Chapter 3
Kegelapan itu sudah mulai menampakkan tanda kehidupannya. Perlahan bersinar, karena cahaya asing yang menghangatkan. Batinnya berperang antara percaya atau memilih buta.
Di dalam penjara gelap itu Baekhyun meringkuk karena suhu tubuh nya yang mulai tinggi. Sejak tersadar dari pengaruh bius, ia sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Seperti seorang monster, Baekhyun lupa rasanya di jemput kantuk. Ia hanya ingin terjaga, karena setiap terpejam ia akan mengalami mimpi buruk. Bayangan kedua orang tua nya yang tergeletak dengan simbahan darah selalu menerobos masuk. Menciptakan rasa was-was karena menyadari ia hanya seorang diri sekarang.
Rutinitasnya hanya terdiam membisu. Makanan yang di antarkan oleh pesuruh Chanyeol hanya menjadi pajangan dan berakhir di tong sampah. Tidak masalah, ini akan mempercepat ia menjemput ajal. Karena percuma saja, ia bertahan hidup untuk mendapati kenyataan yang menyedihkan. Berada dalam bayang-bayang orang lain yang sungguh ia benci.
Mata lebar yang terus saja memenuhi isi kepalanya tergambar jelas dengan senyum penuh kebengisan. Park Chanyeol, catat saja nama itu sebagai malaikat maut untuk keluarga nya. Menyebut nama itu dalam hati pun Baekhyun rasa enggan. Bagai virus mematikan pengaruh nya teramat dahsyat. Tatapan matanya mendominasi, terkesan melumpuhkan.
"Dia tidak suka dibantah, aku sarankan kau makan sebelum dia turun tangan." Baekhyun melirik sekilas, menyadari Kai telah berdiri di sisi ranjang nya dengan tangan yang di sedekapkan di depan dada.
"Aku bukan domba peliharaan sepertimu, yang akan menurut hanya karena takut dibunuh. Cih!" Baekhyun berbalik memunggungi Kai, masih dengan posisi meringkuk nya.
Kai tidak marah, apalagi mengumpat. Ia justru merasa tertantang dengan seberapa jauh bocah kecil ini membuat kakaknya penasaran. Kai sangat tahu jika Chanyeol tidak akan bernafsu dengan mereka yang biasa saja, apalagi dengan sukarela menyerah. Baekhyun menarik perhatian Chanyeol dalam ketidak sadarannya. Memikat dengan penolakan menantang seperti sekarang.
"Baiklahhhh… terserah kau saja. Tapi-" Kai menggantung ucapan nya untuk mendekat, dan berbisik ke telinga Baekhyun.
"Selama kau terus menantang, selama itu pula kau akan menyeret singa lapar untuk masuk ke dalam." seringaian memuakkan itu tercetak miring di bibir tebal Kai, terlihat tampan untuk para pengagu nya namun terlihat menyebalkan untuk para musuh nya.
{CB}
"Kau ingin mengambil lini dimana ?" Kai membolak-balik berkas berisi grafik laba atas bisnis gelap tempat nya berkecimpung.
"Terserah kau, aku sudah malas. Asal dapat uang, mengapa harus susah payah menyusun laporan keuangan ?!" Chanyeol menggerutu dengan tumpukan angka yang nampak di dalam layar laptop nya. Ia merenggangkan dasinya yang terasa mencekik, kemudian mengacak rambut nya sekedar menghilangkan lelah.
"Tapi perputarannya sangat menakjubkan hyung, otak bisnis paman Seunghyun menurun pada mu ternyata." Kai meletakkan kertas dalam genggaman nya dan mengambil posisi duduk di depan meja Chanyeol.
"Aku melirik bisnis lain, tapi resiko besar nya membuat aku harus memikirkan strategi lagi. Demi Tuhan Kai, angka-angka ini saja sudah membuatku ingin muntah!" Kai terkekeh melihat raut frustasi Chanyeol. Seseorang yang dianggap seperti kakak kandung ini jika sudah bekerja, menjadi lupa daratan. Menenggelamkan diri nya dengan penuh loyalitas.
"Hyung, apa yang kau maksud bisnis lain itu selundupan emas ?" Chanyeol mengedikkan bahu tanpa mengalihkan atensi dari layar laptop. Terus mengetik sesuatu di sana, sampai selintas pikiran nya terhenti pada satu objek..
"Apa dia makan dengan baik ?" Kai menggeleng sebagai jawaban.
"Sialan!" Kai tersenyum samar mendengar dengusan kesal dari Chanyeol.
"Kenapa kau peduli ?"
"A-aku-"
"Kau bahkan tidak peduli dengan jadwal makan mu. Kenapa hyung ? apa ada yang kau sembunyikan dari ku ?" Kai bukan si bodoh yang tidak tahu tentang ciri orang yang sedang jatuh cinta. Ditambah potongan photo yang di sobek acak itu bertengger rapi di balik bingkai berbentuk hati yang berdiri tegak di atas meja kerja Chanyeol.
"Kau jatuh cinta hyung…"
"Kau gila ? aku tidak mengenal hal semacam itu. Pikirkan saja ikan-ikan mu" Chanyeol bergerak panik saat mendapati senyum mengejek yang dilempar Kai.
"Dari mana kau membeli bingkai berbentuk hati itu hyung ? ini sama sekali bukan dirimu." Kai berlalu pergi meninggalkan ruang kerja Chanyeol dengan tawa lebar.
"BRENGSEK KAU HITAM!"
Dada nya berdebar hebat mengingat semua perkataan Kai. Cinta semacam pantangan untuk Chanyeol, karena perasaan itu telah membuat nya menjadi seorang yang biadab seperti sekarang. Ada banyak luka di balik makna cinta yang tidak bisa diungkap. Ia pernah menjadi sangat tulus karena menanti. Ia pernah menjadi pecinta sejati karena sebuah mimpi. Chanyeol menyimpan kesakitan nya seorang diri. Memilih untuk lari, menghindari luka lama itu hadir kembali.
{CB}
"Tuan Byun tewas beserta istri nya, ini masuk ke dalam kasus pembunuhan. Karena sanak keluarga tidak ada yang melapor perkara ini resmi ditutup." Seunghyun tersenyum miring saat siang ini mendengar kabar bahwa kasus pembunuhan keluarga Byun resmi ditutup. Pekerjaan putranya memang selalu memuaskan dan tidak pernah mengecewakan. Kaum suci berkurang satu, setidaknya bisnis gelap dan kasus korupsi yang dilakukan masih aman sampai hari ini.
Seunghyun terlalu bersenang hati dengan kabar membahagiakan mengenai keluarga Byun. Mengabaikan satu pertanyaan tentang satu anggota Byun yang tersisa.
"Rapat dengan Presiden akan di undur sampai besok siang, Tuan." Sekretaris Choi membuka buku catatan yang berisi jadwal Seunghyun dimulai dari pagi sampai akan tidur lagi.
"Terserah dia saja, asal tidak mengganggu pekerjaan ku yang lain." Choi meneliti buku agenda nya kembali. Takut jika ada jadwal yang terlewat. Karena Seunghyun sangat rapi dalam hal apapun termasuk urusan jadwal. Choi memperhatikan lingkaran dengan tinta biru nya. Di dalam lingkaran itu terdapat tanggal serta gambar awan. Ia ingat, bahwa itu tulisan nya sendiri. Ditulis dua bulan yang lalu.
"Tuan…" Seunghyun menghentikan langkah nya di ambang pintu, mengurungkan niat untuk keluar ruangan karena panggilan Choi Siwon.
"Aku tidak tau ini masuk kategori penting atau tidak. Tapi aku selalu menulis agenda ini setiap tahun nya." Choi menunduk takut saat melihat Seunghyun menaikkan sebelah alisnya.
"Jangan bertele-tele, Choi. Aku harus pergi ke gudang rokok di Busan. Waktu ku tidak banyak, dan harus kembali malam ini juga." suara nya datar, berat, dan mencekam.
"I-itu… besok hari ulang tahun Chanyeol." Choi menunduk sekali, kemudian berlalu pergi.
Seunghyun menengok jam yang melingkar di pergelangan tangan. Jam itu memiliki putaran untuk pukul, menit, detik, dan sekotak kecil berisi tanggal. Kotak kecil di dalam lingkaran jam tangan nya menunjukkan tanggal 26 November. Itu arti nya esok hari adalah hari dimana Chanyeol terlahir dua puluh lima tahun yang lalu.
Dua puluh lima tahun di habiskan untuk membentuk putra nya menjadi seseorang yang kuat. Seunghyun lupa menanamkan kasih sayang. Ia terlalu fokus dengan bagaimana cara memberi Chanyeol makan dan kebutuhan berlimpah ruah. Membalas semua penghinaan di masa lalu. Seunghyun menyimpan kesakitan nya seorang diri. Memilih untuk lari, menghindari luka lama itu hadir kembali.
{CB}
Chanyeol melangkahkan kaki nya tenang memasuki pekarangan luas yang cukup rimbun. Ada satu bangunan tua yang tidak terawat. Seperti tidak ada penghuni jika dilihat sekilas. Kegiatannya setiap hari hanya seperti ini. Setelah menyelesaikan semua pekerjaan nya. Rasa lelah nya lenyap saat mendapati si wajah rupawan. Ajaib, dan menggelitik. Chanyeol merasa dunia nya menjadi lebih baik dengan sekali menatap si mata bulan sabit.
Baekhyun tampak terduduk tenang di atas ranjang. Satu-satu nya tempat yang layak dari pada harus terlantar di lantai. Chanyeol sedang mengusahakan tempat lain yang tidak akan pernah terjangkau oleh ayah nya, tapi mustahil. Tadi pagi ia sudah memerintah Kai untuk membelikan kasur, dan memberi sekat agar dapat disebut sedikit layak.
"Aku pernah menangkap satu kupu-kupu di sekitar sini. Dia indah, berwarna terang, dan sangat cantik." Baekhyun masih diam, melirik sekilas ke arah Chanyeol yang sudah berdiri di balik pintu jeruji.
"Aku ingin merawat dan memiliki nya..." Chanyeol menerawang jauh, membawa tubuh nya bersandar pada tembok disisi jeruji.
"Aku pikir dengan dengan menangkap nya. Dia akan selamat dari buruan elang. Tapi ternyata tebakanku salah-"
Baekhyun masih setia diam. Sama sekali tidak memiliki hasrat untuk menanggapi atau sekedar peduli.
"Justru aku yang menyakiti dengan mematahkan satu sisi sayap nya. Tapi aku ingin mengganti dengan diri ku. Merelakan satu sayap ku, agar kupu-kupu itu terbang semakin tinggi." Chanyeol tersenyum, menatap teduh pada lelaki mungil di dalam sana.
"Jika kau ingin memiliki, setidaknya biarkan dia pergi." Baekhyun membuka suara. Bukan dengan nada mengancam, tidak ada siratan amarah di sana. Chanyeol merasa sebagian diri nya melayang mendengar suara itu mengalun amat pelan.
"Kau akan membuat nya mati dalam kesakitan. Mengganti dengan sayap mu tidak akan pernah sama dengan sayap yang dimiliki sebelum nya. Jika juga kau ingin berkorban, gantilah jiwamu untuk si elang." Chanyeol merasa rahang nya mengeras mendengar perumpamaan itu ternyata mampu ditangkap Baekhyun dengan baik. Suara nya masih tetap pelan mendayu, tapi bukan itu yang menjadi fokus Chanyeol. Pikiran nya berputar-putar tentang seekor elang hitam bergigi tajam yang mematikan, ayah nya.
"Sampai kapanpun tikus tanah tidak akan memiliki kekuatan sebanding dengan elang. Perhatian elang hanya tertuju pada objek indah seperti kupu-kupu."
"Tikus tanah bahkan lebih mulia dibandingkan dirimu-" Chanyeol tersenyum sarkas menempatkan diri nya sebagai tikus tanah.
Ia memiliki banyak alasan untuk tetap bertahan dengan pria yang di sebut nya sebagai ayah. Karena hal yang tidak akan dinampakkan, masih disimpan rapi seorang diri.
{CB}
Kai menghabiskan sabtu malamnya dengan sesekali menjadi manusia normal. Berkeliling menggoda para lelaki manis, atau wanita seksi. Berpatroli memastikan mangsanya malam ini masuk ke perangkap dengan bualan manis yang membuat geli.
Mata nya menangkap satu lelaki bermata bulat yang sedang sibuk dengan laptop dan beberapa lembar kertas. Wajah serius nya menarik perhatian Kai. Bulu matanya yang lentik ikut bergoyang ketika berkedip. Bibir yang berbentuk hati itu merah samar dan menggoda ketika lidah nya terulur untuk sekedar menyapu sensasi kering di permukaan.
"Boleh aku duduk ?" si lelaki manis melirik sekilas, kemudian menggeleng.
"Meja kosong masih banyak, aku sedang ingin sendiri." Kai memegang dada kiri nya dramatis dan memasang muka senista mungkin untuk menarik perhatian si lelaki berbibir hati.
"Kau menolak ku ?"
"Kau tuli ya ? Aku sedang ingin sendiri! Jadi pergilah sebelum ku panggil petugas keamanan untuk menyeret mu!"
"Aku akan pergi tapi beritahu namamu ?"
"Ck!" Lelaki mungil itu mendecak keras sebelum mengangkat kursi nya ke arah Kai.
"Baiklah, aku pergi."
Kai menendang udara melampiaskan amarah nya. Baru hari ini dia tolak mentah-mentah oleh seseorang.
"Sialan ! Lelaki tertampan di seluruh penjuru Korea ditolak ? HAH!" Kai bercermin di permukaan kaca mobil nya. Meneliti dengan cermat, seluruh inchi wajah nya.
"Aku masih tampan kan ?" tangan nya di bawa membelai di mulai dari pelipis turun meraba rahang tegas nya kemudian berakhir di dagu seksi nya.
"Aishhhh!"
{CB}
Pukul 00:00 tepat di tanggal dua puluh tujuh november. Chanyeol menyalakan ponsel nya. Hanya ada dua notifikasi dari Kai dan Siwon. Mereka berdua yang selalu setia mengucapkan selamat ulang tahun untuk Chanyeol di setiap tahun nya.
'Selamat ulang tahun, hyung' - Kai
'Selamat ulang tahun, little bastard' - Siwon
Chanyeol tersenyum menatap layar ponsel nya yang perlahan meredup. Apa yang ditunggu ? Siapa yang ditunggu ? Chanyeol sendiri tidak mengerti. Setau nya setiap tahun akan sama saja, yang berbeda hanya semakin dekat waktu nya untuk mati.
Ia duduk di ruangan hampa di sisi sel tempat Baekhyun dikurung. Tentang kupu-kupu yang menjadi buruan elang. Ia harus mempertimbangkan usulan Baekhyun tentang menyerahkan diri nya, si tikus tanah. Mengganti jiwa si kupu dengan jiwa nya.
"Tikus tanah…" Chanyeol tersenyum kemudian menutup mata nya. Memutar kembali suara Baekhyun yang terdengar indah saat menyebut si tikus tanah. Ini gila, sekali lagi ini gila. Jika saja orang lain yang mengumpati nya seperti itu. Chanyeol tidak akan segan menembus tempurung kepala nya dengan peluru. Atau menarik keluar isi perut nya dengan sebilah pedang. Tapi mengapa jika 'tikus tanah' yang di ucap Baekhyun serupa dengan seruan 'bunga mawar' ?
Perut nya terasa menggelitik membayangkan hal memalukan ini. Ukiran senyum tidak pernah enggan untuk terus nampak. Sekali lagi, Chanyeol yakin ini bukan cinta. Ini hanya sebuah lelucon yang kebetulan ada dan diucapkan Baekhyun, kemudian kebetulan juga masuk kedalam selera humor Chanyeol.
"Lelucon, humor" derai tawa nya membahana.
Chanyeol menyambar kunci di atas meja, membuka dengan hati-hati pintu jeruji yang telah berkarat itu. Mata nya tak pernah lepas dari atas ranjang. Seseorang itu masih setia terlelap mengarungi mimpi. Dalam pejaman mata nya, kadang ia sedikit merengek karena mimpi buruk. Kadang bergerak gelisah, Chanyeol memperhatikan nya.
"Kau mimpi buruk, hm ?" Chanyeol mengusap keringat dingin yang membasahi dahi Baekhyun.
"..."
"Setiap malam aku juga mengalami hal yang sama. Dari sekian banyak hal yang pernah ku lakukan. Aku tidak pernah salah, selalu tepat sasaran, dan tidak pernah sekalipun merasa menyesal." Chanyeol duduk di bagian ranjang yang masih kosong. Terus berbicara, padahal tau tidak akan ada jawaban untuk semua yang keluar dari bibir nya.
"Tapi… Aku menyesal telah mematahkan sayap si kupu. Aku ingin menebus semua dengan satu sayap yang kumiliki. Tapi tikus tanah tidak memiliki sayap. Satu-satu nya yang bisa ku lakukan agar si kupu selamat dari elang adalah membawa nya bersembunyi di dasar tanah. Meskipun aku tau, ini tetap menyiksa nya."
"..."
"Bersabar lah sebentar, hanya disini tempat paling aman. Seharus nya aku bisa membebaskan mu, tapi aku takut kau lari. Karena….." Chanyeol menghentikan ucapan nya kemudian menatap wajah terpejam itu lekat. Ia menundukkan diri nya, mengikis jarak antara wajah nya dengan wajah Baekhyun.
"Cup! Ini lelucon." Chanyeol bergumam setelah memberi kecupan singkat pada kening yang lebih mungil.
"Cup! Cup! Ini lelucon." Chanyeol bergumam lagi setelah memberi kecupan pada kedua mata Baekhyun yang masih terpejam.
"Cup! Ini lelucon." Chanyeol bergumam ketiga kali nya setelah memberi kecupan untuk hidung mungil nan indah milik Baekhyun.
Saat akan melanjutkan kegiatan selanjut nya, Chanyeol berhenti. Jantung nya ingin runtuh untuk sebuah lelucon menggelitik perut ini. Bibir itu laksana garis tipis pengukir awan, indah dengan warna merah merekah.
Chanyeol menelan ludah nya pelan saat menamatkan bibir itu dari jarak paling dekat. Tidak pernah kering dan selalu lembab. Bagaimana bisa seorang lelaki bahkan memiliki bibir seperti ini ?
"Cup! I-ini juga lelucon." pipi nya terasa panas dan memerah, seperti seorang gadis remaja yang baru mengenal cinta. Chanyeol merasa seluruh tubuh nya menjadi gerah setelah mempertemukan bibir nya dengan bibir Baekhyun secara kilat.
Tubuh nya di bawa menjauh dan menempati posisi semula, duduk tegak di atas ranjang tempat Baekhyun tertidur pulas.
"Hari ini aku ulang tahun-" tangannya terulur kembali menyingkirkan poni Baekhyun yang mulai panjang menutupi mata.
"Apa yang ku harap sebenar nya ? Setiap tahun selalu seperti ini. Tapi tahun ini aku merasa lengkap sekaligus kurang." Chanyeol diam-diam berharap Baekhyun terjaga. Menyambar tubuh tegap nya dengan sebuah pelukan manja, membisikkan ucapan selamat ulang tahun. Itu lah sebab mengapa Chanyeol merasa lengkap sekaligus kurang. Baekhyun ada melengkapi, tapi tidak ada untuk memenuhi mimpi nya.
Si lelaki tinggi menuntun tubuh nya untuk berbaring juga mengisi sisi ranjang yang masih kosong. Keras karena tanpa alas matras, Chanyeol merasa punggung nya belum terbiasa. Menerawang, betapa menderita nya Baekhyun atas semua yang terjadi.
"Setidak nya untuk ulang tahun ku, aku ingin meminta kado sesekali. Biarkan seperti ini." Chanyeol mendekap Baekhyun hangat dalam pelukan nya, membuat si mungil menggeliat mengais sebuah kenyamanan untuk bersandar di dada nya.
"Selamat ulang tahun Chanyeol." ia seperti orang sinting dengan berbicara sepanjang malam seorang diri. Mata nya perlahan tertutup, di tempat lembab dan sempit ini. Chanyeol merasa lega karena seseorang telah berada dalam dekapan nya.
{CB}
Seunghyun sudah menggunakan jubah tidur nya, duduk di tepi ranjang king size di dalam kamar bersiap menjemput mimpi. Saat akan mematikan lampu meja di atas nakas mata nya menatap kotak kecil berwarna hitam dengan pita merah yang tertempel sebagai hiasan. Seunghyun mengurungkan niat nya untuk berangkat tidur. Jari-jari besar nya menyapa setiap permukaan kotak itu dengan hati-hati.
"Besok ulang tahun Chanyeol.." ucapan Siwon kembali terngiang. Seunghyun mengedarkan pandangan pada jam dinding yang dipasang tepat di sisi lemari pakaian nya. Sudah lewat dini hari, dan Chanyeol belum menampakkan batang hidungnya.
"Ayah, aku selalu menatap jam tangan setiap saat. Untuk menunggu pukul dua belas malam. Kata paman Siwon, do'a akan dikabulkan Tuhan pada saat itu. Hanya lima menit." Seunghyun menyunggingkan senyum samar hampir tak terlihat. Anak nya sudah tumbuh dewasa terkadang bisa menjadi rekan, lebih sering menjadi rival.
Kotak itu berisi jam tangan untuk hadiah Chanyeol. Selama dua puluh lima tahun bersama Seunghyun tidak pernah mengucapkan selamat ulang tahun untuk Chanyeol karena hal itu hanya membuka kesakitan nya.
"Ini sudah lewat jam dua belas malam, apa do'a ayah akan terkabul ?" Seunghyun memeluk kotak berisi jam tangan itu erat, memejamkan mata meminta kepada Tuhan untuk segala kebaikan terhadap hidup anak nya. Ia hanya sendiri dalam hening, mencoba meminta di tengah kekotoran nya sebagai manusia. Berharap hubungan nya dan Chanyeol akan membaik.
Seunghyun mencium kotak itu penuh tulus, untuk menebus dunia kecil Chanyeol yang terenggut oleh ego nya yang mengerikan. Setidak nya hari ini biarkan semesta tahu jika ia juga seorang manusia biasa dengan predikat ayah untuk anak nya yang tampan.
{CB}
"Ibu…" wanita itu menoleh saat anak asuh nya memanggil di ambang pintu kamar. Ia mengurungkan niat nya untuk menyalakan lilin dengan kue ulang tahun berbentuk awan itu.
"Ada apa, jongdae ?"
"Ibu, ini tanggal dua puluh tujuh november. Aku menyalakan alarm untuk membangunkan mu. Ternyata kau sudah bangun terlebih dahulu. Maafkan aku.." si wanita setengah baya namun tetap terlihat cantik itu tersenyum anggun.
"Tak apa… Kemari." tangan nya di bawa melambai untuk mengundang Jongdae masuk dan duduk di kursi. Mereka berdua mengelilingi meja dengan kue ulang tahun kecil berbentuk awan.
"Ibu… Boleh aku meniup nya ?" yang di panggil ibu hanya mengangguk, kemudian menyalakan pemantik di atas lilin.
"Apa ibu sudah menentukan nama nya ? Maksud ku agar do'a ku bisa langsung sampai."
"Berdoalah untuk kebaikan dan kebahagiaan nya. Ibu tidak tau nama nya, hanya tujukan untuk si awan tampan." wanita itu mengelus puncak kepala Jongdae lembut saat menyaksikan bocah itu mulai mengepalkan kedua tangan dan memejamkan mata.
"Tuhan, di tanggal dua puluh tujuh november ini ijinkan aku berdo'a. Berdo'a untuk si awan tampan. Berikan dia kebahagiaan dan kebaikan di sepanjang hidup nya. Jauhkan ia dari marabahaya." mata si wanita setengah baya berkaca-kaca mengamini doa tulus Jongdae dalam hati.
"Ibu… Kita akan meniup lilin nya untuk si awan tampan. Semoga kepulan asap lilin yang terbang bisa berhambur dan mewakili pelukan kita."
"Ya, mari kita tiup bersama. Agar asap nya yang terbang bisa mewakili ketulusan kita."
Tbc-
