Hujan deras di sore hari memang favorit Jihoon. Biasanya dia akan di sofa kamar, menyesap cokelat panas, sambil membaca novel. Atau berbaring sambil menonton televisi.

Tetapi untuk kali ini tidak. Berdiri sendirian di depan ruko yang tertutup rapat bukan pilihan tepat. Di seberangnya ada kafe yang nampaknya bakal nyaman untuk disinggahi sampai hujan reda. Namun bagaimana caranya untuk kesana?

Ia mengerang. Ia benar-benar sendiri di depan ruko kosong. Hanya menggendong ransel cokelat yang isinya buku dan alat tulis. Tidak ada jas hujan, payung, atau apapun yang dapat melindungi tubuhnya. Ada sih, topi milik Lee Soojung, kakaknya yang juga 'sangat tinggi' sepertinya, yang tertinggal di saku depan ranselnya; sekadar melindungi kepalanya. Tetapi dia tidak ingin kena marah kakaknya yang bisa jadi sangat galak sewaktu-waktu.

Jihoon rasanya lemas, ia coba cari cara agar bisa berteduh di tempat yang sangat lebih nyaman di banding sekarang. Sepatunya basah, jeansnya juga setengah basah. Ia rasa bakal banjir setelah ini.

Dan bakal dimarahi dua wanita serta satu pria di rumahnya.

Jihoon mundur, bersandar pada pintu yang dikunci, lalu berpikir. Payung, coret. Jaket, coret. Jas hujan, coret. Topi merah muda milik Soojung, jelas coret yang banyak. Tas..., tidak, dia hanya ada satu dan tidak mau bukunya kebasahan. Ponsel..., ya, benar, masih ada ponsel untuk minta jemput ayahnya.

Lalu setelah dapat ide itu, dia mencari ponselnya. Dia menemukannya di saku celananya.

Sayang sekali Lee Jihoon sedang sial hari ini, ponselnya kehabisan baterai dan artinya dia tidak bisa menghubungi ayahnya, dan siapa pun yang ada di kontaknya.

Tidak! Ini tidak boleh terjadi! Siapa pun katakan ini hanya mimpi burukku!

Jihoon tak hentinya membatin, berdoa, dan berharap ini cuma mimpi buruk. Kalaupun ini nyata berikan keajaiban. Keajaiban seperti apa ya? Mungkin seseorang berhati baik memberinya payung, atau tiba-tiba ayahnya datang dengan mobil sedan hitamnya, atau Soojung menjemputnya dengan motor putih kesayangannya.

Aduh, masih saja Jihoon berharap lebih. Ayahnya pasti pulang tengah malam lagi –ini ketujuh kalinya kalau memang iya–, kakaknya juga masih di kantor, dan biasanya ibunya sedang memasak tidak mungkin meninggalkannya begitu saja. Lagipula pikiran mereka, Jihoon naik bus dan turun di halte yang tepat di depan rumah.

Kenapa tadi tidak naik bus saja? Sekarang justru menyesal, karena di tempatnya sekarang sama sekali tidak ada halte.

Dan Jihoon baru saja sadar kalau ini masih setengah empat. Mereka tidak akan tahu kalau Jihoon bakal sudah pulang. Ini mendadak, Jihoon sendiri juga baru tahu tadi kalau lesnya bakal berakhir sembilan puluh menit lebih awal.

Jihoon mulai menyumpahi hari ini dengan kata-kata paling tidak senonoh yang dia tahu.

Maka pilihan terakhir Jihoon mungkin bakal basah-basahan sampai rumah, kalau saja seorang pria yang membawa payung hitam menatapnya dengan iba, layaknya menatap anak kucing yang kehilangan induknya.

Astaga, apa sebegitu kasihannya Jihoon?

Mungkin saja iya, karena seseorang yang mengaku namanya Jeon Wonwoo menawarinya untuk berbagi payung.

Jihoon awalnya ragu, bahkan sangat ragu. Tetapi orang tadi langsung tersenyum sangat lebar dan berkata, "Om ini orang baik, dik. Kalau kamu merasa tidak aman dan Om apa-apakan kamu, kamu teriak saja. Ok?"

Apa katanya tadi? Om? Paman? Jadi, berapa umur pria tadi?

Baiklah, Jihoon percaya saja.

Wonwoo itu kalau kata Jihoon wajahnya sangar. Tetapi sepertinya wajahnya yang sangar itu berbeda dengan sifatnya.

Dan memang benar ternyata. Wonwoo itu banyak omong dan seing keceplosan. Itu cukup mengingatkannya pada sepupunya yang di Jepang. Tetapi sepupunya lebih baik, karena hanya keceplosan bicara saja. Kalau kata Jihoon, yang dilakukan Wonwoo itu termasuk keceplosan. Wonwoo menggenggam tangannya sangat erat, lalu di masukkan ke dalam saku jaket Wonwoo. Ya ampun, Jihoon memanas.

"Aku belum yakin kalau kamu sudah delapan belas, ya ampun kita hanya beda empat bulan! Kamu lebih cocok sembilan tahun karena kamu imut sekaaaaliii~ Kamu tahu tidak? Aku ini suka anak kecil dan karena kukira kamu anak kecil makanya aku menawarimu berbagi payung. Kamu sekolah di mana? Siapa tahu kita satu sekolah tetapi belum pernah bertemu. Oh ya, aku tadi bilang kalau aku suka anak kecil, walaupun kamu bukan anak kecil, aku tetap suka kamu loh. Kamu itu manis sekali, aku suka! Kamu mau tidak jadi pacarku? Terima ya? Oh ya aku boleh minta kontakmu tidak? Punya apa saja? Facebook? Twitter? Instagram? Line? Kakao? Punya snapchat tidak? Kamu hobi apa? Suka olahraga apa? Suka voli tidak? Berenang? Makanan favoritmu apa? Mungkin saja kamu suka wisata kuliner, ajak aku ke tempat makanan yang enak!"

Sampai mereka tidak sadar kalau dia baru saja melewati rumah Jihoon. Tunggu, melewati rumah Jihoon?

Jihoon mendadak berhenti, membuat tubuhnya agak basah karena Wonwoo kelewatan. Wonwoo menengok pada Jihoon yang wajahnya jadi sangar sekarang. Wonwoo jadi takut, bisa ya, si manis Jihoon jadi garang?

"Sebenarnya kamu itu baik, saking baiknya kamu mengantarku sampai melewati rumahku."

Wonwoo mengatakan kalau dia tidak tahu rumah Jihoon yang mana dan itu salah Jihoon tidak memperhatikan jalan. Jihoon menyangkal bahwa dia sedang mendengarkan ocehan Wonwoo yang tidak ada habisnya.

"Aku bingung, kamu ini cerewet sekali. Aku bicara banyak saja mulutku berbusa."

Menjijikan. Tetapi memang begitu. Entah takdir atau apa. Jihoon tipikal orang yang tidak bisa banyak bicara.

Oke, jadi, mereka berbalik arah. Wonwoo bertanya yang mana rumah Jihoon, lalu berkata kalau dia ingin bertemu orang tua Jihoon.

"Memang kenapa?" Jihoon sekarang merasakan aura-aura aneh mengelilinginya, firasatnya buruk. Mereka baru saja kenal, wajar Jihoon menatap curiga pada Wonwoo yang tersenyum mesum.

"Segera minta izin menikahimu."

Kan. Perkiraan tentang hal buruk Jihoon tidak pernah meleset. Niatnya Jihoon ingin mendorong Wonwoo, tetapi ide tersebut cukup gila. Karena tadi mereka sempat berebut siapa yang akan membawa payung dan berakhir dengan Wonwoo pemenangnya, alasannya karena payung itu milik Wonwoo. Maka, jika dia mendorong si tinggi, dia akan basah. Percuma saja diantar Wonwoo.

"Jangan katakana yang aneh-aneh kalau kamu ingin mampir kemari."

Mereka sudah di depan pintu. Dan di waktu yang tepat Soojung membuka pintu.

"Kak, kok sudah pulang?"

"Ji, kok sudah pulang?"

Ya begitulah, mereka sama kagetnya. Jihoon yang kaget karena biasanya kakaknya baru pulang jam tujuh dan Soojung yang kaget karena biasanya les Jihoon berakhir pukul lima.

"Oh, Ji, ini siapa? Tampannyaaa~"

Jihoon bilang kalau Wonwoo itu orang asing, akhirnya dia kena cubitan di lengan dari Soojung dan wajah Wonwoo jadi masam.

"Kenapa kamu biarkan dia masuk kalau dia orang asing? Bagaimana jika dia ingin mencuri? Atau menculik kakak?"

"Maaf, kakaknya Jihoon, aku sama sekali tidak punya niat menculik kakak. Niatku menculik adikmu, hehehe."

Yang ada Jihoon ingin memukul keduanya. Kakaknya dan Wonwoo terlalu percaya diri. Lalu setelahnya bakal memukul mereka lebih keras lagi karena Jihoon rasa Soojung tahu apa maksud Wonwoo tadi.

"Baiklah, kapan pelaksanaannya?"

Jihoon tidak pernah salah ketika mengatai kakaknya; sesuai faktanya. Kakaknya kurang waras, doyan berondong, kejam pada Jihoon, dan hal buruk lain yang Jihoon tahu.

Wonwoo lebih gila lagi karena sepertinya menganggap serius ucapan Soojung yang tidak ada seriusnya sama sekali. Tidak tahu itu memang wajah Wonwoo yang datar atau pertanda serius, Jihoon anggap sih bukan main-main karena nada Wonwoo kedengarannya serius.

"Kalau orang tua Jihoon bersedia maka mulai hari ini Jihoon jadi milikku."

Jihoon benar kalau dia merasa terjebak diantara orang gila. Soojung menjawab kalau dia mewakili orang tuanya dan dia bilang ya. Soojung lalu menghubungi ayahnya dan memanggil ibunya yang tidur sangat nyenyak.

"Ibu sih oke-oke saja, Ji."

Saat itu Soojung baru saja menelpon ayahnya dan kata Soojung ayahnya bilang ya. Soojung tertawa puas saat itu juga.

Jihoon tentunya terkejut, mereka seolah merencanakan ini. Kalau memang iya, Jihoon berjanji akan membuat kakaknya makin pendek, jadi kerdil. Jihoon mengatakannya barusan.

"Hus, tidak boleh gitu. Nanti kena karma loh!" Soojung dengan tawanya yang sangat puas membuat Jihoon makin curiga.

Lalu dia bertanya pada ibunya, rencana apa yang sedang dibuat. Ibunya terang-terangan menjelaskan semuanya lalu Soojung menghentakkan kakinya. Kata Soojung itu tidak masuk skenario.

Skenario?

Iya, karena ibunya berkata kalau menjodohkan Jihoon itu sulit sekali. Jadi mereka sedikit bersandiwara supaya Jihoon tidak sadar dengan apa yang direncanakan. Mereka tentu sangat bersyukur karena hujan turun dan Jihoon kehabisan baterai ponsel. Juga karena Jihoon tidak membawa payung, dan sedang berteduh di tempat yang tidak nyaman.

"Aku Cuma disuruh menjemputmu. Dan sumpah, aku berlatih sepanjang hari untuk bicara sepanjang tadi. Tapi untuk mencintaimu aku rasa tidak terpaksa, hehe."

"Jadi sepertinya Tuhan juga merestuinya. Semua berjalan sesuai rencana. Rencana yang kata Jihoon agak licik.

"Kak, tadi aku sudah janji bakal buat kamu makin kerdil ya."

Note:

[1] Aku sebelumnya ngga berpikir endingnya kaya gini, hehe.

[2] Aku kekurangan ide, baru dapat ide saat mudik, lalu menulisnya lewat hp. Baru aja di salin(?)

[3] Khusus buat venessa ((hehe, anggap aja ini jawaban dari notemu ness)) kamu nagih terus ya, maaf. Ini baru yang namanya mengecewakan.

[4] Adik-adikku rusuh. Mereka minta dibuatin roti isi, lalu saat aku buatkan mereka main laptopku dan ff ini amburadul gara-gara mereka. Pokoknya kalau ada typo jangan salahkan aku, salahkan mereka /ndak

[5] Lee Soojung aku yakin dia tidak seperti itu, dia pemalu ;-; tapi aku selalu ingat waktu di lovely house (kalo gasalah) waktu dia ngumpet sampai belasan menit sampai sujeong datang dan teriakan sujeong itu super sekali. Juga waktu kepeleset dan ditertawakan duo maknae. Dan duo maknae itu tinggi-tinggi, jadi soul kelihatan kerdil.

[6] ada yang udah liat UDF? Seulgi paling favorit. Mijoo akhirnya nunjukin kemampuan dancenya yang jarang dipamerin(?). Mina cantik sekali. Yoo A kalau kataku imut tapi berpotensi jadi seksi hehe:V aku tidak tahu banyak soal Euijin dan Eunjin, kukira mereka kembar.

KOK MALAH FANGIRLING-_-

oh iya mau bilang lupa terus, kayaknya aku ga pernah respon review ya? jahat banget ya?

:v

aku respon pake ekspresi dan aku selalu senyum senyum sendiri, sumpah:v makanya review terus ya:v