Paraaahhh… Aku kagak update nih fic lebih dari tiga bulaaannn.. Huhuhu… maaf ya reader semua. –pundung dipojokan-

Giotto : Ngapain pundung gitu. Yang harusnya pundung kan reader.

Tsuna : Betul-betul-betul

Aru: Diem lu upin-ipin bersaudara. Huhuhuhu

Tsu+Gio: -sweatdrop-

Aru : Udah petan masuk studio. Mana lagi tuh dua orang nyusahin. Wooii Hibarii! Alaudee!

Hiba+Al: Hm? Mencari kami? –deathglare-

Aru : -nelen ludah-. U-udah daritadi di situ ya? Kapan datengnya lu pada? Hahaha. –nyiut-

Giotto: Yosh. Ayo kerjaaa!

Hibari : Sebentar. Aku mau kamikorosu ni author gendeng dulu!

Aru : TIDAAAKKKK!

V v v v V

Tiga hari menjelang festival Hallowen

Tsuna berlari-lari kecil di lorong sekolah saat istirahat pertama tiba. Ia bermaksud menemui sang guru olahraga barunya untuk mengajaknya makan siang bersama. Namun saat kakinya telah menapaki ruang guru, Ia merasakan ada yang tidak beres di sana.

"Anoo… Apakah Giotto-sensei ada?"

Tsuna membuka pintu dan bertanya kepada guru yang duduknya dekat pintu. Sang guru mengedarkan pandangannya di sekitar ruang guru dan menggeleng pelan. "Sepertinya setelah bel berbunyi, Ia langsung keluar. Seperti terburu-buru."

"Eh? Oh. Baiklah. Terimakasih, sensei." Tsuna membungkukkan badannya dan menutup pintu ruang guru.

"Kemana gerangan Ia pergi?" Tsuna berniat mencari Giotto sebelum bel masuk berbunyi.

Ke ruang olahraga, nihil. Ke ruang musik juga nihil. Bahkan Tsuna telah memeriksa setiap kelas dan gudang. Namun tetap tak ditemukannya sosok vampir Primo itu. Lelah mencari, Tsuna duduk di tangga menuju ke atas sambil mengatur nafasnya.

"Hhh.. Sebentar lagi bel masuk berbunyi. Aku belum bertemu Giotto-nii sama sekali. Kemana ya dia." Tsuna berpikir. Hampir semua tempat telah Ia cari. Berarti tinggal beberapa kemungkinan tempat yang akan di datangi Giotto.

"Atap sekolah.." Tsuna menolehkan kepalanya ke atas. Mungkin saja! Dengan segera Tsuna berdiri dan berlari menuju atap sekolah. Sebelum tangannya meraih kenop pintu, telinganya menangkap suara yang Ia kenal. Oh, ternyata di sana! Eh tunggu… sepertinya ada oranglain sedang bercakap-cakap dengan Giotto.

"Mau apa kau, herbivore?"

"Aku minta sekali lagi. Jangan ganggu Tsunayoshi!"

"Aku tidak mengganggunya. Aku hanya memberi hukuman ringan padanya."

Suara itu… Hibari! Jadi Giotto sedang bersama Hibari? Namun apa yang mereka bicarakan? Sepertinya suasana menjadi tegang dan mencekam. Tak berani mengganggu, Tsuna hanya dapat menguping dari balik pintu.

"Tidak dengan melukai tubuhnya! Kau itu tidak sekedar memberi hukuman. Tapi memenuhi hasrat liarmu!"

"Diam atau kamikorosu!"

"Oh mainanmu bagus juga. Kau menantangku? Baiklah!"

"Maju, herbivore!"

Hal yang selanjutnya Tsuna dengar adalah suara gaduh. Tsuna gemetar. Gara-gara membelanya, Giotto harus bertarung dengan Hibari? Tidak! Tsuna tak mau itu!

"Hentikan kalian berdua!" Tsuna memberanikan diri membuka pintu dan mendapati Giotto dengan kepalan tangannya tengah menduduki perut Hibari yang jatuh terduduk. Tsuna dapat melihat jika ini sudah keterlaluan. Hibari tampak kesal dengan kedatangan Tsuna. Sedangkan Giotto terkejut dan menurunkan kewaspadaannya pada lawannya. Hal ini diambil kesempatan untuk Hibari membalas pukulan Giotto.

"Tsuna—Aaw!" Giotto meringis saat tonfa Hibari mengenai pipi kirinya. Giotto jatuh terduduk di lantai sambil memegangi pipinya yang merah serta darah yang menetes dari sudut bibirnya.

"Cih! Pengganggu datang. Mau apa kau, Sawada Tsunayoshi?" Hibari berdiri dan memberi tatapan pamungkasnya yang membuat nyali Tsuna ciut.

"Cukup, Hibari!" Giotto berjalan ke arah Tsuna dan memeluknya erat. "… kuperingatkan sekali lagi. Jangan sentuh Tsunayoshi!"

Hibari terdiam sejenak sebelum telinganya mendengar bel masuk berbunyi. Ia dengan tenang berjalan melewati Tsuna dan Giotto. Ia berhenti sejenak dan kembali memberi deathglare pada mereka berdua. Tsuna dapat melihat wajah Hibari penuh luka. Sepertinya sakit sekali?

"Cepat masuk sebelum tonfa ini menghajar tubuhmu lagi, Sawada Tsunayoshi!"

"Ha-Haaaiii!"

Merasa ciut dan takut, Tsuna segera berlari masuk ke dalam sekolah. Kacau. Semua jadi kacau.

V v v v V

Malam harinya di kamar Tsuna.

"Giotto-nii! Kenapa tadi siang harus sampai ada pertarungan seperti itu?"

Nafas Tsuna memburu karena kesal. Ia tak terima karena gara-gara dia, Hibari maupun Giotto sampai terluka. Giotto hanya tertunduk diam. Sejujurnya Ia begitu lemas sampai tak dapat membalas pertanyaan Tsuna.

Tsuna mendengus kesal. Namun tangannya tetap bekerja mengobati luka Giotto. "Angkat kepalamu, Giotto-nii."

Giotto tetap diam seribu bahasa. Menghela nafas berat, Tsuna memegang dagu Giotto dan mendongakkan wajah Giotto. Tanpa daya, Giotto menatap mata Tsuna. Dan Tsuna menemukan keputusasaan di bola mata biru Giotto.

"Giotto-nii.. Ada apa?" Tsuna mengolesi alkohol di pipi dan sudut bibir Giotto yang terluka dengan hati-hati. Namun Giotto tak kunjung berniat untuk menjawab pertanyaan Tsuna. Sebal karena dicuekin, Tsuna menaruh semua perlengkapan P3K ke dalam laci dengan sedikit kasar kemudian duduk di lantai tanpa berkata lagi.

"... Tsunayoshi..." akhirnya terdengar suara bariton Giotto. Tsuna tak mau menoleh karena masih kesal. Ia memeluk lututnya tanpa mau menatap ke arah suara yang memanggil namanya itu.

"... Tsunayoshi..." suara Giotto tampak terdengar lemah. Suara itu seperti seekor kucing yang mengiba pada ibunya. Menghela nafas pelan, Tsuna akhirnya menoleh dan mendapati Giotto menatapnya dengan sedih.

"Giotto-nii kenapa?"

Giotto tak menjawab. Ia hanya turun dari ranjang dan duduk di samping Tsuna. Dielusnya dengan lembut kedua pipi Tsuna tanpa berkata apa-apa. Seolah dengan diampun, Giotto yakin Tsuna mengetahu jawabannya.

"Giotto-nii haus? Atau ada masalah?"

Giotto mengangguk. Jawaban keduanya tepat. Ia haus. Seakan darahnya menjerit meminta asupan yang lebih banyak. Namun satu hal yang menghentikan Giotto untuk meminta darah pada Tsuna. Karena Ia tak ingin Tsuna menderita kekurangan darah.

Sedangkan masalah... apakah wajar seorang vampir merasa cemburu pada The Bloodnya karena Ia diapa-apakan oranglain? Sejujurnya Giotto tak mengerti apa perasaan itu. Hanya saja saat melihat tubuh Tsuna terluka atas bawah, darah Giotto seolah mendidih sampai puncak kepalanya. Kesal, marah, sedih, tidak terima.

"... Giotto-nii jangan melamun terus..." Tsuna duduk di atas pangkuan Giotto. ".. Aku tak mengerti apa masalahmu. Kalau tak keberatan, Giotto-nii bisa cerita padaku. Jika tidak, apa yang harus kulakukan agar Giotto-nii kembali seperti semula?"

"...tetaplah di sampingku, Tsunayoshi." Giotto memeluk Tsuna erat. Meski penuh tanda tanya, Tsuna tak keberatan dipeluknya. Namun yang membuatnya tak nyaman adalah suhu tubuh Giotto yang tak pernah hangat. Jadi meski dipeluk, Ia seolah sedang memeluk tiang es. Dingin.

"...Tsunayoshi..." Giotto kembali memanggil nama Tsuna. Seolah kata-kata itu adalah kata terakhirnya. Tsuna tak bergeming. Ia tau Giotto menginginkannya. Dengan tanda kutip tentunya. Karena yang Tsuna tau, Giotto hanya membutuhkan darahnya. Tak lebih.

Giotto terdiam. Warna bola matanya kini kembali menjadi kuning terang. Tak mau Tsuna melihat matanya, Giotto menyenderkan kepala Tsuna di dadanya. Meski itu tak membantu Giotto menghilangkan rasa hausnya.

"…Giotto-nii.." Tsuna berbisik. "…jangan ditahan. Aku akan baik-baik saja." Tsuna melingkarkan kedua tangannya di pinggang Giotto.

"…Maaf.." Hanya itu yang dapat Tsuna dengar. Karena setelah itu, sesuatu merobek kulit lehernya dan darahpun mengalir dari bekas luka itu.

Tsuna mencengkeram jubah Giotto. Menahan sakit di leher dan pusing karena mulai kekurangan darah. Menyadari hal itu, Giotto menyudahi makan malamnya dan secepatnya menjilat luka Tsuna agar tertutup kembali.

Ada perasaan aneh saat lidah Giotto menyapu lehernya. Seperti ada hasrat lain selain takut dan geli. "…Giotto-nii? Sudah?" Tsuna mendongak dan mendapati Giotto menyeka mulutnya dengan punggung tangan. Ia hanya mengangguk pelan.

"Tidurlah, Tsunayoshi. Besok kau akan membaik." Giotto menggendong tubuh mungil Tsuna dan membaringkannya di kasur. Tak lupa kecupan selamat malam di kening Tsuna. Giotto tersenyum Kemudian berjalan ke beranda. Langkahnya terhenti ketika mendengar suara Tsuna yang memanggilnya dengan suara pelan.

"…Giotto-nii…"

"Ada apa, Tsunayoshi?" Giotto membalikkan tubuhnya dan menatap sosok Tsuna yang sudah duduk di atas kasurnya. Ia sedang menundukkan kepalanya sambil memainkan selimutnya. Giotto menunggu kata-kata selanjutnya dengan sabar.

"…kurang…." Suara Tsuna tenggelam oleh angin malam.

Giotto tidak bodoh. Ia mengerti sekali perasaan dan keadaan Tsuna meski Ia tak bertanya. Karena darahnya telah berbicara segalanya. Giotto kembali menghampiri ranjang Tsuna. Satu kakinya naik ke atas kasur Tsuna dan tangan kanannya perlahan menyentuh dagu Tsuna, mendongakkan kepalanya seperti halnya yang telah dilakukan Tsuna tadi.

Wajah putih Tsuna sedikit merona. Giotto menelan ludah melihat ekspresi Tsuna. Sungguh menggoda imannya. Mata cokelat karamel itu kini setengah tertutup, dengan mulut setengah terbuka, seolah mengundangnya untuk dilahap.

"…Maaf, Tsunayoshi…"

"Ma-mmm?"

Suasana sepi. Di kamar Tsuna hanya terdengar suara detik jam, dan suara nafas Tsuna yang sedikit memburu. Giotto menjauhkan wajahnya cepat. Wajahnya sedikit merah. Menyadari hal itu, Giotto membuang mukanya panik. Ia menutup mulutnya dengan punggung tangan dan berkata, "Maaf, Tsunayoshi." Giotto berjalan cepat ke arah beranda dan menghilang ditelan gelapnya malam.

"…"

Tsuna menyentuh bibirnya dengan jari telunjuknya. "Fa.. Fast kiss?" wajahnya kembali memerah. Tsuna menutupi seluruh tubuh dan wajahnya yang memerah dengan selimut. Merasakan debaran jantungnya berdetak tak beraturan. "… Giotto-nii curang…"

V v v v V

Dua hari menjelang festival Hallowen.

Sore hari, saat menunggu bel pulang berbunyi, Tsuna mengumumkan sesuatu pada Gokudera yang duduk tepat di sampingnya. "Sudah diputuskan. Aku akan ikut dalam festival halloween itu!"

"Benarkah, Juudaimee?" Gokudera memasang tampang bahagianya. Seakan bunga-bunga memenuhi sekelilingnya. Bew.

"Iya. Tolong bantuannya ya, Gokudera-kun."

"Pasti, Juudaime. Apapun yang anda minta, akan saya laksanakan."

Tsuna sweatdrop juga mendengarnya. Jangan-jangan jika Tsuna meminta Gokudera terjun ke jurang, Ia akan laksanakan? Bahaya.

BRAK!

Tiba-tiba pintu kelas mereka terbuka keras. Tsuna dan kawan-kawan terkejut bukan main. Yang lebih membuat terkejut lagi adalah siapa yang datang sore itu. Karnivore sekolahnya berdiri di belakang seseorang yang wajahnya mirip. Jangan-jangan…

"Gawat! Itu Alaude! Hibari-anii!"

"Haaah? Bakal ada angin topan nih?"

Tsuna menelan ludah. Sedikit banyak Ia tau siapa orang dengan wajah mirip Hibari dengan rambut krem itu. Tatapan yang sama seperti Hibari, tatapan membunuh. Dengar-dengar Hibari-anii bekerja sebagai polisi atau detektif. Semacam itulah. Dan ada apa gerangan seorang polisi datang ke ke sekolah?

"Tidak ada." Alaude berkata pendek. Hibari hanya diam dengan wajah menyiratkan tidak suka. Sepertinya Hibari tidak suka kakaknya datang ke sekolah itu.

"Pulanglah. Aku tak minta bantuanmu."

"Aku tak butuh permintaan bantuanmu. Aku hanya ingin menghajar orang yang telah membuatmu babak belur seperti itu!" Alaude membalikkan tubuhnya dan menatap Hibari tajam.

"Aku bukan herbivore!"

Tsuna keringat dingin. Orang yang telah membuat Hibari babak belur? Giotto-nii? Jadi Hibari-anii mencari Giotto? Untunglah Giotto sedang tidak di kelas ini…

"Mencari siapa?" Tsuna tertegun. Baru saja Ia bersyukur, orang yang bersangkutan datang. Giotto-nii bodoohh! Pakai acara datang lagi!

"Jadi kau yang bernama Sawada Ieyasu?" Alaude memperhatikan Giotto dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Kau kalah dari orang ini, Kyouya?" ujar Alaude sedikit menyindir.

Hibari membuang muka kesal. Ia segera beranjak dari tempat itu, menyilakan sang kakak berbuat semaunya. "Tapi jangan di sekolah! Atau kamikorosu!"

Alaude mengangguk sekali. Ia kembali menatap Giotto tanpa rasa takut. Adiknya yang kuat itu sampai kalah dari orang ini? Konyol sekali!

"Ada perlu apa denganku?" dengan santai, Giotto membalas tatapan Alaude.

"Membalas semua pukulanmu pada Kyouya!"

"Gawat. Akan ada pertumpahan darah lagi nih." Gumam Gokudera.

Tsuna terhenyak. Gawat! Masalah jadi semakin gawat! Beruntung bel pulang berbunyi hingga suasana mencekam itu berubah cair. Sedikit. Karena mereka langsung lari berhamburan ke luar kelas. Takut kena batunya.

Tinggallah Tsuna dan Gokudera di dalam kelas itu. Plus Alaude dan Giotto yang saling tatap menatap tanpa berkata apapun.

"Juudaime, ayo pulang." Ajak Gokudera. Namun Tsuna menggeleng dan mempersilakan Gokudera untuk pulang duluan. Gokudera hanya mengangkat sebelah alisnya sebelum mengangguk dan berjalan ke luar kelas seorang diri.

"Jadi kau bodyguard anak itu? Dia telah menyakiti Tsunayoshi!"

"Tapi tidak wajar seorang guru memukul muridnya sendiri!"

CLAK!

Alaude dengan mudah memelintir tangan Giotto yang lengah ke belakang dan memborgol kedua tangan Giotto. Seringai menyeramkan terlukis di wajah dingin Alaude. Tsuna bergidik. Seolah tertanam di tanah, Ia tak dapat bergerak. Bahkan sampai Alaude membawa Giotto keluar kelas.

"Hei, lepaskan! Kau mau bawa aku kemana?"

"Kau bisa lihat nanti, herbivore!"

Ketika suara mereka berdua menghilang, barulah Tsuna dapat menggerakkan tubuhnya. Ia langsung mengambil tas dan berhambur keluar, mencari sosok mereka berdua. Namun seperti terbawa angin, sosok mereka tak terlihat sama sekali.

"Giotto-niiiiI!" airmata Tsuna mengalir membasahi pipinya. Gara-gara diakah? Semua ini akibat melindungi dan membelanya? Tsuna jatuh terduduk sambil memeluk lututnya. Dibiarkannya airmata itu mengalir terus. Kemana Alaude akan membawa Giotto?

"Berisik, herbivore!"

Tsuna masih mematung meski Ia tau bahwa Hibari telah berdiri di depannya dengan membawa tonfanya. Ia juga tau jika Hibari datang tidak dengan tanpa alasan. Namun karena terpukul dan menyesal, Tsuna enggan bergerak sedikitpun.

"Hmm. Sepertinya Alaude telah membawanya. Berdoa saja, herbivore. Orang itu tak tanggung-tanggung."

Tsuna masih diam meski Ia mendengarkan setiap perkataan Hibari. Merasa perkataannya tak digubris, Hibari mempersempit ruang gerak Tsuna dengan kedua tangannya. "Tatap aku, Sawada Tsunayoshi!"

Terpaksa, Tsuna mengangkat kepalanya dan menatap Hibari lemah. Airmatanya masih mengalir dengan nafas sedikit tersengal karena menangis. Melihat hal itu, Hibari terdiam.

"Herbivore!" Tsuna setengah terkejut mendengar bentakan Hibari. Merasa hidupnya telah di ujung tanduk, Tsuna dengan gemetar memejamkan matanya erat-erat. Pasrah karena ia tak punya tenaga lagi untuk melawan.

"Ah?" namun hajaran tonfa Hibari tak kunjung Ia rasakan. Yang Ia rasakan justru sebuah tangan milik Hibari melingkar di pinggangnya dan mendekatkan tubuh Tsuna di dadanya. Apa-apaan ini?

"Jadilah milikku, herbivore." Suara bentakan itu berubah menjadi suara yang lembut di telinga Tsuna. Apa? Baru saja Tsuna mengalami gangguan pendengaran? Hibari Kyouya… menyatakan cintanya?

"A-Ah?" hal aneh apalagi ini?

V v v v V

TBC

Yay. Kelar juga nih chapter. Ayo ayoo. Apa yang terjadi pada Giotto? Jadi AG lho. Hhohoho.

Tsuna : spoileerrr!

Aru : muka lu iler! Suka suka dong.

Giotto : author, ini apa maksud inii! Chapter depan kagak mau ikutaaan! –kabur ke sungai Nil-

Aru : heh tokoh utama jangan kabur lu! Alaude, tangkap herbivore itu!

Alaude : …..

Aru : Alaude?

Alaude : idem.

Aru : hah? Mendem?

Tsuna : Heaaahh! –hajar author pake palu besar Reborn-. Author sinting!

Makasih telah membaca chapter ini, minna-sama. Mohon reviewnya ya. ^^

Aru : seka…rat..gue….