Our Family

Chapter 4

Disclaimer : Bleach by Tite Kubo

Our Family by Sora Hinase

Pairing : IchiRuki

Rated : T atau semi M?

Genre : Family, Romance

Warning : OC, OOC, Typo, dsb.

Selamat membaca~ :)

.

.

.

.

.

Aku memejamkan mataku sambil mengambil nafas dan mengeluarkannya secara perlahan berharap rasa nyeri di dadaku dapat berkurang, ini hari ke tiga Ichi sudah tidak meminum ASI lagi dan sejak kemarin payudaraku mulai membengkak, sejujurnya sejak pagi bukan hanya membengkak tapi juga aku merasa nyeri, bahkan saat terkena kain. Aku tak tahu bagaimana cara menghilangkan rasa nyeri ini dan tak tahu pada siapa aku akan bertanya. Sejak kembali ke dunia manusia aku belum memiliki teman akrab lagi, lagipula pada siapa aku bisa bertanya? Kebanyakan temanku bahkan baru memiliki anak atau bahkan baru menikah. Sempat ada niatan untuk menceritakannya pada Ichigo, dia dokter kemungkinan besar dia tahu tapi aku merasa malu untuk menanyakannya. Baiklah kami suami istri tapi ini tak seperti pernikahan pada umumnya. Aku melepaskan handuk yang aku pakai sampai di bawah dada, aku memang baru saja mandi sore dan saat baru selesai mandi rasa nyeri di dadaku semakin menjadi untung saja Ichigo sudah berada di rumah jadi ada yang menemani Ichi bermain.

"Rukia apa kamu su-" astaga aku kaget sekali saat mendengar suara Ichi, dengan tergesa aku menaikan handuk yang aku pakai tapi gesekan antara handuk dengan dadaku justru menimbulkan rasa nyeri yang lebih sakit.

"Kamu baik-baik saja?" tanya Ichigo saat sudah ada di hadapanku yang sedang duduk di tepi ranjang, bisa aku lihat raut khawatir Ichigo saat melihatku, sebelum pandangan Ichigo turun ke area dadaku saat aku mengikuti arah pandang Ichigo aku sadar jika sebagian dadaku belum tertutup juga dan seketika wajahku langsung memerah.

"Tunggu sebentar dan tetaplah seperti ini," itu perkataan Ichigo sebelum kembali pergi keluar kamar, meninggalkan aku dengan wajah memerahku.

.

.

.

.

.

"Tou-chan mau melihat Kaa-san dulu, ya?" ujarku pada Ichi yang masih sibuk mewarnai buku gambarnya sebelum melangkah menuju kamar kami, tidak biasanya Rukia mandi selama ini, ini sudah setengah jam akukan juga ingin mandi apa lagi sebentar lagi waktu makan malam.

"Rukia apa kamu su-" aku menghentikan ucapanku setelah membuka pintu dan melihat kondisi Rukia yang hampir telanjang, aku hanya melihat punggung Rukia karena posisi Rukia yang duduk membelakangi pintu. Rukia buru-buru membetulkan letak handuknya saat mendengar suaraku tapi kemudian aku melihat bahunya menegang dan sedikit ber getar, melihat itu aku buru-buru berjalan ke tempat Rukia.

"Kamu baik-baik saja?" tanyaku saat sudah ada di hadapan Rukia, saat Rukia menatapku aku bisa melihat raut kesakitan di wajahnya, aku edarkan pandanganku ke arah tubuh Rukia hanya mencari bagian mana yang terluka, aku belum berani menyentuh Rukia, tentu saja.

"Tunggu sebentar dan tetaplah seperti ini," ujarku setelah aku sedikit melihat dada Rukia yang membengkak, itu adalah hal wajar bagi seorang ibu yang sedang menyapih. Aku tinggalkan Rukia dan menuju ke dalam dapur, aku ambil persediaan handuk kecil di dalam kamar mandi yang letaknya dekat dengan dapur sebelum mengambil air dingin dari dalam kulkas dan menungkan ke dalam baskom kecil. Sebelum membawa baskom dan handuk itu ke kamar aku sempat menengok keadaan Ichi yang ternyata masih asik dengan gambar-gambarnya.

#

#

#

#

#

"Buka handukmu," ujarku saat memasuki kamar dan lansung saja Rukia menatapku tajam.

"Aku hanya ingin mengompres payudaramu dengan air dingin Rukia, ini bisa mengurangi rasa nyeri juga bengkak di dadamu," ujarku sambil menekuk kakiku dan berdiri dengan lututku di hadapan Rukia, perlahan Rukia mulai menurunkan handuknya sampai di bawah dada. Rukia memalingkan wajahnya ke arah lain sementara tangannya memegang handuk dengan erat. Aku meneguk ludah dengan susah payah sebelum mengambil handuk dan memerasnya.

"Kamu bisa mengompres dengan air dingin seperti ini, juga bisa dengan pijatan lembut," ujarku sambil mengusapkan handuk itu disertai pijatan lembut, aku bisa mendengar Rukia sedikit mendesis, pasti karena rasa dinginnya.

Hal ini aku lakukan bergantian lumayan lama dan kalian tahu kondisiku? Aku hanyalah pria dewasa dengan jam biologis yang sangat kurang dan sekarang di depanku ada istri sahku dalam kondisi hampir telanjang, bisa kalian bayangkan betapa tersiksanya aku?

"ASI mu harus dikeluarkan sedikit, bolehkah aku-" aku menggantung kalimatku menunggu respon Rukia yang masih tak mau menatapku, kami terdiam beberapa saat sebelum akhirnya Rukia mengangguk kecil dan langsung saja aku menghisap puting kanan Rukia sementara payudara kirinya masih aku pijat lembut. Aku ingat aku hanya harus menghisap sedikit ASI Rukia dan semoga ini akan berlanjut ke tahap selanjutnya.

"Tou-chan sedang apa?" mendegar suara Ichi, aku langsung melepaskan kulumanku begitupun dengan Rukia yang langsung membenarkan handuknya. Ya ampun sepertinya setelah ini aku harus bermain solo.

"Ichi nda nenen masa Tou-chan nenen," ujar Ichi yang tiba-tiba saja sudah duduk di sebelah Rukia.

Kami-sama~

.

.

.

.

.

Pagi menjelang, aku menggendong Ichi menuju ke ruang makan, Rukia pasti telah selesaI membuat sarapan untuk kami. Tapi langkahku terhenti ketika sadar siapa yang duduk di salah satu kursi meja maka.

"Kenapa kau ada di sini?"

"Apa aku tidak boleh mengunjungi adik dan keponakanku?"

"Paman Byaku~" ujar Ichi yang langsung menggeliat dari gendonganku minta di turunkan.

"Hah~" aku menghela napas, selalu seperti ini Ichi lebih tertarik dengan pamannya.

"Paman, Ichi udah nda nenen tapi Tou-chan masih nenen."

Ruangan hening seketika sebelum...

"I-CHI-GO!"

Kami-sama selamatkan aku.

.

.

.

.

.

pendek? banget wkwk

lama? banget lah, terakhir update 6 mei 2015 wkwk

jeles, mengecewakan? Sora akuin #nangis dipojokan

yang penting idenya udag dituangin ketimbang menghantui Sora terus hiks

ada yang berkenan review?

Purwokerto, 23 Desember 2016

Salam hangat,

Sora H.