Ricchan: (#ngatur mikrophone) Testing...testing... (#NGIIIIIINGG...) GRAAAAHHHH...KECILIN SUARANYA DUDUT.

Allen: Gomen (#ngecilin volume).

Ricchan: Test...1...2...ok... (#ehem2) CHAPTER 3 AKAN DIMULAI! SEMUA UDAH SIAP?

Pemeran: SIAAAAP!

Ricchan: OKE...KARENA NANTI ADA BEBERAPA ORANG YANG MASUK KE CHAPTER INI, MOHON KERJASAMANYA YA?

Yugi: (#teriak) WOOOKEEEEEE...!

Yami: Busyet dah! Yugi kegirangan banget masuk ke chapter ini?

Miyuki: Gak apa-apa kan, emang udah waktunya.

Yami: Bener katamu, Hime.

Ricchan: GAK PERLU LAMA-LAMA. KITA MULAI AJA! Bismillah... CAMERA! CAHAYA! DE-EL-EL! AND ACTION!

NB: Yu-Gi-Oh! DM from Master Kazuki Takahashi.


Chapter 3 : Misconception

Setelah 45 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai ke tempat tujuan tanpa ada halangan. Mereka senang karena selamat dari kemacetan. Dan yang paling Miyuki terkejut adalah ternyata dia diajak ke sebuah resto yang bernuansa Korea.

"Cho…chotto matte…! Kau yakin mengajakku ke resto Korea ini?" tanya Miyuki ragu.

"Iya-iyalah, Hime. Emangnya mau kemana lagi? Ini resto yang dekat dengan bandara" jelas Yami.

"Tapi kan ada resto lainnya. Kenapa memilih Korean's Food Resto?" tanya Miyuki lagi.

"Emang kau gak suka makan di tempat ini? Kalau gak mau, kita bisa cari di resto lain aja gimana?" tanya balik Yami.

"Bu…bukannya gak suka tapi…" kata Miyuki.

"Tapi?" tanya Yami.

"Aku kaget aja kau mengajakku ke tempat resto Korea. Karena aku suka masakan Korea. Padahal aku belum pernah ke sini." kata Miyuki tersenyum senang.

"Benarkah kau suka?" tanya Yami diikuti dengan anggukan senang Miyuki, kemudian Yami melanjutkannya "Syukurlah kalo kau senang".

"Arigatou, Yami."

"Dou itashi, Ore no Hime. Kita masuk ke sana sekarang." ucap Yami diikuti anggukan Miyuki. Kemudian Yami keluar dari mobil dan membuka pintu mobil yang diduduki Miyuki dan tak lama Miyuki pun keluar. Yami menutup pintu, kemudian Yami mengangkat tangan kanan Miyuki dan merangkulkan tangan Miyuki ke tangan kiri Yami. Melihat apa yang dilakukan Yami, Miyuki langsung menunduk malu. "Ayo kita masuk" katanya sambil tersenyum dan Miyuki hanya mengangguk malu.

"Anyeong haseo…selamat datang di Korean's resto. Anda ingin duduk dimana?" kata seorang penjaga pintu masuk resto yang mengenakan pakaian adat Korea.

"Apa ada satu meja berisi dua kursi yang masih kosong?" tanya Yami kepada penjaga pintu.

"Ada. Ingin yang berada di dalam ruang atau berada di luar ruang?" tanya penjaga pintu.

"Gimana, Hime? Kau mau dimana?" tanya Yami ke Miyuki.

"Aku sebenarnya ingin di luar. Tapi aku terserah kau aja." jawab Miyuki.

"Nah, sesuai dengan yang dikatakan gadis ini. Paling gak yang terlihat sungai kecil begitu. Tolong antarkan kami." kata Yami.

Penjaga pintu mengangguk. "Baiklah, mari ikuti saya."

Penjaga berjalan diikuti oleh Yami dan Miyuki. Mereka menyusuri setiap meja di dalam ruang hingga akhirnya mereka sampai di luar ruang dan berjalan menuju meja yang letaknya dekat sungai. Seperti sebuah pos yang terbuat bamboo berwarna coklat disertai atap yang terbuat dari genting yang bercorak Korea dan di sana terdapat satu meja dengan dua kursi. Mereka berdua sampai di tempat tersebut.

"Nah, ini tempat yang Anda pesan. Silahkan Anda duduk dan mohon untuk menunggu waitress kami untuk menyampaikan buku menu untuk Anda. Permisi." kata penjaga pintu sambil membungkuk dan diikuti anggukan Yami dan Miyuki, kemudian penjaga pintu pergi meninggalkan mereka.

"Wah…kirei naa…" kata Miyuki kagum terhadap suasana di luar ruangan sambil melihat sekeliling mereka.

"Kau senang kan, Hime? Ternyata kita beruntung mendapatkan tempat yang masih kosong apalagi dekat sungai." kata Yami senang melihat Miyuki senang.

"Arigatou." ucap Miyuki.

"Dou itashi. Kau terlihat cantik jika kau tersenyum seperti itu. Seperti seorang dewi." kata Yami sambil melihat Miyuki dalam-dalam.

"Jangan gombal lagi deh, Yami!" kata Miyuki.

"Aku gak gombal. Aku serius eh seratus rius malah. Kau cantik banget kalo tersenyum. Aku jadi tambah suka melihat kamu sampai gak bosen lihatnya." rayu Yami yang membuat wajah Miyuki memerah seperti udang rebus.

"Mou…Yami…" kesal Miyuki sambil menutup wajahnya karena malu.

"Hehehe…" tawa Yami geli melihat tingkah Himenya itu.

Tak lama kemudian, waitress datang menemui mereka dengan mengenakan pakaian Korea wanita dengan membawa buku daftar menu dan catatannya.

"Anyeong haseo…ini buku daftar menu masakan Korea yang ada di resto ini." katanya sambil menyerahkan buku tersebut ke Yami dan Miyuki. "Menu makanan khas Korea di resto ini yang terjamin kebersihan dan kenikmatannya. Semua masakan khas Korea yang ada di buku tersebut 100% sama dengan semua masakan yang ada di negara Korea aslinya. Itu saja yang saya jelaskan. Nah, Anda ingin memesan apa?" kata waitress.

Miyuki dan Yami memilih makanan pembuka dan makanan beratnya atau makanan inti. Dengan cekatan, waitress itu menulis menu apa saja yang dipilih dua insan itu. Setelah mereka memilih makanan dan mengajukannya pada witress itu, waitress kemudian menjelaskan lagi. "Baiklah. Makanan pembuka dan inti sudah Anda pilih. Untuk makanan penutupnya?" kata waitress.

Miyuki melihat daftar menu dessert di buku itu dan mengernyitkan dahi. "Maaf, kenapa disini ada beberapa makanan penutup yang berbeda dengan makanan penutup khas Korea?" tanya Miyuki ke waitress.

"Karena ada beberapa pelanggan kami yang memang menyukai makanan pembuka dan inti dari masakan Korea, namun tidak suka dengan makanan penutupnya." jelas waitress.

"Oh begitu. Baiklah mungkin aku juga sama. Hehehe… Aku pilih Ice Cream White Chocolate. Kau Yami?" kata Miyuki sambil menyerahkan buku ke waitress.

"Hem…aku sudah memilih makanan pembuka dan inti yang berbeda dengan ore no hime, jadi untuk penutupnya juga sama dengan Ore no Hime." kata Yami sambil menyerahkan buku ke waitress.

"Baiklah. Dua Ice Cream White Chocolate. Terima kasih Anda sudah memesan menu masakan Korea." katanya sambil menerima buku menu dan melanjutkannya "Silahkan Anda tunggu masakannya. Saya akan mengantarkannya pada Anda. Permisi" kata waitress sambil membungkuk dan Miyuki dan Yami mengangguk, kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.

"Kok kau memilih makanan penutup yang sama seperti yang aku pilih?" tanya Miyuki heran.

"Yah…karena aku memilih makanan pembuka dan inti yang berbeda dengan yang kau pilih jadi gak ada salahnya aku memilih makanan penutup yang sama sepertimu. Emangnya gak boleh ya?" jelas Yami.

"Boleh kok, Yami." jawab Miyuki tersenyum.

"Hem…ngomong-ngomong, kenapa kau begitu suka dengan Korea?" tanya Yami.

"Karena aku punya idol dari Korea juga. Jadi aku pun juga suka apapun dari Korea." jawab Miyuki polos.

Yami mengangkat sebelah alis mendengar penjelasan Miyuki. "Emangnya siapa idol yang kau suka?"

"Banyak. SNSD, Secret, Wonder Girls, Big Bang, 2NE1…" jawab Miyuki namun dipotong oleh Yami.

"Stop! Apa kau benar-benar menyukai semua idol Korea?" tanya Yami dan Miyuki mengangguk. "Haaaah…masa kau gak punya idol yang terfavorite yang kau jadikan insipirasimu begitu?" tanya Yami sambil menghela nafas.

"Hem…ada dua. Yang satu boyband, yang satu solo girl." jawabnya polos.

"Yang boyband?" tanya Yami.

"Boyband yang aku sukai, SHINee. Boyband ini terdiri dari 5 personil. Onew, Jonghyun, Key, Minho, Taemin. Mereka semua terlihat keren saat tampil di MV mereka maupun di konser." jelas Miyuki.

"Lalu, kau suka dengan kelima cowok itu?" tanya Yami penasaran.

"Gak. Hanya satu dari lima personil itu yang aku jadikan inspirasiku."

"Dare?" tanya Yami.

"Jonghyun. Dia sama sepertiku paling tua nomor dua setelah sang leader Onew. Dia keren dan lucu. Dia juga punya kemampuan vocal yang hebat dibanding empat rekan yang lainnya. Vocalnya yang begitu dahsyat dan energik itulah dia dijadikan main-vocal SHINee. Walaupun dancenya gak sekeren Key dan Taemin, dia berusaha untuk lebih energik saat dance. Tapi sayangnya..." kata Miyuki berhenti karena sedikit malu dan sedih untuk meneruskannya.

Yami mengernyitkan dahi. "Kenapa?"

"Dia…cengeng…" jawab Miyuki agak takut.

Yami terbelalak dan tertawa. "Bwahahaahahahaha…."

Miyuki yang terkejut melihat Yami tertawa karena jawabannya itu, Miyuki langsung marah. "Yami…! Jangan ketawain idolku donk! Gak sopan tahu! Jahaaaat…!"

Yami berusaha menghentikan tawanya. "Ahahaha…gomen…a…aku kaget aja…hahaha…kok cowok…cengeng begitu…hhahaha…pa…padahal dia…tua tapi…bffff…ahahaha…aku gak kuat nahan ketawaku. Ahahaha…" Yami tertawa sampai orang disekelilingnya melihat ke arah mereka sehingga membuat Miyuki jengkel.

"Aaargh…tertawa aja sepuasmu sana. Aku gak akan menjelaskannya lagi. Bete!" marah Miyuki kemudian mengalihkan pendangan ke arah sungai.

"Go…gomen…gomen…. Ok, aku berhenti ketawa." Yami menghentikan tertawanya sambil mengatur nafas. Setelah itu, Yami memegang kedua tangan Miyuki yang ada di atas meja dan melanjutkan "Aku sudah gak ketawa lagi kok." katanya. Miyuki kemudian menoleh pelan-pelan ke arah Yami dengan wajah masih jengkel. "Udah donk hime, jangan marah lagi ya! Gomen ne…aku tiba-tiba aja ketawa. Nah, tolong kau teruskan lagi penjelasannya tentang Jonghyun." katanya untuk menenangkan Miyuki.

Miyuki menghela nafas sebelum berbicara. "Haaaah…. Baiklah akan aku teruskan, tapi jangan ketawa lagi. Kalo sampai ketawa lagi, aku langsung pergi."

"Hai…hai…aku janji gak akan ketawa lagi. Tapi kenapa dia cengeng?" kata Yami.

"Dia itu cengeng gak seperti anak kecil gitu. Dia cengeng karena dia takut mengecewakan keempat sahabatnya." jelas Miyuki

"Kenapa bisa begitu?" tanya Yami.

"Dia sering salah gerakan saat latihan dance. Kau tahu sendiri kan dari omonganku kalo dancenya gak sekeren kedua adiknya. Makanya itu dia berusaha untuk bisa dance dengan bagus dan keren. Walaupun dia cengeng, tapi keempat temannya selalu mendukung Jonghyun dan membantu Jonghyun agar dia gak pantang menyerah." jelas Miyuki. "Begitu ya. Emang bener, sebuah kelompok haruslah kompak seperti itu." kata Yami.

"Ya benar." ucap Miyuki mulai bersedih karena mengingat kelompoknya yang tidak kompak karena sikap egois sang leader June.

Yami melihat wajah Miyuki yang mulai bersedih, mulai mengalihkan pembicaraan. "Menurutmu, keren siapa antara aku dan Jonghyun?"

"Eh…ano…yang keren itu…Yami." jawab Miyuki agak malu.

"Kenapa aku?" tanya Yami penasaran.

"Karena aku bisa melihat langsung dirimu, sedangkan Jonghyun hanya bisa dilihat di tv aja." jawab Miyuki polos.

"Gitu. Tapi kalo seandainya kau bertemu langsung dengan Jonghyun, apa dia lebih keren dari aku? tanya Yami.

"Gak…tahu sih…" jawab Miyuki ragu.

"Ehehehe…udah jangan kau paksa lagi. Aku hanya bercanda kok. Terus, kalo yang solo girl terfavoritmu siapa?"

"BoA. Beat of Angel. Sesuai namanya, wajahnya yang begitu cantik seperti malaikat. Kemampuan dance dan vocalnya luar biasa keren. Dia begitu sempurna dibanding solo girl yang lain karena dia begitu unik. Selain dia menyanyi berbahasa Korea, dia juga pintar menyanyi berbahasa Inggris maupun Jepang." jelas Miyuki.

"Benarkah? Aku baru tahu kalo dia menyanyi dengan bahasa Jepang." kaget Yami.

"Hai. Dia sudah lama menyanyi di Jepang dengan membuat album khusus Jepang. Begitu juga dengan Inggris. Dia hebat disegala hal, karena itu aku sangat menyukainya. Aku fans beratnya karena dia adalah orang yang tepat aku jadikan sebagai media inspirasiku saat meniti karir jadi personil 'Freyja'."

"Bener tuh. Jadi semangatlah untuk berlatih agar kau bisa menyamai BoA, bahkan kalo bisa melebihinya. Aku pasti akan terus mendukungmu." kata Yami agar membuat Miyuki semangat.

"Hai. Akan aku lakukan." kata Miyuki senang, kemudian bertanya pada Yami "Kau juga pasti suka idol Korea yang kau jadikan inspirasimu kan? Kasih tahu donk."

"Hai. Aku juga punya satu orang idol solo boy dari Korea."

"Dare ga?" tanya Miyuki penasaran.

"Bi Rain." jawab Yami.

"Bi Rain? Idol terkeren yang ada di Korea itu."

"Hai. Dia inspirasiku sejak berumur 17 tahun. Aku suka karena dance, vocal, serta gaya fashionnya begitu keren." jelas Yami. "Apalagi saat dia konser, ada adegan dia merobek pakaiannya sehingga tubuh kekar dan perut six packnya terlihat." kata Yami sambil tersenyum dingin dan memandang Miyuki.

'Iya-iya…kalo gak salah dia juga sering begitu saat di konser. Keren sih' pikir Miyuki sambil mengingat konser Rain saat adegan merobek kaosnya.

"Hime, gimana kalo, aku juga melakukannya seperti Rain?" tanya Yami menggoda.

'Eh…kalo Yami melakukan seperti Rain…' pikir Miyuki saat membayangkan tindakan Yami seperti Rain, kemudian #Blush…wajah Miyuki kembali memerah bahkan lebih merah dari yang sebelumnya karena membayangkan seperti itu. Kemudian mengelengkan kepalanya dengan cepat agar bayangan itu hilang dipikirannya. "Kau gila apa? Jangan aneh-aneh Yami! Aku gak mau kau melakukan itu dihadapan semua orang termasuk semua cewek fansmu." kata Miyuki agak malu dan agak marah.

"Lho…kenapa? Kan biar terlihat keren." kata Yami sambil menutup kedua mata merahnya menjadi setengah kelopak dan tersenyum menggoda.

"Iya tapi aku gak terima tahu. Pokoknya jangan kau lakukan hal konyol seperti itu mengerti?"

"Iya deh! Terus aku boleh melakukan itu ke siapa?" tanya Yami yang masih mempertahankan ekspresinya.

"Ha…hanya…orang yang…ka…kau…udah a…anggap pa…pacar gitu. Mungkin begitu." jawab Miyuki gugup.

"Oh, gitu ya." kata Yami mengalihkan pandangan ke sungai, kemudian melirik lagi ke arah Miyuki dengan ekspresi yang sama. "Jadi, aku boleh melakukan seperti itu di depan orang yang sudah aku anggap…pacar." katanya sambil berbisik ke arah Miyuki.

Miyuki yang melihat ekspresi wajah Yami yang seperti ingin menerkam mangsanya, Miyuki langsung diam menunduk malu karena bisa dibilang kalah dengan ekspresinya. 'My God, kemarin aku kalah ngomong, sekarang aku kalah menatap Yami. Walaupun dia memasang ekspresi seperti itu, kenapa rasanya badanku langsung lemas begini?' pikir Miyuki bingung setelah dia mengetahui kalo Yami punya ekspresi yang gak bisa dikalahkan olehnya.

Yami langsung tertawa kecil melihat ekspresi malu Miyuki karena kalah melihat ekspresinya. Tak lama, waitress datang dan membawa masakan yang mereka pesan.

"Ini makanan yang Anda pesan." katanya sambil menaruh makanan ke meja. "Maaf jika agak terlambat karena banyak yang memesanan." setelah menaruh makanan ke meja, waitress itu melanjutkannya "Jika Anda merasa kurang dan ingin memesan lagi, Anda tinggal memencet tombol panggilan ini untuk memanggil saya lagi dan saya akan menemui Anda." katanya sambil menyerahkan tombol kecil ke Yami. Kemudian membungkuk hormat "Selamat menikmati hidangan kami" katanya kemudian berjalan meninggalkan mereka berdua.

"Akhirnya, makanannya sudah ada di meja. Ayo kita makan. Itadakimasu" kata Miyuki sambil menepuk kedua tangan untuk berdoa kemudian dia makan makanan pembuka.

"Itadakimasu" kata Yami dan melakukan hal yang sama dengan Miyuki. Kemudian bertanya ke Miyuki "Gimana kau suka dengan masakan di resto ini?"

"Hai…selain tempatnya yang bernuansa Korea, masakannya pun juga enak dan persis dengan masakan asli di Korea. Yummy!" jawab Miyuki senang dan sambil melahap makanan pembuka.

Setelah makanan pembuka, mereka makan makanan inti. Miyuki langsung terkejut dan senang merasakan masakan dari makanan inti yang dia makan. "Oishiii…" katanya sambil tersenyum.

Yami tersenyum lembut dan tertawa kecil melihat Miyuki yang begitu lahapnya. "Jangan terburu-buru, hime. Nanti kesedak lho!" katanya.

"Gomen…habis enak banget sih. Aku baru kali ini makan masakan Korea yang persis dengan di negaranya." kata Miyuki sambil tersenyum.

"Kenapa kau bilang begitu?" tanya Yami agak heran.

"Karena aku biasanya hanya memesan masakan Korea ke Yugi, dan akan dia bawakan dari Hokkaido saat dia pulang ke Domino. Yah, dia membeli bahan masakan Korea yang sederhana dari resto Korea tempat Tea, teman Yugi bekerja di Hokkaido. Dan pastinya aku memasaknya dan makan bersama dengannya di rumah. Tapi masakanku gak seenak masakan yang ada di resto ini." kata Miyuki.

"Uhm…"

"Oh ya, kau berjanji untuk menjawab dua pertanyaanku kan?" tanya Miyuki.

"Iya aku masih ingat kok dan aku akan menjawabnya setelah kita selesai makan." jawab Yami.

"Ok deh!" kata Miyuki kemudian melanjutkan makannya.

Yami melihat ada saus yang ada di bibir Miyuki sebelah kiri, dia langsung mengambil tisu dan mengusapkannya ke bibir Miyuki dengan lembut. Miyuki kemudian kaget melihat Yami yang sedang mengusap tisu untuk menghilangkan saus di bibir kirinya, membuat Miyuki malu. "Arigatou, Yami" katanya sambil tersenyum.

"Dou itashi, Hime" katanya setelah membersihkan bibir Miyuki, kemudian melanjutkan makannya.

Terakhir, mereka makan makanan penutup, dan seperti tadi Miyuki langsung senang saat memakan Ice Cream White Chocolate pesanannya. "Amaaaii…" katanya sambil memegang pipinya karena manis dan menutup matanya rapat-rapat karena dinginnya makanan penutup yang dia makan.

Yami pun juga tersenyum senang melihat himenya begitu menikmati makanan penutup kesukaannya. Kemudian Yami mengambil satu sendok es krimnya dan memanggil himenya. "Hime…".

"Hai…?" jawabnya sambil menatap Yami.

"Buka mulutmu" kata Yami sambil menyuapkan es krim miliknya ke mulut manis milik himenya. Miyuki yang tahu tindakan Yami langsung meresponnya dan membuka mulut agar dia menerima suapan dari Yami dan pastinya wajah Miyuki langsung merah. Setelah menerima suapan dari Yami, Miyuki langsung tersenyum lembut, begitu pula Yami membalas senyuman himenya dengan senyum hangatnya. Kemudian melanjutkan makannya sampai habis.

"Nah, makanan kita kan sudah habis, jadi kita bisa melanjutkan pembahasan kita tadi. Seperti yang aku katakan, aku ingin tahu jawabanmu dari dua pertanyaaku tadi." kata Miyuki sambil mengusap bibirnya dengan tisu.

"Kau yakin ingin tahu jawabanku?" tanya Yami sambil membersihkan bibirnya dengan tisu.

"Ya aku yakin." jawabnya dengan tegas.

"Baiklah, aku akan menjawab dua pertanyaanmu tapi setelah itu terserah kau ingin menganggapnya seperti apa dan keputusanmu ada di tanganmu." jelas Yami. Miyuki hanya mengernyitkan dahi dan merasa heran dengan apa yang Yami maksud. Yami kemudian melanjutkannya "Dari dua pertanyaanmu, aku hanya menjawabnya dengan satu kata. Jawabanku adalah…" katanya terpotong sehingga membuat Miyuki penasaran. Miyuki langsung menelan ludah karena dia berharap bahwa jawabannya sesuai yang di inginkannya. Yami kemudian menjawabnya dengan satu kata "Ya.".

Miyuki langsung terkejut mendengar jawaban dari Yami dan ternyata sesuai dengan yang dia harapkan. Dia bingung mau mengekspresikan senang atau terharu atau apapun karena perasaannya yang bercampur aduk.

Yami menambahkan "Kau pasti senang kan?" tanyanya kemudian Miyuki menangguk "Yang aku katakan memang benar dan jujur dari hatiku. Kita memang sedang berkencan dan kau adalah 'orang terpenting'ku. Tapi ada satu hal yang ingin aku tanyakan kepadamu, dan aku gak tahu kau akan menjawabnya gimana karena keputusan ada di dirimu." katanya. Wajah Miyuki langsung berubah menjadi serius karena dia penasaran dengan pertanyaan yang ingin Yami tanyakan padanya. Kemudian Yami menghela nafas dan berkata, "Selain kau 'orang terpenting'ku, kau adalah orang yang selama ini aku cari, karena itu aku gak ingin kehilangan dirimu untuk yang kedua kalinya." katanya kemudian memegang tangan Miyuki. "Kau adalah orang terakhir yang ada di hatiku, aku sangat menyukaimu saat bertemu denganmu, bahkan aku sangat mencintaimu. Aku…aku berjanji, jika aku bertemu dengan orang yang aku cari, maka aku akan melindunginya, menyayanginya, mencintainya selamanya."

Miyuki langsung merasakan perasaan yang dirasakan Yami walaupun hanya dengan ucapannya namun semua ucapannya begitu tulus dan jujur. 'Kenapa perasaanku begitu tenang? Padahal aku belum merasakan ketenangan yang seperti ini. Perasaan tenang dan penuh cinta dan kasih sayang ini. Apakah ini perasaannya? Chotto…! Kenapa dia bilang begitu, dia bilang padaku seolah-olah aku lebih dari 'orang terpenting'nya. Apa maksud dari ucapannya? Jangan-jangan…' pikir Miyuki yang terpotong saat dia mendengar penjelasan terakhir dari Yami.

"Hime, mungkin ini akan membuatmu kaget dan gak percaya. Tapi aku ingin bilang bahwa…aku sangat mencintaimu" ungkapan Yami yang membuat Miyuki terkejut setengah mati. "Aku mencintaimu bukan sebagai teman atau 'orang terpenting'ku saja, melainkan sebagai orang yang ditakdirkan untuk bersama yaitu sepasang kekasih. Jadi, maukah kau jadi pacarku?" ungkapan Yami yang berisikan pernyataan cinta kepada Miyuki alias Yami nembak Miyuki untuk menjadi pacarnya.

Miyuki tambah terkejut setelah mendengar pernyataan cinta Yami kepadanya. Dia semakin bingung karena harus menjawab apa. 'My God…ternyata Yami ingin aku menjadi pacarnya. Apa yang harus kujawab? Jika aku menolaknya, dia pasti kecewa dan kesempatanku bersamanya akan hilang. Kalo aku menerimanya pasti dia senang, tapi kenapa aku merasa belum siap ya? Apa mungkin karena yang dikatakan Ririn benar bahwa aku gak akan cocok dengannya? Bukannya aku pernah berpikir kalo aku gak peduli siapapun dirinya, aku mau bersamanya, tapi aku bingung. Sakit…kenapa dadaku sakit seperti ini? Seharusnya perasaan ini gak muncul di saat seperti ini, tapi kenapa? Oh God, tolong aku, beritahu aku harus bagaimana?' pikirnya sambil menahan rasa sakit di dadanya dan dia mulai kesulitan nafas.

Yami terkejut melihat kondisi yang tiba-tiba saja seperti menahan sakit, tapi sakit apa? Tak lama Yami mulai khawatir dengan himenya. "Hime, daijoubu ka? Bilang padaku, apa kau sakit?" tanyanya panik.

Miyuki sadar Yami khawatir, dia langsung mengatur nafas hingga dia bisa bernafas dengan lega dan tenang, kemudian dia menatap dan menggelengkan kepala sambil, tersenyum "Daijoubu desu. Aku hanya kaget aja mendengar ungkapanmu tadi." katanya agar Yami tidak semakin khawatir. 'Aku harus bersikap biasa. Jangan buat dia khawatir lagi.' pikirnya.

"Haaaah…syukurlah kalo begitu. Gomen ne kalo aku tiba-tiba bilang begitu." kata Yami menyesal. Miyuki hanya menggelengkan kepala. Kemudian Yami melanjutkan kembali "Jadi, gimana? Apa kau mau?" tanyanya lagi.

Miyuki masih bingung dan menunduk 'Aku harus jawab apa? Apa aku harus menjawabnya dengan jawaban itu? Mungkin lebih baik begitu walaupun agak menyakitkan. God…bantulah aku untuk menjawab pertanyaannya dan berikan aku ketenangan saat aku melihat responnya.' kemudian dia menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya lewat mulut sehingga dia merasa tenang baru dia menjawab pertanyaan Yami yang mungkin akan menyakitinya. "Arigatou, karena kau sudah menganggapku sebagai 'orang terpenting'mu dan mengajakku berkencan. Sebenarnya aku juga senang saat kau menyatakan cintamu padaku. Tapi…" kemudian di menunduk sedih.

"Tapi…?" tanya Yami penasaran.

"Gomen…aku masih belum bisa menerimamu sebagai pacarku." kata Miyuki menyesal.

Yami kaget setelah mendengar ucapan Miyuki. Setelah bertahun-tahun mencari sang reinkarnasi gadis tercintanya dan menyatakan perasaannya, tapi yang dia terima adalah sebuah penolakan. Yami langsung menunduk dan melepas tangan Miyuki perlahan-lahan. Poninya menutup separuh wajahnya dan melanjutkannya. "Kenapa?" tanya Yami.

Miyuki langsung menatap wajah Yami dengan perasaan takut. Dia sudah bisa menebak pasti akan terjadi jika dia menolaknya, tapi jawabannya memang dia katakan dengan jujur karena jawabannya adalah yang tepat untuk hubungan mereka yang masih baru bertemu kemarin. Mana mungkin dia mau menerimanya dan mengubah statusnya menjadi pacar padahal baru dua hari bertemu. Kemudian Miyuki menjelaskan, "Karena, kau tahu kan, kalo kita baru saja bertemu. Kita berhubungan sebagai rekan satu agency, tapi tiba-tiba kau menembakku dan aku menerimamu sebagai pacarku…itu tidak mungkin. Aku tahu ini pasti menyakitkan bagimu karena aku juga bisa merasakan yang sama, tapi ini adalah pilihanku. Bukankah kau bilang kalo aku akan memutuskan untuk menjawab bagaimana, kan? Inilah jawabanku. Aku…minta maaf jika aku menolakmu. Bukan karena aku gak suka atau gak cinta kamu. Aku mencintaimu sebagai 'orang terpenting'mu. Itu karena aku ingin kita lebih mengakrabkan diri kita satu sama lain. Jika kita sudah kenal akrab, aku pasti mau jadi pacarmu. Gomen…Yami."

"He…hehe…hehehe…" tawa Yami terdengar sedih oleh Miyuki. Miyuki semakin takut mendengar tawa Yami karena sakit akibat penolakannya. Kemudian Yami menoleh ke arah sungai itu. "Sudah kuduga, pasti aku akan ditolak mentah-mentah olehmu, hime. Heh…aku emang bodoh, tiba-tiba nembak kamu padahal kita baru kenal. Aku emang bodoh bahkan terlalu bodoh di hadapanmu. Dasar baka!" katanya sambil mengepalkan kedua tangannya dan menunduk kembali sehingga poninya menutup setengah wajahnya. Dia pasti akan menangis kecewa, tapi dia tahan karena dia tak ingin Miyuki melihat dirinya menangis karena sakit.

Miyuki langsung mengenggam kedua tangan Yami yang masih mengepal. Tangan Yami bergetar karena menahan amarah dan sedihnya agar tidak diketahui oleh Miyuki, namun Miyuki bisa merasakan dari tangan Yami. "A…aku…aku minta maaf, Yami. Aku tidak bermaksud menyakitimu. A…aku tahu aku salah. Gak seharusnya aku menolakmu. Aku…aku emang…orang yang…suka menyakiti hati orang lain. Aku minta maaf." Tangan Miyuki bergetar karena takut, dan air mata mulai mengelilingi iris matanya yang biru itu. Yami langsung menoleh ke arah himenya yang mulai menangis. "Aku gak pantas bersikap baik padamu, karena…aku pasti akan…menyakiti…perasaan orang lain. Aku memang pantas jadi 'gadis iblis' yang gak punya perasaan. Aku…aku…ugh…"

Yami langsung berdiri dan jongkok di samping kursi Miyuki sambil memegang kedua tangan himenya. Yami tahu himenya begitu takut jika dia marah terhadapnya. Kemudian Yami menghapus air mata Miyuki dengan tangannya yang hangat dan mengusapnya dengan lembut. "Hime, aku mohon jangan menangis. Aku yang salah. Aku terlalu terburu-buru menembakmu, padahal aku tahu kalo kita masih dua hari ketemu. Ini salahku."

"Gak. Ini salahku. Aku cewek bodoh. Seharusnya aku nerima kamu. Aku cewek iblis. Aku emang jahat. Aku…aku…" katanya terputus saat Yami menutup bibirnya dengan jari telunjuknya.

"Sssstt…Jangan kau katakan lagi oke?" kata Yami. Miyuki mengangguk. "Anggap saja ini kesalahpahaman kita berdua. Emang benar katamu, kalo kita harus mengakrabkan satu sama lain lebih dulu, dengan begitu kita bisa dengan tenang saat kita berstatus pacar. Itu kan yang kau mau?" katanya. Miyuki mengangguk langsung tersenyum lembut dan mencium kedua pipinya yang basah karena air mata dan mencium dahinya dengan lembut. Kemudian Yami mengelus pipinya Miyuki agar himenya merasa tenang. "Aku janji gak akan membuatmu menangis lagi. Gak apa-apa kau menolakku sebagai pacarmu, tapi jangan takut, aku masih menganggapmu sebagai 'orang terpenting'ku dan aku akan selalu melindungimu, menyayangimu dan mencintaimu seperti biasa. Gimana?"

Miyuki memegang tangan Yami yang masih mengelus wajahnya. Dia merasa nyaman dan tenang saat merasakan telapak tangan Yami yang begitu hangat hingga akhirnya dia berhenti menangis. "Ya, aku mau kok. Arigatou nee sudah mengerti perasaanku." katanya.

"Iie. Aku lha yang berterima kasih karena kau memberiku saran agar tidak terburu-buru menembakmu. Arigatou, Hime. Udah ya jangan nangis lagi ntar cantiknya ilang lho!" canda Yami membuat Miyuki malu. "Eh…bukan ilang sih, tapi tambah cantik kalo nangis hehehe…" goda Yami sambil tertawa kecil.

"Mou…Yami, jangan mulai gombal lagi deh!" kata Miyuki kesal.

"Makanya kalo gak mau aku gombalin, kau harus senyum donk. Ayo senyum…" goda Yami dengan senyum lembutnya. Akhirnya, Miyuki kembali tersenyum dengan khas kelembutannya. "Nah, gitu donk kan kalo senyum pasti cantik." katanya sambil mengusap air mata Miyuki.

"Hai…hai…" katanya tersenyum.

"Jangan nangis lagi lho ntar dilihat orang gimana? Bisa-bisa aku kena getahnya. Belum lagi kalo Yugi tahu kakak tercintanya nangis gara-garaku beh bisa mampus deh"

"Ah…biarin. Salahnya bikin aku nangis." kata Miyuki kesal.

"Hai…Gomen…. Sebagai permintaan maaf, kau mau pesan masakan apa untuk dibawa di rumah? Mungkin aja, saat kita sampai di rumah, tiba-tiba Yugi kelaparan kan udah ada masakan dari resto ini." tawar Yami sambil berdiri.

"Ah iya benar. Kita pesen satu makanan inti dan satu Ice Cream White Chocolate."

"Emang Yugi suka masakan Korea?"

"Suka kok walaupun gak semua."

"Ok deh. Aku panggil waitressnya dulu." kata Yami sambil menekan tombol panggilan.

Tak lama waitress datang ke meja mereka. "Ada yang bisa saya bantu lagi?" tanyanya.

"Kami ingin memesan satu masakan inti dan satu Ice Cream White Chocolate untuk dibawa pulang. Kalo bisa es krimnya bisa bertahan lama bekunya karena perjalanannya agak lama." kata Yami.

"Baiklah. Untuk es krimnya kami bisa membuatkannya yang bekunya bisa bertahan lama sampai ke rumah Anda. Kalo makanan intinya?"

"Makanan intinya sama seperti yang saya pesan tadi." kata Miyuki.

"Baiklah. Lalu, Anda ingin menunggu di sini atau menunggu di tempat kasir?" tanya waitress.

"Lebih baik kami menunggu di tempat kasir karena kami langsung berangkat ke bandara." kata Yami.

"Baiklah…silahkan ikut saya" kata waitress. Mereka berjalan menuju tempat kasir. "Baiklah, Anda tunggu di sini, saya akan menyerahkan menu pesanan tadi ke dalam dapur, setelah itu saya kembali ke kasir untuk menghitung total semua." kata waitress sambil membungkuk kemudian meninggalkan mereka di depan kasir.

"Ah…aku ingin ke toilet dulu. Mau mencuci wajahku dari bekas air mata tadi. Biar Yugi gak khawatir melihatku yang lagi sedih." kata Miyuki.

"Hu uh…dandan yang cantik ya, ore no hime." kata Yami.

"Jangan mulai lagi." kata Miyuki.

"Hai." singkat Yami. Miyuki kemudian berjalan menuju toilet wanita untuk membasuh wajah dan bermake up. Dan seperti biasa banyak pasang mata yang melihat ke arah Yami namun Yami menganggapnya biasa sambil tersenyum hangat dan membungkuk orang yang melihatnya. 'Lebih baik saat di bandara aku memakai kaca mata hitam agar tidak ada yang melihat aku. Aku juga akan memberitahu Miyuki.' pikirnya. Tak lama waitress datang menemui Yami dan menghitung total makanan yang mereka pesan.

IN LADY'S TOILET

Miyuki mencuci wajahnya di wastafel toilet wanita. Dia membasuh wajahnya dengan mengunakan kedua telapak tangannya, kemudian dia memakai sabun muka, lalu membilasnya sampai bersih. Setelah mencuci wajahnya, dia mengeringkan wajahnya dengan handuk kering kecil kemudian dia mulai memakai bedak dan menggunakan lipsgloss. Saat dia sedang sibuk bermake up, ada 3 gadis masuk ke dalam toilet dan mereka terkejut karena melihat idolanya di sana.

"Eh…itu bukannya Miyuki Hanazawa, personil dari 'Freyja'?" kata gadis berambut pendek sebahu dan lurus dengan warna kuning.

"Iya. Itu Miyuki. Idola kita" kata gadis berambut panjang sepinggang dan lurus dengan warna merah magenta.

"Masa? Ayo kita kesana teman-teman." kata gadis berambut pendek sebahu bergelombang dengan warna coklat muda. Mereka bertiga berjalan ke arah sang idolanya.

"Nah, sudah beres" kata Miyuki selesai bermake up namun dia tidak mengetahui ada 3 gadis fansnya berjalan mendekatinya.

"Ano…konnichiwa, Miyuki-san" kata gadis berambut pendek sebahu dan lurus dengan warna kuning.

Miyuki menoleh ke arah sumber suara itu dan mendapatkan tiga gadis fansnya. "Hai, konnichiwa…ada yang bisa saya bantu?" tanyanya.

"Ano…gomen…kami tidak bermaksud untuk mengganggu Miyuki-san yang sedang berdandan" kata gadis berambut panjang sepinggang dan lurus dengan warna merah magenta.

"Ah gak. Aku baru aja selesai. Kalo boleh tahu, ada apa ya?" tanya Miyuki ke tiga gadis.

"Kami bertiga fans berat Miyuki-san. Kami ingin meminta tanda tangan dan foto bersama Miyuki-san. Boleh kan?" kata gadis berambut pendek sebahu bergelombang dengan warna coklat muda.

"Wah, benarkah? Aku senang sekali bertemu dengan fans beratku. Boleh aja kok dengan senang hati."katanya sambil tersenyum lembut. Tiga gadis itu langsung terpana melihat senyum Miyuki yang damai dan tenang. "Boleh tahu, nama kalian siapa?" lanjutnya.

"Namaku Rina" jawab gadis berambut pendek sebahu dan lurus dengan warna kuning yang bernama Rina sambil menyerahkan selembar kertas dan spidol hitam.

Miyuki menerima kertas dari Rina dan menanda tangan kertas dengan namanya dan nama gadis tersebut. "Ri…na…. Hai. Kore." kata Miyuki sambil menyerahkan kertas ke Rina. Miyuki menoleh ke gadis di sebelah kiri Rina. "Namamu?" tanyanya.

"Namaku Haruna." jawab gadis berambut panjang sepinggang dan lurus dengan warna merah magenta yang bernama Haruna

Sama seperti yang pertama. "Ha…ru…na. Hai…Kore". Menyerahkan kertas ke Haruna dan menoleh ke gadis terakhir. "Namamu?

"Yui". jawab gadis berambut pendek sebahu bergelombang dengan warna coklat muda yang bernama Yui.

"Yu…i…. Hai…kore." kata Miyuki sambil menyerahkan kertas ke Yui. Mereka terlihat senang mendapat tanda tangan dari idolanya. "Nah, kita lanjutkan untuk foto bersamanya." katanya. tiga gadis itu mengangguk.

"Hem…lebih baik kita berempat langsung aja biar lebih cepat." kata Rina.

"Ide bagus dengan begitu akan cepat selesai." kata Yui sambil mengambil kemera yang ada di dalam tas dan berjalan ke meja dekat wastafel.

"Kenapa? Jangan terburu-buru begitu." kata Miyuki.

"Gak apa-apa kok. Karena kami baru saja datang dan masuk ke toilet dulu. Kami belum memesan makanan tadi." kata Haruna.

"Hu uh lagipula Miyuki-san juga terburu-buru, jadi kami ambil cara pintas berfoto berempat secara langsung." kata Rina.

"Aduh, jadi gak enak sama kalian." kata Miyuki. Ketiga gadis itu gadis menggelengkan kepala.

"Ok. Udah aku setting." kata Yui sambil berlari ke arah kedua temannya dan sang idolanya. "Siaaap…and cheese…"

"CKLIK" suara kamera milik Yui yang berarti sudah memfoto obyeknya dengan sempurna, sang pemilik langsung berlari dan melihat hasil fotonya.

"Gimana hasilnya, Yui" tanya Rina deg-degan.

"Sukses!" jawab Yui sambil mengacungkan jempol kedua gadis itu.

"Yey." riang Haruna.

Kemudian Haruna, Yui dan Rina menghadap ke Miyuki dan membungkuk badan hormat. "Arigatou, Miyuki-san" ucap mereka bersamaan.

"Dou itashi, minna. Aku balik dulu ya. Sayounara." pamit Miyuki ketiga gadis itu kemudian berjalan menuju pintu keluar toilet.

"Sayounara" balas mereka bertiga bersamaan.

Setelah Miyuki menerima tawaran fansnya, dia berjalan menuju kasir. Saat dia hampir disana, dia berhenti melangkah dan terkejut melihat Yami dikerumuni banyak fans yang ingin meminta tanda tangan dan foto bersamanya. Miyuki hanya menggelengkan kepala karena melihat begitu banyaknya fans yang datang menghampiri Yami daripada fansnya tadi. Kemudian dia bersandar di dinding dekat pintu keluar dan melipat kedua tangannya sambil menunggu Yami selesai melayani fansnya. 1 menit kemudian para fans membubarkan diri karena selesai meminta tanda tangan dan foto bersama Yami. Yami melihat Miyuki bersandar di dinding dekat pintu keluar, Yami langsung berlari menuju ke arah Miyuki.

"Gomen…tadi aku harus melayani para fansku" kata Yami.

"Iie…aku tahu kok. Tadi aku juga melayani para fansku. Kau sudah membayar dan membawa pesananku?" kata Miyuki.

"Sudah, Ore no hime. Nih pesenannya" kata Yami sambil mengangkat tempat bungkus makanan yang bercorak Korea. "Aku bawakan ya. Nanti aku taruh di kursi belakang."

"Jangan! Biar aku bawa aja, daripada nanti kursi belakangmu kotor. Nanti pas waktu berhenti, makanan ini baru di taruh di kursi belakang."

"Hai…, hime."

Miyuki langsung mengambil bungkus makanan dari tangan Yami dan berjalan mendahului Yami. "Ayo kita berangkat. Aku gak ingin adikku menunggu lama di bandara Tokyo." katanya agak ketus.

Yami yang melihat tingkah himenya yang sedikit cemburu dengan tertawa kecil, kemudian dia berlari mengikuti Miyuki. Sesampai di parkir, Yami membukakan pintu kursi depan, Miyuki masuk ke dalam, Yami menutup kembali. Lalu, Yami berlari menuju kursi sopirnya dan masuk ke dalam mobil.

"Kau cemburu ya, hime?" goda Yami sambil memasangkan safebelt.

"Gak. Aku hanya iri aja dengan banyaknya fansmu dengan fansku." jawabnya agak ketus sambil memasang safebelt.

"Iri atau cemburu?" godanya sambil tersenyum dingin.

"Udah deh jangan mulai lagi. Cepat nyalakan mobilnya!" kata Miyuki agak marah. Kenapa? Cemburukah? Ya-iyalah, dia cemburu plus iri kepada Yami yang punya fans sebanyak itu, secara Yami lebih terkenal dibanding 'Freyja' walaupun beda tipis. Tapi menurutnya 'Freyja' cukup terkenal dan dia bersyukur masih ada fans yang menyukainya walaupun gak sebanyak milik Yami.

"Hai…hai…" kata Yami mengeluh sambil menyalakan mesin, kemudian berjalan menuju bandara Tokyo.

Satu menit mereka berdiam diri, tiba-tiba handphone Miyuki berdering sehingga mengaggetkan mereka berdua. Segera Miyuki mengeluarkan handphone dari tasnya dan melihat list di handphonenya yang bertulis 'Calling…Yugi'.

"Siapa?" tanya Yami.

"Adikku. Sebentar ya aku angkat dulu" kata Miyuki. Yami mengangguk mempersilahkan Miyuki untuk mengangkat telpon. "Moshi…moshi…Yugi?"

"Hai…. Nee-chan, aku sudah berada di bandara Tokyo. Sekarang aku sedang duduk-duduk di kursi tunggu. Nee-chan posisi dimana?"

"Aku perjalanan ke sana. Mungkin sedikit telat, gak apa-apa?"

"Gak apa-apa kok, santai aja, nee-chan. Emangnya nee-chan naik taxi?"

"Iie. Aku diantar temanku dengan mobilnya."

"Teman? Apa personil 'Freyja'?"

"Bukan"

"Manager nee-chan?"

"Bukan. Dan mana mungkin Hiro-san bisa mengantarku. Dia kan repot dengan urusannya, Yugi."

"Hehehe…. gomen aku lupa. Apa pelatih nee-chan".

"Jawabanku sama, Yugi. Apalagi dia punya suami, mana mau aku minta tolong Aiko-sensei."

"Oops…gomen. Terus teman nee-chan yang mana?"

"Dia sama sepertiku tapi dia solo. Dia satu agency denganku. Dia mirip denganmu tapi versinya lebih keren dan lebih dewasa."

"Mirip denganku? Versi keren? Dia cowok?"

"Hai. Nanti kau tahu sendiri seperti apa orangnya. Ah…aku sudah sampai di bandara, mau masuk parkiran. Tunggu di situ ya. Jya".

"Hai. Aku tunggu. Jya"

Miyuki menutup handphonenya. Yami melirik ke Miyuki. "Gimana? Dia sudah sampai di bandara Tokyo?" tanyanya.

"Hai. Sekarang dia sedang menunggu di ruang tunggu." jawab Miyuki.

"Oke. Oh ya, aku harap kau untuk memakai kacamatamu. Karena di sana mungkin banyak fans dariku atau pun darimu yang menunggu kita di dalam. Kalo sampai mereka tau siapa kita, mereka gak akan segan-segan untuk terus mengerumuni kita dan membuntuti kita kemanapun. Aku gak ingin kita merasa menjadi gak nyaman kalo ada stalker terus memantau kita, apalagi saat kita menjemput Yugi seperti ini malah membuat Yugi bertambah canggung kan?" jelas Yami sambil menunggu antrian untuk mengambil tiket parkir bandara.

"Aku tahu itu. Aku juga sudah membawanya kok. Tapi bukan kacamata hitam karena aku gak seberapa suka aja." kata Miyuki sambil mengeluarkan kacamata bening dengan ukuran biasa lalu memakainya. "Nah, selesai. Udah cukup gak ketahuan kan?" lanjutnya sambil menoleh ke Yami.

Yami hanya menghela nafas melihat penampilan Miyuki yang masih terlihat wajahnya. "Haaaah…kalo pake kacamata itu mana bisa aman dari para stalker." kata Yami kemudian mengambil kacamata hitam di depan kemudi mobil itu dan memakainya.

Miyuki langsung takjub melihat Yami yang sudah memakai kacamata hitam. Lebih keren dan lebih tampan. Tapi dia tetap membela dirinya. "Ah…biar aja. Toh, setiap aku menjemput Yugi, aku selalu memakai kacamata ini.".

"Memang para stalker gak tahu?" tanya Yami sambil mengambil tiket parkir.

"Gak. Aman-aman aja kok." jawab Miyuki singkat.

"Baiklah kalo gitu. suatu saat nanti aku akan membelikanmu kacamata hitam untuk kau pakai saat berada di tempat seperti ini." kata Yami yang kemudian diikuti oleh anggukan Miyuki.

Yami langsung memarkir mobilnya di parkiran mobil yang jaraknya sedikit lebih dekat dengan gedung bandara. Setelah mematikan mobil, Yami membuka pintu dan keluar, berjalan menuju pintu himenya, membukakan pintu depan, Miyuki keluar, Yami membuka pintu kursi belakang, Miyuki menaruh makanan di atas kursi, dan terakhir Yami menutup pintunya.

"Ayo kita masuk" kata Yami berjalan menuju gedung bandara dan diikuti oleh Miyuki.

Kali ini Miyuki dan Yami tidak saling bergandeng tangan seperti saat di resto karena mereka tidak ingin ada yang tahu tentang hubungan mereka. Syukurnya, mereka tidak didatangi oleh para fans mereka dan tidak diikuti oleh para stalker. Sesampainya di ruang tunggu, Miyuki mencari-cari adiknya, begitu juga Yami karena Yami tahu bahwa adiknya punya ciri fisik yang sama sehingga membuat Yami untuk mudah menemukannya.

Tak lama Yami melihat seorang lelaki yang mirip dengan dirinya yang sedang duduk di sana menunggu seseorang. 'Itu bukannya Yugi? Kalo gak salah fisiknya mirip denganku.' pikirnya dan dia memanggil Miyuki yang ada di sebelahnya dengan menepuk bahu himenya. "Miyuki…" saat Yami memanggilnya, Miyuki langsung menoleh ke Yami.

"Ada apa?" tanya Miyuki.

"Apa itu cowok yang duduk di kursi ruang tunggu itu adikmu?" tanya Yami sambil menunjuk ke arah cowok yang disebutnya.

Miyuki langsung melihat cowok yang ditunjuk Yami. "Hai…benar itu Yugi." jawabnya yakin dan kemudian berlari menuju ke arah Yugi berada diikuti oleh Yami. "Yugi…!" panggilnya.

Yugi menoleh ke arah sumber suara dan suara itu berasal dari kakak sepupu tercintanya. "Nee-chan…" sahutnya sambil berdiri dan membuka kedua tangan untuk menerima pelukan dari kakaknya.

Miyuki dan Yugi berpelukan erat seperti mereka bertemu orang yang mereka sayangi yang telah lama pergi dan kini bertemu lagi. Mereka saling melepas rindu dan kangen dengan keluarga tercintanya. Miyuki hampir menangis tapi dia berusaha untuk menahannya karena dia tidak ingin adiknya bertambah khawatir melihat keadaannya. Setelah melepas rindu, mereka berdua akhirnya melepas pelukannya perlahan-lahan.

"Yugi, kau kini bertambah tinggi dan dewasa. Sekarang tinggimu menyamaiku." kata Miyuki sambil memegang wajah Yugi dengan lembut.

"Hai. Nee-chan juga bertambah cantik. Lebih cantik dari sebelumnya." kata Yugi. Kemudian mereka tertawa senang. Yami turut senang melihat momen mereka berdua.

Miyuki menoleh ke arah Yami. "Yugi, kenalkan. Dia temanku satu agency yang aku katakan tadi, namanya Yami Sennen. Yami, kenalkan. Ini adikku yang bernama Yugi Mutou, yang aku ceritakan kemarin." katanya sambil memperkenalkan mereka berdua.

"Yami Sennen" kata Yami membungkuk hormat.

"Yugi Mutou" kata Yugi membungkuk hormat.

'Jadi, ini adik sepupunya, ore no hime? Ternyata emang bener, dia mirip banget denganku. Tapi yang berbeda, dia lebih imut dan lucu dariku, matanya berwarna ungu, tingginya sekarang sama dengan hime, dan poni emasnya gak ada satu pun yang berdiri sepertiku' pikir Yami sambil mengoreksi fisik Yugi.

'Jadi, ini ya temannya nee-chan? Mirip banget denganku, tapi dia lebih keren, lebih tinggi, tiga poni emas berdiri. Yang aku penasaran itu warna matanya itu berwarna apa ya? Terus katanya, dia sama juga seorang idol solo. Kalo dilihat dari penampilannya, emang gak salah lagi. Dia pasti lebih terkenal ketimbang nee-chan.' pikirnya sambil mengoreksi Yami.

"Yuk, kita segera pulang sebelum malam" kata Miyuki.

"Hai, aku ambil tas dan koperku" kata Yugi sambil mengambil dua tasnya, tapi tiba-tiba Yami menawarkan untuk membantu membawa koper Yugi.

"Biar kopernya aku bawa" tawar Yami sambil menarik koper Yugi.

"Ah…gak perlu repot-repot kok. Aku bisa membawa sendiri."

"Gak apa-apa kok. Aku gak keberatan membantumu karena kau adik temanku."

"Tapi…" kata Yugi terpotong.

"Gak apa-apa, Yugi. dia emang suka bantu-bantu kok." kata Miyuki. Akhirnya, Yugi mengangguk dan membiarkan Yami membawa kopernya, sedangkan Yugi membawa dua tas, yang satu tas ransel ukuran sedang, yang satu lagi tas kecil yang dia bawa di bahu sebelah kanannya.

Mereka bertiga berjalan menuju mobil Yami yang terparkir di parkiran mobil. Yugi berhenti dan terkejut melihat mobil milik Yami yang bisa dibilang keluaran terbaru di Jepang. Yugi menganga tak henti-hentinya melihat mobil keren.

'Ya ampun…nih mobil kan kalo gak salah Mazda 6 keluaran terbaru tahun 2013? Dan pasti harganya sangat mahal. Apa Yami orang kaya?', pikir Yugi.

Miyuki langsung berhenti dan membalikkan badan ke arah dimana Yugi berhenti. Dia hanya mengangkat sebelah alisnya karena aneh melihat adiknya, kemudian Miyuki berjalan ke arah Yugi, sedangkan Yami terus berjalan ke mobilnya, membuka bagasi dan memasukkan koper Yugi.

"Yugi…?" panggil Miyuki sambil menggerakan telapak tangannya di depan wajah Yugi. Tersentak Yugi sadar dari shocknya. "Daijoubu ka?" tanyanya heran.

"Daijoubu, nee-chan. Hehehe…gomen…" jawab Yugi sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.

'Hem…mungkin dia kaget melihat mobil milik Yami yang terbilang mewah dan mahal menurut Yugi' pikir Miyuki langsung tertawa kecil kemudian menepuk bahu Yugi. "Ayo cepat kita ke sana." katanya. Yugi mengangguk dan mengambil tasnya.

Setelah, memasukkan koper, Yami menoleh ke arah Yugi dan Miyuki yang sedang berjalan menuju mobilnya. "Kalian ngapain di sana?" katanya. Miyuki hanya tersenyum ke arahnya, sedangkan Yugi terdiam karena masih shock.

"Gomen nee…tadi Yugi berhenti berjalan karena shock melihat mobilmu." jawab Miyuki polos.

"Ehehe…hai…gomen…" kata Yugi.

"Iie, daijoubu." kata Yami. Tiba-tiba Yami merasakan firasat buruk yang mengatakan bahwa ada stalker yang mulai mengintai mereka. "Mana tas ranselmu? Biar aku masukkan ke bagasi." katanya sedikit memaksa. Yugi spontan menyerahkan tas ransel ke Yami. "Kalian berdua, cepat masuk ke mobil" katanya ke arah Yugi dan Miyuki.

Miyuki yang tahu dengan ucapan Yami, langsung berjalan dan masuk ke dalam mobil di kursi depan, Yugi hanya mengikuti kata Yami dan segera masuk ke dalam mobil di kursi belakang, dia mendapati sebuah kotak bercorak Korea yang berisi masakan Korea.

"Nee-chan, ini apa?" tanya Yugi sambil memegang kotak itu.

"Itu masakan Korea. Aku memesan masakan untukmu pada saat kita di rumah. Yami lho yang membelikannya untukmu" kata Miyuki.

"Benarkah? Kapan?" tanya Yugi terkejut.

"Tadi siang sebelum kami datang ke bandara. Restonya dekat sama bandara." jawab Miyuki. Tak lama, Yami masuk ke dalam mobil di kursi sopir.

"Arigatou, Yami-kun" ucapnya Yugi senang.

"Dou itashi" balasnya singkat kemudian menyalakan mobil dan berjalan menuju ke arah pintu keluar bandara, menyerahkan tiket dan surat kendaraannya. Setelah mengambil kembali surat kendaraannya, Yami langsung menyetir sedikit lebih cepat. "Gomen ne…aku tadi memaksa kalian untuk cepat-cepat masuk ke mobil." tambahnya.

"Iie. Aku tahu kok." jawab Miyuki.

"Iie. Tapi memangnya apa yang telah terjadi?" tanya Yugi penasaran.

"Tadi aku merasa ada stalker yang mulai mengintai kita. Aku tak tahu pasti berapa orang stalker yang mengintai kita. Tapi untungnya mereka tidak mengetahui keberadaan kita." jawab Yami.

"Apalagi, di tempat seperti bandara, pasti banyak stalker yang menunggu kita disana. Dan yang pastinya, mereka gak akan segan-segan untuk gak membiarkan lepas idolanya semudah itu saja. Sampai-sampai mereka terus membuntuti kita sampai di rumah. Karena itu, kita gak akan bisa nyaman melakukan aktivitas kalo ada stalker." tambah Miyuki.

"Oh gitu ya?. Baiklah kalo gitu." kata Yugi mengangguk. 'Ya secara…mereka artis idol terkenal di Jepang, jadi wajar aja mereka diikuti para stalker. Aku sih bisa melindungi nee-chan dari siapapun, tapi apa Yami bisa melindungi nee-chan disaat aku berada di Hokkaido?' pikirnya.

Setelah satu jam perjalanan dari bandara, mereka sampai di rumah dengan selamat. Selamat dari macet dan para stalker. Kemudian mereka keluar dai mobil sendiri-sendiri. Miyuki keluar kemudian mengambil kotak makanan yang ada di sebelah Yugi, Yugi keluar sambil membawa tas kecilnya kemudian membuka gerbang, Yami keluar dari mobil dan mengambil dua tas dari bagasinya, menyerahkan tas ransel ke Yugi sedangkan tas koper Yami yang membawanya kemudian menutup pintu bagasi dan mengunci mobil. Mereka bertiga langsung masuk ke rumah Miyuki. Yugi lebih dulu masuk ke dalam rumah, kemudian menyalakan semua lampu di rumahnya. Miyuki berjalan ke dapur dan memindahkan masakan inti ke dalam cawan dan es krim di gelas es krim. Yami masuk paling terakhir karena setelah menutup gerbang. Yami melihat rumah Miyuki yang begitu sederhana dan kecil, tapi suasana di sini begitu tenang, nyaman, dan sejuk.

'Berbeda dengan mansionku yang begitu serba megah. Rumah hime begitu sederhana tapi nyaman.' pikirnya sambil melepas kacamata hitamnya. Tiba-tiba lamunannya hilang saat Yugi memanggilnya.

"Yami-kun..?"

"Hai…?" sahut Yami menoleh ke arah Yugi yang berada di tengah lantai menuju ke atas.

"Bawa koperku kemari. Ikut aku ke kamarku." katanya sambil berjalan ke lantai dua. Yami mengikutinya juga naik ke lantai dua.

Sesampainya di lantai dua, dia melihat dua pintu kamar berjejer sedikit menjauh. Yami melihat Yugi membuka pintu paling pojok dalam dan masuk ke dalam ruangan itu.

"Silahkan masuk, Yami-kun" kata Yugi mempersilahkan Yami. "Ini kamarku. Gomen kalo ruangnya kecil" tambahnya.

"Dou itashi." kata Yami.

Yugi terkejut melihat kedua mata Yami yang begitu tajam dan warna iris matanya yang berwarna merah ruby. 'Wow…baru kali ini aku lihat mata berwarna merah ruby. Keren juga ternyata.' pikirnya.

"Ano…kopernya ditaruh dimana?" tanya Yami sehingga lamunan Yugi hilang.

"Taruh saja di sebelah pintu, nanti biar aku yang menatanya." jawabnya.

"Oh, ya ruang sebelah tadi kamar siapa?" tanya Yami

"Kamar nee-chan" jawab singkat Yugi

"Kalian hanya tinggal berdua saja? Lalu kemana yang lainnya?" tanya Yami.

"Orangtua kami meninggal dan ji-chan juga menyusul mereka. Jadi hanya kami berdua saja." jawab Yugi menunduk sedih.

"Gomen…aku gak tahu soal itu. Aku turut berduka." kata Yami turut sedih.

"Iie, daijoubu. Oh ya, ada yang aku tanyakan padamu, Yami-kun" kata Yugi meminta

"Apa itu?" tanya Yami penasaran.

"Kau berteman dengan nee-chan sejak kapan?" tanya Yugi yang serius ke Yami.

Yami terdiam mendengar pertanyaan Yugi. 'Aku harus jawab apa ya? Aku gak mungkin bilang kalo aku kenal dengan kakaknya baru kemarin. Pasti dia gak akan ngijinin aku untuk terus menemani hime. Aku harus sedikit berbohong.' pikirnya. "Kami sudah cukup lama kenal. Kira-kira tiga bulan yang lalu." jawab Yami.

"Begitu. Boleh aku minta tolong padamu?" tanya Yugi sekali lagi.

"Boleh. Kau ingin meminta tolong apa padaku?" tanya Yami.

"Bisakah kau…mau menjadi penggantiku untuk melindungi nee-chan disaat aku kembali ke Hokkaido?" tanya Yugi.

"Tanpa kau mintapun, aku pasti akan melindunginya dengan nyawaku sendiri. Aku sudah janji pada diriku sendiri dan orangtuaku, jika aku bertemu dengan gadis yang sudah lama aku cari, maka akan kulindungi dia dan aku gak akan melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya." jawab Yami dengan yakin.

'Kesalahan kedua kali? Dia bertemu nee-chan yang sudah lama dia cari, apa maksudnya?' pikirnya. Saat dia ingin menanyakan hal itu, tiba-tiba terdengar suara penggilan di lantai 1.

"Yami…. Yugi…. Turunlah, aku sudah siapkan jajanan dan minuman untuk kalian." teriak Miyuki di lantai satu.

"Yami-kun, ayo kita turun."

"Hai, shikashi…"

"?"

"Gomen, aku harus pulang dulu karena ada urusan yang menungguku di sana." tolak Yami dengan lembut.

"Begitu ya? Gak apa-apa kok. Tapi aku ingin kau pamit pada nee-chan dulu."

"Hai." singkat Yami.

Yugi dan Yami berjalan menuju ruang tamu yang di sana sudah ditunggu oleh Miyuki dan dia sudah menyediakan minuman dan minumannya.

"Ayo, kita bersantai dulu." ajak Miyuki.

"Arigatou, hime. Shikashi…" kata Yami.

"Ada apa?" tanya Miyuki.

"Gomen ne, aku harus kembali pulang karena ada urusan di sana. Gomen." tolak Yami.

"Daijoubu ka? Kau gak terlalu capek kalo gak istirahat dulu?" tanya Miyuki khawatir.

"Daijoubu. Aku masih kuat kok."

Baiklah kalo gitu, biar aku antar sampai depan gerbang ya." kata Miyuki sambil tersenyum.

"Hai, arigatou". ucap Yami.

"Aku ikut." kata Yugi.

Miyuki dan Yugi mengantar Yami sampai di depan gerbang. Kemudian, Yami menoleh ke arah Yugi dan Miyuki. Yami meronggoh sesuatu di saku dan memberikan kartu nama pribadinya ke Miyuki.

"Ini kartu nama pribadiku. Di situ ada nomor handphone. Harus kau simpan ya. Mungkin jika kau ingin menelponku, telpon saja." kata Yami tersenyum.

"Hai. Arigatou" ucap Miyuki sambil tersenyum kemudian memasukkan kartu nama ke dalam saku jaketnya.

"Dou itashi." katanya kemudian menoleh ke arah Yugi, "Aku pegang janji yang aku katakan padamu." lanjutnya, kemudian masuk ke mobil dan pulang meninggalkan rumah Miyuki.

Miyuki menoleh ke Yugi. "Emangnya dia janji apa padamu?" tanya Miyuki penasaran.

"Hi-mi-tsu." kata Yugi sambil mengedip sebelah mata dan tersenyum.

"Terserah kau aja deh. Ayo masuk. Kau belum makan lho."

"Hai." kata Yugi sambil berjalan masuk ke rumah.

Miyuki menutup gerbang dan mengunci gerbang kemudian mengikuti Yugi masuk ke dalam rumah. Namun langkah terhenti saat ada yang memanggilnya.

"Nak Miyuki…"

Miyuki dan Yugi menoleh ke arah sumber suara itu, dan tidak lain adalah para tetangganya yang datang di depan gerbang rumahnya.

"Minna-san, ada apa malam-malam kemari?" tanya Miyuki sambil berjalan menuju gerbang diikuti oleh Yugi. "Apa saya bukakan gerbangnya dulu agar kita bisa berbicara di dalam rumah?" lanjutnya.

"Gak usah. Kami ke sini hanya sebentar kok. Lagipula gak terlalu serius kok." kata tetangga 2.

"Eh, itu nak Yugi." kata tetangga 1. Yugi kemudian membungkuk hormat. "Kau tadi sampai di sini jam berapa? tanyanya.

"Barusan aja." jawab Yugi sambil tersenyum.

"Wah, sekarang nak Yugi semakin tinggi dan semakin cakep ya" kata tetangga 4.

"Arigatou gozaimasu." ucap Yugi membungkuk.

"Ah…sampe kelupaan. Apa ya tadi?" kata tetangga 2.

"Kita mau minta tolong sama nak Yugi dan nak Miyuki untuk rencana kita" jawab tetangga 1.

"Ya ampun iya lupa" kata tetangga 2 sambil menepuk dahinya. Yang lainnya hanya ber-sweat drop. "Sebenarnya kami punya rencana membuat acara dan surprise begitu, tapi kami mau minta tolong kepada kalian berdua, terutama nak Miyuki." jelasnya.

"Atashi…?" tanya Miyuki sambil menunjuk dirinya sendiri.

"Hai…tapi kalo kamu gak keberatan." kata tetangga 1.

"Oh…tentu saja saya gak keberatan membantu minna-san. Malah kami senang kok. Emangnya ada apa ya?" tanya Miyuki penasaran.

"Begini…" kata tetangga ke 2.

TBC


Ricchan: CUUUUT! Alhamdulillah... ARIGATOU MINNA-SAN!

Pemeran: HAIII. ARIGATOU...! (#kegirangan)

Ricchan: Kau hebat ya, Yugi!

Yugi: Arigatou. (#senyum)

Yami: Lu enak terakhir keluar baru seneng, lha gue malah apes!

Yugi/Ricchan: Dou shita no?

Yami: (#lirik ke belakang didapat 2 cewek mulai mengeluarkan aura pembunuh)

Yugi/Ricchan: O...ow...

Alice/Lillian: YAAAAAMIIIIIIII...!

Yami: (#cegluk).

Alice: Lu apa'in adek gue heh? (#tangan di kepal).

Lillian: Mulai lancang ye bikin adekku nangis (#bawa pedang).

Yami: Gue cao dulu (#ambil langkah seribu langsung kabur).

Alice/Lillian: WOIIIII...JANGAN KABUR! (#ngejar Yami).

Yugi: (#sweatdrop) Ini kan salahmu, Ricchan.

Ricchan: (#gak reken) Yuk kita replay review... (#senyum).

To Re-chan (Gia-XY)

Miyuki: Ahahahaha...ya begitulah saya. Arigatou (#nunduk)

Yami: Ehehehe...kan udah gue bilang, kalo dihadapan Ore no Hime, gue bisa agresif malah lebih.

Ricchan: (#noel Yami) Ati2 belakang lu.

Yami: (#noleh ke belakang).

Alice/Lillian: KURANG AJAAAAARRR! (#ngamuk + ngejar).

Yami: GAAAAAAHHHH! AMPUNI HAMBAAAAAAAA! (#lari terbirit2).

Ricchan: Masalah dapet nomor hape ya tentu dari gue wkwkwkwk...

Yugi: (#mentungin Ricchan)

Ricchan: Kalo dari ficnya itu, alamat + nomor rumah itu dapat dari data2 yang ada di managernya alias Si Hiro (secara dia dapat peran sebagai manager).

Yugi: Gue udah nongol tuh (#nunjuk fic).

Akari: Eh...(#blush)

Ririn: Yoilah...gue kudu protect donk (#ketawa sombong)

All (exp Yami, Alice & Lillian): (#sweatdrop).

To Runa / Ru-chan (Psycho Childish)Ricchan: Makanya ntu, kudu bisa ngapalin tokoh2 donk biar inget & gak bolak-balik baca prolog. Alias melatih daya ingat.

Yugi: Hedeh...jangan asom dulu, non. Aku normal tau!

Ricchan: Emang normal tapi overprotect.

Yugi: (#twitch)

Ricchan: Dia emang begitu dari dulu. Sory ye yang bersangkutan lagi melarikan diri dari 2 dewi kematian (#nunjuk Yami dikejar sama Lillian & Alice).

To Litte (Litte Yagami)

1. (Re: List)

Ricchan: Yup, gue sengaja memadukan 3 tempat (Jepang, Mesir & Yunani). Berhubung inkarnasinya Miyuki (Freyja/Lillian) itu dari Yunani, ya gue masukkan aja.

2. (Re: C1)

Ricchan: Itu cuman panggilan aja soalnya dia reinkarnasi dari Pharaoh Atemu. Bisa dibilang tubuh Yami tapi jiwa dan pikiran Atemu. Untuk alasannya, tunggu chapter berikutnya bakal dibahas kok. Terus 'Freyja' di modern itu girlband yang gue ambil dari girlbandnya di Korea (secara K-POPers). Judul lagunya tadi Koda Kumi - Get Up & Move. Kalo si Yami...(#nunjuk Yami yang masih dikejar mbak2nya Miyuki).

3. (Re: C2)

Miyuki: (#ketawa kering)

Ricchan: Ya gitulah Miyuki. Rada polos orangnya.

Oke, arigatou udah baca chapter 3 dan review di chapter 2. Jadi, sampai jumpa lagi di chapter berikutnya minggu depan (Insya Allah kalo gak lagi tabrakan sama deadline kampus). Tetep R&R ok.

Jya, minna ^_^