Preview~

Luhan tersenyum lagi. "Nanti setelah kau berhasil aku akan berkunjung ke Korea. Sehun, jaga kesehatanmu baik-baik disana, jangan lupa beristirahat, jangan lupa makan, baik-baiklah disana karena aku akan selalu menunggumu disini." Ucap Luhan lirih. Sehun merasa Luhan sedang menahan tangisnya dan itu membuat hatinya menjadi sakit. "Maaf tidak bisa melayanimu dengan baik."

"Tidak Lu, kau sudah melakukan yang terbaik. Kau juga baik-baik disana, jaga kesehatan, jangan lupa makan dan banyak istirahat. Kau kembalilah tidur, aku akan menutup telponnya."

"Ne, selamat malam Sehun. Mimpi yang indah."

"Selamat malam sayang, kau juga mimpi yang indah."

Sehun mengakhiri panggilan itu dengan ucapan selamat malam dari masing-masingnya. Tanpa sadar satu tetes air mata mengalir di pipinya. "Maafkan aku, Lu".


.

=O=

.

Dua bulan sudah sejak Kyungsoo melihat perselingkuhan yang dilakukan Kris di bar pada malam itu. Ternyata kehidupannya masih baik-baik saja. Dia masih bisa tidur dengan nyenyak, bisa makan hingga kenyang, bisa jalan-jalan dengan Baekyun, masih melakukan aktivitas seperti biasanya tanpa air mata dan kesedihan, sangat berbeda dengan perkiraan yang dia pikirkan saat itu. Ternyata perpisahannya dengan Kris tidak memberi dampak yang terlalu buruk untuknya, meski air mata perpisahan itu sempat jatuh pada awalnya.

Sudah lima bulan juga Sehun tinggal di Korea untuk menyelesaikan skripsinya. Tugas besar itu berjalan dengan lancar, Sehun bisa mengerjakannya dengan baik dan tinggal beberapa persen untuk menyelesaikannya. Semuanya baik-baik saja dan semakin intens untuk hubungan antara Sehun dan Kyungsoo. Tanpa sadar ciuman yang mereka lakukan pada malam itu membuka langkah pertama pada perasaan masing-masing.

Keduanya semakin dekat, entah karena sekarang Kyungsoo berstatus sendiri atau memang keduanya merasakan nyaman saat sedang bersama, yang jelas Sehun sering mengajak Kyungsoo jalan berdua tanpa Baekhyun. Tanpa sepengetahuan sepupu cantiknya itu. Mereka sudah dalam taraf mengirim pesan dengan isi yang saling perhatian dan romantis meski status keduanya masing dilabeli dengan sebutan "teman".

Baekhyun dan Kyungsoo benar-benar bersahabat dengan baik, tidak ada rahasia di antara mereka, tapi kali ini saat Kyungsoo sedang dekat dengan Sehun gadis itu seakan segan untuk menceritakannya pada Baekhyun. Bukan berniat menyembunyikan hanya saja tanpa sadar Kyungsoo sudah menutupi kedekatannya dengan sepupu Baekhyun itu. Saat laki-laki dengan warna rambut pirang itu mengajaknya kencan, Kyungsoo tidak pernah menceritakannya pada Baekhyun. Meski tidak ada keharusan, tapi Kyungsoo belum pernah melakukan ini sebelumnya. Bahkan saat dulu Kris mendekatinya, Kyungsoo akan menceritakan segalanya sampai hal terkecil yang telah mereka -Kris dan Kyungsoo- lakukan. Memang tidak ada niatan untuk menutupi ini dari Baekhyun, semua ini berjalan dengan sendirinya dan Kyungsoo harap semoga Baekhyun memang tidak tahu akan kedekatannya dengan Sehun. Entah karena alasan apa.


Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam saat Baekhyun keluar kamar menuju dapur untuk mengambil minum. Tapi mendengar suara tv yang menyala membuatnya berbelok. Tidak biasanya ayah dan ibu masih terjaga sampai semalam ini, lagi pula di kamar orang tuanya sudah disediakan televisi sendiri. Lalu siapa itu?

"Kau masih disini?!" Baekhyun melihat Sehun sedang menyandarkan kepala pada sandaran sofa, di atas meja ia melihat topless makanan ringan serta segelas minuman yang Baekhyun tudak tahu apa itu.

"Oh, kau belum tidur?" Sehun menoleh sebentar untuk melihat Baekhyun. Menyadari raut aneh di wajah Baekhyun, ia menepuk tempat kosong di sebelahnya. "Kenapa belum tidur? Ada masalah dengan Richardmu, hmm?" tanya Sehun menggoda, memainkan nada pada nama asing yang selalu Baekhyun banggakan.

Entah sadar atau tidak, Baekhyun berjalan dengan gesture kesal dan menuruti Sehun untuk duduk di sebelah kirinya. "Kenapa tidak pulang?" nada suaranya pun terdengar dingin.

"Sudah malam. Bukannya menyuruh nenginap, kau malah mengusirku?" Sehun bertanya dengan nada kecewa -pura pura kecewa. Melihat Baekhyun yang tidak berniat menjawab dan tidak terpengaruh dengan godaannya, Sehun menyimpulkan bahwa gadis di depannya ini memang sedang kesal. "Imo memaksaku menginap lagi. Jadi, apa boleh buat" ucapnya menggedikkan bahu dan kembali menonton tv.

"Aku sedang kesal asal kau tahu!"

"Kenapa?" Sehun bertanya tanpa melihat. "Richardmu tidak menjawab video call, atau kalian bertengkar, apa jangan-jangan dia selingkuh?"

"YACK!" sungut Baekhyun tidak terima. "Ini tidak ada masalahnya dengan Richard, kami baik-baik saja dan dia tidak selingkuh. Jangan asal bicara Oh Sehun!"

"Lalu kenapa wajahmu seperti itu?"

"Aku sedang kesal... dengan Kyungsoo." Baekhyun melirik reaksi Sehun yang langsung menatapnya.

"Kenapa?"

"Dia berbohong padaku tadi. Saat aku mengajaknya makan siang, dia bilang ada tugas yang harus diselesaikan sampai aku harus mengajak Minseok eonni agar tidak sendirian. Tapi saat aku pergi, aku melihat Kyungsoo sedang makan di tempat yang sama—" Baekhyun sengaja menjeda kalimatnya, ingin melihat ekspresi Sehun yang sedikit mulai berubah. "—dan kau tahu dia sedang bersama siapa? Laki-laki!"

Baekhyun menunjukkan wajah tidak sukanya membuat Sehun merasa bersalah. Menunggu Baekhyun kembali berbicara, tapi tidak terdengar apa-apa lagi, akhirnya Sehun mengungkapkan permintaan maafnya. "Maaf. Aku mohon jangan marah pada Kyungsoo".

Baekhyun menaikkan sebelah alisnya, memaksa Sehun untuk menjelaskan lebih. Seharusnya Sehun sadar, Baekhyun dan Kyungsoo sudah bersahabat lumayan lama dan seharusnya dia juga tahu bahwa tidak selamanya sesuatu bisa disembunyikan. Sehun menyadari bahwa dirinya telah ketahuan.

"Aku yang telah meminta Kyungsoo untuk menemaniku makan saat itu. Jangan marah pada Kyungsoo karena aku yang memintanya." Sehun menunduk, merasa bersalah karena ketahuan.

"Apa hari-hari sebelumnya juga karena kau?" Sehun mengangguk lemah. "Oh Sehun! Bukankah aku sudah pernah bilang perhatikan kedekatanmu dengan Kyungsoo, aku sudah memperingatimu untuk tidak menyakitinya. Kau mengabaikanku?" tanpa sadar Baekhyun meninggikan suaranya. Semoga ayah dan ibu sudah tidur dan tidak akan mendengar. "Sebenarnya apa maksudmu dengan mendekati Kyungsoo, huh? Demi Tuhan! Kau seorang suami yang sedang ditunggu istrimu di China. Kau tidak bisa melakukan ini, Sehun!"

Sehun mengangkat wajahnya, menatap amarah yang terpancar dari manik hitam Baekhyun. "Aku tahu. Tapi aku tidak bisa mengendalikannya, aku merasa nyaman saat bersama Kyungsoo. Kau tahu bahkan aku sudah tertarik dengannya saat pertama kali kami bertemu." Sehun mencoba membela diri.

"Itu tidak bisa dijadikan alasan!" Baekhyun membenarkan posisi duduknya yang tiba-tiba menjadi tidak nyaman. "Kau tidak bisa melakukan ini pada Luhan, dia sangat mencintaimu bila kau tidak lupa."

"Tapi kau juga tahu alasan dibalik aku menikahinya. Aku masih sangat muda dan itu terenggut karena aku harus menyandang kata 'suami' untuk diriku. Kebebasanku hilang setelah pernikahan itu, Baek!" Sehun emosi hingga lupa bahwa Baekhyun adalah kakaknya.

"Tapi kau sudah setuju untuk menikah dengan Luhan saat itu. Kau! Dengan sangat sadar menyetujui untuk menikah dengan Luhan, jadi sekarang bertanggung jawablah!" Baekhyun menunjuk Sehun dengan telunjuknya.

Sehun sadar bahwa apa yang dilakukannya saat ini memang salah, dia mendekati Kyungsoo disaat dirinya sudah beristri tapi dia juga tidak bisa menolak pesona yang ditawarkan Kyungsoo padanya. Sehun mengakui bahwa Kyungsoo memang cantik, sangat cantik dan dia tidak bisa menolak untuk mendekatinya meski statusnya seorang suami.

Alasan Sehun untuk menyelesaikan kuliahnya dengan cepat adalah karena status yang disandangnya sekarang. Dia harus cepat wisuda agar bisa mengelola perusahaan keluarga Luhan yang saat itu mengalami krisis. Dia juga tidak bisa menyalahkan siapa pun atas pernikahannya dengan Luhan. Tidak pada Luhan, pada ayah dan ibu, tidak juga pada perusahaan ayah Luhan yang saat itu hampir jatuh. Dia dengan suka rela menikahi Luhan agar gadis itu tidak dinikahkan oleh laki-laki tua brengsek yang memanfaatkan kebangkrutan perusaan ayah Luhan.


Luhan merupakan senior Sehun di kampus mereka. Sehun sangat mengagumi Luhan, selain gadis itu sangat cantik juga karena kepribadiannya yang begitu baik. Mereka berteman cukup dekat hingga Luhan berani menceritakan masalahnya pada Sehun. Melihat air mata yang turun dari mata rusa Luhan, entah keberanian dari mana Sehun dengan lantang mengajaknya menikah.

"Menikahlah denganku, Lu. Aku berjanji tidak akan membiarkan siapa pun untuk menyakiti gadis sebaik dirimu."

Dengan sangat yakin Sehun menggenggam kedua tangan Luhan. Menghapus air mata yang melewati pipi tirus Luhan dengan sayang. Saat itu Sehun merasakan seluruh tubuhnya menghangat, meski tatapan Luhan membulat karena terkejut dan Sehun merasa senang saat Luhan mengangguk dengan perlahan setelah jeda panjang diantara mereka. Ia tahu ini merupakan keputusan sulit bagi Luhan, memilih antara perusahaan yang telah dibangun susah payah oleh keluarga atau mengikhlaskan kebahagiaanya untuk menikah dengan laki-laki yang lebih cocok menjadi ayahnya. Sehun memeluk Luhan dengan erat, ia berjanji pada dirinya bahwa akan selalu melindungi dan menyayangi Luhan untuk kedepannya.

Bantuan yang diberikan ayah Sehun menyelamatkan perusahaan ayah Luhan serta gadis cantik itu. Karena status Sehun yang masih mahasiswa membuat Sehun dan Luhan harus tinggal di rumah orang tua Luhan sampai Sehun wisuda dan dapat hidup sendiri nantinya dengan Luhan.

Itulah alasan kenapa Sehun harus serius kuliah agar cepat lulus dan bisa mengambil alih perusahaan ayah Luhan untuk dikelola olehnya sendiri.


"Aku tidak tau apa kau juga menyuruh Kyungsoo untuk berbohong, tapi aku rasa dia memiliki alasan karena tidak menceritakan apapun padaku. Sebelum semuanya terlambat, kau harus mengatakan yang sebenarnya pada Kyungsoo. Kalau tidak bisa, aku yang akan melakukannya." Baekhyun memecah keheningan yang menyelimuti mereka.

"Tidak. Jangan melakukannya!" Sahut Sehun cepat. "Aku yang sudah memulainya dan aku yang akan mengakhirinya. Aku akan mengatakan yang sebenarnya pada Kyungsoo. Biar aku yang melakukannya." Sehun memandang Baekhyun dengan tatapan memohon. "Bersikap biasalah padanya, jangan mengatakan apapun. Aku mohon."

Baekhyun menghela napas, dia hanya bisa menuruti keinginan Sehun. "Kau laki-laki yang baik. Tidak mungkin hanya sebatas menolong yang membuatmu bersedia menikah dengan Luhan. Aku ingin kau mengingatnya kembali." Baekhyun mengelus sisi kiri wajah Sehun dengan lembut. "Sudah malam, tidurlah. Aku percaya padamu." Baekhyun tersenyum sebelum meninggalkan Sehun sendiri, melupakan keinginan awalnya untuk mengambil minum. "Oh ya Sehun!" Sehun menoleh kebelakang "Mulai sekarang, jangan mengajak Kyungsoo secara diam-diam lagi. Entah bagaimana aku selalu mengetahuinya."

.


.

Setelah nasehat Baekhyun, Sehun memutuskan untuk masuk ke kamar. Bersandar pada kepala ranjang dan mengambil ponselnya. Mengetik beberapa angka dan menempelkan pada telinga, menunggu hingga panggilannya tersambung.

"Ni hao?" suara merdu itu terdengar lagi. Tidak terdengar serak meski sudah larut malam.

"Hai sayang, kau belum tidur?"

"Sehun? Kau begadang lagi? Kau bisa menelponku besok, istirahatlah. Jaga kesehatanmu, kau bisa sakit nanti." Terdengar omelan dari seberang membuat Sehun tersenyum karenanya.

"Aku baru saja selesai mengerjakan tugas dan tiba-tiba ingin mendengar suaramu. Kenapa belum tidur Lu? Tidak biasanya." Entah sudah keberapa kalinya Sehun berbohong pada Luhan Selama ia tinggal di Seoul. Padahal sejak tadi ia sama sekali tidak memegang tumpukan kertas apapun.

"Tidak tahu, tiba-tiba saja tadi aku tidak bisa tidur lalu aku memaksa untuk tertidur sebelum kau menelponku."Suara Luhan terdengar merajuk, Sehun jadi ingin melihat wajahnya pasti lucu sekali.

"Ah, maafkan aku."

"Tidak, tidak apa-apa. Bagaimana tugasmu?"

"Baik, semuanya berjalan lancar. Tinggal sedikit lagi akan selesai dan aku akan kembali ke China. Kau tunggu aku ya?" Tiba-tiba Sehun sangat bersemangat saat Luhan menanyakan tugasnya dan ia tidak menyadari bahwa ia telah memberi harapan baru untuk Luhan.

"Benarkah? Ah, syukurlah kalau begitu. Aku selalu berdoa agar semua pekerjaanmu bisa berjalan dengan lancar. Kau pasti lelah, sekarang tidurlah jangan begadang lagi."

"Iya, kau juga segera tidurlah. Semoga suaraku bisa menjadi lagu pengantar tidurmu. Aku mencintaimu Luhan."

Hening sesaat sebelum Luhan menjawab kata cinta Sehun dengan suara gugup.

-'Aku mencintaimu Luhan.' Alasan yang dulu Sehun gunakan untuk meminta ijin menikahi Luhan. Sampai sekarang pun dia harus menjaga ucapannya untuk Luhan.

.


.

Kyungsoo sedang memberenggut lucu di depan Baekhyun, pasalnya gadis itu hanya bercerita tentang laki-laki bernama Richard dengan sangat bersemangat tanpa mau menunjukkan gambarnya. Kyungsoo sangat penasaran pada laki-laki yang sudah bisa membuat sahabat baiknya ini sampai tergila-gila seperti ini, tapi sayang Baekhyun masih enggan menunjukkannya.

"Ayolah Baek, kau bilang tidak ada rahasia diantara kita. Tapi, apa ini? Kau bahkan menyembunyikan kekasihmu dariku?"

"Dia bukan kekasihku, Soo. Kami hanya teman dekat, tidak lebih." Jawab Baekhyun malu-malu.

"Lihat! Kau bahkan sudah merona hanya dengan membicarakannya saja, kau masih tidak mau mengaku? Ya! Kau jahat sekali padaku. Ayo tunjukkan Baek, kau bilang dia tampan seperti Tom Cruise. Mana coba aku lihat," Kyungsoo mengguncang lengan Baekhyun yang berada di atas meja yang berseberangan dengannya, tapi gadis itu malah tertawa melihat ekspresi Kyungsoo yang penasaran. Ugh, lucu sekali.

Baekhyun masih asik tertawa dan wajah menggemaskan Kyungsoo yang masih kesal saar sebuah suara menghentikan mereka.

"Permisi.."

Keduanya menoleh. Baik Kyungsoo maupun Baekhyun terkejut melihat wanita yang berdiri di antara meja mereka. Kyungsoo jelas sekali mengenal wanita ini, Baekhyun apalagi dia sempat dua kali berpapasan dengan wanita berambut merah ini saat sedang berbelanja dengan Sehun meski tidak langsung berkenalan.

Kyungsoo menunjukkan ekspresi kaget juga bingung, beda sekali dengan Baekhyun yang seakan sudah bersiap dengan samurai ditangannya untuk menyerang wanita ini. Wanita ini berdiri dengan canggung diantara mereka. Pakaiannya terlihat sedikit tebal, entah Kyungsoo dan Baekhyun yang salah lihat atau memang perut wanita itu sedikit buncit.

"Kyungsoo-ssi, apa kau ada waktu sebentar?" suaranya terdengar sangat pelan. Tangan kanannya terus berada diperut, seakan menjaga sesuatu yang ada di dalamnya. Tatapannya tepat mengarah pada Kyungsoo tanpa memperhatikan Baekhyun.

Baekhyun tiba-tiba berdiri dari duduknya, ia merasa dia harus mengambil ancang-ancang untuk menghadapi wanita ini. Kedua tangannya sudah berada di kedua sisi pinggangnya, dengan tatapan yang sangat tidak bersahabat gadis ini menyahut.

"Ya! Kau selingkuhan Kris kan? Kau yang saat itu jalan berdua dengan Kris saat di mall kan? Kau wanita penggoda yang sudah merusak hubungan sahabatku, mau apa kemari huh?!" maki Baekhyun dengan emosi yang membara. Dia bahkan sudah memundurkan kursinya ke belakang disaat Kyungsoo masih sibuk dengan keterkejutannya dan tidak tahu harus bereaksi apa, tapi Baekhyun sudah sangat berapi-api.

"Kyungsoo-ssi, apa kita bisa bicara berdua?" pertanyaan wanita itu menyadarkan Kyungsoo yang tetap pada posisinya. Mengabaikan omelan Baekhyun yang jelas-jelas menunjukkan ketidaksukaan atas kedatangannya.

Kyungsoo bingung, kenapa tiba-tiba wanita yang saat itu sedang bersama —mantan kekasihnya sekarang ingin mengajaknya berbicara. Ia memandang Baekhyun yang juga memandangnya, meminta pendapat.

"Heh! Apa kau tidak puas sudah menyakiti Kyungsoo, sekarang berani-beraninya menemui Kyungsoo. Apa kau ingin mati?!"

"Aku mohon Kyungsoo-ssi, hanya sebentar saja." Sekali lagi mengabaikan omelan Baekhyun, membuat gadis dengan mata sipit itu geram bukan main.

Kyungsoo memperhatikan tangan wanita itu yang masih saja memegang perutnya. Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi Kyungsoo yakin bahwa sesuatu telah terjadi dan dia harus melakukan sesuatu untuk menolong wanita ini. Beberapa kesimpulan hinggap di pikirannya, tapi semoga saja bukan itu kenyataannya.

"Apa kau sudah gila?! Kau wanita jalang—"

"Baek..." Kyungsoo memperingati sahabatnya. Baekhyun masih kesal tapi ia menurut dan akhirnya menutup mulut.

Setelah berdebat kecil dengan Baekhyun untuk mengijinkannya pergi, akhirnya Kyungsoo mengajak wanita berambut merah ini ke cafe dekat kampus. Meninggalkan Baekhyun yang memang tidak boleh ikut. Disinilah mereka, sedang duduk di tengah-tengah cafe dengan dua gelas minuman hangat tersaji di atas meja.

Kyungsoo berdeham sebelum membuka percakapan, karena setelah mereka sudah berdua wanita ini malah hanya diam. "Apa yang ingin kau bicarakan denganku?"

"Ah, terima kasih sebelumnya karena telah menerima ajakanku. Karena pertemuan pertama kita tidak begitu baik, aku akan memperkenalkan diri terlebih dahulu. Aku Zitao dan aku..." ucapan wanita itu menggantung.

Kyungsoo mengernyit, wanita itu terlihat bingung untuk melanjutkan kalimat. "Kekasih Kris?" Tanpa sadar pertanyaan itu terucap dari bibirnya. Kyungsoo melihat wanita itu langsung tertunduk lesu.

Tao tidak menyangka bahwa Kyungsoo lebih memilih kata kekasih daripada selingkuhan seperti yang temannya katakan. Ia tahu Kyungsoo gadis yang baik, Kris juga mengatakan demikian. "Maaf atas hubunganmu dengan Kris, aku tidak bermaksud untuk membuatmu terluka. Aku benar-benar minta maaf."

"Sudahlah, semuanya sudah berlalu. Tidak perlu dibahas lagi, kalau kau menemuiku untuk meminta maaf aku sudah memaafkan. Kau lihat, aku baik-baik saja." Kyungsoo tersenyum.

Tao meletakkan tangan kanannya di atas meja, sedangkan tangan kiri mengelus perutnya. "Aku juga ingin meminta bantuanmu." Kyungsoo melihat pergerakan wanita dihadapannya, Tao sering memegang dan mengusap perutnya. "Aku ingin kau menemui Kris dan jelaskan padanya bahwa kau sudah memaafkannya."

Kyungsoo mengernyit, "Kenapa aku harus?"

"Aku...sedang mengandung anaknya, tapi dia tidak mau menikahiku sebelum mendapat restu darimu setidaknya ia yakin bahwa kau sudah benar-benar memaafkannya."

Meski Kyungsoo sudah bisa menerka, tapi tetap saja ia kaget mendengar bahwa wanita ini benar-benar hamil anak Kris. Bagaimana pun juga, dulu Kris adalah kekasihnya. Laki-laki yang pernah ia cintai, dan sekarang tiba-tiba ada seorang wanita yang menemuinya dan mengatakan bahwa ia sedang hamil anak Kris dan meminta restunya untuk menikah dengan Kris. What the—? Meskipun sekarang Kyungsoo sudah move on, tapi tetap saja yang namanya wanita, Kyungsoo masih merasa sakit hati. Bagaimana pun juga karena gadis inilah hubungannya dengan Kris harus berakhir.

Kyungsoo tersenyum meremehkan, karena rasa tidak percaya yang begitu tinggi. Ia merasa sedang dibodohi sekarang. "Tunggu sebentar! Aku memang memaafkan kesalahan kalian. Tapi, kau datang tiba-tiba dengan perut besar dan mengaku itu anak Kris lalu menyuruhku agar Kris menikahimu begitu?" Kyungsoo hampir tertawa karena merasa situasi ini sedikit konyol.

"Kris merasa sangat bersalah padamu. Dia tidak mau menikahiku sebelum benar-benar mendapat maaf darimu." Tao menjelaskan dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.

"Dan menurutmu apa aku peduli?" Entah kenapa Kyungsoo berkata ketus. Tiba-tiba ia merasa marah mendengar alasan Kris tidak mau menikahi wanita yang sudah mengandung anaknya. Apa urusannya dengan bayi yang sedang dikandung Tao. "Maaf, tapi sepertinya kau salah mengiraku. Jika tidak ada yang ingin kau katakan lagi, aku akan pergi—"

Kyungsoo sudah akan berdiri sebelum suara Tao menghentikan. "Aku tahu kau orang yang baik. Kris juga tahu kau gadis yang sangat baik, dia tidak akan merasa sangat bersalah bila kau bukan seperti itu. Sebenarnya dia sangat menghormatimu. Sampai sekarang dia masih mencari cara untuk meminta maaf langsung padamu." Tao sudah meneteskan air matanya dan Kyungsoo merasa sudah menjadi orang jahat, sangat berkebalikan dengan penuturan wanita asal China ini. "Dan aku tidak bisa membiarkan anak ini lahir tanpa ayah."

Kyungsoo luluh, dia kembali duduk dengan tenang dan menghela napas. "Sudah berapa lama? Berapa lama usia kandunganmu?"

"Empat bulan."

Deg!

Itu berarti hubungan Kris dan Tao memang sudah terjalin sebelum malam di bar itu. Satu kenyataan lagi yang menyakiti hati Kyungsoo. Dia ingin masa bodoh, sudah tidak ingin berurusan lagi dengan Kris. Forgiven, but not forgotten! Tapi ada nasib seorang malaikat kecil yang tidak berdosa ada di tangannya, itulah yang harus Kyungsoo perjuangkan.

"Kau... sudah berapa lama hubunganmu dengan Kris?" Kyungsoo tidak tahu arti tatapan Tao, wanita itu memandangnya dengan berbeda.

Tao menurunkan tangan kanannya dari meja, meletakkannya diatas paha disamping tangan yang lain. "Sebenarnya, aku dan Kris...kami adalah sepasang kekasih sejak SMA sebelum Kris pergi ke Seoul untuk melanjutkan sekolahnya."

Apa?!

"Apa katamu?" suara Kyungsoo memang datar begitu pun dengan wajahnya, tapi tidak memungkiri bahwa ia terkejut dengan penjelasan wanita ini.

"Saat itu kami masih baik-baik saja sebelum Kris lulus dan diharuskan untuk kuliah di Korea oleh keluarganya, meninggalkanku yang saat itu masih harus menyelesaikan sekolah. Kami tidak ingin berpisah, tapi juga tidak ada yang bisa kami lakukan untuk mencegahnya." Tao berhenti sejenak, melihat Kyungsoo yang masih diam mendengarkan. "Hingga akhirnya Kris tetap pergi dengan ketidakjelasan hubungan kami. Satu-dua tahun kami masih berkomunikasi, tapi Kris bukan tipe yang bisa bertahan dengan hubungan jarak jauh lalu pada suatu hari aku tidak bisa menghubunginya. Kami putus komunikasi."

"Jadi makaudmu, saat itu kalian belum resmi berpisah?" Tao mengangguk. Jadi sekarang, Kyungsoo lah yang sebenarnya berstatus sebagai selingkuhan Kris?! Hell, yeah...

"Aku nekat menyusulnya kesini karena aku sangat mencintainya, hingga aku mengetahui bahwa ia sudah memiliki kekasih lain disini dan gadis itu adalah kau." Tao memandang Kyungsoo penuh rasa bersalah, ia tidak tahu bahwa Kris akan memiliki kekasih lain di Korea dan sayangnya gadis itu adalah Kyungsoo. Gadis yang baik di matanya, setidaknya saat Kyungsoo menangkap ia dan Kris di bar saat itu Kyungsoo tidak melemparkan minuman atau menjambak rambutnya. "Aku... benar-benar minta maaf padamu, tapi aku sungguh sangat mencintai Kris dan bayi yang ada di dalam perutku."

Kyungsoo menghembuskan napas yang tanpa sadar sudah ditahannya. Sebagai seorang wanita tentu saja merelakan seseorang yang dicintai akan sangat sulit bahkan mustahil. Sebagai seorang —calon ibu sudah pasti akan berusaha memberikan yang terbaik. Apa yang dilakukan Tao memang seharusnya dan sudah benar. Kyungsoo akan melakukan hal yang sama bila berada di posisi Tao.

Gadis bermata bulat ini tersenyum sebelum membuka mulutnya. "Kau jagalah bayi kalian baik-baik, aku akan menemui Kris dan menyuruhnya untuk menikahimu secepatnya."

Tidak ada yang lebih membahagiakan untuk Tao saat ini. Selain cantik Kyungsoo benar-benar baik, tidak salah Kris menyebut gadis ini seperti malaikat. Tao berdoa semoga Kyungsoo akan mendapat laki-laki yang benar-benar mencintainya dan bertanggung jawab.

Ia tersenyum, tidak bisa lagi mengekspresikan kegembiraannya dengan cara apa. "Terima kasih Kyungsoo eonni."

.


.

Baekhyun memukul meja. "Apa kau sudah gila?! Bagaimana bisa kau menuruti permintaan wanita itu. Aku akan ingatkan sesuatu. Dialah yang telah merusak hubungamu dengan Kris, Soo. Demi Tuhan! Sekarang kau berniat membantunya?!"

"Posisikulah yang sebagai perusak Baek, tidak ada kata pisah diantara mereka. Lagipula, aku tidak bisa membiarkan anak itu lahir tanpa ayah kan?" wajah Kyungsoo berubah murung. "Aku harus melakukan ini, aku akan baik-baik saja. Aku berjanji!" Kyungsoo memberikan cengirannya agar Baekhyun percaya.

Sekali lagi, Baekhyun hanya bisa pasrah pada Kyungsoo selain baik hati sahabatnya juga sangat keras kepala. "Kau yakin akan menemui Kris? Perlu aku temani?"

"Tidak, terima kasih. Aku akan—"

"Siapa yang akan menemui Kris, eoh?" tiba-tiba Sehun sudah mengagetkan dari belakang Kyungsoo. Laki-laki blonde itu melipat tangan di depan dada, wajahnya terlampau datar untuk laki-laki seusianya. Sehun melepas kacamata hitam yang menambah ketampanannya. Menatap Kyungsoo yang sempat terpana. "Apa masih belum puas atas penkhianatan Kris, kau mau lagi?" tanyanya sinis.

"Aku menemuinya bukan karena aku ingin, tapi aku harus melakukannya."

Akhirnya, Baekhyun menarik baju Sehun untuk duduk dan laki-laki itu memilih duduk disebelah Kyungsoo. Dengan senang hati Baekhyun menceritakan apa yang baru saja terjadi pada Kyungsoo dari kedatangan Tao sampai keputusan Kyungsoo untuk kembali menemui Kris.

"Kalau begitu aku akan menemanimu untuk menemuinya— aku tidak menerima penolakan, Soo." putus Sehun final sekaligus memotong ucapan Kyungsoo yang bahkan belum keluar.

Bukan hanya gadis itu yang terkejut tapi juga Baekhyun. Ia menatap Sehun dengan rasa tidak percaya dan juga tidak suka. Tidak ingatkah laki-laki ini tentang percakapan mereka dimalam sebelumnya.

"Aku akan tetap mengikutimu meskipun kau akan melarangnya!"

Dan itu adalah kalimat terakhir Sehun sebelum kedua gadis bersahabat ini bisa membuka kembali mulutnya.

Akhirnya Kyungsoo hanya bisa diam dan mengiyakan ajakan Sehun yang akan menjemputnya di rumah. Mereka akan berangkat dari rumah Kyungsoo malam ini setelah Kyungsoo menelpon Kris dan mengajaknya bertemu.

Dan Baekhyun? Gadis itu sekali lagi hanya bisa menghela napas pasrah.

.


.

"Bisakah kau menjauh sedikit?" Kyungsoo menoleh persis ke samping kanan dimana Sehun berada dengan jarak yang sangat dekat padanya.

"Kenapa?"

"Tidakkah kau merasa seperti pengawalku, Sehun? Lagi pula jarak kita terlalu dekat." Kyungsoo coba menjauh, tapi Sehun kembali mengikutinya sehingga jarak mereka tidak ada yang berubah.

"Sekarang aku memang sedang menjadi pengawalmu, lagi pula aku suka bau tubuhmu, Soo." Sehun berbisik hingga hampir menyentuh telinga Kyungsoo, membuat gadis itu berjengkit kaget.

Kyungsoo mendadak memerah. Apa-apan itu katanya?! Dasar tidak waras. Kyungsoo menghela napas karena tiba-tiba ia merasa malu, juga berdebar. Kemudian ia melihat Kris yang sudah duduk di kejauhan, sendirian. Ia tersenyum, mempercepat langkahnya.

"Hai, Kris. Maaf aku terlambat."

Kris menoleh dan tersenyum. "Hai, Kyung-soo." Ia mengernyit melihat sosok lain disamping mantannya. "Oh, hai Sehun." Kris mengangkat sebelah tangannya, memberi salam. "Silahkan duduk, aku juga baru datang beberapa menit yang lalu."

Kyungsoo tersenyum, mengambil duduk tepat di depan kursi Kris, sedangkan Sehun memindahkan kursi disisi lain meja untuk diletakkan persis disamping Kyungsoo. Gadis itu hanya memutar bola mata, sedikit tidak enak dengan sikap Sehun yang menurutnya sedikit berlebihan.

"Aku ingin mengatakan bahwa aku—" Kyungsoo beberapa kali menatap antara Kris dan Sehun, seharusnya ini hanya pembicaraan antara dirinya dan Kris dan kehadiran Sehun sedikit membuatnya tidak nyaman. "Tidak bisakah kau sedikit menjauh? Aku perlu berbicara berdua dengan Kris."

"Aku akan menjagamu, jadi aku harus selalu di dekatmu."

"Tapi aku tidak nyaman, Sehun."

"Kau ingin aku pergi?" Sehun bertanya denga nada terkejutnya.

"Eoh," Dan Kyungsoo menjawab singkat.

Sehun menghela napas, terpaksa menurut daripada membuat ini terlalu lama dan berbelit. "Baiklah, aku akan mengambil meja yang lain, tapi kau harus berjanji tidak akan goyah."

"Arraseo."

"Dan kau—!" Pandangannya menoleh pada Kris, jarinya mengarah, tepat menunjuk wajah blasteran laki-laki di depannya. "—jangan pernah berpikir melakukan sesuatu pada Kyungsoo. Jangan macam-macam. Aku akan selalu mengawasi kalian!" Sehun mendapati Kris hanya tertawa mendengar ancamannya. "Berhati-hatilah!" Sekali lagi menekankan bahwa dia tidak akan main-main dengan ancamannya.

Kyungsoo menunggu hingga Sehun mendapatkan kursi lain di dalam ruangan tersebut, dan ia sangat terkesan bahwa meja yang Sehun pilih hanya terpaut satu nomor dari mejanya. Ia berdecak, "Apa itu ada bedanya?"

"Ia begitu lucu." Kris berkomentar. Kyungsoo juga mendengar kalau laki-laki itu juga terkekeh.

Kyungsoo menoleh sekilas, "Menurutmu begitu?" Ia melihat Kris mengangguk, lalu ia kembali menoleh pada Sehun, mendapati laki-laki albino itu hanya menatap kearah dirinya dan Kris tanpa melakukan apa-apa. "Tidakkah ia sangat menyebalkan sekarang?" Kyungsoo membalik tubuhnya, benar-benar mengabaikan Sehun dengan segala kelakuan menyebalkannya. "Tapi, tidakkah seharusnya kau marah padanya?" Kris menatap Kyungsoo bingung. "Dari terakhir pertemuan kalian, wajahmu babak belur karenanya." Kyungsoo berkata tidak enak.

Saat itu Kris berniat meminta maaf padanya, tapi sebelum semuanya terjadi Sehun sudah membabi buta memukul Kris karena melihat Kris berani menemuinya. Setelah kejadian itu Kris tidak lagi pernah menemuinya lagi, nomor Kris di ponsel Kyungsoo juga sudah diblokir oleh Sehun.

"Tidak apa-apa, kau lihat sendiri sekarang wajahku sudah baik-baik saja."

"Aku benar-benar menyesal soal itu. Aku meminta maaf atas nama Sehun." Kyungsoo menunjukkan wajah sedihnya, ia benar-benar merasa bersalah pada Kris. Tidak seharusnya Sehun memukul Kris hingga membuat wajah tampannya menjadi mengerikan.

Kris tersenyum. "Sudahlah, tidak apa-apa. Lagipula yang dia lakukan hanya ingin melindungimu. Lalu, ada apa kau memintaku bertemu sekarang? Jujur saja ini sedikit mengejutkan karena Sehun mengijinkanmu."

"Karena kau tidak bisa menemuiku karena Sehun, jadi aku meminta agar aku yang menemuimu dan syaratnya dia harus ikut." Kyungsoo tersenyum. "Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku sudah memaafkanmu, Kris."

"Benarkah?"

"Dari hatiku yang paling dalam aku menerima permintaan maafmu waktu itu." Kyungsoo mencoba tertawa dengan pilihan kalimatnya yang sedikit hiperbola, mencoba tidak menjadikan suasana tegang dengan topik mereka. "Karena sekarang aku memafkanmu, kau harus berjanji akan melakukan apa yang memang seharusnya kau lakukan."

"Kau...mengetahuinya?" Entah darimana Kris mengerti arah kalimat Kyungsoo, meski gadis itu sama sekali tidak menjelaskan apa-apa.

Kyungsoo mengangguk. "Aku tidak tahu kau akan marah atau tidak saat mengetahui ini, tapi Tao sudah menemuiku dan apa yang dilakukannya adalah hal yang wajar. Aku sangat mengerti posisi Tao sekarang. Aku tulus memaafkanmu, Kris." Kyungsoo berniat memegang tangan Kris yang di atas meja, tapi untuk beberapa alasan dia mengurungkannya. Alhasil, kedua tangannya hanya berdiam diri di atas meja juga. "Mungkin Tao bisa menunggumu untuk mendapatkan maafku, tapi bayi kalian tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Perut Tao akan terus membesar. Jadi, nikahilah dia secepatnya."

Kris sangat senang, tiba-tiba dia menarik tangan Kyungsoo dan menggegamnya, mengabaikan raut kaget dari wajah chubbynya. " Aku pasti akan menikahinya. Terima kasih banyak Kyungsoo, kau memang gadis yang baik. Kau akan datang ke pernikahan kami kan?" Tanya Kris antusias. Astaga! Bila memang ia dan Kyungsoo tidak menjadi sepasang kekasih, ia ingin Kyungsoo menjadi adiknya. Kris tidak rela kehilangan seseorang sebaik dan selembut Kyungsoo.

"Kau akan mengundangku?" Goda Kyungsoo.

"Tentu saja!" Balas Kris mantap.

"Baiklah, aku pasti akan datang."


Disebalah meja mereka Sehun benar-benar mengawasi mantan kekasih tersebut dengan ketat. Bahkan ia mengabaikan pelayan yang beberapa kali menawarinya minum. Pantatnya sudah gatal ingin menyusul dan menarik Kyungsoo dari hadapan Kris.

Mereka terlihat baik-baik saja.

Mereka terlihat akrab.

Mereka terlihat bahagia.

Dan sehun tidak suka.

Saat melihat Kris menggegam tangan Kyungsoo, disitulah kesabaran seorang Oh Sehun meledak. Ia berdiri dan berjalan dengan cepat menuju meja mereka hanya dengan beberapa langkah dan langsung menarik tangan kanan Kyungsoo dari tangan Kris, membuat keduanya kaget.

"Kau! Aku sudah memperingatimu untuk tidak macam-macam dengan Kyungsoo kan? Kau cari mati, huh?!"

"Oh Sehun!" Kyungsoo memekik pelan, mencoba tidak menarik perhatian pengunjung cafe yang lain.

"Dan Kyungsoo, waktumu sudah habis. Kau sudah memaafkannya kan, jadi tidak ada yang perlu kalian bicarakan lagi. Sekarang kita pergi!" Sehun menarik tangan Kyungsoo dengan kasar keluar cafe, meninggalkan Kris yang malah tersenyum melihat tingkah lakunya.


Kyungsoo tertawa dengan geli, setelah bertemu dengan Kris tadi Sehun mengajaknya makan karena mereka memang belum makan malam. Bahkan ia meminta Kyungsoo untuk memilih tempat makan mereka dan berakhir di restaurant dengan style western dengan nuansa sedikit romantis. Tapi yang aneh, Sehun seakan marah padanya. Alhasil, acara makan malam mereka sepenuhnya diselimuti keheningan. Mereka masuk ke dalam, pesan menu, makan, dan setelah itu pulang. Sama sekali tidak ada obrolan. Kyungsoo yang sudah tidak tahan akhirnya menanyakan sikap Sehun dan hasilnya ia jadi tertawa sejak tadi karena mendengar jawaban Sehun.

"Aku tidak suka saat Kris memegang tanganmu, dan aku lebih tidak suka saat kau hanya diam saja. Kalian terlihat akrab dan bahagia. Kau bilang tidak akan goyah, apa kau membohongiku?"

Kyungsoo masih tertawa meski Sehun sudah menyuruhnya diam. Ia sangat malu setelah mendengar penjelasan Kyungsoo tadi. Ia merasa sangat konyol dan ingin menenggelamkan diri di Sungai Han setelah mengantarkan Kyungsoo sampai rumah.

"Kau tidak akan berhenti? Kau benar-benar ingin mengejekku ya?" Sehun menoleh sekilas karena ia masih harus fokus dengan jalanan.

Kyungsoo mencoba meredam tawanya meski sulit. "Maaf, maaf. Maafkan aku, jadi kau benar-benar marah tadi?" Sekarang ia sudah sepenuhnya berhenti tertawa dan melihat Sehun yang sedang menyetir. "Kris hanya berterima kasih karena sekarang dia bisa menikah dengan kekasihnya dan menjaga Tao serta anak mereka. Lagi pula tidak mungkin aku kembali pada Kris dan membohongi calon ibu seperti Tao."

Kyungsoo sudah bisa melihat rumahnya dan beberapa saat kemudian mobil yang mereka kendarai berhenti di depannya.

Sehun membuka suara. "Aku hanya takut kau berubah pikiran."

Mereka saling berhadapan sekarang. Kyungsoo bisa melihat ketakutan itu di mata Sehun karena laki-laki blonde itu menatapnya dengan dalam. "Tidak. Aku tidak akan goyah selama ada kau bersamaku." Kyungsoo merona atas perkataannya sendiri. Kemudian ia memutuskan untuk segera turun dari mobil Sehun karena malu. "Baiklah, terima kasih karena mengantarku Sehun. Sampai bertemu lagi."

Tiba-tiba Sehun seakan sadar dan buru-buru membuka mobil dan memanggil Kyungsoo yang masih di depan gerbang. Ia jalan perlahan menghampiri gadis belo itu, setelah jarak mereka hanya beberapa meter ia berbisik dengan suara berat. "Bukan seperti itu mengucapkan salam perpisahan ala barat. Aku akan menunjukannya padamu."

Perlahan ia semakin mendekat, mengikis jarak diantara mereka. Meraih pipi kiri Kyungsoo dan mendekatkan wajahnya. Menghembuskan napas panasnya sebelum menempelkan bibir mereka berdua. Kyungsoo terkejut, tapi apa yang bisa ia lakukan selain terpejam dan menikmati lumatan lembut Sehun pada bibir atas dan bawahnya. Ia melayang.

"Oh Sehun, aku mencintaimu."

.


.

Luhan memasuki rumahnya dengan tangan yang penuh kantong belanjaan. Ia melihat seseorang tengah duduk di sofa dengan sebotol minuman dingin ditangan dan tv yang menampilkan acara kanak-kanak.

"Sedang apa disini? Bukannya kuliah malah malas-malasan di rumahku." Luhan melewati sosok itu dengan omelan yang masih terdengar meski ia sudah berada di area dapur.

"Kelasku sedang kosong noona, dan aku merasa lapar sekarang."

Luhan tertawa dari arah dapur. "Apa kau anak kecil, kenapa tidak makan di cafe? Biasanya juga begitu." Ia sibuk meletakkan semua barang yang sudah ia beli pada tempatnya.

"Aku sedang bosan dengan makanan cafe dan ingin merasakan masakan noona. Aku merindukan masakan noona." Suara husky itu terdengar merajuk, membuat Luhan geleng-geleng kepala. Masih saja bersikap kekanakan meski usianya sudah 21 tahun.

" Ya! Kim Jongin, kau pikir berapa usiamu eoh? Apa menurutmu kau masih cocok menonton film seperti itu?" Luhan berjalan menghampiri Jongin, memberikan sebungkus roti pada adik sepupunya tersebut. Setidaknya untuk mengganjal karena jam makan siang masih beberapa jam lagi.

"Apa yang salah dengan menonton pororo, ini lebih menghibur daripada drama-drama menyebalkan yang noona tonton setiap hari."

Luhan tahu, Jongin sangat anti pada drama-drama yang menceritakan kisah percintaan yang berlebihan dimana sepasang kekasih yang saling mencintai tidak bisa bersatu karena kekonyolan yang mereka buat sendiri. Roman picisan bila ia menyebutnya. Dan itu tidak Jongin sekali.

Luhan sudah bersiap akan memukul kepala Jongin sebelum laki-laki itu menghindar. "Ish, kau ini! Carilah kekasih agar kau mengerti dan menjadi dewasa, tidak kekanakan seperti sekarang. Temanmu saja sudah akan ada yang menikah lagi. Tapi kekasih saja kau bahkan tidak punya." Luhan mencibir.

"Eitss, tidak punya bukan berarti aku tidak bisa mencari gadis cantik aku hanya tidak mau mencari sembarangan wanita untuk menjadi ibu dari anak-anakku kelak." Jongin mengelak dengan gaya cengirannya membuat Luhan juga ikut tersenyum. " Aku akan datang ke acara pernikahan temanku, apa noona mau ikut? Siapa tahu bisa bertemu Sehun." Ucapnya asal.

"Yaa! Bagaimana bisa ada Sehun kalau dia saja tidak mengenal temanmu." Jongin hanya tertawa dan mengedikkan bahu lalu kembali menonton pinguin biru berkacamata di tv milik Luhan. "Dasar Kim Pabbo Jongin!".

=O=

TBC

12 Juni 2016

Author notes: Setelah Jongin muncul di cerita ini, saya merubah sedikit isi summary nya *hope you see that. Sebenarnya, mau saya sembunyikan hingga akhir tapi mengingat plot cerita sudah terbentuk dengan alasan menghindari kesalahpahaman dan ke-php-an saya merubahnya.

Actually, I'm a shipper of official couple. So, bila kalian dari awal hanya melihat Sehun dan Kyungsoo sebagai main cast dan banyak muncul itu memang tuntutan cerita. Karena sebenarnya ff ini terjadi karena efek "April Mop" kemarin, tapi melihat perkembangan Jongin dan Kyungsoo sekarang kabar 1 April kemarin itu *ingin berkata kasar.

Jadi, yang tidak sependat saya mohon maaf.