A NEW LIFE
Pairing : Sasuke U & Hinata H
Disclaimer by Masashi Kishimoto
Don't Like This Pairing? Don't read ^^
.
.
Terkadang goresan luka itu terlalu dalam, sehingga membuatmu menyerah. Lalu kau mulai mencari jati diri baru dan duniamu sendiri. Berawal dari sebuah kesalahan kecil, takdir membuatmu seolah terikat pada benang merahnya yang membawamu pada pria yang tak kau kira. Dan hidup barumu pun segera dimulai. SasuHina, Canon (Dihatiku).
.
.
Hinata merasa saat ini dunianya pasti sudah kehilangan daya gravitasi yang mengakibatkan semua kehidupannya menjadi berhamburan tidak teratur di langit. Dia merasa bingung bahwa apakah ini adalah sebuah kenyataan yang nyata? Bisakah dia menutup mata, dan sekali saja menulikan telinganya? Tetapi meski ingin sekali membutakan matanya dari kenyataan yang ada, matanya adalah mata yang memiliki anugerah dibanding mata lain, tapi mungkin Hinata lebih suka menyebut mata ini adalah mata kutukan. Dimulai dari melihat orang yang dia cintai mencium gadis lain dihadapannya, kemudian melihat pengusiran dirinya sendiri dan klan Hyuuga, melihat Uchiha itu terbaring sekarat, dan sekarang melihat surat perjanjian pernikahan yang diberikan Hokage kepadanya. Mata ini sungguh mata kutukan, atau memang takdirnya sebagai 'Hinata' lah yang membawanya kepada kemalangan yang terus menerus seperti ini, dia hanya berharap sedikit saja kebahagiaan baginya.
"Gomenasai Hokage-sama, apa maksudnya ini?" Hinata menatap tidak mengerti pada wanita di depannya ini. Tsunade menghela nafas sejenak, dia sendiri merasa bingung untuk menjelaskan detail dari semuanya.
"Baiklah, sejujurnya aku bingung ini mengatakannya dari mana. Pada Intinya aku ingin kau melakukan misi pernikahan palsu dengan Uchiha Sasuke!" Ujar Tsunade sembari menatap gadis di depannya dengan pandangan serius. Hinata hanya bisa mematung mendengar ucapan Hokage di depannya ini? Menikah katanya?
"J-jangan m-membuat guyonan seperti ini Hokage-sama, i-ini s-sungguh keterlaluan. P-pagi sekali seorang anbu sudah menculikku lalu membawaku kesini, d-dan anda justru mengatakan lelucon y-yang sama sekali tidak lucu ini!" baru sekali ini Hinata benar-benar merasa di permainkan oleh takdir yang rasanya teramat kejam sekali.
"Aku seorang Hokage, aku tidak pernah mengatakan sebuah lelucon, apalagi sampai harus menculikmu kemari." Tsunade menatap serius wajah gadis di depannya ini, dia sudah menduga kalau ini akan sedikit sulit.
"Kalau begitu, Gomenasai Hokage-sama, s-saya menolak melakukan misi ini. Saya bukan seorang ninja lagi. Silahkan Hokage-sama cari orang lain yang bisa melakukannya." Hinata meletakkan kembali surat perjanjian yang baru dibacanya itu, dan menatap Tsunade dengan tegas. Hinata jelas tidak akan mengambil resiko untuk merusak semua ketenangan yang sudah susah payah dia bangun.
Tsunade cukup terkejut dengan jawaban gadis di depannya, tatapannya terasa berbeda. Tapi dia juga tidak bisa membiarkan bocah Uchiha sialan itu. Dia pasti akan mengamuk, jika Hinata tidak mau diajak kerjasama untuk pura-pura menjadi istrinya. Kalau begitu, dia harus menggunakan cara lain.
"Kalau begitu, anggap ini bukan sebagai misi. Aku Tsunade Senju, sebagai wali pengganti Sasuke Uchiha pada hari ini, aku memintamu untuk menikah dengan Uchiha Sasuke. Bagaimana Hinata?"
"G-gomen, Hokage-sama a-aku t-tidak me-mengerti?" Hinata merasa sesak nafas sekarang, sial penyakit gugupnya mulai kambuh lagi.
"Jangan, berpura-pura seperti itu Hinata. Ini adalah lamaran yang aku ajukan padamu atas nama Uchiha Sasuke" Tsunade tersenyum penuh kemenangan.
"Aku tetap tidak bisa Hokage-sama." Tolak Hinata, mana mungkin dia akan menerima lamaran dengan cara seperti ini, apalagi dia tidak mengenal pemuda itu.
"Apa kau punya pacar? Atau kau sudah terikat dengan laki-laki lain?"
"T-tidak, t-tapi saya hanya ingin menikah dengan pria yang saya c-cintai Hokage-sama," bisik Hinata lirih, entah mengapa bayangan Naruto muncul begitu saja dikepalanya, rasanya sungguh sesak. Tsunade menatap perubahan raut muka gadis di depannya, terlihat sedih. Pasti karena bocah kuning itu.
"Ku dengar Naruto dan Sakura mulai berkencan, itulah sebabnya aku tidak bisa meminta Sakura untuk menjadi istri Sasuke. Sedangkan Ino, kau tau dia baru saja menikah dengan Shikamaru. Untuk tenten, jujur saja aku takut sifatnya tidak akan cocok dengan Sasuke, jadi hanya kau pilihan terakhirku dari gadis-gadis yang ada di Rookie Nine." Kata Tsunade
Rasanya tubuh Hinata, benar-benar ingin terjatuh, lemas sekali. 'Apakah yang dikatakan Hokage-sama itu benar, Naruto-kun dan S-sakura-chan?' pikir Hinata. Ternyata benar, hidupnya memang penuh ketidakmujuran. Kenapa, takdir suka sekali membuatnya merasa pilu?
Tsunade menatap gadis itu sedikit iba, sedikit kebohongan tidak masalah bukan? Demi melindungi masa depan Konoha, mungkin terdengan licik tapi jalan keluar satu-satunya hanya dengan menjatuhkan perasaan gadis di depannya ini. Tsunade tau bahwa hati gadis di depannya ini teramat lembut, maka dari itu dia harus membuat semuanya terlihat menyedihkan, agar dia merasa iba dan pasti dia akan menolong bocah Uchiha itu.
"Pikirkanlah sekali lagi Hinata, bocah Uchiha itu benar-benar membutuhkanmu. Dia kehilangan ingatannya dan hanya kau yang dia ingat, bocah itu juga mengalami delusi sehingga mengira kau sebagai istrinya. Aku juga telah bicara pada Hiashi dan dia mengatakan padaku apapun keputusanmu, dia akan setuju. Sekali lagi, jika kau tidak ingin membuat semua ini tampak seperti misi, maka menikahlah dengan Sasuke." Tsunde benar-benar mengharapkan jawaban 'ya' kali ini. Hinata hanya terdiam, pikirannya berkecamuk.
"I-Ijinkan saya memikirkannya Hokage-sama, berikan saya waktu selama satu hari. Saya mohon?"
"Aku tidak bisa memberimu waktu selama itu, kutunggu jawabanmu hingga tengah malam nanti. Tapi aku berharap kau mampu memilih dengan baik Hinata, demi Konoha dan bocah itu benar-benar membutuhkanmu, hanya kau!"
"K-kalau begitu, saya ijin undur diri, saya ingin menemui Outosama terlebih dahulu." Gadis itu segera beranjak dari ruangan Hokage tersebut.
.
.
.
Sasuke hanya menatap hampa langit-langit kamarnya. Istrinya hingga saat ini belum mendatanginya, ataukah istrinya tidak tahu menahu bahwa dia sekarang ada di rumah sakit. Sasuke ingin sekali pergi dari tempat ini, tapi melihat kondisi tangannya dia tidak bisa kabur. Tenaganya terasa lemah sekali. Di kepalanya berputar tentang wajah cantik istrinya, betapa dia merindukan istrinya saat ini.
Sasuke menolehkan kepalanya ke arah pintu, ketika terdengar suara pintu terbuka. Namun, bukan istrinya yang muncul melainkan, wanita kemarin yang mengaku bahwa dia adalah seorang Hokage.
"Mengapa kau datang kemari lagi? Aku tidak punya urusan dengamu!" ujarnya sedikit ketus.
"Aku tau kau pasti sedang menunggu Hinata," Tsunade menatap serius bocah ini, sejujurnya dia masih ragu dengan hilangnya ingatan bocah ini. Apalagi mengingat riwayat hidupnya, dia diasuh oleh Orochimaru yang mungkin saja menurunkan sifat kelicikan-nya. Bisa saja ini adalah bagian dari rencanya untuk melarikan diri bukan?
"Kau, dari mana kau tau nama istriku?" Sasuke sedikit terkejut, seingatnya dia tidak pernah mengenal orang ini, apalagi bercerita mengenai istrinya.
"Itu tidak penting, sekarang aku tanya siapa namamu?" Tsunade mencoba memancing Sasuke, apakah dia ingat bahwa dia adalah seorang Uchiha.
"Haruskah aku memberitahu namaku padamu, aku tidak punya urusan denganmu." Tsunade menghela nafas 'Ternyata sikap angkuhnya masih sama,' batin Tsunade.
"Jangan bermain-main denganku, atau aku tidak akan mempertemukan kau dengan istrimu!" sepertinya bermain dengan cara memaksa lebih baik dari pada menggunakan cara halus. Sasuke manatap wanita di seberangnya ini dengan tajam. Wanita ini berbahaya, apalagi dia mengatahu nama istrinya. Bisa saja bukan, dia akan melukai Hinata. Mungkin untuk kali ini dia akan mengalah.
"Yamada Sasuke."
"Yamada?" Tanya Tsunade dengan sedikit bingung, "Namamu adalah Sasuke Uchiha, bukan Yamada Sasuke" imbuh Tsunade lagi.
"Dengarkan aku, namaku Yamada Sasuke. Marga keluargaku adalah Yamada. Aku bukan seorang Uchiha!" ujarnya sedikit emosi. Sejak kemarin semua paramedis yang masuk ke kamarnya selalu memanggilnya dengan sebutan Uchiha. Padahal dirinya tidak mengenal marga itu sama sekali.
"Apakah kau tau tentang Itachi Uchiha?" Tsunade mencoba memancing informasi lagi dari bocah ini, apakah benar dia sedang berpura-pura atau tidak.
"Tidak… sudah kubilang aku tidak tau menahu soal Uchiha atau siapapun itu!" Sasuke semakin frustasi, kepalanya terasa pening setiap kali mendengar nama marga Uchiha itu.
"Kalau begitu, sebutkan semua hal tentangmu!"
"Apakah kau mencoba menguji kesabaranku? Aku tidak mengenalmu untuk apa aku harus memberitahukan informasi tentang diriku padamu, hah!" Sasuke sungguh merasa kesal, sebenarnya apa yang diinginkan wanita ini darinya. Dia benar-benar tidak mengenal wanita ini, dia hanya ingin mendapatkan istrinya.
"Sudah kukatakan bukan, jika kau mau menjawab semua pertanyaanku maka akan kupastikan kau bisa bertemu dengan istrimu, aku adalah seorang Hokage."
"Baiklah, perkataanmu harus kau buktikan besok!"
"Tentu saja!"
"Namaku Yamada Sasuke, seorang anak tunggal. Aku telah menikah enam bulan lalu dengan Hinata. "
"Lalu apa kau ingat tentang keluarga atau teman-temanmu, misalnya Naruto?"
Sasuke terdiam sejenak. Nama Naruto, sepertinya tidak asing tapi Sasuke tidak bisa mengingatnya. Yang dia ingat hanya istrinya Yamada Hinata. "Aku tidak ingat tentang apapun, kecuali istriku Yamada Hinata," kepalanya kosong sekarang, benar yang dia ingat dan yang ada dalam pikirannya hanya istrinya. Kepalanya terasa sangat pening sekarang. Sasuke tidak mengingat tentang keluarga atau kehidupanya yang dulu sama sekali. Yang dia ingat hanya tentang segala hal tentang istrinya.
Tsunade menatap dengan sungguh bocah dihadapannya, teori tentang delusi dan hilangnya ingatan bocah ini kelihatanya memang terjadi. Bocah dihadapannya ini tidak terlihat sedang mencoba menipunya. 'Tapi, jika itu benar … bagaimana caraku untuk meyakinkan Hinata tentang bocah ini?' Tsunade benar-benar merasa gila dengan situasi sekarang. Mungkin sedikit sake akan meringkan bebannya.
.
.
.
Hinata menatap ayahnya yang masih tertidur, pikirannya benar-benar tercampur aduk rasanya setelah bertemu Hokage kelima tadi. 'Apa yang akan di katakannya soal misi, mungkin lebih tepatnya lamaran? Tapi bukankah terlalu cepat mengatakan itu adalah sebuah lamaran?' Hinata menggelengkan kepalanya, pikirannya bingung. Mungkinkah dia harus mendiskusikan hal ini dengan ayahnya terlebih dahulu, bagaimanapun restu orang tua adalah yang terpenting bukan. Tapi tentang Uchiha Sasuke, Hinata benar-benar tidak mengenal lebih dekat dengan pemuda itu. Jadi bagaimana mungkin dia bisa menjadi istri dari pemuda itu bahkan jika itu hanya sebuh pura-pura saja?
"Apa yang kau pikirkan Hinata?" Hinata merasa kaget setelah mendengar suara ayahnya yang telah bangun dari tidurnya.
"Otousama, sejak kapan bangun?"
"Sejak kau menatapku beberapa menit yang lalu, tapi kelihatannya pikiranmu sedang tidak berada disini?" Tanya ayahnya.
"Go-gomen, ak-aku hanya sedang bingung Otousama."
"Apa yang kamu pikirkan? Ceritakan saja, mungkin ayah bisa membantu?" Hinata menatap ayahnya ragu-ragu, mungkinkah dia harus jujur tentang semuanya, bahwa dia baru saja menerima sebuah lamaran?
"A-ano, ak-aku menemui Hokage-sama tadi pagi di kantornya, dan Hokage-sama menawariku sebuah mi-misi." Hinata menatap ayahnya dengan ragu-ragu. Hiashi mengerutkan alisnya, dia bingung dengan ucapan putrinya tersebut, "Bukankah kau bukan seorang ninja lagi? Lalu misi seperti apa?"
"Se-sebenarnya mu-mungkin ini bukan misi biasa Otousama, Ho-Hokage kelima memintaku untuk…," Hinata terdiam sejenak, rasanya sulit sekali mengatakan hal tersebut kepada ayahnya, mungkin ayahnya akan berpikir ini adalah hal yang tidak masuk akal.
"Jadi dia meminta untuk?" Hinata lagi-lagi terkagetkan oleh suara ayahnya, karena sibuk bergumul dengan pikirannya sendiri. "An-ano, Ho-Hokage-sama memintaku un-untuk berpura-pura menjadi istri Uchiha Sasuke!" Hiashi menatap putrinya dengan pandangan datar dan terdiam, Hinata bisa merasakan bahwa mungkin mengatakan hal ini kepada ayahnya adalah hal yang buruk, mungkin lebih baik dia tidak perlu melakukan hal ini.
"Gomenasai Otousama, aku akan me-menolak hal itu," ujar Hinata pelan.
"Tidak perlu, Hokage-sama sudah mengatakan hal itu padaku."
"Be-benarkah?"
"Ya, pada awalnya aku jelas tidak menyukai itu karena kau bukan seorang shinobi lagi. Tapi tentu itu bukan wewenangku untuk melarangmu jika kau ingin menjadi shinobi lagi dan menjalankan misi itu, tapi tentu aku masih seorang Ayah, dan kau tetap darah dagingku. Seorang ayah tidak akan pernah mengijinkan putrinya untuk menjadi istri orang lain bahkan jika itu adalah sebuah misi! Apalagi dengan resiko laki-laki tersebut beranggapan bahwa kau adalah istrinya, menjadi istri seseorang bukan hal yang mudah! Bagaimanapun harus ada dasar pernikahan! Makanya, aku mengajukan syarat agar kau menikah sungguhan dengan Uchiha itu," kata Hiashi kepada Hinata, dia jelas tidak ingin putrinya menjadi objek percobaan untuk Konoha, bagaimana jika hal-hal yang tidak diinginkan terjadi? Seperti kehamilan? Pernikahan secara sah tentu adalah jawabannya, dasar hukum setidaknya akan cukup kuat untuk Hinata bisa menuntut balik Uchiha muda tersebut jika suatu saat dia mengalami hal yang tidak diinginkan.
"Jadi pernikahan itu merupakan gagasan Otousama?" Tanya Hinata.
"Ya, tapi semua tetap tergantung padamu. Jika kau bertanya restuku, aku akan selalu merestuimu. Meski sebenarnya aku tidak menyukai Uchiha muda itu, bagaimana pun dia adalah penghianat desa. Tapi sejujurnya aku sangat ingin kau menjadi seorang shinobi lagi dan masih ada kemungkinan kau kembali ke klan Hyuuga lagi Hinata." Hiashi menatap Hinata dengan pandangan sungguh-sungguh, benar jika Hinata mampu menangani Uchiha muda itu tentu saja setidaknya dia bahkan telah menjadi salah satu ninja yang baik bagi desa, karena mampu menaklukan salah satu missingnin yang hampir membunuh kelima kage dan mau tidak mau para tetua Hyuuga mungkin saja akan mengembalikan nama Hyuuga lagi untuk Hinata gunakan.
Hinata hanya terdiam, dirinya merasa bingung. Di satu sisi dia masih ingin mejadi seorang shinobi, dia masih bisa merasakan kekuatannya bahkan meski chakranya telah di segel. Tapi menjadi shinobi dan kembali menjadi Hyuuga tentu saja artinya dia harus kembali menjadi dirinya yang dulu dan membuang kehidupannya yang baru. Manakah yang harus Hinata pilih? Gadis itu hanya terdiam.
"Gomenasai Otousama, aku akan pergi jalan-jalan keluar terlebih dahulu untuk memikirkan hal ini, " ujar Hinata sembari berjalan menuju pintu keluar. Hiashi hanya menatap putrinya sambil menghela nafas, dia memang berjanji untuk tidak akan menekan putrinya, salahkah dia masih mengharapkan Hinata kembali menjadi Hyuuga? Karena dengan menjadi Hyuuga, hanya itu satu-satunya cara agar dia bisa dekat dengan putrinya tersebut.
.
.
.
Tsunade berjalan di koridor rumah sakit dengan langkah tergesa-gesa, dia benar-benar ingin minum sake sepuasnya, akhir-akhir ini terutama pasca perang ninja keempat telah berakhir semakin banyak masalah yang datang menimpa dirinya. Pembangunan pasca perang belum sepenuhnya terselesaikan. Infrastruktur desa yang hancur porak-poranda pasca perang enam bulan yang lalu masih belum sepenuhnya di perbaiki, dan keamanan desa masih belum sepenuhnya terjamin. Meski Madara Uchiha telah berhasil dikalahkan bukan berarti kejahatan tidak berkurang, karena menjadi korban perang justru menjadikan beberapa warga sipil yang kehilangan harta benda malah menjadi seorang perampok demi menghidupi keluarga mereka. Suasana yang belum kondusif bisa saja dimanfaatkan banyak pihak untuk merusak Konoha lagi. Dan sekarang satu-satu uchiha justru menambah panjang deretan permasalahan yang harus ia tangani, mengabaikan uchiha itu jelas bukan pilihan yang bijak. Kontribusinya dalam mengalahkan madara dapat dihitung sebagai upaya penyelamatan dunia ninja. Dan masalalunya yang kelam juga merupakan buah politik dan campur tangan Danzo yang mengatasnamakan Konoha, jelas Konoha harus bertanggung jawab setidaknya untuk memulihkan kembali klan tersebut.
"Ah, mungkin sebaiknya aku pesiun lebih dini saja," ujar Tsunade sambil menghela nafas. Tsunade berjalan menuju ke pintu keluar rumah sakit tanpa sengaja melihat gadis itu, ya gadis penyelamat yang setidaknya bisa membantunya keluar dari satu masalah tersebut.
"Hinata, kau mau kemana?" ucap Tsunade sambil menepuk bahu gadis yang tengah berdiri di depan pintu keluar rumah sakit konoha. Dan gadis itu sontak membalikan badanya.
"Eh, Hokage-sama ak-aku hanya sedang berkeliling tanpa arah." Kata Hinata sambil mencoba tersenyum.
"Bagaimana jika kau temani aku minum sake?" ajak Tsunade kepada gadis itu. "He? A-ano tapi aku tidak minum sake Hokage-sama," Hinata mengatupkan kedua tangannya sebagai permohonan maaf. "Kalau begitu temanilah aku mengobrol sambil aku minum. Shizune sedang memiliki urusan lain, Bagaimana Hinata?" pinta Tsunade kepada gadis di depannya tersebut. Hinata hanya bisa menganggukan kepalanya sebagai pertanda bahwa dia setuju, lagi pula memang banyak hal yang harus di obrolkan kembali bukan?
.
.
.
Tsunade dan Hinata telah duduk di salah satu kedai langganan Tsunade. Tsunade mulai memesan beberapa botol sake, dan Hinata hanya menggelangkan kepala ketika pelayan menanyakan apakah Hinata akan memesan juga. Suasana di kedai ini tidak cukup ramai, mungkin karena kedai ini memang tidak memiliki banyak pengunjung atau mungkin karena suasana desa yang masih cukup dalam tingkat waspada sehingga tidak banyak orang berjalan-jalan pada malam hari.
"Jadi, kudengar dari Shizune kau datang menemui Hyuuga Hiashi?" Tsunade memulai pembicaraan pertama kali, sambil menunggu pelayan menghantarkan pesannya.
"Hai…!" Hinata hanya mengeluarkan seruan tersebut sebagai tanda 'ya'. Tsunade ingin bertanya lagi, namun seorang pelayan datang dan membawa beberapa bolot sake, sake kesukaannya. Sake yang mampu membuatnya melampiaskan semua rasa penat dari pikirannya. Tsunade menatap gadis di depannya, raut wajah gadis itu terlihat kebingungan dan sedikit cemas seperti itulah.
Hinata tidak tau apakah keputusannya untuk duduk dan ikut bersama Tsunade disini adalah keputusan yang tepat, sebab dia masih bingung tentang pertanyaan yang diajukan Hokage kelima tersebut. Mungkin ada baiknya dia bertanya tentang segala sesuatunya. Lagipula situasi disini cukup kikuk dan canggung, mungkin karena Hinata sudah lama tidak terlibat pembicaraan serius seperti ini.
"Me-mengapa aku?" Hinata memecah keheningan yang sempat menyelimuti suasana di antara dirinya dan Hokage kelima. Tsunade hanya menaikan alisnya, menatap gadis di depannya lalu menggumamkan sesuatu yang tidak jelas, karena dirinya sedang menenggak satu botol sake. Hinata, sedikit kurang yakin dengan pertanyaannya, padahal tadi pagi Hokage kelima tersebut telah menjelaskan sedikit alasan dibalik semua, tapi tentu Hinata tetap membutuhkan sebuah detail bukan? Karena ini menyangkut masa depannya kelak. Tsunade berhenti menenggak botol sake tersebut dan menaruhnya di meja, karena melihat Hinata tengah menuntut kejelasan akan peristiwa ini.
"Hah, aku juga tidak mengerti kenapa kau Hinata!" jawab Tsunade sedikit ragu kemudian dia kembali meneggak satu tegukan. Hinata menatap bingung Tsunade, kemudia dia membuka suara menanggapi jawaban Tsunade yang dirasanya kurang jelas, "Maksud Hokage-sama? Aku tentu butuh kejelasan mengapa kalian me-memilihku yang bukan lagi seorang shinobi?"
"Kalau kau bertanya kepadaku mengapa dirimu yang harus berada dalam situasi ini, aku juga tidak bisa menjawabnya. Hanya Kami-sama dan Bocah Uchiha sialan itu yang mampu menjawabnya, tapi satu hal yang pasti bocah Uchiha itu membutuhkanmu, dia terus menanyakanmu!"
"Tap-tapi Hokage-sama, aku bahkan tidak dekat dengan Uchiha-san sejak dulu hingga sekarang!"
"Mungkin kau tidak dekat dengannya, tapi fakta bahwa namamu yang pertama kali dia sebut ketika membuka matanya dan bahkan bocah itu beranggapan bahwa kau adalah istrinya itulah kenyataanya Hinata! Bahkan Naruto sahabatnya pun tidak ada dalam daftar ingatannya sekarang!" Hinata terdiam mendengar penjelasan Tsunade, dia masih belum mampu menerima kenyataan ini. Di satu sisi dirinya ingin mengabaikan fakta ini kemudia menolak semua hal ini kembali kekehidupannya yang sekarang. Namun, di sisi lain seperti ada dorongan dari dalam dirinya yang ingin agar dia mengambil jalan tersebut, tapi untuk apa? Dirinya bahkan tidak mengenal jelas sosok pemuda tersebut. Apakah karena Naruto? Karena dia ingin membuat Naruto sadar bahwa Hinata bahkan ingin menolong sahabat yang dia perjuangkan, agar dirinya bisa kembali terlihat oleh Naruto hanya untuk memenuhi harapan konyolnya mengenai lelaki yang selalu menjadi mimpi buruknya beberapa bulan belakangan. Atau karena dirinya merasa iba terhadap Uchiha bungsu tersebut, karena seujurnya sekilas jalan hidup mereka hampir mirip. Ya, mereka sama-sama terbuang, sama-sama sendirian saat ini dan sama-sama kehilangan kepribadian dan diri mereka yang dahulu kala.
"Hinata, kau juga pasti tau bukan bahwa Uchiha itu sekarang sendirian dan satu-satunya yang mampu dia ingat hanya kau. Kau pun pasti sudah mendengar berita tersebut bukan, tentang Itachi Uchiha? Bukan kah sudah selayaknya konoha menebus kesalahannya karena menghancurkan masa depan Klan Uchiha dan menghancurkan kehidupan Sasuke? Jadi, mungkin inilah takdir yang Kami-sama berikan melalui kau, agar Konoha bisa meminta maaf kepada bocah sialan tersebut. " Tsunade mencoba memoles perkataaanya sebaik mungkin, agar setidaknya mendapatkan simpati dari gadis muda di depannya yang tertunduk dan terdiam mendengarkan ucapannya, bagaimanapun dia harus berhasil membujuk gadis di depannya ini. Sementara sang gadis hanya sibuk menunduk dan mencerna kembali perkataan Tsunade.
"A-apa yang akan kau berikan, jika aku menolongmu Hokage-sama?" Kata Hinata seraya memandang tajam Tsunade. Hinata bukan lagi Hinata yang dulu, itulah yang saat ini gadis tersebut pikirkan. Konoha tidak bisa memohon seenaknya begitu saja padanya apalagi mereka yang selama ini menganggapnya seolah-olah lemah, dia sudah berbeda sekarang, tidak akan semudah itu memohon padanya.
"Apakah ini semacam negosiasi agar kau bisa menyetujui permintaanku dan bocah sialan tersebut?"
"M-mungkin saja, apalagi ini melibatkan kehidupanku Hokage-sama. Aku tidak bisa membiarkan orang asing masuk begitu saja ke kehidupanku yang sekarang!"
"Kalau begitu apa yang kau inginkan? Aku akan berusaha melakukanya jika kau menyetujui misi ini," Tsunade cukup kaget ketika Hinata yang sekarang mampu melakukan sebuah negosiasi, Hinata yang dia tau selama ini adalah gadis yang amat penurut, lugu dan begitu lemah lembut. Tapi melihat sorot mata serius gadis tersebut, dia cukup merasa kaget. Keduanya terdiam cukup lama, terlebih lagi Hinata. Gadis itu tengah memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi mengenai jika dia menjalankan misi ini. 'Apakah aku akan menjadi Hinata yang lama kembali? Sejujurnya aku merindukan keidupanku yang dulu dan teman-temanku, akan tetapi ketika aku memutuskan kembali menjadi diriku yang dulu itu artinya aku akan kembali menjadi Hinata yang lemah dan mencintai Naruto-Kun. Terlalu menyakitkan mencintai tanpa dicintai,' lamunan gadis itu buyar ketika mendengar Tsunade memanggil namanya, "Hinata…, aku mohon untuk terakhir kalinya tentang bocah Uchiha itu! Dia benar-benar membutuhkanmu, hanya kau yang dia butuhkan. Tidak ada yang lain yang bisa membantunya. Aku akan menjamin apapun yang kau inginkan jika kau mau melaksanakan misi ini. Uchiha itu sendirian dan dia memerlukanmu!" Ucap Tsunade, kemudian menengguk kembali botol sakenya. Dia sudah pasrah untuk membujuk gadis di depannya, dia sangat keras kepala meski penampilannya begitu lemah lembut, mungkin karena darah Hyuuga juga mengalir di nadinya, jadi Tsunade tidak begitu merasa heran.
Hinata masih terdiam, gadis tersebut merasa bimbang. Entahlah, baru kali ini dia merasa dibutuhkan dan hanya dirinya yang mampu melakukannya. Apalagi melihat kondisi Uchiha tersebut, mungkin dirinya merasa sedikit terenyuh, hati kecil Hinata sedikit terenyuh mungkin karena dia merasa melihat dirinya sendiri yang sama-sama tidak memiliki keluarga saat ini.
"A-Apakah ta-tawaran lamaran tersebut masih berlaku?" Tanya Hinata lirih.
"Maksudmu pernikahan sungguhan?"
"Y-ya, pernikahan sungguhan tersebut!"
"Tentu saja Hinata, jadi apakah kau ingin menerima lamaran tersebut?" Tsunade berharap gadis itu akan menjawab ya. Hinata terdiam sejenak, mungkin Hinata sudah merasa gila tapi seolah-olah ada bisikan kecil di dalam dirinya yang menyuruhnya mengiyakan hal tersebut, mungkin akan jadi keputusan yang buruk bagi gadis tersebut, akan tetapi meski sikap dan cara berpikirmu berubah, Hinata tetap tidak bisa membohongi hati kecilnya bahwa ada rasa simpati yang dalam untuk pemuda tersebut."Y-ya aku menerimanya," ucap Hinata pada akhirnya yang membuat Tsunade benar-benar merasa lega dan senang.
"Baiklah, akan kudaftarkan pernikahan kalian segera, dan aku akan mengembalikan statusmu sebagai shinobi dan urusan tempat tinggal kalian setelah bocah sialan tersebut membaik akan aku urus semuanya, kau tenang saja Hinata! Kalau begitu mungkin ada baiknya kita langsung ke kantorku saja untuk mengurus hal-hal tersebut," Tsunade bangkit berdiri dari tempat duduknya saat Tsunade akan berjalan suara Hinata menahan Tsunade "Tu-tunggu sebentar Hokage-sama, kumohon duduklah dulu. A-aku memiliki beberapa syarat untuk pernikahan ini?" ucap gadis tersebut. Tsunade akhirnya kembali duduk ketempatnya semula.
"Baiklah syarat seperti apa? Bukankah kurasa aku sudah akan kembali memberikanmu status shinobi sesuai kesepakatan awal kita, lalu apa lagi yang kurang? Jika kau meminta padaku untuk mengembalikanmu ke klan Hyuuga, kau tentu tau Hinata itu adalah urusan internal klan Hyuuga dan bukan wewenangku mencampuri hal tersebut. Masalah keselamatan kau tidak perlu khawatir akan aku tempatkan kau di tempat yang mudah diawasi oleh para anbu setelah menikah untuk mencegah hal buruk jika ingatan bocah tersebut kembali, jadi kau jangan khawatirkan hal itu."
"Bukan hal tersebut Hokage-sama yang aku inginkan."
"Kemudian apa yang kau inginkan Hinata?" Ucap Tsunade
"Bu-bukankah Hokage-sama mengatakan padaku bahwa ini adalah pernikahan sungguhan? Kalau begitu syarat yang pertama aku tidak ingin kembali menjadi shinobi, aku tidak ingin pernikahanku seolah-olah ada karena dilandasi dengan sebuah misi yang di dapatkan seorang shinobi. Se-selain itu para tetua desa atau bahkan Hokage-sama dapat mengatur pernikahanku dan menggunakan status shinobi untuk menekanku guna menjalankan perintah terkait per-pernikahan ini, jadi aku ingin pernikahanku terjadi karena memang ini murni sebuah pernikahan." Hinata menatap Tsunade yang tengah memijat kepalanya, apakah syarat ini terlalu berat?
"Aku mungkin bisa tidak menjadikan kau shinobi Hinata, tapi aku tidak bisa seratus persen melepas pernikahanmu, bagaimanapun bocah uchiha tersebut masih menyandang status missing-nin dengan S rank. Selain itu terlalu berbahaya jika tiba-tiba dia mengingat dirinya dan kemudian melukaimu!"
"Kalau begitu beberapa keputusan mengenai pernikahanku nanti, tidak bisa dilaksanakan kecuali tanpa memberitahuku terlebih dahulu, ba-bagimana jika seperti itu Hokage-sama?
"Baiklah aku setuju, syarat selanjutnya?
"A-aku ingin agar pernikahan ini tidak di ketahui banyak orang konoha, klan Hyuuga kecuali Ayahku, serta anggota Rookie Nine dan terutama Haruno-san dan Uzumaki-san. Aku tidak ingin mereka mengetahui tentang semuanya, mulai dari hilangnya ingatan Uchiha-san kemudian tentang kehadiranku dan aku tetap ingin tinggal di rumahku yang sekarang, aku menolak pindah ketempat lain terutama itu ak-akan me-membuatku sering bertemu orang-orang tersebut. Hanya sedikit saja yang boleh tau mengenai pernikahan ini, ba-bagaimana Hokage-sama?" Tsunade cukup bimbang untuk langsung menyetujui permintaan Hinata, memang tidak sulit untuk merahasiakannya dari penduduk Konoha tetapi dari Naruto dan Sakura pasti akan cukup sulit mengingat mereka satu team dengan Sasuke. Tetapi jika menolak permintaan gadis yang di depannya ini akan lebih merepotkan, terlebih untuk menghadapi amukan bocah Uchiha tersebut. Kekuatannya mungkin sudah di segel akan tetapi Tsunade juga bukan pembuat segel yang baik seperti Jiraya atau Hokage-Hokage terdahulu, segel tersebut masih belum cukup kuat untuk menahan kekuatan Uchiha terakhir tersebut.
"Baiklah, tetapi aku akan tetap menyuruh beberapa nin-medis, anbu kepercayaanku dan yang sudah terlanjur mengetahui permasalahan ini untuk merawat Uchiha dan mengawasi tempat tinggalmu. Oh iya, mengenai Rookie Nine sepertinya akan sedikit sulit mengingat Ino lah yang pertama kali mengetahui kalau bocah tersebut memanggil namamu, maka dari itu dia akan kutugaskan sebagai nin-medis yang akan membantumu memulihkan kondisi uchiha tersebut. Bagaimana Hinata kau setuju?"
"Jika hanya Ino-san saja ba-baiklah, te-tetapi Ino-san harus tetap merahasikan tentang pernikahan ini!"
"Kau Tenang saja masalah tersebut, apakah ada permintaan lagi?"
"I-ni yang terkhir Hokage-sama, ak-aku tidak tau apa yang akan terjadi kelak dalam pernikahan ini. Aku akan berusaha menganggap pernikahan ini memang bukan hanya karena misi atau apapun tetapi karena aku yang menginginkannya, te-tetapi jika suatu saat nanti terjadi hal tidak di inginkan aku harap Hokage-sama mengabulkan permintaanku kelak. A-aku mohon bantuanya Hokage-sama di masa tersebut," Hinata menundukan kepalanya kepada Tsunade, sebagai tanda sebuah penghormatan dan permintaaan
'Tu-tunggu Hinata aku tidak mengerti maksudmu?" Tsunade menautkan alisnya pertanda bingung.
"Ja-jadi permohonanku yang terakhir akan aku minta ji-jika kelak aku benar-benar membutuhkan permintaan tersebut, begitulah maksudku!"
"Baiklah, aku mengerti maksudku jadi permintaan itu seperti permintaan cadangan bukan, dan hanya akan kau pergunakan jika kau membutuhkan permintaan tersebut terkait semua hal dalam pernikahan ini."
"Hai Hokage-sama… "
"Baiklah Hinata, kurasa sebaiknya kita istirahat dan kau juga harus mempersiapkan dirimu besok pagi karena kau akan bertemu dengan suamimu tersebut. Aku sudah cukup bosan mendegar keluhannya mengenai janjiku akan membawamu! Dan, masalah berkas pernikahan kau tenang saja biar aku yang mengurus semuanya, kalau begitu ayo kita kembali ke tempat masing-masing." Tsunade bangkit berdiri diikuti dengan Hinata dan mereka berjalan ke pemilik kedai untuk membayar pesanan botol ake Tsunade, kemudian berjalan meninggalkan kedai tersebut setelah membayarnya.
.
.
.
Perlahan-lahan langit berwarna kehitaman tergantikan oleh cahaya matahari yang mulai memancarkan sinarnya, Hinata menatap jendela luar kamar ayahnya yang baru saja tirainya dia buka agar cahaya matahari mampu menembus dan menghangatkan ruangan tersebut. Wajah gadis itu tampak begitu lusuh, nyatanya memang sejak semalam Hinata tidak dapat memejamkan matanya, matanya bengkak karena terlalu banyak menangis sejak semalam karena masih terbayang semua hal yang mungkin masih sulit dia percayai hingga kini. Mungkin dalam lubuk hatinya dia merasa masih sedikit ragu-ragu dan menyesal, mungkin karena sampai saat ini dia masih menganggap bahwa sinar matahari yang mengingatkannya pada cinta pertamanya masih selalu menghangatkannya, menerangi setiap sudut hatinya yang bakan telah rapuh sejak dia memutuskan untuk melarikan diri. Tapi ketika kita mencintai seseorang yang tidak pernah melihat kita, luka itu semakin lebar terbentang diantara cinta dan rasa kecewa. Mungkin karena dalam hatinya Hinata mengerti bahwa harapan masih selalu membisikan impian seorang gadis muda akan kisah cinta yang selalu ia dambakan, sebutlah dia melankolis tapi apakah semua itu adalah kesalahan? Tentu saja tidak, karena harapan memang akan selalu menjadi milik masing-masing orang. Hinata hanya kurang memahami bahwa tidak semua harapan selalu berbaur bersama kenyataan, ada kalanya seperti air dan minyak, seberapa keras kau coba satukan mereka hanya ditakdirkan untuk berdampingan dan tidak pernah melebur.
"Mungkin sudah saatnya aku melepas harapanku, lagipula sebentar lagi aku akan menjalani kehidupan dengan orang lain. Benar Hinata, kau akan menikah de-dengan orang lain, kau ti-tidak boleh menyimpan nama lain selain suamimu. Hidup kalian pasti akan bahagia, kau kuat Hinata!" lirih gadis itu mencoba untuk menyemangati dirinya sendiri, Hinata pun menghapus sisa-sisa air mata yang masih menempel pada pipinya, dia bukan Hinata yang dulu. Menangis tidak akan menyelesaikan masalah.
"Hinata….," Hinata menoleh kearah ayahnya yang ternyata telah membuka matanya, gadis itu cukup kaget dan sedikit takut jika ayahnya mendegar semua perkatannya.
"Outousama, ka-kapan Outousama bangun?" Tanya Hinata seraya mendekat ke samping tempat tidur Ayahnya.
"Baru saja… Hinata apa kau yakin dengan keputusanmu?"
"Outosama, aku mohon jangan mengulang pertanyaan itu lagi karena jawabanku akan masih sama seperti semalam yang aku katakan," Hinata Menggengam tangan Ayahnya dan memberinya tatapan memohon agar Ayahnya tidak menggoyahkan keputusannya. Hiashi hanya menghela nafas kesal sebagai tanda persetujuan dan memalingkan tangan seraya melepaskan tangannya dari genggaman Hinata. Hinata menatap sedih pada Ayahnya yang kini tengah merajuk kepada dirinya. Tapi, Hinata juga sudah berjanji akan memenuhi permintaan Hokage.
Sebuah ketukan pintu memecahkan keheningan yang sempat melanda beberapa detik, Hinata pun bangkit berdiri, "Baiklah Outousama, mu-mungkin itu Hokage-sama kalau begitu aku akan pergi sekarang, -" Hinata melangkahkan kakinya untuk menju pintu keluar saat akan membuka pintu suara ayahnya mengehentikannya, gadis itu pun berbalik ke asal suara tersebut, "Tunggu Hinata… , jika pemuda itu sampai menyakitimu maka akulah yang akan membunuhnya pertama karena berani melukai putriku yang berharga!" Hinata menatap Ayahnya tidak percaya, seulas senyum membentuk di kedua sudut bibirnya, Hinata lega karena secara tidak langsung ayahnya telah menyejutui pernikahan ini.
"Arigatou Outo-sama…" Hinata pun membungkukan badannya sebagai tanda ucapan syukur dan rasa senang karena ayahnya menyetujui hal ini. Hinata kemudian berbalik lalu membuka pintu dan mendapati Tsunade dan Shizune telah memunggunya, kemudian berlalu pergi bersama keduanya.
.
.
.
Hinata menatap pintu kamar di depannya, rasanya jantungnya berdebar dengan kencang karena gugup akan menemui suaminya yang saat ini tengah menunggunya. Tsunade menatap gadis di depannya yang tengah memandangi pintu kamar ini, Tsunade juga mengerti pasti gadis tersebut gugup dan bingung akan hal-hal rumit ini.
"Hinata jangan khawatir, dia tidak akan melukaimu. Kami berdua telah membuat kesepakatan setelah aku melepaskan rantai pada tangan dan kakinya. Kau masih ingat semua informasi yang aku berikan padamu bukan?"
"Hai Hokage-sama, aku telah mengingat semua informasi yang tadi telah Hokage-sama jelaskan."
"Baiklah Hinata, saatnya kau menjadi seorang istri," Tsunade pun membuka kunci pintu yang ada di depannya, Hinata mencoba untuk menenangkan dirinya dengan menarik nafas dan mengerluarkannya kembali berulang-ulang, tangannya sedikit gemetar saat mendorong pintu di depannya.
Pintupun akhirnya terbuka, dan di dalam ruangan yang sepi tersebut Hinata menatap punggung seorang pemuda yang kini menjadi suaminya tengah membelakangi mereka bertiga, Hinata melangkahkan kakinya perlahan memasukki ruangan tersebut, kemudian dia berhenti sejenak untuk memcoba memanggil suaminya tersebut, "A-ano, Sasuke-san?" ucap Hinata lirih
Sasuke pun berdiri dan perlahan-lahan membalikan badannya kearah sumber suara yang memanggilnya, pemuda itu menatap sejenak gadis di depannya, rambutnya yang indah, kulit pucatnya, matanya yang selalu membuatnya terpesona akan keindahannya. "Hime itukah kau?" Tanya Sasuke. Hinata yang bingung ketika dirinya dipanggil dengan sebutan Hime, yang menurutnya tidak biasanya hanya bisa mengatakan, "He… ?"
Tiba-tiba saja Sasuke telah berlari dan memeluk gadis tersebut, sementara Tsunade dan Shizune sedikit kaget melihat pemandangan yang cukup romantis, seperti melihat sepasang kekasih yang telah berpisah bertahun-tahun dan baru berjumpa kembali. Sementara Hinata benar-benar shock karena tiba-tiba saja Sasuke memeluknya, semua tubuhnya gemetar karena sedikit takut dan malu karena pertama kalinya dia dipeluk oleh laki-laki yang bahkan sebenarnya mereka tidak dekat.
"Akhirnya kau datang, aku menunggumu disini. Maafkan aku, kau pasti cemas karena aku tidak lekas kembali."
"An-ano, Sasuke-san… ak-aku yang harusnya minta maaf karena tidak kunjung menemuimu."
"Tidak Hime, kau tidak perlu minta maaf… aku senang kau menemuiku kembali, aku takut kehilanganmu!" Sasuke melepaskan pelukannya dan menatap wajah istrinya tersebut, Hinata yang di tatap merasa sangat takut dan gugup, apalagi jika dia salah dalam berbicara dan akan mengacaukan semuanya, sikap Sasuke yang begitu mesra menambah kegugupan Hinata, bukankah dari rumor yang beredar bahwa Uchiha Sasuke merupakan orang yang angkuh, pendiam dan jarang menampilkan sikap yang semacam ini, dan sekarang berubah kebalikannya.
"A-ano Sasuke-san ak,-" belum sempat Hinata menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba saja Pemuda tersebut telah menciumnya dengan mata tertutup dan sangat intens. Hinata membelalakan matanya karena shock, dan hanya mampu membatu ketika Sasuke mencium bibirnya. Sementara itu Tsunade dan Shizune juga kembali merasa Syok melihat pemandangan di depan mereka. Sasuke pun melepaskan ciuman mereka dan menampilkan seringainya kepada istrinya tersebut, lalu mulai membisikan sesuatu kepada istrinya itu, "Selamat datang kembali Hime, aku merindukanmu!" dengan nada yang seduktif dan mengigit telinga Hinata kemudian melepaskannya.
Demi Kami-sama Hinata rasanya ingin menghilang sekarang juga, kehidupan macam apa yang akan dijalaninya kelak bersama Sasuke? Entahlah hanya waktu, Tuhan dan takdir yang bisa menjawabnya.
-To Be Continued-
.
Summimasen Minna-san, kali ini aku ga akan menjelaskan alasan mengapa updatenya lama karena terlalu rumit dan aku cuma mau ngucapin Terima kasih aja kalo masih ada yang mau setia menunggu dan membaca FF ini, syukur-syukur kalo ada yang masih inget jalan ceritanya. Kritik dan semua saran saya tampung, sebisa mungkin saya akan membalasnya dengan baik.
.
.
Review
Jadi Sasuke di delusinya jadi siapa thor? Yang jelas dia gak inget kalo dia bagian dari Uchiha. Thor kenapa Sasuke bilang kalo hinata itu istrinya? Kan dia lupa ingatan? Oke, jadi Sasuke itu mengalami memang hilang ingatan disertai delusi. Jadi ingatannya Sasuke itu digantikan sama delusionalnya dia. Jadi selama koma sampai bangun dia beranggapan semua yang ada dalam mimpinya adalah kenyataan. Ha? Itu Sasu dari dimensi lainkah? Gak :) . Apakah Author dari medan? Atau suku Batak? Gak, cuma punya temen orang batak dulu :) . Pengen liat tanggapannya Saskey pas liat Hime! Di chapter ini ada :) . Ini kenapa terabaikan? Gomen, sebenernya feelnya berat buat lanjutin ini, dan chap ini sebenernya udah selesai dari 4 bulan lalu. Tapi saya sekarang dalam masa transisi dari anak kuliahan ke dunia kerja..jadi sedikit sulit. Tapi tenang, fict ini pasti aku update kok :). Kapan lanjut? Sudah tibaaa guys :).
.
.
Makasih banyak yang setia komen sejenis 'Kapan Lanjut thor?' dan menunggu, karena masuk ke email Hp jadi gak aku lupain untuk lanjut ini. Spesial Terima kasih buat yang komentar soal jalan ceritanya, atau soal penulisan dan sudut pandang cerita, buatku itu bisa jadi masukan yang bagus. Dan sekali lagi Maaf membuat lama menunggu. Arigatou :)
