Naruto milik Masashi Kishimoto, saya cuman minjem karakter2nya tanpa mengambil keuntungan apa2 kecuali untuk membuat saya dan yang baca fic ini ngerasa senang ;D

A/N :

Untuk Freeya Lawliet. Happy Our 1st Anniversary, Dear! Maaf telat*pundung*


Seakan telah terjalin semacam ikatan batin di antara Iruka dan Hinata, sehingga tak perlu lagi berbicara satu sama lain untuk saling mengetahui pikiran masing-masing. Sejak insiden pingsannya Hinata di depan Iruka, senpai dan kohai itu seperti tak saling mengenal satu sama lain. Hingga akhir minggu menjelang, mereka berusaha untuk tidak bertemu. Bahkan jika kebetulan berpapasan, mereka saling membuang muka.

Kehidupan anak SMA pun tak ubahnya dunia mode. Trend berganti dengan cepat. Hanya dalam beberapa hari, popularitas Iruka memudar. Karin juga sudah tak lagi berusaha mendekati Iruka. Konon ia kini mendekati Mizuki yang baru saja terpilih menjadi semifinalis dalam ajang pemilihan cover boy sebuah majalah remaja yang tak pernah Iruka—mau pun sebagian siswa lainnya—dengar namanya sebelumnya. Tapi yah, setidaknya Iruka sudah mulai merasakan lagi sedikit ketenangan hidup.

Apalagi akhir-akhir ini Kakashi sudah tak pernah lagi mengganggu Iruka. Pemuda itu tampaknya menutup diri terhadap Iruka. Setiap kali Iruka hendak menghubungi lewat telepon, Kakashi tak pernah menjawab. Bahkan kini Ibu Iruka yang bertugas mengantar ke dan menjemput dari anak tunggalnya itu.

Iruka sebenarnya ingin tahu ada apa gerangan dengan Kakashi, kekasihnya yang mesum itu. Namun mengingat pelecehan yang ia alami di kamar Kakashi, Iruka jadi berpikir seribu kali untuk menemui Kakashi. Yah, mungkin ia akan menemuinya, tapi tidak sendirian. Barangkali Iruka akan mengajak ayah atau ibunya agar Kakashi tak berbuat macam-macam lagi.

Pagi itu seharusnya menjadi kelas Jiraiya-sensei. Namun pria berambut putih dan panjang itu belum juga menunjukkan batang hidungnya walaupun kelas seharusnya sudah dimulai sejak lebih dari satu jam yang lalu. Maka tak perlu heran jika kegaduhan mengisi kelas yang biasanya tertib tersebut. Para murid sibuk dengan berbagai macam 'kegiatan', kecuali belajar. Iruka sendiri hanya duduk di bangkunya, memandang ke luar jendela dan melihat pemandangan yang 'menarik'.

Saat itu adalah jam pelajaran olahraga untuk kelas Hinata. Iruka bisa melihat gadis pemalu itu sedang bermain voli bersama kawan-kawannya. Hinata tampak agak kepayahan karena harus bergerak dengan cepat dan gesit. Wajahnya yang putih kini memerah, membuatnya tampak—menurut Iruka—seperti buah apel yang ranum.

Cantik, puji Iruka dalam hati. Tanpa sadar ia tersenyum selama menyaksikan permainan Hinata dan kawan-kawannya.***


Pengambilan nilai hari ini selesai. Hinata bersama teman-teman sekelasnya membereskan peralatan dan perlengkapan yang telah mereka gunakan untuk disimpan di gudang. Sakura dan Ino serta teman-teman yang lain sudah berjalan lebih dulu, sementara Hinata agak tertinggal di belakang.

Saat hendak memasuki koridor sekolah, Hinata melihat dua orang senpai yang tak ia kenal. Hinata merasa biasa saja, sama sekali tak merasa heran melihat dua orang siswa berkeliaran pada jam pelajaran.

Namun, pada saat Hinata dan kedua senpai itu nyaris berpapasan, tangan mereka terjulur dan tepat menyentuh dada Hinata. Hinata terkejut, tak sempat mengelak karena kejadiannya sangat cepat. Tapi, bukan berarti ia tak terganggu oleh ulah kedua orang siswa tersebut.

"Aku pegang yang kanan!" seru siswa pertama.

"Yang kiri lebih besar, loh," sambung siswa kedua.

Mereka tertawa, seolah-olah perbuatan mereka dapat dibanggakan. Kurang ajar.

Sementara Hinata, yang mulai terlepas dari keterkejutan yang ia alami, mulai menitikkan air mata. Ia merasa sangat malu dan sangat marah, namun tak dapat berbuat apa-apa selain berlari meninggalkan kedua siswa nakal tersebut. Memberitahukan pada guru mengenai ulah para senpai tak tahu aturan tersebut barangkali adalah langkah yang lebih bijaksana.

Hinata belum juga mencapai setengah dari panjang koridor saat ia mendengar teriakan salah seorang dari dua siswa yang sudah melecehkan dirinya tersebut. Teriakan orang yang kesakitan, yang semakin jelas terdengar di tengah koridor yang sunyi. Hinata sampai nyaris tergoda untuk menoleh agar dapat mengetahui apa yang telah terjadi.

Hinata baru benar-benar menoleh pada saat salah seorang siswa nakal itu berteriak, "tenanglah, Iruka! Kami hanya bercanda!"

Iruka?

Demi mendengar nama tersebut, Hinata akhirnya menoleh juga. Ia melihat siswa pertama yang melecehkan dirinya tengah bersandar di dinding sambil memegang pipinya. Sedangkan Iruka—si peninju siswa tersebut—menyarangkan satu pukulan lagi ke perut siswa kedua.

Perkelahian tak seimbang antara Iruka dan kedua siswa nakal tersebut akhirnya terjadi. Hinata terpaku, menyaksikan kejadian yang sulit dipercaya bahwa dapat dimulai oleh Iruka tersebut. Iruka tampak kewalahan meskipun telah berusaha sekuatnya.

Bel berbunyi, memuntahkan seluruh isi kelas. Sejumlah guru akhirnya mendekat dan melerai perkelahian tersebut, disaksikan oleh banyak murid yang sebagian besar bersorak seolah-olah perkelahian adalah hiburan yang menyenangkan.

Hinata masih terpaku di tempatnya, berdiri di antara kerumunan siswa yang penasaran. Saat Iruka—bersama dua orang lawannya—dibawa ke ruang guru, ia dan Hinata sempat—walaupun hanya sepersekian detik—saling menatap. Walaupun tak tahu apa yang Iruka pikirkan saat itu, Hinata tiba-tiba merasa bersalah.***


Obito dan Ibu Iruka duduk di depan TV yang tak menyala, tampak asyik mendiskusikan berbagai jenis tanaman, termasuk soal tekstur tanah seperti apa yang cocok bagi tanaman apa. Kakashi—sambil bersandar pada lemari es—hanya memandang keakraban dua manusia berbeda usia yang baru sekali itu bertemu dengan sedikit heran.

Obito seperti sedang pendekatan dengan calon mertua saja, pikir Kakashi, mengejek dalam hati.

"Ehm."

Kakashi menoleh. Tentu saja ia tidak melupakan keberadaan Iruka yang sedang duduk di dekatnya. Sambil tersenyum, Kakashi menyodorkan sekaleng jus nenas dingin—satu-satunya minuman yang dapat dikonsumsi oleh Iruka—pada remaja itu.

"Terima kasih," kata Iruka. Ia langsung menenggak isi kaleng hingga tersisa setengahnya.

Kakashi mengamati kondisi Iruka yang menurutnya memprihatinkan. Mata kanan Iruka bengkak, sementara yang kiri biru lebam. Bibirnya pecah, menyebabkan ia sedikit meringis pada saat menyentuh tepi kaleng. Kakashi juga yakin, pipi Iruka 'bertambah menjadi empat' akibat dihajar oleh dua orang sekaligus.

Jika saja Iruka tidak dikenakan skorsing selama seminggu karena berkelahi di sekolah, ia tak akan punya waktu untuk mengunjungi Kakashi pada siang bolong begini. Mengenai perkelahian spontan tersebut, tampaknya orang tua Iruka tak terlalu mempermasalahkannya. Bukankah berkelahi demi kehormatan seorang wanita adalah perbuatan yang mulia dan heroik?

"Jadi, orang tuamu mengira kau pacaran dengan anak pemalu itu dan sekarang ingin bertemu dengannya?" tanya Kakashi dengan santai.

"Yah, kalau kau mengira anakmu mengalami disorientasi seksual, maka kau akan sangat antusias saat menyadari bahwa anakmu itu masih memiliki ketertarikan pada lawan jenisnya, meskipun hanya sebatas dugaan," tutur Iruka, jauh lebih santai.

Kakashi tersentak, "mereka tahu soal kita?" Ia menoleh pada Ibu Iruka, agak lega karena ternyata wanita itu tak menyadari apa yang sedang putranya dan Kakashi bicarakan.

"Mereka sudah lama curiga, tapi tidak menyangka bahwa laki-laki itu adalah kau. Buktinya, mereka malah memintamu untuk mengawasi aku, 'kan?"

Lalu hening sesaat. Baik Iruka mau pun Kakashi saling menunggu, siapa yang lebih dulu berinisiatif membahas kelanjutan hubungan mereka. Ternyata, kini giliran Iruka untuk memulai.

"Jadi, sekarang kau bersama Obito?" tanya Iruka, merendahkan volume suaranya agar tak terdengar oleh ibunya.

Kakashi tak segera menjawab. Ia menoleh sekali lagi, memandang Obito yang kini bersemangat mengundang Ibu Iruka agar dapat ikut menikmati keindahan taman miliknya yang ia beri nama Zetsu. Kakashi membiarkan memori memalukan di benaknya yang sebelumnya mengendap, kembali mengambang.

"Sekarang katakan, apa yang terjadi semalam!" tuntut Kakashi. Ia melemparkan pakaian Obito pada pemiliknya, memaksa Obito mengakhiri sesi nudis-nya.

"Kau yang memanggilku lewat telepon, memintaku menemani 'tidur'-mu semalam," balas Obito seraya mengenakan celananya.

"Lalu?" Kakashi bertanya masih dengan garang.

"Yang kutemukan hanya pria bodoh. Bugil tapi tetap mengenakan masker, memaksaku melepaskan pakaian. Kupikir kau sudah siap, tapi ternyata kau bergerak seperti cacing menari striptease lalu…."

"Lalu apa?" desak Kakashi, kali ini dengan nada lebih lunak dan mulai waswas.

Obito membuang muka, "kau melakukan sesuatu yang membuatku malas melakukannya. Berjoget di depanku sambil mengayunkan 'itu'-mu di depan mataku. Mengingatnya saja sudah membuatku mual."

Iruka melongo mendengar cerita Kakashi, "kau yakin kau hanya mabuk chardonnay saat itu?"

Kakashi tak menjawab. Ia ingat, pagi itu, sesaat setelah Obito menceritakan kejadian malam sebelumnya, ia segera memeriksa koleksi minuman ayahnya. Saat itulah Kakashi menyadari bahwa ia sudah berbuat lancang terhadap barang milik ayahnya sendiri.

Kakashi bersyukur bahwa Iruka tampaknya tak mempermasalahkan ulahnya yang mengajak Obito 'bersenang-senang' itu. Namun, ada satu hal yang harus ia pastikan. Ia juga yakin, kedatangan Iruka ke tempatnya juga untuk memastikan hal yang sama.

"Jadi... tentang kita?" tanya Kakashi. Ia merasa tak perlu menggunakan kalimat tanya yang lengkap, sebab Iruka pasti sudah memahaminya.

"Kurasa, kita memang lebih cocok menjadi teman, atau bahkan saudara. Hubungan selain dari yang kusebutkan, tidak akan berhasil," jawab Iruka ringan.

Kakashi tersenyum di balik maskernya. Ia sudah tahu—dan memang mengharapkan—jawaban itu keluar dari mulut Iruka. Lega juga rasanya.

"Dan aku punya satu permintaan," sambung Iruka, "foto yang waktu itu, sudah kau hapus? Aku tidak akan memaafkanmu kalau foto itu sampai tersebar."

"Aku sudah lama melenyapkannya. Mau memastikannya?"

Giliran Iruka yang tampak lega. Ia menggeleng dan berkata, "aku percaya padamu."

Kakashi tersenyum sekali lagi. Tak pernah mengira bahwa hubungan yang sudah berjalan cukup lama akhirnya usai dengan cara sesederhana ini. Penyelesaian yang terlalu sederhana untuk konflik di antara mereka yang sempat meruncing.

Dan Obito, dia masih setia menemani Ibu Iruka membahas berbagai topik. Tak terpengaruh oleh apa yang baru saja dibahas oleh Kakashi dan Iruka.***


Hinata sebenarnya merasa heran sekaligus takjub. Sebab, hingga saat ini, rahasia mengenai Paradise Shoppe masih tersimpan rapi. Walaupun dia dan Iruka sudah terdesak oleh rumor yang kembali berkembang, namun mereka berdua masih bisa menutup rapat mulut mereka. Rumor mengenai hubungan mereka boleh berkembang, namun fakta mengenai diri mereka harus tetap tertutup. Tak seorangpun boleh mengetahui hubungan Iruka dan kekasihnya yang bermasker itu, seperti tak seorangpun boleh menyadari hubungan Hinata dengan Paradise Shoppe...

Tapi... Hinata masih tetap merasa bersalah. Aneh, memang. Setelah serangkaian insiden tak terduga yang dialami oleh Iruka dan selalu berhubungan dengan Hinata, Iruka tampaknya berusaha agar orang-orang tak menghubung-hubungkan Hinata dan dirinya, demi menjaga agar rahasia mereka tak terungkap. Bukankah seharusnya Hinata senang karena Iruka menepati janjinya? Tapi, rasa bersalah-lah yang kini paling banyak menyembul dari dalam hati Hinata.

Aku seharusnya membesuk Iruka-senpai setelah apa yang ia lakukan untukku, pikir Hinata.

Tapi Hinata tak melakukannya karena satu alasan : tak menghendaki hubungan dengan segala hal yang dapat dirinya membuat dirinya tampak berkaitan dengan Paradise Shoppe. Berhubungan dengan Iruka berarti menguatkan dugaan bahwa Hinata dan Iruka memang dekat. Dan mengingat insiden Iruka yang ditangkap saat hendak memasuki Paradise Shoppe, Hinata harus lebih berhati-hati. Insiden tersebut ibarat ranjau darat yang akan meledak saat diinjak. Hinata hanya perlu berhati-hati agar tak menginjaknya. Cukup dengan menjaga jarak dengan Iruka, maka ranjau itu tak akan meledak.

Namun… jauh di lubuk hatinya, Hinata masih merasa bersalah. Dengan canggung ia menolak ajakan Sakura dan Ino untuk membesuk Iruka yang mungkin masih terkurung di kamarnya akibat luka-luka yang ia derita. Semata demi menjaga rahasia hubungan Paradise Shoppe dengan diri Hinata. Egois, namun Hinata berusaha meyakinkan diri bahwa itulah yang terbaik. Tidak hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi diri Iruka.

"Hinata-chan! Tolong bantu aku! Ada pelanggan yang mencari Viagra!"

Teriakan Neji dari lantai bawah sontak membuat wajah Hinata memerah dan menerbangkan lamunannya entah ke mana. Bukan karena terkejut, melainkan kata terakhir yang diucapkan oleh Neji. Bisa ditebak, Hinata akan berhadapan dengan seorang pria tak percaya diri atau justru terlalu percaya diri dengan kemampuan dirinya.

Tebakan Hinata yang kedualah yang benar. Ia segera bertemu dengan seorang pemuda berusia awal dua puluhan berambut berantakan yang dengan santai mengakui bahwa ia membutuhkan 'sesuatu' untuk memuaskan kekasihnya.

"Sebenarnya aku merasa tak perlu menggunakan obat-obatan. Tapi pacarku memaksa. Dia khawatir aku mengacaukan malam pertama kami. Padahal sebelumnya dia yang mengacaukan rencananya sendiri," oceh pelanggan tersebut, tak peduli bahwa wajah Hinata sudah memerah.

"Hei, berhenti mengatakan hal yang mempermalukan kita seperti itu!" sergah serang pemuda lain yang muncul di belakang si rambut berantakan.

Si rambut berantakan hanya tertawa sambil menoleh pada pemuda kedua. Hinata juga menoleh dan tersentak melihat kehadiran seorang pemuda bermasker yang Hinata kenali sebagai kekasih Iruka!

"Maaf ya, pacar baruku ini memang tidak punya rem di mulutnya," kata pemuda bermasker tersebut pada Hinata.

"Bukankah semua orang juga tidak memiliki rem di mulutnya," kelit si rambut berantakan.***


Kakashi mengabaikan ocehan Obito dan memandang anak pemalu yang tampak agak terkejut melihat kehadiran Kakashi. Kakashi sadar, anak pemalu itu pasti juga terkejut saat Kakashi menyebut Obito sebagai kekasihnya.

"Hinata, 'kan? Apa kabar?" sapa Kakashi diikuti senyuman yang membuat sepasang mata sayunya tampak seperti garis lengkung saja.

Hinata tak membalas sapaan Kakashi. Dari raut wajah Hinata, Kakashi bisa menebak bahwa gadis itu kebingungan.

"Aku sudah putus dengan senpai-mu itu. Biang kerok ini gantinya," jelas Kakashi sambil menunjuk Obito dengan ibu jarinya.

"Hei, kau…." Obito hendak protes, tapi Kakashi mendorong wajahnya hingga ia nyaris terjengkang.

Kakashi tak mengacuhkan Obito lagi. Ia memandang Hinata yang tertegun.

"Orang tuanya mau bertemu denganmu, lho," tambah Kakashi dengan nada jahil.

Hinata tampak semakin terkejut.***


"Silakan," kata Hinata usai menghidangkan minuman dan cemilan untuk Sakura dan Ino.

Namun kedua tamu sekaligus sahabat Hinata tersebut tak juga menyentuh suguhan dari Hinata. Sakura tampak gelisah dan Ino malah terlihat sedikit gusar.

"M-maaf... aku tidak pernah mengatakan alamatku yang sebenarnya pada kalian k-karena aku malu..." Hinata menundukkan kepala, tak berani memandang kedua sahabatnya. Wajahnya pun memerah.

Akhirnya, setelah cukup lama menolak, Hinata mengizinkan rumahnya untuk dijadikan tempat bagi kelompok mereka untuk mengerjakan tugas dari sekolah. Tapi tentu saja, namanya juga para gadis, sebelum mengerjakan tugas, mereka lebih suka ngobrol dulu, bukan? Apalagi saat ini ada topik menarik untuk dibahas. Paradise Shoppe.

"Ya ampun Hinata-chan! Kau pikir kami ini teman yang seperti apa sih? Masa' kau malu hanya karena keluargamu punya bisnis toko ini? Bagiku tidak masalah, kok," sergah Ino gusar.

Sakura melirik Ino dan berkata, "tapi di bawah tadi kau kelihatannya salah tingkah melihat peralatan aneh itu."

"Bukankah kau juga begitu?" tukas Ino, tak mau tampak lugu seorang diri.

Sakura hanya mendengus kesal. Sementara Hinata tersenyum geli. Saat ia turun ke bawah untuk menjemput Sakura dan Ino, Asuma dan Neji memang sempat menjahili kedua remaja itu dengan menunjukkan berbagai jenis vibrator, termasuk yang berbentuk lipstik. Reaksi kedua gadis remaja itu tentu saja sudah dapat diduga, namun tetap saja tampak menggelikan.

"A-aku minta maaf, teman-teman. Kupikir kalian akan menganggapku aneh jika tahu bahwa aku tinggal di atas toko seperti ini..." Hinata menunduk, tak berani memandang kawan-kawannya.

Sakura dan Ino saling memandang. Kini giliran mereka yang tampaknya merasa geli melihat tingkah Hinata. Ino bahkan agak kesulitan menahan tawanya. Wajah Hinata semakin memerah.

"Kupikir bisnis keluargamu ini cukup keren," komentar Ino setelah berhasil menahan luapan tawanya.

"Ya. Selama kita tidak tergoda untuk memakai apa yang dijual di toko ini sebelum waktunya," timpal Sakura, kembali tertawa bersama Ino.

Wajah Hinata bersemu, namun tak semerah sebelumnya. Ia lega, ternyata kecemasannya selama ini tidak beralasan. Baik Sakura mau pun Ino ternyata tak mempermasalahkan hubungan Hinata dengan Paradise Shoppe. Entah dengan teman-teman sekolah yang lainnya. Namun Hinata merasa, sikap mereka cukup mewakili pandangan teman-teman sekolah Hinata yang lain.

"Tapi... ada yang ingin kutanyakan. Jadi, tempo hari waktu Iruka-senpai ditangkap polisi, apa dia bermaksud menemuimu?" tanya Sakura sekonyong-konyong, mendatangkan badai dalam suasana yang sebenarnya telah mencair.

Wajah Hinata kembali memerah. Lebih merah daripada sebelumnya.***


Ibu Iruka tercengang saat melihat papan nama Paradise Shoppe yang mencolok dengan lampu yang berkerlap-kerlip memanggil para pelanggan untuk memasukinya. Di sebelahnya, Iruka berdiri dengan gelisah sambil membawa kotak—yang entah apa isinya—untuk diberikan pada Hinata sekeluarga. Sebelumnya ia dan ibunya telah terlibat perdebatan seru mengenai perlu tidaknya mereka membalas kunjungan Hinata yang menjenguk Iruka di rumahnya empat hari sebelumnya. Iruka—sejak awal—sudah mencemaskan reaksi ibunya jika mereka sampai mengunjungi keluarga Hyuuga di rumahnya.

Melihat ibu dan anak yang sudah berdiri cukup lama di depan toko miliknya, Hiashi bergerak menyambut. Ibu Iruka dengan tenang menjelaskan maksud kedatangannya. Tapi, mau tak mau wanita tersebut tertarik saat melihat bahwa Hiashi ternyata sedang melayani pelanggan yang hendak membeli obat herbal berbahan tribulus terristis. Obat yang konon dapat dikonsumsi oleh pria mau pun wanita itu membuat Ibu Iruka sejenak melupakan tujuannya mendatangi rumah Hinata. Ia bahkan ikut bertanya pada Hiashi yang dengan sabar menjelaskan hal-hal yang perlu diketahui oleh calon pelanggan potensial seperti Ibu Iruka.

Ibu Iruka malah menyuruh Iruka pergi sendirian menemui Hinata. Rupanya, pesona surgawi Paradise Shoppe telah melunturkan semangat Ibu Iruka untuk menemui calon menantunya eh, Hinata. Hiashi sendiri semakin bersemangat menjelaskan mengenai jenis obat-obatan yang dijual di toko miliknya sekeluarga.

Atas petunjuk Neji, Iruka menapaki tangga menuju lantai atas. Ia sebenarnya merasa segan menemui seorang gadis di rumahnya sendirian. Namun tampaknya ibunya belum berminat menemaninya karena masih sibuk dengan obat-obatan yang dipandangnya dengan mata berbinar-binar. Iruka harus menemui Hinata seorang diri.***


Hinata bersama Ino dan Sakura muncul dari salah satu kamar sambil tertawa-tawa. Tawa mereka mendadak lenyap saat melihat Iruka berdiri di ruang keluarga masih dengan tangan membawa sebuah kotak. Luka-luka di wajahnya sudah membaik, membuat wajah manisnya mulai terlihat lagi.

Iruka sendiri tampak agak tersentak melihat keberadaan Sakura dan Ino di rumah Hinata. Namun kemudian ia tersenyum maklum. Sekarang ia mengerti, Hinata pasti telah mengakui hubungannya dengan Paradise Shoppe di hadapan kedua sahabat itu.

"Iruka-senpai, apa kabar?" sapa Sakura, mengambil alih tugas sang tuan rumah yang hanya tertunduk malu.

"Baik. Besok kita bisa bertemu di sekolah lagi. Skorsing-ku 'kan berakhir hari ini," jawab Iruka sopan.

Ino menyikut Sakura, memberi isyarat khusus. Siapapun tahu bahwa pada saat ini, keberadaan mereka hanya akan mengganggu Iruka dan Hinata.

"Kalau begitu, kami pulang dulu. Permisi," pamit Sakura, santun.

Sebelum pergi, Ino masih sempat berbisik pada Hinata, "besok di sekolah, cerita ya."

Hinata hanya mengangguk pelan dengan wajah bersemu.

Dua menit kemudian, setelah Hinata menyimpan buah tangan pemberian Iruka dan Ibu Iruka, ia dan Iruka sudah duduk bersebelahan di sebuah sofa yang tak seberapa besarnya di ruang keluarga. Ruang yang sempit tak memberi keleluasaan bagi keluarga Hyuuga untuk mengisinya dengan perabotan mewah dan memerlukan ruangan yang luas.

Iruka tertegun mendengar cerita Hinata mengenai Kakashi yang kembali ke Paradise Shoppe bersama Obito. Tak tampak garis kecemburuan di wajah ramahnya. Bahkan, ia terlihat senang.

"J-jadi, karena teman-temanku sudah tahu mengenai Paradise Shoppe, kurasa perjanjian kita sudah tidak berlaku lagi," ujar Hinata setelah pembicaraan tiba pada topik perjanjian di antara mereka berdua.

"Aku tahu. Tapi aku minta tolong, jangan sampai ada yang tahu mengenai masa laluku dengan Kakashi-san. Soalnya..." kalimat Iruka terpotong saat ia merasakan sentuhan yang cukup hangat di tangannya. Hinata ternyata telah memegang tangannya dengan gerak tersipu.

"Iruka-senpai jangan khawatir. A-aku tahu, itu adalah hal pribadi yang sebaiknya dirahasiakan," kata Hinata lembut.

Wajah Iruka tampaknya ikut menghangat. Namun ia tak melepaskan pegangan tangan Hinata. Malah, ia balas menggenggamnya. Ingin menikmati lebih lama hangatnya sentuhan Hinata.

"Tolong, lain kali kau tak usah memanggilku dengan sebutan Iruka-senpai," pinta Iruka, "kau bisa memanggilku dengan sapaan Iruka-san, Iruka-kun atau..."

"Panggil Iruka-chan saja, bagaimana? Hiashi-san, kurasa lima atau tujuh tahun lagi, kita akan menjadi kakek dan nenek," sahut seseorang yang entah sejak kapan telah berada di lantai yang sama dengan Iruka dan Hinata.

Iruka dan Hinata terperanjat melihat Ibu Iruka dan Hiashi yang sudah berada di dekat tangga. Kedua remaja itu buru-buru melepaskan tangan masing-masing, meskipun hal itu bukan perbuatan yang berguna lagi saat ini. Ibu Iruka sendiri tampak sangat gembira sementara Hiashi hanya tersenyum canggung. Namun Hiashi tampaknya tak marah melihat anak gadisnya berpegangan tangan dengan pemuda yang baru dikenalnya.

"Iruka-chan, tak perlu malu-malu, Nak," kata Ibu Iruka sambil memeluk anaknya, "Kaa-san senang, ternyata kau punya selera bagus dalam memilih perempuan. Persis seperti ayahmu."

"Kaa-san, aku dan Hinata-chan..." Iruka mencoba meluruskan pemahaman ibunya, tapi tak sempat. Sebab, ibunya sudah membisikkan sesuatu yang membuatnya terpana.

"Terima kasih pada Paradise Shoppe dengan obat herbalnya. Mulai malam ini, Kaa-san akan meminta Tou-san untuk memulai program untuk memberimu adik. Mudah-mudahan adikmu akan secantik pacarmu itu."

Iruka menatap ibunya. Tak percaya dengan pendengarannya sendiri. Memiliki adik pada usia delapan belas tahun? Itu bukan ide yang bagus, walaupun tak terlalu buruk juga, sih...

Hinata tersenyum geli melihat tingkah ibu dan anak di depannya tersebut. Saat memandang wajah Iruka yang tampak panik, wajah Hinata memerah entah untuk keberapa kalinya dalam hidupnya. Pun saat Hiashi mendekatinya, Hinata tetap terlihat senang, jika tak dapat dikatakan bahagia.

"Tou-san," kata Hinata sambil memeluk Hiashi, "t-ternyata menjadi remaja itu tidak terlalu sulit, ya. Bahkan sangat menyenangkan."

Hiashi tercengang, tampak tak mengira putri sulungnya tersebut akan bersikap informal terhadapnya. Namun, tak urung tangan kekarnya membelai kepala Hinata dengan penuh cinta kasih. Perbuatan yang amat jarang ia lakukan terhadap putri-putrinya selama ini.

Hinata—masih dalam posisi memeluk ayahnya—menoleh pada Iruka yang akhirnya dapat melepaskan diri dari pelukan ibunya yang terlalu antusias. Dua remaja itu saling memandang beberapa saat. Kemudian, secara bersamaan saling menyunggingkan senyum penuh arti.

Tampaknya, baik Iruka mau pun Hinata menyadari bahwa—entah sejak kapan—hubungan mereka telah berkembang menjadi lebih dari sekadar senpai dan kohai. Sebuah hubungan yang khusus, menuju arah baru yang sebelumnya tak pernah mereka duga sama sekali, bahkan setelah pertemuan pertama mereka di Paradise Shoppe berhari-hari sebelumnya.

Paradise Shoppe memang memberikan surga bagi siapa saja, bahkan bagi mereka yang bukan pelanggan seperti Iruka dan Hinata.***

END-HABIS-TAMAT-FIN—yeah, whatever-lah istilahnya


A/N :

Horeeee! Fic-nya tamat juga! Setelah berkali-kali tergoda (dan tidak dapat menahannya) untuk merombak beberapa bagian, akhirnya saya publish juga chapter ini. Chapter paling panjang dan padat dari multichapter ini. Makasih buat mereka yang udah membaca dan mereview fic ini , ga terkecuali bagi reviewer anonim. Kalo bisa sih, besok2 bikin akun dong, biar saya bisa membalas review kalian lewat PM. Oke? ;)

Saya ga tau karakter Ibu Iruka tuh kaya apa sebenarnya. Makanya, saya bikin aja kaya gitu, ceria dan agak grasa-grusu. Biar gampang XD

Dear Freeya Lawliet, fic ini buat kamu. Lap yu!


OMAKE :

Kakashi—dengan tubuh harum setelah mandi dan hanya mengenakan kimono—membuka pintu apartemennya dan menemukan Neji berdiri dengan gugup dengan peluh bercucuran. Remaja itu tampak seperti orang yang telah berlari ribuan kilometer dengan keringat sebanyak itu. Namun melihat wajahnya yang pucat, Kakashi tahu bahwa sikap anehnya itu tak ada hubungannya dengan olahraga berat.

"Ada apa?" tanya Kakashi. Ia tak terkejut melihat keberadaan Neji di apartemennya karena sebelumnya ia memang pernah memberikan alamat apartemennya pada Neji. Kakashi berminat pada layanan antar yang ditawarkan oleh Paradise Shoppe. Namun seingat Kakashi pula, ia belum pernah menghubungi untuk memesan barang-barang yang dijual di sana. Kakashi merasa masih punya waktu untuk datang sendiri ke toko untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.

"Mohon maaf sebesar-besarnya. Ini sepenuhnya kesalahan kami," kata Neji sambil membungkuk sedalam-dalamnya.

"Setahuku, apa yang kami beli sudah sesuai, tidak ada yang kurang atau salah," balas Kakashi, risih melihat Neji yang bertingkah seperti pesakitan.

"Terima kasih banyak karena Anda membeli Viagra dalam kemasan satu botol utuh, bukan secara mengecer. Viagra yang Anda beli sebenarnya bukanlah obat yang sesungguhnya. Obat itu milik Kurenai-san, salah seorang pegawai di toko kami. Karena kemasan obat miliknya rusak, ia masukkan saja ke dalam botol kemasan Viagra eceran yang telah kosong. Saya telah keliru memberikan obat itu pada pacar... eh teman Anda, tanpa memeriksanya terlebih dahulu. Mohon maaf sebesar-besarnya," jelas Neji sambil memberikan satu botol obat yang benar dan masih tersegel.

Dasar Obito, dia tidak memeriksa segel kemasannya terlebih dahulu, umpat Kakashi dalam hati.

"Tidak apa-apa. Saya mengerti. Ngomong-ngomong, obat apa kalian berikan pada kami?" tanya Kakashi, berusaha memaklumi.

"Hanya obat tidur, bukan obat yang berbahaya."

Kakashi tersentak. Ia buru-buru 'mengusir' Neji, menutup pintu, lalu bergegas menuju ke kamar tidurnya. Rasanya, sejak ia selesai mandi, Kakashi tak mendengar suara Obito sama sekali.

Benar dugaan Kakashi. Obito—tanpa mengenakan pakaian sama sekali—tengah terbaring di ranjang sambil mendengkur halus. Botol berisi 'Viagra palsu' tergeletak di meja kecil di sisi ranjang dalam keadaan terbuka. Obito yang ceroboh pasti telah merasakan efek dari obat yang sedianya untuk membantu konsumennya dalam beristirahat tersebut.

Kakashi duduk di tepi ranjang dengan tubuh lemas. Terguncang dengan kegagalannya dalam 'menggapai surga' untuk ketiga kalinya. Ia memandang botol berisi Viagra asli di tangannya. Lalu dengan kekesalan yang memuncak, ia melempar botol tersebut hingga menghantam dinding. Kuatnya tenaga lemparan tersebut menyebabkan botol plastik itu pecah dan isinya berhamburan di lantai.

Obito masih tertidur dengan pulas. Tidur paling damai yang mungkin belum pernah ia alami sebelumnya.***

FIN