Hai, Malming, mblo! (Ngaca)
Seri keempat girls need datang~
Noona bikin fiksi ini tuh sengaja buat nge-baperin readers, saya juga sih sebenernya.
Dibikin GS karena bisa dibawa Shipper atau dibawa Imagine. Oleh sebab itu Wonu disini OOC, ya saya menyamakan dengan sifat cewek nya dia di fiksi ini dong..
Yasudahlah.. Silahkan baca ajah buat yang bersedia baper.. Yang ga bersedia, silahkan lambaikan tangan ke kamera. Tapi ya maaf ajah, pintu keluar dari jeratan Meanie shipper tuh ga ada sama sekali. Kalo udah masuk yaudah stuck disitu. #HidupMeanie
.
.
.
GIRLS NEED (Wonwoo Version)
.
.
.
Kim Mingyu
Jeon Wonwoo
.
.
.
Genderswitch
.
.
.
Mingyu menepuk pipinya beberapa kali. Pandangannya sedikit kabur ketika baru saja keluar dari dalam kelas. Entah kenapa diakhir-akhir jam pelajaran tadi ia merasa lemas dan mengantuk.
Sebenarnya Mingyu sudah merasakan kurang enak badan sejak pagi. Tapi baru di siang hari ia benar-benar merasa lemas.
"Hari ini tidak latihan basket?" Baru saja Mingyu keluar dari pintu kelas, seorang gadis manis sudah mendatanginya.
"Pelatih sedang ada urusan, jadi libur. Ayo pulang." Mingyu tersenyum melihat gadis bersurai kecoklatan itu menatapnya.
"Sebenarnya aku mau pamit padamu untuk pergi keperpustakaan. Ada tugas yang harus aku kerjakan." Gadis itu menatap Mingyu dengan alis berkerut. Tadinya ia berniat menunggu Mingyu latihan basket sedangkan ia mengerjakan tugas di perpustakaan.
"Ya sudah. Ayo ku temani." Mingyu meraih jemari kekasihnya kemudian berjalan menuju perpustakaan.
"Gyu, tubuhmu hangat. Wajahmu juga pucat. Kau sakit? Pulang saja ya.. Aku nanti pulang sendiri." Pipi Mingyu disentuh oleh kedua tangan gadisnya. Mingyu memang merasa tidak enak badan saat ini. Tapi sungguh, ia benci melihat Noona kesayangannya menunjukkan wajah cemas.
"Aku hanya sedikit mengantuk. Wonwoo-noona bisa mengerjakan tugas sedangkan aku bisa tidur. Ayo!" Mingyu itu keras kepala. Ditambah lagi sifat protektifnya untuk sang kekasih. Terpaksa Wonwoo harus menurut.
.
"Gyu, beberapa keperluan rumahku banyak yang habis. Kita mampir di supermarket ya. Kau baik-baik saja kan?" Setelah dua jam berkutat dengan tugas dan buku diperpustakaan Wonwoo dan Mingyu akhirnya pulang dengan Mingyu yang menyetir mobil kesayangannya.
Mingyu mengangguk seraya melajukan mobilnya ke arah supermarket. Apapun dan kemanapun untuk Wonwoo-nya.
Di supermarket yang cukup luas itu Mingyu mendorong troli berjalan pelan disamping Wonwoo yang sedang memilih jenis shampoo, sabun mandi, pasta gigi dan kebutuhan lainnya.
"Noona, aku ke kamar kecil sebentar ya.. Jangan jauh-jauh dari sini." Wonwoo bergumam sambil terus fokus ke dua botol sabun pembersih wajah ditangannya.
Mingyu sedikit berlari. Dirinya merasakan mulutnya begitu pahit dan seperti ingin memuntahkan sesuatu. Tapi begitu sampai di depan wastafel, ia hanya terdiam merasakan pening dikepalanya.
.
"Biar aku bawa satu, gyu." Mingyu tersenyum kemudian mengangkat dua kantung besar belanjaan yang Wonwoo beli. Tadi Wonwoo sekalian berbelanja keperluan di apartemen Mingyu juga. Itu sebabnya jadi banyak begitu.
"Noona bawakan saja tas sekolahku. Biar belajaannya aku yang bawa." Mana tega Mingyu membiarkan kekasih manisnya menenteng belanjaan berat seperti ini.
"Dasar keras kepala."
.
"Lama sekali lift-nya. Cepat. Mingyu sudah berat membawa belanjaan tau." Wonwoo mendongak. Menatap angka-angka diatas pintu lift. Masih menunjukan angka duapuluhtiga. Siapa suruh tinggal di apartemen yang punya banyak lantai.
"Noona…" Mingyu berdiri dibelakang Wonwoo. Masih menenteng dua kantung besar belanjaan yang siapapun yakin itu cukup berat.
"Hmm.." Wonwoo hanya menggumam. Ia pikir Mingyu sedang menegurnya yang mengeluh pada lift, jadi ia merasa bersalah dan menunduk.
Mingyu itu kekasih yang sangat baik yang pernah Wonwoo miliki. Ya karena baru dengan Mingyu lah Wonwoo berpacaran. Tapi sungguh, semua orang pasti iri jika melihat Wonwoo. Punya kekasih tampan, tinggi dan pintar. Perhatian, pengertian, dewasa dan maskulin. Tidak ada yang menyangka Mingyu itu adalah adik kelasnya.
"Noon-…"
Brugghh
"Ya Tuhan! Mingyu!" Wonwoo kaget. Panik. Semua perasaan cemas bercampur jadi satu. Tepat saat pintu lift terbuka, Mingyu bukannya melangkah masuk, ia malah ambruk di depan pintu lift.
"Mingyu! Hey, sadarlah. Tolong! Siapapun tolong aku… ada yang pingsan disini." Wonwoo gemetar. Airmatanya turun membasahi wajah putihnya. Wonwoo takut terjadi sesuatu dengan kekasih mudanya itu.
.
"Mingyu baik-baik saja kan, Dok?" Wonwoo masih berdiri memperhatikan seorang dokter langganannya memeriksa Mingyu yang terbaring di kasur apartemennya.
Beberapa orang membantu mengangkat tubuh pingsan Mingyu agar bisa sampai di tempat tinggalnya.
Wonwoo meredakan tangisnya ketika Dokter Jung datang kemudian memeriksa keadaan Mingyu.
"Mingyu terserang gejala typus. Sebaiknya ia dirawat dirumah sakit, nak Jeon."
"Tapi, Mingyu phobia rumah sakit, Dok. Bisa rawat disini saja. Aku yang akan menjaganya." Mingyu itu jarang sakit. Ia berusaha untuk tidak pernah sakit dan tidak mau sakit. Karena ia tidak suka dengan rumah sakit.
Sang Dokter menyetujui permintaan Wonwoo untuk merawat Mingyu dirumah. Ia pergi untuk mengambil beberapa botol infus di rumah sakit tempat ia bekerja yang letaknya tidak jauh dari apartemen Mingyu.
.
Wonwoo berbaring menatap Mingyu yang masih tidak sadarkan diri. Mengusap dahi kekasihnya yang basah karena keringat yang mengucur.
"Maafkan aku ya, gyu. Gara-gara selalu menemaniku belajar kau jadi sakit begini." Wonwoo sudah berada ditingkat akhir, membuat ia selalu dipenuhi tugas-tugas yang diberikan oleh gurunya.
Tiap malam, Wonwoo akan belajar hingga dini hari untuk mengejar ketertinggalannya. Wonwoo bukan gadis yang pintar dalam hal akademik sehingga ia harus sering mengulang pelajaran. Tentu saja Mingyu selalu menawarkan diri menemani Wonwoo belajar tiap malamnya.
Seminggu belakangan, hampir tiap malam Wonwoo selalu belajar hingga pukul satu pagi. Mingyu akan dengan senang hati menemani Wonwoo dirumahnya atau kalau tidak menginap ia akan menemani Wonwoo dengan cara videocall. Ampuh untuk membunuh kantuk Wonwoo selama belajar.
Yang tidak disangka Wonwoo akhirnya terjadi, Mingyu ambruk karena terlalu sering begadang serta banyaknya kegiatan lain yang Mingyu ikuti.
Mingyu itu ketua klub basket. Juga aktif di berbagai kegiatan lain. Apalagi sebentar lagi akan diadakan acara pentas seni semester genap juga sekaligus untuk acara perpisahan siswa tingkat akhir.
Mingyu ikut mengurus keperluan acara bahkan ikut andil dalam beberapa konten acaranya. Meski begitu sibuk, tapi Wonwoo akui, Mingyu tidak pernah mengabaikannya. Ia selalu dan masih tetap memperhatikan Wonwoo seperti sebelumnya.
Sejak membangunkan dirinya dipagi hari hingga menemani Wonwoo tidur di malam hari, tidak pernah ada yang berubah meski Mingyu sedang sibuk-sibuknya.
.
"Selamat pagi, Seokmin. Ini aku Wonwoo. Bisa minta tolong sampaikan ijin pada guru kelasku dan kelas Mingyu bahwa Mingyu sedang sakit? Ia terserang typus jadi tidak bisa sekolah… Baiklah. Terima kasih, Seokmin." Wonwoo mendesah lega setelah meletakkan ponsel Mingyu yang ia gunakan untuk menelepon sahabat Mingyu, Lee Seokmin.
"Telepon Kyungsoo-eonni…" Wonwoo mengganti ponsel untuk menelepon dengan ponselnya sendiri.
"…Eonni maaf tadi aku menelepon untuk ijin absen dulu. Lalu bagaimana selanjutnya? Airnya sudah hampir habis. Aku masukkan sayurannya? ….ah terima kasih eonni, bye." Wonwoo kemudian berbalik untuk menatap pekerjaan dapurnya.
Wonwoo bisa masak. Tentu saja. Dia seorang gadis. Mana mau dia kalah dari Mingyu yang memasaknya setara chef hotel. Meskipun Wonwoo baru belajar tapi ia sudah bisa masak untuk lauk sehari-hari. Tapi yang sedang ia masak pagi ini adalah bubur. Jujur saja Wonwoo belum pernah masak ini. Jadi ia menghubungi sepupunya untuk dimintai resep memasak bubur.
"Ah.. Panas! Dasar Wonwoo bodoh." Wonwoo beringsut kearah kran air untuk membasuh jarinya dengan air yang mengalir. Bodoh sekali ia tadi mencoba membuka panci untuk memasak bubur tanpa menggunakan kain. Alhasil jarinya terasa melepuh.
"Kau sedang apa, sayang?" Wonwoo terlonjak kecil. Sepasang lengan melingkar manis di pinggangnya. Hembusan nafas hangat menyapa pipi mulusnya.
"Mingyu? Kau sudah bangun? Kau baik-baik saja? Hey, infus-nya kenapa dilepas?" Wonwoo ingin menatap kekasihnya ini tapi tubuhnya ditahan. Mingyu memeluknya erat dari belakang. Menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Wonwoo.
"Aku baik-baik saja, Noona sayang. Aku hanya merindukanmu." Mingyu mengecup lembut leher kekasih kesayangannya. Tubuhnya masih hangat dan sedikit lemas. Tapi sungguh ia hanya butuh Wonwoo.
"Hiks… Ku mohon jangan sakit lagi, gyu. Aku takut."
"Hey, kau menangis?" Mingyu membalik tubuh ramping itu untuk menatapnya. Matanya berair, tubuhnya bergetar terisak. Menunduk dan tak berani menatap kekasihnya.
Bukannya menjawab, Wonwoo malah menerjang Mingyu dengan pelukan erat. Menyembunyikan wajahnya di dada hangat Mingyu.
"Aku baik-baik saja, noona. Jangan menangis. Ku mohon." Mingyu hanya bisa membalas pelukan Wonwoo dengan mengusap rambut noona-nya dengan lembut. Ia tau kekasihnya ini khawatir padanya. Tapi ia juga tidak mau Wonwoo-nya menangis seperti ini.
"Lain kali kalau sakit bilang ya? Jangan tiba-tiba pingsan seperti itu. Jantungku mau copot tau." Wonwoo memberanikan diri menatap kekasih tingginya.
"Aku hanya tidak ingin noona-ku yang manis ini khawatir. Berhentilah menangis. Aku baik-baik saja sekarang." Mingyu mengecup dahi sang kekasih yang mencoba menetralkan isakannya.
"Aku hanya takut. Sunggu-" Mingyu juga paham bagaimana rasanya menjadi seorang Wonwoo saat ini. Ketika kekasihnya sakit tentu saja akan khawatir dan panik berlebihan.
Mingyu menyukainya. Menyukai Wonwoo yang ceroboh tapi giat. Wonwoo yang terlihat acuh tapi sebenarnya sangat memperdulikan sekitarnya. Wonwoo yang cuek tapi begitu perhatian.
Mingyu juga suka ketika menatap mata Wonwoo yang terpejam saat mereka berciuman. Seperti saat ini. Mingyu akan mengusap pipi Wonwoo disela pagutan manis yang mereka lakukan.
Wonwoo mungkin butuh ponsel untuk mengetahui informasi. Atau mungkin Wonwoo butuh uang untuk memenuhi kebutuhan.
Tapi satu yang Wonwoo tau. Kebutuhan paling utama untuknya selain oksigen.
Kim Mingyu.
Ia hanya butuh Kim Mingyu agar ia tetap bisa bertahan hidup.
Mingyu. Mingyu. Dan Mingyu.
.
.
.
Kkeut
.
.
.
Kim Noona
Wed, 16th Nov 2016
