"Kau menegang." Ucapan Jaehyun yang tiba-tiba kontan membuat Taeyong menengok ke bawah, dan benar saja dirinya bisa melihat celananya yang menyembul karena desakan miliknya.
"Dan itu gara-gara kau." Ujar Taeyong ketus.
Jaehyun merangkak ke atas, menindih tubuh Taeyong yang kini sama-sama topless sepertinya.
"Lalu aku harus bagaimana, hm? Apa kau ingin melakukannya bersamaku? Aku hanya perlu izinmu untuk itu."
.
.
Destiny
Disclaimer: cerita ini punya FlowHana, member NCT punya Tuhan, SM dan orang tua mereka
Warnings: ABO Universe, typo(s), BL, mature content, DLDR!
.
.
"Jangan berharap," Taeyong hendak mendorong dada Jaehyun, tapi percuma saja. Ditambah dengan keadaannya yang sedang tidak bertenaga membuatnya makin tak bisa melawan alpha di depannya ini. Pemuda Jung itu dengan sigap menampisnya, memenjarakan kedua lengannya di atas kepala dengan satu tangan. Tangannya yang lain menggerayangi area perpotongan lehernya. Taeyong berjengit. Memekik kaget begitu tangan dingin Jaehyun menyentuh lehernya.
Bagian bawahnya semakin menegang.
"Lihat apa yang telah dilakukan Seo kepadamu." Kali ini jemari Jaehyun menempel pada satu titik di lehernya. "Kau tidak mau menghapusnya?"
"M-maksudmu?" Taeyong bertanya dengan gugup. Yang menurut Jaehyun itu sangat lucu.
Jaehyun mendekatkan kepalanya ke telinga Taeyong. Refleks membuat Taeyong menahan dadanya, memberi isyarat untuk tidak mendekat lebih jauh.
Jaehyun meniup cuping telinganya, Taeyong merintih."Bagaimana kalau aku yang menghapusnya, lalu kugantikan dengan yang baru?" bisiknya sensual.
Taeyong dibuat merinding. Bahkan hanya dengan nada-nada provokatif begini ia sudah sangat kepayahan. Tidak mau pertahanannya runtuh, Taeyong segera menyingkirkan Jaehyun di atasnya. Yang pada akhirnya Jaehyun mengalah juga. Membiarkan Taeyong terbaring tak berdaya di hadapannya.
"Karena aku sudah meminta bantuanmu bukan berarti aku harus menuruti keinginanmu." Taeyong menengadah menatap langit-langit. Sebisa mungkin menghindari kontak mata dengan Jaehyun. Menutup matanya dengan salah satu lengannya ketika hasrat itu semakin memuncak. Efek yang dilakukan Jaehyun beberapa menit yang lalu sangat berpengaruh pada tubuhnya.
Taeyong merasa tak aman jika ia seperti ini terus. Apalagi ketika Jaehyun, yang notabene adalah seorang alpha sedang di sini, hanya berdua dengannya, sama-sama tanpa atasan. Benar-benar berbahaya.
Jujur, ia sangat menginginkan alpha. Ia butuh alpha. Tapi, Taeyong tetap bertahan pada egonya. Mengaku bahwa dia bisa mengatasinya sendiri, padahal kenyataannya tidak seperti itu.
Jaehyun di depannya tersenyum miring. Menahan diri untuk tidak menyerang Taeyong yang bagaikan santapan lezat untuk para singa. "Lalu bagaimana dengan heatmu itu? Masa heat seorang omega akan sangat berat tanpa bantuan dari seorang alpha, dengan kata lain mate-nya. Kalau kau mau aku bisa membantumu kali ini."
"Maksudmu? Kau meminta izinku untuk menjadikanku mate-mu, begitu? Hanya untuk heat sialan ini?" Taeyong mendengus menahan amarah. Matanya menatap nyalang ke arah Jaehyun yang berdiri tak jauh darinya. Ternyata Jaehyun tidak sekalem yang dia bayangkan. Saat di sekolah tadi agaknya Jaehyun tidak kurang ajar seperti saat ini. Jaehyun yang sekarang dan yang bertemu dengannya tadi siang di sekolah sangatlah berbeda.
Hanya butuh beberapa detik untuk Jaehyun menjawab, "Ya."
Lalu Jaehyun sudah kembali merangkak ke atasnya, menyingkirkan lengan Taeyong yang menutupi wajahnya. Merah seperti tomat. Panas seperti baru direbus. Membuat keduanya melihat lurus ke iris masing-masing. Jaehyun merasakan hembusan napas si omega yang menggebu-gebu di bawahnya. Tampak semakin manis dengan bibirnya yang sedikit terbuka dan mata sayunya. Jaehyun jadi terundang untuk mencumbunya, melumat setiap inci bibir merahnya, merasakan pergulatan lidah di rongga hangatnya. Apalagi bau harum semerbak yang bersumber dari perpotongan leher Taeyong hampir membuatnya lepas kendali.
Tahan dirimu.
Ternyata otaknya tak mau bekerja sama dengan instingnya. Jaehyun mulai mendekatkan wajahnya, memangkas jarak antara dia dan Taeyong. "Jadilah omegaku."
Seketika ada sesuatu yang berdesir di dalam diri Taeyong. Jaehyun semakin merasakan nafas hangat yang Taeyong keluarkan. Dan bau harum itu semakin tajam, membuatnya melayang. Jaehyun benar-benar ingin menempatkan wajahnya di ceruk leher Taeyong.
Ia sukses membuat pemuda bermarga Lee yang baru saja dinobatkan sebagai omega itu memejamkan matanya kuat-kuat, tidak tahan dengan wajah Jaehyun yang sedekat itu. Taeyong yang tidak bisa berbuat apa-apa membiarkan Jaehyun melakukan apa yang diinginkannya.
Taeyong memasrahkan masa depannya pada pemuda di hadapannya ini.
Semakin dekat dan Jaehyun dapat merasakan panas yang menjalar di wajah Taeyong. Bulu mata yang lentik itu makin menambah kesempurnaannya. Kulitnya sangat mulus bagaikan bidadari yang turun dari khayangan. Oh, jiwa alphanya akan sangat bangga saat menandainya nanti, menjadi miliknya. Tanpa sadar Jaehyun sudah menjilati bibirnya, membayangkan hal tidak-tidak yang akan ia lakukan pada Taeyong.
Namun, gerakannya terhenti ketika sesuatu itu bercahaya, mengganggu penglihatannya.
Jaehyun menggelutukkan giginya karena tubuhnya tidak bisa bergerak sama sekali walaupun ia mencobanya.
Sial.
Jaehyun melirik pergelangan tangannya yang menjadi penyebabnya, di kelingking kirinya ada seuntai benang merah yang menyala terang. Sebuah benang tipis yang menjadi satu-satunya penghalang antara ia dan Taeyong. Benang merah itu akan menghubungkannya dengan belahan jiwanya, seseorang yang akan menjadi pendamping hidupnya kelak.
Hanya Jaehyun yang bisa melihatnya. Taeyong tidak.
Sayangnya, ujung lainnya tidak bertemu pada kelingking pemuda manis di bawahnya ini. Jaehyun ingin berteriak, meluapkan amarah kenapa Taeyong tidak bisa menjadi mate-nya. Padahal tinggal satu langkah lagi maka Jaehyun akan menjadikan Taeyong miliknya.
Di sisi lain, Taeyong yang tidak merasakan adanya sentuhan fisik dari sang alpha mulai membuka matanya perlahan. Sedikit mengintip Jaehyun yang diam membatu di atasnya.
"A-ada apa?" tanyanya lirih. Sedikit takut kalau bibirnya akan menyentuh bibir sang lawan yang hanya terpisahkan jarak satu senti.
Jaehyun perlahan bangkit, yang dibalas dengan tatapan bingung milik Taeyong. Jaehyun saat itu terlihat sedang menyembunyikan sesuatu. Membuat Taeyong menerka-nerka apa yang terjadi padanya sampai Jaehyun diam tak berucap.
"Bangunlah. Sebaiknya kau mandi sekarang. Kondisimu sudah tidak karuan." Jaehyun menunjuk-nunjuk bagian kemaluannya dengan dagunya, menjelaskan maksud kalimat terakhirnya. Taeyong semakin memerah. "Baiklah."
Taeyong memilih menurut. Mumpung Jaehyun yang entah ada angin apa tiba-tiba berubah pikiran. Meninggalkan Jaehyun yang berlipat dada dan menatap ke luar jendela, memandang langit yang memerah hendak berganti malam. Ekspresinya datar. Tapi terlihat seperti sedang berpikir keras tentang sesuatu. Taeyong tidak ingin tahu apa yang sedang dipikirkannya. Taeyong memilih untuk tidak terlibat dalam masalah pribadi orang lain. Karena Jaehyun hanya orang asing yang tiba-tiba datang entah darimana untuk menolongnya hari ini.
.
.
Taeyong melebarkan mulutnya ketika menatap ruangan di depannya.
Wow.
Cukup luas untuk ukuran sebuah kamar mandi. Ralat, coret kata cukup pada kalimat sebelumnya. Tapi Taeyong teringat kalau ia berada di sebuah istana. Mansion keluarga Jung yang maha luas dan elegan. Ya, kira-kira begitu menurutnya. Bahkan walaupun Taeyong belum sempat mengelilingi mansion ini, tapi dari halamannya saja sudah bisa ditebak betapa besarnya rumah ini. Yah, kalau masih bisa disebut rumah, sih.
Hal yang menarik perhatiannya adalah cermin besar yang menempel di dinding. Dari sana Taeyong dapat melihat pantulan dirinya. Err… berantakan. Rambutnya mencuat kemana-mana, wajahnya lesu dan tampak memerah seperti orang sakit, dan jangan lupakan celana yang masih menjadi sumber masalah itu. Atau tepatnya bersumber dari dirinya sendiri. Oh, ya Tuhan.
Taeyong kembali melotot ketika berfokus pada salah satu jengkal tubuhnya. Menyentuh jejak kemerahan di perpotongan leher yang diberikan Johnny padanya. Memastikannya benar-benar ada lewat bayangannya di cermin. "Oh, tidak."
Gara-gara itu Taeyong kembali teringat dengan kejadian yang menimpanya hari ini. Mulai dari awal mula bertemu dengan Jung Jaehyun yang tak disangka-sangka akan membantunya hari ini. Lalu, Johnny. Ya, sahabatnya itu hampir memerkosanya, memerkosa teman karibnya sendiri saat sekolah sedang sepi. Johnny benar-benar gila. Taeyong tidak tahu apa yang harus ia lakukan ketika bertemu Johnny? Kabur? Atau bersikap seolah tidak terjadi apa-apa?
Taeyong meremas rambutnya. Selain itu, "Bagaimana aku bisa menghapusnya dalam waktu singkat? Kenapa aku begitu lemah? Kenapa aku harus jadi omega?"
Tentu saja Taeyong akan menjurus pada persoalan itu lagi. Kenapa ia jadi omega?
Kenapa bukan alpha? Kenapa bukan beta? Taeyong belum sepenuhnya menerima statusnya itu. Satu persen saja tidak.
Menghela napas lelah, Taeyong beralih menuju bath up. Yang Taeyong duga disikat setiap hari sampai warna putihnya berkilat seperti kaca.
Kenapa rumah ini berlebihan sekali? Taeyong berucap dalam hati.
Ia mulai menyalakan kran, mengisi bath up dengan air yang sudah ia atur agar airnya hangat. Taeyong menunggu dengan sabar sambil membereskan masalah resleting macet yang membuatnya frustasi.
"Argh… Kenapa hari ini sangat menyebalkan?" Ia kembali merutuk. Tangannya sudah mencoba menarik resleting untuk turun. Berkali-kali ia mencoba dan tidak ada perkembangan. Malahan sentuhan tangannya pada area terlarang itu membuatnya makin ingin menyentuh dirinya sendiri. Taeyong bersumpah ada sesuatu yang basah barusan mengalir lewat lubangnya.
"Shit." Ia mendesis. Sampai pada usahanya yang sekian kali akhirnya resleting itu turun juga. Taeyong tersenyum puas.
Selanjutnya Taeyong merasa bertindak tanpa akal sehatnya. Demi mengurangi hasrat yang daritadi sudah ia tahan, Taeyong akan menyentuh dirinya sendiri untuk saat ini. Taeyong benar-benar butuh dipuaskan. Taeyong perlahan menurunkan boxernya, menatap ngeri pada kejantanannya sendiri yang sudah terlumuri slick miliknya.
Taeyong, untuk pertama kalinya akan memuaskan tubuhnya.
Taeyong berjalan terhuyung-huyung ke arah kloset. Dia sudah hampir ambruk.
Setelah duduk, satu tangannya mulai mengurut pelan kemaluannya. Tangannya yang lain melebarkan pahanya untuk meluaskan aksesnya, membuat lubangnya terlihat jelas dari kejauhan. Taeyong mendesah, merasakan kenikmatan kecil yang ia ciptakan sendiri. Tangannya ia gerakkan semakin cepat, dan erangan semakin menjadi-jadi.
Tangannya yang semula menahan pahanya beralih pada lubangnya yang sudah mengeluarkan self-lubricant. Taeyong kembali melanjutkan pekerjaannya. "Ahhh…." Satu jarinya mencoba masuk ke hole merahnya. Saat pertama kali ia memasukkannya Taeyong menjerit, sakit sekali. Sekalipun self-lubricant yang ia keluarkan membuatnya licin dan memudahkannya, tapi rasanya tetap perih dan aneh. Jarinya bagai benda asing yang memasuki dirinya.
"Ahh! Ahn… hahh…" Desahannya bertambah seiring jari keduanya yang bergabung dalam lubangnya. Ia sampai menitikan air mata. Ini menyiksa, tapi Taeyong butuh lebih dari itu. Maka Taeyong memaju mundurkan jarinya, mencoba mencapai puncak kepuasan pada tubuhnya. Merasakan setiap kenikmatan dari dorongan jari-jarinya di dinding lubangnya. Jari-jarinya terus menggesek daging lunak itu. Slick yang keluar dari penisnya semakin bertambah seiring teriakannya.
Persetan jika suaranya akan terdengar sampai luar. Taeyong akan membereskan masalah kecil ini dulu, baru ia akan membersihkan diri.
.
.
.
Jaehyun tengah bingung saat ini. Bagaimana caranya agar tali terkutuk itu hilang. Kenapa benang sialan itu menghalanginya dengan Taeyong?
Saat pertama kali melihat Taeyong ia yakin omega itu akan menjadi belahan jiwanya. Bukan orang lain, bukan pula seseorang yang mengikat ujung lain dari benangnya. Dan yang lebih ia tidak mengerti lagi, kenapa Taeyong tidak mempunyai satu benang pun pada jarinya? Jaehyun bahkan pernah melihat seseorang yang memiliki dua untai benang pada jarinya.
Berbagai hipotesa mulai berkeliaran di benaknya. Apa karena Taeyong akan mati? Tidak, tidak. Jaehyun mencoba berpikir positif. Jaehyun pernah menemukan seseorang yang ujung benangnya menggantung melewati awan dan atmosfer, dan orangtuanya berkata karena mate dari orang itu sudah meninggal. Jadi, itu tidak mungkin.
Lalu kenapa? Pertanyaan itu terus berputar-putar di otaknya.
"Ahhh…."
Jaehyun terbuyar dari lamunannya. Suara itu berasal dari kamar mandi. Itu pasti Taeyong. Apa dia menyentuh dirinya sendiri? Hebat.
Jaehyun yang agaknya terpicu mencoba untuk menyingkirkan pikiran-pikiran mesum dari otaknya. Apalagi hidungnya sudah mencium feromon manis yang dikeluarkan Taeyong. Begitu pekat.
Jaehyun masih ingat dengan janjinya pada Taeyong untuk tidak berbuat yang macam-macam. Jaehyun menunggu dengan sabar, masih tetap mengelak keinginannya untuk mendobrak kamar mandi.
Jaehyun hendak meninggalkan kamarnya ketika pintu kamar mandi terbuka, menampilkan Taeyong yang melongokkan kepalanya di balik pintu yang tidak ia buka sepenuhnya.
"Jaehyun?"
Jaehyun membalikkan badannya. "Hm?"
Mulut Taeyong berkali-kali membuka menutup seperti hendak mengungkapkan sesuatu, tapi sampai tiga menitpun Taeyong tidak berkata apa-apa, malah menundukkan wajahnya. Dia jelas terlihat malu.
Jaehyun dibuat heran. "Ada apa? Kau sudah selesai dengan kegiatanmu?"
Taeyong seketika merona. "Ah… itu… bisakah… aku pinjam handukmu? Di dalam sini tidak ada handuk."
Jaehyun tertawa pelan. "Oh, iya juga. Astaga, aku lupa." Lalu Jaehyun membuka lemari, mengambil sebuah handuk putih dan memberikannya pada Taeyong melalui celah pintu. "Ini. Lagipula kalau kau tidak pakai handuk sebenarnya aku tidak masalah, malah bagus. Aku jadi bisa melihat tubuhmu."
"Tidak masalah untukmu, tapi iya untukku. Dasar otak udang. Pikiranmu itu diisi apa, sih." Taeyong berujar dari balik pintu, Jaehyun bisa membayangkan Taeyong sedang mengerucutkan bibirnya. Ia terkekeh.
Setelah selesai menutup sekujur tubuhnya dengan handuk besar yang jatuh sampai ke lututnya itu, Taeyong keluar dari kamar mandi. Jaehyun di depannya menyilangkan tangannya di depan dada. "Kau memakai shampoku juga?"
"Ya. Di dalam sana kan barang-barangmu semua. Aku tidak membawa apapun ke sini. Maaf kalau aku memakainya tanpa bilang padamu terlebih dahulu." jawabnya sedikit ketus. Bahkan tasku juga tertinggal di sekolah!, batinnya. Salahkan Jung Jaehyun yang menggendongnya begitu saja setelah ia berkelahi dengan Johnny.
Jaehyun hanya menyunggingkan bibir, menghampiri Taeyong yang masih berdiri di tempat dan hidungnya dapat mencium bau sabun dan samponya di tubuh Taeyong. Aromanya jadi lebih segar.
Jaehyun melingkarkan tangannya di pundak Taeyong, menggiringnya ke sisi ranjang. "Aku akan meminta pelayan untuk membuatkan makanan. Kau tunggu di sini."
Grep.
Jaehyun menoleh pada Taeyong yang menahan lengannya. "Anu, boleh aku pinjam bajumu? Dan ponselmu, aku perlu memberitahu orangtuaku. Ponselku tertinggal bersama tasku di kelas."
"Haha. Kau tidak perlu sungkan untuk meminta apapun padaku. Aku akan membantumu." Jaehyun beralih membuka lemarinya kembali, mengambil beberapa potong pakaian yang mungkin dibutuhkan Taeyong. Di pinggir ranjang, Taeyong tersenyum tipis melihat kebaikan Jaehyun. Entah apa jadinya jika bukan Jaehyun yang datang kepadanya saat itu. Bagaimana jika ada alpha lain yang menemukannya di sekolah?
"Ini. Pakailah. Dan hubungi orangtuamu juga. Aku ke bawah dulu." Jaehyun menyodorkan sestel pakaian serta ponsel canggih miliknya. Lalu ia pergi setelah menutup pintu.
Hanya tersisa Taeyong di kamar Jaehyun. Taeyong memandangi pakaian yang diberikan Jaehyun. Sebuah kaos dan celana pendek. Ah, jangan lupa ada boxer yang menyelip di situ juga.
Taeyong lantas tersipu. Dia? Memakai dalaman orang lain? Tidak. Sebenarnya bukan itu satu-satunya alasan Taeyong. Tapi ia merasa penisnya berkedut kembali. Benda terlarang itu meminta dipuaskan untuk kesekian kalinya. Ia bahkan sudah merasa risi dengan sentuhan handuk yang lembut ini pada pangkal pahanya. Heat sialan ini sepertinya tidak berhenti-berhenti juga.
Taeyong tanpa sadar mengumpat tentang heatnya. Lagi dan lagi.
Akhirnya Taeyong memutuskan untuk memakai atasannya saja, yang untungnya mampu menutupi sampai pertengahan pahanya. Tapi bagaimana reaksi Jaehyun kalau dia kembali ke sini? Dia pasti mengira Taeyong mau menggodanya. Tayeong menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tidak, Lee Taeyong. Ayo berpikir positif.
Taeyong menghela napas. Lalu mengambil ponsel milik Jaehyun yang terbengkalai di ranjang. Taeyong pun mengirim pesan pada ibunya, berdalih bahwa dia akan menginap di rumah temannya untuk beberapa hari. Seperti dugaannya, balasan dari ibunya itu tidak memakan waktu sampai semenit. Belum sempat Taeyong membaca pesannya, ponsel milik Jaehyun sudah bergetar. Ibunya menelepon.
"Halo, ibu?"
"Halo, sayang. Kau mau menginap? Untuk berapa hari? Ibu khawatir sekali karena ini sudah hampir malam dan kau belum pulang juga." Suara dari seberang memenuhi pendengarannya.
Taeyong menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyum simpul. Ibunya ini memang penyayang sekali. Setiap kali Taeyong ingin menceritakan sesuatu, maka orang pertama yang ia ceritakan adalah ibunya.
"Entahlah, bu. Tugasnya sangat banyak dan harus diselesaikan minggu ini, jadi aku sekalian menginap di rumah temanku saja." Ah, Ibu, maafkan aku yang sudah berbohong kepadamu. Karena bagaimana pun, aku sama sekali tidak siap mengungkapkan kenyataannya.
"Kalau begitu hati-hati, sayang. Jangan lupa makan, atau kau bisa sakit. Jangan membuat temanmu repot." Ibunya menyahut.
"Baik, bu." Sambungan terputus. Taeyong menghempaskan tubuhnya pada kasur empuk itu. Lega karena bebannya sedikit berkurang hari ini. Rasanya Taeyong bisa saja tertidur di sana dan tidak bangun-bangun dalam dua puluh empat jam. Ia merasa nyaman, sekaligus aneh. Ia jadi merasa berada di dekat Jaehyun, seolah-olah Jaehyun sedang memeluknya.
Ini kan kamar Jaehyun, wajar saja jika ranjang ini punya aroma yang sama dengan Jaehyun. Bahkan baju yang dipakainya juga punya Jaehyun, pikirnya.
Taeyong merasakan wajahnya memanas teringat pikirannya yang melalangbuana, kontan ia menutupinya dengan kedua tangannya. Ah, Taeyong tidak akan bisa melihat dirinya lewat cermin. Mungkin dia akan tampak menggelikan dengan baju yang dipakainya itu.
"Ini memalukan."
"Apanya yang memalukan?"
Taeyong segera mendudukkan dirinya. Jantungnya berdebar kencang. Sejak kapan Jaehyun ada di sana?!
Jaehyun berjalan menghampirinya, dan bibirnya langsung membentuk sebuah seringai penuh arti melihat pemandangan menggoda di depannya. "Ooh, jadi ini maksudmu. Apa kau berubah pikiran tentang keputusanmu yang tidak mau dibantu olehku malam ini?"
Keputusan apa? Taeyong tidak i–
Oh. Maksudnya yang itu? "Jangan berpikir yang macam-macam, Jung Jaehyun. Kau masih berjanji padaku."
"Kalau aku tidak menahannya, aku bisa saja menggagahimu saat ini juga." Jaehyun duduk di sebelahnya, menatap matanya penuh arti. "Aku bisa melakukan apa saja di rumahku."
Seketika Taeyong agak merinding. Membayangkan dirinya diperkosa di kandang alpha bukanlah kenangan yang menyenangkan. Jaehyun hanya main-main, kan?
"Bercanda, kok. Aku masih menggunakan akal sehatku. Kau sudah bicara dengan orangtuamu?"
Akal sehat kepalamu! Gara-gara kau aku hampir saja berniat memukulmu dengan lampu meja di sebelahku!
Tapi, tentu saja Taeyong tidak akan berkata blak-blakan. "Sudah. Terimakasih, ini ponselmu."
Jaehyun menerimanya dengan senang hati. "Lagipula kenapa kau hanya memakai atasan, sih? Jangan-jangan kau sebenarnya bitchy ya, Taeyongie~" Lagi, senyum nakal itu tertoreh di wajahnya. Membuat Taeyong ingin menamparnya saat itu juga. Tapi itu akan sangat tidak etis pada seseorang yang telah menolongmu. Kalau orangtuanya tahu, Taeyong bisa mati.
"Bukan! Bukan! Ini tidak seperti yang kau kira."
"Lalu apa? Hum~ Hum~" Jaehyun masih dalam mode jahil, sekarang ditambah dengan gumaman nada-nada tidak jelas yang mengisi keheningan. Semakin malam sepertinya membuat Jung Jaehyun semakin gila.
"Itu…." Taeyong ragu akan mengatakannya pada laki-laki ini atau tidak. Karena ini menyangkut harga dirinya.
"Hum~"
"Itu… itu…."
"Hum~ Itu apa?"
"Itu… ituku sakit." Akhirnya ia dapat mengatakannya juga. Sumpah, Taeyong seperti kehilangan harga dirinya saat itu juga. Taeyong lantas memalingkan mukanya agar Jaehyun tidak dapat melihat ekspresinya.
Jaehyun di sebelahnya tertawa geli. "Ya ampun, ternyata gara-gara itu. Tidak usah malu begitu, Taeyongie~"
Taeyong yang terpicu mulai menaikkan suaranya. "Diamlah, jangan mengejekku!"
Masih tetap menundukkan wajahnya, Taeyong mulai berbaring dan menyelimuti tubuhnya dari kaki sampai perutnya. Taeyong mencoba bersembunyi di dalam kehangatan selimut milik Jaehyun.
Jaehyun sukses tertawa kencang. Pemuda di sebelahnya ini benar-benar imut. Tsundere. Jaehyun jadi semakin ingin memilikinya.
"Baiklah, baik. Jangan cemberut begitu, Yongie. Atau aku akan menciummu saat ini juga."
"Ya!" Taeyong melempar bantal ke wajahnya, untung Jaehyun bisa menangkapnya sebelum benda lunak itu menabrak tampang mulusnya. Tentu saja Jaehyun tidak akan mencium Taeyong. Percobaan pertama saja gagal.
Pada akhirnya Taeyong mulai mengantuk, tapi rasa sakit pada bagian bawahnya tak kunjung reda juga. Dan selimut ini mampu memberikan kenyamanan tersendiri pada tubuhnya.
"Jaehyun?"
"Hm?"
"Bisakah kau ambilkan beberapa bantal, atau selimut ke sini?" pintanya. Jaehyun mengangkat alisnya. "Untuk apa?"
Taeyong hanya menggeleng. "Entahlah, tapi aku rasa aku memerlukannya."
Jaehyun tidak mengangguk, tapi Taeyong tahu Jaehyun langsung keluar untuk memanggil salah satu pelayannya dan menyuruh mereka membawakan apa yang diminta Taeyong. Tak lama, Jaehyun kembali dengan seorang butler yang ditangannya ada selimut dan beberapa bantal, sesuai keinginannya.
Si butler langsung meletakannya di ranjang dan pamit keluar.
"Sudah. Ada lagi yang kau butuhkan, Taeyongie?"
Urat-urat di pelipisnya berkedut. "Sudah kubilang berapa kali agar tidak memanggilku dengan sebutan itu?"
Lagi-lagi Jaehyun tertawa ringan. Taeyong tidak menghiraukannya dan mulai membereskan ranjang, menempatkan posisi selimut dan bantal-bantal yang dipasang mengelilingi sisi kasur empuk itu. Membuat sarangnya sendiri.
Begitu selesai, Taeyong langsung berbaring kembali, menempatkan tubuhnya pada posisi senyaman mungkin. Taeyong makin mengantuk. Tapi, kalau ia tidur di sini, lalu Jaehyun tidur di mana? Inilah dilema tidur di rumah orang lain.
"Bagaimana denganmu, Jaehyun?"
Jaehyun yang sedang memainkan ponselnya langsung menghadap Taeyong. "Apanya yang bagaimana?"
"Karena aku menempati tempat tidurmu, kau tidur di mana?"
"Aku akan menempati kamar sebelah. Tenang saja, masih banyak kamar kosong di sini. Kau tidak perlu khawatir." jawabnya. Taeyong hanya mengangguk.
Sebuah ketukan pintu mengalihkan mereka dari dunianya, setelah Jaehyun memerintahkannya untuk masuk, seorang pelayan perempuan masuk membawa makanan.
"Nah, sekarang kau tinggal makan. Setelah itu sebaiknya kau tidur saja. Kau pasti lelah."
"Kau tidak makan?" tanya Taeyong, setelah tahu si pelayan hanya membawa makanan untuk satu porsi.
"Aku akan makan nanti."
Taeyong, untuk yang keberapa kalinya hanya mengangguk sesuai perintah. Dirinya terlalu lelah untuk berbicara panjang lebar. Maka Taeyong menghabiskan makanannya dalam diam. Jaehyun juga hanya sesekali melihatnya, lalu pemuda Jung itu akan fokus dengan ponselnya lagi. Sisi pendiam milik Jung Jaehyun sepertinya muncul lagi.
Setelah Taeyong meminum habis isi gelas yang tadinya penuh itu, meletakkan gelas kosong di atas nakas, kini saatnya Taeyong bertanya tentang sesuatu yang membuatnya penasaran. "Jaehyun, kenapa kau mau menolongku?"
Jaehyun yang mendengar Taeyong bersuara lalu angkat kepala. "Kenapa kau menanyakannya?"
"Tidak apa-apa. Hanya ingin tahu saja. Lagipula, sekarang ini banyak omega yang ditindas. Bahkan tak jarang jika omega yang berkeliaran di luar sana akan kehilangan kesuciannya."
"Kalau aku bilang hanya ingin saja apa kau percaya?"
"Emm…. iya?" Tentu Taeyong akan menjawab seperti itu.
"Kalau aku bilang kau adalah mate-ku di masa depan apa kau percaya?."
Taeyong mengangkat sebelah alisnya, karena pertanyaan Jaehyun terdengar mustahil. "Bagaimana kau bisa tahu hal-hal yang seperti itu?"
Jaehyun memandang Taeyong lurus di netranya, membuat Taeyong terperangah. Perasaan apa yang meluap-luap di dadanya ini?
"Aku tahu ketika pertama kali kita bertemu. Aku yakin sekali."
"Lalu kenapa kau tidak menandaiku kalau kau sudah tau aku akan menjadi omegamu?"
Setidaknya aku tidak akan tersiksa sampai seperti ini.
Jaehyun melebarkan matanya. "Kau mengizinkanku?"
Taeyong baru tersadar ucapannya terdengar tidak konsisten dengan perjanjian mereka, ia mendadak panik. "Bukan! Aku tidak–"
Belum sempat kalimatnya terucap semua, Jaehyun menghentikannya. Telunjuknya menempel pada bibir merah milik Taeyong. "Ssst. Aku tahu. Tidak sekarang, Taeyong. Akan ada waktunya, tapi bukan sekarang."
Ya, bukan sekarang. Karena Jaehyun belum mengetahui cara untuk memutuskan ikatan yang terjalin di lengannya, dan Jaehyun tak mau Taeyong mengetahui rahasianya. Rahasia bahwa saat itu sebuah benang merah yang tidak menghubungkannya dengan Taeyong tengah menghalangi hasratnya. Jaehyun akan mencari tahu caranya ketika masa heat Taeyong usai.
"Sekarang, tidurlah. Hari ini kau sudah menghabiskan banyak energi. Heatmu masih berlanjut sampai besok." Jaehyun berkata lembut, tak lupa sebelum ia pergi tangannya mengelus pelan rambut cokelat Taeyong. Yang diperlakukan sebegitu gentle-nya hanya terpaku. Mengharapkan lebih.
Dan Taeyong dibuat lebih kaget ketika Jaehyun mengecup dahinya, membungkamnya dalam sebuah kata-kata manis. Membuat pertanyaan yang sedaritadi hinggap di benaknya hilang tak berjejak. "Selamat malam, mimpi indah."
.
TBC
.
HUEHEHEHEHEHEHE
Hari ini Flow ultah makanya update sekalian hahahaha. Hepibesdey ya partnerku. Akhirnya kamu tujuh belas juga, udah halal kalo mau mikir yg engga-engga www
Mungkin ada yang masih kepo soal ABO. Di ff ini emang kita bikin versi ABO kita sendiri yang ga tentu sama kaya di ff lain. Jadi maklumkan saja kalo ada beberapa yang beda hehe.
Bagi yang masih bingung sama ABO disini, aku jelasin sesingkat-singkatnya yaaa
Jadi, di ABO!AU ini ada alpha, ada beta, ada omega. Alpha itu kelas tertinggi, biasanya jadi pemimpin, dan berperan sebagai pihak paling dominan. Alpha ga laki-laki semua, cewe pun ada yang jadi alpha dan dia bisa membuahi omega (baik omega cowo maupun cewe). Tapi kebanyakan alpha emang cowo. Dan alpha paling pinter kalo soal cium mencium bau feromon orang lain. So, mereka bisa mendeteksi lebih kuat keberadaan alpha ato omega lain di sekitar mereka. Apalagi kalo mereka punya mate omega, si omega lagi heat di tempat jauh pun dia bisa ngerasain. Alpha juga punya knot yang bisa membuahi si omega. Setau aku sih knot ini dikeluarin cuma pas mating sama omega biar beranak /dzig
Lalu, ada beta. Beta ini bisa dibilang hampir sama kaya manusia biasa jaman sekarang. Mereka lebih bisa ngontrol diri kalo lagi ena-ena /yha/. Dan mereka ga ngeluarin feromon kaya alpha sama omega. Beta perempuan ga punya siklus heat. Beta laki-laki berperan jg sbg dominan, tapi lebih lemah dari alpha. Populasi beta adalah yg terbanyak, diikuti alpha, dan yg paling sedikit adalah omega.
Terus ada omega, kelas terbawah di ABO AU. Biasanya jadi budak atau pemuas nafsu dan berperan sebagai submisif (makanya Taeyong ga terima jadi omega). Bisa ngeluarin feromon dan punya siklus heat. Siklus heat ini tanda dimana si omega siap dibuahi, ato bisa dikatakan masa suburnya dia. Dan waktu heat feromonnya lebih kuat dibanding hari biasanya, makanya ga heran kalo alpha2 yang deket di sekitarnya bisa nyerang. Dan kalo alpha sama omega ena2 pas siklus heat itu, kemungkinan punya anak adalah seratus persen weeeee. Nah, kalo slick itu macem sperma yg dikeluarin omega cowo, tapi ga bisa membuahi. Sedangkan self lubricant itu carian yg fungsinya macem pelumas, biar alpha masukinnya gampang /ambigaybangetomg/. Omega itu jumlahnya sedikiiiit banget. Apalagi yang cowo. Jadi Taeyong termasuk langka disini /yha/
Terus tentang nandain omega itu kaya gimana ditunggu aja ya, nanti kalo udah waktunya juga tau /gampared
.
Oke mungkin cukup sekian penjelasannya (ternyata panjang orz). Kalo ada yg masih bingung bisa ditanyakan atau searching di mbah google. Maaf kali ini ga bisa balesin review karena Flow yang bakal bales review di chap2 depan. Hana masih punya bertumpuk2 laprak dan tugas lain yg belum diselesaikan ToT
Makasih buat yg udah review, fav, follow. Ditunggu responnya yaaaa /ketjupbasah
.
Sampai jumpa di chap depan~
Salam,
Hana.
