Don't Know Why

by

N-Yera48

Main Cast(s) :

Min Yoon Gi

Park Ji Min

Other Cast(s) :

BTS Member(s), EXO Member(s)

Rate T

Genre :

Romance, Drama, Married-life

Summary :

Yoongi tidak tahu mengapa ia membeku melihat seseorang di altar sana. Yoongi tidak tahu mengapa ia bisa berada di altar sekarang. Dan Yoongi tidak tahu mengapa ia mengeluarkan dua kata "Saya bersedia." dari mulutnya. Yoongi tidak tahu mengapa. Semuanya terjadi begitu saja.

WARNING!

Shounen-ai/BL/Boys Love

Don't Like, Don't Read

It's so simple, right?

.

Previous Chapter :

Seorang pria tinggi yang memakai mantel menampakkan dirinya dari balik pintu. Sepertinya hendak pergi, terbukti dari ia mengunci pintu apartemennya. Namun sepertinya ia belum menyadari keberadaan Yoongi.

"Halo, Anda baru pindah kah?" Yoongi membungkuk dan menyapa pria itu dengan sopan.

Ia mulai menyadari kehadiran Yoongi dan mulai memperhatikan Yoongi yang baru saja menyapanya. "Lho? Kamu kan––"

"Ya?"

.

.

.

© N-Yera48

.

.

.

"Kamu kan yang hampir menabrakku di kampus kemarin." Yoongi bingung dengan maksud pria didepannya ini. "Maaf, maksud Anda apa?"

"Oh, mungkin kamu tidak ingat karena sedang buru-buru."

Yoongi membulatkan mata sipitnya begitu mengingat kejadian dimana ia hampir menabrak seseorang di koridor kampus.

"Ah! Jadi Anda yang hampir saya tabrak? Saya minta maaf." Yoongi membungkukkan badannya dalam.

"Hei. Tidak apa-apa kok. Dan jangan terlalu formal padaku. Aku jadi merasa tua." Pria itu mengusap tengkuknya canggung. Sedari tadi ia merasa Yoongi bersikap terlalu formal kepadanya.

"Sekali lagi maaf. Dan perkenalkan, namaku Min Yoongi." Yoongi kembali membungkukkan badannya meski tak serendah sebelumnya.

"Aku Kim Seokjin. Salam kenal, Yoongi-ssi." Seokjin ikut membungkukkan sedikit badannya. "Yoongi-ssi, kau baru pindah kesini juga?"

"Tidak, kok. Aku sudah satu tahun lebih tinggal disini. Tapi, hari ini aku akan pindah ke apartemen baru."

"Sayang sekali ya. Aku baru pindah kesini kemarin sore tapi kau akan pindah ke tempat lain. Boleh aku membantumu membawakan barang-barangmu?" Seokjin menawarkan bantuan setelah melihat sekitar 3 kotak berada di depan pintu apartemen Yoongi.

"Ah, tak apa-apa kok. Aku bisa—"

"Yoongi Hyung, ayo bergegas. Hari semakin sore." Jimin tiba-tiba muncul dari belakang Yoongi.

"Seokjin-ssi, maaf. Kami harus buru-buru. Sampai jumpa lain kali." Yoongi mengangkat salah satu kotak menyisakan dua kotak tak terlalu besar. Yoongi membungkukkan sedikit badannya ke arah Seokjin, berpamitan.

Jimin mengangkat dua kotak lainnya dan ikut membungkukkan sedikit badannya ke Seokjin. Namun, pandangan yang dilayangkan Jimin ke arah Seokjin sebelum menyusul Yoongi menuruni tangga sungguh aneh.

Seokjin mengernyitkan alisnya bingung. 'Dia kenapa?'

Dari atas balkon, Seokjin melihat mereka memasukkan kotak-kotak itu ke dalam bagasi kemudian mereka berdua memasuki mobil dan berlalu menjauhi apartemen.

'Min Yoongi yang manis.' Ia tersenyum seraya melihat mobil yang menghilang di belokan jalan. 'Tapi, pria yang bersamanya siapa ya? Dia seperti tak suka padaku.'

.

.

.

"Yoongi Hyung, pria tadi siapa?" Jimin mulai membuka suara selama perjalanan.

"Yang tadi di apartemen? Aku kurang tau siapa. Katanya dia baru pindah kemarin sore." Jimin hanya ber-oh singkat mendengar jawaban dari Yoongi.

Yoongi tidak terlalu ambil pusing atas pertanyaan Jimin barusan. Ia menyandarkan dirinya dan melihat keluar jendela. Hari sudah terlalu sore. Tak lama lagi malam akan datang. Yoongi menerawang, kira-kira bagaimana kehidupan baru yang akan dijalani bersama Jimin nantinya. Memikirkannya membuat dada Yoongi memberat karena detak jantungnya dan panas menjalar di sekitar pipinya.

Malam telah tiba. Mobil yang dikendarai Jimin memasuki suatu kawasan apartemen yang terlihat elit. Yoongi ber-wow ria melihat betapa megahnya bangunan apartemen ini. Sungguh berbanding terbalik dengan apartemen yang ditempatinya dulu. Jimin memarkirkan mobilnya di parkiran bawah tanah apartemen tersebut.

"Nah, Yoongi Hyung. Kita sudah sampai." Jimin menginterupsi keterpanaan Yoongi akan desain apartemen itu.

"A-ah, ya." Yoongi mengikuti Jimin keluar dari mobil. Yoongi melihat beberapa pria berjas –berpakaian layaknya pelayan– menghampiri mereka. Jimin terlihat mengatakan sesuatu pada mereka yang terdengar samar di telinga Yoongi. Para pria berjas tersebut kemudian mengeluarkan barang-barang berupa satu koper dan beberapa kotak kardus dari bagasi mobil Jimin kemudian membawanya.

Salah satu dari mereka menghampiri Yoongi. "Maaf, Tuan. Biar saya bawakan tas Anda."

"Tak apa-apa. Biar saya bawa sendiri." Tas ransel yang semula Yoongi tenteng langsung dipakainya.

"Ayo, Yoongi Hyung." Tangan kanan Jimin menggengam tangan kiri Yoongi dan menuntun untuk mengikutinya.

Mereka memasuki lift yang berbeda dengan yang dinaiki oleh para pria berjas –Yoongi menyebutnya seperti itu– dan Jimin menekan angka 8 menandakan apartemen yang akan mereka berdua tempati berada di lantai 8. Tangan masih bertautan membuat Yoongi menahan suatu gejolak dalam dirinya. Rasa canggung. Yoongi mencoba untuk terlihat biasa. Denting lift menandakan mereka sudah sampai. Jimin melepaskan tautan tangan mereka dan membuka pintu apartemen dengan menekan beberapa digit sandi. Setelah membuka pintu, orang-orang yang membawa barang-barang Yoongi tadi membawanya masuk –Jimin juga memasuki apartemen–.

Yoongi masih diluar, menunggu orang-orang tersebut keluar satu persatu dari apartemen. Mereka keluar seraya membungkuk dan Yoongi juga membungkuk sambil mengucapkan terima kasih.

"Lho? Yoongi Hyung kok belum masuk? Ayo, Hyung." Tangan Yoongi ditarik oleh Jimin, membawanya memasuki apartemen yang akan ditempatinya bersama Jimin.

.

.

.

Yoongi sedang memasak. Di kulkas sudah tersedia beberapa bahan makanan sehingga ia bisa memasak untuk makan malam. Yoongi tak menyangka apartemen ini sudah benar-benar siap ditempati. Semua sudah tersusun rapi pada tempatnya masing-masing, kecuali barang-barangnya di kamar yang belum dibereskan. Saat memasuki apartemen ini, ada sedikit lorong yang jika berjalan sedikit disebelah kanan akan terlihat ruang tamu dengan beberapa sofa serta sebuah televisi plasma didepannya Jangan lupakan beberapa hiasan yang menghiasi ruang tersebut. Kemudian terdapat pintu yang menuju balkon apartemen. Di sebelah kiri terlihat sebuah counter dapur yang luas dengan sebuah meja makan didepannya. Apartemen ini terdiri dari 2 kamar tidur yang letak kedua kamar bersebelahan namun berbeda ukuran. Kamar yang ditempati Yoongi dan Jimin lebih luas –memikirkan mereka akan sekamar membuat pipi Yoongi menghangat. Jangan lupa, Yoon. Kalian sudah menikah– serta mempunyai kamar mandi di dalamnya. Di sudut apartemen dekat dengan kamar tidur yang lainnya ternyata terdapat sebuah kamar mandi juga. Kurang mewah apalagi apartemen ini? Yoongi saja sampai menganga saat memasukinya tadi.

Saat Yoongi sedang mengatur meja makan, Jimin keluar dari kamar seraya mengusap rambut basahnya dengan handuk kecil –baru selesai mandi–. "Yoongi Hyung memasak apa?"

"Jimin-ah, ayo kita makan malam. Aku memasak seadanya, ku harap kau menyukainya." Yoongi melayangkan senyum manisnya ke arah Jimin. Jimin diam terpesona untuk beberapa detik. Ya, hanya beberapa detik karena ia dengan cepat menyadarkan dirinya.

"Apapun yang Yoongi Hyung masak pasti aku menyukainya kok." Jimin membalas senyum Yoongi dan segera duduk di kursi, lupa telah membuat seseorang didepannya juga terpesona akan senyumnya. Makan malam berlalu tanpa sepatah kata pun dari keduanya.

.

.

.

Yoongi selesai berbenah. Ia telah mengatur barang-barangnya pada tempat masing-masing, dibantu Jimin tentu saja.

Yoongi meregangkan badannya sebentar, "Akhirnya selesai juga. Jimin, aku mandi dulu ya." Ia pun berlalu ke kamar mandi yang terletak disudut kamar mereka.

Jimin tersenyum melihat Yoongi yang menghilang di balik pintu. Ia senang kecanggungan yang terjadi diantara mereka perlahan mencair. Jimin kemudian membaringkan dirinya di atas ranjang dengan menumpukan satu lengan di atas dahinya. Selang beberapa menit kemudian, Yoongi keluar dari kamar mandi dengan piyama biru tua yang melekat di tubuhnya. Melihat Jimin yang telah berbaring, Yoongi mengambil posisi di samping Jimin berniat tidur –ia kira Jimin telah tidur–.

"Yoongi Hyung." Jimin yang merasa pergerakan disampingnya mendudukkan dirinya, menggeser tubuhnya agar berhadapan dengan Yoongi.

Yoongi tidak jadi membaringkan tubuhnya dan duduk bersila menghadap Jimin. "Ya, ada apa Jimin? Kau perlu sesuatu kah? Atau kau harus minum susu sebelum tidur seperti Kookie? Aku buatkan kalau begitu. Kekeke."

Lagi. Jimin terpana akan Yoongi padahal Yoongi hanya terkekeh biasa. Namun terlihat sangat manis di mata Jimin. "Bu-bukan, bukan itu, Ada yang ingin ku tanyakan."

"Aku tadi cuma bercanda kok. Apa yang ingin kau tanyakan?"

"Yoongi Hyung tidak menyesal menikah denganku kan?"

Yoongi mematung. Ini kali kedua Jimin menanyakan pertanyaan yang sama. Jika kemarin Yoongi bisa berpura-pura tertidur, kali ini tidak. Kedua kristal didepannya sedang mencoba menyelam ke dalam kristal miliknya sehingga tak ada celah untuknya berpaling. Yoongi melakukan hal yang sama sebelum menjawab pertanyaan Jimin, yaitu ikut menyelam ke dalam mata itu. Mata yang terlihat jelas menyiratkan bahwa pemiliknya menaruh suatu harapan pada Yoongi. Selang beberapa lama, Yoongi menutup matanya –memutuskan kontak pertama kali– seraya menghela napas.

"Jimin-ah, aku tidak menyesal menikah denganmu."

"Kau yakin, Hyung?"

"Ya." Setelah jawaban singkat dari Yoongi, keduanya sama-sama diam. Menelusuri mata masing-masing untuk sesaat dan mengalihkan pandangan ke objek lain setelahnya. Yoongi tidak berbohong. Ia memang tidak menyesal menikah dengan Jimin, walau ia sedikit bingung sih. Wajar saja dia bingung dengan pernikahan yang mendadak begini.

"Yoongi Hyung."

"Ya?"

Dan pada saat Yoongi mengembalikan fokus pandang pada sosok di depannya, ia melihat wajah Jimin yang mendekati wajahnya dengan mata yang mengunci. Yoongi tercekat. Namun saat hidung mereka mulai bersentuhan, Jimin berhenti– "Aku mencintaimu, Yoongi Hyung." –hanya sesaat. Karena setelahnya Jimin kembali mendekat seraya memiringkan kepala dan menutup matanya, meraih bibir tipis Yoongi. Yoongi membeku dengan mata yang masih terbuka.

Mata Yoongi refleks menutup saat Jimin mulai mengerakkan bibirnya di atas permukaan bibir Yoongi. Mulai dari mengecup, menghisap, melumat, serta menggigit-gigit kecil bibir Yoongi. Yoongi merasa persendiannya semakin melemas saat Jimin mulai menjilati bibirnya –bermain diantara belahan bibir tipisnya–, mencoba menelisik lebih dalam kembang gula itu. Yoongi hanya bisa meremas seprei dikedua sisi tubuhnya. Membiarkan Jimin menciumnya lebih dalam tanpa membalas perlakuan Jimin tersebut. Bukannya Yoongi tidak bisa membalasnya, namun perlakuan lembut Jimin terhadap bibirnya membuatnya lupa cara bergerak dengan baik.

Jimin mabuk dengan rasa bibir Yoongi sampai ia lupa bahwa napas Yoongi mulai memendek. Ia baru tersadar saat tangan Yoongi meremas lengan atasnya. Jimin melepaskan bibir Yoongi kemudian menyandarkan kepalanya pada pundak kiri Yoongi, menghadap leher putih milik pasangan hidupnya. Yoongi terengah-engah setelah Jimin melepaskan tautan mereka, meraup oksigen sebanyak yang ia bisa. Hembusan napas Jimin terasa dengan jelas di permukaan lehernya. Keduanya tidak lama bertahan dengan posisi tersebut karena Yoongi kembali tercekat saat Jimin mulai mengecup lehernya. Yoongi menutup mata dan mulutnya rapat-rapat saat Jimin menggerakkan bibirnya di sana. Menahan gejolak dalam dirinya untuk tidak mengeluarkan suara apa pun. Jimin yang masih pada kegiatannya di leher Yoongi membaringkan Yoongi dengan perlahan.

"Akh!" Runtuh sudah pertahanan Yoongi untuk tidak bersuara saat Jimin mulai menggigit lehernya. Entah sejak kapan dua kancing teratas piyama yang Yoongi kenakan sudah terbuka, membuat Jimin bisa menuruni leher Yoongi menuju ke pundaknya. Namun gerakan Jimin terhenti tepat di pundak yang akan disentuh itu. Jimin merasakan tubuh Yoongi bergetar –gemetaran–. Sejak kapan? Mengapa ia baru menyadarinya? Jimin mengangkat diri dari pundak mulus itu, mencoba melihat keadaan Yoongi. Hatinya mencelos melihat Yoongi dengan mata menutup rapat serta menggigit bibir bawahnya yang sedikit membengkak karena perlakuannya terhadap gula itu beberapa saat yang lalu. Wajahnya terlihat merona di temaramnya lampu meja, serta di sudut matanya terdapat setitik air mata yang siap mengalir kapan saja. Oh, jangan lupakan tubuh mungilnya yang masih bergetar dengan kedua tangan menggenggam erat sprei. Jimin tersadar, ia hampir melukai orang yang begitu dicintainya ini.

'Bodoh!' Umpat Jimin untuk dirinya sendiri.

"Y-Yoongi Hyung, maaf."

Yoongi tersentak membuka matanya mendengar penuturan lemah Jimin yang menurutnya tiba-tiba. 'A-ada apa?' Batin Yoongi.

Jimin beranjak dari posisinya yang semula berada di atas Yoongi menjadi duduk di pinggir ranjang, membelakangi Yoongi. Yoongi heran dengan perubahan sikap Jimin ini. Ia juga mendudukkan dirinya seraya menaikkan piyama yang tadinya sempat mengekspos bahunya.

"Maaf, Hyung. A-aku akan menunggumu sampai siap. Aku tak akan memaksamu untuk melakukan itu. Aku akan menunggu sampai kau benar-benar sudah siap. Sekali lagi, maaf." Jimin menundukkan kepalanya. Ah, jadi ini alasan Jimin tiba-tiba seperti ini. Ia menangkap ketidaksiapan dalam diri Yoongi.

"Maaf, Jimin-ah." Yoongi juga menunduk, merasa bersalah.

"Tak apa, Hyung. Yoongi Hyung tak perlu meminta maaf. Aku juga akan menunggu sampai Yoongi Hyung mengatakan… bahwa Hyung juga mencintaiku."

Terdiam. Yoongi tak tau harus mengatakan apa. Sampai kata 'mengapa' mencuat di pikirannya. "Eum, Jimin-ah. Ada yang ingin ku tanyakan juga padamu. Kenapa kau menikahiku? Ah, tidak… Kenapa kau bisa mengenalku? Kita belum pernah betegur sapa sebelumnya. Itu terus mengganjal di pikiranku sejak kemarin."

Jimin kembali menghadap Yoongi, "Baiklah, Hyung. Akan ku ceritakan."

.

.

Flashback 5 tahun yang lalu…

Jimin's POV

Hari ini aku bermain bersama anak-anak panti asuhan di taman, seperti biasanya. Aku sudah menganggap mereka semua seperti adikku sendiri.

"Jimin Oppa, terima kasih cokelatnya. Yein suka."

Ku usap sayang kepala Yein –salah satu anak panti asuhan– yang masih berumur 8 tahun. "Sama-sama, Yein."

Aku melirik sekilas ke arah ayunan yang berada lumayan jauh dari tempat kami. Ternyata benar dugaanku, dia ada di sana. Seorang anak laki-laki dengan kulit seputih susu dan bersurai kecoklatan. Sebenarnya aku tidak tahu siapa dia, tapi aku sering melihatnya duduk disana sambil melihat ke arah kami. Apa dia ingin bergabung bersama kami ya? Entahlah. Pernah saat aku akan menghampirinya beberapa hari yang lalu, dia malah keburu pergi –seperti tau bahwa aku berjalan ke arahnya–.

"Jimin-ah!" Terdengar suara seseorang memanggilku.

"Eoh? Chanyeol Hyung! Jongin-ah! Ayo ke sini!" Ah, ternyata Chanyeol Hyung datang bersama Jongin. Omong-omong, Chanyeol Hyung itu sepupuku dan Jongin itu teman sekelasku di sekolah. Katanya hari ini mereka akan pergi ke taman dan ternyata memang benar. Saat Chanyeol Hyung dan Jongin melangkah ke arahku, ku sempatkan diri melirik sekilas ke arah ayunan. Dia masih di sana, belum beranjak.

.

.

Ban sepedaku bocor dan belum sempat ku bawa ke bengkel. Jadi hari ini aku naik bus ke sekolah. Saat akan duduk, aku melihatnya. Dia yang sering di ayunan taman, sekarang berada di dalam bus yang sama denganku. Mata kami sempat beradu beberapa detik sampai ia mengalihkan pandangannya dan aku menduduki kursi kosong yang berada tepat didepannya. Saat mata kami bertemu tadi, kenapa aku jadi berdebar-debar ya?

Bus berhenti di halte dekat sekolahku. Saat akan turun bersama beberapa orang lainnya, aku sempat melirik name tag di seragam sekolahnya. Disana tertera, 'Min Yoon Gi'.

.

.

Seperti hari-hari sebelumnya, dia juga berada di ayunan. Tapi kali ini dia tidak sendiri, ada seorang anak laki-laki bersurai hitam yang menemaninya. Temannya? Atau mungkin adiknya? Kok aku jadi penasaran begini ya? Entah apa yang mereka bicarakan sampai-sampai Yoongi –ehem, aku sudah tau namanya– mencubit pipi si anak bersurai hitam. Cubitannya terlihat seperti kegemasan seorang kakak terhadap adiknya. Kekeke, mereka lucu sekali. Semoga mereka memang kakak beradik. Eh? Apa yang ku pikirkan? Beberapa saat kemudian, aku melihat Yoongi mengejar anak itu yang sudah berlari duluan dengan wajah yang merengut kesal. Ekspresi wajahnya terlihat menggemaskan di mataku. Sepertinya aku harus berterima kasih kepada si surai hitam karena membuat Yoongi lebih ekspresif dari sebelumnya yang hanya berdiam diri di ayunan.

.

.

Aku sudah memantapkan hatiku untuk berkenalan secara resmi dengan Yoongi. Aku ingin sekali mendengar suaranya. Membicarakan banyak hal dengannya pasti akan sangat menyenangkan. Jujur, setelah mengetahui namanya aku terus memikirkannya. Namun kekecewaan harus melandaku. Selama beberapa hari aku menunggunya, Yoongi tidak pernah muncul lagi di taman. Sampai hari terakhir aku berada di Daegu sebelum pindah ke Seoul, aku masih menunggunya datang ke taman. Tapi, Yoongi tetap tidak datang. Aku bersama keluargaku pun pindah ke Seoul dengan perasaan kecewa yang bersemayam di hatiku. Tetapi, Yoongi. Setelah aku dewasa nanti, aku akan mencarimu kembali. Memang aku bukan siapa-siapamu. Walau pun begitu, aku harap kau mau menungguku. Karena harus ku akui, aku.. jatuh cinta padamu. Aku telah jatuh dalam pesonamu, Yoongi.

.

.

.

Flashback and Jimin's POV, end.

.

.

.

Yoongi merasa darah mengalir berkumpul di kedua pipinya. Panas. Pipi Yoongi terbakar rasanya. Ia tak menyangka ternyata selama ini Jimin memikirkannya. Dulu Yoongi kira ia hanya seorang 'secret admirer' dari seorang laki-laki bernama Jimin yang bahkan ia tak tahu marganya.

"Ji-Jimin, saat aku tidak ke taman dalam waktu yang lama, sepertinya saat itu aku sedang persiapan untuk ujian akhir."

"Dulu aku tidak tahu kau satu tahun di atasku, Hyung. Ku kira kita sebaya atau mungkin kau setahun di bawahku. Jadi aku tidak kepikiran Hyung sedang persiapan ujian akhir. Hehe."

"Baiklah, tapi aku punya pertanyaan lagi. Bagaimana bisa kau menemukanku setelah 5 tahun dan kemudian–"

Jeda. Yoongi mengambil napas sejenak, "–melamarku?"

"Aku kembali ke Daegu hanya untuk mencarimu. Aku bertemu dengan Jungkook saat ia sedang dalam perjalanan pulang ke rumah dari sekolah. Aku masih lumayan mengingat wajahnya saat kalian ke taman dulu. Awalnya aku heran kenapa dia bisa mengenalku saat aku mengenalkan diri padanya, kemudian dia mengatakan Yoongi Hyung pernah bercerita padanya bahwa aku adalah cinta pertamamu."

Yoongi memilih diam mendengar jawaban Jimin. Yoongi heran pada adiknya yang mudah sekali terbuka pada orang asing. Untung saja yang ditemuinya saat itu Jimin. Bukan orang asing yang bermaksud jahat padanya.

"Aku tau banyak hal tentangmu dari adikmu Jungkook. Aku sempat kaget saat tahu Yoongi Hyung ternyata lebih tua dariku. Hyung terlihat lebih muda sih. Aku sangat senang saat menemui orang tuamu yang ternyata menerima lamaranku. Ini berkat Jungkook. Dia telah berbicara dengan orang tuamu terlebih dahulu. Oh, ya. Yoongi Hyung pasti penasaran kenapa pernikahan kita dirahasiakan. Ini semua idenya Jungkook. Awalnya aku tidak setuju, takut Hyung akan menolakku. Tapi dia berhasil meyakinkanku bahwa Yoongi Hyung pasti akan menerimaku."

Entah kenapa mendengar cerita Jimin membuat Yoongi ingin mencubit pipi Jungkook hingga membengkak sangking gemasnya dengan apa yang telah dilakukan adiknya itu.

"Aku sangat senang ternyata Yoongi Hyung memang menerimaku. Dan Hyung harus tau bahwa suaramu yang pertama kali ku dengar adalah saat Yoongi Hyung mengucapkan 'Saya bersedia'. Pada saat itu untuk sesaat rasanya aku seperti tidak berpijak pada bumi. Aku sengaja mencarimu sekarang karena aku tidak mau saat aku menemuimu nanti, Yoongi Hyung telah menjadi milik orang lain."

Seseorang, tolong Yoongi. Kali ini tidak hanya pipinya yang terasa terbakar. Tapi seluruh wajahnya hingga ke telinga. Kata-kata Jimin yang mungkin gombal terdengar manis di telinga Yoongi hingga membuat jantungnya menggila dan lidahnya kaku untuk bersuara. Sepertinya Yoongi memang masih mencintai Jimin.

"Yoongi Hyung, bolehkah aku memelukmu dalam tidurku malam ini?"

Tanpa bersuara, Yoongi menganggukkan kepalanya –memberi jawaban positif atas pertanyaan Jimin. Jimin pun merengkuh Yoongi dalam pelukannya seraya membaringkan tubuh mereka di ranjang. Jimin dan Yoongi mencoba mengarungi alam mimpi di tengah detak jantung yang saling beradu kecepatan.

Tetapi, Jimin. Tidakkah kau melupakan suatu hal dalam ceritamu tadi?

.

.

.

TBC

.

Maafkan keterlambatan yang sangat atas fanfic ini. Berharap masih ada yang mengingatnya. ;;A;; Setengah abad belakangan saya dilanda writer's block. Dan rasanya itu susah dijelaskan. Oh, ya. Terima kasih kepada–

diyahpark1004, siscaMinstalove, tifagyeomi97, FyRraiy, MykyungieLuvjonginie, GitARMY, TaeYoonMin, eunhaezha, Lucky Miku, Ch-channie4ever, chriseume, Yeri LiXiu, BangMinKi, Lee Shikuni, hosigie, Phylindan, naranari part II, VampireDPS, JEYMINT, Mala, Elsa Mandira siCupidnya YoonMin, Kidkiddo, jirin, shinrara, MinJiSu, minkook94, chimscheeks, Kyuminsimple0713, ameliariska330, Firda722,

–yang telah mereview di chapter 3. Juga kepada yang telah memfollow dan memfavorite fanfic ini serta yang telah bersedia membacanya. Silahkan mengisi kotak review karena fanfic ini masih memerlukan banyak saran.

Terimakasih~^^