Naruto (c) Masashi Kishimoto
Kaktus (c) Shin-Eiise Kuroyuuki
Naruto menghela napas. Hari pertama tidak berjalan dengan lancar. Sudah mempunyai musuh di hari pertama dirimu bersekolah bukanlah hal yang menyenangkan. Kalian juga tau itu, kan? Well, kecuali kau seorang masochist.
Seharusnya saat ini adalah jam pelajaran seorang guru bernama Hatake Kakashi.
Naruto yakin walau namanya saat ini bukanlah Namikaze Naruto, seseorang yang ia anggap sebagai pamannya sendiri itu pasti mengenalinya walaupun kesannya baru kenal. Ayahnya dan guru mesum itu 'kan sangat dekat. Dia bahkan sering datang ke rumahnya dulu. Naruto dan Kakashi juga sangat akrab.
Tapi tidakkah dia ingin menemui Naruto barang sebentar saja? Yah- memang tadi sudah sih, di awal. Tapi yang benar saja! Masa pamannya tersebut tidak mau menemuinya lagi?!
CTAK
Dalam pemikirannya tersebut, Naruto yang sedang memegang pensil mematahkannya begitu saja karena emosi. Emosi akibat pemikiran bahwa seseorang bernama Hatake Kakashi yang lebih memilih bersama dengan buku oranye mesumnya daripada keponakannya sendiri.
"Doushita?*" (*ada apa?)
Naruto terjengat kaget. Dia yang sedang tenggelam dalam lamunannya tiba-tiba di interupsi oleh Hinata yang sedang duduk berlutut disamping mejanya dengan wajah penasaran.
"Ah, Hinata." Naruto menghela napas lega. Jantungnya berdebar kencang akibat ulah Hinata tersebut. Dibilang ulah Hinata sebenarnya tidak seperti itu karena dari awal, Naruto sendiri lah yang tidak sadar akan keberadaan Hinata.
"Ada sesuatu yang mengganggumu, Naru-chan?" Hinata memiringkan kepalanya. Dengan iris matanya yang berwarna manis (bagi Naruto) dan tatapan polos seperti itu, Naruto yang sama-sama perempuan pun merasa wajahnya memanas.
"Hinata...kau sudah punya pacar?" tidak ada angin tidak ada hujan, Naruto tiba-tiba menanyakan hal itu. Sontak membuat wajah Hinata memerah dan matanya melihat ke arah lain dengan gugup.
Sambil memainkan jari-jarinya Hinata menjawab, "...dengan sifatku yang seperti ini, mana mungkin ada yang mau denganku?" memang lirih, namun Naruto bisa mendengar jelas perkataan Hinata.
"Kalau aku laki-laki, aku mau!"
Hinata terkejut. Ia melirik ke sekitarnya dengan gugup. Pasalnya ucapan Naruto itu terlalu keras. Kelas bahkan langsung hening. Para gadis yang bergerombol langsung was wes wos bergosip mengenai tingkah laku Naruto.
"Apa-apaan dia itu? Mau cari perhatian ya?"
"Dasar. Menyebalkan sekali."
"Benar. Sudah mengganggu Uchiha-sama, sekarang berusaha mencari perhatian. Benar-benar memalukan."
"Dasar orang aneh."
"Harusnya dia jaga sikap. Benar-benar norak sekali."
Dari beberapa kalimat yang dilontarkan mereka terdengar dengan jelas di telinga Naruto. Sepertinya ini adalah peringatan keras untuk Naruto agar menjaga sikapnya. Wah, perempuan benar-benar makhluk yang menyeramkan.
Hinata menatap Naruto. Hanya untuk melihat wajahnya yang menatap polos pada Hinata. Seolah-olah dia tidak mendengar ucapan gadis-gadis dikelas dan tidak tau menahu soal itu. Lebih tepatnya dia tidak mempedulikannya. Mana mungkin telinga Naruto se-tuli itu sampai tidak mendengar ucapan mereka? Tentu saja dia dengar. Tapi dia memilih untuk tidak mengindahkannya kalau tidak mau punya lebih banyak musuh.
"Aku akan menikahimu kalau aku laki-laki. Sayangnya aku perempuan. Kau tau 'kan aku masih normal jadi hubungan sesama jenis itu terlarang. Yah, walau aku suka dengan sesama jenis pun, tetap saja itu namanya hubungan terlarang." Hinata heran wajah Naruto masih lempeng-lempeng saja. Tidak merasa terganggu, marah, sedih, dan sebagainya. Hinata tertawa kecil.
"Kenapa tertawa, sih? Aku serius waktu kubilang akan menikahimu." Ucap Naruto gemas. Gemas karena Hinata malah menertawai ucapannya.
"Tapi itu tidak berguna karena kau saat ini adalah perempuan, Naru-chan."
"Benar juga ya. Aku malah jadi seperti melontarkan ucapan omong kosong saja." Naruto tertawa tanpa dosa.
Waktu berlalu, pelajaran berganti begitu pula dengan guru yang mengajar. Dan selama itu pula, Naruto menyadari satu hal.
"Guru disini semuanya tidak becus." Dengan wajah datar Naruto mengatakan itu sambil mengemasi buku-bukunya. Hinata yang menghampirinya tertawa aneh.
"Sepertinya bukan guru disini yang tidak becus. Tapi kau yang tidak paham, Naru-chan."
"Benar! Aku tidak paham sedikit pun dari apa yang diterangkan oleh mereka! Argh." Naruto menjambak rambutnya sendiri dengan gemas.
Ini sudah jam pulang makanya mereka bisa ngobrol bebas seperti ini.
"Naruto, dimana kau tinggal sekarang?"
"Eh?" Naruto berhenti mengemasi bukunya. "Aku tinggal di apartemen yang tidak jauh dari sini. Apa itu namanya. Aku lupa. Duh, apa itu ya..Konoha Residence?"
"Konoha Residence?" Hinata membeo.
"Eh? Oh, iya. Benar itu."
Hinata mendekat. Tangannya memberi isyarat untuk mendekatkan telinganya. Begitu pun dengan Hinata yang mendekatkan bibirnya dan berbisik.
"Bukankah disana biaya sewanya mahal?"
"Oh, tidak. Aku membelinya, bukan menyewa." Jawab Naruto sambil tertawa.
Bohong Naruto bilang seperti itu. Sebenarnya Konoha Residence adalah bisnis ayahnya. Walaupun yang mengatur bukan ayahnya. Tapi anak buahnya yang bernama Umino Iruka. Sama seperti Kakashi, Naruto akrab dengan bawahan ayahnya tersebut.
Naruto sengaja menyembunyikan identitasnya karena kejadian malam itu.
Malam itu, rumahnya dibakar. Ayahnya dibunuh dan Naruto melihat hal itu dengan mata kepalanya sendiri. Saat itu akhirnya Naruto dan ibunya bersembunyi. Namun dalam keputusasaan, ibunya mengemasi seluruh harta beda yang mereka simpan termasuk tabungan dan menyelipkan satu pigura kedalam tas. Ia menutupi tubuh Naruto dengan jubah hitam dan menyuruhnya pergi.
"Dengar. Selamatkan dirimu. Jangan pernah memakai nama Namikaze. Pakai nama Uzumaki untuk keselamatanmu. Jangan khawatirkan aku disini. Kalau kau tidak ingin aku membencimu, maka selamatkan dirimu."
Dalam ketakutan dan kebingungan, Naruto akhirnya mendatangi Iruka.
Naruto menghela napas. Pikirannya benar-benar terbebani akibat peristiwa itu.
"Ada apa, Naru-chan?"
Dan Naruto benar-benar lupa Hinata masih ada didepannya.
"Bukan apa-apa. Aku hanya merasa terbebani akibat tadi pagi ada kodok yang meloncat ke dadaku." Tapi bohong. Hinata membulatkan bibirnya. Ia percaya dengan mudahnya.
"Hinata." Panggil seseorang.
"Oh, Nii-san." Sahut Hinata. Orang yang memanggil mendekat.
"Whoa! Kalian benar-benar mirip!" seru Naruto tiba-tiba. Kelas sudah sepi jadi tingkah noraknya tidak menjadi sorotan.
Seseorang itu berdeham. "Tentu saja kami mirip karena kami saudara."
"Ini kakakku. Seperti yang dia bilang, namanya Neji."
"Kami bukan dari orang tua yang sama. Ayahku meninggal dan keluarga Hinata mengadopsiku." Tambah Neji dengan muka datarnya.
"Jadi begitu. Wah, senangnya punya saudara. Aku pun punya tapi dia cukup menyebalkan." Naruto tertawa. "Tapi apa tidak apa-apa? Menceritakan hal ini padaku yang notabene nya baru kalian kenal beberapa jam yang lalu?"
"Karena kau teman Hinata-"
Belum sempat dirinya mendengar jawaban lengkap dari Neji, tangan kirinya ditarik dengan paksa. Tangan kanannya pun menyambar tali tasnya secara asal. Beruntung dia sudah selesai mengemasi barang-barangnya.
"Ah, baiklah aku duluan!" ucap Naruto disela-sela langkahnya yang berusaha seimbang.
"Nii-san, apa maksudmu menceritakan hal itu pada Naruto?" tanya Hinata setelah keheningan menguasai mereka.
"Bukan maksud apa-apa. Ayo pulang."
###
Jadi...disinilah dia sekarang. Berdiri di tempat parkiran sepeda bersama orang yang ada dihadapannya. Heran bercampur jijik tampak diwajahnya. Dan ekspresi tersiksa juga nampak diwajahnya. Kompleks. Wajahnya tampak ngenes sekarang.
"Jadi apa maksudmu menarikku seperti itu, Tuan Muda Pantat Ayam?" tanya Naruto dengan penekanan di setiap kata-katanya.
"Beritahu dimana kau tinggal."
Ha? Naruto heran seketika.
"Untuk apa?"
"Sudahlah. Cepat beritahu!"
HA! Yang benar saja! Batinnya berteriak. Tadi tas nya menjadi korban pemuda kampret ini dan sekarang dia memaksa memberi tau dimana dia tinggal?!
Naruto tertawa dalam hati. Dia tidak akan bisa tertipu. Pemuda ini pasti akan mengirimkan kutukan dan segala bentuk teror ke tempat tinggalnya. HELL NO!
Jadi...Satu, Dua, Tiga!
"KABUR!"
Dengan mengerahkan seluruh tenaganya, Naruto berlari. Ia berniat melarikan diri sebelum pemuda itu menangkapnya atau mengetahui dimana dia tinggal. Siapa yang tau kan apa yang akan dilakukan pemuda sialan ini. Bisa saja dia diculik lalu organ dalamnya dijual ke luar negeri. Naruto menggelengkan kepalanya dengan kencang. Itu tidak akan mungkin terjadi karena ia yakin ia adalah pelari yang handal.
Naruto menoleh kebelakang. Hanya untuk memastikan dirinya aman. Namun ekspektasinya salah. Sasuke justru mengejarnya dengan kekuatan penuh. Bahkan tatapan matanya tampak berbahaya saat ini.
"APA-APAAN INI? KAU MAU APA HAH MENGEJARKU SEPERTI INI?" teriak Naruto gusar.
"Aku mengejarmu untuk menangkapmu."
Nice answer! Teriak Naruto dalam hati. Dalam artian negatif.
Dan hal itu membuat Naruto lengah. Dia tidak melihat apa yang ada didepannya. Dan-
Grep
"Eeek!"
Naruto seketika merasa tercekik. Tidak, dia benar-benar tercekik. Sukses, dirinya berhenti berlari. Itu semua tentu saja adalah ulah dari si tuan muda Uchiha yang menggapai dan mencengkram kerah belakang baju Naruto.
"Uhuk—uhuk!" Naruto terbatuk setelah melepaskan diri. "APA-APAAN KAU?! MAU MEMBUNUHKU YA?!"
Sasuke menutup telinganya. "Berisik!"
"Bodo amat! Kau hampir membunuhku tau!"
"Jadi kau lebih memilih menabrak tiang? Dengan kecepatan segitu, hidungmu pasti patah." Balas Sasuke datar.
Naruto menyentuh hidungnya. Ia membayangkan betapa sakitnya jika hidungnya patah. Itu mengerikan. Batin Naruto sambil bergidik ngeri.
"A-ah, jadi begitu. Terima kasih." Ucap Naruto malu-malu. Ia jadi merasa bersalah karena berburuk sangka pada Sasuke. Tidak dia sangka Tuan Muda ini begitu baik hati.
"Kalau begitu maafkan aku karena memanggilmu-"
"Tentu saja niat awalku untuk menangkapmu dan melakukan sesuatu padamu."
Naruto jadi menelan kalimatnya bulat-bulat. Emosinya meletup-letup. Naruto tampaknya salah mengartikan ucapan Sasuke. Dan akhirnya-
JLEB
Naruto menginjak kaki Sasuke sekuat tenaga ditambah dengan emosinya. Dia sejak dulu selalu menang saat bertengkar dengan kakaknya. Dan jurus pamungkasnya adalah..injak kakinya!
"Adaw! Hey! Apa-apaan kau!" sulit dipercaya, namun Sasuke merintih kesakitan akibat ulah Naruto.
"Cuih. Kutarik ucapan terima kasihku tadi dan rasakan itu. Selamat bersakit-sakit ria." Naruto memberikan tatapan bengis dan akhirnya pergi meninggalkan Sasuke menahan sakit yang menyerang kakinya.
"Dasar wanita iblis." Ucap Sasuke tertahan.
"Sialan memang pantat ayam itu." Umpat Naruto. "harusnya tadi aku injak dia sampai mati saja, cih." Sepanjang perjalanan pulangnya, dia terus mengumpat tanpa mempedulikan sekitarnya.
"Hah! Apa-apaan perempuan itu?! Dia pikir apa yang dia lakukan? Menginjak kaki Sasuke-kun seperti itu!" umpat seorang gadis yang bersembunyi dibalik tembok. Ia membuka ponselnya dan menelpon seseorang.
"Moshi-moshi. Hey, tidakkah kau pikir kita perlu menghukumnya sekarang?"
"…"
"Bagus. Aku menantikannya." Gadis itu tersenyum senang.
"Kita lihat nanti bagaimana responmu, Uzumaki Naruto." Gadis itu menutup ponselnya dan berlalu meninggalkan Sasuke disana sendirian merasakan sakit di kakinya.
"Sepertinya…tadi ada seseorang disana." Gumam Sasuke. "Apakah ada yang mengikuti kami tadi? Hal buruk bisa saja terjadi.." tambahnya.
"Pulang saja lah. Memikirkan hal itu benar-benar membuang-buang waktu."
###################
AKHIRNYA UPDATE! YATTA! Aku disini emang bukan reader tapi aku seneng. Aku berharap para reader suka chapter ini :")
Ini dibuat selama dua jam sebelum aku berangkat ke Semarang. Tidur aja gak tenang. Sejak semalem pengen gitu publish cerita, Tapi bingung mau di wattpad atau disini. Dan akhirnya aku putuskan disini setelah baca FF ini xD
Akhir kata, readers. Review kalian sangat berarti buat aku dan cuma kalian yang bikin aku semangat update ini fanfic XD (aku juga menikmati saat saat menulis ff ini :3). Moga kalian suka chapter ini ya~ :"D
