Going Home

Disclaimer: The plot is mine. Characters belongs to themselves, God, their parents, their company and whatever.

Warnings: RE-PUBLISH, typo(s), misstype(s), yaoi, mpreg, contains time travel, some OOCness, etc.

.

.

"Changmin."

"Ne, Appa?"

"Appa harus menceritakan sesuatu kepadamu. Changmin dengarkan baik-baik, ya?"

"Nde."

"Sebenarnya Changmin... bukan anak kandung Ahra Umma."

"..."

"Maaf, Appa menyembunyikannya selama 12 tahun ini darimu. Appa hanya ingin Changmin tidak terluka, dan tumbuh dengan kasih sayang seperti anak-anak lainnya."

"..."

"Changmin mengerti kan? Tapi tetap sayangi Ahra Umma seperti umma Changmin sendiri, ne?"

"..."

"Min...?"

"..."

"Changmin, jawab Appa sekarang."

"Lalu umma Changmin ada di mana?"

"..."

"Kenapa sekarang Appa yang diam?"

.

.

Jaejoong tidak bisa berkonsentrasi sepenuhnya pada seongsaenim yang sibuk bertutur kata di depan, meskipun pada dasarnya memang ia selalu tidak pernah serius mengikuti pelajaran. Sedari tadi matanya tertuju ke arah buku pelajaran, meskipun pikirannya sedang berada di tempat lain.

Sebenarnya sang seongsaenim juga sudah memperhatikannya, tetapi ia memilih membiarkannya dari pada berurusan dengan preman sekolah itu. Dalam pikirannya, bisa-bisa sepulang sekolah ia dihadang di depan gerbang saat suasana sepi.

"Hyung, kau terlihat gelisah."

Dengan sedikit gerakan, Jaejoong melirik ke arah Junsu, teman sebangkunya yang sedang sibuk mencatat semua ucapan sang guru, meskipun sesekali menoleh cemas pada Jaejoong yang hanya mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan ujung jemarinya.

"Kau mengkhawatirkan Changmin?"

Jaejoong menggelengkan kepala pelan sembari tersenyum tipis. "Aku hanya... entahlah. Sedikit tidak enak badan."

Tentu saja Junsu yang sudah tahu kebohongan dalam ucapan Jaejoong hanya mendesah pelan. Tadi pagi memang ada sedikit keributan karena Changmin, murid baru di kelas mereka tiba-tiba saja pingsan beberapa saat setelah secara tidak sengaja bertabrakan dengan ketua tim cheerleader, Go Ahra, yang mungkin sekarang sedang dikerubuti dengan banyak pertanyaan.

"Sialan, Go Ahra..." desis Jaejoong pelan, namun mampu membuat namja yang duduk di depannya berbalik dan menatap ke arahnya.

Deg.

"Kenapa tiba-tiba kau mengatai Ahra seperti itu?"

Jaejoong membuang pandangannya ke arah jendela dengan tidak acuh. "Kenapa? Kau tidak suka aku mengata-ngatai pacarmu? Kau mau mengajakku berkelahi?"

Yunho menggaruk-garuk kepalanya dengan bingung, kemudian menatap Junsu yang mungkin lebih mudah dimintai penjelasan.

"Sebaiknya jangan mengganggunya atau ia akan mengamuk," terang Junsu. "Changmin tiba-tiba saja pingsan setelah bertabrakan dengan Ahra dan sekarang Jae-hyung sedang kesal karenanya."

"Aku hanya tidak suka dengan sikap yeoja itu, lari begitu saja tanpa menjelaskan apapun, meninggalkan seseorang yang tergeletak tak berdaya karena ulahnya!" sela Jaejoong, sedikit menggeram. "Kalau saja bukan yeoja sudah kugantung dia di atas pohon."

Tak mengacuhkan raut wajah Jaejoong yang sedang kesal, Junsu dan Yunho tertawa kecil tanpa suara. Baru kali ini mereka melihat classmate mereka yang satu ini mengeluarkan aura kesal yang berbeda. Jaejoong lebih mengeluarkan ekspresinya, padahal selama ini nyaris namja itu selalu berlaku dingin di sekolah.

Wajah Jaejoong sedikit memanas karena malu ditertawakan seperti itu. "Yah! Jangan tertawa!"

"Ssssttt..."

Jaejoong membungkam mulutnya saat seseorang mendesis tepat ke arahnya, menyuruhnya diam. Dan ia sangat tahu desisan milik siapa itu, tak lain adalah Choi Siwon yang duduk di depan sendiri. Yah, mana ada orang yang berani menegurnya kecuali Siwon? Meskipun ia tahu namja itu menyukainya, tapi kadang-kadang ia malas juga berurusan dengan orang sok penting seperti itu.

Dengan cemberut namja berparas cantik itu membuang muka. Kalau saja Junsu tidak memaksanya untuk tetap mengikuti pelajaran, ia sudah bolos kelas dari tadi. Ia sedang tidak mood mendengar ocehan orang lain dan butuh segera ketenangan.

Namja itu mendengus sambil menyembunyikan wajah di lipatan tangannya di atas meja. "Sial, kenapa tidak dipercepat saja pulang sekolahnya? Aku-"

Tiba-tiba ia berhenti bicara saat merasakan sebuah jari yang dingin menyentuh keningnya. Ia mengangkat wajahnya dan mendongak, mendapati sebuah wajah yang tersenyum manis ke arahnya.

"Kalian jangan bilang siapa-siapa, tadi aku menguping pembicaraan kepala sekolah dengan salah satu guru. Mereka akan mengadakan rapat dan sepertinya kita akan dipulangkan lebih awal," jelas Yunho sambil tersenyum lebar.

Junsu yang mendengarnya turut melebarkan senyum. "Eh, benarkah itu, Hyung? Oh senangnya, aku mau minta ditraktir Chunnie. Dia kan ulang tahun beberapa hari yang lalu tapi belum menraktirku! Eu kyang kyang!"

"Berisik, Junsu! Ini bukan saatnya pamer bahasa lumba-lumba!" teriak Siwon kembali dari barisan depan. Beberapa murid terdengar cekikikan, apalagi melihat wajah chubby Junsu yang cemberut dengan mata makin menyipit, tak menghilangkan kesan imut di sana.

Junsu menjulurkan lidahnya ke arah Siwon. "Dasar, mentang-mentang tim disiplin jadi sok. Aku menyesal harus satu kelas dengannya." Ia menoleh ke arah Yunho dan juga Jaejoong yang sepertinya sedang menahan tawa atas teguran tadi. "Yah! Giliran kalian yang tertawa!"

Siwon sudah tidak tahan mendengar suara berisik yang amat sangat dari bagian belakang. Ia berdiri dengan tegasnya dan dengan langkah amat berwibawa mendekati meja Jaejoong dan Junsu yang menjadi sumber keributan. Dilipat segera tangannya di depan dada dan membuka mulut bersiap mengeluarkan suaranya yang tegas.

"K-"

Hanya saja keberuntungan tak berpihak padanya. Baru hendak mengeluarkan satu kata, bel panjang yang nyaring sudah berbunyi, sontak membuat para murid berteriak kegirangan karena tak menyangka bisa pulang lebih awal. Dari sudut matanya, Siwon dapat menangkap jika duo Jaejoong dan Junsu sedang menyeringai penuh kemenangan.

"Siwon-sshi yang terhormat, berhubung sudah di luar jam pelajaran, jadi tidak ada lagi atur-mengatur. Eu, kyang kyang! Kyang kyang kyang!" dengan tawa khasnya yang aneh, Junsu segera membereskan buku-buku serta alat tulisnya yang berserakan rapi di atas meja.

Belum sempat menyelesaikan semua, Yoochun sudah muncul saja dari pintu yang terbuka, membuat para yeoja berteriak histeris saat sang cassanova memamerkan senyumannya yang berkilau. Ia menundukkan kepalanya sopan pada seongsaenim yang sedang terburu-buru keluar kelas hendak mengikuti rapat.

Yah, meskipun banyak disukai dan banyak dari yeoja di kelas itu yang terpesona, mereka sudah tahu bahwa jika Yoochun masuk ke kelas mereka maka sasarannya hanya satu: Junsu. Yunho saja yang teman satu timnya di basket hanya kadang-kadang disapanya.

"Chunnie!" teriak Junsu senang sambil menyeret tasnya di lantai seperti anak kecil. Sebelum Yoochun sempat membalas sapaannya, Junsu sudah menghampirinya dan menyeret namja itu keluar ruangan dengan riang. "Traktir aku dong. Aku mau es krim Bourbon Cornflake lima scoop ya, Chunnie?"

Yoochun yang dengan pasrahnya ditarik Junsu pun membuka mulut tanpa protesan, hanya gumam keheranan yang terdengar di sana. "Hee...?"

Dan saat bayangan couple aneh itu menghilang, murid-murid lain pun sudah mulai pergi mencari kegiatan lain di luar sekolah tentunya.

"Oh, kau masih di sini?" tanya Jaejoong cuek pada Siwon yang masih setia berdiri di samping mejanya. Ia mungkin tidak sadar jika sedari tadi Siwon dengan tenang memperhatikannya, memperhatikan hal kecil yang ia lakukan meskipun hanya sebuah senyum tipis yang muncul saat melihat tingkah Junsu dan Yoochun yang sudah berlalu. Dan ia pun terus memperhatikan si cantik nan sangar Jaejoong yang sedang memberesi bukunya.

"Ehm, Jae, apa kau ada waktu sebentar?" Entah dapat ide dari mana, Siwon mengatakannya tanpa basa-basi. Ia menunggu jawaban dari Jaejoong yang diam sebentar. Mungkin kaget.

Jaejoong mengangkat sebelah alisnya dan turut melipat tangannya di depan dada. "Wak...tu? Sepertinya..."

Sungguh, namja cantik itu tidak tahu harus menjawab apa. Ia malas berurusan dengan Siwon, tapi ia tahu bahwa namja berbadan oke itu orang yang keras kepala dan juga sangat menyukainya.

Andai saja Tuhan Yang Baik memberinya pertolongan sekarang...

"Jae! Ayo kita tengok Changmin! Aiish, jangan lama-lama berpikir, bukannya sedari tadi kau terus memikirkan Changmin? Sebelum dia mungkin sudah pergi dari sekolah!" Jaejoong mendadak mati akal saat Yunho dengan tampang polosnya menyeret ia begitu saja dari hadapan Siwon yang kelihatan kecewa sekaligus kesal.

Tapi mungkin lebih baik begini, ya ampun Tuhan... Kau memang Maha Baik.

Sedang Yunho tersenyum-senyum sendiri saat berhasil menggandeng Jaejoong keluar dari hadapan ketua tim disiplin yang menurutnya sok, itu. Untuk suatu alasan yang tidak jelas, ia tidak suka Siwon menggoda Jaejoong, pokoknya tidak suka!

"Lepaskan aku!" seru Jaejoong sambil berusaha melepas genggaman tangan Yunho, tetapi ternyata namja itu cukup kuat, tak peduli akan perlawanan itu dan tetap membawa sang namja cantik ke ruang kesehatan di mana Changmin berada.

.

.

"Changmin, maafkan Appa..."

"Ani, Appa. Appa tidak salah. Changmin tahu Appa melakukan semua ini untuk Changmin. Gomawo, tapi Changmin ingin pergi."

"Pergi ke mana? Jangan membuat Appa cemas."

"Changmin ingin bersama umma Changmin."

"Kau bicara apa? Ummamu ada di sini."

"Appa boleh membenci Changmin atas apa yang akan Changmin katakan, tapi Changmin hanya ingin jujur bahwa pandangan Ahra Umma dari awal memang berbeda pada Changmin. Changmin berusaha sayang padanya, tetapi umma tidak. Dan perlakuannya pada Changmin berbeda."

"Min..."

"Changmin ingin Appa terus hidup bahagia bersama Ahra Umma dan juga Hara. Jangan pedulikan Changmin lagi Appa, karena Changmin juga pasti akan hidup dengan bahagia."

"CHANGMIN...!"

.

.

"Di sini tidak ada orang sama sekali. Apa guru yang bertugas juga mengikuti rapat?" tanya Yunho pada dirinya sendiri sambil memperhatikan sekeliling. Ia melihat Changmin yang tertidur pulas di salah satu ranjang putih di sudut. Ia mendekatinya, sementara Jaejoong masih di belakang menutup pintu.

Sebenarnya Yunho ingin sekali mengajak Changmin berbincang-bincang agar ia merasa lebih baik, tetapi melihat tidur namja yang tenang itu membuat sang namja tampan tidak tega membangunkannya. Tanpa sadar diperhatikannya namja itu dari atas sampai bawah, dan ia mengerutkan dahinya.

'Kenapa sepertinya Changmin sedikit mirip dengan Jaejoong, ya? Apa mereka saudara?' batin Yunho. Ia tidak sadar Jaejoong sudah berada di sampingnya dan menatapnya dengan pandangan aneh.

"Apa yang sedang kau pikirkan?"

Sontak Yunho bangun dari pikirannya yang ia rasa melantur ke mana-mana dan berusaha bersikap biasa saja. "Ah, aniyo. Aku hanya berpikir mungkin ia demam atau sesuatu," jawab Yunho asal.

Ia pura-pura memeriksa Changmin dengan menempelkan punggung tangannya ke dahi Changmin yang berkeringat, mengabaikan tatapan Jaejoong yang makin aneh ke arahnya.

Dan ekspresi Yunho mendadak menjadi cemas dan serius. Ia menempelkan punggung tangannya berkali-kali bergantian ke dahi Changmin, mencoba memastikan dengan benar. "Astaga Jae, coba kau sentuh dahi Changmin!"

Tanpa bertanya, Jaejoong menempelkan punggung tangan kanannya ke dahi Changmin yang basah oleh keringat dingin. Matanya yang lebar semakin terbelalak.

"Pa-panas sekali! Apa ada obat turun panas di sini?" Dengan kelabakan Jaejoong memeriksa kotak P3K yang tertempel di tembok, mengacak-acaknya dengan gugup. Tidak ditemukan apapun, kemudian ia beralih ke laci kecil di sudut ruangan yang ternyata berisi obat-obatan. Dibacanya semua label yang ada pada obat-obat tersebut.

Sementara itu Yunho langsung melesat keluar. Jaejoong agak heran, tetapi tidak begitu mengacuhkannya. Baru beberapa saat kemudian namja itu datang kembali dengan membawa sebaskom air dingin dan handuk kecil.

"Biar ku kompres dulu Jae, kau lanjutkan cari obatnya."

Jaejoong hanya mengangguk sambil terus melakukan kegiatannya. Baru kali ini ia kelabakan seperti ini dan benar-benar peduli pada orang lain. Ia tak tahu mengapa, yang jelas jantungnya berdetak sangat kencang dan seolah-olah ia sedang berpacu melawan waktu.

"Paracetamol," gumam Jaejoong pelan saat memeriksa sebotol obat yang berada di tangannya. Ia segera bangkit dan menghampiri Changmin yang masih terkulai di tempat tidur. Di dahinya terpasang kompres dari handuk basah yang dibawa Yunho tadi.

"Sudah ketemu obatnya?" Jaejoong mengangguk cepat saat Yunho bertanya padanya dengan tatapan yang sulit diartikan, antara gugup, cemas, takut, dan masih banyak lagi tersirat di sana. Apa ia juga menghawatirkan Changmin? Tapi kenapa?

Yunho mengambil obat tersebut dari tangan Jaejoong dan membaca sekilas labelnya. "Apa kita bangunkan dia saja?" usul Jaejoong dengan pasrah. Ia pernah merasa lemah seperti ini sebelumnya.

Jaejoong tidak pernah merasa lemah kecuali dalam satu keadaan. Ia lemah saat melihat orang yang disayanginya sedang merasa kesakitan. Ia pernah tumbang melawan preman sekolah tetangga yang sebenarnya mudah dikalahkan, seandainya saja waktu itu pikirannya tidak berada pada sang appa yang saat itu berada di rumah sakit karena kecelakaan. Selain itu selama lima belas hari ia tidak punya tenaga bahkan untuk penilaian lari saat mengetahui ummanya, Heechul, sedang berada di ambang kematian karena komplikasi di perutnya.

Tuhan masih menyayanginya. Ia masih memiliki keluarga yang utuh sekarang dan ia bahagia.

Tetapi ada apa ini? Kenapa ia merasa tidak memiliki tenaga sama sekali saat melihat Changmin yang demam tinggi dan terkulai lemah di hadapannya? Ini perasaan yang sangat tidak biasa.

"Umma... Umma..." Changmin memanggil lirih dalam tidurnya. Ia bergerak pelan sementara kedua matanya masih tertutup rapat. Semakin banyak keringat dingin yang keluar, membuat Jaejoong menggigit-gigiti jarinya dengan gugup, hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Yunho menatap Jaejoong sekilas, kemudian dirasakannya bahwa namja cantik itu tidak tahu harus berbuat apa. Namja tampan itu sendiri tidak tahu kenapa ia bisa sekhawatir ini.

"Cha-Changmin-ah..." Yunho menggoyang-goyangkan pundak anak itu pelan, yang hanya dibalas erangan dari kesakitan dari Changmin. Jaejoong makin keras menggigiti jemarinya sambil bergerak-gerak gelisah.

Pikirannya blank!

Akhirnya ia turut berjongkok di samping Changmin sambil menyentuh wajah sang namja yang panas, menepuk-nepuk pipinya dengan sabar dan lembut. "Changmin-ah, bangun..."

Perlahan namun nampak tak sadar, Changmin membuka sedikit matanya. Pandangannya mengabur, tak jelas mengetahui siapa yang ada tepat di hadapannya, tak ingat suara siapa yang sedari tadi memanggilnya.

Nyuut.

Changmin menekan-nekan pelipisnya yang terasa sakit. Ia buru-buru duduk bersandar di tempat tidurnya sambil meringis, kemudian memperlebar bukaan kelopak matanya yang semakin berat saja. Barulah saat itu ia menatap dua orang yang tidak asing dalam memorinya. Tetapi Changmin tidak ingat apakah ia masih bermimpi sekarang atau sudah kembali ke kenyataan.

Bahkan ia tidak merasakan air matanya jatuh saat manik tersebut menangkap Jaejoong dan Yunho serta raut kecemasan mereka.

"Um-ma... Ap-pa..."

"Changmin-ah, kau baik-baik saja?" tanya Jaejoong, mengabaikan kata yang baru saja diucapkan anak itu, yang seharusnya dapat memicu amarahnya. Hanya saja untuk saat ini emosi yang dimilikinya hanya kekhawatiran.

Yunho hanya diam, masih berusaha mencerna kata yang Changmin ucapkan. Ia tahu jelas kata-kata itu ditujukan untuk orang tuanya, tetapi kenapa saat mengatakannya, Changmin menatap dengan sendu ke arahnya dan juga ke arah Jaejoong? Atau apakah itu sekadar perasaannya?

Melihat aura Yunho yang terasa canggung, Changmin perlahan mulai kembali ke kesadarannya. Ia merutuki kebodohannya sendiri dan berusaha sekuat mungkin untuk tersenyum. Dilap segera air mata yang bercampur keringat di pipinya dengan lengan tangannya. "H-Hyung, aku baik-baik saja. Maaf aku berbicara melantur, hehe."

Nyuut.

Changmin menyipitkan matanya, menahan rasa sakit di kepala bagian samping. Melihat perubahan di wajah namja itu, Yunho langsung memberikan obat yang Jaejoong temukan.

"Suhu badanmu tinggi, coba minum obat ini dulu," usul Yunho sambil membuka tutup botol obat tersebut, menuangkan secukupnya di sendok takar. Sementara Jaejoong dengan sigap sudah menyiapkan air hangat di gelas. "Nah, buka mulutmu. Aaaa..."

Yunho membuka mulutnya, mencontohkan Changmin untuk melakukan hal yang sama. Untuk beberapa detik, namja yang sedang menderita batin itu tertegun melihat Yunho. Ada perasaan yang ingin ia keluarkan, yang ia sendiri takut untuk menunjukkannya.

"Eh, kenapa diam saja, Changmin-ah? Ayo buka mulut, aaaa..."

Dan namja itu tertawa dengan tulus, meskipun masih berada dalam rasa sakitnya. Ia melihat Jaejoong menyikut Yunho kasar dan berkata pada namja tampan itu bahwa perbuatannya pada Changmin sangat kekanak-kanakkan.

Yunho tak menyerah, ia masih mencoba membuka mulut Changmin dengan gaya ala anak kecil. Semakin lama ia mencoba, semakin tulus pula tawa yang dikeluarkan oleh Changmin, seolah-olah ia tidak ingat lagi kapan terakhir kali ia pernah tertawa dengan ikhlas. Dan seolah-olah tidak ada lagi beban di dunia ini.

"Changmin-ah, kalau kau tidak mau minum obatnya, aku bisa menjamin sebentar lagi kau pasti mati."

Ucapan frontal Jaejoong lantas membuat kedua namja lain di sana membelalakkan pasangan mata mereka. Astaga, apa pemuda cantik itu tidak tahu situasi atau memang suka bicara seenaknya kapan saja dan di mana saja dalam keadaan apa saja?

"Yah, Jaejoong-ah! Ucapanmu kejam..."

Tetapi Changmin memotong. "Berikan padaku obatnya, Hyung."

Yunho terkesiap, kemudian tersenyum. Well, mungkin ucapan pedas nan frontal itu ada sisi baiknya. Yah, walaupun ia tidak tahu bahwa sebenarnya Changmin tahu meskipun dingin dan ketus tetapi mulai muncul rasa sayang dalam diri Jaejoong padanya. Itu sudah lebih untuknya.

Tadinya Changmin ingin meminum obat itu sendiri, tetapi Yunho memaksa-maksa dan pada akhirnya berhasil menyuapkan obat cair penurun panas itu ke mulutnya. Jaejoong menyuapinya air beberapa detik kemudian.

"Terima kasih," ucap Changmin sambil berbaring kembali di ranjang. Ia merasa sedikit menggigil, kemudian menarik selimutnya sampai ke dada. "Kalian mungkin tidak tahu jika hal kecil ini sangat berarti bagiku."

Yunho tersenyum, seraya menggumamkan kata balasan terima kasih pada Changmin.

Jaejoong menarik nafas lega dari tempat di mana ia duduk sekarang, sebuah ranjang kosong di samping ranjang Changmin. Sungguh, ia bisa merasa lega sekarang, meskipun masih belum bisa memastikan apakah kecemasannya itu benar-benar karena keadaan Changmin.

Satu hal kini tengah berputar-putar di dalam pikirannya. Ia tidak sempat merespon panggilan Changmin tadi karena saking gugupnya, namun sekarang hal itu menggelitiki otaknya. Ia ingin mengulang waktu ketika Changmin menatap ia dan Yunho dengan tatapan sayunya kemudian memanggil mereka dengan sebutan 'umma' dan 'appa'.

Jaejoong merasakan pipinya terbakar hanya dengan memikirkannya. Selama ini Changmin selalu menganggapnya 'umma' dan baru kali ini Changmin memanggil 'appa' dan jika ia tidak salah kata itu ditujukan untuk Yunho. Jaejoong tidak berharap sedikit pun bisa dekat dengan Yunho dan membayangkan yang indah-indah tentangnya.

Tetapi tadi Changmin memanggilnya 'appa'. Apakah itu berarti di masa depan... ia akan menikah dengan Yunho? Apakah ini ilusi Jaejoong semata? Atau hal terbaik serta termustahil yang bisa terjadi, adalah bahwa Jaejoong dan Yunho saling mencintai.

Bolehkah ia membuat pipinya lebih merah lagi dengan segala khayalannya?

Ish... Terlalu banyak yang ingin ia tanyakan pada Changmin!

Puk! Puk!

Jaejoong memejamkan mata sambil menggelengkan wajahnya yang makin memerah, tidak sadar jika perilakunya menepuk-nepuk pipi sendiri telah menarik perhatian Changmin dan Yunho.

Baru setelah sepasang mata hazel lebar seindah bola kaca tersebut terbuka, ia langsung menghentikan kegiatannya.

"Yah! Jangan menatapku seperti itu!" bentak Jaejoong, menutupi rasa malunya.

"Kau lucu sekali, Hyung. Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Changmin. Keadaannya saat ini jauh terlihat lebih baik.

"Ti-tidak ada! Kalau sudah merasa lebih baik, sebaiknya kita pulang saja. Kau harus istirahat lebih banyak di rumah!" tukas Jaejoong galak, tidak mengacuhkan tatapan memelas Changmin yang ingin berada di tempat ini lebih lama. Mungkin tidak banyak orang yang tahu jika dirinya menyukai bau obat-obatan.

"Sudah, sudah, tidak perlu ribut," Yunho menengahi. Ia menoleh ke arah Changmin sambil bergurau. Diliriknya Jaejoong sekilas. "Ummamu yang galak ini benar, sebaiknya istirahat di rumah saja, Changmin-ah."

Detik berikutnya Yunho menyesal telah membuat candaan tentang Jaejoong karena namja cantik itu kemudian menendangnya sampai terpental di lantai yang dingin. Kepalanya menabrak kaki ranjang.

"Aku kan hanya bercanda, kau serius sekali," gerutu Yunho sambil meringis mengusap-usap kepalanya yang berambut jabrik.

"Cih, memangnya aku peduli." Jaejoong melangkahi ruangan dan keluar melalui pintu yang sedikit terbuka, meninggalkan duo Yunho dan Changmin yang mungkin sedang bertanya-tanya ke mana ia hendak pergi.

Entahlah, Jaejoong sendiri tidak tahu hendak menuju ke mana. Alasan utama, ia hanya ingin melarikan diri dari situasi yang kurang membuatnya nyaman. Seriously, ini hari yang terlalu aneh baginya. Changmin... Yunho... ada apa dengan mereka?

"Aaarrrggghhh...!"

Jaejoong mengacak-acak rambutnya dengan ganas, menghentakkan sepatu ketsnya keras ke lantai, menghasilkan bunyi berdebum yang tentu saja mengganggu konsentrasi para guru yang sedang rapat di ruangan yang baru saja dilewati namja cantik tersebut.

Ia mendengus, sampai langkah kakinya berhenti di depan gerbang sekolah. Huh, ia sungguh ingin pulang tetapi bagaimana dengan Changmin?

Nah kan, lagi-lagi pikirannya tertuju pada namja tampan itu... eh, apa tadi baru saja ia secara tak langsung mengakui bahwa pemuda bernama lengkap Max Changmin itu tampan? Aigoo... Jaejoong sudah mengklaim bahwa 'ketampanan' itu hanya dimilikinya seorang dan sekarang ia membaginya dengan Changmin?

Sudah mengakui bahwa kemiripanmu dengan Changmin rasanya makin banyak saja eh, Kim Jaejoong?

"Hm..."

"Yeoboseyo? Appa!"

Mendadak Jaejoong menghentikan langkahnya saat mendengar suara yeoja yang dibilang familiar sih tidak, tetapi cukup mengundang rasa penasarannya. Menggelitik keingintahuannya. Ia melihat bahwa di pos satpam nampak kosong dan di samping kanan sana terlihat surai panjang seorang yeoja yang sedang menempelkan sebuah handphone di telinga kirinya.

Tidak terlihat sama sekali wajah yeoja tersebut. Jaejoong menoleh ke segala arah, memastikan tak ada yang sedang melihatnya. Ia berjalan mendekati pos dan membuka pintu yang tak pernah dikunci oleh si empunya. Namja cantik itu menahan dari yang namanya 'menghasilkan suara' dan berkonsentrasi dalam misinya yang disebut 'menguping'.

"Appa, aku sangat menyukai Yunho-oppa! Ta-tapi saat aku menyatakannya tadi, Yunho-oppa bilang ia hanya menyukaiku sebagai yeodongsaengnya! Hiks, Appa..."

Jaejoong yang mendengar penuturan itu, melebarkan kembali telinganya. Ia mengintip melalui kaca dan melihat di sana seorang yeoja yang sangat menyebalkan (baginya), mengerucutkan bibirnya, sedang beberapa tetes air mata membasahi kulit pipinya.

Dan... WHAT?

Berita heboh apa siang-siang begini. Go Ahra menyatakan cintanya kepada Jung Yunho, tetapi Jung Yunho menolaknya dan sekarang Go Ahra sedang menangis dan mengadu pada ayahnya.

Namja cantik itu menarik sudut bibirnya ke atas, bahagia atas ketidakbahagiaan yeoja tersebut.

"Appa bisa lakukan sesuatu untukku, kan? Appa bisa kirimkan anak buah Appa sekarang juga, kan? Hiks, aku mau sekarang, Appa... Aku ingin mereka menculik Yunho-oppa untukku. Bisa kan, Appaaaa?" rengek Ahra sambil terus mengelap air mata yang mengucur deras tanpa henti, tidak menyadari sepasang mata indah yang memelototinya dari dalam pos satpam. "Hiks, nde. Kutunggu, Appa. Yeoboseyo."

Klik.

"Hiks, tunggu saja Oppa, kau pasti akan jatuh ke tanganku!"

Sembari menarik nafas lega karena keberadaannya sama sekali tidak disadari oleh yeoja bernama Ahra itu, Jaejoong duduk di lantai ruangan sempit tersebut sambil menyeringai tipis, menertawakan kepolosan (/kebodohan?) seorang Go Ahra yang terlalu yakin dengan rencananya.

Hei Ahra, tidak tahukah kau jika menyangkut kekerasan, Jaejoong adalah masternya? Dan lagi kali ini Yunho pun dibawa-bawa, ck ck. Mungkin Jaejoong memang tidak mau mengakui jika ia ingin melindungi Yunho, tetapi jika kau berani macam-macam dengan namja bermarga Jung yang dikaguminya, Viper Jaejoong yang terlihat pasif akan menancapkan taring beracunnya tepat di pembuluh darahmu.

Dan membuatmu lumpuh seumur hidup!

.

.

"Ng..." Changmin melirik pada Yunho yang sedang memberesi obat-obatan yang tadi diacak-acak Jaejoong saat mencari obat turun panas, kembali ke lacinya. Ia tak ingin mengganggu namja yang terlihat lebih tua darinya itu, tetapi entah mengapa perasaannya jadi agak tidak enak.

Bunyi laci lemari yang didorong menutup menyadarkan Changmin dari lamunannya sesaat. Ia sedang memikirkan hal-hal buruk yang mungkin saja sudah, sedang, atau akan terjadi di luar sana.

"Hyung, kenapa Jae-hyung belum kembali?" tanya Changmin cemas. Giliran ia yang merasakan kekhawatiran saat ini. Agaknya namja itu sedikit merasakan kebahagiaan dan kehangatan saat mengetahui wajah cemas Jaejoong yang terlihat beberapa waktu lalu.

Changmin senang, bukankah itu berarti bahwa Jaejoong nyatanya mengkhawatirkannya, meskipun mati-matian putra tunggal keluarga Kim itu menentangnya?

"Aku tidak tahu. Mungkin sedang mencari angin. Kau mau pulang sekarang, Changmin-ah? Mau kuantar?" tawar Yunho, tak menyadari bahwa hari ini ia membawa sepeda ke sekolah, tidak membawa mobil kesayangannya. Ia berdiri mendekati Changmin, tersenyum dan mengacak-acak rambutnya yang masih sedikit basah oleh keringat. Kemudian diambilnya kompres di dahi Changmin yang sudah sedikit normal suhunya.

Changmin menggeleng, kemudian merapikan rambut hitamnya yang berantakan akibat ulah Yunho. "Jangan sekarang, Hyung. Tunggu Jae-hyung saja, lagi pula tasnya masih berada di sini," ucap Changmin sambil menunjuk tas yang teronggok di dekat pintu.

Yunho mengambil tempat duduk kayu yang terlupakan di sudut ruangan. Ia menempatkannya di sisi ranjang Changmin dan merasa bahwa di wajah namja yang masih sedikit pucat itu tersirat rasa takut dan kecemasan.

"Ada apa, Min?"

Lagi-lagi Changmin hanya menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Ia berusaha membentuk senyum di wajahnya, memaksa Yunho untuk menganggapnya baik-baik saja.

"Hyung, sebenarnya aku membencimu."

Eh? Kedua mata bulat Yunho bertransformasi lebih bulat lagi seperti kelereng, mendapati sebuah kalimat menyakitkan yang ditujukan langsung, tanpa basa-basi kepadanya. Dan itu didapatkannya dari seorang namja yang belum lama dikenalnya.

Tawa kecil yang dipaksakan, keluar dari mulut Yunho. Ya ampun, dia tidak tahu harus berekspresi seperti apa karena ini pertama kalinya ada orang yang begitu tega padanya yang tampan ini.

Changmin tertawa kecil, tawa ikhlas yang dikeluarkannya tidak seperti Yunho. Ia sedikit ragu untuk mengatakannya, tetapi malaikat tak terlihat di sampingnya membisikkan bahwa ini adalah jalan yang terbaik. Mau seberapa pun menyakitkannya, inilah yang ia pilih.

"Mianhae Hyung atas kalimatku tadi. Tetapi untuk saat ini aku tidak benar-benar membencimu," ujar Changmin lirih. Kali ini tatapannya meneduh, menyembunyikan sedikit mendung.

Wajahnya masih sedikit merah karena obat turun panasnya mungkin belum bekerja secara keseluruhan. Tetapi ia memaksa tetap tersenyum. Ia mengeratkan genggaman tangannya di selimut yang menutupi bagian pinggangnya ke bawah, sementara punggungnya bersandar di tembok. Tatapannya lurus.

"Hyung, bolehkah aku membagi sebuah rahasia padamu?"

Kali ini suara itu terdengar seperti ratapan di telinga Yunho. Namja itu merasa situasi berubah menjadi serius sekarang. Ia berdehem sebentar, kemudian meraih kerah kemeja seragamnya untuk melonggarkan dasi yang melingkar sempurna di sana. Ia merasa seakan-akan sedang berada di situasi yang sangat amat penting dan darurat!

"Santai saja, Hyung. Aku tidak memaksamu." Changmin geli juga menyaksikan seorang Jung Yunho muda yang terlihat nervous.

"Nah, aku siap mendengarkan!" seru Yunho ceria. Ia mungkin tidak banyak membantu, tetapi setidaknya ia sudah melakukan apa yang menurutnya bisa mengurangi beban orang yang sedang sakit. Menghiburnya, dan melakukan hal-hal yang menyenangkan.

Di saat Yunho mendeklamasikan kalimat kesiapannya, Changmin malah menundukkan kepala dalam, memicingkan matanya selama beberapa detik, kemudian membukanya kembali. Setelah menarik nafas panjang, akhirnya namja muda itu mengangkat kembali wajahnya.

"Tapi Hyung harus berjanji jangan kaget... Dan ingatkan aku supaya jangan menangis, ya? Kadang-kadang aku cengeng sekali."

Yunho menganggukkan kepalanya mantap, memantapkan hati dan bersiap mendengar sesuatu yang mungkin akan merubah segalanya...

. . .

Evergreen, evergreen, like an inexperienced fool.

I lived without seeing the love you were giving me...*

. . .

*(Engtrans) Evergreen by DBSK

Author's Note: BORONGAN 3 CHAPTER, wkwk... Fuuuh... masih ada yang peduli sama FF ini ternyata :sobs: Terima kasih, thank you, sankyuu, gamsahamnida semuanya. Chapter 5 diupdate paling lambat 3 hari mendatang (beneran deh aku kehilangan jalan cerita selanjutnya gegara ni FF waktu itu dihapus *blank*).

Special thanks: ChaaChulie247 (yg nagih melulu, wkwk), ucie cassiopeia, Hikari, dandless males login (yg suka neror, kkk), Priss Uchun, Bloody Evil From Heaven (makasih udah follow ^^), skandar ANBERLIN, Rosanaru, minna, SparkSomnia, Shania9ranger, VoldeMIN vs KYUtie, LawRuuLiet, L.I.M15, NaMinra, Tha626, puzZy cat, Booboopipi

See ya next chapter ^^,

Love, love, love,

Hareth.