Author: "MAAF MINNA KARENA LAMA UPDATE CERITA GAJE NAN ANEH INI T_T BANYAK BANGET ULANGAN YANG HARUS DI SELESAIKAN!-_- DI TAMBAH TRY OUT, UJIAN SEKOLAH, DUA MINGGU LAGI ULANGAN NASIONAL! RARARARARARARARARARARARARA WAHAHAHAHHAHAHAH"
Miku: "Maaf ya audience, author udah kambuh gilanya." *Author mendelik ke arah Miku*
Luka: "MAKANNYA BELAJAR! DARI KEMARIN MAIN GAME MULU! AKU SITA!" *Luka nyeret sekarung game dan dvd milik author* *Author meluk kaki Luka*
Author: "JANGAAAAAAAAAAAAAANNNN~!" *Author dan Luka mulai berebut buku komik, game dan dvd*
Rin: "Maaf ya, readers atas kegilaan yang terjadi di awal cerita, padahal kan harusnya ini cerita yang menyedihkan." *Rin kena timpuk salah satu buku komik* "WOYYY JANGAN NIMPUK GGUUEEEE!" *Rin ikut berantem*
*n.b. Ada OC milik Author di chapter tiga ini;) laki-laki looh.*
*n.b.1. Cerita ini tidak ada Rin ;)*
Enjoy.
Vocaloid belongs to Yamaha.
But I own the plot.
.
WARNING: OOC, OC, GaJeNess, Alur ora' nyambung, Too much skip time, Typo anywhere—maybe—dan kalimat tidak sesuai EYD.
.
.
Don't like? Don't read! It's not too late to click 'back' button.
.
.
© Scarlett Swift 13
.
.
ENJOY.
Miku Pov.
Aku berlari kehalaman belakang sekolah sambil menangis. Semua orang yang berpapasan denganku—yang terlihat kebingungan melihatku menangis—aku lewati tanpa berkata apa-apa. Termasuk Len yang sedang duduk mengobrol bersama teman-temannya di tangga.
Sesampainya dihalaman belakang sekolah, aku merebahkan diriku ke rumput. Aku tidak perduli pakaianku kotor, toh siapa yang mau menegurku.
Tiba-tiba beberapa pikiran berkecamuk di kepalaku.
Apa-apaan ini! Luka kan sahabatku! Mengapa tiba-tiba dia membela Rin Kagamine yang abal, jelek, pembawa sial, caper dan lebay itu? ( pengalaman author dikatain begini) Dia kan ada dipihakku! Dan Mikuo, dia kan kakakku sendiri! Mengapa ia ikut-ikutan membela Rin? Mereka semua munafik! Pengkhianat! Aku tidak bisa percaya siapa-siapa lagi! Kendati aku menyukai Len… aku tetap tidak bisa mempercayainya karena dia adalah PACAR Rin!
Ya, dimana-mana aku adalah si jahat! Aku selalu dianggap yang jahat, padahal aku hanya ingin menggapai apa yang aku inginkan. Dan aku hanya ingin merebut apa yang sudah menjadi milik orang lain. Rin tidak pantas bersanding di samping Len, itu harusnya aku!
Tiba-tiba perutku berbunyi. Sial, aku lupa membawa kotak bekalku. Bekalku kan masih berada di dalam tas… aduh, bagaimana ini. Jika aku kembali kekelas, aku bisa disikat habis oleh Kaito dan Mikuo—yang membela Rin.
"Mikuuuuu~"
Bagus, sekarang aku sudah gila. Bayangkan! Aku mendengar bunyi dengungan dari dalam kepalaku sendiri, padahal aku sendirian!
"Hatssuuuuuuuuuuuunee~"
"Mikuuuu~"
Aku mulai sedikit merinding di sini.
"Baiklah, siapapun itu, usaha yang bagus untuk menakutiku!" Seruku. Namun tidak ada yang menjawab. "Hey, sebaiknya tampakan dirimu! Atau kau akan rasakan akibatnya nanti!" Ancamku. Tidak ada yang menjawab lagi. Aku bangkit dari tempat rebahanku lalu mulai mencari-cari sumber suara di antara semak-semak.
Aku mencari kebeberapa semak-semak, dan hasilnya nihil. Senyumku mengembang ketika melihat semak-semak di dekat pohon pinus yang jaraknya sekitar 1-2 meter dari tempatku bergerak.
"AHA! KENA KAU—" Senyumku pudar ketika melihat kelinci melompat keluar dari semak-semak tersebut. "Cih…"
Aku melihat sekeliling.
"Grr… Sial!" Aku menonjok pohon pinus yang berada di dekat semak-semak tadi. Loh, kok kulit pohon kayu ini terasa sangat halus? Beberapa detik setelah itu, aku dikejutkan oleh bunyi 'AAWWWWW' ( lebay-_-) dari dalam pohon pinus tersebut.
"Sakit!" Raung 'pohon' pinus itu.
Tu—Tunggu… A—Apa itu… DEWA? Ya ampun, aku telah menonjok 'seorang' dewa!
"Ma—Maafkan aku, Dewa yang termahsyur! Maafkan manusia yang penuh dosa ini!" Pintaku sambil bersujud di depan pohon pinus itu. "Saya tidak mengira pohon pinus abal ini adalah dewa!" Lanjutku sambil tetap bersujud.
"Dasar, sudah menonjokku, sekarang menganggapku seorang dewa! Anak ini… benar-benar tidak memperdulikan kelasnya sama sekali!" Gerutu pohon pinus itu. "Aku ini vocaloid macam kamu juga, tahu! Kita sekelas!" Aku tercengang. "Tolong bukakan resletingku dibagian belakang," Pintanya. Dengan sedikit enggan aku membukanya.
Laki-laki dengan mata biru muda dan kulit krem muda muncul dari balik kostum pohon pinus yang semula kukira adalah pohon pinus beneran. Selain matanya yang menawan, rambutnya yang berwarna hitam acak-acakan itu menambah kesan 'cool'. Ia tidak gendut, namun tidak ceking juga. Tingginya lebih 10 centi dariku.
"K—Kau siapa?" Tanyaku. Laki-laki itu mengeluh keras-keras.
"Aku ini Yoshi Matsuda. Yang aku tahu, Matsuda itu artinya sawah berpohon pinus… mungkin itu alasannya aku menyukai pohon pinus," Jelasnya.
"Aku tidak tanya tentang kau suka pohon pinus atau tidak." Kataku ketus.
Dia ini vocaloid yang tidak terkenal! Masa' vocaloid yang terkenal ke mancanegara ini berteman baik dengan vocaloid yang lebih abal dari si caper Rin Kagamine? Harga diri dan reputasiku dipertaruhkan sekarang.
Kruyuuuuuk. SIAL, Mengapa perutku berbunyi disaat yang tidak tepat begini?
Yoshi tersenyum kecil.
Tiba-tiba ada perasaan aneh yang muncul didalam diriku ini, sesuatu yang sudah lama tidak muncul sejak aku mengetahui Len berpacaran dengan Rin, sesuatu yang sudah lama hilang dari hidupku. Rasanya hangat. Rasa hangat itu tiba-tiba berubah menjadi rasa panas yang membuncah dari dalam diriku, Apa wajahku merah sekarang?
"Hei, kau demam? Wajahmu merah sekali." Yoshi mendekatkan wajahnya ke wajahku.
Aku benci untuk mengakui ini, tapi Yoshi mempunyai wajah yang manis dan tampan. Oh, apa yang telah kupikirkan? Author, tolong hapus kalimat memalukan ini!
"A—Aku tidak—tidak—"
"Ah, ya. Kau kan belum makan, tentu saja wajahmu merah kepanasan karena sengatan matahari." Yoshi mengepalkan tangannya lalu menepukkan tangannya yang terkepal itu ke tangan lain yang terbuka. "Aku bawa makanan… kau mau makan?" Tawar Yoshi. Yoshi mengeluarkan kotak bekal berwarna merah. Setelah dibuka, isinya adalah sushi.
"J—Jika kau memaksa… aku akan makan,"
Sambil makan sushi milik Yoshi, aku—secara diam-diam—memperhatikan gerak-gerik dan wajah Yoshi. Jujur saja, tidak pernah ada yang sebaik Yoshi kepadaku. Dimana-mana, Aku selalu dianggap orang jahat dan egois. Kecuali Yoshi. Yoshi yang pertama kali menganggap aku sebagai seorang diva terkenal dan tidak jahat. Dialah yang pertama. Dan dia juga bisa membuat 'suatu' rasa yang telah lama hilang kembali lagi.
"Maaf? Ada yang salah dari wajahku?" Tanya Yoshi membuyarkan lamunan Miku. "Apa jangan-jangan aku ini terlalu ganteng, ya? Sampai-sampai Miku si vocaloid 01 ini memperhatikanku terus," Gurau Yoshi. Wajahku pasti sekarang merah sekali.
"B—BODOH!" Seruku dan mengakibatkan gema.
-o0o-
"Hey, Luka. Apa kau dengar teriakan barusan?" Tanya Rin. Luka mengangkat bahunya. "Aneh, aku merasa mendengar teriakan Miku… ah, sudahlah. Siapa peduli." Gumam Rin.
-o0o-
Setelah hari itu, aku sering berkunjung ke halaman belakang sekolah, tanpa pengetahuan orang-orang. Aku tidak ingin ada yang tahu kunjunganku ke sini. Tanpa kecuali.
Berhari-hari kami makan bekal bersama di halaman belakang sekolah. Kami bercanda, bertukar pengalaman, berbicara serius, dan hal-hal menyenangkan lainnya. Aku senang berada bersama Yoshi. Dialah yang bisa mengerti diriku seutuhnya, melebihi ibuku sendiri. Aku seperti telah menemukan 'diri'ku yang berlawanan denganku, jadi kami bisa melengkapi satu sama lain. Aku egois, Yoshi pengalah. Kami cocok satu sama lain.
"Yoshi, aku ingin konsultasi denganmu." Nada bicaraku mulai serius. Yoshi menelan bakpaonya (bekal yang ia bawa) bulat-bulat, lalu menatapku lurus-lurus. "Sebenarnya aku punya masalah dengan Rin, Luka dan Len. Aku tidak bisa menjelaskanmu apa masalahnya, tapi intinya, aku sekarang bingung, harus minta maaf atau tidak. Jujur saja, aku ini terkenal sok berkuasa dan egois, jadi aku… begitulah." Jelasku. Yoshi mangut-mangut.
"Tidak usah minta maaf saja kalau begitu," Jawab Yoshi singkat dan tampak cuek. Aku melongo.
"Ehh?"
"Tidak usah minta maaf jika kau masih mau menjadi dirimu yang egois itu," Kata Yoshi lagi. Tangannya mengambil satu 'buah' sushi. "Tapi aku yakin, Miku yang sebenarnya pasti tidak egois. Orang-orang saja yang terlalu melebih-lebihkan…" Lanjut Yoshi. "Aku tidak percaya kabar burung! Sebaiknya kau minta maaf."
Aku tertunduk, menyembunyikan wajahku yang merah. "Terima kasih," Kataku pelan.
"Mengapa kau menunduk? Angkat wajahmu! Apa aku salah bicara?" Yoshi mengangkat daguku. "Demi Paman Leon dan Bibi Leona, mengapa kau menangis, Miku?" Dari nada bicaranya, tersirat rasa khawatir yang kuat.
"Aku kelilipan, tahu!"
-o0o-
Satu hari setelah itu.
Aku tetap tidak menuruti saran Yoshi. Aku tidak bisa melakukannya. Entah bagaimana dan entah mengapa, sesuatu dalam diriku seperti menolak untuk melakukannya, kendati hati nuraniku menjerit-jerit harus melakukannya. Aku tidak sekuat dan setegar Yoshi yang bisa selalu tersenyum. Aku ini hanya Hatsune Miku, yang terkenal akan keegoisannya. Itu saja.
Aku berjalan santai ke halaman belakang sambil menenteng keranjang bekalku. Kali ini aku membawa tiramishu buatan sendiri—memang bentuknya aneh dan kelihatan tidak bisa dimakan, tapi rasanya… masih normal dan masih bisa dimakan.
Sesampainya di halaman belakang, aku tidak menemukan Yoshi dimanapun. Tidak ada orang sama sekali disana—kecuali pohon-pohon dianggap orang.
Aku mencoba menonjok pohon pinus, namun hasilnya justru tanganku yang memerah.
"Hey, kau Hatsune Miku, kan?" Tanya seorang anak yang rambutnya dikepang dua berwarna merah. Wajahnya sangat mirip dengan Yoshi, tapi dia perempuan. "Yoshi masuk rumah sakit, dia tidak bisa datang makan bekal bersamamu." Ujar perempuan itu. Perempuan itu segera melangkah pergi.
"T—Tunggu! Dia dirawat dimana?" Tanyaku. Perempuan itu memutar tubuhnya sambil mendelik,
"D Hospital Athalonie." Jawabnya singkat dan cepat.
Aku membungkuk. "Terima kasih!" Aku mengangkat lagi badanku. "Ngomong-ngomong, kau siapa—" Lidahku kelu dan badanku lemas ketika perempuan itu dalam sekejap sudah tidak ada ditempat semulanya lagi.
-o0o-
"Meiko-sensei, saya izin pulang cepat, saya mohon." Pintaku. Meiko-sensei mengangkat sebelah alisnya. "Kumohon… ada hal penting… sahabat—maksud saya keluarga saya ada yang masuk rumah sakit, saya harus menjenguknya," Nadaku makin memelas.
"Baiklah, tapi kau dapat PR Fisika 5 soal di buku cetak halaman 120-121." Tegas Meiko-sensei. "Kau masih berani pulang cepat?" Aku mengangguk cepat.
Asalkan aku bisa bertemu dengan Yoshi, aku berani mengerjakan PR Fisika. "Tidak apa-apa, Meiko-sensei. Terima kasih, saya pergi dulu!" Aku mencium tangan Meiko-sensei layaknya seorang murid lalu berlari keluar kelas, meninggalkan Meiko-sensei yang masih terkejut karena aku mau mengerjakan PR Fisika demi keluargaku yang masuk rumah sakit.
Jujur saja, jika memang benar-benar salah satu keluargaku masuk rumah sakit—tidak peduli penyakitnya ganas atau biasa—aku lebih memilih berada disekolah. Namun, karena kali ini Yoshi yang sakit… aku harus.
Sesampainya didepan sekolah, aku baru teringat mau naik apa. "Sial…" Keluhku setengah berbisik. Mataku melihat sekeliling… dan tiba-tiba terfokus kepada motor biru milik Mikuo. Aku mendapat ide cemerlang, walaupun taruhannya seluruh isi celenganku.
Aku menulis di secarik kertas kecil, lalu menempelkannya tepat ditempat Mikuo memakirkan motornya. Kuharap dia akan mengerti.
-o0o-
"Maaf, mbak, apakah anda tahu dimana kamar pasien Yoshi Matsuda?" Tanyaku terburu-buru, dengan napas terengah-engah. Hampir saja tadi aku tertilang polisi, untung ada SIM Mikuo tertinggal di jok motor. Aku beralasan itu adalah aku saat masih berambut pendek.
"Yoshi Matsuda? Tunggu sebentar…" Mbak-mbak resepsionis itu tampak sedang mengetik sesuatu. "Maaf, anda siapanya Yoshi Matsuda, ya?" Tanya Mbak Resepsionis itu.
Gawat, aku harus mencari alasan!
"Aku? Errrr…. Aku ini… sepupunya. Aku mencat rambutku… masalah?" Aku balik bertanya dengan nada menantang. Mbak itu menaikkan sebelah alisnya tidak percaya, tapi aku tetap di izinkan masuk kedalam kamar Yoshi.
"Lantai 5, kamar nomor 513." Jawab Mbak Resepsionis itu.
Senyumku mengembang. Aku membungkuk berkali-kali, "Terima kasih, mbak! I LUPH YOUUU!" Seruku. Mbak itu hanya bisa melongo dan memasang wajah sedikit jijik. Tapi aku tidak peduli. Sekarang aku harus mencari kamar Yoshi.
Aku berlari kearah lift.
"Lantai… Lantai… Lantai 5…" Aku terengah-engah, lalu menekan tombol '5'. Lift mulai bergerak keatas. "Errrggghh, cepatlah… cepatlah…" Gumamku tidak sabaran.
Ketika pintu lift terbuka, aku segera berlari keluar lift. "Kamar berapa tadi? Sial! Kenapa aku lupa disaat penting begini!" Keluhku keras-keras. "Lima ratus berapa, ya…? Oh, ya! 513!" Jeritku kegirangan. Aku mulai berjalan di lorong yang sepi dan sempit itu.
"510… 511… 512… 513! Ini dia!" Aku menjerit lagi.
Aku memencet bel. Jantungku berdetak sangat kencang, tidak sabar bertemu dengan Yoshi.
Begitu pintu dibukakan, aku segera tersenyum kepada ibu-ibu setengah baya yang matanya tampak sembap. "Yoshi aku—" Kata-kataku terputus. Yoshi terbaring sambil menutup mata di ranjang. "Dia—Dia—"
"Kamu temannya Yoshi, ya?" Tanya Ibu setengah baya itu. "Saya ibunya, Naoki Matsuda. Yoshi banyak bercerita tentang Hatsune Miku sejak ia masih berumur 4 tahun, saat dia masih menjadi manusia." Jelas Ibu Yoshi.
"Tunggu—apa itu berarti…?"
"Ya. Yoshi benar-benar terobsesi menjadi seorang vocaloid sepertimu… dia meminta professor-professor di perusahaan penelitian robot Crypton untuk mengubahnya menjadi seorang vocaloid. Awalnya salah satu professor di sana menolak karena setelah dicek kesehatannya, Yoshi menderita kanker ganas. Tapi Yoshi tetap bersikeras…" Ibu Yoshi mulai terisak. "Ia menghabiskan hari-harinya—Hiks—di SMP Crypton—hiks—untuk menemuimu—hiks—tapi tidak kesampaian—hiksss—bahkan, ia tidak memperdulikan berita bahwa engkau adalah si ratu egois—hiks" Tangis Ibu Yoshi makin menjadi-jadi.
Jadi… selama ini…?
"Huwaaa—hiks—sekarang dia koma—" Tangisnya. "Saya keluar dulu." Matanya berlinangan air mata.
Aku sangat syok. Jadi… selama ini dia… memperhatikanku? Menganggapku special? Menganggapku tidak jahat?
Kupikir selama ini aku akan selamanya berperan menjadi si jahat, akan selalu di kucilkan. Semua orang takut padaku, kecuali Rin Kagamine si sampah. Aku jadi dengki padanya, aku membalaskan dendamku. Bahkan aku hampir sampai membunuhnya.
Aku menggenggam tangan Yoshi. "Bangunlah. Aku tidak bisa hidup tanpamu, Yoshi. Tidak ada yang bisa menggantikanmu." Bisikku.
Aku memang seorang egois, aku memang seorang yang jahat! Aku tidak tahu apa yang kumiliki… sampai aku kehilangannya. Selama ini aku mempunyai Yoshi—yang tidak kusadari—dan aku mempunyai teman, Luka dan Rin. Aku senang berteman dengan mereka. Tapi aku tidak suka melihat Rin tidak tunduk padaku. Rin itu tidak bisa apa-apa! Suaranya cempreng, badannya pendek, tidak begitu pintar, tapi mengapa ia bisa bahagia dan bisa mendapatkan Len? Sedangkan aku tidak?
Lalu aku kehilangan Rin. Lalu Luka. Kaito. Mikuo. Dan kepercayaan semua orang. Aku sudah kehilangan semuanya,. Jangan rebut apa yang tersisa dariku—Yoshi.
Dialah satu-satunya rasa hangat di hatiku.
Aku mempererat genggaman tanganku. "Yoshi, lihat saja. Aku akan meminta maaf kepada mereka, sesuai saranmu di hari terakhir kita bertemu. Aku bersumpah, aku akan minta maaf." Aku menatap wajah Yoshi lekat-lekat. "Tapi janjilah untuk bangun dan sembuh…"
Air mataku berjatuhan.
-o0o-
Normal Pov.
Satu hari setelah kejadian itu.
Miku berdiri tegak di depan Rin, Luka, Kaito dan Mikuo. "Maaf… bisa bicara?"
.
.
.
Dialah orang pertama yang melelehkan hati beku sang diva, Hatsune Miku. Dialah Yoshi Matsuda.
.
.
.
© Scarlett Swift 13
.
.
.
Author: AKHIRNYA CHAP. 3 BERAKHIR! MARI BERPESTA!
Harry: "Halah, bikin Fic ini sampai tiga jam lebih. Fic-ku GAK dilanjutin! Author emang kejam!" —Harry mulai menggenggam tongkat eldernya—
Miku: "Ini khusus pov-ku, ya? Iyay! Tapi kenapa aku kayaknya malang banget di sini… =3="
Rin, Luka, Kaito, Mikuo: "KAMI CUMA KEBAGIAN SEDIKIT?"
Hermione: *datang, nubruk Rin, Luka, Kaito dan Mikuo* "GARA-GARA LO BELUM LANJUTIN FIC HARRY POTTER BUATAN LO YANG SERAMPANGAN DAN JELEK ITU, GUE SAMA RON DAN HARRY TERJEBAK DI DUNIA MUGGLE YANG KOTOR DAN BIKIN SESAK NAPAS ITU! TANGGUNG JAWAB, GAK?"
Ron: "Ayo beib, biarin aja…"
Hermione: "IDIH NAJISSSS" *Hermione salah gaul*
Author: "Sampai jumpa di chapter berikutnyaaaa~ mungkin bakal di lanjutin beberapa minggu/bulan lagi…"
(ngomong-ngomong, gimana caranya balas repiu, sih?) ( penting!)
12
