Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rate : T
Genre : Romance, Family, Drama, Hurt/Comfort
Pair : Sasuke Uchiha X Hinata Hyuga
(SasuHina)
~ My Young Husband ~
WARNING : AU, TYPO'S, CRACK PAIR, OOC SUPER AKUT, OC, NO BAKU, EYD BERANTAKAN, ALUR KADANG CEPAT DAN LAMBAT, DLL
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tak ada pesta mewah digelar hanya sebuah perayaan yang memang sengaja di buat oleh teman-teman baik Hinata serta Sai, sepupu Sasuke. Walau bukan pesta mewah ataupun megah yang di adakan di sebuah ballroom hotel dengan ribuan tamu undangan mengingat pemuda yang menikahi Hinata berasal dari keluarga kaya sekaligus terpandang. Meskipun tak ada pesta mewah untuk merayakan hari istimewa mereka berdua tapi bagi Hinata dan Sasuke tetap merasa sangat senang sekaligus terharu atas perhatian yang luar biasa besar dari teman-teman mereka juga Sai. Dalam pesta yang di kemas dalam kesederhanaan itu tak banyak orang di undang untuk merayakan hari bahagia keduanya termasuk keluarga besar Sasuke hanya ada Sai selaku kerabat dari Sasuke selebihnya teman-teman baik Hinata di Akatsuki kafe serta Ino teman SMA-nya terlebih Hinata sendiri tidak memiliki sanak saudara atau bisa dibilang sebatang kara, kedua orang tuanya sudah lama meninggal sedangkan keluarga besarnya dari pihak sang ayah tidak mengakui Hinata sebagai anggota keluarga Hyuga walau nama marga keluarga tersebut ada dibelakang namanya mengingat pernikahan kedua orang tuanya ditentang hingga sekarang.
Sebuah cincin emas putih dengan batu permata merah di tengah menghias jari manis Hinata di sebelah kanan sebuah tanda sekaligus bukti kalau sudah menjadi milik orang lain atau lebih tepatnya istri bahkan sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Dulu saat masih bersama mantan kekasih-Naruto Uzumaki, dalam benak Hinata pernah bersit kalau suatu hari nanti dirinya akan memakai cincin pemberian dari pria bersurai kuning tersebut namun takdir berkata lain. Jalan cerita kehidupan percintaan Hinata tak seindah yang di bayangkan, Tuhan memutuskan tali jodohnya dengan Naruto lalu mempertemukan dirinya dengan seorang pemuda menyebalkan, narsis, sombong, egois, keras kepala juga manja seperti anak kecil dan yang lebih mengejutkan adalah ternyata masih duduk dibangku kelas tiga SMA di Empire Gakuen, dan pemuda itu bernama Sasuke Uchiha, salah satu anggota keluarga Uchiha yang tekenal kaya sekaligus terpandang.
Tapi siapa sangka dibalik sosok Sasuke yang seperti anak remaja pada umumnya masih suka bermain juga bersenang-senang dengan teman sebayanya ternyata pemikiran Sasuke jauh dari usia yang terlihat bahkan sangat bertanggung jawab terbukti bersikeras ingin menikahi Hinata tak peduli dengan perbedaan usia diantara mereka berdua yang terpaut delapan tahun.
Sasuke masih tak bisa melupakan wajah terkejut Hinata saat pertama kali datang ke rumah beru mereka berdua yang terletak di tengah kota Tokyo, kedua mata bulan Hinata menatap kagum sekaligus kaget setiap inci sudut ruangan aparetemen yang di isi berbagai barang mewah juga mahal jauh sekali dari tempat tinggal Hinata yang dulu.
Belum ada satu jam Hinata datang setelah membersihkan tubuh dan berganti pakaian Hinata jatuh terlelap tidur di sofa dengan segelas susu hangat yang tinggal setengah mungkin tadinya Hinata berniat ingin meminumnya sambil menonton telivisi karena kebetulan Sasuke sengaja menaruh telivisi di kamar. Tapi apa daya kedua mata Hinata sudah terpejam erat di depan telivisi yang masih menyala, Sasuke tersenyum sekilas ketika melihatnya. Mungkin Hinata merasa lelah setelah seharian ini mengikuti berbagai proses upacara pernikahan sekaligus pesta, Sasuke sebenarnya merasa lelah juga dan butuh istirahat.
Membaringkan perlahan tubuh lelap Hinata ke atas ranjang yang sudah ditata sedemikian rupa oleh Ino serta teman-temannya demi mensukseskan acara malam pertama mereka berdua tanpa tahu kalau untuk beberapa bulan ke depan sementara waktu Sasuke tidak bisa menyentuh istri cantiknya itu karena tengah hamil muda dan akan beresiko jika melakukan hubungan intim di saat awal kehamilan walau sebenarnya Sasuke sangat ingin mendekap erat Hinata tapi ditahannya.
Sasuke ikut membaringkan tubuh di ranjang bersebelahan dengan Hinata.
Menarik pelan tubuh Hinata untuk mendekat kearahnya, lalu memeluknya erat. Sasuke pun memejamkan mata namun baru beberapa menit memejamkan mata, pintu kamarnya terdengar di ketuk pelan oleh seseorang.
Netra hitamnya menatap lurus ke atas menatap langit-langit kamar yang terlihat gelap, ada perasaan kesal di hati saat waktu istirahatnya bersama istrinya terganggu. Siapa yang berani datang ke tempatnya bahkan sampai berani mengetuk pintu kamarnya apalagi saat ini adalah malam pengantinnya sebuah moment sakral dan dinanti-nantikan setiap pasangan yang baru saja menikah walau sebenarnya Sasuke sudah melewati hal itu sebelum pernikahan tapi tetap saja moment malam ini begitu berarti juga istimewa tak mau dilewatkan begitu saja. Jika yang datang adalah Sai maka siap-siap saja pemuda berkulit pucat itu terkena omelan panjang darinya atau kalau perlu menceramahinya habis-habisan tentang tata krama.
Menghembuskan nafas cepat, Sasuke turun perlahan dari ranjang melangkah kaki dengan diselimuti perasaan kesal.
Membuka perlahan pintu kamar.
Saat pintu terbuka kedua matanya menangkap sosok seorang pria bertubuh besar dalam balutan jas hitam rapih bersurai orange berdiri membungkuk hormat padanya. Dari raut wajah pria berpostur tubuh tinggi besar itu terlihat jelas sekali ada perasaan tak enak juga takut, bukan tanpa alasan jika pria asing dengan surai orange tersebut merasa seperti itu mengingat Sasuke adalah orang yang memperkerjakan juga menggajinya selama ini.
"Juugo?!"
"Maaf jika kedatangan saya menganggu waktu istrihat, Tuan muda," kata Juugo sopan disertai perasaan tak enak karena menggangu terlebih ini adalah waktu istirahat dari sang Tuan muda.
"Bukankah seharusnya kau berada di mansion Uchiha,"
"Saya kembali cepat karena ada hal penting yang harus disampaikan pada anda,"
"Kalau begitu kita bicara di ruang tamu saja, jangan disini terlebih aku tak mau menggangu Hinata,"
"Kenapa Nona Hinata ada di kamar anda," lirik Juugo ke dalam kamar dan baru tersadar kalau ada Hinata yang tengah tertidur lelap di ranjang milik Sasuke.
"Kami sudah menikah tadi siang dan kini Hinata istriku," jelas Sasuke seraya menutup pintu kamar perlahan.
Senyum cerah menghias wajah Juugo mendengar kabar bahagia dari Sasuke dan benar-benar tak menyangka sama sekali kalau Tuan mudanya itu akan serius menikahi Hinata bukan hanya sekedar omongan saja, "Aku ucapkan selamat atas pernikahan anda berdua, maaf saya baru mengucapkannya sekarang dan tak bisa menghadiri," ujarnya penuh sesal.
"Tak apa. Terima kasih. Kita bicara saja disini," ujar Sasuke seraya duduk di sofa, tangannya memberi kode pada Juugo untuk ikut duduk juga.
Di ruangan ini Juugo bisa berkata banyak dan semuanya akan Sasuke dengar.
"Tuan Obito meminta saya untuk membawa anda kembali ke mansion Uchiha sekarang juga," kata Juugo to the point, langsung pada alasan utamanya datang ke sini.
Dahi Sasuke menyeringit bingung saat nama pamannya disebut oleh supir sekaligus pelayan pribadinya itu setelah sekian tahun pergi , "Untuk apa aku kembali ke rumah yang seperti neraka itu!," desisnya dengan sorot mata dingin.
"Maaf," Juugo membungkuk dalam, "Saya tidak bermaksud menyinggung atau membuat-"
"Bukan salahmu," Sela Sasuke.
Netra hitam Sasuke memandang penuh arti pada pria dewasa di depannya, "Sebaiknya kau kembali saja tanpa diriku dan katakan pada paman Obito kalau aku tak akan kembali atau menginjakkan kakiku ke sana, bukankah sekarang posisi kepala keluarga Uchiha generasi kedelapan di pegang oleh paman Obito. Jadi kehadiranku disana tak penting sama sekali," sindirnya seraya mengingat semua sikap sekaligus perbuatan kejam yang sudah dilakukan oleh adik dari ayahnya tersebut demi menduduki posisi tertinggi dikeluarga Uchiha.
"Saya mohon Tuan muda pulanglah, karena saat ini Tuan besar Madara beliau-"
"Kenapa kakek tua itu," sela Sasuke ketus seraya melipat kedua tangan di depan dada ekspresi wajahnya nampak acuh ketika menyingung tentang sang kakek.
"Tuan besar sakit dan dokter mengatakan kalau kondisinya kritis saat ini,"
"Apa!?" wajah Sasuke berubah kaget bercampur cemas saat mengetahui kondisi dari kakeknya, orang yang selama ini sudah merawat sekaligus mendidiknya hingga menjadi seperti ini walau pada akhirnya membuang dirinya dari keluarga Uchiha.
Sasuke memejamkan mata mencoba menetralkan gejolak emosinya saat ini, antara sedih atau senang karena orang yang sudah membuat tragedi keluarganya sedang berada di ambang kematian. Tapi bagaimana pun Sasuke memiliki hutang budi kepada kakek tua itu dan harus dibayar sebelum mati.
Dan, Sasuke haru membuat keputusan.
"Baiklah, aku akan ikut denganmu." Katanya dengan mengesampingkan rasa ego juga perasaan sakit hatinya.
Kedua sudut ujung bibir Juugo terangkat membentek sebuah senyuman kecil, "Kalau begitu bisakan kita pergi sekarang juga, karena pesawat anda sudah menunggu,"
"Secepat itu!" gumam Sasuke takjub.
"Ya. Karena saya datang menggunakan pesawat pribadi milik..."
"Sudah jangan diteruskan lagi," sela Sasuke malas mendengar nama orang itu disebut karena sudah tahu dengan jelas milik siapa burung besi itu, "Tunggulah disini selama lima menit,"
"Baik, Tuan muda."
Sasuke berjalan cepat ke arah kamar, saat memasuki kamar yang di dominasi warna lavender kedua netra hitamnya mengamati lekat sosok wanita cantik bersurai indigo panjang dalam balutan piyama tidur tengah terbuai dalam mimpinya entah mimpi seperti apa yang di alami tapi Sasuke berharap kalau itu adalah mimpi indah. Mengusap pelan puncak kepala sang istri penuh kasih sekaligus rasa bersalah mendalam karena harus pergi meninggalkannya tanpa pamit bahkan tak mengajaknya ikut bersama untuk memperkenalkan Hinata kepada seluruh anggota keluarga besar Uchiha sebagi istrinya. Tapi suatu hari nanti Sasuke akan memperkenalkan istri cantiknya beserta anaknya kelak kepada mereka semua dan membuktikan kalau ia bisa menemukan kebahagian sendiri juga memiliki keluarga baru.
"Gomenasai. Aku pergi, Hime." Mengecup pelan kening Hinata penuh kasih setelahnya Sasuke pergi meninggalkan rumah hanya mengenakan jaket hoodie tak ada tas besar atau semacamnya yang dibawa Sasuke terlihat santai tidak terlihat kalau hendak pergi jauh.
.
.
.
.
.
Hinata berdiri di bawah jendela kamar memandangi bulan purnama yang entah mengapa nampak begitu indah, dan menarik atensinya. Setelah makan malam seorang diri, tak banyak yang bisa Hinata lakukan di apartemen yang luas ini seorang diri. Ingin menghubungi Ino atau Konan untuk datang mampir menemani tapi Hinata takut menggaggu keduanya walau sebenarnya ia tengah kesepian dan butuh teman berbicara.
Malam ini entah mengpa dirinya pun tak mengerti akan perasaan hatinya yang tiba-tiba saja begitu resah, gelisah, gundah gulana memikirkan seseorang, dan sebuah nama terlintas di hati. Sasuke Uchiha. Pemuda menyebalkan, sombong, narsis, dan egois. Pemuda tampan dengan surai raven dengan mata seindah malam itu kini terus terbayang dalam benak Hinata bahkan rasa rindu begitu mendera hati membuat perasaan sesak ingin melihat wajah Sasuke bahkan kini Hinata ingin mendengar suara Sasuke yang memanggil namanya dengan penuh rasa mendama serta cinta. Apakah perasaannya saat ini adalah dorongan hormon kehamilannya?
Atau memang saat ini Hinata memang benar sedang merindukan, Sasuke.
Tak mau berdebat dengan dirinya sendiri yang ingin menyangkal keras kalau memang dirinya merindukan pemuda tersebut. Tenggelam dalam lamunanya sesaat, berkhayal kalau Sasuke ada didekatnya berdiri disampingnya menemaninya memandangi bulan bersama namun tak lama Hinata kembali tersadar dengan ralitas yang ada.
Sasuke tidak ada dekatnya, bahkan di apartemen mewah sekaligus luas ini.
Hanya ada dirinya tak ada siapapun yang didekatnya.
Walau Hinata sudah terbiasa hidup seorang diri tapi setelah menikah terlebih hamil ia perasaannya selalu merasa sedih, kesepian jika tak ada orang di dekatnya walau hanya untuk sekedar diajak bicara atau duduk menemaninya membaca, menonton telivisi di ruang tamu. Hinata benar-benar benci sendirian apalagi di tempat sepi, tak jarang air matanya menetes jika merasa kesepian. Mungkin ini semua akibat perubahan hormon kehamilannya.
Pemuda berstatus suaminya itu sudah pergi dari rumah selama tiga hari setelah upacara pernikahan mereka berdua lebih tepatnya malam pengantin mereka berdua. Sebelum pergi tanpa pamit, Sasuke memboyong dirinya ke apartemen mewah ini yang merupakan tempat tinggal mereka berdua. Pertama kali menginjikakkan kaki di sini, Hinata merasa luar biasa takjub sekaligus terpana melihat isi rumah yang dipenuhi perabotan mewah, mahal, juga berkelas yang satu di antaranya tak mungkin bisa dibelinya. Memang kalau untuk ukuran orang kaya dan memilik banyak uang selera dari mereka terkadang sedikit aneh contohnya saja Sasuke sengaja membeli sebuah lukisan pemandangan dari balai pelelangan barang berukuran satu kali satu meter dengah harga yang luar biasa fantastis dan lukisan itu hanya sebagai hiasan dinding ruang tamu saja. Padahal jika uang itu digunakan untuk membeli rumah bisa membeli beberapa unit.
Belum lagi dengan perabotan juga benda-benda yang dijadikan hiasan di rumah ini jika Hinata tak sanggup untuk mentotal semuanya takut jika nantinya syok bahkan jatuh pingsan mengetahui nilai nominal uang yang di keluarkan Sasuke hanya untuk membeli barang-barang di apartemen belum lagi dengan harga aprtemen ini yang bisa dipastikan mahal, Hinata merasa benar-benar bingung darimana semua uang Sasuke. Apakah suaminya itu memang benar-benar sangat kaya raya lebih dari bayangannya.
Pagi harinya saat Hinata bangun untuk menyiapkan sarapan, dirinya menemukan selembar kertas di atas nakas dengan tulisan tangan Sasuke yang mengatakan kalau pergi selama beberapa hari untuk mengurus hal penting di luar kota. Entah hal sepenting apa hingga harus pergi tanpa pamit hanya meninggalkan secarik kertas untuk Hinata. Apakah butuh waktu lama untuk membangungkan Hinata yang sedang tertidur lalu berpamitan bukankah kini mereka sudah menikah bahkan sebentar lagi menjadi orang tua jika Sasuke tidak bisa bersikap dewasa bagaimana kedepannya hubungan ini.
Merasa sepi juga kesepian berada di tempat seluas ini seorang diri tanpa ada satu pun menemani terlebih setiap pagi Hinata harus merasakan sekaligus tersiksa dengan morning sickness-nya efek dari kehamilannya yang baru terhitung beberapa minggu, Hinata merasa begitu menderita karena harus selalu muntah-muntah di pagi hari setelah bangun tidur, berjalan tertatih seorang diri ke kamar mandi. Setelah hamil dan merasakan segala macam efeknya Hinata menyadari ternyata menjadi seorang ibu sangatlah berat butuh perjuangan selama sembilan bulan lebih mengandung belum lagi nanti saat melahirkan dimana nyawa sebagai taruhannya. Maka dari itu sebaiknya para pria diluar sana harus lebih menghargai wanita terlebih ibu mereka yang sudah melahirkan.
Memeluk erat tubuhnya sendiri, kedua mata bulannya memandang sekilas ke arah kerumunan orang-orang di luar sana dari balik jendela kamar mengingat tempat tinggal barunya berada tepat ditengah kota Tokyo yang terkenal sebagai kota metropolitan dan tak pernah tidur karena selalu ramai dengan aktifitas warganya.
"Uugh~" memegangi mulutnya.
Hinata berlari secepat yang dibisanya ke arah kamar mandi, tiba-tiba saja perutnya terasa mual padahal belum ada satu jam perutnya di isi makanan.
Duduk berjongkok tepat di depan closet, "Ueegh...", Hinata memuntahkan apa saja yang dimakannya tadi padahal sudah susah payah memaksakan diri untuk makan agar perutnya tidak kosong dan janin didalam rahimnya bisa mendapatkan nutrisi agar tumbuh dengan baik.
Mengelap mulutmya menggunakan punggung tangan, sebisa mungkin Hinat berdiri berkumur-kumur di wastafel tapi tak lama dirinya beringsut jatuh terduduk perlahan di bawah wastafel bahkan salah satu tangannya masih berpegangan erat di pinggiran wastafel.
Seluruh tubuh Hinata langsung lemas tak bertenaga bahkan kepalanya berdenyut-denyut disertai rasa pusing, sepertinya besok ia harus pergi ke rumah sakit memeriksa keadaannya kepada dokter kandungan menyakana apakah gejala yang dialaminya dua hari terakhir belakangan ini adalah hal normal dan biasa terjadi pada ibu hamil lainnya.
"Uueeekh..." Hinata muntah kembali walau yang keluar berupa cairan pekat berwarna kekuningan karena sudah tak ada lagi yang bisa di keluarkan dari perutnya.
Setetes air mata terbit di ujung mata, dirinya merasa begitu sedih, menderita sekaligus kesepian disaat seperti ini tak ada satupun orang disisinya untuk membantunya atau sekedar mengelus punggunggnya.
"Hiiksh..." satu isakan kecil lolos dari bibirnya disertai lelehan air mata yang langsung jatuh membasahi lantai kamar mandi.
Dibelakang Hinata seorang pemuda berdiri kaget sekaligus ketakutan melihat keadaan Hinata, pemuda bersurai raven ini berlari secepatnya kemudian duduk berjongkok tepat dibelakang Hinata, tangannya mengelus pelan sekaligus penuh kasih punggung Hinata.
Deg'
Jantung Hinata berdetak cepat saat merasakan sapuan lembut di punggungnya, "Apa kau baik-baik saja, Hime?" pemuda tampan ini bertanya dengan nada cemas di belakang punggung Hinata.
Kedua mata Hinata melebar sesaat saat mendengar suara bariton dari orang di belakangnya yang begitu di kenalinya, tanpa berpikir lagi Hinata langsung membalikkan badan dengan kedua tangan terulur kedepan berharap penuh kalau tangannya akan benar-benar meraih tubuh tegap milik Sasuke bukan hempasan angin yang akan di dekapnya dan sosok di depannya juga bukan sebuah bayangan atau halusinasi semata .
GREP!
Harapannya terpenuhi, rasa hangat menjalar ke seluruh tubuh saat berhasil mendekap tubuh pemuda tersebut disertai aroma tubuh seperti mint terasa jelas di hidung Hinata.
Hinata memeluk erat tubuh pemuda tersebut disertai air mata yang membasahi pipi, "Sa-Sasuke-kun," isaknya dengan nada penuh rindu sekaligus senang.
Kedua sudut ujung bibir Sasuke terangkat membentuk sebuah senyuman, "Tadaima," katanya seraya membalas dekapan sang istri.
"Okairinasai." Balas Hinata dengan senyuman di wajah.
Keduanya berpelukan selama satu menit melepaskan perasaan rindu satu sama lain, "Aku sangat merindukanmu, Hime. Sangat." Kata Sasuke jujur mengecup pelan puncak kepala sang istri.
"Iya. Aku juga merindukanmu, Sasuke-kun." Balas Hinata tak kalah jujur mengakui kalau dirinya memang sangat merindukan sosok pemuda bermata kelam tersebut.
"Benarkah? Kau sedang tidak berbohong padaku 'kan?"
Hinata menggeleng pelan dalam dekapan Sasuke, "Tidak."
Senyum Sasuke pecah ketika mendengarnya, pelukkannya semakin erat, "Arigato, Hime."
"Hmm."
Menggendong Hinata keluar kamar mandi ala bridal style, Sasuke merebahkan perlahan tubuh Hinata ke atas ranjang lalu Sasuke mendudukkan diri di pinggir ranjang jemari Sasuke membelai lembut pipi Hinata dengan gerakkan ke atas kebawah memberikan sensasi geli sekaligus nyaman bagi Hinata, wajah Sasuke nampak sedih mendapati wajah Hinata sangat tirus tidak segembil pertama kali dilihatnya, apakah selama beberapa hari ini Hinata tidak makan dengan baik, juga teratur.
"Kenapa kau jadi sekurus ini?" tanaya Sasuke menatap cemas sang istri.
Sasuke benar-benar khawatir sekaligus merasa bersalah karena sudah menelantarkan istrinya beberapa hari ini, untung saja Hinata tak marah kepadanya atau bahkan pergi dari rumah karena merasa kesal dengannya.
"Maaf..." hanya satu kata itu saja yang meluncur dari bibir Hinata.
"Seharusnya yang harus meminta maaf itu aku, bukan kau. Apa sekarang kau ingin makan sesuatu," Sasuke mencoba menawarkan sesuatu.
Hinata menggelengkan kepala lemah, lalu menyandarkan nyaman pipinya di dada bidang Sasuke, "Perutku masih mual, dan tidak bisa di isi apa-apa,"sahutnya dengan nada manja.
Tangan Sasuke mengelus lembut perut datar Hinata yang berlapis longdress berbahan satin, "Tapi perutmu tak boleh terus dibiarkan kosong, tunggulah disini aku akan membuatkanmu sesuatu." Katanya lalu mengecup lembut kening Hinata.
Sasuke beranjak bangun dari kasur belum ada dua langkah berjalan ujung kemejanya ditarik pelan oleh Hinata, Sasuke menoleh ke arah sang istri bingung dan mendapati wajah Hinata nampak sedih bahkan kedua mata bulannya berair membentuk sebuah bendugan, "Ja-jangan lama-lama. Aku juga tak mau ditinggal sendirian lagi." Lirihnya dengan nada sedih bercampur manja.
Sasuke tersenyum setelahnya, "Tidak. Aku tak akan lama, dan kali ini aku tidak akan kemana-mana."
"Janji."
"Iya."
Hinata tersenyum puas mendengarnya lalu melepaskan pegangannya membiarkan Sasuke pergi.
Menggulung lengan kemeja hingga siku, Sasuke mumbuka kulkas melihat bahan makanan apa saja yang ada didalam dan saat membukanya ternyata isi lemari pendinginnya bisa dikatakan penuh terisi lengkap berbagai bahan macam bahan makanan mulai dari sayur, buah-buahan, ikan, daging, telur serta susu, hal ini memudahkan Sasuke untuk memasak. Tapi itu berarti Hinata pergi ke supermarket sendirian untuk berbelanja semua ini, padahal Sasuke sudah melarangnya untuk tidak pergi kemana-mana terlebih melihat kondisinya yanga sedang hamil muda.
Membuka internet di ponsel Sasuke mencari-cari menu makanan apa yang cocok untuk ibu hamil sekaligus bsia menghilangkan rasa mual dan setelah mencari juga membaca mengenai berbagai artikel akhirnya malah membuat Sasuke menjadi bingung harus memasak apa.
Disaat terdesak seperti ini ingin rasanya Sasuke meminta bantuan dan menanyakan mengenai kondisi Hinata, tapi pada siapa?
Bertanya dengan Sai?
Tidak.
Sasuke tidak akan melakukannya, karena itu kesalahan fatal yang ada dia akan ditertawakan bukan malah membantu. Lagi pula pemuda berkulit pucat itu saja masih bersatus lajang, walau bisa dikatakan sudah sangat mengerti bahkan lulus dalam ujian praktek bagaimana cara membuat seorang wanita hamil tapi kalau urusan wanita hamil mana mungkin tahu apalagi paham.
Berdiskusi dengan salah satu dokter kandungan di rumah sakit, tentu saja hal itu memalukan terlebih yang menanyakan hal itu adalah masih seorang pelajar SMA yang ada nantinya malah Sasuke di tanya-tanya bukan yang bertanya.
Baru kali ini Sasuke merasa bingung tak tahu harus bagaimana, dan di artikel terakhir yang dibaca ada satu makanan yang bisa dimakan bagi wanita hamil bahkan Sasuke tak perlu repot-repot membuatnya karena sudah ada di rumah bahkan selalu tersedia karena selalu di beli untuk camilan pendaming susu maupun kopi.
Dua puluh menit kemudian, Sasuke datang dengan membawa sesuatu diatas nampan.
Hinata yang sedang menyadarkan diri di ranjang tersenyum sekilas, "Apa yang kau bawa, Sasuke-kun?" tanyanya antusia.
"Sesuatu yang bisa menghilangkan mualmu, dan membuat perutmu tidak kosong lagi." Jawab Sasuke menaruh sesuatu di atas nakas.
Sasuke membawakan Hinata segelas air perasan lemon, semangkok besar berisikan buah kiwi, strawberry, pisang, juga melon, lalu sebungkus biskuit cracker.
Dahi Hinata menyeringit bingung karena dibawakan biscuit cracker, "Sasuke-kun, itu..." tunjuk Hinata pada bungkusan biskuit di depannya.
"Katanya ini baik untuk wanita hamil," terang Sasuke.
"Hah?!" seru Hinata kaget bercampur bingung.
"Sudah makan saja, nanti akan kujelaskan padamu."
"Baiklah." Hinata langsung memakan makanan yang dibawakan Sasuke tanpa protes.
Cracker adalah jenis biscuit yang terbuat dari tepung.
Tepung yang ada dalam cracker dinilai mampu menyerap asam yang ada di dalam lambung ibu hamil, sehingga bisa menghilangkan rasa mualnya. Tapi disarankan mengkonsumsi yang rasa plain, Jangan mengkonsumsi yang rasanya manis dengan taburan gula atau abon, sebab tidak memberikan efek apa-apa.
"Oh." Hinata menanggapinya santai penjelasan dari Sasuke.
Seperti dugaan Sasuke kalau Hinata pastinya lapar setelah muntah, terbukti kalau Hinata menghabiskan semua buah yang dibawanya juga beberapa keping biskuit cracker tapi air perasan lemon masih ada setengah tidak dihabiskan mungkin karena rasanya asam dan Hinata tak suka padahal minuman itu sangat baik karena bisa sangat ampuh menghilangkan rasa mual tapi jika memiliki riwat penyakit maag atau asam lambung disarankan tidak mengkonsumsinya terlalu sering.
Hinata bisa merasakan dan mendengar jelas debaran jantung milik Sasuke saat pipinya ia rebahkan di atas dada bidang pemuda tersebut, "Sudah merasa baikan?" Sasuke bergumam, dan Hinata mengangguk pelan memiringkan kepalanya untuk memandang wajah tampan Sasuke.
"Dua hari ini kau kemana, Sasuke-kun. Kenapa tidak memberikan kabar apapun padaku," air muka Hinata berubah sedih.
"Maaf," hanya satu kata itu saja yang terucap dari bibirnya saat Hinata mendesaknya meminta sebuah penjelasan.
Sasuke melingkar kan kedua tangannya di tubuh Hinata, "Akan aku jelaskan semuanya padamu tapi tidak saat ini. Beri aku waktu, lagipula aku tak mau membebanimu takut jika nantinya kau stress dan itu tak baik untuk perkembangan anak kita,"
Bintik-bintik merah menjalar ke seluruh pipi Hinata, sebuah respon senang sekaligus malu saat Sasuke mengatakan 'anak kita' kepadanya dan jujur saja Hinata benar-benar merasa bahagia mendengarnya.
"Hinata," panggil Sasuke dan dengan reflek Hinata mendongakkan wajah menatap ke arah Sasuke.
Sebuah ciuman lembut dan tak menuntut di berikan Sasuke tepat di bibir Hinata. Awalnya kedua mata Hinata membulat sempurna namun perlahan terpejam menikmati kecupan mesra dari suaminya sekaligus meluapkan perasaan rindu dihati.
Sinar matahari perlahan-lahan masuk melalui celah jendela kamar, merasa sedikit silau Sasuke terbangun dari tidurnya. Ketika terbangun Sasuke tidak menemukan sosok wanita cantik bersurai indigo yang semalam tidur bersamanya, melirik ke arah jam ternyata hari sudah pagi padahal biasanya Sasuke selalu bangun sebelum matahari terbit untuk berolahraga tapi sepertinya semalam tidurnya terlalu nyenyak bahkan pulas, dan ini baru pertama kali terjadi.
Turun perlahan dari ranjang, Sasuke berjalan pelan ke arah jendela membuka tirai melihat pemandangan di luar gedung dimana sudah banyak kendaraan melintas di jalanan walau belum banyak orang terlihat berlalu lalang mengingat ini masih agak pagi, belum masuk jam sibuk.
Sosok Hinata tak ada dimanapun di dalam kamar bahkan saat ke kamar mandi untuk mencarinya takut seperti kejadian semalam tapi nyatanya saat Sasuke melongok melihat ke dalam tak ada. Mungkinkah Hinata berada di dapur untuk memasak karena tempat itu yang belum Sasuke datangi.
Dan benar saja saja berjalan ke arah dapur aroma harum masakan tercium di hidung Sasuke, kedua netra hitamnya mendapati istrinya sedang berada di depan kompor mengenakan sebuah apron berwarna biru langit, wanita cantik tersebut terlihat sibuk mengolah bahan makanan entah apa yang sedang dimasak tapi dari bau yang tercium sepertinya enak mengundang rasa lapar.
Jam di dapur masih menunjukkan pukul enam pagi tapi Hinata sudah menyibukkan diri di dapur menyiapkan sarapan sekaligus bekal untuk suami tercinta, walau hal ini adalah rutinitas barunya sebagai seorang istri.
Kedua ujung sudut bibir Sasuke terangkat membentuk sebuah senyuman untuk beberapa detik kedua netra hitamnya masih asik menatap punggung sang istri dengan penuh damba. Ternyata keputusannya untuk menikahi Hinata tidaklah salah ataupun tindakan gegabah walau usia Sasuke sendiri masih bisa dikatakan belia, dan dibawah umur. Berpikir kalau Sasuke tidak bisa memberikan nafkah secara lahir itu salah besar di usia yang masih belasan ia sudah memiliki penghasilan sendiri bahkan jauh lebih tinggi dari gaji para pria kantoran. Jika mampu menafkahi secara lahir tentu saja Sasuke sangat mampu memberikan nafkah batin untuk Hinata, jika mau bukti kini diperut Hinata tengah tumbuh janin yang bisa dipastikan itu adalah anak Sasuke bukan pria lain. Jadi, jangan remehkan dirinya walau usianya masih dikatakan belia tapi soal urusan orang dewasa Sasuke mampu melakukannnya, termasuk mengurus salah satu cabang anak perusahaan milik keluarganya. Sasuke sudah menjadi dewasa sebelum waktunya dan itu semua yang membuat adalah keadaan di keluarga Uchiha terlebih kematian tragis keluarganya.
Senyuman masih menghias wajah tampan Sasuke, berjalan sepelan mungkin memasuki dapur, berusaha tak membuat suara setelah dekat kedua tangan Sasuke langsung melingkar mesra dipinggang ramping sang istri yang tertutupi sebuah apron bewarna biru langit, "Dari baunya sepertinya enak," bisiknya pelan tepat di telinga Hinata.
Menghirup dalam aroma tubuh sang istri yang seperti bunga lavender, kedua lengan Sasuke masih setia melingkar erat dipinggang Hinata.
Sesaat Hinata terlonjak kaget namun tersenyum, "Kau sudah bangun, Sasuke-kun,"
"Hmm..." Sasuke mengecup singkat pipi gembil sang istri.
"Kenapa kau malah memasak, tak beristirahat saja di kamar,"
"Aku sudah tak apa, lagipula mana mungkin aku membiarkan suamiku kelaparan dan makan di luar," Hinata fokus dengan masakannya berusaha mengabaikan sensasi aneh yang menjalar keseluruh tubuhnya.
"Jadi sekarang kau sudah menganggapku sebagai suami,"
"Me-memang..."
"Terima kasih, atas perhatiannya istriku," mengecup lagi pipi gembil Hinata.
Hinata tertawa kecil menerima perlakukan manis sekaligus romantis dari suaminya, "Cepat mandi sana jika tak mau terlambat ke sekolah,"
"Sekolah sedang libur dan minggu depan aku baru masuk," katanya dengan nada malas mengeratkan pelukkan.
"Kau tidak berbohong padaku'kan?"
"Tidak." Jawab Sasuke santai seraya membalikkan tubuh Hinata perlahan agar saling berhadapan dan bisa memandang wajah satu sama lain.
Wajah Hinata menunduk malu sedangkan Sasuke tersenyum senang melihat reaksi lucu, manis dari Hinata yang tengah tersipu malu saat bertatapan matanya dengannya seperti seorang remaja putri yang baru jatuh cinta saja, "Mana ciuman selamat pagi untukku," Sasuke memajukan bibirnya ke arah Hinata.
Pipi Hinata semakin bersemu merah, "Tak mau, kau belum mandi, dan bau," Hinata menutup hidung berpura-pura merasa bau sekaligus menutupi rasa gugupnya.
"Tubuhku masih wangi," Sasuke mencoba membela diri mengingat dirinya selalu memakai parfum mahal yang biasa dipakai para artis papan atas.
"Bau!" seru Hinata memegangi hidungnya masih berpura-pura kebauan.
Sasuke langsung mengendus aroma tubuhnya sendiri, "Oke, aku akan mandi tapi setelah mandi aku akan menagih ciuman selamat pagiku bukan di pipi tapi bibir," telunjuk Sasuke menyentuh bibir mungil Hinata.
"Me-mesum!" teriak Hinata seraya mendorong keluar tubuh Sasuke dari dapur.
Sasuke tertawa ringan mendapati istrinya berteriak malu, "Bagaimana kalau kau ikut aku mandi juga, Hime," goda Sasuke di ambang pintu dapur, dan hal itu sukses membuat wanita bersurai indigo panjang tersebut berteriak histeris dengan wajah memerah malu.
Senyuman lebar menghias wajah tampannya mendengar jeritan malu Hinata, suasana rumah pagi ini terasa begitu menyenangkan juga ramai tidak sepi seperti dulu saat Sasuke masih tinggal sendirian.
Berjalan santai ke kamar mandi, Sasuke mengambil sikat gigi di lemari kecil yang tergantung dekat wastafel, sambil menggosok gigi ia pun mengaca melihat pantulan dirinya didalam cermin berbentuk persegi panjang setelah selesai dengan kegiatan menggosok giginya, Sasuke membersihkan wajah agar nampak segar.
Sementara itu Hinata tengah sibuk menata makanan di meja makan, Hinata tak tahu kalau Sasuke sejak beberapa lalu sudah berdiri di ambang pintu asik melihatnya.
"Sasuke-kun! Sarapan sudah siap," teriak Hinata dari arah dapur memanggil pemuda bersurai raven tersebut yang tanpa diketahuinya sudah berdiri sejak tadi di belakangnya.
"Aku sudah disini, Hime," sahutnya santai seraya menghampiri.
Menolehkan kepala kebelakang, "Kenapa tak bilang dari tadi,"
"Aku terlalu terpana, dan asik melihat wanita cantik dalam balutan apron sedang sibuk menata sarapan untuk suami tercintanya," kata Sasuke penuh bangga sekaligus menggoda.
Berjalan mendekat ke arah sang istri, salah satu tangannya melingkar nyaman di pinggang sang istri, "Mana ciuman untukku," Sasuke memajukan bibir menantikan kecupan mesra dari istrinya.
Hinata merona malu, dan Sasuke tak peduli, "Mana, ciumanku," kata Sasuke tak sabaran.
Dengan wajah merona merah, perlahan-lahan Hinata memajukan wajah mengecup sekilas bibir Sasuke.
Cup~
Tak ada dua detik Hinata menempelkan bibirnya membuat Sasuke sedikit kecewa.
Tangan Sasuke menarik tenguk Hinata, dan bibirnya melumat lembut bibir ranum Hinata.
"Hmph..." ronta Hinata.
Benang saliva menjuntai dari bibir keduanya, terlebih nafas Hinata terengah-engah Sasuke menciumnya terlalu dalam bahkan mengajak lidahnya menari bersama di dalam mulut.
"Lanjutannya nanti malam saja," bisik Sasuke mesra tepat ditelinga.
"Sasuken-kun!" pekik Hinata malu.
"Apa kau mau sekarang saja, hmm..."
Mendorong jauh bibir Sasuke darinya, "Tidak!" tolak Hinata keras.
Sasuke tersenyum senang karena berhasil menggoda Hinata lagi, dan setelah menikah dirinya lebih sering tersenyum bahkan tertawa itu semua berkat kehadiran Hinata membuat hari-hari serta hidupnya yang terasa suram, membosankan menjadi lebih berwarna sekaligus menyenangkan. Kini Sasuke juga bisa merasakan bagaimana rasanya dicintai, dan mencintai seseorang hingga sedalam ini.
"Ayo, kita sarapan nanti keburu dingin dan tak enak dimakan," kata Hinata seraya melepaskan apron yang dipakainya ketika memasak.
Menarik pelan kursi lalu duduk, Sasuke memandang ke arah meja makan, "Hari ini istriku yang cantik masak apa,"
"Grilled beeforn sandwich,"
Grilled beeforn sandwich, perpaduan antara jagung manis, dan daging asap juga secangkir Latte sudah tersaji di atas meja. Semuanya adalah masakan kesukaan Sasuke, mengingat lidahnya belum terbiasa dengan masakan Jepang.
"Aku tak tahu kalau kau bisa memasakan makanan ini?"
"Kata Sai-kun kalau kau tidak terlalu suka masakan Jepang, jadi aku mencoba masakan ini entah enak atau tidak tapi aku membuatnya sesuai resep," terang Hinata.
"Bukan tidak suka, tapi belum terbiasa. Dan, Sepertinya makanan ini enak,"
"Kalau begitu habiskan,"
"Tentu."
Keduanya pun sarapan bersama, Sasuke melahap semua sarapan paginya terlebih ini adalah buatan Hinata, dan rasanya pun enak sesuai dugaannya sejak awal. Kini Sasuke tak perlu lagi makan sendirian, memakan masakan buatan koki restaurant ataupun makanan siap saja kini ia sudah menikah, memiliki seorang istri yang pintar memasak sekaligus cantik, dan sepertinya dirinya akan jarang pergi ke restaurant ataupun kafe untuk makan diluar karena sudah ada yang memasak untuknya.
TING TONG
Suara bel terdengar jelas hingga ke dapur, Hinata menghentikan sarapan paginya dan hendak melihat siapa yang datang tapi di cegah oleh Sasuke, "Biar aku saja yang membukakannya, kau duduk disini saja," kata Sasuke seraya bangun dari kuris dan Hinata mengangguk patuh.
Sebelum membuka pintu Sasuke melihat dari lubang kecil yang terbuat dari kaca mengintip siapa yang datang sepagi ini ke rumah orang untuk bertamu.
"Ck, ternyata dia," gumam Sasuke jengkel.
Wajah Sasuke nampak begitu kesal dan tak bersahabat sama sekali melihat pemuda berkulit pucat yang tengah tersenyum palsu padanya ditemani gadis cantik bersurai kuning ponytail salah satu teman Hinata sekaligus kekasih dari sepupunya itu, "Ada apa kalian ke sini? Apa mau numpang sarapan di rumah orang," kata Sasuke ketus dan menyindir.
Senyuman Sai masih terus mengembang di wajahnya sedangkan ekspresi wajah Ino berubah tak enak juga kesal karena perkataan Sasuke barusan, "Bisa saja kau bercandanya, Sasuke. Tapi memang benar kami mau numpang makan di rumah barumu," sahut Sai santai seraya memperlihatkan satu bungkusan makanan dari salah satu restaurant ternama.
"Siapa yang datang Sasuke-kun," teriak Hinata.
"Tukang gambar dan kekasihnya," sahut Sasuke.
Sai semakin tersenyum sedangkan Ino merasa sedikit jengkel dengan sikap Sasuke yang dianggapnya tidak sopan.
Merasa penasaran sekaligus bingung Hinata berjalan ke depan melihat siapa yang datang.
"Sai-kun, Ino-chan!"
Wajah Ino langsung sumeringah senang seraya berlari masuk kedalam tanpa meminta ijin atau di ijinkan masuk oleh si empunya rumah yang sejak tadi berdiri di depannya tak mempersilahkannya masuk, "Apa kabarmu, aku rindu sekali," kata Ino mendekap erat tubuh Hinata.
"Aku juga rindu padamu, Ino-chan." Hinata membalas pelukan temannya.
Sasuke mendecih pelan melihat keduanya berpelukan, "Kenapa kita tidak berpelukan seperti itu, Sasuke," seru Sai tersenyum penuh arti pada Sasuke.
Wajah Sasuke berubah horor sekaligus kesal, "NO!" teriak Sasuke tegas.
TBC
A/N : Maaf karena saya lama menelantarkan Fic ini dan kelanjutannya tidak sesuai harapan dan keinginan#Bungkuk badan dalam-dalam.
Saya mengucapkan selamat menjalankan ibdah puasa bagi yang menjalankan, maaf kalau telat mengucapkan.
Terima kasih yang sudah memberikan dukungan lewat memberikan riview, menfavoritan, memfollow Fic ini. Saya mengucapkan banyak terima kasih.
Maaf saya tidak bisa membalas Riview yang sudah masuk, tapi saya benar-benar mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada :
Mikku hatsune,Febri53,LokerKotak,TheTomatoShop,Arum Junnie,Zizah, 's,Kanra desu,hinatauchiha69,Green Oshu,Baenah231,Guest,Yulia,uhuk uhuk,Tryanayuhara,viann,Pikajun,Nona Juna,imamanur2,uchiha wulan,pengagumlavender26, AJ Yagami,Caaries Laventa,mamudrkonoha,Tia,Vibra Sayekty,Lovely sasuhina,Sabaku no Yanie,auliyahiin,ryosan,chiaazura,Higurashi HimeKA.
Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan nama.
Untuk kelanjutannya saya tidak bisa janji cepat, mohon menunggu dengan sabar.
Sekali lagi terimakasih kepada siapapun yang sudah mau menyempatkan mampir dan membaca Fic ini.
Ogami Benjiro II
