Apa aku akan menyerah, hanya karena kejadian malam kemarin. Penantianku selama ini, Sasuke-kun..aku masih belum bisa melepasmu. Aku..
Disclaimer: Masashi Kishimoto-sama.
Pair: SasuNaru
Warning: Yaoi, Typo(s), Sasuke&Naruto, OOC(s), Alur kecepetan, Don't Like Don't Read.
Rated: T
-Uzumaki Koyukicchi Present-
Future Konohagakure
Chapter 4: I'm The 7th Hokage.
.
Becouse, That is my ninja way.
Rechap:
"Aku memutuskan bahwa orang yang menjadi hokage keenam pastilah orang yang tangguh dan sudah cukup berpengalaman, aku harap keputusanku tidak salah. Tapi-!"
"Sudah ku putuskan Hokage ke-enam adalah ...HATAKE KAKASHI!"
...
"Tsunade-sama! Apa maksudmu dengan menunjuk Kakashi? Kau salah!"
"Tidak! Walaupun para aliansi shinobi telah melakukan kesepakatan saat akhir perang bahwa Hokage selanjutnya adalah Naruto! Tapi banyak hal yang aku pikirkan tentang keputusan yang diambil seenaknya itu!"
"Nenek.."
"Maaf Naruto. Umurmu masih sangat muda. Kau butuh banyak pengalaman. Aku sudah mempunyai rencana 5 tahun kedepan kau adalah pemimpin desa!"
"Naruto.."
"Aku bisa menerimanya, nenek. Itu memang keputusan yang tepat. Ya, kau taukan aku memang belum cukup pengalaman memimpin desa. Aku bisa menerimanya, lima tahun itu cepat berlalu. Umurku..21 tahun saat itu, jadi aku pasti bisa meraayakannya dengan mempunyai pasangan hidup dan boleh minum sake. Aku...akan menjadi Hokage ke-tujuh, aku bisa menerimanya. Hahaha.."
.
Senyum manis mu itu bukan senyum tulus yang ku kenal Naruto, kau menyimpan rasa kecewa dan sakitmu didalam hati. Aku tau kau sangat ingin memimpin desa secepat mungkin. Aku akan selalu berada disampingmu. Jadi, berhentilah menangis Usuratonkachi!
.
Hari-hari itu terus berlanjut, dengan Hokage ke-enam Hatake Kakashi. Patung wajah Kakashi sudah mulai dibuat. Semua masyarakat desa memendam rasa kecewa saat mereka tau bahwa Hokage keenam bukan sang pahlawan penyelamat mereka.
"Hatake Kakashi tidak begitu buruk, dia adalah Sensei dari Uzumaki Naruto. Kita harus berharap yang terbaik dari keputusan Godaime Hokage yang lalu."
"Baik."
.
Tiga hari setelahnya.
Hokage berambut perak ini sedang sibuk mengurus banyak dokumen pemindahan warga desa. Cuaca hujan saat itu benar-benar tidak mendukung. Konsentrasinya seakan-akan terbebani dengan bayang-bayang Naruto. Karena kesibukannya pada hari-hari pertama menjadi hokage, ia sampai tak sempat berkunjung kerumah Naruto bahkan untuk berbicara masalah keputusan yang diambil Tsunade. Tugas ini benar-benar merepotkan, aku harus ada waktu untuk berbicara dengan kudengar dia sakit aku semakin terbebani.
"Naruto, beri perutmu itu makan. Kau sendiri sudah setuju bahwa kau akan menjadi Hokage berikutnya setelah Hatake." , bibir Sasuke terus melontarkan kata-katanya demi Naruto . Belakangan setelah keputusan Tsunade, ia merasa terbebani karena sang blonde tidak makan dengan teratur dan sedikit. Mata onyx itu terus menatap lesu mata sapphire yang tertutup, Naruto demam dan ia terbaring lemas selama dua hari di kamarnya.
"Tidak Sasu..h"
"Berbicara saja kau sudah tak sanggup, minum obat juga tidak. Kau mau mati sebelum mimpi mu tercapai, Dobe?"
DEG
"Kau sudah menjalani semuanya, kau sudah membawaku kembali kedesa. Kau sudah menyadarkanku dan kau pernah mengatakan bahwa itu adalah suatu syarat menjadi seorang Kage. Naruto, ayah dan ibumu sudah menitipkan pesan bahwa kau akan menjaga desa. Kau mau melenyapkan semua mimpimu begitu saja? Mungkin saja Kurama juga akan kecewa pada sikapmu yang kekanak-kanakan seperti sekarang."
"Gh.. Maaf Sa-suke, aku.."
Menjadi Hokage adalah impianku! Aku akan menunjukan itu suatu saat nanti! Lihat saja aku akan melampaui semua Hokage terdahulu! Aku tidak akan kalah. Berhenti mengatakan aku lemah!
Seringaian muncul di bibir Sasuke, melihat kalimat-kalimat panjang yang ia buat mampu menyihir Naruto menuruti perkataannya. Naruto makan dengan lahap dan perlahan mampu berbicara dengan lancar.
TOK TOK TOK
"Masuklah kalian semua." , ucap pemuda berambut raven itu yang sedang sibuk mencuci semua piring didapur Naruto.
"Wah wah Sasuke kau sangat menguasai cara menjadi ibu rumah tangga." , ucap seorang shinobi gendut yang sedang asyik dengan kripik kentangnya, Chouji.
Sepertinya Sasuke tidak mau memperhatikan sekarang dia adalah Uchiha atau bukan. Dia melakukan itu semua demi Naruto.
"Dimana Naruto, Sasuke?"
"Sasuke-kun Naruto sudah sembuh?"
"Hn, dikamar. Dia sudah cukup baik hari ini."
Semua teman-teman Naruto datang menjenguknya. Setelah mendengar kabar kalau Naruto sakit. Mereka adalah Shikamaru, Chouji, Ino, Hinata, Tenten, Lee, Kiba dan Shino. Hanya Sakura yang tidak ikut hadir melihat keadaan Naruto. Mereka mengucapkan beberapa kalimat penyemangat dan meletakkan beberapa keranjang buah dimeja kamarnya, Yamanaka Ino juga memberi sekuntum bunga didalam vas untuk penyegar ruangan Naruto.
"Naruto, cepat sembuh ya, kami pulang."
"Istirahat yang banyak, jangan terlalu dipikirkan. Kau akan menjadi Hokage yang hebat!"
"Naruto-kun, a-aku percaya padamu. Semoga cepat sembuh. Sampai bertemu lagi.."
"Baiklah Sasuke, tolong jaga dia."
KRIEET
Suasana ramai beberapa saat yang lalu kini berubah sunyi lagi, wajah Naruto terlihat berseri-seri dan kali ini mendapatkan semangat miliknya sepenuhnya.
"Dobe, waktunya minum obat."
"Aku sudah baikan tidak perlu minum obat ttebayo."
"Kau harus, kalau mau besok sudah bisa pergi jalan-jalan denganku."
Kedua pipi dibawah garis-garis rubah itu memerah, namun Naruto tetap menggeleng.
"Tidak, Teme."
"Baiklah, cara paksaan hn?"
"Tidak!"
Sasuke menaikan ujung bibirnya membentuk sebuah seringaian, ia meletakan pil demam Naruto dilidahnya. Dan meminum seteguk air, lalu mendekatkan bibirnya dengan bibir manis Naruto. Lidah Sasuke memaksa membuka mulut Naruto agar ia bisa menyisipkan pil demam itu. Akhirnya Naruto tidak bisa menahan bibirnya untuk tertutup lebih lama lagi dan menerima pil demam itu.
"Ho-hoi! Umgh..umph..emh"
GLEK
"Selesai. Kau sehat Dobe."
Wajah Naruto kembali merah padam akibat ulah Sasuke yang tiba-tiba seperti itu. Ia mengusap bibirnya dengan kerah baju Sasuke yang masih ada diatas tubuhnya.
"Sial."
"Mau lagi hn?"
"TIDAK!"
"Baik akan kulakukan"
"Hah?EHH"
.
.
Sore itu, terlihat pria berambut perak ini masih sibuk dengan dokumen-dokumen miliknya, ia mencoba untuk mengurut semua data-data penduduk didesa Konoha dengan benar. "Kakashi-sama, ada yang ingin bertemu dengan anda."
Yang benar saja disaat-saat seperti ini masih ada yang ingin bertemu dengannya. "Suruh tunggu."
"Kakashi-sensei dattebayo!"
Itu Naruto.
Secepat mungkin Kakashi segera membuka pintu untuk murid terhebatnya. "Masuklah Naruto."
"Kakashi-sensei sedang sibuk?"
Sweatdrop itulah ekspresi Kakashi saat ini, ia terpaksa berbohong agar ia dapat waktu untuk menjelaskan keputusan Tsunade beberapa waktu lalu. "Aku? Tidak ini cukup menyenangkan. Ada hal yang ingin aku sampaikan Naruto." , Kakashi menghela nafas.
"Hm! Begitu juga aku Kakashi-sensei."
"Baik, ayo duduk disana."
...
Sementara itu di sebuah taman kota.
"Sakura-chan..Kau tidak boleh terus-terusan begini."
Mata biru langit yang dihiasi lingkaran hitam dipinggirannya itu terus menatap gadis berambut pink di samping ayunan yang ia duduki. Ia prihatin melihat keadaan sahabat baiknya kini. Entah kenapa akhir-akhir ini Sakura sering datang ke taman dan menaiki ayunan disana namun tak mengeluarkan sepatah kata pun. Yamanaka Ino begitu lah nama sahabat baik Sakura. Poni panjang itu terus melambai saat angin berhembus pelan terhadap mereka. Sakura masih terdiam kaku, Ino sudah berusaha semampunya untuk menghibur Sakura, namun tak pernah berhasil.
"Sakura-chan sudah beberapa jam kamu diam disini, sudah mulai sore. Udaranya 'nggak baik lho."
"Iya."
Cih, Sakura sedari tadi jawabanmu iya terus tapi kamu enggak pergi juga dari sini. Maaf ya kalok kalimatku ini menusuk hati, tapi ini demi kamu.
"Sakura, nanti ibumu khawatir. Kamu juga belum makan siang kan?"
"Tidak masalah."
"Yaampun dada datar jam empat sore!"
DEG
"SIAPA YANG KAU SEBUT SEPERTI ITU! PIG! CHAAA!"
"KYAAAH! SAKURA JANGAN RAMBUTKU!"
Kenyataannya memang aku masih belum bisa menerima keputusan Sasuke.
...
Back to Kakashi&Naruto
Suasana hening menyelimuti ruang Hokage itu, Kakashi menatap wajah Naruto yang terlihat berseri-seri dihadapanya dan memulai memecah keheningan tersebut. "Naruto, tentang keputusan Tsunade. Aku juga tidak menginginkannya, tapi sepertinya yang dikatakan Tsunade ada benarnya. Kau harus sedikit lebih tua dan menambah pengalaman. Dengan menjadi Hokage di usia 21 tahun kau sudah menjadi Hokage termuda yang pernah ada." , Kakashi menunduk.
"Kakashi-sensei itu tidak usah dibahas lagi, kau juga tak seharusnya berkata seperti itu. Menjadi Hokage adalah tugas yang mulia, karena itu aku menginginkannya. Semua orang mengenal guru dan aku juga sudah sedikit mendapatkannya. Aku juga sudah dapat kembali semangatku itu. Aku juga sudah sangat bisa menerima keputusan nenek. Aku senang. Tujuanku kemari sebenarnya, untuk mengucapkan selamat dan memberi support untuk sensei." , Naruto tersenyum.
"Terimakasih, Naruto."
Naruto benar, Hokage adalah sesuatu yang sangat serius dimatanya dan sangat berharga. Aku tidak akan menyianyiakannya dan melakukan yang terbaik yang akan menjadi Hokage ke-tujuh, dia mendapatkan itu dengan segala perjuangannya selama ini. Naruto, aku percaya padamu.
Naruto kembali kerumahnya dengan perasaan senang, ia membuka pintu dengan semangat yang berkobar dalam hatinya. Naruto mulai melepas alas kakinya dan menuju keruang makan.
"Tadaima! Sasuke!"
"Dobe, kau kemana saja? Aku sudah menyiapkan makan malam."
Iris sapphire itu melebar dan menatap detail meja makan didepannya, mulutnya menganga melihat pemandangan yang menurutnya sangat luar biasa. Sasuke memasak ramen berukuran jumbo lengkap dengan semua lauk yang sangan disukai Naruto.
"Hua! Sasuke!"
"Terkejut Dobe?"
"Ini besar sekali! Untukku?"
"Tentu saja untuk kita."
"Kau hebat Teme!"
"Hn, ayo makan, aku lelah menunggu."
"Ya!"
DOENG
Puas makan makanan favoritnya Naruto masih tetap duduk dengan posisinya saat ini memegangi perutnya yang kekenyangan. Tidak begitu dengan Sasuke, ia makan dengan porsi normal.
"Kekenyangan Dobe?"
"Kurang!"
Sasuke mengernyitkan dahinya melihat wajah Naruto yang masih terlihat menginginkan beberapa porsi ramen lagi. Sasuke lalu bangun dari tempatnya dan menghampiri sang blonde. "Kalau begitu.."
CUP
"MH!"
Sasuke mencium bibir manis Naruto dengan ganas dan memaksa Naruto untuk membuka mulutnya dan mempersilahkan lidahnya masuk kedalam sana. Rasa ramen yang pedas dan enak itu dijelajahi lagi oleh Sasuke. Ia mengerti ini satu-satunya cara agar Naruto berhenti merengek.
"Guah! Hah..hh..Brengsek, janganh bunuh aku dengan ciumanmu Teme!"
Naruto menarik nafas panjang dan mendorong tubuh Sasuke menjauh darinya. Seperti kehabisan nafas Naruto terengah-engah setengah hidup untuk mendapatkan udara dan mengisi kembali paru-parunya. Kering sekali Sasuke mengambil semua nafasku. Tapi aku ingin lagi.
"Hh, sudah kenyang kan?"
"Cih Teme!"
Seringaian mematikan yang terukir diwajah Sasuke, perlahan menghilang. Ia menatap wajah tampan Naruto, sehingga kedua mata itu bertatapan sangat dekat. Mata onyx cold didepan mata sapphire lembut dan tenang.
"Naruto.."
Sasuke kembali mendekatkan wajahnya, sehingga tak ada batas lagi yang menghalangi bibir keduanya bertemu dalam kehangatan. Jantung keduanya berdesir, panas dingin menjalar keseluruh tubuh mereka. Tak seperti perasaan tadi, hatiku terasa nyaman berada sedekat ini dengan Sasuke. Perasaan dan kehangatan itu bercampur. Setelah cukup lama Sasuke melepas ciumannya dan meletakan tangannya pada belakang leher Naruto. Naruto pun bergidik saat tangan dingin Sasuke meraba leher sensitifnya.
"Aku mencintaimu, Naruto."
Panas-dingin-senang-bangga-bahagia-terkejut-jantun g seperti berhenti.
Itulah yang Naruto rasakan saat Sasuke berbisik pelan ada telinganya. Kedeua pipi miliknya bersemi merah dan berusaha menahan perasaan malunya.
"Sasuke..Aku juga mencintaimu."
Mata sapphire itu menggenang airmata didalamnya, ia merasa lega saat berhasil menjawab kalimat sihir sang Uchiha. Melihat airmata yang menggenang di kedua mata sapphire itu ,merangsang tangan Sasuke secara refleks mendekap tubuh Naruto. Mambawa Naruto kedalam pelukan hangat miliknya.
"Aku benar-benar mencintaimu. Katakan lagi padaku Naruto."
"Aku benar-benar mencintaimu Sa-Sasuke." , Naruto memeluk tubuh Sasuke dengan sangat erat begitu juga dibalas dengan Sasuke. Seakan keduanya tak mau merasa kehilangan.
"Katakan LAGI!"
"Aku mencintaimu SASUKE!"
"LAGI!"
"AKU MENCINTAIMU!"
"KATAKAN LAGI!"
"AKU MENCINTAIMU UCHIHA SASUKE!"
Perasaan ini, tak kan tergantikan.
...
"KAMI-SAMA BANTU AKU MELUPAKAN SASUKE-KUN!"
CKRAK!
Kunai ini akan membantuku bertemu dengan mu, iya kan Kami-sama? Agar aku bisa melupakan si brengsek itu. Tidak mengertikan dia kalau aku sangat mencintainya. Aku akan mengakhiri ini!
"HENTIKAN SAKURA-CHAN!"
"HGH?!"
.
TBC
Huaaa terharu tersipu liat review udah duapuluhan |'D Padahal di fic sebelumnya dapet 10 review aja engga pernah x"d
Koyu mencintai review minna-san semua, terimakasih banyak! |'D
Berlanjutnya chapter-chapter berikutnya juga berkat para readers, semangat Koyu berkobar! X"D
Oh iya, Koyu minta maaf atas ketidaknyamanan membaca fic karya koyu yang abal ini, typo nya berserakan x"d
Sip ini dia~
JAWAB REVIEW:
Uzumaki Prince Dobe-Nii : Kenapa bukan Naru Hokagenya? Sepertinya sudah terjawab di chap4 ini yah^^
kkhukhukhukhudattebayo : Pertanyaan nya sama nih, sudah terjawab yah^^ Sakura benar-benar menyerah? Belum^^
Earl Louisia vi Duivel : Hahaha^^
tsunayoshi yuzuru : Iya nih di chapter kemarin sempet buat NaruSasu, author lagi kasian liat Naru jadi Uke x'd /plak . Tapi sebenarnya fic ini Pairnya SasuNaru kok!^^ Maaf yah kalok readers sempet bingung.
Yunaucii : Huaa, Koyu engga kuat naikin rate x'd gomenasai /dustek
Azure'czar : Uahh, Azure-san maafkan author yang baka ini x'd Sebenernya Koyu juga kurang tau soal SasuNaru pernah ciuman lebih dari sekali, mohon bantuanya dicarikan informasi juga ya.. Koyu dapet info itu dari review yang masuk^^
megajewels2312 : Iyap! Pair disini SasuNaru!^^ Maaf sempet buat bingung hehehe ^^a
Selesai juga bales review yang masuk, Koyu cinta review nih as always jangan lupa!
Klik REVIEW REVIEW REVIEW^^
ARIGATOUGOZAIMASU^^
