As Long Im with You
Tiga hari telah berlalu semenjak kejadian bersama pelaku sihir lairnya. Semenjak kejadian itu, si gadis iris onyx sudah jarang untuk datang ke ruang perpustakaan sekolah. Karena ia diberitahu oleh temannya yang lain jika mereka melakukan pertemuan diperpustakaan. Tetapi terkadang mereka hilang begitu saja. Kirana yang sebenarnya bingung mengapa bisa begitu segera menepiskan kebingungannya. Untuk menghabiskan waktu bersama teman-teman ghaibnya, ia berkumpul dibawah pohon yang rindang. Pohon tersebut terletak dihalaman sekolah.
Hari ini cuaca terlihat buruk. Kelihatannya hujan akan turun sebentar lagi. Si gadis berharap agar bel cepat berbunyi dan segera melesat pergi ke kamarnya yang hangat di rumah milik sepupunya. Oh, aku belum memberitahu kepadamu jika Kirana tinggal di rumah, bukan apartemen, eh? Ya, ia memang tinggal di rumah sederhana milik sepupunya. Sepupunya yang dulu bekerja disana ternyata memiliki pekerjaan di kampung halamannya, Indonesia, lagi. Mendengar bahwa Kirana akan bersekolah disekitar situ, ia menitipkan rumah kecilnya kepada Kirana. Rumah yang sekarang sedang ia rindukan.
Hetalia © Himaruya Hidekaz
This Story © Emillia Kartika
Warning : Typo, OOC(Maybe)
Jika tidak suka, tidak usah membaca ya? Saya tidak ingin keributan disini ^^
Bel pulang telah berbunyi, Kirana segera merapikan bangkunya dan beranjak keluar kelas. Dan ternyata ia telat. Hujan telah turun. Kirana menatap pasrah butir-butir air hujan yang turun dari langit gelap di lobi sekolah. Hujan tersebut makin lama makin deras. Pasrah, ia berputar dan berjalan kearah perpustakaan. Perjalanannya ke perpustakaan memang damai, sebelum-
DUAK
BRUK
.
"Aduh…" "Ouch…"
-ia menabrak seseorang dan jatuh terduduk ke lantai.
Para korban penabrakkan membuka salah satu matanya untuk melihat siapa yang ditabrak. Manik onyxnya bertemu dengan manik crimson.
"Ah, maaf" ucap keduanya bersamaan.
Keduanya mengedipkan matanya berkali-kali. Si iris crimson yang kita kenali sebagai Vladimir itu berdiri. Ia mengulurkan tangan kanannya pada Kirana yang masih terduduk bingung di lantai. "Aku Vladimir Popescu. Ternyata kau teman tuyul yang waktu itu ya? Temanmu bilang bahwa kau memiliki ilmu hitam yang kuat! Kau hebat!" ucap Vladimir dengan enerjik dan seringaian khasnya. Kirana dari tadi mengedipkan matanya, tidak mengerti maksud tangan terulurkan tersebut. 'Oh' batinnya kemudian tersenyum dan membalas uluran tangan tersebut. Tubuhnya tertarik ke atas.
"Namaku Kirana Nesia Maharani. Temanku? Maksudmu teman ghaibku? Aku tidak paham apa maksudmu, tetapi terima kasih" ujar Kirana tersenyum. "Tentu saja teman ghaibmu, Kirana. Kau belum pulang?" tanya Vladimir yang berjalan mengikuti Kirana. "Belum. Dan kau dapat melihatnya. Kau juga belum pulang, mengapa?"tanya Kirana kepada Vladimir yang berjalan disampingnya. "Tidak apa-apa. Aku baru saja selesai latihan bersama kedua temanku. Saat aku ingin pulang, ternyata aku terjebak dalam hujan. Dan aku tidak dapat berteleportasi dalam jarak jauh…"Vladimir menggaruk-garuk kepala bagian belakangnya yang tidak gatal. Kirana memandangnya takjub. "Kau bisa berteleportasi? Itu hebat!" puji Kirana yang dibalas dengan "Terima kasih!" dari Vladimir. "Tunggu—kedua temanmu maksudmu si alis tebal dan teman berjepitmu itu? Jangan bilang bahwa kalian latihan sihir?"
"Ya, kami latihan sihir. Memang kenapa?"tanya Vlad. "Tidak, tidak kenapa-kenapa. Pasti senang ya, bersama teman lain yang dapat melihat…" Kirana memandang kakinya yang sedang melangkah dengan pandangan iri. "Tentu saja, sangat menyenangkan! Kami adalah Magic Trio dari Magic Club. Kau dapat bergabung jika kau mau!"Kirana menatapnya dengan pandangan berkilau. "Benarkah?" tanyanya membenarkan jika apa yang ia dengar salah atau tidak. "Tentu!" Vladimir menyeringai.
"Tapi—aku tidak yakin jika temanmu beralis tebal itu menyetujuinya. Bahkan aku tidak yakin jika temanmu yang berjepit itu akan menerimaku…"Kirana kembali sedikit sedih. Di lain sisi Vladimir tersenyum sedikit sedih, memikirkan perdebatan Arthur dengan Kirana. Ya, karena saat itu perilaku Arthur sempat membuat sisi gelap—yandere Kirana keluar. Memang mengerikan. "încetișor, aku mendukungmu" Kirana sedikit bingung pada perkataan Vlad, tetapi ia yakin itu hal untuk menyemangati. Kirana tersenyum kepada Vlad.
"Terima kasih, Vlad!"
Selama perjalanannya ke perpustakaan, si gadis beriris onyx bersama pemilik iris crimson berbincang. Terkadang mereka tertawa tiba-tiba. Terkadang Vladimir menyeringai karena kejahilannya yang sukses, yang tentu saja membuat Kirana marah kecil. Terkadang Kirana menunduk galau, dikarenakan ia menceritakan tentang dirinya dan Abel.
"Ah, kita sampai"
Dibukanya pintu penghalang kedua ruangan tersebut. Di dalam perpustakaan sangatlah sepi. Mereka berjalan ke ruangan dimana sektor kesenangan mereka berdua berada. Di ruangan tersebut terdapat seorang pemuda berjepit sedang menggunakan kacamata bersama dengan makhluk hijau yang besar. Di meja pemuda itu terdapat banyak buku yang tersusun rapi—terlihat bahwa pemuda tersebut suka membaca. Di samping pemuda tersebut terdapat segelas kopi hangat dan tempat kacamata. Terlihat jelas mengapa pemuda tersebut menggunakan kacamata, karena buku yang sekarang sedang dibacanya sangatlah kecil—buku mini.
"Oh, alo, Lukas. Kau masih disini?" tanya Vlad.
Kirana memandang takjub buku disekeliling pemuda yang Vlad panggil Lukas itu. 'Gila…'batin Kirana yang sedang sweatdropping. "Ja" balas Lukas singkat setelah melirik kepada mereka berdua. Kemudian ia kembali membaca buku mininya itu. "Kau sedang membaca apa?" tanya Vladimir yang tiba-tiba sudah duduk di kursi didepan Lukas. Kirana tersentak kaget atas menghilangnya pemuda yang sedari tadi ada disebelahnya itu. 'Lho..kok?' batin Kirana bertanya-tanya. Dilain sisi, Lukas yang sudah terbiasa hanya memandang bosan bukunya. "Kau dapat membacanya sendiri"
Kirana yang sedari tadi hanya berdiri didekat jalan masuk, mulai berjalan ke sektor kesukaannya, membiarkan Vlad berbincang dengan Lukas yang alhasil hanya diabaikan. Ia memandang bosan sektor didepannya ini. Sepertinya ia mulai bosan dengan perpustakaan. Melihat dua buah buku yang kelihatan lumayan menarik, ia ragu yang mana yang harus dibacanya dahulu. Ia memandangi buku pertama, kemudian buku kedua, dan mengulangi keduanya.
"Ura! Dengan begini hanya Arthur!"sorak Vladimir yang membuat Kirana menoleh ke arahnya.
'Hmm? Ada apa ya?'batin Kirana.
"Ei! Kirana! Kesini!" Vladimir menunjuk-nunjuk sofa kosong disebelahnya.
Kirana mengedipkan matanya berkali-kali, kemudian menaruh salah satu buku secara acak dan berjalan duduk disebelah Vladimir. "Ada apa?" tanya Kirana kepada Vlad. Vlad menyeringai. "Sebelumnya kenalkan dulu temanku ini—Lukas Bondevik! Orang yang susah dibaca pikirannya!" Vlad menunjuk Lukas. "Oh, aku tersanjung" ujar Lukas bosan. Kirana sweatdrop lagi. "Ehm—A-aku Kirana Nesia Maharani, salam kenal…"Kirana menjulurkan tangannya, sedikit ragu. Pemuda didepannya ini memiliki pandangan kosong, dan mungkin ia dingin, terlihat dari sikapnya saat tidak sengaja ia tabrak waktu itu.
Lukas menatap juluran tangan Kirana, kemudian menatap sang gadis dengan pandangan kosong tidak terbacanya, membuat Kirana sedikit merinding. Lukas menghela napas pelan, kemudian menjabat tangan Kirana. "Lukas Bondevik"
Kirana mengangguk kecil, Vladimir yang melihat keduanya hanya tersenyum canggung. "Err—Jadi ada kabar baik yang akan kuberitahu padamu, Kirana!" ujar Vladimir, melihat bagaimana situasi akward sebelumnya. "Dan apa itu?" tanya Kirana, menolehkan wajahnya pada Vlad. "Begini, kau mendapat izin dari Lukas untuk bergabung menjadi salah satu dari kami!"Vladimir dan Kirana menolehkan wajahnya pada Lukas. Lukas yang merasa dipandangi, memandang balik mereka berdua. "Aku hanya berkata 'Terserah'"ujar Lukas. Vlad dan Kirana menatap bingung Lukas. "Dan kata terserah itu, lebih memihak boleh, atau tidak boleh?"tanya Vladimir kepada Lukas. Lukas menghela napas. "Sebahagiamu" ujar Lukas yang kembali fokus ke bukunya.
"Ahaha, kau memang peduli , Lukas"ujar Vlad jahil yang diabaikan Lukas. Vladimir berbalik kea rah Kirana. "Dengan begini, yang tersisa hanyalah Arthur"
TBC!
Lah, Halo, saya kembali dengan chapter baru. Yah saya sedikit buntu ide, jadi saya ngebut. Mungkin ini sedikit dipaksakan kah? Dan besok-Tanggal 21 April 2015! Selamat hari Kartini! ^^! Ingat jika laki-laki dan perempuan derajatnya sama ya! Jadi yang laki-laki pun juga boleh jika menyukai hal-hal yaoi. Er...gak salah toh? Yo sak bahagiane to! *Fav quote dari sohib* . Btw, maaf chap ini pendek QAQ ngebut...
Review :
kokuri . kasane = Author : Siapa yang mau tanya (?) Namanya Tuyul gitu lho(?)
Yukii Hiiro-san = Author : *lirik Kirana* mungkin ia memang bipolar. Alay termasuk ga sih?
Kirana : Hei! Lihat dirimu juga! Oh dan tentang kejahilan tuyul, setiap hari juga gitu kok
Author : Iya, dan Kirana memandang pemandangan orang menderita didepannya dengan seru. Malah mesem-mesem dia. Aku hiatus dari hiatus deh.
Kirana : Maksudmu lho apa?
Author : *ngelirik ke sana kemari* Ga tau.
Rifka-san = Author : Halo Rifka-san! Saya Au-tan, atau baygon juga boleh!*gak* Kalau gak cocok sih, ini ga kubuat :3 *lha* Iya, bahkan adiknya dianggap setan. Eh, maaf. Nggak kok. Tetap adek tercinta. Kelanjutannya adalah! Diatas! Iya!
kat . mini. 718 = Author : Udah update nih~
Fav dan foll akan membuat saya tersanjung*huaha* . Review pun juga, tetapi jangan pedas-pedas, plis. Selamat bertemu di chapter selanjutnya, dan
Selamat Hari Kartini ^^
