Akhirnya bisa update setelah sekian lama. Terlalu sibuk dengan pekerjaan dan juga Aurelian, dan saya juga lagi mulai nulis cerita baru, bukan terlupakan tapi malas untuk buka-buka buku Harry Potter. But at least, Just to know this story so simple and sweet, not too complicated like Faith. hope this would not disappoint you, my beloved reader.

You know? I know you love me.

By Dragonjun always with LOVE

Harry Potter itu adalah milik J.K. Rowling.

Chapter 04.

"Draco, kau bisa berhenti mondar-mandir." Perintah Blaise marah melihat sahabatnya itu mondar-mandir gelisah. Daphne baru saja pulang karena kedatangan Draco yang tiba-tiba di flatnya, membuat malam indahnya menjadi berantakan. Dan si penganggu ini hanya berjalan mondar-mandir tak jelas tanpa mengucapkan satu katapun, Blaise juga tak tau apa itu, tapi bisa dia bilang sahabatnya ini sedang kacau.

Draco duduk di kursi dan menatap Blaise didepannya dipisahkan oleh konter Bar "Oh, my God Blaise, aku menciumnya. Apa yang aku pikirkan? Kenapa aku melakukannya?" kata Draco lebih kepada dirinya sendiri dari pada Blaise. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

Blaise yang diajak bicara hanya mengaruk kepalanya malas. "Ini bukan pertama kalinya kau mencium gadis, Draco Lucius Malfoy. What the News? Mungkin malah kalau kau bisa lebih dari menciumnya kita bisa menjadi saudara ipar yang keren."

"Aku tidak mencium Astoria," kata Draco sarkatis sambil melotot. "Aku mencium Granger," kali ini ekspresinya ngeri.

"Oh, okey. This's a news." Blaise tak lagi merasa mengantuk. Dia menuangkan wiski api kedalam dua gelas, dan menawarkan salah satunya pada Draco. "So, and?"

"And what?" tanya Draco bingung.

"She kissed you back?" tanya Blaise simpel.

"Sort of," jawab Draco pelan.

"Apa maksudnya?"

"Ya, dia membalas ciumanku, atau aku pikir dia melakukannya, oh, entah aku tak tau," Draco kembali mondar-mandir.

Blaise menghela nafas. "Duduklah, mate," perintahnya. "Apa masalahnya kalau kau menciumnya dan dia membalas ciumanmu? Dari dulu aku sudah bilang kau menyukainya."

"Entahlah, dia hanya.. dia berdiri disana, dan dia sangat cantik," kata Draco mengambang. "Dan aku .. aku.."

"Menciumnya," kata Blaise menyelesaikan kalimat Draco. Draco mengangguk tak jelas. "Tenang Mate, kau hanya penasaran. Kau terlalu lama menyukainya."

"Ya." Tanpa sadar Draco mengakui bahwa dia menyukai Hermione, kemudian dia menyadari bahwa dia baru saja mengakui bahwa dia menyukai Hermione.

"Kau harus yakin apakah kau hanya mengaguminya, atau kau mencintainya. Draco waktumu tak banyak," kata Blaise simpel, namun ada penekan dari setiap kata-kata yang dia ucapakan.

Draco tau apa maksud sahabatnya itu. "Apa yang harus aku lakukan, bagaimana kalau dia semakin menjauh?" tanya Draco cemas.

"Ya. kau cari taulah, mana Draco si playboy yang aku kenal," kata Blaise geli, temannya yang terkenal sebagai penakluk wanita, takluk pada si kutu buku, nona tau segala Hermione Granger.

"Ya. Ya," jawab Draco tak jelas.

"Kau bermalamlah disini, mate. Pikirkan apa yang akan kau lakukan kalau bertemu dengannya besok. Dan saranku hanyalah, turunkan sikap aroganmu itu," kata Blaise meneguk habis minumannya.

"Why? That's my charm," tuntut Draco tak percaya dengan sahabatnya.

Blaise mengelengkan kepalanya lebih tak percaya, "Kau tau?" kata Blaise mememulai dengan nada mengejek, "Theo mulai tertarik pada Granger, dia juga harus segera menikah sepertimu, Draco. Jadi saranku ambillah sebelum diambil orang," kata Blaise kemudian kembali berjalan ke kamarnya menyerigai, dia tak merasa bersalah sedikitpun akan kebohongan kecil yang dia katakan kepada sahabatnya itu. Blaise cukup tau kalau Draco sangat menyukai, bahkan mencintai Hermione Granger sedari dulu. Dan kalau dia harus sedikit berbohong dia akan melakukannya, agar sahabatnya itu tidak terlalu keras kepala, tapi untuk shabatnya yang lain, Theo dia sedikit merasa bersalah, semoga saja Theo tidak mengalami hal-hal yang membahayakan, dalam hati Blaise mengingatkan dirinya untuk menulis surat pada Theo besok pagi.

Setelah Blaise meninggalkannya sendiri, Draco berpikir bagaimana dia harus bersikap pada Hermione besok. Bagaimana kalau Hermione tak menerima cintanya, tunggu apa Draco mencintainya? Draco menyukainya, tapi cinta? Draco harus memastikannya, dan Theo. Theo sahabatnya, dan dia pintar, tampan dan juga kaya raya. NO! tentu saja tidak! Draco tidak akan menyerahkan Hermione pada Theo. Tidak, Hermione harus menjadi miliknya.

Draco berjalan ke kamar tamu di flat milik Blaise, menyelimuti dirinya dan mulai mengantuk. Malam itu Draco tertidur lelap dan damai dan dia mengigau dengan lembut, "You're mine, always."

.

.

"Melin, Hermione. kau bisa bicara sekarang atau hanya akan diam saja?" tanya Ginny akhirnya. Sudah hampir setengah jam dari kedatangannya yang terlalu dini untuk bertamu namun juga karena sang tamu tak kunjung bicara apa.

"Aku kacau Ginny," kata Hermione pelan.

Ginny mengangguk tak sabar. "Aku tau, kau terlihat kacau kalau aku boleh jujur. Aku tau kau masih sakit hati karena Ron, dan kau belum siap kalau dunia sihir akan tau tentang hubungan kalian," kata Ginny lembut penuh kasih sayang. Dia meletakan tangannya memegang tangan Hermione.

"Apa yang sedang kau bicarakan?" tanya Hermione langsung menengok pada Ginny bingung.

"Apa yang sedang kau bicarakan?" tanya Ginny balik bingung akan respon Hermione. tentu saja Ginny beranggapan kalau Hermione datang ketempatnya karena masalah Ron, bukan? Apalagi yang akan membuat Hermione datang dengan kacau seperti ini kalau bukan karena masalah Ron? Ron yang semalam membawa pacar barunya ke acara kementrian, yang Ginny yakin akan masuk kedalam halaman depan semua majalah dan Koran pagi ini.

Hermione teralihkan sebentar dari masalahnya, kemudian menghela nafas berat mengerti maksud Ginny. "Ini bukan karena Ron. Maksudku, ya memang berat karena dia sahabat baikku berubah menjadi pacarku, lalu sekarang kami menjadi orang asing. Tapi itu sudah tiga bulan yang lalu dan …" Hermione tak menyelesaikan kalimatnya. Dia merasa bersalah karena dia tidak lagi merasa sakit hati akan Ron yang memliki pacar baru, ada apa dengannya? Begitu berpengaruh kah, pertemuannya lagi dengan Draco sampai-sampai membuatnya lupa akan Ron.

"Lalu kalau bukan Ron, kenapa kau datang pagi-pagi begini ketempatku dalam keadaan kacau seperti ini? Hermione, maaf, tapi ini bahkan belum jam enam pagi," tanya Ginny penasaran sekaligus khawatir dia tak yakin. Ginny merasa bahwa permasalahan ini sangat baru untuknya dan dia tak punya gambaran bagaimana membantu sahabatnya itu.

"He kissed me," kata Hermione berbisik.

"Siapa yang menciummu?" tanya Ginny, matanya lebar penasaran. "Bukan Ron?" Ginny sudah bersiap akan mendatangi the burrow untuk mengutuk Ron sebelum mendengar Hermione kembali berbisik menjawab pertanyaannya.

"Draco, Draco Malfoy kissed me," jawab Hermione.

Ginny menarik nafas perlahan. "Okey, ini lucu." Ginny mulai tertawa sendiri.

"And I kissed him back," kata Hermione lagi.

"Oh, ini sungguhan," kata Ginny terkejut, dia berhenti tertawa dan perlahan mulutnya terbuka menatap Hermione tak percaya.

Hermione menatapnya horror, bagaimana mungkin sahabatnya ini beranggapan dia akan bercanda tentang Draco Malfoy menciumnya?

"Semalam dia juga datang ke pesta kementrian dan seingatku dia bersama Greengrass muda, maksudku dia tak mempermaikanmu?" tanya Ginny khawatir.

"Aku tak tau. Kau tau kan sekarang dia mengajar di Hogwarts?" tanya Hermione, Ginny mengangguk. "Semalam dia datang dari pesta kementrian kemudian menghampiriku di halaman, dan dia menciumku. Dia hanya bilang, dia penasaran bagaimana menyentuh bidadari dan kemudian menciumku," kata Hermione, dia sendiri merasa ngeri mengatakan hal itu.

"Apa," kali ini Ginny sangat terkejut, kantuknya benar-benar hilang. "Hermione kau wanita yang cantik bagai bidadari, tapi ini Malfoy yang sedang kita bicarakan. Oh, entahlah Hermione mungkin dia mabuk?" Ginny member pendapat.

"Entahlah Ginny, sebagian dariku tak percaya, tapi sebagian yang lain percaya," kata Hermione menyedihkan.

"Ada yang kau sembunyikan dariku?" tanya Ginny namun lebih seperti sebuah pernyataan. "katakan, Hermione?"

Hermione menutup wajahnya dengan kedua tangannya, malu, takut, dia bahkan tak yakin apa yang sedang dia rasakan sekarang. Hermione memberika jurnal Draco yang dia temukan kepada Ginny. Ginny menerimanya dengan bingung, jelas dia bukanlah orang yang dengan senang hati diberi hadiah sebuah buku. Tapi kemudian Ginny membuka penasaran melihat nama pemilik buku itu tertulis dalam tulisan tangan yang sangat anggun dan rapi. Ginny memberikan tatapan percaya pada Hermione, namun Hermione tak sanggup menjawab dia membuka halaman yang telah diberi tanda pembatas berwarna kuning, tak yakin dia menjawab perlahan kemudian mimiknya berubah perlahan sebanyak dia membuka halaman demi halaman yang sudah diberi tangga.

"Hermione.." kata Ginny pelan, tak yakin apa yang ingin dia katakan.

"Aku menemukannya waktu kita mengulang tahun ketujuh, Ginny. Tapi aku hampir melupakannya, sampai dia datang tahun ini untuk mengajar di Hogwarts. I mean, aku tidak tau apa yang sebenarnya dia rasakan padaku. Dan selama dia mengajar di Hogwarts tak ada tanda-tanda dia menyukaiku, maksudku dia tetap si arogan Malfoy yang kita kenal." Jelas Hermione panjang lebar.

"Hermione, aku pikir he was in love with you," kata Ginny pelan.

"was?"

"Aku tak pernah benar-benar mengenalnya, kalian yang lebih tau. Aku tak tau perasaannya sekarang padamu. Tapi jelas dia mencintaimu dulu, baca ini…

5 Januari 1994

Ini sungguh aneh, sudah seminggu setelah liburan natal aku melihat Granger kembali dari pondok Hagrid tanpa kedua teman-temannya, dia menatap langit sedih, why? Apakah dia bertengkar dengan dua idiot itu?

2 Maret 1995

Majalah bodoh, mana mungkin Krum menganggap Granger orang yang paling takut kehilangan? Dan dia mengundangnya untuk liburan di Bulgaria? Kalian sedang bercanda kan? Tapi kenapa dia merono ketika Pansy menanyakan kebenarannya.

3 Maret 1995

Dia datang dengan tangan terluka, gara-gara majalah bodoh yang selalu dibaca dengan gadis-gadis bodoh. Padahal akhirnya manusia setengah raksasa membawa nifler, dan untuk pertama kalinya dia bisa mengajar dengan menyenangkan.

"Dia cemburu pada Krum, dia marah pada pengagum krum yang membuatmu terluka karena nana bobutuber dan juga dia sedih karena kau sedih Ron dan Harry menjauhimu gara-gara Firebolt. He completely crush with you!" kata Ginny seakan ini semua sudah jelas.

Bersamaan dengan sinar matahari yang masuk melalu cela-cela gorden yang tak tertutup rapat, seakan ada sinar yang juga menerangi pikiran Hermione yang sangat kacau saat ini. "Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana aku harus bersikap terhadapanya?"

"Kau harus mencaritahu apakah dia masih menyimpan perasaannya padamu Hermione, aku tak mengenal Malfoy seperti apa, walaupun Harry dan Ron sangat senang menghabiskan waktu untuk bebicara tentang keburukannya, tapi kau berhak untuk bahagia dengan siapapun yang kau pilih. Aku percaya akan penilaianmu, aku akan mendukung semua keputusanmu. Kalau kau pikir dia mencintaimu, dan ada kemungkinan kau mencintainya juga, aku hanya bisa bilang ambil kesempatan itu Hermione, tapi kalau dia menyakitimu, maka akulah orang pertama yang akan mengutuknya," kata Ginny panjang lebar.

"Terima kasih, Ginny." Hermione memeluk sahabatnya. "sebaiknya aku kembali ke sekolah, aku tidak bilang kalau aku pergi tadi pagi, aku tak bisa tidur dan … aku harus kembali," kata Hermione.

"Tenanglah Hermione, semua akan baik-baik saja," kata Ginny. Dia mengantar Hermione ketempat berapparate di depan rumahnya. "Oh, bahkan aku tidak menawarimu minuman," kata Ginny baru sadar, ketika beberapa tetangganya mulai beraktifitas. Hermione tersenyum dan mengangguk pada sahabatnya sebelum berapparate kembali ke Hogwarts.

Hermione menghela nafas berat sebelum kembali berjalan melewati gerbang Hogwarts sebelum dia mendengar bunyi 'plop' tanda ada yang berapparate. Orang itu muncul di depannya dengan wajah tak kalah lelah namun terkejut. Senyum tipis tersuai diwajahnya yang tirus dan rambut platinanya sedikit terbang terbawa angin sejuk pagi hari.

Hermione menahan nafas karena kehadiran pria itu, "Good Morning," sapanya tak yakin dengan senyum mengembang. Sinar matahari menyinari dan memperlihatkan wajahnya dan juga figure badannya yang tinggi kurus namun berotot, why? Kenapa Hermione tak pernah menyadari kalau Draco Malfoy sangat menarik?

"Good Morning," jawab Hermione pelan dan tersenyum lembut.

_TBC_