Ansatsu Kyoushitsu Matsui Yuusei

Warning : typo(s) ?

Pair : Karmanami, slight Itonami

Jika tidak suka, harap tekan tombol kembali.

Sudah dari 15 menit yang lalu bel pulang sekolah berbunyi,tapi didalam ruangan kelas yang sepi masih ada sesosok anak perempuan yang duduk disamping jendela. Menatap horizon langit yang tak berujung, yang suasananya sangat menenangkan. Kini dia memejamkan matanya, banyak kilas balik yang tergambar jelas dipikirannya.

"Okuda-san, maaf membuatmu menunggu. Ayo kita pulang"ucap anak laki-laki itu sambil membetulkan posisi bandananya, menunggu keluar yang dipanggilnya tadi.

Manami tersadar dari lamunannya, berdiri lalu melangkahkan kakinya menuju pintu.

"Itona-kun bisakah kita ke taman dulu ?" kata Manami kepada laki-laki yang disampingnya.

"Boleh, emang ada apa disana?" tanya Itona.

Manami tak yakin akan hal itu, dia hanya menatap mata Itona.

"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin kesana" Manami benar-benar tidak tahu dia harus menjawab apa, karena hatinya sendiri yang memintanya kesana. Entah karena apa

"Baiklah, mungkin kita bisa duduk bersantai dibawah pohon" Itona memberikan gagasan agar mereka punya tujuan yang lumayan jelas.

Setalah lumayan lama berjalan, mereka akhirnya sampai ditaman. Manami tersenyum karena tamannya tidak terlalu ramai. Manami mengikuti Itona yang membimbingnya ke salah satu pohon yang ada di taman ini. Lalu mereka duduk dibawah rindangnya pohon itu, Manami menyandarkan tubuhnya di pohon, sedangkan Itona duduk bersila disampingnya.

"Sejuk sekali yah Itona-kun" kata Manami "Suasananya enak"

"Kamu benar" kini Itona ikut menyandarkan tubuhnya.

Sudah beberapa bulan sejak mereka masuk sekolah menengah atas, tapi baru ini pertama kalinya mereka pergi ke taman walaupun arah apartemen mereka searah dengan taman ini. Itona melirikkan matanya ke arah Manami yang kini sedang membetulkan poninya.

"Okuda-san, bolehkah aku menanyakan sesuatu?" tanya Itona

"Hmm, ada ap-" belum selesai Manami berbicara, smartphone-nya tiba-tiba berdering. Dia menatap lekat layar yang menampilkan nama si pemanggil.

"Angkatlah" kata Itona. Manami mengangkat panggilan itu.

"Hallo Karma-kun, sudah lama sekali. Ada apa?" Itona kaget saat mendengar nama itu, matanya melebar.

"Aku di taman kota, kena…." lagi-lagi belum selesai dia berbicara, panggilannya diputuskan secara sepihak oleh sang penelpon. Manami bingung, dia hanya menatap layarnya.

"Si Akabane mau ke sini ?" tanya Itona.

"Aku tidak tahu" jawab Manami. Dan akhirnya mereka lebih memilih diam, menunggu sosok berambut merah itu kesini atau tidak.

Waktu kini semakin sore, angin semakin lumayan kencang. Anginnya membuat daun-daun yang sudah lelah bergantung dirantingnya terjun bebas kebawah.

"Okuda-san, ada daun dikepalamu" ucap laki-laki itu sambil mengambil daunnya di kepala Manami.

"Terima kasih Itona-kun" Manami tersenyum, mukanya memerah. Manami mengambil daun itu lalu membuangnya ke tempat sampah. Pada saat itu juga dia menyadari sesuatu.

"Ka-Karma-kun, kau ada disini " Manami kaget lalu tersenyum. Dia menghampiri Karma yang sedang melihatnya juga.

Kaget dengan kehadiran Karma, Itona juga ikut menghampiri Karma.

"Hey Okuda-san" ucap Karma "Itona-kun sepertinya kau sudah bertambah tinggi yah" ejek Karma, dia enggan menyapa orang itu. Dan Itona juga enggan menanggapi apa-apa.

"Bagaimana kalau kita duduk ditempat tadi lagi" ajak Itona sambil menatap Karma.

"Boleh-boleh" ucap Karma dengan seringai yang biasa dia tunjukkan.

Manami hanya tersenyum kecil melihat kedua temannya itu.

"Ahh iyah, aku mau membeli minuman dulu" Manami meninggalkankan kedua orang itu yang kini sudah duduk manis dibawah pohon tadi. Mereka hanya diam satu sama lain.

Karma bersandar pada pohon dengan tangan yang menjadi alas kepalanya. Istirahat setelah tadi bersusah payah mencari tempat ini.

"Ada apa kau kesini Akabane ?" tanya itona "Bukankah memakan waktu yang lama untuk sampai kesini"

Itona menatap lekat sosoknya yang diajaknya bicara. Itona tahu pasti kenapa si rambut merah itu kesini, dia hanya ingin memastikannya.

"Bukan urusanmu" ucap Karma tidak mau menjawab pertanyaan Itona.

"Maaf membuat kalian menunggu" Manami datang membawa jus kaleng lalu memberikannya kepada kedua orang itu lalu duduk disamping Itona. Tidak ada yang berbicara apa-apa, mereka hanya menikmati jus yang diberikan Manami kepada mereka

"Ohh iyah Itona-kun, tadi kau ingin bertanya apa?" tanya Manami.

Itona terdiam sejenak, pikirannya mencoba mengingat kembali apa yang ingin dia tanyakan. Itona lalu melirik Karma yang ada disampingnya, ada baiknya dia tidak menanyakan pertanyaan itu dulu.

"Tidak ada apa-apa"

Manami hanya menatap Itona bingung, jawaban yang diberikan Itona juga membuatnya penasaran. Tapi Manami hanya bisa mengiyakan saja, menunggu Itona untuk menanyakannya lagi.

"Aku pulang duluan Okuda-san, ada urusan" Itona berdiri lalu melangkahkan kaki pergi dari tempat itu. Dan lagi-lagi Itona hanya membuat Manami bingung.

Langit kini sudah menjadi jingga kehitaman, yang berarti bahwa sebentar lagi matahari akan hilang dan malah telah tiba. Manami menatap Karma yang dari tadi hanya diam, banyak yang ingin ditanyakannya tapi dia tidak berani mengungkapkannya.

Manami tersenyum melihat sosok yang kini ada disampingnya, rindu yang telah lama ada akhirnya bisa hilang dengan hadirnya sosok itu. Merasa diperhatikan, Karma lalu menoleh ke arah Manami. Dan tentu saja Manami kaget, dia menundukan kepalanya.

"Kau tidak berubah Okuda-san" kata Karma.

"Be-benarkah ?" Manami malu sekali rasanya. Jantungnya berdegup kencang, memompa darah ke pipinya "Karma-kun juga tidak berubah yah"

"yah begitulah" ucap Karma.

Karma menundukan kepalanya, melihat rumput yang menjadi alas duduknya kini. Sekarang dia disamping Manami, dia tidak tahu apa yang ingin dilakukan atau dikatakannya. Sebab dia kesini hanya untuk bertemu Manami, tapi setelah datang kesini dia tidak bisa langsung pulang lagi kan?. Tidak setelah dia melihat wajah Manami yang juga senang dengan kehadirannya, yang menahan dia untuk tetap terus disampingnya. Menjaga ekspresinya itu, ekspresi yang sudah lama dia tidak lihat.

"Apa kau merindukanku Okuda-san?" tanya Karma yang masih menundukan kepalanya.

"eh?" Manami tidak yakin dia mendengar perkataan itu dari Karma. Bingung bagaimana dia menjawab pertanyaan orang yang ada disampingnya ini. Tentu saja dia merindukannya, tapi dia terlalu malu untuk menjawabnya.

"Ahh tidak, lupakan saja" Karma buru-buru menarik ucapannya. Dan sekarang dia berpikir betapa bodohnya dia menanyakan hal seperti itu.

"Apa kau tidak apa-apa kesini Karma-kun?" tanya Manami. Walaupun sebenarnya dia senang Karma mengunjunginya tapi dia khawatir pada Karma yang pasti akan sampai rumahnya pada malam hari.

"Tenang saja Okuda-san" ujar Karma "Aku kesini memang untuk bertemu denganmu"

Manami kaget dengan pernyataan Karma, namun didalam hatinya dia juga sangat senang.

"Aku juga sangat ingin bertemu denganmu Karma-kun" Manami tersenyum dan mukanya memerah.

Karma juga tersenyum, tangannya meraih kepala Manami dan mengelusnya.

"Bodoh" gumam Karma. Mungkin kini muka Karma sama merahnya dengan rambutnya.

Karma lalu memalingkan kepalanya untuk menyembunyikan mukanya yang sekarang entah seperti apa warnanya. Sekarang dalam pikirannya Karma ingin pulang karena hari sudah gelap dan udara sudah semakin dingin. Dia tak terlalu suka udara yang dingin. Tapi hatinya menolak untuk pergi, apalagi setelah melihat Manami dengan Itona tadi. Rasanya seperti sakit, didadanya.

Karma memegang lehernya, mungkin kehangatan tangannya bisa mengusir rasa dinginnya.

"Karma-kun, kau kedinginan ?" tanya Manami, matanya terlihat sangat khawatir.

"Ahh tidak, aku hanya tidak suka udara dingin" ucap Karma sambil menggosokkan tangannya.

"Mampirlah ke apartemenku, mungkin teh hangat bisa membantu menghangatkan badanmu" ajak Manami.

Karma hanya mengangguk, lalu mengikuti Manami yang sudah berdiri terlebih dahulu. Mereka berjalan berdampingan, rasanya sama seperti mereka dulu pulang menuruni bukit dulu apalagi mereka masih memakai seragam sekolah mereka. Hanya sekarang yang berbeda adalah seragam sekolah mereka dan tentu saja bukit kenangan itu.

'pok' ada sesuatu yang hangat menempel dipipi Karma. Otak cerdas Karma sudah tahu itu apa tanpa perlu melihatnya lagi. Jantungnya berdegup sangat cepat.

"Tanganku hangat loh Karma-kun dan pipimu benar-benar dingin" ucap Manami sambil tersenyum.

"Hmm iyah" jelas Karma saat ini sedang bingung, otaknya tidak tahu perintah apa yang harus diberikan kepada tubuhnya untuk merespon situasi saat ini. Sampai akhirnya Manami menarik tangannya kembali dan membuat si surai merah itu bernafas lega.

Apartemen Manami lumayan dekat dengan taman, dan kini mereka berada sudah berada di depan bangunan apartemennya. Karma memicingkan matanya untuk melihat ke arah balkon di lantai 2 sana. Dia melihat sosok Itona yang juga sedang melihat ke arah mereka berdua.

"Kau bertetangga dengan Itona, Okuda-san?" tanya Karma sambil mengikuti Manami menaiki tangga.

"Iyah" jawab Manami.

Karma hanya menyunggingkan sebelah bibirnya 'Menunggu juga ternyata' pikir Karma. Kini jelas sudah kenapa mereka berdua kelihatan dekat sekali, dan sekarang Karma tidak mau membuat kunjungannya kali ini sia-sia. Apalagi sepertinya dia punya saingan.

"Hai Itona-kun" sapa Karma pertama kali kepada Itona. Maksud lain jelas terlihat dimukanya, kau memang benar-benar tidak suka kalah yah Karma.

Mendengar itu Itona langsung masuk ke pintu apartemennya. Manami yang melihat itu kebingungan.

"Ehh kenapa dengan Itona-kun?" tanya Manami kepada Karma yang hanya mendapat respon dengan bahu anak laki-laki itu yang terangkat, pura-pura tidak tahu.

"Ayo masuk Karma-kun" ucap Manami yang sudah masuk duluan ke dalam apartemennya.

Karma melangkahkan kakinya masuk ke dalam, suasanya terasa sedikit lebih hangat dari diluar. Melepas sepatu dan tasnya ke lantai lalu jalan menuju ruang tengah. Setelah duduk di depan meja, Karma menggerakan kepalanya untuk melihat sekitarnya.

Tidak lama setelah itu Manami datang dengan 2 gelas teh hangat yang ada ditangannya. Menaruh satu dihadapan Karma.

"Diminum Karma-kun"

Karma segera meminum tehnya berharap apa yang dikatakan Manami benar. Setelah meminumnya, badan Karma lumayan membaik. Waktu telah menujukan pukul 7 malam, mau tidak mau Karma akhirnya harus pulang walau dia masih ingin disini.

"Minggu depan kau ada acara Okuda-san ?" tanya Karma.

"hmm, sepertinya tidak. Memang kenapa?"

"Aku main ke sini lagi boleh?, sekalian aku mau jalan-jalan denganmu di kota ini" ucap Karma.

Manami hanya menatap mata merkuri milik Karma, melihat apakah dia sedang bercanda atau tidak. Tapi sayangnya ada kilatan serius disana yang menanti jawaban si gadis berkacamata.

"Bo-boleh kok" ucap Manami.

"Baiklah, kurasa aku harus segera pulang" Karma berdiri dari duduknya.

Manami mengantarkan Karma sampai depan pintunya.

"Sampai jumpa minggu depan Okuda-san" ucap Karma lalu membalikkan badannya untuk pergi.

"Aku juga merindukanmu Karma-kun" ucap Manami pelan, namun masih dapat didengar oleh telinga Karma.

Untuk kesekian kalinya pada hari ini, Karma tersenyum. Senyum tulus yang hanya dia berikan pada si gadis kepang berkacamata itu. 'Aku tahu' pikir Karma dan sekarang dia akan merindukannya lagi beriringan dengan langkahnya yang menjauhi pintu apartemen itu. Setidaknya sampai minggu depan.

tbc

Akhirnya update juga, maaf karena baru sekarang updatenya. Aray lagi sibuk beberapa minggu yang lalu :'D

Terimakasih yang sudah membaca, memfav, mereview dan segala macamnya ^^

seperti biasa, Mind to review ? ^^