Disclaimer: Sword Art Online is not mine.
molliora schiffer: kepo juga nggak apa-apa kok XD Temenku ini orang Jepang, dan aku dapat idenya karena bayangin kalo Indo dijajah Inggris -_-' Haha, kebanyakan ngayal. Review lagi ya? :)
Chapter kali ini sangaaaaaaaaat dikit. Maafkan saya.
Part 4 : Kenangan yang hilang
"Tidak mungkin!" Seru Suguha keras, tidak bisa melarang bahwa air matanya sudah turun dari kedua matanya. Iris matanya melebar, meyakinkan bahwa ini bukanlah mimpi. Dia berkali-kali bersusah payah menelan ludahnya. Seluruh tubuhnya gemetar.
Pak Alan melanjutkan, "Saksi mengatakan bahwa ada beberapa anak yang menghilang, tidak tahu mereka di mana. Dan salah satu anak yang hilang itu…," jeda beberapa saat, dan Pak Alan mengambil secarik kertas dengan foto Kazuto. Data-data Kazuto. Dia menyodorkan itu ke Ibu Ena, ketua panti ANAK JEPANG itu. Ibu Ena tidak bisa menahan rasa keterjutannya.
"Pak Britton, apakah benar, bahwa Kazuto menghilang?" Tanya Ibu Ena. DIa benar-benar kaget dan sepertinya tidak terima bahwa seorang Kazuto bisa hilang. Dia bisa merasakan kesedihan yang amat sangat.
Pak Alan menjawab dengan ragu-ragu."Ya. Kemungkinan, dia sudah pasti akan mati. Karena tentara Inggris menembakkan senapan ke arah seluruh anak. Hanya itu yang saya sampaikan. Permisi," ucap Pak Alan, membungkuk, kemudian berdiri. Dia tampak memanggil Alex.
"ALEX!" Panggil Pak Alan. Sekitar sepuluh detik kemudian, Alex muncul dengan pipi sebelah kirinya yang sangat merah.
"Kenapa pipimu merah?" Tanya Pak Alan. Alex memasang ekspresi sedatar-datarnya.
"Aku ditampar," jawab Alex, dan Suguha yang masih terkejut bisa mendengarnya. "Ayo, pa," ajak Alex, dan kedua Britton itu menghilang dalam pandangan.
Suguha lalu berjalan terhuyung, ketika dia menabrak Sachi yang juga meneteskan air mata. Mereka berdua memeluk satu sama lain, dan menangis. Suguha yang sudah lama bersama Kazuto—Suguha yang suka dengan Kazuto…
"Sachi, kenapa kau menangis?" Tanya Suguha, matanya yang berkaca-kaca menatap mata Sachi.
"Tadi… Alex… dia…,"
"Aku menyukaimu," ucap Sachi, menatap mata seorang Alex Britton. Alex menatap mata onyx-nya.
"Tidak bisa. Kau seorang Jepang, sedangkan aku kewarganegaraan Inggris. Aku sangat membenci tanah airmu, kita tidak bisa bersama."
"Kau brengsek, Alex Britton." PLAK.
"Kita semua… bernasib seperti ini. Apa-apaan, kita ya?" Tanya Sachi, matanya mengabur. "Selain itu, maafkan aku karena nasib Kazuto seperti itu. Tetapi, kan masih hilang. Bukan berarti dia sudah tidak ada di dunia ini lagi, Suguha."
Suguha menutup matanya. "Sayangnya, walaupun ditemukan, Pak Alan bilang bahwa dia sudah pasti mati," tambah Suguha sedih.
"Ya… kalau begitu aku ingin cari angin sebentar ya!" Seru Suguha, dia lalu bangkit dari kursinya. Dia tidak bisa memfokuskan kemana untuk melihat. Dia berhenti di taman, lalu duduk. Di kepalanya kembali terekam berbagai kejadian dan ingatan tentang Kazuto.
"Ini, Suguha, rumah baru kamu! Kau, dan aku akan tinggal di sini!"
"Bagaimana kau bisa mendapatkan yang seperti ini, Kazuto?"
"Pemuda yang membuangku, lebih tepatnya atas suruhan kapten memberikan ini semua!"
"Kazuto hebat ya,"
"Kau tidak akan sendiri, Suguha." Kazuto memeluk erat Suguha, sedangkan Suguha memeluk erat adiknya, Silica.
Kau tidak akan pernah sendiri di peperangan ini, Suguha.
Air mata jatuh dari pelupuk mata Suguha. Namun Suguha, yang tidak menyadarinya, diam dengan mata terbuka lebar. Rasa sedih menyeludup di hatinya. Dia benar-benar sedih. Rasanya segalanya menjadi kabur begitu saja, dan baginya itu sama sekali tidak lucu. Dia lalu mengusap air matanya. Dia takut, bahwa Kazuto akan pergi, seiring dengan air matanya mengalir. Suguha dengan berat bangkit, lalu segera ke kamar tempat Kazuto berada. Dia melihat secarik surat.
Suguha.
Aku tahu akan mati dalam beberapa hari ke depan, saat aku memutuskan untuk pergi.
Tapi, asal kau tahu, bahwa aku sangat mencintaimu Suguha. Aku sangat, sangat mencintaimu. Sejak awal bertemu denganmu, aku ingin tetap berada di sisimu. Tetapi sayang peperangan ini begitu berat, sehingga hidup ini begitu berat untuk kita berdua.
Jangan menangisi kepergianku, Suguha. Semua yang hidup punya waktunya masing-masing. Waktu satu jatuh, akan ada yang lain tumbuh. Mungkin tidak bisa menggantikan yang jatuh itu, tetapi, sama indah dan berartinya.
Aku mencintaimu, Suguha.
"Kazuto—" Air mata Suguha menetes dari matanya. Suguha menangis sejadi-jadinya. Aku menangis, melupakan bahwa aku selama ini sendiri. Lupakan. Suguha meremas seprei tempat Kazuto biasa tidur, air matanya mengalir deras.
Aku pasti menemukanmu, Kazuto. Suguha bertekad, kemudian mengambil sesuatu di lemarinya.
tbc
Kemungkinan ini agak lama untuk update lagi karena jalan ceritanya agak beda dari cerita yang kubuat untuk temanku. Haha :D Sabar ya~ Ini memang dikit banget nih chapter -_- plotnya kuubah sih.
