Dragons of Magic Knights Academy
Rheinhart
©Masashi Kishimoto & Ichie Ishibumi
Warning : Absolute! Naru, Fat! Naru, AU, OC, OOC, Medieval!Theme, Typo (s), Small! Harem, etc
Pair : Naruto x Titania x ...
Chapter 4 : Desa Flora dan Rencana Penaklukan Orc
Gak suka? Baca Dulu!
Masih Gak Suka? Bakar HP/PC-mu!
Dragons of Magic Knights Academy
Hari pertama dari petuangan yang Naruto telah terlewati. Seperti yang ia duga sebelumnya mengenai Rias, gadis itu benar-benar tidak dapat bergerak dan kesakitan karena otot kaki yang sebelumnya tak pernah ditempa harus bekerja sekeras kemarin. Mau tidak mau, hari kedua harus mereka jalani dengan singgah di tempat itu.
"Oi, Rias. Aku akan mencari hewan buruan dulu, kau tetaplah berada disini. Seharusnya tempat ini jarang dilewati oleh monster, kau akan baik-baik saja," Naruto berujar, pemuda itu telah siap dengan sebilah katana yang biasa ia pakai. Sebelumnya, ia telah dengan telaten mengasah serta merawat pedangnya, jadi tak akan masalah dengan ketajamannya.
"Baiklah. Tetapi, bagaimana jika ada Goblin yang mendekat?" Sedikit ketakutan, gadis itu mengungkapkan kekhawatirannya, tampaknya ia trauma dengan Goblin yang kemarin. Naruto sendiri tersenyum, gadis ini rupanya mulai menyadari bahwa akademi terlalu meremehkan monster yang hidup di dunia ini. Ini adalah sebuah kemajuan, secara tidak langsung Rias telah menjadi lebih kuat karena pertarungan kemarin.
"Tak masalah dengan itu. Kau lihat pohon besar yang ada disana?" Sambil berbicara, ia menunjuk sebuah pohon yang cukup tinggi. Rias mengangguk seperti tahu apa yang harus dilakukan, namun sepertinya dia juga perlu untuk menjelaskan lebih rinci untuk mencegah sebuah kesalahpahaman.
"Pohon itu memiliki dahan dan daun yang lebat, kau dapat bersembunyi disana jika monster datang. Seranglah mereka dari atas menggunakan sihir angin, itu akan efektif karena serangannya yang tak terlihat dan tak bersuara,"
Setelah ber 'Oh', gadis itu mengangguk tanda mengerti. Walau kakinya terasa begitu sakit ketika dia mencoba untuk menggerakkan, setidaknya ia masih bisa menahannya dan dapat memanjat pohon itu dengan waktu singkat. Pemuda itu kemudian pergi dan memulai perburuannya, tanpa disadari oleh sang Knight gendut itu, si Gremory itu bergumam.
"Semoga beruntung."
Dragons of Magic Knights Academy
Tepat setelah gadis itu sepenuhnya hilang dari pandangan, perburuan dimulai. Ia mencoba untuk memasuki daerah hutan yang terletak jauh dari jalur manusia dengan harapan bahwa akan ada hewan buruan yang sedang sial melintas di depan mata.
Pemuda itu telah mengamankan area sekitar tenda tempat Rias beristirahat dan memulihkan diri untuk esok hari. Ketika Rias tertidur, ia tanpa ampun menghabisi seluruh monster yang ada di sekitar dengan wujud gendut itu, hitung-hitung menambah pengalaman bertarung.
Total dari monster yang ia bunuh adalah duabelas Goblin dan lima Slime. Orc tidak hidup di wilayah ini, jadi tak ada untungnya mencari hingga ke seluruh pelosok hutan dan berharap akan ada seekor Orc sial yang sedang tertidur pulas dan menunggu untuk dipenggal.
Saat tersibuk dalam lamunannya, dua ekor kelinci gemuk sedang berkejar-kejaran. Naruto memberikan seringai ketika santapan pada hari ini telah ditemukan, bahkan terik matahari masih belum begitu menyengat, Rias dan dirinya tak akan terlambat menyantap sarapan.
"Baiklah, untuk kali ini saja..." Ia bergumam pelan, memperingati dirinya sendiri untuk melakukan sesuatu yang seharusya ia larang. Tangan kanannya menyelinap ke dalam jubah, mengambil sebilah pisau lempar. Dengan sedikit berkonsentrasi terhadap prediksi dan jauh target, pisau itu dilempar.
Slepp
Dua kelinci malang yang sedang berkejar-kejaran secara beriringan itu mati seketika saat sebuah objek tajam melintas tepat kearah kepala mereka. Tanpa suara, bidikan yang akurat, dilakukan dengan cepat. Tidak ada satupun manusia kecuali ayahnya yang tahu mengenai berbagai macam senjata yang telah pria gendut itu masteri. Terkecuali pedang katana yang selalu dipakai, hampir semua senjata yang ada di dunia ini telah ia masteri. Inilah alasan mengapa Naruto hanya dapat menggunakan Battoujutsu saat menggunakan katana.
Dibandingkan menggunakan senjata dan jurus yang telah diketahui dan dipakai di dunia ini, menggunakan sebuah senjata dan teknik yang belum pernah dilihat dan asing bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilakukan. Ayahnya sendiri hanya menjelaskan tata cara penggunaan dan Ksatria yang disebut Samurai sebagai penggunanya. Selebihnya, ia mempelajari teknik berpedang ini seperti sedang berada di tempat yang gelap dan hanya bergantung dengan indera peraba. Dengan kata lain, hampir tak memiliki peluang sukses.
Pedang katana tidak berasal dari dunia ini. Dengan kata lain, benda dari dunia lain. Senjata itu dibuat dan ditempa oleh seorang Dwarf terbaik yang ada di Kingdom, bahkan logam yang digunakan adalah adamantite, logam terkeras dan termahal di dunia. Satu-satunya benda yang Namikaze Minato rancang seorang diri.
Berjalan pelan kearah sepasang kelinci gemuk itu lalu mengambilnya, tak lupa pula ia membersihkan pisau lempar yang terbuat dari logam murahan yang sering dijumpai di pasar. Sebisa mungkin, pemuda itu tak mau merogoh koceknya untuk membeli senjata baru, walaupun itu murah. Satu-satunya benda mahal yang ia miliki hanyalah pedang melengkung yang selalu dibawanya, katana.
"Waktunya kembali," ucapnya senang, tangan kanannya sibuk memegangi telinga kedua kelinci itu agar tidak jatuh dan tangan kirinya mengelus-elus pedang dari dunia lain kepunyaannya. Tak ada lagi yang perlu dilakukan selain kembali dan memasak kelinci-kelinci ini, sepertinya sup tak buruk juga.
Matahari yang sinarnya belum begitu panas, suhu yang dingin, suara kicauan burung dan hewan lainnya cukup meramaikan perjalanan kembali pemuda itu. Jarak antara satu pohon dengan yang lain tidak begitu dekat, itulah mengapa perjalanannya tidak begitu melelahkan.
Hanya butuh belasan menit untuk kembali ke tenda. Ia mendapati Rias sedang berada di luar tenda dan sedang... memijati kakinya. Kesampingkan apa yang sedang dilakukan gadis itu, setiap gadis itu bergerak untuk melakukan pijatan, kedua asetnya bergerak kesana-kemari. Teruslah memijat demi kesehatan seksual Naruto, Rias.
"Kau sudah datang?" Gadis itu akhirnya menyadari keberadaan makhluk tinggi besar dan gendut bernama Naruto, pemuda itu mendecih pelan karena pemandangan indah dari gunung kembar itu harus ia abaikan demi keselamatan nyawanya.
"Cepat sekali kau mendapatkan hewan buruan," Rias terkagum setelah melihat sepasang kelinci putih gemuk yang Naruto bawa, pemuda itu sendiri kini meletakkan kelinci buruannya dan mulai mengeluarkan beberapa wortel serta sayuran yang dibutuhkan untuk membuat sup.
"Yah, mau bagaimana lagi? Kedua kelinci itu tiba-tiba muncul dari semak, aku buru saja," Ia merespon gadis itu sambil memotong-motong sayuran, kelinci itu diserahkan kepada Rias untuk dipotong. Pemuda itu cukup terkejut ketika mengetahui gadis bangsawan itu cukup handal dan terampil dalam urusan memasak.
Setelah ia menuangkan air dan memasukkan sayuran yang telah ia potong bersama dengan daging kelinci yang telah Rias kuliti dan potong kedalam kuali kecil milik Naruto, mereka sekarang tinggal menunggu sup itu hingga seluruh bumbunya menyatu.
"Oi Rias," Naruto ingin memulai sebuah percakapan dengan gadis itu.
"Hm?" Dengan penuh tanya, si gadis merespon.
"Aku dengar [Peter san Siro] sedang berada di Kingdom, apakah itu benar?"
Rias adalah seseorang yang memiliki otoritas yang tinggi di Kingdom, seharusnya ia mengetahui benar tidaknya hal itu. Apa yang Naruto ingin tanyakan sendiri bukan dimana ayahnya tinggal, melainkan dalam posisi apa ia menjabat di Kingdom.
"Itu benar, dia adalah seorang Paladin di Kingdom!"
"Wow! Itu keren, jika saja aku juga bisa menjadi sepertinya..."
Paladin, otoritas tertinggi yang memegang kendali penuh atas seluruh Ksatria dalam suatu negeri. Seperti yang ia duga, ayahnya pasti akan memegang jabatan yang tinggi dimanapun orang itu berada.
"Jangan berkecil hati. Jika kita telah lulus dari akademi, aku bisa membuatmu memiliki kesempatan untuk menjadi sepertinya," Rias berujar dengan bangga, ia bahkan sampai menepuk-nepuk dadanya dan membuat tatapan Naruto seketika menjadi liar untuk sesaat. Dada itu benar-benar membuat pemuda itu meremasnya kuat-kuat, apa yang ia pikirkan?! Ia ingin menggali informasi, bukan berpikir mesum.
"Begitukah? Jangan berusaha untuk menghiburku, kau tahu sendiri jika aku adalah salah satu Knight terburuk di akademi?" Naruto berusaha mengelak, namun Rias memberikan pendapatnya.
"Kau sangat hebat ketika menghadapi Goblin-goblin itu!"
'Mereka hanya Goblin, oi! Bahkan nafasku dapat menerbangkan mereka!'
Untuk seekor Naga kolosal, tentu menerbangkan Goblin hanya dengan satu hembusan nafas bukanlah hal yang sulit, bahkan Troll sendiri sama seperti Goblin jika hal itu terjadi.
"Memangnya kriteria untuk menjadi Paladin yaitu harus menahan Goblin hingga bantuan datang?"
Tawa pecah dari kedua makhluk berbeda gender itu.
"Tentu saja tidak, baka. Ada cara lain untuk menduduki posisi Paladin selain hanya mengandalkan kekuatan,"
Naruto sepertinya tertarik mengenai hal ini, terbukti dengan sorot mata yang dipenuhi oleh keingintahuan.
"Apa itu?" Tanpa segan pemuda pirang itu bertanya, ia memosisikan dirinya untuk duduk senyaman mungkin.
"Seperti kekuasaan dan pengaruh politik, bahkan seseorang yang lihai dalam hal mengatur strategi perang secara diam-diam akan diamati oleh atasan dan direkomendasikan sebagai Paladin jika ia memiliki evaluasi yang baik," Rias menjelaskannya dengan baik, Naruto semakin ingin tahu.
"Kekuasaan dan pengaruh politik? Seperti apa itu?" Pemuda itu sudah memahami tentang bagian dimana kelihaian berstrategi perang, namun dua hal yang sebelumnya disebutkan belum dimengertinya.
"Seperti misalnya... kau menikahi seseorang dengan otoritas tertinggi di sebuah negeri, kau dapat menjadi Paladin dengan jalan itu," Gadis Gremory itu mengambil jeda dalam penjelasannya, kemudian memalingkan mukanya sebelum menjelaskan kelanjutan hal itu.
"Menikah dengan seseorang dengan otoritas tertinggi dalam sebuah negeri? Apakah contohnya seperti menikahi Julis-ojousama?" Naruto mulai memahami intinya, dan hidungnya mengembang-mengempis ketika nama Julis ia sebutkan, secinta itukah kau terhadap idolamu? Tentu. Rias menghela nafas pelan ketika melihat perubahan drastis dari sikap Naruto.
"Tentu saja, bahkan kau dapat menjadi kaisar selanjutnya jika menikahi gadis itu,"
"WOAAHHH... aku tak tertarik,"
"Eh?" Rias bingung, mengapa pemuda ini tak tertarik dengan jabatan setinggi itu?
"Memerintah suatu negeri bukanlah hal yang mudah, dan kedengarannya sangat merepotkan,"
"Oh.. kau benar mengenai hal itu. Juga... bukan hanya Riessfeld saja yang dapat membuatmu menjadi seorang Paladin jika kau nikahi," Rias lagi-lagi memalingkan mukanya, sepertinya ia tak begitu tertarik mengenai topik ini.
"Lantas siapa lagi?" Naruto bertanya dengan wajah dungu yang dapat membuat gelak tawa bagi seorang Rias Gremory, jika gadis itu tidak memalingkan mukanya tentunya.
" ... Aku." Gadis itu benar-benar memalingkan mukanya sejauh mungkin dari mata Naruto, mungkin gadis itu sedang tertarik dengan hewan yang berada di dekat sini atau sebagainya sampai-sampai tak mau menatap wajah Naruto hingga segitunya.
Dragons of Magic Knights Academy
Hari kedua mereka lewati dengan bersantai-santai di hutan, maka hari ketiga dan seterusnya akan dilewati dengan berjalan kaki tanpa henti.
Satu-satunya hal yang berubah disini adalah Rias, gadis itu semakin jarang mengeluh tentang kecapekan ataupun meminta istirahat. Sepertinya ia sedang bekerja keras untuk menghindari belas kasih dari Naruto, si gendut meyakini itu.
Hingga hari terakhir dari waktu yang diperkirakan oleh Naruto, mereka sampai pada sebuah desa dengan kepadatan penduduk yang dapat dikatakan diatas rata-rata. Tak jauh berbeda dari desa-desa lainnya di Empire, mereka menyediakan penginapan, kedai bar, serta guild untuk para petualang.
Desa Flora adalah tempat yang paling dekat dengan Hutan Naga Putih, dahulunya hutan ini adalah sarang dari salah satu Seven Dragons, [Albion].
Dari buku sejarah yang ia baca di perpustakaan, sebelum [Albion] dikalahkan oleh [Peter san Siro], Desa Flora adalah tempat yang kumuh dan berpenduduk sedikit. Semuanya berubah ketika negara api- maksudku ayah datang dan menghabisi [Pride Dragon King] ini.
Biasanya, Naga selalu menyimpan harta benda yang begitu banyak didalam sarangnya. Dan hal itu juga berlaku di sarang milik [Albion], setelah Naga itu dikalahkan, harta itu digunakan untuk membangun kembali Desa Flora dan membiayai Perang Dunia Naga. Ophis juga memiliki harta di sarangnya, hanya saja Naruto tak tahu dimana sarang ibunya berada. Dari yang pemuda itu dengar dari mulut sang ibu, harta yang ia punyai cukup untuk membeli sebuah negeri besar beserta isinya.
Terkecuali dirinya, semua Naga yang ia kenal memiliki sarang dan harta yang berserakan didalamnya. 'Melchior adalah Naga yang kuat, dia tidak butuh sarang!' adalah kata motivasi kepada diri sendiri untuk tidak terlalu memikirkan sarang, walau merebut sarang Naga lain halal hukumnya, sih.
Ia akan pikirkan mengenai masalah pembuatan sarang nanti, sekarang ia harus menuju ke satu-satunya tempat penginapan di desa ini. Letaknya berada di tengah desa, jadi menemukannya tidak begitu sulit. Disamping penginapan, terdapat bangunan guild untuk para petualang, pemandiannya sendiri terletak di daerah pinggir desa yang dekat dengan sumber mata air desa.
Kedua murid Magic Knights Academy itu memasuki bangunan berlantai dua dari kayu, mereka menuju ke tempat resepsionis untuk menginap selama beberapa hari.
"Jii-san, berapa harga untuk dua buah kamar tiap malamnya?" Disini Rias lah yang harus bekerja, Naruto cukup hanya menonton dan berdiri layaknya orang bodoh di belakang Rias.
"Tiga koin copper untuk satu kamar permalamnya, seharusnya totalnya adalah enam koin tiap malam. Tetapi, khusus untuk Ojou-sama yang cantik ini, akan aku berikan lima copper!" Wajah tua sangar itu tersenyum ramah kepada Rias, sepertinya rencana Naruto berjalan sukses. Dengan menggunakan Rias sebagai tokoh utama dalam rencananya untuk menyewa penginapan, maka akan muncul kemungkinan harganya akan diturunkan.
Walaupun rencana itu sukses, namun Rias tak merasa senang ataupun sedih karenanya. Bagi orang yang memiliki harta berlimpah, lebih murah satu copper untuk tempat penginapan bukanlah sesuatu yang besar. Namun tidak bagi Naruto, pemuda itu begitu menghargai satu koin receh yang mereka keluarkan.
"Jadi, siapa nama Ojou-sama dan pembantunya?"
'Oi?!'
Ketika sang resepsionis tua berwajah garang itu menanyakan nama dari Rias, mungkin karena wajah atau rupa Naruto yang mirip seperti jongos hingga tanpa ragu orang itu menganggap Naruto sebagai pembantu dari gadis cantik seperti Rias. Dalam diam, pemuda gendut itu menangis.
"Aku adalah Rias, sebenarnya pria itu adalah partnerku. Namanya adalah..." Rias menggantungkan ucapannya, helaian crimson miliknya bergoyang ketika kepala itu menengok kearah Naruto, gadis itu ingin Naruto menyebutkan namanya sendiri. Sengaja dirinya tak menyebutkan nama belakangnya, ia ingin menghindari keributan sebisa mungkin. Bukan hal yang biasa jika terdapat seorang bangsawan kelas atas yang memerintah Kingdom tiba-tiba menginap di tempat kecil seperti penginapan ini. Lagipula, ia benci keributan yang tidak diperlukan.
"Melchior! Naga agung Melchior!"
Lupakan, sepertinya penyakit bodoh pemuda itu kambuh lagi. Berbeda dengan Naruto yang menyebut nama aslinya dengan bangga hingga menepuk-nepuk dadanya, Rias menepuk jidatnya kuat-kuat. Jika tempat ini sedang ramai, mungkin Naruto akan berakhir dengan diolok-olok habis-habisan oleh penginap yang lain.
Duagh
"Ittei!"
Tinju melayang di kepala pemuda itu. Mungkin karena merasa harga dirinya diinjak-injak, ia malah menyebutkan nama agungnya secara terang-terangan, beruntung disini hanya ada dua sosok hidup selain dirinya dan keduanya hanya menganggap itu sebagai lelucon. Naga adalah makhluk dengan harga diri yang tinggi dalam hal tertentu, dan harga diri Naruto terletak pada gelar Knight. Itulah alasan ia kesal ketika seseorang memanggilnya sebagai pembantu atau sebagainya.
"Naruto, nama dia adalah Naruto... maafkan temanku yang penyakit bodohnya kumat lagi!"
Resepsionis sekaligus pemilik penginapan yang diketahui bernama Kokabiel –diatas meja ada papan namanya- itu hanya tertawa renyah melihat apa yang gadis didepannya lakukan untuk menghentikan perbuatan kekanak-kanakan dari sosok gendut di sebelahnya.
Sebenarnya, ini bukan kali pertama ada orang aneh yang mengaku sebagai Pahlawan Pembunuh Naga, Paladin dari Empire, pacar dari putri Empire, dan kali ini adalah [Melchior]. Karena orang-orang seperti inilah yang biasanya kerap membuat berbagai macam kehebohan yang menarik untuk dilihat, jadi ia tak begitu keberatan dengan tingkah aneh pemuda itu.
"Tak masalah, semoga kalian betah menginap disini!"
Setelah mengucapkan salam perpisahan, keduanya menuju kearah tangga yang terletak di ujung ruangan lalu naik ke lantai dua, dimana kamar masing-masing terletak. Dalam lorong di lantai dua, mereka bertemu dengan seorang gadis bersurai hitam berbaju maid dengan bodi aduhay, sepertinya dia adalah anak ataupun pembantu dari pemilik penginapan ini.
Rias dan Naruto menyapa gadis itu dan dia menyapa balik, kemudian mereka masuk ke kamar masing-masing yang terletak secara berdampingan.
Hal pertama yang Rias lakukan ketika sampai di kamarnya adalah meletakkan ransel miliknya, lalu meloncat ke kasur berukuran queen-size. Tidak seempuk kasur miliknya, namun lebih baik daripada tidur di dalam tenda seperti hari-hari yang ia lewati dalam seminggu terakhir. Ia bahkan nyaris tertidur, namun bau badannya benar-benar mengganggu, gadis itu memutuskan akan pergi ke pemandian umum terlebih dahulu sebelum tidur. Walaupun matahari masih bersinar tinggi di langit, namun rasa lelahnya tak dapat dianggap enteng, jika saja sensasi lengket tubuhnya berhasil dikalahkan oleh rasa lelah, maka ia sudah pasti telah terlelap.
Bangun dari posisinya, ia mulai berjalan mendekat ke tempat ranselnya berada. Mengobrak-abrik isi dari tas itu, satu setel pakaian ganti telah berada di tangan.
Krieekk
Bunyi decitan pintu terdengar ketika tangannya menarik gagang pintu, lalu pergi meninggalkan tempat itu untuk menuju ke pemandian.
Dalam lorong di lantai dua, masih dijumpainya sosok gadis berpenampilan maid dengan rambut hitam itu. Gadis berpakaian maid sedang melakukan kegiatan bersih-bersihnya, dilihat dari panjangnya lorong di lantai ini, sepertinya pekerjaan itu tak bisa dianggap enteng. Rias melangkah pergi menuju tangga, si Gremory ini tak mau mengganggu jalannya pekerjaan sosok yang diyakininya sebagai pembantu di penginapan ini.
Kokabiel yang senantiasa duduk di meja resepsionis yang terletak di tengah bangunan dan dekat dengan dinding serta sebuah ruang toilet didekatnya memberikan senyuman kepada Rias, ia menyapa gadis itu. Balasan yang sama ia berikan kepada pak tua berwajah seram namun ramah itu, ia dengan terburu-buru melangkah tempat pemandian umum.
Peralatan mandi seperti handuk, sabun, dan baju ganti telah dibawanya, jadi tak akan masalah mengenai hal ini. Pada siang itu, Rias Gremory menenggelamkan dirinya dalam kesenangan dan basuhan air dingin.
Sedangkan di lain tempat, Naruto sedang berkutat dengan sebuah papan besar yang memajang berbagai macam misi yang dapat diambil di tempat itu. Pemuda itu sengaja menuju ke tempat ini setelah menaruh tas besarnya di penginapan, mata safirnya bergerak kesana-kemari mencari sebuah quest mengenai pembasmian Orc di tempat ini.
'Dapat!'
Ketemu juga apa dicarinya, bahkan hadiah yang ditawarkan adalah dua keping gold untuk setiap kepala monster itu, itu adalah harga yang cukup tinggi, bahkan di kota Kuoh sendiri. Urutan mata uang di dunia ini dari yang terendah hingga yang tertinggi adalah ; copper, gold, dan silver. Perak lebih bernilai daripada emas karena logam itu dapat dialiri sihir dan menjadi konduktornya, sedangkan emas tidak demikian.
Dalam hatinya, pemuda itu bertanya-tanya mengapa hadiah yang ditawarkan hampir mencapai dua kali lipat dari hadiah normalnya.
Biasanya, penggandaan jumlah hadiah terjadi jika muncul monster yang jumlahnya tiba-tiba naik drastis atau saat kondisi darurat seperti penyerangan tiba-tiba yang dilakukan oleh monster di sebuah wilayah yang dihuni oleh manusia, seperti desa, kota, ataupun tempat dimana banyak manusia hidup disana. Merasa jika memikirkan hal ini tak akan mendapatkan jawaban yang pasti, ia melangkahkan kakinya menuju meja resepsionis guild setelah ia mencabut kertas quest itu dari papan.
Ada empat meja resepsionis di tempat ini, tiga dari mereka adalah sosok gadis cantik. Karena tatapan yang membuat hatinya teriris dilayangkan oleh ketiganya, ia akhirnya lebih memilih untuk duduk di meja resepsionis pria.
Pria yang duduk di belakang meja adalah seorang bertampang pemalas dengan rambut yang diikat ke belakang, membuatnya terlihat seperti nanas.
Menguap sejenak, pemuda malas itu menatap Naruto yang sedang duduk diseberang meja dengan bosan.
"Ada yang bisa kubantu?" Ia bertanya, pemuda itu langsung menuju bagian utama dalam dialog yang biasanya dipakainya untuk melayani para petualang.
"Aku ingin mengambil quest ini," Dengan menyerahkan selembar kertas tentang pembasmian Orc yang ia ambil, mulutnya mengatakan kalimat umum di kalangan petualang. Kursi yang ia duduki berdecit karena tak kuat dengan berat orang yang mendudukinya, namun suasana disana masih terfokus kepada pengambilan quest ini. Si rambut nanas dengan seragam guild itu terdiam di tempatnya, matanya terfokus terhadap kertas yang berisi quest yang Naruto ambil.
"Nee, apa kau yakin dengan quest ini? Ini adalah salah satu quest terberat yang ada di guild baru-baru ini," Intonasi yang digunakan si nanas bernama Nara Shikamaru itu menunjukkan sebuah keraguan didalam setiap katanya, pria pemalas itu mengamati tubuh Naruto dari atas hingga ke bawah dengan seksama. Jika dilihat dari bentuk tubuh gendut itu, dia bukanlah seorang petualang ataupun seseorang yang tergolong kuat.
"Tentu saja, lagipula sekolahku sedang menugaskanku untuk menaklukan Orc," Naruto menjawab keraguan Shikamaru dengan tenang dan penuh keyakinan, Orc adalah alasan utama ia berada disini.
"Sekolah? Dari akademi mana kau berasal?" tanya Shikamaru, dengan maksud untuk mengetahui dari sekolah mana si gendut ini berasal. Dari yang ia tahu, tidak sedikit akademi yang sering melakukan ujian pembasmian monster di alam terbuka dalam wilayah Empire.
"Magic Knights Academy," Kemudian, Shikamaru merasa lega setelah mendengar asal sekolah Naruto. Magic Knights Academy adalah salah satu akademi terbaik di Empire, bahkan seluruh dunia. Menurut kabar yang ia dengar dari para petualang, sekolah itu memiliki siswa yang mewarisi kekuatan dari Seven Dragons dan [Peter san Siro].
"Begitukah? Baiklah kalau begitu. Pertama-tama, biarkan aku menjelaskan detail dari misi ini," ucap Shikamaru, Naruto mengangguk dan akan mendengarkan seluruh detailnya. Di dunia yang dipenuhi oleh setiap monster kejam dan siap membunuhmu ketika kau lengah, perlu persiapan matang untuk menghadapi mereka.
"Seperti yang kau baca di kertas quest, misinya adalah membasmi Orc sebanyak yang kau bisa. Monster ini memiliki tubuh yang besar dan hampir mirip sepertimu,"
Naruto sedikit mengerutkan dahinya ketika mendengar sesuatu yang dapat digolongkan sebagai hinaan itu tertuju kepadanya. Namun ia tak mau mempermasalahkan itu saat ini, jadi duduk diam dan mendengarkan adalah prioritas utama.
"Tubuh mereka dilindungi oleh lapisan lemak yang sangat tebal yang sulit ditembus oleh tebasan pedang, hingga tidak akan memungkinkan untuk melakukan serangan ke jantung mereka. Satu-satunya peluang yang kau punya adalah menyerang kepala mereka dengan satu tebasan penuh untuk membunuh mereka,"
Penjelasan umum mengenai tata cara mengalahkan Orc sudah terlewati, sekarang akan dibahas soal asal-usul quest ini dibuat. Bagian inilah yang Naruto tunggu, pemuda itu ingin mengetahui alasan dibalik penggandaan jumlah hadiah untuk quest yang kata pemuda bergaya rambut nanas itu sebagai salah satu quest terberat di guild.
"Baru-baru ini, jumlah Orc di Hutan Naga Putih berganda hingga berkali-kali lipat dari biasanya. Mereka mulai keluar dari hutan dan merusak area pertanian warga dan menyerang ternaknya untuk makan. Ditambah lagi... seekor Orc hitam terlihat bersama mereka,"
'Orc hitam?'
Naruto tak pernah melihat jenis Orc ini, ia merasa tak nyaman dengan sesuatu yang tidak ia ketahui eksistensinya. Kesimpulan yang dapat ia ambil saat ini adalah Orc yang satu ini merupakan mutasi, atau kemungkinan terburuk, generasi pengganti Orc yang sudah ada di dunia ini.
Berbeda dengan dunia yang ada di dalam dongeng dimana monster hanya itu-itu saja ras dan jenis serta kemampuannya, dunia yang diciptakan oleh Astrid ini membuat kemampuan monster didalam dongeng tak lebih dari lelucon jika dibandingkan dengan aslinya.
Dalam dongeng ataupun buku cerita mengenai pahlawan dongeng, tak pernah diceritakan ada monster lemah yang makin kuat karena panjang hidup dan pengalaman yang mereka lewati. Disini hal itu berlaku, melalui segala pengalaman bertarung yang pernah monster hadapi, mereka akan semakin kuat. Dan karenanya, Naruto benci jika harus bertarung melawan entitas yang sudah hidup selama ratusan hingga ribuan tahun.
"Bisa aku tanyakan suatu hal?" Naruto membuka mulut setelah beberapa waktu yang lalu sempat tenggelam dalam renungannya.
"Tentu," Shikamaru menjawabnya dengan santai.
"Jika quest ini sampai digandakan hadiahnya, mengapa tak ada satupun petualang yang mengambilnya? Apakah quest ini baru dipasang ketika aku datang?"
Ini adalah keganjalan yang lain, tak mungkin tidak ada satupun petualang yang tidak tertarik untuk mengambil quest mudah berhadiah meriah semacam ini.
"Pertanyaan yang pintar. Quest ini telah dipasang sejak beberapa hari yang lalu," Shikamaru menjawab, ia menguap bosan setelahnya.
"Lalu dimana para petualang berada? Apakah semua dari mereka pergi piknik atau semacamnya ketika quest muncul?"
"Itu karena mereka sedang melakukan quest terberat yang lain..."
Salah satu alis Naruto terangkat.
"Penaklukan Naga."
Pemuda gendut itu terkejut begitu mendengar apa isi dari quest yang diambil semua petualang.
Dragons of Magic Knights Academy
Didalam rimbunnya Hutan Naga Putih pada siang itu, Naruto terus berjalan semakin kedalam area hutan. Ia sedang melakukan pencarian terhadap wilayah Orc berada.
Jika apa yang dikatakan si resepsionis itu benar, maka dengan jumlah Orc yang berganda, mereka akan membuat sebuah Desa Orc. Adalah hal yang berbahaya jika membiarkan Desa Orc dibangun dekat dengan wilayah manusia, bisa saja sewaktu-waktu mereka melakukan serangan dan menimbulkan banyak korban jiwa.
Jika harus jujur, ia tidak mau bertarung dengan banyak monster berwajah babi dan bertaring itu dalam jumlah besar, itu terlalu menakutkan. Di dunia ini, babi sendiri tidak ada karena Astrid telah menciptakan Orc sebagai penggantinya, jadi kata babi sendiri seharusnya juga tidak ada di dunia ini. Inilah hal pertama yang dulu pernah membuat seorang Namikaze Minato kebingungan.
"Apa-apaan para petualang itu?" Sambil sesekali mematahkan dahan pohon yang menghalangi, ia bergumam dengan kesal.
"Terlalu memprioritaskan Naga sehingga mengabaikan quest lainnya..."
"Para pecundang sialan,"
Cahaya matahari yang menyusup ke dalam tempat ini semakin sedikit, terlalu banyak pohon yang berjejer secara berdempetan sehingga membuat sinar surya sukar untuk masuk ke dalam. Karena luasnya Hutan Naga Putih, akan memakan waktu yang lama untuk menemukan sebuah Desa Orc yang lokasinya tersamarkan oleh jejeran pohon-pohon. Jika ingin melakukan pencarian dengan cepat, maka sihir terbang akan sangat berguna.
"Tetapi... akan memalukan jika harus menggunakan wujud asliku untuk hal semacam itu,"
Tepat sekali, beralih ke wujud [Melchior] hanya untuk mencari markas Orc, apa kata dunia?
Dengan menambah kesabaran dan stamina ekstra untuk melewati jalanan yang tak dapat dikatakan datar tanpa halangan semacam hutan. Mematahkan dahan yang menghalangi ataupun melompati pohon yang telah tumbang, terus menerus melakukan hal itu hingga menemukan sebuah aliran sungai tigapuluh menit kemudian.
Karena sudah sore dan semenjak ia sampai di penginapan belum sekalipun merasakan dinginnya air dalam tenggorokan, godaan untuk membasuh muka dan meneguk air sungai itupun tak dapat dihentikan. Lemak dibalik kulit wajahnya bergerak kesana-kemari ketika [Regular Knight] itu berlari kecil untuk menghilangkan dahaga dan menghapus peluh yang membasahi muka.
Sesampainya di tepi sungai yang kebetulan dikelilingi semak yang menyembunyikan keberadaannya, ia mencelupkan tangannya dan bermaksud untuk mengambil air segar tersebut untuk diminum dan membasuh muka sebelum...
Orc berwajah seperti habis nyimeng ganja kencing di seberang sungai dan mencemari aliran air dengan air kencingnya, yang kemudian mengalir dan menyebar ke segala penjuru, termasuk di tepi sungai dimana Naruto berada.
Syuurrrrrr
"Oorghh!"
Dengan dengusan khas babi, makhluk itu sepertinya sedang tersenyum puas dengan bola mata sampai terjungkir keatas dikarenakan ia terlalu menikmati acara kencingnya.
Naruto triggered, air yang seharusnya masih suci telah ternoda. Dengan kegiatan kencing Orc sebagai pelatuk, sebuah aji-aji Naruto rapalkan.
"Melchior..."
DUARRR
Dengan sambaran petir kuning yang membutakan setiap mata yang melihatnya, kepala Naga berwarna hitam dengan gigi yang tajam dan mengintimidasi setiap makhluk yang melihatnya muncul di seberang Orc berada.
"Ngiikhh!"
Terkejut sekaligus mengalami kebutaan sementara karena cahaya dan bunyi petir yang tiba-tiba muncul dari ketiadaan, Orc itu mengucek-ngucek matanya dengan air kencing yang membasahi pakaian bagian bawahnya. Waktu terkejut hingga mengucek mata, proses pembuangan urine masih berlangsung, celana dari kulit pohon yang dipakai monster itu basah semua karena air seninya sendiri.
Ketika penglihatan monster itu telah kembali normal dan ia telah berhenti kencing, kedua matanya terbuka dan kemudian mendapati kepala Naga berwarna hitam dan berukuran kolosal sedang berjarak beberapa centi dari wajahnya, tubuhnya terlihat seperti lalat dihadapan Naga yang anehnya hanya muncul kepalanya saja itu. Mata merah menyala dengan pola rumit itu menatap dengan garang wajah Orc yang saat ini sedang bergetar ketakutan itu.
"Grrgghh..."
Uap menyembur dari lubang hidung Naga itu dan mengarah kepada Orc itu, kembali celana yang dipakai monster itu dibahasi oleh kencingnya sendiri – dia mengompol-, dan akhirnya ia jatuh pingsan dengan suara "Ngiikhh!" khas Orc. Anehnya, ekspresi seperti habis nyimeng ganja itu tidak hilang walaupun ia pingsan.
Brukk
Orc itu pingsan, sementara sambaran petir kembali terjadi dan Naruto yang hanya memunculkan kepala Naganya saja kembali ke wujud normal dengan sejuta perasaan dongkol di hati.
Gertakan ala [Melchior] sukses.
Bisa saja Naruto menghabisi Orc itu dalam sekali gigit, namun tujuan ia masuk ke dalam hutan adalah mencari markas mereka. Sekarang, rasanya lehernya menjadi pegal karena habis ia tekuk-tekuk supaya tak kelihatan lebih tinggi dari pohon yang berada disekitarnya. Dia makhluk kolosal, sulit untuk menyembunyikan kepalanya yang berukuran sangat besar.
Pemuda itu menghela nafas pelan, ia merutuki dirinya sendiri karena terpancing dengan begitu mudahnya oleh seekor Orc berwajah nyimeng itu. Namun lihat sisi positifnya, sekarang ia telah berhasil memetakan hutan dan dengan mudah menemukan dimana lokasi Desa Orc yang ternyata tidak jauh dari sini.
Ketika Naruto berubah wujud menjadi Naga, walau hanya satu bagian tubuh saja, secara otomatis radar Naga miliknya aktif dan memetakan daerah sekitar. Biasanya radar ini sangat berguna ketika berada di tempat yang tidak ia kenal, Naruto bersyukur Naga memiliki kemampuan semacam ini.
Secara tidak langsung, ia baru saja menggunakan kemampuannya untuk mencari sarang Orc, kalian tahu? Namun pemuda itu pasti berdalih jika ia hanya menggunakan kemampuannya untuk menggertak Orc saja, radar yang memetakan wilayah hutan sekaligus Desa Orc berada dianggap sebagai bonus. Teruslah memutarbalikkan fakta dan menyangkal, gendut.
Pria gendut itu juga sempat memetakan dan bahkan mengetahui tempat dimana Naga lain yang saat ini sedang bertarung habis-habisan dengan para petualang berada. Sepertinya Naga itu terkejut ketika radar miliknya dengan milik Naruto saling berbenturan, namun Naruto tak begitu mempermasalahkannya. Toh, Naga itu masih digolongkan muda dan belum berpengalaman. Berdasarkan radar miliknya, Naga itu hanya setinggi sepuluh meter, tiga kali lebih kecil dari Naga pada umumnya.
Sudah saatnya ia kembali ke penginapan. Dengan menahan rasa haus, perjalanan selama satu jam harus ia tempuh untuk kembali.
TBC
Next chapter : Orc Hitam dan Cecunguknya, Naga yang Mengamuk di Desa!
Akhirnya nih chapter done (") selanjutnya adalah chapter dimana Naruto akan beraksi layaknya pahlawan yang jelas-jelas gak bakal cocok sama tubuh gendut serta nista miliknya.
Btw, Naruto bisa berubah jadi Naga walau cuma ngeluarin satu anggota tubuh aja. Contohnya kepalanya Naga, tapi tubuhnya masih orang gendut. Bisa juga dengan wujud sixpack sekseh kalo make wujud manusia Melchior. Intinya, Naruto bisa seenak jidat mengganti anggota tubuhnya sama tubuh Naga.
Kalo kepala sama kaki tangannya manusia, tapi perutnya Naga gimana?
... pikir sendiri (")
[Melchior]
Ras : Manusia/Naga
Kelas : Regular Knight/Kamigoroshi no Ryu/Naga Pembunuh Dewa/Collosal Dragon
Ayah : Namikaze Minato/ Peter san Siro
Ibu : Ophis/ Envy Dragon Goddess
Tinggi badan : 180cm/200m++
Berat badan : Tidak sopan
Umur : 18 tahun/18 tahun
Kekuatan : [Crosce de Pietro], [Tidak Terbatas], [Absolut], dan lainnya (")
Senjata : Katana
Review, Favs, dan Folls kalian sangat berharga untuk membakar semangat Author untuk terus update dengan tenaga seperti kuda yang habis minum obat perkasa dan berjingkrak-jingkrak hingga keseleo kakinya (")
Wahai reader yang sebagiannya budiman dan sebagiannya lagi laknat sekalian, saya undur diri. Jangan pernah bully saya, karena kalo ngambek, bisa-bisa kehilangan skill nulis lagi :"v
