Disclaimer : Masashi Kishimoto-sensei
Pair : NaruHina
Warning : AU, OOC, Typo, lebay, aneh, dan yang lainnya.
Kalau anda tidak menyukai fic milik saya silahkan meninggalkan fic ini dengan cara meng-klik tombol back yang tersedia dilayar monitor anda. #pletak
Kalimat diatas sudah jelas kan? So, jangan Flame fic ini ! ^^
Protection
"Hah…" Suara helaan nafas terdengar di sebuah ruangan bercorak oranye. Pemuda berambut pirang yang ada di ruangan itu kini sedang berguling-guling di atas kasurnya terlihat frustasi.
"Heh, menyebalkan sekali! Kenapa Hinata tidak memberitahuku apa-apa? Tou-san dan kaa-san juga diam saja." Naruto –pemuda itu bangkit dari tidurnya, duduk di pinggiran ranjangnya. Dia mencengkeram erat selimut berwarna hitam tebal yang tergeletak acak-acakan dia atas ranjangnnya karena ulahnya sendiri.
"Sial! Aku jadi penasaran." Ucap Naruto sambil mengacak-acak rambut pirangnya. "Argh!"
"Naruto! Cepat tidur nanti kau bangun kesiangan!" Teriak okaa-san nya dari lantai bawah yang mendengar anak tunggalnya masih saja berisik padahal malam semakin larut.
"Huh, iya kaa-san!" Ujar Naruto malas. 'aku ini kan sudah besar, kenapa masih saja diperlakukan seperti anak kecil! Padahal masih jam sebelas malam.' Batinnya.
Keadaan di kamarnya menjadi hening. Menghela nafasnya lagi, kemudian Naruto menghempaskan tubuhnya di kasur ukuran king size empuknya itu. Dia memejamkan matanya, menyembunyikan berlian berwarna biru cerahnya yang selalu bersinar.
.
.
.
"Ah, benar juga!" Ucap Naruto tiba-tiba, segera bangkit lagi dari tidurnya. Dia menyeringai senang, mata biru cerahnya terlihat berbinar-binar senang.
"Aku pasti akan mengetahuinya!" Naruto mengepalkan tangannya ke udara.
"Yosh, sudah diputuskan!"
_Protection_
Naruto berjalan santai menuju kelasnya yang berada di lantai dua. Matanya melirik ke kanan dan ke kiri seperti sedang mencari sesuatu. Dan, tepat sekali! Dia memang sedang mencari sesuatu, atau seseorang?
"Hai, Hinata!" Ujar Naruto tersenyum riang. Dengan semangat dia memasuki kelasnya dan menuju kepada seorang gadis berambut biru panjang sepunggung yang sedang membaca buku di mejanya.
Hinata, gadis itu menoleh pada Naruto yang sekarang sudah sampai di mejanya atau lebih tepatnya, meja mereka berdua. "H-hai juga, Naruto-kun." Balas Hinata menundukkan kepalanya, terlihat pipinya merona merah. Malu karena ada pemuda berambut pirang yang tampan di dekatnya juga malu karena sekarang dia dan pemuda itu menjadi pusat perhatian murid-murid kelas. Tentu saja mereka menjadi pusat perhatian, suara Naruto yang terlampau kencang juga sedikit cempreng itu membuat semua pasang mata melirik mereka dan satu hal yang dipkirkan mereka; bagaimana bisa Naruto dan Hinata yang baru berkenalan kemarin bisa menjadi sangat terlihat akrab seperti itu?
Yah… memang, Naruto itu memang anak yang supel jadi dia sangat mudah berbaur dengan siapa saja, tapi ini sedikit mengherankan karena yang diketahui murid-murid di kelas itu adalah seorang Hinata Hyuuga tidak mudah untuk berteman karena dia sangat pemalu. Terlihat jelas sekali kalau Hinata itu sangat pemalu, semua murid yang ada di kelas itu mengetahuinya.
Tapi, kenapa dengan Naruto, Hinata bisa sangat akrab padanya? Mereka seperti sudah saling kenal dalam waktu yang cukup lama. Walaupun kebiasan cara berbicara Hinata sedikit terbata-bata karena dia sangat teramat pemalu.
"Oi, Naruto sepertinya hari ini kau aneh." Ujar Kiba menghampiri Naruto yang sekarang sudah duduk di kursinya, samping Hinata.
"Hm, aneh kenapa?" Naruto menaikkan satu alisnya menatap Kiba dan teman-teman lainnya menghampiri mereka berdua.
"Kau terlihat lebih bersemangat dan juga sangat senang. Aku mencium sesuatu yang tidak beres." Ujar Kiba mengendus udara yang ada di sekitar Naruto.
"Hei, Kiba! Jangan melakukan itu dan jangan dekat-dekat!" Cetus Naruto risih dengan Kiba yang mengendusnya "Kau seperti Akamaru, anjingmu itu."
"Enak saja kau bilang! Jangan membawa nama anjing kecilku!" Ujar Kiba tidak terima disamakan dengan Akamaru, anjingnya. Walaupun dia majikannya, tapi tetap saja bukan? Semua manusia tidak ingin kalau mereka disamakan dengan hewan.
"Anjing kecil? Kau bercanda, anjingmu itu sangat besar! Sebulan yang lalu saja anjingmu menindihku dan hampir mengigitku tahu! Aku sampai susah bernafas!" Ucap Naruto dengan penekanan disetiap perkataannya.
Baru saja Kiba akan membalas perkataan Naruto, Tenten –gadis bercepol dua sudah mendahuluinya. Berusaha untuk menengahi perdebatan yang tidak penting itu.
"Hei sudahlah, kalian seperti anak kecil saja." Tenten mengelengkan kepalanya pasrah melihat kedua temannya yang sekarang saling memberikan tatapan membunuh. Keduanya masih saja saling mencibir satu sama lain.
"Ya ampun kalian berdua ini!"
PLETAK.
"Aduduh, sakit." Naruto mengelus-elus kepalanya yang baru saja mendapat pukulan dari sahabat kecilnya.
"Kenapa aku ikut dipukul?" Tanya Kiba yang juga mengelus-elus kepalanya.
"Karena kalian berisik!" Jawab Sakura berkacak pinggang, urat kekesalan sangat terlihat sekali diwajahnya.
"K-kau tidak apa-apa, Naruto-kun?" Tanya Hinata khawatir melihat Naruto yang terus meritih kesakitan.
"Tidak apa-apa, Hinata." Jawab Naruto menoleh pada Hinata yang ada di sampingnya. "Untung saja aku masih punya orang yang peduli padaku, tidak seperti sahabat-sahabatku yang sangat menyebalkan itu. Arigatou Hinata!" Naruto merentangkan tangannya lebar-lebar bersiap untuk memeluk Hinata. Baru saja akan memeluk gadis berambut biru di sampingnya, kepalanya kembali dipukul.
"Aduh, sakit tahu!" Rintih Naruto menoleh kepada seseorang yang baru saja berani memukulnya disaat kempatan yang amat sangat bagus itu. Dia juga mendengar gelak tawa dari teman-temannya.
"Berani kau menyentuhnya, aku akan melemparmu Naruto!" Seorang pemuda berambut coklat panjang yang diikat dibagian bawahnya dan memiliki mata yang sama dengan Hinata menatap pemuda yang memiliki tiga guratan halus dikedua pipinya, tajam. Kedua tangannya dia lipat di depan dada.
"Eh? Neji?"
"Hn, jangan dekat-dekat dengan adikku!" Ucap Neji yang masih menatap Naruto tajam.
"Kenapa kau ada disini? Inikan bukan kelasmu." Tanya Naruto penasaran, tidak menghiraukan tatapan Neji karena dia sudah biasa mendapatkan tatapan yang lebih mengerikan lagi seperti Sasuke atau Sakura.
"Aku ingin memberitahu tugas Asuma-sensei, karena beliau tidak masuk hari ini." Jelas Neji pada Naruto dan kepada teman-temannya yang juga bertanya-tanya; kenapa Neji bisa berada di kelas XII-B sementara dia sendiri ada di kelas XII-D?
"Ya sudah, cepat beritahu! Apa tugasnya?" Ucap Naruto kesal. 'Mengganggu saja! Padahal sebentar lagi aku akan tahu!' Batinnya tidak terima.
"Aku sudah beritahu pada Shikamaru, nanti dia akan mengumumkannya." Neji menoleh menatap Hinata yang menundukkan kepalanya, wajahnya terlihat memerah karena tadi dia hampir dipeluk oleh makhluk berambut pirang yang suka seenaknya –menurut Neji. "Hinata, ayo ikut aku!" Perintahnya pada Hinata yang dibalas anggukkan pelan darinya.
Sepasang kakak dan adik sepupu itu meninggalkan kelas. Semua teman-temannya bertanya-tanya apa yang ingin mereka bicarakan.
"Huft… menyebalkan!" Desis Naruto menenggelamkan kepalanya dikedua tangannya yang ada di atas meja.
Lee mengangkat kepala Naruto yang sangat terpaksa pemuda berambut pirang itu mengangkatnya, lalu menatap Lee malas. "Apa kau sakit lagi Naruto?" Tanya Lee menempelkan telapak tangannya di dahi Naruto.
"Hei!" Naruto memandang aneh kepada Lee. "Lee, jangan melakukan hal seperti tadi, sangat menjijikan!" Ucapnya sambil menyingkirkan tangan Lee dengan kasar.
"Hiks, Naruto aku mencemaskanmu. Sepertinya kau sakit lagi Naruto. Kau harus banyak berolahraga sepertiku! Semangat masa mudaku membara, ayo Naruto kita lari keliling sekolah ini!" Ucap Lee yang sangat tidak nyambung, dia bersiap menarik tangan Naruto untuk mengajaknya lari mengelilingi sekolah yang terlampau luas itu. Matanya yang bulat terlihat berapi-api.
_Protection_
Terdengar bel tanda jam pelajaran sudah berakhir digantikan dengan jam istirahat makan siang. Semua murid bernafas lega menyadari mereka tidak lagi berkutat dengan pelajaran yang sangat membosankan.
Naruto memutuskan untuk ke kantin bersama Sasuke dan Sakura, mereka bertiga memang sering makan siang bersama pada jam istirahat, apalagi ini untuk pertama kalinya setelah Naruto keluar dari rumah sakit. Kemarin mereka tidak bisa makan bersama karena Sasuke dan Sakura ada urusan masing-masing.
"Hei, Naruto, kau kenapa? Tadi aku lihat kau terus saja cemberut. Dan juga kalau aku tidak salah lihat, dari tadi kau melirik Hinata terus." Ujar Sakura saat mereka sudah selesai makan.
"Uhuk," Naruto terbatuk-batuk mendengar kalimat terakhir yang dilontarkan sahabat kecilnya yang mempunyai rambut merah muda sebahu. "Ti-tidak, aku tidak apa-apa. Dan juga aku tidak melirik Hinata." Bantahnya.
"Kau semakin bodoh, Dobe." Ejek Sasuke yang berada di samping Sakura sedangkan Naruto sendiri sedang duduk di hadapan mereka.
"Enak saja kau, Teme!" Cetusnya memandang sengit pada Sasuke yang dibalas dengan tatapan tenang dan dinginnya.
"Jujur saja, akhir-akhir ini kau terlihat aneh sejak ada Hinata." Ucap Sakura setelah meminum orange juice-nya.
"Hn, Sakura benar."
"Eh? Apa iya?" Tanya Naruto menaikkan satu alisnya. Setahunya dirinya tidak terlihat aneh sama sekali. Atau… memang ada yang aneh?
"Jangan-jangan kau menyukainya seperti yang Ino katakan kemarin?" Tebak Sakura asal.
Deg.
Tiba-tiba saja Naruto merasakan jantungnya memompa dengan cepat. Dia mengeleng-gelengkan kepalanya berusaha untuk menormalkan kembali detak jantungnya. "Ti-tidak!" Bantahnya lagi dengan cepat. Pemuda berambut pirang itu terlihat diam, tidak mengucapkan sepatah kata lagi. Dia berpikir mengenai semua hal yag bersangkutan dengannya akhir-akhir ini.
Deg.
Naruto menghela nafasnya gugup, sepertinya jantungnya kembali berdetak tidak normal entah karena apa, tapi sepertinya akan ada sesuatu yang terjadi entah itu kapan.
"Sepertinya kau menyembunyikan sesuatu dari kami?" Tanya Sakura, sekarang dia terlihat cemas melihat temannya –yang sepertinya sedang mendapatkan masalah yang sulit untuk diceritakan.
"Hn?" Bahkan Sasuke juga ikut terlihat khawatir –walau raut diwajahnya terlihat sangat datar. Tapi, tetap saja bukan mana ada sahabat yang tidak khawatir melihat sahabatnya sendiri terlihat kesusahan?
Naruto tersenyum mendengar pertanyaan dari kedua sahabatnya itu, ada rasa hangat yang mengalir disekujur tubuhnya kala dia tahu bahwa sahabatnya sangat peduli padanya. "Yah… aku tidak apa-apa. Hontou ni arigatou! Aku senang sekali mendengarnya." Ucapnya. Senyuman yang menghiasi wajahnya semakin lebar menampilkan deretan giginya yang putih bersih. "Ah! Kalau begitu aku pergi dulu ya? Jaa." Naruto berdiri dari duduknya dan langsung pergi meninggalkan Sasuke dan Sakura yang menatapnya heran.
"Hn, mungkin dia akan menceritakannya dilain waktu." Ucap Sasuke memandang datar punggung Naruto yang semakin menjauh dari tempat mereka duduk.
"Sepertinya begitu." Sakura menoleh menatap Sasuke yang balas menatapnya. Senyum lembut hadir menghiasi wajah mereka.
_Protection_
Naruto POV
Hah.
Untuk kesekian kalinya aku menghela nafasku. Aku mengingat kejadian kemarin, sial sekali karena kemarin tidak bisa berbicara apa-apa pada Hinata karena semua teman yang sangat menyebalkan itu, padahal ada yang ingin aku ketahui dari Hinata.
Hari ini harus bisa! Semangat!
"Hah, tapi mana Hinata?" Gumamku pelan menegok ke arah kanan dan kiri.
Huh, padahal aku sudah sengaja datang pagi-pagi untuk menemuinya. Dan, sekarang apa yang kudapat?
Berdiri sendiri di depan pintu masuk kelas dan hanya berdiam diri!
Sudah begitu, sekolah juga masih sepi.
Aku menyandarkan punggungku pada dinding dekat pintu kelas.
"Sekarang aku menyesal mendengar kata Kiba –yang katanya; Hinata selalu datang pagi-pagi." Gumamku kesal.
Seharusnya aku tidak datang sepagi ini, bisa-bisa aku bertemu yang tidak-tidak. Kata Kiba, Hinata selalu datang pagi, tapi buktinya dia sama sekali belum datang!
Oh ayolah, aku sudah berdiri disini selama tiga puluh menit! Kenapa dia belum datang? Jangan-jangan aku dibohongi oleh Kiba. Ck.
Sepertinya aku mendengar sesuatu. Apa ya? Seperti suara seruling… ah, sudahlah abaikan saja mungkin ada yang berlatih musik.
"Huh, menyebalkan." Gumamku lagi sambil mengacak rambut pirangku.
"Hiks…"
Kenapa tiba-tiba aku jadi merinding seperti ini ya? Dan juga sepertinya aku merasakan hawa dingin di sini.
"Hiks…"
Glek.
Aku menelan ludahku, rasanya tenggorokanku jadi kering seperti ini. Aku menoleh ke segala arah. Jangan-jangan…
"Hahaha." Aku tertawa keras berusaha untuk mengisi keheningan yang tiba-tiba sangat menyeramkan ini!
"Hiks… Hiks…"
"Ka-kalau begitu aku akan pulang saja." Aku melangkahkan kakiku pergi meninggalkan tempat yang menyeramkan tadi –maksudku, depan kelasku.
Aku harus cepat-cepat meninggalkan tempat ini! Entah kenapa perasaanku jadi tidak enak. Segera aku langkahkan kakiku menjauh dari tempat ini, kalau bisa sejauhnya mungkin.
Tap.
Tunggu dulu. Rasanya ada yang aneh. hm, apa ya?
Tap.
Tunggu! Ini benar-benar aneh! Hanya perasaanku saja atau…
Tap.
Glek!
"Se-sepertinya, aku sudah berhenti berjalan, tapi…" Gumamku.
Tap.
Huwaa! Itu bukan suara langkahku. Aku harus cepat-cepat pergi. YA! CEPAT PERGI!
Eh? Kenapa aku masih berdiri di sini?
Aku menatap kakiku yang sekarang sudah gemetar. Kakiku! Kenapa disaat-saat seperti ini kakiku keram! Ini pasti karena dari tadi aku terus berdiri, oh Kami-sama!
End Naruto POV
Normal POV
Naruto menahan nafasnya, kakinya masih tidak bisa digerakkan. Dia memandang ke arah depannya dengan rasa takut yang kian membesar kala langkah kaki itu semakin mendekatinya. Tangannya yang mengepal erat bergetar karena ketakutannya. Peluh sudah membasahi kemeja putihnya.
"Siapa?" Tanya Naruto dengan suara yang kelewat pelan. Dia mencoba memberanikan diri untuk menghadapi situasi ini, tapi sepertinya itu hal yang sia-sia.
Tap.
Naruto mulai memejamkan matanya erat-erat, takut melihat apa yang akan muncul di depanya.
"Naruto-kun."
"Eh?" Naruto membuka matanya perlahan melihat sosok yang ada di depannya.
"Kau kenapa?" Tanya gadis berambut biru panjang lembut dengan mata ungu keabu-abuan.
"Eh, Hinata," Naruto tersenyum lebar melihat Hinata berdiri tidak jauh darinya. Naruto berlari –yang entah mengapa kakinya sudah bisa digerakkan. Dia menuju ke arah Hinata dengan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
"Hinata!" Seru Naruto girang, dia memeluk Hinata yang tubuhnya jauh lebih kecil darinya.
"Naruto-kun?"
"Aku senang sekali bertemu denganmu, Hi–…"
"Naruto-kun, kau kenapa?" Tanya Hinata mengangkat kedua alisnya bingung mendengar perkataan Naruto tidak dilanjutkannya.
"Kau," Naruto melepas pelukannya. "Kau siapa?"
Hinata menatap bingung Naruto. "Kau bicara apa, Naruto-kun?" Tangannya terulur menyentuh wajah tampan Naruto.
Dalam sekejab tubuh Naruto menegang. Keringat dingin mulai menyentuh lehernya.
"Naruto-kun?" Tangannya mengusap pipi bergaris milik Naruto.
Sett.
Naruto menepis tangan Hinata dan mundur dua langkah ke belakang. "K-kau siapa?" Tanya Naruto, terdengar jelas suaranya bergetar ketakutan.
Hinata menyeringai lebar, tangannya yang ditepis Naruto kini bertautan di belakang punggungnya. "Tentu saja, aku ini Hinata. Apa kau lupa padaku Naruto-kun?"
Naruto bergidik ngeri mendengar namanya disebutkan tadi. "Ini… bukan! Ini bukan Hinata!"
"Yah, ketahuan," Ujar gadis yang bertubuh Hinata itu. "Sayang sekali, padahal aku ingin bermain sebentar lagi." Sosok 'Hinata' semakin lama berubah menjadi seorang gadis berambut merah sepinggang yang kini menatap Naruto tajam.
"Kau siapa? Kenapa bisa menyerupai Hinata? Apa yang kau inginkan?" Tanya Naruto bertubi-tubi.
"Sabar. Pertanyaanmu itu terlalu banyak. Dan juga aku tidak akan semudah itu menjawabnya," Ujar gadis berambut merah sambil berkacak pinggang. "Tapi, karena aku ingin bermurah hati akan aku beritahu. Namaku Tayuya."
"Oi, aku tidak menanyakan namamu tahu! Yang aku tanyakan kau ini siapa?" Naruto menunjuk gadis yang bernama Tayuya itu dengan kesal.
"Heh, padahal aku sudah bermurah hati, cih."
"Kau belum menjawab pertanyaanku!" Ucap Naruto menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Dan juga, kenapa kau bisa menyerupai Hinata?"
"Hm, kau ingin tahu? Hm, aku tidak bisa mengatakannya tapi, karena sekarang aku sedang bermurah hati, yah… tidak apa-apa lah. Sebenarnya aku tidak bisa menyerupai sosok manusia lain. Tapi, aku menggunakan ini," Tayuya memperlihatkan seruling yang ada ditangan kanannya. "Kalau aku meniup seruling ini manusia yang mendengarnya akan terkena semacam ilusi."
"Ilusi? Aku tidak mengerti apa yang kau katakan!"
"Cih, banyak bicara! Manusia yang terkena ilusi ini akan mendapatkan ilusi tentang seseorang yang –mungkin– berarti baginya. Dan kalau manusia itu berhasil terperangkap ilusi itu, maka dari seruling ini, aku akan tahu semua data seseorang yang manusia dapatkan diilusi tersebut."
"Kau yang banyak bicara! Eh, jangan-jangan suara yang aku dengar tadi itu dari serulingmu. Sebenarnya apa yang kau inginkan?" Naruto kembali memundurkan langkahnya lagi.
"Ya, kau benar. Aku beruntung mendapatkan informasi tentang gadis bernama Hinata itu darimu. Haha, aku jadi tidak perlu bersusah payah. Sepertinya Orochimaru-sama akan senang dengan informasi baru ini." Tayuya melangkahkan kakinya ke depan menyamai langkah kaki Naruto yang bergerak mundur.
"Apa maksudmu? Apa kau mengenal Hinata? Dan siapa itu Orochimaru?" Naruto terus memundurkan langkahnya ke belakang.
"Maaf saja sepertinya aku sudah memberitahumu terlalu banyak, jadi aku tidak bisa berbicara apa-apa lagi. Karena, aku sudah mendapatkan informasi yang aku butuhkan dan juga sepertinya omonganku terlalu banyak, jadi sekarang aku akan melenyapkan saksi." Tayuya mengangkat serulingnya ke atas, kemudian bersiap-siap untuk meniupnya. Dan… sebuah alunan nada yang dikeluarkan terdengar indah dan damai. Tapi, tidak bagi Naruto. Pemuda berambut pirang itu terlihat kesakitan, dia menutup telingannya dengan kedua tangannya.
"Argh!" Naruto terjatuh ke lantai, kedua lututnya menjadi tumpuannya.
Tes.
Cairan merah kental keluar dari sudut bibirnya dan menetes jatuh ke lantai tempat mereka berpijak. Semakin lama, kesadarannya mulai menipis. Terakhir yang dia lihat, sesuatu seperti penghalang berwarna oranye terang menyelimutinya, dan setelah itu Naruto benar-benar kehilangan kesadarannya.
_Protection_
Gadis berambut biru panjang yang memakai seragam sekolah dengan kemeja putih yang melekat ditubuhnya, dasi kotak-kotak merah, dan rok di atas lutut bermotif kotak-kotak merah itu berhenti berjalan. Seorang anak kecil yang bergandengan tangan dengannya juga ikut berhenti berjalan.
"Ada apa, Onee-chan?" Mata berwarna merah pekat yang dimiliki anak itu melihat gadis di sampingnya dengan tatapan heran.
"Eh, tidak apa-apa. Ayo jalan." Ucap gadis itu lembut. Anak perempuan sekitar berumur lima tahun yang sedang digandengnya hanya mengangguk dan berjalan lagi.
'Apa kau baik-baik saja Naruto-kun?' Batin gadis itu sambil memejamkan kedua matanya.
_Protection_
Seorang pemuda berambut pirang terbangun, dia mengerjapkan matanya guna untuk memperjelas penglihatannya yang agak kabur.
"Dimana aku?" Gumamnya.
Setelah sudah memastikan bahwa penglihatannya mulai membaik, dia mengedarkan pandangannya.
Tiba-tiba tubuh pemuda itu menegang setelah melihat sekelilingnya. Kedua tangannya memeluk tubuhnya sendiri, dia meringkuk sambil memejamkan matanya erat-erat.
Jantungnya berdetak sangat kencang, peluh juga mulai membasahi tubuhnya.
"Ini…"
_Protection_
"Bagaimana?" Tanya seorang pria paruh baya berambut hitam panjang yang sedang duduk di kursinya.
"Tayuya berhasil mendapatkan info tentang gadis itu, dia sudah mengirimkannya. Tapi, sepertinya sekarang dia sedang melenyapkan saksi, Orochimaru-sama." Jawab pemuda berkacamata tanpa frame.
"Begitu ya… bagus juga. Kabuto, segera siapkan rencana berikutnya." Ujar Orochimaru menatap pemuda bernama Kabuto.
"Baik, Orochmaru-sama." Dalam sekejab tubuh Kabuto menghilang meninggalkan kepulan kabut tipis di sekitar tempat dia berdiri tadi.
"Sebentar lagi akan kudapatkan." Gumam Orochimaru menyeringai kejam.
Ular berwarna ungu yang berada di dekat Orochimaru berdesis, terlihat sekilas ular itu menyeringai seram.
To Be Continued
A/N : Haloooooooo~ apa kabar? Hehe, maaf ya luamaaaa buangettt... Huft, di dunia nyata aku menemukan masalah yang benar-benar menyebalkan -_-" rasanya seperti mau hilang dari muka bumi ini *lebay* Aduh, aku kayak orang dewasa aja sih... Sebenernya pingin aku update pas selesai UKK. Eh, malah nemuin masalah. Terus, malah keenakan liburan jadi lupaain nih fic. Wuahaha, tapi sekarang udah bebas dari masalahnya. Legaa~ Oke, stop buat curhatnya!
Waktunya bales review :
NHL-chan : Aduh, masih ada yang salah ya? Aku masih susah pas disitu. Haha, maaf yaa semoga gak ngeganggu pas lagi baca. Bakal aku perbaiki lagi sebisa mungkin, kalo ini masih gak? Makasih ya reviewnya^^. RnR lagi?
zoroutecchi : Gak papa kok telat yang penting udh ngereview, hehe. Iya, Hinata emang hebat! Yupz, ini supernatural. Eh? ketahuan ya klo itu Orochimaru *iyalah* Hm, mungkin nanti akan aku jelasin. Makasih udah review^^. RnR lagi?
OraRi HinaRa : He? ketahuan klo itu si Orochimaru? kok, ketahuan lagi sih? *emang mudah ketahuan* Um, soal Hinata itu siapa mungkin chapter depan bakal dikasih tau. Iya tuh... si Naruto pake gak sadar segala, padahal dalem hatinya sadar 100% tuh *dilempar pake sandal* Kalo gak dilepas nanti bisa berujung fitnah *halah* Makasih udah review^^. RnR lagi?
Miru : Romantis? apa iya? wahahaha aku seneng banget kamu berpendapat begitu. Haha, disini aku emang bikin MinaKushi super jail, kekeke~ liat aja nanti aku bakal nyiksa NaruHina, KEKEKE~ *ketawa ala Hiruma* #plakk. Oh iya, aku mau tanya selama beberapa chapter ini hubungan NaruHina feel-nya dapet gak? jawab ya... kok, kayaknya hubungan NaruHina biasa aja yaa? haduh, jadi bingung. Tapi, aku bakal berusaha supaya feel-nya kerasa. Makasih udah review^^. RnR lagi?
Kai : Makin misterius? wuahaha berarti aku bisa ya bikin genre mystery *geer banget* Aku jadi pingin buat yang mystery nihh... tapi, kayaknya susah *kok malah curhat* Maaf kalo lama banget *bungkuk-bungkuk* Makasih udah review^^. RnR lagi?
Lovely Orihime : Wah, makasih ya udah kasih tahu. Oh, ternyata kata 'dari tadi' itu dipisah ya? Yang ini masih ada typos gak? hehe, jujur aku agak bingung sama penempatan kata 'di'-nya, makasih yaa udah review^^. RnR lagi?
Nami Forsley : Hey, Hyuu-chan ganti penname yaa? Hehe, makasih udah review. RnR lagi?
Yayoo : Hai, salam kenal juga~ Hiiii, jangan panggil Senpai, aku masih newbie di sini. He? celem? haha, berarti aku bisa buat yang horror ataupun yang gore dong? *ke-geer-an lagi* eh, sebenernya aku benci sih sama yang horror ataupun yang pertumpahan darah. Tapi, aku jadi suka sama yang berdarah-berdarahan (?) Makasih udah review^^. RnR lagi?
Fiyui-chan : Ya ampun, banyak banget pertanyaannya. Hehe, sabar nanti bakal aku kasih tau, oke? Maksih udah review^^. RnR lagi?
La-chan : Nee-chan penglihatanmu keren! bisa jeli banget ya... Hehe, ini udah lebih baik belum? Makasih udah review^^. RnR lagi?
Namekaze Resta : Waduh, kenapa banyak banget sih yang tau kalo itu Orochimaru dan Kabuto? emang sebegitu mudahnya ya? *iyalah gampang* Jadi lebih mystery yah? duh, jadi makin pingin bikin fanfic mystery. Makasih udah review^^. RnR lagi?
Rurippe no Kimi : Banyak banget ya? yang tahu kalo itu Orochimaru sama Kabuto? Maaf gak bisa update kilat. Makasih udah review^^. RnR lagi?
Kudo Widya-chan Edogawa : Hai, salam kenal aku juga newbie di sini. Makasih udah review^^. RnR lagi?
Kanpeki NaHi : Iya, Hinata semacam pembarantas roh gitu, kalo Naruto liat aja yaa nanti, hehe. Eh? kayak Bleach ya? aku juga baru nyadar ini kayak Bleach. Gak kok ini gak kayak Bleach. Eh, kalo gak salah denger menyusutnya otak malah bikin kita tambah pinter, bener gak sih? aku bingung. Makasih udah review^^. RnR lagi?
Nafi-shinigami : Eh? masa sih? kamu punya kekuatan SUPRANATURAL! UWAHH, KERENN! boleh nanya? kekuatan macam apa itu? kali aja bisa jadi inspirasi XD Makasih udah review^^. RnR lagi?
Asashi : Makasih^^. Naruto sama Hinata gak tau dijodohin apa gak? Makasih udah review^^. RnR lagi?
Makasih buat yang udah RnR^^. Aku butuh banget nih sama concrit dari kalian. Kalo ada yang salah tolong bilang yah?
Hehe, ada yang mau review?
REVIEW OK !
.'.Ghifia Kuraudo.'.
