-Normal POV-
Tujuh hari bukanlah waktu yang panjang, namun juga bukan waktu yang singkat.
Tujuh hari telah berlalu, semenjak penyerangan kapal Fugaku yang tengah berlabuh di Osaka oleh pasukan Mouri. Kini kapal raksasa itu telah kembali mengkilap seperti sedia kala, kembali memancarkan aura keagungan dan kegagahan dari si Iblis Penguasa Lautan Barat.
Dan selama itu pula, Chosokabe Motochika semakin mengenal gadis asing bermarga Hosokawa. Sebelah iris biru laut itu tidak pernah bisa berpaling dari gadis berkulit gelap –yang kini tengah asyik memandangi pemandangan gunung Fuji dari balkon kamar khusus untuk tamu Kastil Sunpu. Mungkin karena di dunia aslinya, dia jarang sekali bisa memandangi gunung indah itu dari jarak sedekat ini.
"Motochika?"
Motochika tetap berdiri di depan bingkai pintu yang terbuka. Entah kenapa gadis asing itu semakin menarik baginya. Mengapa ia tak bisa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari gadis itu? Apa karena perasaan aneh yang selama ini terus menghantuinya selama 24 jam?
Dan disisi lain, ia merasa memiliki alasan baru –motivasi untuk terus bertahan hidup. Tidak hanya untuk penduduk Shikoku. Tidak hanya untuk kru kapalnya yang setia. Tapi untuk melindungi gadis itu.
Gadis asing bernama Hosokawa Noir yang telah menaruh jangkar dalam hatinya.
Ahh… ya, Motochika semakin tenggelam dalam 'rasa' itu.
"Hei Motochika…"
Tapi secepat itukah?
"Motochika!" pria bersurai silver itu menoleh, dan mendapati sahabatnya yang sedari tadi berdiri di sampingnya. Balasannya, Ieyasu hanya menatap pria dihadapannya dengan sedikit prihatin. "Kau baik-baik saja, sobat?" tanya si pria berjaket kuning.
Pria kekar itu menghembuskan nafas kecil, kemudian berkata; "Aku baik-baik saja", dan kembali memalingkan wajahnya pada pemandangan dalam kamar. Hal tersebut jelas membuat Ieyasu semakin cemas, ia tahu kalau Saikai no Oni baru saja berbohong padanya.
"Kemari sebentar, aku ingin bicara" akhirnya Ieyasu mengambil pilihan untuk menarik lengan jaket Motochika dan membawanya menjauhi ruangan milik Noir.
.
.
Selagi itu, di sebuah kamar yang menghadap gunung Fuji.
Noir tidak bisa apa-apa, hanya terpaku dengan tatapan kosong pada penampakkan gunung raksasa yang berbalut salju di puncaknya. Pasalnya ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Cukup simple. Tapi benar-benar berhasil menyiksa batinnya selama seminggu ini.
Pertama, tentang keinginannya untuk pulang serta kerinduannya pada kehidupan di masa depan, kerinduannya pada Sanada Yukimura dan Hosokawa Kurogane kakak laki-lakinya. Sejujurnya Noir sudah cukup ketakutan hidup di zaman Sengoku seperti ini. Wajar, orang biasa tidak akan sanggup menerima Culture Shock yang ekstrim seperti ini –dimana potongan-potongan mayat manusia yang dipenggal berceceran sepanjang medan perang. Bahkan penampakkan mengerikan itu terus menghantui Noir siang dan malam.
Namun yang kedua, tentang pria yang menemukannya. Tentang pria yang selalu ada untuknya setiap kali ia ketakutan. Tentang pria yang perlahan berhasil menggenggam hatinya.
Noir ingin pulang, namun hatinya telah berpaut pada Motochika.
Nah… dilemma…
Tapi, tidakkah ini terlalu cepat untuk jatuh cinta?
"Aku ini… egois… kah?" bibir mungil itu berbisik, meluncurkan pertanyaan yang merujuk pada dirinya sendiri. Sebelah tangannya kemudian merogoh kedalam tas ransel yang ia bawa dari masa depan, dan mengeluarkan benda kotak tipis berwarna hitam berukuran 5.7 inch.
"Aku… seharusnya tidak berada disini bukan?" bisiknya lagi sembari membawa Galaxy Note tepat ke hadapan wajahnya. Jari jempolnya kemudian menekan tombol power, menampilkan foto Yukimura dan Noir saat berwisata di Tokyo Disneyland yang diatur sebagai screensaver.
"Yuki… kakak… jika aku tidak bisa kembali, aku benar-benar minta maaf"
Inikah… rasanya jatuh cinta?
.
.
"Kau yakin akan memulangkan Noir-san?"
Motochika dan Ieyasu kini berada di aula kastil. Keduanya duduk saling berhadapan ditemani dua cangkir teh hijau yang baru saja dibawakan oleh pelayan, berharap aroma teh hijau yang merebak dapat menenangkan suasana –khususnya suasana hati Motochika.
"Dia harus pulang. Era Sengoku bukanlah tempat untuknya"
"Walaupun kau jatuh cinta padanya?"
Ucapan Ieyasu berhasil membuat Motochika membelalakkan matanya. Keheningan sekali lagi melanda ruangan besar tersebut. Si Bajak Laut hanya memalingkan wajah sembari menggigit bibir bawahnya, tak sanggup menimpali ucapan sahabatnya.
Skakmat.
"Aku mengerti situasimu, Motochika" ucap Ieyasu lagi, kini disertai senyuman tulus, "Kau adalah sahabatku. Kita sudah lama saling mengenal. Tentunya aku tahu kalau kau tadi berbohong padaku, juga sesuatu yang mengganggu pikiranmu"
"Ieyasu…" lirih Motochika, ia kembali menatap Mikawa no Taisho lekat-lekat, "Maaf, tadi aku berbohong padamu"
Sedangkan balasan dari Ieyasu hanya berupa tawa kecil, kemudian ia berkata; "Tidak masalah. Memang seperti itulah dirimu, tidak mau ada orang lain yang mengkhawatirkanmu, iya 'kan?"
"Kau tahu betul tentang diriku" ucap Motochika. Kini tawa kecil meluncur dari bibir Motochika.
"Jangan remehkan sahabatmu ini, Saikai no Oni"
Sesaat ruangan itu kembali hening, keduanya kini meneguk teh masing-masing. Menikmati suasana tenang yang tersaji ditemani suara beriak air dari kolam yang terletak di taman.
"Menurut hasil ramalan Gyoubu, bintang jatuh itu akan muncul besok malam ya?" percakapan kembali dibuka oleh Ieyasu setelah pria berjaket kuning itu meneguk habis tehnya.
"Ya. Gyoubu yang akan membukakan gerbang dimensi tersebut. Dia bilang akan lebih baik jika membuka gerbang gaib itu di kuil yang dekat dengan tempat tinggal Noir"
"Noir-san berasal dari Tokyo –Edo di masa depan. Dan Kuil Sensoji adalah kuil yang berada di daerah itu" timpal Ieyasu, yang kemudian mendapat balasan berupa anggukkan kecil. "Kuil tertua yang sudah ada sejak zaman Heian. Semakin sering dipakai ibadah, mungkin akan semakin mudah membuka gerbang dimensi tersebut" lanjut Ieyasu.
"Kalau itu, aku serahkan seluruhnya pada Gyoubu" balas Motochika setelah menaruh cangkir teh yang sudah kosong, "Aku tidak mengerti urusan gaib seperti itu"
"Hahaha, jangankan kau… bahkan aku masih tidak mengerti penyebab Noir-san terdampar di era ini" timpal pria berjaket kuning itu sembari menghibahkan pandangannya pada langit biru diluar.
.
.
.
Dan hari itu tiba.
Hari dimana Motochika tidak akan lagi mendengar nama 'Hosokawa Noir' dalam hidupnya.
Harusnya ia senang, bukan? Tidak ada lagi gadis asing yang harus ia jaga. Tidak ada lagi keluhan soal kapal Fugaku yang bau amis karena ikan. Tidak ada lagi gadis yang bawel soal pakaian kotor milik Motochika.
Tapi kenapa tidak ada senyum sedikitpun di wajahnya?
Tidak ada rasa bebas, yang ada hanya kehilangan.
Karena dia akan pergi, sejalan dengan matahari yang mulai menuruni singgasana nya.
Karena senja… identik dengan perpisahan.
"Kau masih menunggu Noir-san?" suara yang familiar bagi Motochika langsung membuyarkan lamunannya. Ia pun menoleh, dan mendapati Ieyasu yang berjalan menghampirinya.
"Ya…" balas Motochika singkat, kembali ia memalingkan wajahnya pada matahari yang mulai tenggelam. Namun Ieyasu tahu, ia pun menghampiri sahabatnya kemudian meraih –merangkul bahu kekar Motochika dan berkata, "Kalau sudah cinta, berpisah dimensi pun kalian pasti akan bersama".
"Apa maksudmu Ieyasu?"
Seketika suasana di balkon tersebut hening, tanpa ada jawaban dari Ieyasu. Tidak lama kemudian pria berjaket kuning itu melepas rangkulannya, dan meninju pelan abs sahabatnya, "Karena dia ada disini, 'ikatan' antara kau dan dia ada disini, bukan?" ucap Ieyasu dengan senyum cerahnya seperti biasa, walaupun terbalut cahaya senja lembut yang terasa menyedihkan.
Motochika terpaku, pikirannya mulai mencerna kalimat tadi.
"ikatan antara kau dan dia ada disini, bukan?"
'Ikatan… eh?' ucap Motochika pada dirinya sendiri. Tawa kecilpun tak ayal lagi mengisi keheningan balkon tersebut, sampai ia berkata; "Ayo ke bawah, kita tidak boleh membuat Noir menunggu"
Sedangkan balasan dari Ieyasu hanya berupa senyum, dan mengikuti Motochika yang turun menyusuri tangga kastil.
.
Di halaman depan Kastil Sunpu.
Sepasang iris silver itu tampak berwarna keemasan, terpantul oleh cahaya senja yang lembut.
Noir kini tidak lagi memakai kimono miliknya. Ia sekarang memakai seragam sekolahnya; kemeja putih, rok mini berpola kotak hitam-abu serta sepatu sneaker berwarna putih yang selalu ia pakai, tepat seperti pertama kali ia datang ke dimensi ini.
Senja adalah suasana favoritnya, suasana hangat dengan cahaya sendu berwarna madu. Tapi mengapa tidak ada sedikitpun rasa nyaman yang Noir rasakan? Yang ada hanya kekosongan.
Apa karena ini adalah saat terakhir ia bisa melihat Motochika?
Kedua lengannya mendekap erat tas ranselnya, seiring dengan perasaan nyeri yang menyengat hatinya.
'aku… tidak bisa bertemu Motochika lagi' batinnya.
Tiba-tiba sebuah sentuhan yang hangat terasa pada bahu Noir, segera menyadarkannya dari lamunannya. "Ah… Ieyasu-san"
Ieyasu hanya tersenyum lembut pada gadis didepannya, masih dengan sebelah tangannya yang memegang bahu Noir. "Sudah siap?" tanyanya.
"Iya…" balas Noir segera, walaupun sebenarnya cukup berat untuk berkata demikian.
"Kau akan pergi bersama Motochika, dan aku akan menyusul dengan Tadakatsu. Motochika sebentar lagi akan datang, jadi tunggu saja disini ya" ucap Ieyasu lagi tanpa menghilangkan senyumnya, kemudian pergi menuju pintu masuk Kastil. Dan benar saja, belum lama Ieyasu menghilang kedalam kastil, Motochika muncul menunggangi kuda berwarna hitam.
Kedua mata Noir kini benar-benar terpaku pada pemandangan dihadapannya; pria yang ya sukai datang dengan seekor kuda yang gagah. Mengingatkannya pada dongeng fantasi, seperti bertemu dengan seorang pangeran berkuda, seperti mimpi.
"Maaf lama. Apa kamu bisa menunggangi kuda?" tanya Motochika sambil menghentikan pacuan kudanya, tak jauh dari Noir. Sedangkan Noir hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Benar-benar tidak bisa?"
"Umm… aku belum pernah menunggangi kuda sebelumnya" jawab Noir sambil menyembunyikan wajahnya.
'Sudah kuduga' batin Motochika, kemudian pria itu turun dari kudanya "Ya sudah, kau akan menunggangi kuda bersamaku" kemudian merain tangan Noir dan menariknya.
"Aaah! Apa yang-" ucapan Noir terpotong begitu ia merasakan tubuhnya melayang, sepasang tangan besar itu mengangkat dan memposisikannya untuk bisa duduk diatas punggung kuda. "Ya terus mau bagaimana lagi?" kata Motochika sambil beranjak menaiki kudanya, duduk tepat di belakang Noir.
"M-Motochika… aku"
"Tenang saja, tidak akan jatuh kok. Kalau kau takut, bilang padaku, biar aku memperlambat kudanya" suara beroktaf rendah itu terdengar begitu jelas di telinga Noir, karena posisi duduk yang sangat dekat dan kedua tangan yang menggenggam tali pengendali mengharuskan Motochika sedikit 'mendekap' Noir. Noir berharap degup jantungnya yang kini semakin liar tidak terdengar oleh Motochika walaupun nyaris tertutup oleh suara bising dari Tadakatsu yang melayang tepat diatas mereka.
.
.
"Akhirnya kalian datang" sambut pria berbalut perban yang duduk diatas papan begitu Motochika dan Noir tiba di tempat. Ootani Yoshitsugu sudah berada di Kuil Sensoji sesuai janji.
Matahari telah meninggalkan singgasananya. Bulan yang kini bersinar terang membiaskan cahayanya bersama para bintang. Penerangan pun dibantu oleh beberapa obor yang membara di setiap pinggiran jalan setapak menuju kuil.
"Oh, kau juga datang, Tokugawa Ieyasu" lanjut Yoshitsugu begitu kedua matanya menangkap sosok berjaket kuning yang sudah tidak asing baginya.
"Lama tak jumpa, Gyoubu. Aku hanya mengantar Noir-san dan Motochika"
"Kalau begitu, mari ke sebelah sini"
Tepat saat mereka tiba di halaman belakang kuil –tempat dimana Yoshitsugu akan membukakan gerbang dimensi menuju masa depan, tiba-tiba langit dipenuhi oleh cahaya yang bergerak-gerak.
"Gyoubu… itu kan…"ucap Ieyasu, terperangah saat melihat langit.
"Bintang jatuh…" lanjut Motochika, sama-sama terperangah tidak percaya dengan apa yang sedang ia lihat
"Ah… tepat pada waktunya, sesuai ramalanku" timpal Yoshitsugu, kedua tangannya kemudian bergerak serupa mengendalikan air. Sembilan bola Kristal yang mengelilingi pria berbalut perban itu mulai bercahaya, kemudian tepat di hadapan mereka muncul pusaran cahaya yang terpantul dari bola Kristal milik Yoshitsugu.
"Itu adalah gerbang dimensi menuju masa depan. Gerbang itu tercipta dari pantulan sinar bintang jatuh. Hanya akan mucul saat bintang jatuh datang. Itu adalah satu-satunya kesempatan untuk Anda pulang, Nona Hosokawa" jelas Yoshitsugu.
Pusaran cahaya yang serupa gerbang itu terpantul pada bola mata Noir. Ya, ini adalah saat-saat yang paling dinanti Noir. Tapi mengapa ia tak bisa melangkah sedikitpun menuju gerbang itu?
Sekali lagi, sebuah tangan hangat menepuk pelan bahu Noir.
"Noir-san, kau harus pulang" ucap Ieyasu, dengan senyum lembut yang mengembang di wajahnya, "Keluargamu pasti sangat mengkhawatirkanmu"
"Keluarga…" bisik Noir pada dirinya sendiri. Ia tahu, saat ini Yukimura pasti sangat mengkhawatirkannya. Tapi bagaimana dengan Motochika?
Tanpa menghiraukan Ieyasu, Noir menatap Motochika yang sedari tadi diam. Sebelah mata itu menatap begitu dalam, seolah berkata kalau ia merasa sangat kehilangan. "Kau harus pulang. Ini bukan tempatmu berada" ucap Motochika sembari mendorong Noir secara perlahan kearah gerbang dimensi tersebut.
"Nona Hosokawa, Anda harus segera melewati gerbang ini sebelum cahayanya pudar. Memohonlah agar Anda bisa pulang"
Noir akhirnya melangkahkan kakinya, dan berhenti tepat di depan gerbang dimensi. Beberapa saat ia menatap pusaran cahaya lembut dihadapannya, kemudian berbalik untuk menatap Ieyasu dan Motochika. Ia tidak percaya bahwa ini adalah terakhir kalinya ia bisa melihat dua orang yang membantunya selama ini, khususnya Motochika.
"Aku mohon… agar bisa pulang" gumamnya tepat ia memasuki gerbang dimensi tersebut.
Dan pusaran cahaya yang indah itu semakin terang, kemudian lenyap dengan lembut. Seolah terhisap keatas langit.
Hallo minna~
Apa kabarnya? Semoga semuanya sehat selalu. Dan selamat tahun baru! Semoga harapan kita kedepannya terwujud di tahun 2017 ini. Bagi yang gak bisa tidur pas malam tahun baru... kita senasib vroh~ :'v
Kemana aja ni author gaje? Lama banget ngilang akhirnya update lagi~
Well, bulan sejak bulan Desember kemarin saya makin sibuk sama urusan kampus, mulai dari tugas akhir semester (laporan analisis usaha ini-itu-bla-bla-bla) sampai persiapan UAS dan jadwal pengganti. Jadi mohon maaf kalau fanfict "Destiny" ini sedikit(bukan sedikit lagi -_-) terbengkalai *bow*
Motochika: curhat mulu, dasar jomblo
Author: ngajak ribut ni bajak laut ubanan :v *siapin senjata legend: sapu lidi*
Motochika: sini kalo berani :v *siapin jangkar*
Ieyasu: udah dong kalian *sweatdrop*
Terimakasih bagi yang sudah menyempatkan waktunya untuk membaca fic gaje ini~
Silakan review bagi yang berkenan :3
