Orang itu datang
Membawa kembali luka lama
Yang masih membekas
Tra Amore, la Lussuria, e Odio
By LalaNur Aprilia
Rated: T rada-rada nyerempet.
Chapter 4: Choice
Warning: Author males kasih tau. Liat aja chap-chap sebelumnya *seenak jidat. Dibuang*
Disclaimer: KHR punya Amano Akira! Lagu yang saya dengerin pas bikin fic ini punya Fujita Maiko! Mukuro punya saya! Buat dijadiin selai nanas untuk sarapan sebelum lari ato latihan! *ditrident*
Note: Mukuro disini rambutnya yang TYL!, ya. Meski bentuknya tetep nanas-nanas juga dan nggak akan berubah jadi apel karena udah punya Fran, saya Cuma ngingetin! *diilusi*
Pair: Aah… kok masih pada nanyaa? Udah pasti D18(69), kaan? *digetok*
DLDR
~~oo00oo~~
"Kyouya…"
"Mukuro…"
Semilir angin menerbangkan beberapa helai dedaunan membuat suasana semakin dingin. Hibari menatap sosok berambut biru indigo panjang dihadapannya. Sosok itu masih sama.
Rambutnya…
Yang begitu lembut saat menyentuh wajahnya diantara kesakitan yang diakibatkannya.
Matanya…
Yang terlihat begitu memikat saat memadu kasih dengannya dan membuatnya terjerat dalam pesonanya.
Senyumnya…
Senyuman membunuh yang membuatnya tertipu.
Rambut itu… mata itu… senyuman itu… benar-benar menjeratnya dengan erat dan melepaskannya dengan keras hingga terjatuh ke dasar.
"Apa maumu…?" lirih Hibari pelan. Orang yang dipanggil 'Mukuro' itu tersenyum. "Kufufu. Kenapa? Tidak boleh? Jahatnya kau membuang orang yang sudah menolongmu."
"Kau tidak menolongku, keparat! Kau membuangku!" maki Hibari kesal. Air matanya sudah siap meleleh kapan saja.
"Oya, oya. Jahat sekali KYOU-YA." Secepat cahaya, Mukuro sudah merangkul pinggang Hibari dari belakang.
"Oya, oya. Baru kutinggal 2 bulan kau sudah mulai gemuk, ya…"
"Jangan pura-pura lupa, bodoh! Ini hasil perbuatanmu!"
"Kufufu. Tentu aku ingat, Kyouya. Justru itu aku datang padamu." Kata Mukuro masih tetap dengan senyumannya.
Senyuman yang sekilas terlihat manis, namun menyimpan kejahatan yang intens.
"Sebutkan apa maumu."
Mukuro tersenyum senang lalu menaruh dagunya di bahu Hibari yang mungil.
"Aku ingin kita menikah, Kyouya. Aku akan bertanggung jawab. Aku—kita akan membesarkan anak ini." Bisik Mukuro ditelinga Hibari sambil mengelus perut Hibari.
Hibari terdiam dengan mata yang agak melebar. Jujur, Hibari bingung. Dia risau. Bukankah ini keinginannya? Orang yang sudah membuatnya menanggung rasa sakit akan bertanggung jawab, dan Hibari menginginkan itu. Tapi kenapa di sisi lain dia tak ingin menerimanya.
Rasanya ia tak percaya dengan ucapan manis pemuda itu.
Dan lagi…
Entah kenapa ia merasa seperti menyia-nyiakan kasih sayang Dino padanya…
Hibari mendorong tubuh Mukuro menjauh darinya. Mukuro nampak bingung dengan perlakuan Hibari.
"A-aku… aku tidak mau…"
"Kenapa Kyouya? Bukankah kau yang waktu itu menangis memohon-mohon padaku agar diberi pertanggungjawaban? Memohon padaku agar jangan mengusirmu? Kenapa?"
"A-aku… aku tidak mau! Aku tidak mau tertipu dengan kata-kata beracunmu itu lagi! Jika aku menerima pertanggungjawabanmu, kau pasti akan membuangku lagi setelah bayi ini lahir, kan?! Pasti! Itu pasti!"
Mukuro terdiam mendengar makian Hibari padanya. Beberapa detik sebelum akhirnya ia menyeringai. Seolah bayangan, Mukuro langsung mendekati Hibari dan merangkul tubuhnya.
"Hmm… kau mulai nakal rupanya…" ucap Mukuro sambil nedekatkan bibirnya pada leher Hibari yang putih. Dapat Hibari rasakan desahan nafas pemuda itu. Membuat Hibari terlena.
Tidak… tidak boleh begini!
"L-lepaskan aku-! Nggh—!"
Mukuro mulai menciumi leher Hibari. Meninggalkan jejak merah pada leher putih itu. Membuat desahan Hibari kian keras dan jelas. Dan tentunya membuat Mukuro makin menikmati 'permainan'nya.
Mukuro menghempaskan tubuh Hibari ke kursi taman membuat Hibari mengerang pelan. Mukuro mulai membuka kancing kemeja Hibari satu persatu hingga terbuka seluruhnya. Lalu ia mulai mencecap tubuh Hibari membuat tanda diseluruh tubuh putih itu. Hibari pasrah, namun separuh dirinya mengisyaratkan untuk berontak.
Perbuatan Mukuro makin liar. Membuat Hibari kembali ke masa lalu. Saat pemuda itu menciumi tubuhnya. Menggerayanginya. Dan memasukan benda aneh itu ke tubuhnya.
Serta merta, Hibari menampar Mukuro membuat Mukuro menyingkir dari tubuh Hibari. Tak disia-siakan kesempatan itu, Hibari langsung menutup tubuhnya dengan kemeja pemberian Dino dan langsung berlari menuju ruangan Dino meninggalkan Mukuro sendirian.
Mukuro menatap tubuh Hibari yang kian menjauh. Seringai tipis terlukis diwajahnya.
"Permainan baru akan dimulai, Kyouya~~ kau dan janinmu itu harus mati… kufufufu… KU HA HA HA HA HA!"
~~oo00oo~~
Dino sedang duduk didepan meja kerjanya mengerjakan sisa tugasnya kemarin—dan ternyata harus bertambah beberapa berkas lagi hingga membua Dino curhat sambil menangis-nangis dengan air mata buaya pada asistennya, Verde dan dihadiahi pukulan tempat pensil—sebelum akhirnya pintu ruangannya didobrak. Dino menoleh kearah pintu dan menemukan Hibari yang ngos-ngosan sambil memegang erat kerah kemejanya guna menutupi tubuhnya.
"K-Kyouya?! K-kenapa?! Kau baik-baik saja?" tanya Dino langsung menghampiri Hibari lalu menuntunnya ke sofa dan memberinya segelas air.
"Kyouya… ada apa? Kenapa kau berlari-lari seperti itu? Kalau kau terlalu capek dan terjatuh bagaimana?" tanya Dino khawatir. Hibari terdiam dan langsung memeluk Dino dan menangis keras. Dino bingung tapi memutuskan untuk menenangkan Hibari dan memintanya untuk bercerita pelan-pelan.
Setelah agak tenang, Hibari menceritakan kejadian di taman. Siapa itu Mukuro, apa yang dikatakannya, dan apa yang sudah diperbuatnya. Awalnya Dino tak percaya, tetapi setelah Hibari memperlihatkan bekas kissmark di tubuhnya, Dino akhirnya percaya.
Hibari masih tetap menangis, Dino tetap menenangkannya.
"Dino… aku… aku tidak tau harus apa… harusnya dia bertanggungjawab, kan…? Tapi… tapi aku takut… aku takut dia mencampakanku lagi… takut dia membuangku lagi… dan yang terparah, dia akan membunuhku dan anak ini…" ucap Hibari disela isak tangisnya. Dino sendiri juga bingung harus bilang apa. Saat ini ia hanya bisa menenangkan Hibari.
"Kyouya… tidak apa-apa… rasa takutmu itu wajar… terlebih lagi orang itu mencampakanmu begitu saja… kau pasti takut saat tiba-tiba dia ingin mempertanggungjawabkan perbuatannya…" kata Dino sambil mengelus rambut Hibari yang masih menangis.
"M… maaf… hiks… aku… hanya bisa bergantung padamu… tanpa bisa apa-apa…"
"Tidak apa-apa Kyouya… aku melakukan itu karena…"
Dino terdiam. Ia bingung apakah perasaannya ini benar, tapi…
"Karena aku mencintaimu…"
Kalau bukan cinta, apalagi?
~~TBC~~
*bersiin debu, sarang laba-laba, lumut, kerak, dakinya Aomine (heh), de el el* Hola semua~~ eiit! Ampuni saya… saya tau apdetnya kelamaan! Abisnya ane banyak ulangan… *natep nilai PLKJ, Bahasa Indonesia, Matematika. Galau*
Dan kalian tau? UTS ITU SELESAAAAAAAAAAI!
Nilainya… jangan tanya deh. 2 yang dibawah KKM… TT_TT *authorbegok*
Bedewe, coba kalian dengerin juga lagu ini. Tegami Aisuru Anata e by Fujita Maiko! Sumpah, arti dan nadanya bikin ngetik ini lancarrr! *cium-cium hape*
Okedeh. Makasih buat review kalian semua~ saya senang sekali. Maaf nggak sempat dibalasin satu-satu… tapi masih bersediakah kalian review fic geje ini? *tatapan memohon ala Eren* *mohon maaf. Author lagi sakau KnB dan SnK*
p.s: Cynta! Itu apdetnya! Buru apdet fic loe! *plok*
