Rise and Fall
Disclaimer Masashi Kishimoto
By Deera Dragoneela
.0.
WARNING!
(Abal, GJ, g sesuai EYD, OOC, Gender Switch, dE-eL-eL)
.0.
Naruto menatap lapangan basket di seberang cafeteria dengan datar. Bukan memperhatikan seseorang, namun lebih pada mencari objek yang tidak akan membuatnya disalahpahami dengan menatap seseorang. Lagi pula, di atas lapangan basket itu tampak langit biru kesukaannya. Dengan bertopang dagu, Naruto meminum hot coffee-nya dengan khidmat. Tak memperhatikan gerombolan Sasuke cs yang kini menatapnya dan membicarakannya – lagi.
"Eh, tuh anak lihat kesini, ya? Ato lagi ngelamun?" Ujar Kiba sambil mengelap keringat di kepalanya dengan punggung tangan kanannya.
"Bukan. Kayaknya tuh anak lagi ngelamun" Jawab Suigetsu cuek sambil meminum minuman isotoniknya, nikmat. Sementara Sasuke hanya menatap dalam diam Naruto, Gaara yang sibuk ber-HP-ria dan Shikamaru yang memilih memejamkan mata – seperti kebiasaannya.
"Heran ya, kok tuh anak demen banget menyendiri gitu. Apa kagak kesepian, ya?" Tanya Kiba lagi, kali ini dia mendudukkan dirinya disamping Shikamaru yang mulai terlelap.
Naruto menyesap minumannya sebelum menghela nafas. Dia pejamkan matanya mengingat berita yang didengarnya. Lagi-lagi, ada masalah dalam keluarganya. Semakin dewasa, Naruto menyadari, bahwa dunia tak selalu penuh canda tawa seperti bayangannya dulu. Ah, memangnya kapan dirinya pernah memikirkan dunia yang penuh canda tawa? Dia bahkan sudah lupa. Yang ada diingatannya hanyalah keluarganya yang selalu bermasalah. Entah pertengkaran ayah dan ibunya, ibunya dengan bibinya, masalah keluarga besarnya, atau bahkan-masalahnya sendiri dengan kehidupan pribadinya. Keluarganya tak tahu jika dirinya saat EL dan JHS sering kena bully. Atau tahu, hanya saja membiarkannya menghadapi dunia yang sebenarnya? Entahlah.
Dalam benaknya, masa kanak-kanaknya sudah berisikan pemikiran yang tidak seharusnya ada pada gadis seusianya. Tidak, dia tidak dewasa sebelum waktunya. Dirinya bahkan masih polos, memilih menahan bebannya sendiri, menangis dalam diam. Namun demikian, gadis itu sudah memikirkan jauh ke depan bagaimana kehidupannya nanti ketika sudah dewasa. Ada banyak pikiran kekanakan nan naïf, namun juga ada pandangan jauh ke depan layaknya orang dewasa. Segala sesuatu yang simpel, namun menjadi kompleks setelah dirinya dewasa.
"Hoi" Naruto mengerjap kaget melihat Karin yang sudah duduk dihadapannya bersama Temari.
"Nee-chan" Naruto menggembungkan pipinya kesal karena dikejutkan. Karin hanya terkikik melihatnya.
"Makanya jangan ngelamun terus, Naru-chan. Ntar kesambet, lho" Tegur Temari kalem.
"Ha'i ha'i" Balas Naruto malas.
.0.
Naruto sedang lari pagi, ketika tidak sengaja sebuah bola basket berhenti tepat dihadapannya.
"Oi, tolong lemparin dong" Sebuah suara dari arah lapangan basket disisi kirinya terdengar. Dengan enggan, Naruto mengambil dan melempar bola itu keras, mengakibatkan hoodie yang dikenakannya terlepas. Rambut pirang sepunggungnya yang terikat kuncir kuda terlihat, juga beberapa helai rambut yang membingkai wajahnya. Kulit wajahnya yang berkeringat tampak berkilau sexy –ecie- membuat mereka yang melihatnya terpana. Naruto segera melanjutkan larinya, menghindari sesuatu yang tidak diinginkan, sambil memakai hoodie nya kembali. Semoga saja, tak ada hal buruk yang terjadi nanti. Batinnya penuh harap.
Sepeninggal Naruto, para pemuda yang tadi sempat terpesona padanya mulai tersadar.
"Tuh anak sexy juga yah" Ujar Suigetsu.
"Iyah. Gue baru tahu kalo dia punya kaki yang bagus" Tambah Kiba. Mendengarnya, Shikamaru hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Menurut loe gimana Sas? Gar?" Tanya Kiba sambil menatap kedua sahabatnya yang sedari tadi terdiam tanpa kata.
"Hn"
"Manis juga. Sayang gue udah punya cewek" Jawab Gaara polos. Well, diantara kelimanya, Gaara yang baru saja dapat cewek baru, seorang Junior bernama Matsuri, anak Biologi. Kiba masih sama Hinata, Suigetsu masih filtring sama Karin, dan Shikamaru sudah cinta mati sama Temari. Sementara Sasuke? Abaiakan saja playboy yang sedang jomblo itu.
.0.
Naruto mengabaikan perasaan tak enaknya. Dirinya sudah hampir telat dan dosen kali ini jelas tak akan mentolelir keterlambatannya hanya karena alasan bangun kesiangan. Hah~ Naruto tidak bermaksud menyalahkan banyaknya tugas yang menumpuk di semester keempatnya. Well, selama ini dia cukup aman dari para serigala UK. Terima kasih pada para temannya yang ternyata memiliki cukup banyak pengaruh yang membantunya terhindar dari mereka. Ada juga sih, pernah ada seorang senpai yang mendekatinya, namun langsung ngacir begitu dia dihampiri Temari yang kini sudah lulus kuliah dan masih diasrama karena menjadi asdos dan menunggu pengumuman kelanjutan studinya di LA.
Naruto berlari begitu keluar dari asramanya menuju bangunan fakultasnya yang cukup jauh dari asramanya. Butuh waktu 7 menit dengan berlari, Man, kalau mengikuti jalanan. Tapi butuh 4 menit jika melewati fakultas Teknik dan Kedokteran.
Brukk
Suara Naruto yang menabrak dua orang dihadapannya karena berlari sambil melihat jam tangan dipergelangan tangan kirinya, mengakibatkan berkas laporannya jatuh.
"Ah, Gomene" Naruto menunduk sebelum mengambil laporannya.
"Maaf, saya buru-buru karena hampir telat. Sekali lagi maaf" Ujar Naruto sambil membungkukkan badannya dan segera berlari melewati sepasang pemuda-pemudi yang dari tadi ditabraknya, tanpa menengok kebelakang untuk melihat sosok yang tadi ditabraknya. Terlihat Naruto yang bahkan sesekali melompat jauh agar segera sampai.
"Dia lucu sekali ya, Sasuke-kun" Ujar gadis berambut merah jambu sambil bergelayut manja dilengan Sasuke.
"Hn" Balas Sasuke belum mengalihkan tatapannya pada sosok Naruto yang kini memasuki bangunan tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Ayo pergi. Aku sudah lapar" Ajak Sakura, yang segera diikuti Sasuke tanpa penolakan.
.0.
Dalam pelariannya, Naruto merasakan jantungnya berdetak kencang. Bukan hanya karena dirinya berlari, namun juga karena sadar siapa sosok yang tadi sempat dirinya tabrak. Ucapkan terima kasih pada Temari yang pernah menggodanya dengan Sasuke, kohai gadis itu, dulu. Padahal Naruto tidak merasa melakukan apapun. Naruto hanya tidak tahu, jika Temari mendapat berita mengenai Sasuke yang sering memperhatikan Naruto dari jauh. Tidak, Naruto tidak perlu tahu mengenai hal itu.
Naruto bukannya menyukai Sasuke – oke, mungkin hanya tertarik sedikit – tapi bukan berarti ingin menjalin hubungan dengan pemuda itu. Tidak, terima kasih. Naruto lebih suka hidup tenang tanpa sorotan. Dan dengan pemuda itu, tentu dia seolah memanggil orang-orang untuk memusatkan atensi padanya. Dan itu akan membuatnya merasa tidak nyamam.
Namun, godaan Temari setiap waktu membuatnya lama-lama memikirkan pemuda itu. Dan dia jelas merasa terusik dengan perasaan itu. Dia juga jelas tak suka mengingat pepatah yang mengatakan cinta datang karena terbiasa. Dia terbiasa mendengar dirinya disandingkan dengan pemuda itu. Dan itulah yang akhirnya membuat gadis itu merasakan perasaan lain yang tak ingin dia rasakan, muncul dihatinya. Perasaan mengganggu yang hampir sama dengan perasaannya pada Yamato.
Menghela nafasnya panjang, Naruto mencoba mengenyahkan pemikirannya mengenai Sasuke dan mengumpulkan keberaniannya untuk masuk ke dalam kelasnya yang sudah ramai. Berdoa agar sang Dosen bersedia mengijinkannya masuk.
.0.
Temari dan Karin melihat Naruto yang menutup mata sambil mendengarkan lagu dari earphone-nya, padahal mereka sedang berada di cafe yang memutar lagu-lagu yang sedang hits.
Ada apa? Tanya mereka dalam tatapan mata satu sama lain.
"Nar" Karin mencoba memanggil Naruto, namun gadis itu bergeming.
Dia tidak tidur, kan? Tanya Karin dengan isyarat pada Temari yang dibalas gadis itu dengan dengusan. Demi kolor Orochimaru! Apa tidak bisa Karin memikirkan hal yang lebih masuk akal?
"Nar" Kini Temari memanggil sambil menarik salah satu earphone yang terpasang ditelinga Naruto. Membuat gadis bersurai pirang itu membuka matanya dan menatapnya tanya.
"Hmm?"
"Lo kenapa?" Tanya Temari kalem yang dibalas kedikan bahu oleh Naruto. Gadis itu melepas earphone-nya dan memasukkannya ke dalam saku setelah mencabut sambungannya dengan phonselnya.
"Lo... Aneh hari ini" Tambah Temari yang dibalas diam oleh Naruto.
"Naru-"
"Aku banyak tugas. Jaa ne" Belum sempat Karin berujar sesuatu, Naruto sudah bangkit dan pergi meninggalkan keduanya pergi.
"Ada apa dengannya?" Tanya Karin tidak mengerti, sementara Temari hanya diam saat melihat sepasang kekasih di meja pojok. Dalam hatinya, sedikit banyak Temari bisa menebak alasan Naruto segera pergi, jika feelingnya benar, tentu saja.
"Hei! Naru, kan? Kamu Naruto, kan?" Suara bariton asing yang terdengar nyaring itu tak hanya membuat Karin dan Temari menoleh pada pintu masuk, namun juga hampir semua orang melihat Naruto yang disapa dengan heboh oleh seorang pemuda berambut putih yang tidak pernah mereka temui.
"Tone-ri?" Tanya Naruto tidak yakin. Well, sohib badung-nya itu memang sudah lama tidak tampak dalam peredaran. Katanya sedang merantau di Suna sejak bertahun silam. Jadilah Naruto heran dibuatnya.
"Yups. That's Me. So, kau kuliah disini? Astaga, aku kangen sekali padamu" Lagi, pemuda berambut putih itu mengatakannya dengan nyaring, bahkan memeluk tubuh ramping Naruto sekejap.
"OMG. Kamu sudah besar ternyata. Cantik lagi. Siapa nih, pacarnya sekarang? Mau tahu dong~" Ujar Toneri masih heboh sambil mencubit pipi gembil Naruto sayang. Membuat Karin dan Temari yang melihatnya melongo. Iya melongo, mengingat Naruto cukup anti sama yang namanya kaum adam.
"Dasar Baka! Malu-maluin tahu nggak. Nyari tempat lain, yuk. Ntar aku ceritain" Ujar Naruto sambil menarik tangan Toneri keluar dari cafe. Pemuda Ootsutsuki itu hanya mengikuti Naruto pergi, meninggalkan dua orang laki-laki yang tadi datang bersamanya.
"Siapa tuh cewek? Apa jangan-jangan yang dimaksud Toneri dia?" Bisik teman Toneri yang berambut coklat panjang, Neji.
"Mungkin" Balas yang berambut hitam klimis, Sai.
.0.
Naruto membawa Toneri ke cafetaria yang dekat dengan fakultasnya. Disana lebih menenangkannya karena tema cafe yang outdoor. Mereka memilih meja dekat dengan sebuah kolam yang ditumbuhi banyak bunga lotus dan teratai.
"Sudah hampir 5 tahun, ya?" Toneri memecah kesunyian diantara mereka. Naruto mengangguk sambil tersenyum. Toneri bukan hanya temannya, namun juga adalah satu-satunya sahabat yang tahu luar dalam Naruto. Toneri mengetahui setiap lembar kehidupan Naruto, dengan atau tanpa gadis itu ketahui.
Mengenai kehidupan gadis itu yang sangat berbeda dari kelihatannya. Siapa yang menyangka, jika gadis yang tampak tangguh dihadapannya itu sebenarnya sangat perasa dan cengeng?
"Gimana kuliahnya? Lancar, kan?" Toneri menatap Naruto dengan senyuman. Hatinya sangat senang bisa bertemu sosok sohibnya itu.
"Lumayanlah, meski awalnya kaget, hehe" Balas Naruto sambil nyengir. Bawaannya kalo ketemu Toneri pasti seneng, nyaman kaya sama saudara sendiri. Dia bisa bercerita apa saja pada Toneri dan tidak akan khawatir bocor. Karena mulut Toneri jelas bukan ember. Bahkan bisa disebut brankas berjalan, saking pinternya tu anak jaga rahasia.
"Cih, pasti awalnya ngira kuliah itu enak kaya di film-film, iya kan?" Balas Toneri dengan menaik-turunkan alisnya menggoda. Naruto hanya tertawa sambil memukul lengan kiri atas Toneri tanda sebal. Toneri yang sudah sangat mengenal Naruto jelas tahu bagaimana pemikiran gadis dihadapannya itu.
"Hahaha, dasar remaja labil" Lagi, Naruto memukul lengan atas Toneri sambil mengerucutkan bibirnya kesal. Toneri hanya tertawa melihat wajah merengut yang terlihat lucu dimatanya, yang sejujurnya sudah sangat dirindukannya.
"Aku sudah besar, Ri. Please, deh. Jangan nyebelin gitu, kali" Naruto menghela nafas atas tingkah Toneri yang suka menggodanya itu. Senang sih, tapi juga sebel.
"Habisnya, kau itu mudah banget di kerjain" Toneri tersenyum penuh arti pada sosok gadis yang nampak makin rupawan sejak terakhir kali dirinya lihat itu.
"Jadi, pacar kamu sekarang siapa?"
"Nggak ada" Jawab Naruto acuh. Membuat Toneri hanya berkedip tak percaya.
"Serius? Mantan, mantan? Udah berapa?" Tanya Toneri masih nggak percaya.
"Satu, yang itu" Balasan datar dari Naruto membuat Toneri terdiam mengerti, meski masih ada ketidakpercayaan.
"Serius, nih? Habis doi nggak ada yang lain?" Tanya Toneri hati-hati. Bukan apa-apa, hanya saja, jika Naruto masih bersikukuh menyendiri hingga sekarang, maka ada dua kemungkinan yang Toneri simpulkan. Dan salah satunya, adalah hal yang Toneri khawatirkan.
"Kamu nggak..." Toneri menatap Naruto lurus. "Nunggu dia, kan?" Lanjutnya hati-hati. Naruto hanya mengaduk minumannya tanpa berniat membuka mulut.
"Nar..." Toneri menggenggam tangan kanan Naruto dan menatap gadis itu lembut.
"Aku nggak nunggu dia" Akhirnya Naruto menjawab, membiarkan Toneri meremas tangan kanannya lembut, memberi kekuatan.
"But, you know. He's always in my mind" Jawaban Naruto membuat tubuh Toneri menegang, namun tidak Naruto sadari.
"Kadang aku bertanya-tanya... Pernahkah dia memiliki perasaan yang sama denganku? Bagaimana perasaannya yang sebenarnya kepadaku? Itu membuatku tak bisa lepas darinya. Hatiku masih terjerat oleh rantai penasaran" Naruto tersenyum lirih. "Juga bingung dengan perasaan mengharap yang tak kunjung selesai ini" Tambahnya membuat Toneri meremas tangan kanannya lebih kuat, kembali berusaha memberikan kekuatan pada Naruto.
Keduanya larut dalam pembicaraan mereka, tanpa menyadari sosok yang memperhatikan mereka dengan tatapan tak terbaca.
.0.
Naruto sedang mendownload anime yang sempat Toneri beritahukan padanya, yang katanya lucu dan bagus. Yeah, keduanya kan AnimeLovers, meski tidak fanatik, namun keduanya pasti berlomba-lomba mendownload anime yang mereka sukai, sebelum saling pamer, yang berakhir saling tukar film. Asli heri, heboh sendiri kalo keduanya sudah asyik dalam dunia mereka yang satu itu.
Naruto tertawa kecil melihat episode pertama anime yang di downloadnya, sambil menunggu download-annya selesai semua. Jumlah anime itu 11 episode, dan Naruto sudah mendapatkan 7 film saat jam tangannya menunjukkan pukul 8 malam. Ah, tinggal 4 lagi, batinnya cuek. Toh, dia berada di cafetaria depan asramanya. Aman lah.
Masih asyik dengan dunianya, tiba-tiba ada dua sosok yang duduk semeja dengannya. Sontak Naruto mengangkat kepala dan menatap kedua sosok itu heran.
"Meja lain penuh, jadi kita kesini" Ujar Neji, sosok pertama yang duduk tepat di depan Naruto bersama Sai. Naruto pun hanya bisa mengangguk. Mau ngusir, kok ya kebangetan. Kesannya tuh meja milik nenek moyangngya aja.
"Lo temannya Toneri, kan?" Naruto menatap Sai tanya.
"Kami berdua temannya. Pindahan dari Universitas Suna" Naruto membulatkan mulutnya, tanda mengerti.
"Gue Sai, dan ini Neji. Elo?" Sai mengulurkan tangannya pada Naruto.
"Naruto desu" Balas Naruto singkat sambil menjabat tangan keduanya juga singkat.
"Lo ngapain malam-malam gini sendirian disini?" Tanya Neji.
"Oh, ini. Lagi download anime yang Toneri kasih tahu tadi" Jawaban Naruto membuat Sai mengernyit.
"Kalian bener-bener klop, ya? Sampe sama-sama suka gitu sama anime. Nggak heran kalo dia suka sama loe" Ucapan ceplas-ceplos Sai membuat kening Naruto mengernyit, sedang Neji langsung menginjak kakinya hingga Sai menjerit dan mendelik tidak terima pada Neji. Dan sebelum Naruto bertanya, sebuah suara memanggil Naruto.
"Oi, Nar. Ayo balik" Teriakan khas Karin yang seperti toa membuat Naruto menoleh dan melambaikan tangannya.
"Iya, bentar. Tanggung nih, tinggal 2 episode" Ucapnya sambil nyengir yang dibalas gelengan oleh Karin.
"Gue duluan, ya? Ada tugas soalnya" Pamit Karin yang dibalas anggukan oleh Naruto. Well, sebenernya Naruto ke cafetaria bareng Karin, hanya saja Karin sibuk pacaran sama Suigetsu, jadilah Naruto nganggur dan melakukan hobinya di bagian depan cafetaria.
"Siapa?" Neji bertanya dengan tatapan tak lepas dari sosok Karin.
"Oh, Karin-senpai. Temen satu asrama" Balas Naruto cuek, tak memperhatikan jika Neji memiliki ketertarikan pada salah satu sahabatnya itu.
"Cantik, ya?"
"Hmmm" Naruto hanya mengangguk-angguk, mengiyakan, meski batinnya menambahi, tapi cerewetnya nggak ketulungan.
"Udah punya pacar belum, ya?" Tanya Neji.
"Udah pasti punya, lah." Balasan itu bukan dari Naruto, tapi sosok Suigetsu yang memperhatikan Karin sejak kepergiannya dan sosok Neji yang terus memperhatikannya.
Sontak Naruto, Sai dan Neji menoleh ke arah belakang Naruto, menatap Suigetsu.
"Itu tadi cewek gue, tahu" Sewotnya, tak suka pacarnya diperhatikan cowok lain.
"Oh" Balas Neji pura-pura cuek. Padahal hatinya mengumpat.
"Belum selesai, Nar?" Tanya Suigetsu sok akrab. Well, meski sempat bertegur sapa beberapa kali karena Karin, keduanya tak lantas akrab. Hal ini karena memang Naruto tidak terlalu nyama bersinggungan dengan kaum adam. Lupakan dua makhluk adam yang duduk di depan Naruto, kalau bukan karena animenya belum ke-download semua, pasti cewek mungil itu sudah ngacir pulang bareng Karin.
"Belum, masih nunggu satu lagi nih" Balas Naruto sambil mulai mendownload episode terakhirnya.
-TBC-
.0.
Oke, idenya udah menthok buat sementara. Maaf buat yang nunggu lama dan ceritanya makin GJ :D
Thanks buat yang sudah ninggalin jejak, maupun silent readers :)
Kecup sayang buat para followers, favouriters, and reviewers ^_^ :* :* :*
Sampai jumpa di chap berikutnya~ ;)
