namun tertahan hingga bertahun-tahun itu, kini terucap sudah. Apa yang ia rasakan, apa yang ia inginkan, segalanya. Membentuk tiga kata singkat yang mencakup semua perasaan dan jutaan kata itu.

Kalimat sederhana yang butuh bukan seorang pengecut untuk mengatakannya. Kini ia terlambat untuk mengungkapkannya. Ia terlalu pengecut untuk bicara. Namun kalimat itu selalu terucap dalam keheningan dalam kebisuan. Masih berartikah kalimat tersebut sekarang?

XxxxxxXxxxxxX

Vash Zwingli melirik ke jendela belakang sedan yang terus melaju tersebut. Ia merasa sepertinya melihat bayangan putih bersiluet familier yang sejak tadi bergerak mengikuti lintasan mobil yang ia tumpangi tersebut. Namun tatkala menoleh ia tak melihat apapun selain putihnya salju dan kabut pekat yang melayang di sekitar jalanan sepi itu.

Namun perasaannya terus berkata bahwa ada sesuatu. Bahwa siluet tadi merupakan siluet yang ia kira sebagai seseorang yang dikenalnya. Sekali lagi Vash menoleh ke arah jendela. Memang tak ada apapun, apalagi siapapun. Terutama kabut makin pekat saja.

"Ayah, coba balik sebentar... "

"Kenapa?"

"Kurasa aku melihat Liechtenstein, mungkin. Di luar sana. "

"Apa? " Kata ibunya seraya menoleh ke belakang. " Tak ada siapapun di saat badai salju begini. Pasti jadwal keberangkatanmu akan tertunda beberapa jam karena badai salju ini. "

Vash menatap kosong ke depan. Tenggelam dalam pikirannya sendiri. Tapi perasaannya begitu kuat mengatakan bahwa yang tadi itu memang Liechtenstein. Tidak logis dan aneh memang, namun untuk kali ini Vash amat percaya bahwa perasaannya tidak akan salah. Sesampainya di lampu merah, Vash membuka pintu sedan yang tidak dikunci oleh ayahnya dan ia menerebos kabut juga salju.

Tunggu dulu, mengapa ia melakukan semua ini? Mengapa ia keluar dari mobil dan kembali hanya untuk Liech? Sebegitu pentingkah adik—angkatnya—itu untuk mendapat perhatiannya? Lalu sesuatu di dalam dadanya menyahut berupa bisikan tersamar "ya, dia amat penting dalam hidupmu, bukan?"

Vash menggeleng kuat namun meski pikirannya berkata tidak, kedua tungkai kakinya tetap saja berlari dengan cepat. Kembali ke jalan yang baru saja ia lalui. Ia yakin akan menemukan sesuatu. Apapun itu atau... siapapun itu. Ia menyipitkan matanya dan melihat menembus kabut, ke arah terowongan gelap di depannya. Tak terlihat apapun. Beberapa kali ia terpeleset es dan beruntung ia bisa mengontrol dan menjaga keseimbangannya.

Dan meskipun ia telah memakai sweter dan jaket tetap saja udara dingin begitu menyengat. Lalu ia berpikir bagaimana dengan Liechtenstein yang mungkin hanya memakai piyama? Tanpa sweter atau jaket? Bagaimana jika ia kedinginan? Kemudian pikirannya menyangkal dengan kuat bahwa ia mengejar sesuatu yang tak jelas dan Liechtenstein masih berada di kamar rumah sakit, hangat dan aman. Sementara dia? Berlari tak jelas di tengah badai salju yang mungkin bisa membehayakannya.

Vash berlari melewati terowongan dan tepat di mulut terowongan hatinya mencelos tatkala melihat sebentuk rambut pirang diantara timbunan salju. Ia berlutut—napasnya seolah jaring laba-laba di udara, berasap—dan menyingkirkan tumpukan salju itu. Ia terbelalak melihat Liechtenstein terbaring menelungkup di tengah mulut terowongan. Wajah gadis itu seperti mayat, bibirnya biru dan luka kecil masih terlihat di pergelangan tangannya tempat selang infus tadinya berada.

" Liechtenstein! " panggil Vash setengah berteriak mengalahkan deru angin. Ia menarik lengan gadis itu dan melihat wajahnya yang membuat hatinya semakin dicekam perasaan ngeri. Vash memeluk tubuh beku itu, mencoba membagikan kehangatan tubuhnya.

"Kita harus kembali ke rumah sakit. Liechtenstein, kau dengar aku?" Diguncangkannya pipi gadis itu. Ya Tuhan, wajahnya tak memliki warna lagi namun syukurlah denyut nadinya masih terasa meski begitu lemah.

Vash mengalungkan lengan adiknya disekeliling leher belakangnya kemudian mengangkat tubuh lemas seperti tanpa nyawa itu. Ia mencoba berlari namun seringkali ia tersandung, jadi ia memilih berjalan secepat mungkin. Ia meniup telapak tangan Liech, mencoba menghangatkannya. Namun suhu tubuh Liech sudah seperti es dalam bentuk manusia saja.

"Apa yang kau lakukan ini, Bodoh? Kau seharusnya berada di rumah sakit, di dalam kamarmu. " Geram Vash menahan getaran suaranya. "Jangan katakan jika kau kabur dan hendak menyusulku! "

Kepala berambut pirang dibahunya itu bergerak dalam anggukan lemah. Kedua lengan itu semakin erat memeluk leher Oniisan-nya.

"Kenapa? Kenapa kau begitu tolol melakukan ini semua? Masih tak sadar juga bahwa kau merepotkanku? "

Hening. Tak ada jawaban. Bobot yang ia bawa terasa makin berat, seperti langkahnya. Perasaan waswas dan—dan rasa takut itu kini kembali menyelimuti hati Vash. Apa ia kurang cepat? Apa ia terlambat untuk menyelamatkan adiknya?

"Bertahanlah, hey Bodoh. Sebentar lagi kita akan sampai. " Itu adalah dusta. Bahkan Vash tak tahu kemana arah menuju rumah sakit atau dimana jalan paling cepat menuju kesana. Kabut kini makin tebal dan ia hanya bisa melihat sejauh satu meter ke depan. Selebihnya ia seolah meraba dalam gelap saja.

Kini Vash merasa bahwa tubuhnya seolah membeku dan langkahnya makin melambat. Ia menahan bobot tubuh Liech sekuat tenaga. "Kau tolol sekali jika memang kabur dari rumah sakit hanya untuk mengejarku. Sebenarnya... kemarin malam aku ingin memberitahumu tentang keberangkatanku, tapi kupikir tak penting juga. Lagipula aku sudah membalasmu yang telah berbohong padaku, kan? " Vash tertawa hambar.

"Kau mendengarku, kan? Hey, Liechtenstein, kau dengar aku tidak? Apa kau sengaja berpura-pura tak mendengarku?"

Tak ada sahutan. Vash menoleh menghadap wajah pucat sang adik yang tak berwarna lagi. Dia masih bernapas, setidaknya. Syukurlah dia masih mempunyai waktu untuk membawanya kembali ke rumah sakit. Vash yakin sekali bahwa mobil orangtuanya kini terjebak badai salju dan seharusnya mereka sudah sejak tadi tiba di bandara. Kini dia malah menggendong adik angkatnya yang sakit dan berharap-harap cemas ia masih bisa menyelamatkannya.

"Kau tahu, saat kita memainkan permainan konyol bernama suit itu, aku memang sengaja bermain curang. " Vash menatap butiran kristal di bulu mata Liech yang panjang. " Kau mengeluarkan batu, dan kau dengan tolol memejamkan mata. Maka aku mengubah milikku menjadi kertas. Kau tahu, sebenarnya kau yang menang. Aku takkan melupakanmu. Dan aku memang tak pernah melupakanmu. Kau pikir begitu?"

Hening lagi. Apa Liech sengaja tak menyahutinya? Oh, jadi dia membalas Vash dengan cara mendiamkannya begini.

"Apa kau masih berpikir bahwa aku membencimu? " Vash menambah kecepatan kakinya, rasanya ia melambat karena badai salju ini dan entah bagaimana ia bisa menerobos semua ini. "Aku hanya tidak menyukaimu yang datang secara tiba-tiba dalam kehidupanku. Kau seperti merebut perhatian orangtuaku, yang seharusnya hanya tercurah padaku. " Bibir Vash mulai bergetar.

"Aku hanya kesal padamu, yang selalu mendapat perhatian orangtuaku. Kau pusat perhatian dan segalanya di rumahku. Kau mengambil tempat yang tadinya kumiliki. Sepele? Ya, aku tahu, aku sangat kekanak-kanakan dan bodoh. "

Langkah Vash kian melambat dan dia yakin sekali, bangunan rumah sakit itu tak jauh lagi. Rasanya begitu...

"A-aku selalu me-menjauhimu karena a-aku merasa be-bersalah. Kupikir se-sebuah kesalahan jika seorang kakak menyukai adiknya sendiri. Y-ya, aku menanggapmu sebagai adikku. Dan, me-memang benar adanya ji-jika aku bersikap kasar dan tidak pe-peduli padamu demi menghindarimu. Aneh? A-aku tahu. Bodoh? Ya, a-aku me-memang sangat bodoh. A-aku menyesal sekarang. Sangat me-menyesal. "

Vash merasa bahwa ucapannya hanya akan menjadi monolog saja. Ia yang akan berbicara, tanpa sahutan apapun. Bahkan ia tak yakin Liech masih mendengarnya. Semoga kesadaran belum menginggalkannya.

"Aku malu sekali u-untuk mengakuinya. Dan A-Ayah juga I-Ibu pasti akan marah se-sekali jika mereka tahu bahwa a-aku jatuh ci-cinta pada adikku sendiri. A-aku—bagaimanapun juga ta-tak bisa mengabaikanmu. Ja-jadi sama saja, u-usahaku untuk mengabaikanmu tetap tak me-menghasilkan apapun... Liechtenstein, kau dengar aku tidak? " Vash nyaris membentaknya.

Vash jatuh berlutut lantaran tak sanggup lagi berjalan dengan beban yang ia bawa kini. Dan tubuhnya-pun nyaris membeku, luar-dalam. Bagaimana Liech bisa bertahan selama ini di tengah kondisi badai seperti ini?

"Liechtenstein, kau bisa mendengarku? Li-Liechtenstein? " Vash menepuk pipi dingin gadis itu. Ditiupnya telapak tangan Liech yang beku. Tatkala memeriksa denyut nadinya dirasakannya denyutnya makin melemah. Vash memeluk tubuh Liech makin erat, mendekapnya di dadanya, menempatkan puncak kepala Liech diantara lehernya.

"O…nii…san…" kalimat itu keluar dari bibir beku Liech, agak terputus-putus.

"Li-Liech? Kau dengar aku? " Vash mendekatkan telinganya ke arah Liech.

"Di-di...dingin... " Liech memeluk tubuhnya sendiri.

"Aku tahu. Di sini memang dingin. K-kau masih sanggup berjalan? " Vash meraih telapak tangan adiknya, menggenggamnya. Disentuhnya setiap jengkal kulit Liech, membagikan panas tubuhnya. "Kau harus bertahan, kau de-dengar aku? Aku ingin—maksudku, be-bertahanlah... demi aku?"

Liech membuka matanya—tidak sampai setengah senti—dan menatap ke dalam mata Oniisan-nya. "Be-be-berta...han de-demi Oniisan? A-aku su-sudah melakukannya se-se-sela...ma tiga ta-tahun ini. "

"Maksudmu?"

"A-aku ingin terus hidup sa-sampai sekarang ini ha-hanya demi Oniisan. Ma-maka akupun a-akan berusaha me-melakukannya un-untukmu. "

"Bertahanlah. " Vash mengecup buku-buku jari Liech, kemudian menggendongnya lagi. "Kita akan segera kembali ke rumah sakit. "

Dengan terseok-seok Vash menyusuri jalanan tersebut. Melawan arah angin dan deru salju yang kian menguat. Seraya berusaha menghangatkan tubuh adiknya, bagaimanapun caranya.

"O-Onii...san..." suara Liech kini tak lebih dari erangan dengan artikulasi tak jelas.

"Ya? "

"Ja-ja...ngan pe-pergi lagi. "

"Tentu saja tidak, a-aku takkan pergi. " sahut Vash. "Aku a-akan tetap tinggal disini. De-denganmu. "

"Ba-bagaimana dengan a-ayah dan i-ibu? Apa ka-kata mereka nanti?"

Vash terdiam sesaat. "Kita tidak sedarah. Mereka ta-takkan melarang kita me-meski aku tahu me-mereka nanti akan marah sekali jika tahu. Ta-tapi siapa peduli?"

Dirasakannya Liech tersenyum kecil dan mengeratkan pelukannya, menarik napas panjang. "O-Oniisan serius dengan ucapan Oniisan? Ti-tidak becanda, kan?"

"Becanda? Kau pikir disaat seperti ini a-aku akan becanda?"

Liechtenstein berbisik di telinga Vash. "Jika Oniisan su-sudah tak kuat la-lagi, tinggalkan saja aku di sini. O-Oniisan kembali ke rumah sakit d-dan cari bantuan. A-aku—jangan buat aku me-menjadi be-be-beban. "

"Apa yang kau bicarakan? Aku masih sanggup berjalan. Aku sanggup membawamu. " Sayangnya ucapannya itu tidak didukung oleh kakinya yang makin lemah dan kian melambat jalannya.

"Tu-turunkan aku, O-Oniisan…"

"Tidak!"

Liech mengendurkan pelukannya, ia memilih untuk ditinggal disini daripada Oniisannya harus menunggunya dan membawa beban untuk menyusuri jalanan ini. Dalam keadaan tak menentu. Jika sendirian saja Vash belum tentu sanggup melewatinya, apalagi jika ditambah seorang gadis yang hanya menjadi beban?

"Jika kau bersikeras untuk tinggal, " Vash berhenti berjalan dan menurunkan Liech dari punggungnya. "Maka aku akan tinggal. Jika kau tak kuat berjalan dan aku tak kuat me-membawamu, ma-maka kita tinggal saja di-disini bersama. Ki-kita tunggu sampai ba-bantuan datang. "

"O-Oniisan... Kau tak bisa—"

"Tentu saja aku bisa melakukannya. " Vash menarik Liech ke arah sebuah pohon yang daunnya sudah berwarna putih. Mereka berteduh disana. Liechtenstein dalam pelukan Vash yang mencoba menghangatkannya.

"Di-dingin…" kata itu terus terucap berulang kali dari bibir Liechtenstein. Vash mengeratkan pelukannya, meski tubuhnya sendiri juga nyaris sama membekunya seperti gadis itu.

"O-Onii...san a-aku i-ingin me-mengatakan se-sesuatu. " Liech meringkuk di dada Oniisan-nya.

"A-a-apa?"

Liechtenstein memejamkan matanya. "I… Love You, Oniisan. "

Vash menunduk menatap wajah polos dan pucat sang adik. Wajah itu kini benar-benar tanpa warna. Ia mendekapnya kuat-kuat. "Love you too… " Air matanya, yang semula ia kira membeku ternyata kembali mencair akibat guncangan emosi dahsyat kali itu. Matanya terasa amat panas dan dadanya seolah akan meledak karena beban emosi yang dirasakannya.

Rasanya ia ingin menjerit keras-keras memanggil satu nama yang begitu ia cintai. Suaranya yang kebas dan putus-putus, ia tak bisa berteriak untuk memanggilnya. Tau ia terlambat. Tau bahwa ini semua salahnya. Waktu yang ia miliki untuk meminta maaf telah habis.

" Liechtenstein… I love you… I love you… Seharusnya aku memberitahumu sejak dulu. Seharusnya aku menyadarinya sejak dulu. Aku bukan orang yang cukup berani untuk mengatakan 'aku mencintaimu'. Dan.. maafkan aku…"

Air mata itu amat panas. Perasaan ditinggal oleh orang yang amat penting dalam hidupmu amat tidak mudah. Rasanya hanya dengan mengucurkan air mata, rasa sesak di dada ini masih belum juga hilang. Hanya dengan memeluk tubuh beku itu, mendekapnya di dadanya.

"Aku telah berjanji padamu. Sampai akhir nanti, aku takkan meninggalkanmu. " Vash bersandar di batang pohon sambil memeluk sang adik erat.

Apakah orangtua mereka tau dimana harus menemukan mereka? Apakah mereka tahu penyebab sebenarnya dari ditemukannya mayat kakak beradik tersebut? Mereka bertanya-tanya mengapa bisa ada dua orang yang berkeliaran saat badai salju dan terjebak di dalamnya. Mereka bertanya-tanya mengapa kedua mayat itu bisa ditemukan dalam keadaan berpelukan. Butuh waktu beberapa hari hingga salju tebal tersebut mencair dan menunjukkan kedua mayat beku tersebut.

At last they went together...

XxxxxxXxxxxxX

Gaje? Ya saya tahu sangat gaje, aneh, kelewat panjang untuk satu chapter namun kelewat nanggung untuk dijadikan dua chapter. Ending maksa? Saya minta maaf-_- Ending kurang angst? Minta maaf juga. Mood nerusin fic humor nggak ada, lagi galau galaunya nih saya *gakditanya* *plak*

Saya tahu genre angst rada kurang pantes, tapi mesti apa dong? Kalo saya sih ngebayanginnya, kalo diperanin kayak drama gitu, saya mau nangis ampe ampe T_T *lebe*

Yosh! Yang penting hutang fic yang belum selesai berkurang satu. Alhamdulillah! *sujut sukur*

Ucapan terima kasih untuk: TetsuHideyoshi, LadyElizabeth-Kirkland, Pilong099711, Chyka, AmisaRyuuBirthday, dan Haefalent yang sudah membaca dan mereview fic ini. Terima kasih juga buat yang sudah mem-fave fic ini. Buat readers yang baca tanpa review juga terima kasih telah meluangkan waktu kalian untuk membaca fic ini.

Ide fic baru terus ngalir, sementara fic yang masih ngutang itu masih aja setak. Jadi maaf jika saya masih banyak utang #dirajam. Okay, thanks before =)

Nox

-Nike-