DISCLAIMER

EVERY CHARACTER BELONGS TO HAJIME ISAYAMA

Karena jika semua karakter ini milik saya, sudah dipastikan Petra dan Levi hidup bahagia lol

DILARANG KERAS MENIRU ATAU MENGATASNAMAKAN CERITA INI

PURE FROM MIYUTANUKI

MAAFKAN KEKURANGAN ATAU KESALAHAN PENULISAN

KITA MASIH BELAJAR

Enjoy the story~


CHAPTER 4


Sudah berapa lama waktu terlewat sejak terakhir ia merasakan suatu kemewahan dari sebuah aktivitas yang disebut sebagai terlelap dalam mimpi. Semakin hari ia semakin kelelahan, rona wajahnya pun kini sudah berubah menjadi lebih gelap dari sebelumnya. Ia merupakan wanita penuh keceriaan, penuh dengan energi, tetapi sekarang seakan semua energi yang ia miliki habis oleh sesuatu yang tak kasat mata. Sesuatu yang membuatnya terbangun di tengah malam.

Ia kini benci kesepian. Ia benci jika harus tertidur dalam suasana yang sunyi. Saat malam sudah semakin gelap, tubuhnya seakan tenggelam pada sebuah kegelapan yang mana ia akan mendengar sebuah suara. Suara seorang pria yang selama ini selalu menghantui hampir setiap malam. Tubuh mungil itu selalu merasakan sebuah kengerian yang meliuk-liuk menelusuri nadi hingga rasanya ia ingin menggaruk secara kasar hingga kulitnya terkelupas secara mengerikan bersamaan dengan darah yang mungkin akan menunjukkan diri ke permukaan kulit yang rusak.

Beberapa waktu terakhir, ia selalu menghabiskan waktu di ruang tengah. Sekedar menyalakan televisi untuk mendengarkan berita yang sering kali diulang selama beberapa hari. Bahkan ia rasa hampir semua tayangan yang ia lihat merupakan tayangan yang sama sekali tak menarik. Semuanya terlihat membosankan jika ia melihat dari matanya yang kini terlihat sayu bersamaan kantung mata yang terlihat lebih gelap di bandingkan langit di luar sana.

Air hujan menampar jendela secara ganas. Ia bahkan tak terlalu bisa mendengar suara yang berasal dari televisi. Jemarinya secara mantap menggenggam sendok yang kini di penuhi oleh ice cream strawberry. Kurangnya energi membuat dirinya merasa sangat menginginkan makanan berkadar glukosa yang tinggi. Sejak siang, ia sudah menghabiskan begitu banyak donat yang diberikan oleh Eren. Pria itu manis sekali memperhatikan kondisinya yang sedang tidak baik. Bahkan Connie kini lebih banyak bekerja dibandingkan bergosip. Mungkin ada sisi baik dari dirinya yang kelelahan ini.


10.00 pm


Ia tak lagi memperhatikan tayangan di televisi yang tadi menayangkan sebuah acara variety show yang masih terasa membosankan menurutnya. Pandangannya semakin menjauh hingga ia tak sadar bahwa secara perlahan kesadarannya lenyap bersamaan dengan hujan yang kian reda. Matanya kini tertutup secara sempurna, sendok yang sempat berada di genggamannya kini jatuh tanpa ia sadari.

Ia tenggelam dalam kegelapan tanpa memperhatikan keadaan sekitarnya. Terjadi begitu saja hingga suara tawa yang berasal dari televisi pun tidak mengganggu tidurnya yang secara tiba-tiba itu.

Keadaan ruangan dengan sumber pencahayaan hanya berasal dari layar televisi pun mempermudah dirinya untuk terlelap. Tubuhnya masih dalam posisi duduk malas dengan kepala yang menghadap ke arah kiri pun terlihat begitu memaksa. Lehernya menekuk secara tidak nyaman tetapi dengan kesadarannya yang sudah menghilang, rasanya ia tak bisa memikirkan betapa tidak nyamannya posisi tersebut.


11.30 pm


'…tra? Petra?'

Tenggorokannya tercekat ketika mendengar suara itu. Suara yang menggambarkan keputusasaan itu membuatnya tak nyaman dan ia selalu merasakan sebuah rasa penyesalan hebat.

"...Oi!"

Sesuatu yang dingin terasa menyengat di lehernya. Ia bergerak secara tiba-tiba membuat lehernya semakin tak nyaman. Keningnya berkerut dan dengan terpaksa ia membuka matanya yang kini masih belum fokus. Ia menemukan sosok pria dengan air yang menetes dari sekujur tubuhnya.

Petra berteriak sekencang mungkin dan ia hampir saja terjatuh dari sofa sembari menutup kedua matanya. Berharap pria itu hanyalah sebuah halusinasi, bukan sesuatu yang menyeramkan atau lebih buruk lagi seorang pembunuh.

"Ku pikir ada tindakan kriminal di tempat ini."

Mata gadis itu membulat ketika mendengar suara berat yang sangat khas dari seorang tetangga membosankan. Petra membuka matanya dan menatap pria yang kini menyalakan lampu agar ruangan gelap itu bisa terlihat lebih jelas. Ia memicing dan sekali lagi menangkap gambaran pria basah kuyup di hadapannya.

Mengapa ia ada di rumahku?

Oops, sepertinya ia mengatakan hal yang ada di pikirannya karena kini pria itu mendecih sembari membawa remote televisi untuk menurunkan volume yang jelas-jelas berada di titik paling tinggi. Gadis itu berkedip beberapa kali, ia bahkan tidak menyadari bahwa volume televisinya setinggi itu. Sangat tinggi, bahkan bisa membuat telingamu sakit.

"Suara televisimu terdengar hingga rumahku."

Lagi-lagi Petra hanya berkedip tanpa bisa menjawab mengapa hal itu bisa terjadi.

"Sepertinya kau tidak tahu bahwa kau sudah tidur dan ketika berbaring di sofa itu, secara tak sengaja tanganmu menekan tombol volume."

Petra dengan ekspresi kebingungan yang belum berubah pun hanya bisa menggangguk ragu. Sepertinya itu adalah alasan paling logis dari semua hal yang terjadi.

"Lalu, itu, anu, bajumu?"

Levi menatap tubuhnya yang basah kuyup dan ia mendelik. Petra mengeratkan bibirnya, merasa bersalah karena ia telah melihat tubuh pria yang basah kuyup itu.

"Aku pikir ada sesuatu yang bersifat darurat. Entah kau terbunuh atau apapun itu."

Kini giliran Petra yang mendecih sementara Levi memberikannya tatapan keras lalu berniat untuk melanjutkan kalimatnya.

"Pintumu terkunci, terpaksa ku dobrak."

Petra sedikit kebingungan ketika pria itu bahkan tidak memberikannya alasan mengapa ia bisa sampai basah kuyup seperti itu. Namun ketika ia sadar bahwa hujan di luar sana kembali deras, sepertinya ia bisa menyimpulkan bahwa pria itu berlari tanpa membawa payung dan segera mencoba untuk 'menyelamatkannya' dari apapun kemungkinan yang ada.

Sangat heroik sekali.

Petra mengeluarkan kekehan yang berusaha ia sembunyikan dari hadapan pria itu namun gagal karena pria itu kini mendecih.

"Seharusnya kau menertawakan dirimu sendiri."

Levi menunjuk ke arah rambut gadis yang kini masih berusaha menahan tawa hingga ia sadar bahwa rambutnya terkena ice cream. Matanya membulat dan menemukan fakta bahwa sisa ice cream yang sudah meleleh itu kini mengotori sofa miliknya. Ia terkesiap dan sesegera mungkin membawa kain basah agar ice cream itu tidak terlalu banyak menyerap ke dalam sofa.

"Uh.. Itu.. sebentar."

Dengan ia yang begitu gelagapan mencoba untuk membersihkan sofa, Petra akhirnya memilih membawa handuk kering untuk Levi yang masih menatap kesana-kemari. Berdiri mematung dengan sikap penuh kewaspadaan.

"Keringkanlah tubuhmu. Aku akan membersihkan sofa sebentar."

Pria itu bergeming dan tak melakukan hal lain selain menerima handuk yang disodorkan oleh Petra. Dengan senyuman kikuk, Petra kembali membersihkan sofa. Ia sedikit mengutuk karena harus ada pengeluaran lain agar sofa nya kembali bersih seperti sedia kala. Ia kemudian mengerutkan keningnya ketika mengingat salah satu perkataan pria yang kini diam-diam mengeringkan tubuhnya tanpa menghilangkan ekspresi kebosanan yang sepertinya sudah mengerak di wajahnya.

"Pintuku kau dobrak?!"

Suaranya yang melengking membuat Levi memicing dan mendecih.

"Ku bilang pintumu terkunci. Tadi adalah kondisi yang cukup darurat."

Darurat jidatmu.

Petra mendelik dan kembali memikirkan uangnya yang akan semakin terkikis. Tangannya terhenti untuk meneruskan aktivitas membersihkan sofa dan ia mengembuskan napas berat. Ia bahkan tak yakin jika ia bisa mendapatkan bonus di bulan ini.

"Aku akan menggantinya."

Jawaban yang begitu singkat itupun di tutup dengan handuk basah yang ia lipat secara rapi dan disimpan di atas meja.

"Kau memiliki payung?"

Petra tidak menunjukkan ekspresi lain selain poker face. Ia sungguh tidak mengerti jalan pikir pria berwajah stoic yang kini cukup menatap Petra tanpa ekspresi apapun.