Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto. AU-set, semi Teenlit.

.

.

Akabara's Room

(Final) Chapter IV

.

.

Uchiha Sasuke, tak ubahnya seperti anak liar yang dipungut di jalanan. Bahkan ia merasa lebih buruk dari pada itu, karena seorang anak pungut pun mesti tahu diri. Berbeda dengannya. Sejak awal ia dimasukan dalam perusahaan IT sederhana, banyak yang memandangnya sebelah mata karena umurnya masih sangat kecil untuk ukuran staff IT. Enam belas tahun.

Namun, karena itu Namikaze Naruto yang membawanya, Sasuke dididik menjadi seorang teknisi informatika yang bertanggung jawab. Naruto yang dua tahun lebih muda darinya belajar bersamanya. Mereka bedua di bawah asuhan Namikaze Minato yang merupakan hacker handal berbendera putih.

Minato adalah Ayah Naruto, untuk itu Sasuke sudah dianggap anak sendiri baginya mengingat Sasuke merupakan yatim yang hanya tinggal dengan Ibunya.

Selama sekolah menengah ke atasnya, Sasuke bekerja sampingan di sebuah perusahaan IT sederhana tersebut. Menjabat sebagai seksi keamaan alias security server beberapa perusahaan swasta yang menyewa jasa perusahaannya. Tidak ada kendala dalam ia belajar. Selama ini ia cukup cerdas dan cepat meresap apa yang diajarkan membuat awak perusahaan pun senang dengannya.

Mulanya ia dipercayakan untuk menangani perusahaan menengah kebawah, bahkan semi perorangan. Namun tiga tahun—sampai ia lulus sekolah—perkembangannya amat pesat dan diberikan kepercayaan menangani client perusahaan menengah ke atas.

Awalnya Sasuke tak pernah memikirkan kata-kata almarhum Itachi, Kakaknya, namun ternyata manusia memang tempatnya berbuat salah dan dosa. Tak luput dari sebuah rasa tamak dan tinggi hati.

"Ketika merasa kuat maka kau akan sombong dan menarik dirimu."

Sasuke berubah menjadi pribadi yang perfeksionis. Ia selalu enggan menerima project team. Hanya mau perorangan karena menurutnya bekerja sama dengan orang lain akan selalu merepotkan karena tidak sepemikiran. Pengecualian untuk Namikaze Naruto dan Minato.

Sekali pun ia terpaksa ditempatkan dalam sebuah team, maka ialah leader-nya, yang tak pernah tak membuat anak buahnya berkecil hati karena kemampuan dan caranya bekerja.

Hingga memunculkan pihak-pihak pembenci dirinya. Membuatnya sering menerima kritikan pedas, namun itu tak membuatnya runtuh sekali pun, justru semakin cerdas dan kuat.

Seperti pepatah lainnya, semakin terbang ke atas semakin kencang angin menerjang. Sasuke dilanda pencemaran nama baik berulang kali oleh teman sekantornya sendiri. Rasengan Inc kini sudah besar tempatnya bernaung terasa bagaikan neraka.

Hanya beberapa orang yang bisa ia hitung dengan jarilah yang masih setia di sampingnya termasuk Naruto dan Minato. Sasuke yang selalu mendapat pembelaan dari Minato selaku owner sekaligus leader, semakin dibenci karena dianggap besar kepala dan semakin sombong.

Diam-diam, ia bergeser profesi sebagai cracker. Cracker adalah seorang kriminal yang melakukan pelanggaran dalam teknologi dunia maya. Seperti mencuri data, melakukan pencurian aplikasi, pembongkaran hak jual, sampai pengerusakan server yang menyimpan data-data penting.

Tentu ia bukan remaja bodoh yang melakukan keidotan hanya untuk senang-senang. Selain ia sakit hati dan ingin memberi pelajaran pada musuhnya di kantor, bayaran sebagai kriminal dunia maya ternyata lebih besar dan bisa mencukupi kebutuhan Ibunya yang sering sakit.

Ia menawarkan jasa kejahatannya pada musuh dari client yang menyewa jasa keamanan di perusahaannya. Dan yang terparah adalah yang terakhir yang berhasil membawanya masuk ke rumah sakit. Ia menawarkan jasanya pada pemerintahan Kumo yang merupakan musuh Konoha.

Sasuke mendadak jadi milyader karenanya, namun pria dua puluh lima tahun itu juga memicu api perang yang lebih besar di kedua distrik tersebut. Kesalahannya amatlah besar dengan menransfer data penting yang tergolong amat rahasia milik Konoha pada Kumo. Seperti persenjataan dan strategi ekonomi yang tak pernah dibagi.

Untuk itu Rasengan Inc disalahkan karena jasa mereka terbukti payah untuk keamanan distrik. Sasuke yang sempat lupa diri itu akhirnya tersadar saat menyaksikan sendiri bagaimana senyum teduh Minato saat menutup perusahaan mereka yang diboikot habis-habisan.

Sasuke sadar ia buta kekuatan. Ia yang teramat merasa bersalah tidak bisa menyembunyikan keresahannya ketika Gaara mengendus ketidak beresannya. Gaara merupakan teman sekantor sekaligus saingan beratnya—juga sahabat lain Naruto yang kerap kali membuatnya agak cemburu dengan kedekatan mereka.

Gaara berusaha setengah mati menjatuhkan Sasuke dengan menyudutkan kejanggalan yang ia baca dari Sasuke. Namun dasar Sasuke tergolong berusia labil, malah melakukan pengelakan dan menutupinya dengan mengungkit kesalahan besar Gaara yang lalai memegang keamanan server pemerintahan distrik Konoha.

Tak kunjung mengaku dan malah balik menuduh nampaknya membuat Gaara kesal dan nekat melaporkannya ke Minato dan Naruto. Setelah ditelusuri akhirnya benar ketahuanlah Sasuke, Gaara dan teman-temannya getol mengejar Sasuke yang melarikan diri meski Minato sudah berkata tidak akan memperpanjang masalah ini.

Sasuke yang sudah dikepung, keangkuhannya mendadak runtuh sebelum menghubungi Naruto untuk meminta maaf.

"Ya, ada apa, Sasuke?—"

Begitulah suara ramah Naruto yang membuat Sasuke memicingkan matanya. Ia kesal, mengapa Naruto bertingkah seolah Sasuke tidak pernah bersalah?

"—maaf, baterai ponselku habis. Dan kukira kau tidak menyimpan nomor rumahku lagi…"

Gurauan Naruto malam itu sebelum Sasuke berhasil meminta maaf padanya membuat hati Sasuke nyeri. Tapi suara di belakang Sasuke membuat Naruto khawatir. Tempat Sasuke bersembunyi sudah digedor keras oleh Gaara dan teman-temannya.

Setelah didesak, akhirnya Sasuke memberi tahu posisinya berada dan Naruto segera bergegas ke sana tanpa mengingat Sakura masih menunggunya dalam video chat mereka. Bayang Naruto melindunginya malam itu begitu menancap kuat dalam memori Sasuke. Membuat ia merasa bersalah karena membuat Naruto celaka.

Sasuke ingat sekali seseorang menginjak bahkan melompat di atas dadanya, setelah itu Naruto mendekapnya mengakibatkan pertikaian antara mereka terhenti, ketika salah satu kawanan Gaara menghantam keras kepala Naruto dengan pagar rusak yang terbuat dari beton tipis.

Naruto dan Sasuke dilarikan ke rumah sakit setelah Gaara mendapati akal sehatnya, walau bagaimana pun yang diperanginya adalah temannya juga, pengecualian untuk Sasuke si pengkhianat.

Naruto mengalami pendarahan berat dalam otak yang harus segera dioperasi. Operasi pertama menguras harta Minato yang tersisa ditambah sumbangan mantan anak buahnya kini nampak sia-sia. Naruto harus dioperasi lagi untuk kedua kalinya.

Dan di sinilah Sasuke sekarang. Memegangi dadanya yang belum pulih benar. Napasnya tersengal namun matanya nampak puas dengan hasil kerjanya. Ia berhasil membakar sebuah bangunan kecil yang merupakan sebuah toko entah milik siapa dan menjual apa—Sasuke tidak peduli.

"Bagus," seorang pria berjaket hitam memberinya sebuah amplop tebal berisi sejumlah uang yang dirasanya cukup untuk membiayai operasi Naruto yang harusnya dilaksanakan malam ini. Di tangannya terdapat pisau lipat yang berlumurkan darah karena ia harus menghabisi sepasang suami-isteri ketika memergoki perbuatannya.

Ini adalah kejahatan pertamanya di dunia nyata. Sudah tidak ada waktu untuk mencari pelanggan di dunia maya—lagi pula itu memakan waktu untuk pengerjaan dan pembayarannya.

Kebetulan sekali ketika ia melarikan diri dari rumah sakit, berhadapan dengan sekelompok orang yang menertawakan keadaannya karena meminta bayaran besar dan rela disuruh apa saja.

.

.

Ia tak beralaskan kaki saat masuk ke dalam rumah sakit, bibirnya pucat menahan rasa sakit di bagian tulang rusuknya yang retak kini bengkak karena terlalu banyak bergerak. Piyama rumah sakitnya yang sudah terlihat kotor dilapisi jaket hitam yang ia kenakan kupluknya di kepala.

Sasuke berjalan tertatih, menolak dan mengusir semua perawat yang menghampirinya hendak membantu. Ia berjalan terseok-seok karena salah satu kakinya terluka pun akhirnya bertemu dengan Minato di depan administrasi.

Minato yang tadinya menunduk pening memikirkan anak semata wayangnya, kini membuka lipatan tangannya. Ia menangkap sigap Sasuke yang nyaris mencium lantai setelah menaruh sebuah amplop tebal di bar administrasi sambil berkata terbata, "Segera lakukan operasi untuk Namikaze Naruto."

Dan Sasuke yang limbung ditaruh di atas kursi roda yang diantarkan oleh seorang perawat. Mulanya Sasuke akan langsung ditangani dokter tapi…

"Hei, kebetulan!" Seru Gaara dengan air muka yang tak bisa didefinisikan, "Naruto minta tolong padaku untuk mencari kau."

Sasuke mengerutkan alisnya, "Nanti aja kalau udah operasi." Namun Gaara menggelengkan kepalanya cepat. "Nggak, nggak bisa. Dia ngotot, tadi. Mendingan kau cepat temuin."

Akhirnya Sasuke mengangguk saat kursi rodanya didorong ke kamar Naruto dirawat. Sesampainya di sana, ia tak kuasa menahan kesedihan dan rasa bersalah melihat cengiran Naruto yang berusaha terlihat baik-baik saja dengan kepala botak yang diperban.

Pria pirang itu harus kehilangan rambutnya demi kelancaran operasi dan pengobatan selanjutnya. Naruto meminta dengan sopan untuk Minato dan Gaara meninggalkan ia dan Sasuke berdua saja. Sasuke yang sudah merapatkan kursi rodanya menghadap ranjang Naruto kini tertunduk.

Ia menatap kesal pinggiran ranjang. Ia marah dengan dirinya yang begitu tega pada Naruto. Tapi semua sudah amat terlambat untuk disesali.

"Gimana keadaannya, Sasuke?"

Sasuke mengumpat dalam hati, mengutuk kebodohan Naruto yang masih saja bertanya—karena tentu saja Sasuke merasa amat bersalah.

"Kok bajumu kotor?"

"Kalau kau cuma mau tanya kabar, lebih baik tutup mulut berisikmu itu, operasi aja dulu!"

Naruto terkekeh, "Uang dari mana mau operasi?"

Sasuke mencengkram celana bagian lututnya hingga kusut. Ia kesal sekali Naruto tampak biasa saja padahal ia tahu ada rasa sakit di kepala sahabat yang sudah ia khianati tersebut.

.

.

"Halo."

"Apa benar ini nona Haruno Sakura?"

"Iya…"

"Kami dari kepolisian dengan sangat menyesal mengabarkan kalau orang tua Anda tewas terbunuh bersama dengan sebuah toko keluarga Anda yang hangus terbakar…"

Ruang-ruang dalam hati Sakura yang remang kini diliputi kegelapan. Ia mendadak merasa amat dingin menerpa sekujur tubuhnya. Ponsel yang ia genggam, merosot ke lehernya yang sedang berbaring di atas ranjang rumah sakit.

Apakah ini arti dari mimpinya? Lantas, mungkinkah terjadi sesuatu pada Naruto juga? Batinnya terasa terkoyak mendengar penyesalan pihak kepolisian yang terlambat melarikan orang tuanya ke rumah sakit dan masih menyelidiki pelaku.

Ia yang pada dasarnya tidak memiliki tubuh fit pun menjadi lemah mental. Ia menangis tanpa suara antara takut sendirian dan tidak percaya kalau dua orang keluarga yang ia miliki kini telah tiada. Bahkan Sakura hanya menyusahkan keduanya di saat-saat terakhir mereka.

Sakura sedikit terkejut saat wanita berambut merah masuk ke dalam kamar inapnya. Ia yang tengah termenung sendirian dengan televisi menyala pun segera menghapus air matanya. Ibu Mikoto tidak ada ditempat, setahunya sedang mencari keberadaan Sasuke.

"Hai, Sakura…" ucap wanita berambut merah mawar itu membenahi kaca mata. "Kau menangis?" senyum di wajahnya mengecil saat menanyakan itu.

"Karin?" Sakura balas tersenyum, "Tapi… bagaimana kau bisa tau aku ada di sini?"

Senyuman di wajah Karin luntur tak bersisa, air mukanya tampak sedih, "Itu nggak penting. Untuk sekarang, apa kau masih kuat untuk kubawa keluar?"

Sakura menaikan sebelah alisnya, "Kemana?"

"Kau akan tahu … dan sebelumnya, kenapa kau menangis?"

.

.

"Untuk apa kau menangis?"

"Maafkan aku, aku nggak tau kalau kau sedang seperti ini…" Sakura tersedu di bawah telapak tangan besar Naruto. Yang ditangisi justru terkekeh ringan sambil mengelus rambut merah muda kusut Sakura.

"Aku minta maaf, ya. Nggak bisa menjagamu terus-menerus. Kekasih macam apa aku, tidak ada saat kau sakit begini…"

"Nggak, kau nggak salah. Akulah yang salah nggak tau kau kenapa-kenapa," Sakura bersikeras dengan tangis yang susah dihentikan. "Aku cuma kelelahan, sementara kau kecelakaan."

"Nggak perlu didramatisir, ne." Naruto mengeluarkan sebuah ponsel flip berwarna putih polos padanya. "Ini, kuberikan untukmu."

Sakura yang belum berhenti menangis pun mengerut alis tak mengerti, "Untuk apa?"

Naruto tidak langsung menjawabnya, ia menghela napas dan mengelus lagi rambut merah muda Sakura hingga belakang. "Aku udah dengar soal orang tuamu dari Karin. Aku sangat menyesal nggak bisa lakukan apa pun untukmu."

"Jangan bicara begitu, kau nggak bisa karena kau sakit—"

"—maka dari itu," Naruto memotong dan melepaskan segala kontak fisiknya dengan Sakura, "Aku minta maaf… aku nggak bisa lagi menjagamu—"

"—kau ini ngomong apa?" Sakura balik memotong karena perasaannya sangat tidak enak. Naruto menatap ponsel putih polos yang belum Sakura sambut darinya. Ia menaruh ponsel itu ditelapak tangan Sakura dan menutupnya, berharap Sakura akan menjaga ponsel itu baik-baik.

"Seandainya bisa, aku akan terus menjagamu. Apa lagi kau sebatang kara, aku bahkan nggak sanggup membayangkan bagaimana hidupmu nanti. Tapi aku benar-benar minta maaf—"

"Jangan bertele-tele bodoh!" Sakura memotong dengan tangis makin dalam, "kau melukai hatiku dengan bicara begitu."

"Maaf, maaf…"

Isak tangis Sakura terdengar melemah. Ia yang terkenal kuat menjadi sangat cengeng sekarang ini.

"Tapi kau jangan khawatir," Naruto tersenyum simpul, beda sekali dengan cengirannya selama ini. "Akan ada seseorang yang menemanimu. Menggantikanku untuk menjagamu—"

"—aku nggak mau, aku cuma ingin kau yang menjagaku!" sambar Sakura masih cengeng. Ia tidak bisa terima orang tuanya terbunuh oleh seorang yang tak dikenal dan ia tambah tidak bisa menerima kalau Naruto yang ia harapkan tidak lagi bersamanya.

"Dia orangnya sangat baik. Dia sama sepertiku. Yang pasti dia akan selalu menjagamu dan akan selalu ada untukmu. Kau nggak perlu sungkan untuk meminta pertolongannya karena ia sama sekali nggak keberatan untuk menolongmu."

"Naruto…"

"Dia yang akan menanggung biaya hidupmu. Dia yang akan menjadi tumpuanmu. Mulai sekarang kau berpegang padanya karena aku nggak lagi bisa—"

.

.

Sasuke memejamkan matanya pening. Matanya yang sembab sudah ia keringkan dengan lengan berpiyamanya namun masih menyisakan rona kemerahan di sekitar mata gelapnya. Di pangkuannya terdapat sebuah amplop cokelat tebal yang isinya masih utuh. Ia mengingat jelas bagaimana kekecewaan Naruto tadi padanya.

"Aku nggak mau operasi dengan uang hasil kerja kotormu."

"Aku nggak menyangka kau akan sejauh ini Sasuke…"

Gertakan gigi Naruto antara kesal dan kecewa. Sasuke mengingatnya dengan jelas.

"Yang kau celakai itu orang tua kekasihku. Gadis yang aku sayangi…"

"Maaf…"

Untuk pertama kalinya Sasuke menangis begitu cengeng namun tak bersuara. Dan itu di bawah telapak tangan besar Naruto yang menempel di pundaknya.

"Dosamu terlalu besar, Sasuke."

Sasuke tahu itu. Ia sudah menghancurkan perusahaan yang Minato bangun mulai nol. dan kini menyengsarakan Naruto. "Aku… sangat menyesal."

"Kau akan begitu. Kau pasti dan kau harus."

Sasuke sudah tidak melihat cahaya terang lagi dalam kalbunya yang mendingin menyadari semua kebodohan yang serba kebetulan seperti ini.

"Berjanjilah, Sasuke. Kau akan menjaganya.

Kau akan melakukan apa pun agar punggungnya tidak mencapai tanah.

Setiap kau lelah, bosan atau menyerah, kau akan teringat dosamu.

Kau tak kan pernah melupakannya, Sasuke.

Aku akan selalu mengawasimu.

Kau harus ingat dua hal.

Dosamu.

Dan dia adalah Sakura-ku."

"Apa pun itu… aku tak kan merasa berat untuk melakukannya…"

"Dan ini… sucikan uang kotor ini dengan sebijak mungkin. Karena aku enggan menerimanya."

.

.

Masalah yang tak kunjung selesai bagi Sakura adalah memikirkan adminstrasi rumah sakit yang ternyata belum dibayar sama sekali oleh kedua orang tuanya. Maka dari itu ia memutuskan untuk pulang karena ia hanya kelelahan dan tidak ada pemberitahuan penyakit apa pun.

"Aku… minta dibuatkan surat perjanjian saja. Aku akan mencicilnya rutin tiap bulan, kalau melanggar aku akan masuk penjara," usul Sakura dengan lengan kurus yang membawa tiang infus di depan pihak administrasi.

"Apa kau tidak punya penanggung jawab lain?"

Sakura menggeleng, "Aku nggak punya keluarga selain kedua orang tuaku."

Karyawati berseragam putih itu nampak bingung berpikir. Namun dering telepon membubarkan pikirannya. "Ya, benar… oh… kebetulan sekali, orangnya ada di sini… apa? … baiklah… terima kasih, Tuan."

Sakura yang sedang menyandarkan dagunya lemas di atas meja administrasi pun masih menunggu karyawati itu dengan sabar. "Nona Haruno," senyum sang karyawati cerah, "Biaya administrasi Anda sudah dilunasi."

"He?" Sakura menegakan tubuhnya dengan mata membulat, "Sungguh?"

Anggukan karyawati itu adalah jawaban yang diiring senyuman senang.

"Siapa dia?"

"Dia tidak ingin namanya diberitahukan…"

"Ah, siapa pun itu terima kasih!"

Dan Sakura tak melihat seorang pria berambut hitam memperhatikannya dari balik dinding dengan ponsel yang belum lama diturunkan dari telinga. Mengenakan celana jeans dan kemeja yang di dalamnya masih dibalut perban, tak lupa sebuah jaket hitam yang ia kenakan untuk menutupi rambut mencuatnya…

.

.

Aku akan melindungmu dari sekarang.

Jadi biarkan aku mengenalmu.

.

.

AKABARA'S ROOM END.

Notes :

- hacker berbendera putih : netral, kalangan bersih yang kerjanya jadi security. Ibaratnya kalau di dunia nyata itu ya polisi.
- cracker : lawannya hacker. Kalau di dunia nyata ibarat perampok, maling dsb.
- sering di antara kita salah pakai istilah. "efbiku di-hack. Padahal harusnya efbiku di-crack!"
- orang kira jadi hacker itu keren? Yang keren itu cracker, karena penjaga nggak bisa dikatakan hebat kalau ada pembobol kan? hoho.

A/N : maaf kalau feelnya ngga dapet #diBalang apa lagi aku tahu banget ini sangat kecepetan ya Dx ah aku emang amatir! Setelah aku pikir2, isinya lebih ke SakuNaruSasu ketimbang SasuSaku ya? Makanya aku tambahin Naruto sebagai character utamanya. Cerita ini ada sekuelnya yang bakal memakai karakterisasi KurosakiTeru (dari Dengeki Daisy) untuk SasuSaku.

Arigatou minna-sama for review last chap : yixinggg, mayurahime, Hikari Matsuhita, ahalya, Tsurugi De Lelouch, hanazono yuri, sonedinda, Haruno Mitsuka, Universal Playgirl, Alifa Cherry Blossom, uchiharuno susi, Tomat-23