CAN YOU SEE ME

Bleach Tite Kubo

7 Agustus. Kurosaki House, 8 am.

Karin mendengar suara ramai dari ruang tengah. Dan dia mengenal suara itu. Seperti hari sebelumnya, Rangiku selalu mencari masalah dengan kapten divisi 10 itu. Karin merasa senang. Karena selama ayah dan saudaranya tidak ada di rumah, dia tidak akan kesepian. Terkadang Ichigo akan mengajaknya berjalan-jalan dan kemudian Toushiro serta yang lainnya akan mengajaknya bermain.

"Karin!" seru Rangiku yang langsung memeluk Karin. Kehilangan sedikit keseimbangannya, Karin langsung membalas pelukan itu. berharap tubuhnya tak menyentuh lantai. Rukia dan Renji hanya menggeleng lemah melihat kebiasaan teman mereka yang selalu memeluk orang tiba-tiba.

"Ohayou, Rangiku-san!" sapa Karin setelah melepas pelukannya. "Ah, Kau memakai dress! Karin-chan, Kau akan kencan dengan siapa?" tanya Rangiku dengan jahilnya saat melihat Karin yang memakai dress blue sky yang sangat indah. Wajah Karin memerah saat mendengar pertanyaan Rangiku

"Aw, Kau blushing!" seru Rangiku. Toushiro yang melihat sikap karin merasa sangat bingung. Apa lagi dengan penampilannnya. Sebuah dress lengan pendek dengan panjang selutut― sebelum akhirnya dia memakai mantel yang di pegang sebelumnya. Serta rambutnya yang diikat ponytail terurai sampai ke punggungnya. Apa Karin benar-benar akan pergi kencan? Tapi dengan siapa?

"Rangiku-san, Aku tidak pergi kencan! Aku memakainya karena ada yang memintaku," bantah Karin. Mengalihkan pembicaraan, Karin mulai menanyakan keberadaan kakaknya. Dia tidak merasakan reiatsu Ichigo di ruangan itu. "Dimana Ichi-nii?"

Meminta? Siapa orang yang sangat beruntung itu sehingga Karin mau menuruti permintaannya? Apalagi menuruti permintaan untuk memakai dress, bukankah Karin sangat tidak menyukainya? Dan itulah hal yang kini mengisi pikiran Toushiro yang terus memandang Karin. Dia duduk tepat di depan Karin di samping Rukia dan Renji yang sedang menonton.

"Dia sparring dengan Ikkaku dan Yumichika di Urahara shoten," suara Rukia menjawab pertanyaannya. Karin hanya mengangguk. "Kalau begitu, Aku pergi dulu ya!" ujar Karin dengan berjalan ke pintu depan.

"Kau ingin pergi kemana?" tanya Renji. Suaranya terdengar khawatir. Pasalnya, tidak ada satu pun orang yang sepertinya akan mengantar Karin. Karin menengok ke sumber suara, dia lupa memberitahu mereka. "Taman, Aku ada janji dengan Ai-chan dan Mahiro-nii. Tenang saja, Renji-san. Mereka sedang menungguku di depan. Ah, Yu-chan dan Tou-san pun sudah tahu! Ittekimasu!" dan dengan penjelasan itu Karin pun menghilang di balik pintu.

"Ai-chan dan Mahiro-nii? Siapa mereka?" tanya Rangiku. Renji dan Rukia hanya menggeleng dan kembali melanjutkan tontonan mereka. Kemudian dia melirik pada Toushiro yang tampak santai duduk di bangkunya. Menyadari pandangan menyelidik Rangiku Toushiro pun angkat bicara, "Apa? Aku tidak mengenal mereka. Ayo! Kau harus ikut denganku untuk patroli."

"Aw Taicho, Kau tidak seru!" rengek Rangiku dengan nada yang tampak dibuat-buat. Dia benar-benar tidak ingin berpatroli. Ayolah, shopping merupakan satu-satunya hal yang paling dibutuhkannya saat ini― bukan membunuh hollow.

...

"Wah, Karin-nee memakainya! Kau terlihat cantik!" seru seorang gadis berusia sembilan tahun di depannya. Rambut pirangnya yang bergelombang diikat pony tail, iris kecoklatannya tampak mengilat mengagumi Karin. Gadis bernama Fuwa Aika itu sangat senang saat Karin memakai baju yang dibelikannya lima bulan lalu atas kesembuhan Karin.

Laki-laki muda disampingnya pun tidak kalah terkesima. Dia sangat suka melihat Karin memakai dress yang dibelikan adiknya itu. ya, dia Fuwa Mahiro. Rambut pirang dan mata saphire menghias ketampanan wajah remaja berusia 20 tahun itu― tiga tahun lebih tua dari Karin.

Karin sendiri hanya tersenyum mendengar pujian itu. sebuah tangan yang lebih besar darinya menggenggam tangan Karin lembut. Menuntunnya dengan perlahan. Dia mengenal tangan itu, tangan Mahiro yang dua tahun terakhir ini sering dirasakannya. "Ayo!" suara baritonnya mengisi suasana hening musim gugur.

"Mahiro-nii, sebenarnya Kau tidak perlu menuntunku," gerutu Karin yang merasa tidak nyaman dengan genggaman tangannya. Mahiro hanya mengangguk, mengabaikan gerutuan kecil gadis disampingnya. "Aku tidak akan memegang tanganmu lagi kalau pacarmu melarangku," canda Mahiro dengan suara usilnya.

Dan disampingya, Aika mengangguk setuju.

Blush! Wajah Karin memerah, uh! Dia tidak suka jika dirinya mudah digoda seperti itu. Mencari pelarian, haruskah dia menyalahkan hormon pertumbuhan di dirinya. Sehingga dia dengan mudahnya blushing dengan perkataan seperti itu.

...

Berjalan beriringan, suara canda terdengar dari tiga orang yang akan pergi ke taman itu. "Karin-nee, tadi Ai melihat tiga orang yang aneh keluar dari rumah Nee-chan. Mereka pasien Jii-chan ya?" tanya Aika dengan polosnya. 'Ah, pasti yang dimaksud itu Ichi-nii dan temannya,' pikir Karin. Karin menggeleng dan tersenyum ke depan, dia tidak tahu Aika ada di depannya atau di sampingnya.

"Itu kakakku dan temannya, dia sedang berlibur disini. Ai-chan harus menemuinya nanti," jelas Karin. Aika hanya bergumam kecil. Mahiro sendiri tidak merasa aneh dengan penjelasan Karin, dia sering menceritakan kakaknya itu sebelumnya.

"Mahiro-nii, Kau tidak datang mengajarku seminggu ini. Apa Kau terkena flu lagi?" tanya Karin― dia berusaha mengalihkan topik pembicaraan mengenai kakaknya itu.

Mahiro tersenyum pada gadis di sampingnya itu, "Tidak, Aku ada tour dengan teman kuliah. Mungkin beberapa hari ke depan Aku baru bisa mengajarmu lagi. Kau merindukanku ya?"suaranya terdengar menggoda. Karin memukul kencang bahu temannya itu. Dia tidak suka saat digoda oleh temannya itu.

"Aw, Karin! Itu sakit. Seharusnya Kau bilang 'iya' atau 'tentu saja merindukanmu,' bukan memukulku seperti itu." Suara Mahiro terdengar kekanak-kanakan. "Itu karena Kau menyebalkan! Bagaimana jika pacarmu mendengar itu?" bentak Karin. Dia tidak bermaksud memukul keras temannya itu, dia hanya tidak bisa melihat arah sasarannya. Menghindari rasa malu memukul ruang kosong, akhirnya Karin pun memukul dengan keras.

"Bukan pacar, lima tahun lagi akan jadi istriku. Kalau Karin-chan mau juga tidak masalah, haha! Aku jadi punya dua istri." Jelas Mahiro bangga dan sukses mendapat tendangan keras di kakinya dari Karin. Biarpun tidak bisa melihat, tendangannya selalu tepat.

Aika yang melihat kakak-kakaknya itu hanya menggeleng lemah.

Tampak seseorang mengamati mereka dari jauh. Mata emerald miliknya menatap iri pada Mahiro yang memegang tangan Karin. Gadis itu tampak senang berada disekitarnya, dan itu membuatnya iri. Rambut putihnya terbang tertiup angin musim gugur begitu juga dengan haori bertuliskan kanji 10 yang dikenakannya. Hitsugaya Toushiro mengabaikan rambutnya yang terlihat berantakan karena angin― dia hanya fokus pada Karin.

Sudah lama, dia tidak bercanda seperti itu lagi. Dan kapten divisi 10 itu merindukannya. Merindukan moment saat mereka bersama.

"Aduh! Apa yang Kau lakukan sih?" gerutu Toushiro yang terjatuh di lapangan. Dia baru saja datang ke lapangan, tapi temannya langsung menendang kakinya dengan kencang. Karin menatap nyalang pada Tosuhiro yang sudah berdiri kembali di depannya. "Itu karena Kau membuatku menunggu lama!" jelas Karin.

"Aku itu seorang Kapten! Bukan anak SMP yang bebas bermain sepertimu," gerutu Toushiro seraya berdiri membersihkan pakaiannya yang kotor. "Terserah apa katamu saja deh, shorty," abai Karin menarik pergelangan tangan Toushiro.

Tampak garis kekesalan pada dahi sang kapten muda. "Hei, Aku lebih tinggi darimu sekarang!" bentaknya. Karin kembali mengabaikan bentakan itu, dia tetap menggiring Toushiro keluar dari lapangan bola. Toushiro hanya mendesah pelan melihat perlakuan temannya yang keras kepala itu. Percuma baginya jika berdebat dengan seorang Kurosaki― yang ada hanya lelah karena mengomel yang didapatkannya.

"Kita mau kemana?" tanya Toushiro. Karin berhenti sejenak dan berbalik menatap Toushiro, dia tersenyum ceria. Dan Toushiro sangat suka senyuman itu. "Oyaji membelikan video game baru untuk ulang tahunku minggu lalu," dengan itu mereka kembali melanjutkan perjalanan yang terkadang diselingi oleh tawa itu.

...

"Terima kasih telah mentraktirku, Mahiro-nii!" seru Karin seraya membungkukkan badan. Dia kini sedang berdiri di depan rumahnya. "Maaf tidak bisa menemui keluargamu," ujar Mahiro.

Dia sungguh menyesal tidak dapat sekedar menyapa Isshin dan Yuzu setelah seminggu tidak bertemu. Karena Mahiro telah menganggap mereka seperti keluarga. Salahkanlah teman kuliahnya yang sejak tadi terus menelpon dan menggerutu untuk dapat bertemu dengannya.

Aika yang kelelahan bermain pun kini berada di gendongan Mahiro. Dia tampak tenang tertidur diatas punggung Mahiro. "Kau bisa datang lain waktu," ujar Karin tersenyum ramah.

"Ya, kalau begitu Aku pulang ya. Jangan lupa memakai mantal tebal, salju pertama akan turun kurang dari dua bulan lagi." Karin mengangguk singkat, dan kemudian terdengar langkah pergi dari Mahiro.

"Toushiro, Kau disini?" tanya Karin tiba-tiba. Dia sudah merasakan reiatsu Toushiro saat Mahiro mengantarkannya ke rumah. Tiba-tiba, angin berhembus cukup cepat dihadapannya. Menandakan seseorang yang baru saja melawan gravitasi― turun dari atas.

Toushiro pun melompat turun dari atap rumahnya. Berdiri tepat di depan Karin. "Kenapa Kau tidak menghampiriku dan Mahiro-nii tadi?" tanya Karin yang mengenal siapa orang yang berdiri di depannya walaupun tidak dapat melihat.

Toushiro memutar pandangannya ke arah samping, "Aku tidak memakai gigai, tidak mungkin Aku menyapamu saat ada pacarmu disana." Karin menaikkan sebelah alisnya bingung, "Pacar? Siapa maksudmu?"

"Tentu saja orang yang yang Kau sebut Mahiro itu," jelas Toushiro― suaranya terdengar kesal.

Karin mengangkat tangannya, mencoba memegang teman masa kecilnya itu. Toushiro yang melihat Karin mencoba menggapai tubuhnya pun menautkan jemarinya pada jemari tangan Karin yang terangkat. Mengisyaratkan bahwa dirinya ada disini.

Merasakan tautan tangan lain pada tangannya, Karin tersenyum. Degh! Jantung Toushiro berdegup kencang melihat senyuman itu lagi. Senyuman yang sangat dirindukannya. Wajahnya memerah menyadari tangan mereka saling bertautan. Menghiraukan wajahnya itu, Toushiro menunggu jawaban Karin― berharap warna merah menyebalkan itu tidak lagi ada di wajahnya.

"Kau melihat Aika― gadis di punggungnya tadi?" tanya Karin. Toushiro hanya bergumam singkat. "Dia adiknya dan Dia―," Karin tidak melanjutkan perkataannya. Wajahnya merunduk, berusaha menghilangkan kenangan yang tidak disukainya itu.

Melihat ekspresi sedih kembali menghampiri wajah Karin, Toushiro pun mengerti. Otak jeniusnya dengan cepat mempelajari kesedihan pada Karin. Dengan perlahan, sebuah pelukan hangat dia berikan pada Karin. Berharap dapat menghilangkan kesedihan gadis Kurosaki tersebut.

Karin tersentak sejenak. Tapi membalas pelukan itu. "Maaf membuatmu mengingatnya," lirih Toushiro. Karin mengangguk dalam pelukannya dan mengencangkan pelukan itu. begitu pun Toushiro. Entah kenapa, pelukan diantara mereka selalu terasa hangat bagi keduanya.

Dia sungguh menyesal membuat Karin mengingat kebakaran itu. Kebakaran yang menyebabkan penglihatannya menghilang. Karena dia meyadari itu. Aika lah, gadis kecil yang ditolongnya saat kejadian itu. Gadis kecil yang memanggilnya diantara kobaran api.

"Ehm!" suara dehaman keras mengagetkan mereka. Dengan cepat Toushiro dan Karin melepaskan pelukannya. Mereka tersipu malu. Menghilangkan blushing-nya, Toushiro pun mengarahkan pandangannya pada orang yang menginterupsi pelukan mereka.

Tampak Ichigo yang berdiri dengan tangan dilipat di depan dada. Matanya penuh dengan banyak pertanyaan. Di belakangnya, Ikkaku dan Yumichika tampak tersenyum jahil melihat kapten Gotei 13 itu sedang berpelukan dengan gadis Kurosaki itu.

"Apa yang Kau lakukan dengan adikku, Toushiro?" tanya Ichigo galak.

"Itu Hitsugaya Taicho untukmu! Dan Aku tidak melakukan apa pun," gerutu Toushiro, Ichigo menatap tajam pada kapten Gotei 13 itu.

"Ichi-nii," geram Karin. Dia tidak suka jika kakaknya sudah overprotektiv seperti itu.

Mendengar suara adiknya, Ichigo memutuskan kontak mata dengan Toushiro. Toushiro pun sedikit lega― dia tidak harus berurusan dengan Ichigo untuk hal seperti ini.

Ichigo berjalan dan berdiri di depan Karin, memasang senyum terbaiknya― walau Karin tidak akan melihat. Sedikit mengacak rambut sang adik, Ichigo memegang tangannya dan membawanya ke dalam rumah. Sebelumnya, sebuah deathglare tidak lupa disarangkan pada kapten divisi 10 yang berdiri di samping Karin.

Sebuah cekikikan kecil terdengar dari belakang Ichigo. Mengetahui ditujukan untuk siapa tawa itu, dahi Toushiro sedikit berkedut. Dia sungguh tidak suka jika ditertawakan bawahannya. Dan sebuah tatapan membunuh pun dilayangkan pada Ikkaku dan Yumichika.

Ikkaku yang melihatnya langsung bersiul kecil seolah tidak melihat apapun. Sedangkan Yumichika telah berlindung di balik Ikkaku. Dan kembali, desahan panjang lolos begitu saja dari Toushiro. 'Aku akan cepat tua jika mendesah terus,' pikirnya singkat.