Yuuppss! Kembali hadir dgn next chap ~Pernikahan Dini~ tanpa basi-basa, gimana langsung dimulai saja? CEKIDOTKOM!
Disclaimer: Detective Conan itu punya Aoyama Gosho. TITIK!
Summary: Shinichi dan Shiho berdebat perihal Ran, hingga membuka mata hati Shinichi untuk menjadi sahabat yang berarti bagi Ran. Sementara itu, Akako Koizumi mendapatkan 'penglihatan' akan kehidupan Shinichi dan Ran, hingga membuat Shiho bingung!
Rating: T (Sewaktu-waktu dapat berubah)
PERNIKAHAN DINI
Episode 04
Di saat waktu bersamaan ketika Kaito dan Aoko pulang bersama, di lain tempat tampak Shinichi dan Shiho yang juga sedang pulang bersama-sama. Sebenarnya, Shiho ingin sekali mengajak Ran untuk pulang bersama mereka, namun tampaknya mood Ran saat ini sedang berada dalam posisi yang tidak mengenakkan.
Flashback
Shiho yang saat itu masih berkemas-kemas untuk pulang ke rumah, melihat Ran melamun sambil membereskan mejanya. Shiho yang melihat perilaku Ran seperti itu menjadi bingung. Ada apa dengan Ran? Tak biasanya dia seperti ini.
Disaat Shiho tengah memikirkan kondisi Ran, datanglah Shinichi yang ingin mengajak Shiho untuk pulang bersama.
"Shiho, kau mau pulang bersamaku?" tanya Shinichi kepada kekasihnya itu.
Namun sayangnya pertanyaan Shinichi barusan tidak digubris oleh Shiho yang masih terus memperhatikan Ran.
"Shiho?" sahut Shinichi dengan tangannya menepuk pundak Shiho.
"Ah, kau rupanya Shinichi. Kupikir siapa," kata Shiho yang sepertinya kaget karena pundaknya ditepuk oleh Shinichi secara tiba-tiba.
"Pulang bareng, yuk," ajak Shinichi yang disertai oleh anggukan Shiho.
Namun, ketika mereka baru keluar dari kelas, Shiho justru ingin mengajak Ran untuk pulang bersama dengan mereka.
"Shinichi, bagaimana kalau kita ajak Ran juga?" pinta Shiho kepada Shinichi.
"Ya... terserah kau sajalah, Shiho," balas Shinichi disertai senyumnya.
Shiho yang lega begitu mendengar jawaban Shinichi, langsung kembali ke kelasnya dan mengajak Ran untuk pulang bersamanya.
"Ran, kau mau pulang? Gimana kalau kita barengan saja?" tanya Shiho kepada Ran.
Sebenarnya, Ran ingin sekali pulang bersama dengan Shiho. Tapi, mengingat bahwa Shinichi pasti akan ikut pulang bersama mereka, ditambah lagi dengan pikiran-pikiran 'aneh' antara dia dengan Shinichi, membuat Ran mengurungkan niat untuk pulang bersama Shiho.
"Shiho, maaf ya... bukannya aku menolak, tapi... saat ini aku sedang butuh waktu untuk sendirian. Maaf ya, Shiho," ujar Ran sambil menempelkan kedua telapak tangannya di depan Shiho.
"Lho, kenapa kau tidak mau pulang bareng kami? Apa kau ada masalah, Ran?" tanya Shiho.
"A... ah... aku tak apa-apa kok. Aku hanya ingin sendiri saja dulu..." balas Ran dengan senyum yang dipaksakan.
Akhirnya, Shiho tak bisa berbuat apa-apa lagi, hingga meninggalkan Ran duluan.
"Baiklah... kalau begitu aku duluan ya, Ran..." ucap Shiho.
"I... iya..."
End of Flashbacks
Shiho yakin, ada sesuatu yang disembunyikan oleh Ran. Shiho tahu itu karena masalah apapun Ran pasti akan cerita kepada Shiho. Kalaupun bukan kepadanya, pasti Ran akan curhat kepada Sonoko.
"Apa lebih baik aku tanyakan saja pada Shinichi, ya?" gumam Shiho sambil menatap Shinichi yang ada di sampingnya.
"Emm... Shinichi?" sahut Shiho kepada Shinichi.
"Iya, Shiho..."
"Apa kau tahu kalau Ran itu sedang ada masalah?" tanya Shiho dengan pandangan serius terhadap Shinichi.
"Eh? Ran? Aku tak tahu kalau dia sedang ada masalah. Kalaupun dia ada masalah, apa peduliku?" jawab Shinichi dengan nada yang ketus.
"Kau ini! Aku tanya serius kok jawabannya malah begitu?" balas Shiho tak kalah emosi dengan Shinichi. Wajar saja Shiho emosi seperti itu. Orang ditanya baik-baik, kok malah jawabnya ketus begitu.
Merasa dirinya menyinggung Shiho, Shinichi pun buru-buru meralat kalimatnya. "Bu, bukan begitu maksudku. Maksudku... ya... untuk apa coba kau harus ikut-ikutan pusing mengenai masalah Ran?" ujar Shinichi sambil merangkul Shiho.
Omongan Shinichi tadi ada benarnya juga bagi Shiho. Ran yang punya masalah, kenapa justru Shiho yang harus pusing?
"Aduh, Shinichi. Kau ini tak tahu apa? Ini adalah rasa kepedulian sesama sahabat. Jadi, jika salah satu sahabat kita ada masalah, ya... sebisa mungkin kita harus membantunya. Minimal kita bisa memberikannya solusi," jelas Shiho panjang lebar kepada kekasihnya itu. Sementara Shinichi hanya bisa diam saja, entah mengerti atau tidak perkataan wanita pujaannya itu.
"Iya... tapi..." belum selesai Shinichi melanjutkan, Shiho terlebih dahulu memotong pembicaraan mereka.
"Kau itu sebenarnya sahabatnya Ran bukan, sih? Kok kesannya kau tidak peduli dengan sahabat masa kecilmu itu?" kini Shiho tidak bisa menahan amarahnya lagi. Bagaimana bisa kekasihnya itu cuek sekali terhadap sahabat kekasihnya yang ia kenal sejak kecil? Sementara Shiho saja yang baru bersahabat dengan Ran sewaktu SMU saja, bisa begitu peduli. Tapi dia?
"Shi... Shiho...?"
"Ah, sudahlah! Lebih baik aku pulang duluan saja! Aku lagi malas berdebat denganmu!" ujar Shiho ketus dan berlalu meninggalkan Shinichi.
"Shiho! Shiho!" panggil Shinichi keras terhadap Shiho. Namun sayangnya panggilan Shinichi tidak digubris lagi oleh Shiho. Sepertinya, Shiho benar-benar marah terhadap Shinichi. Hingga akhirnya Shiho pun menghilang dari pandangan Shinichi.
Shinichi hanya bisa berjalan dengan lesu. Memikirkan apa yang baru saja terjadi. Perdebatan antara dia dengan Shiho, perihal masalah Ran. Dia tidak tahu, sebenarnya apa sih yang membuat Shiho begitu marah terhadapnya? Apa salahnya? Apakah salah jika ia hanya ingin tidak ikut campur perihal urusan Ran? Lantas ia kembali teringat perkataan Shiho barusan.
"Aduh, Shinichi. Kau ini tak tahu apa? Ini adalah rasa kepedulian sesama sahabat. Jadi, jika salah satu sahabat kita ada masalah, ya... sebisa mungkin kita harus membantunya. Minimal kita bisa memberikannya solusi..."
Perkataan Shiho barusan tidak ada salahnya oleh Shinichi. Shiho benar. Itu adalah rasa kepedulian yang dimiliki oleh seorang sahabat. Karena itulah gunanya sahabat, selalu ada di saat suka maupun duka. Dan Shiho, telah menunjukkan kepadanya bahwa betapa besar rasa sayang Shiho kepada Ran sebagai sahabat.
Sontak, Shinichi pun kembali mengingat kebersamaan yang dia jalin bersama Ran sejak kecil. Rasa-rasanya, hampir tidak ada momen dimana mereka akur satu sama lain. Yang ada hanyalah pertengkaran, pertengkaran, dan pertengkaran. Bahkan ia ingat, bagaimana kedua orang tuanya memarahi dia dulu ketika dia menjahili Ran hingga membuat kaki Ran keseleo dan harus dirawat di rumah sakit.
Padahal, kedua orang tua mereka telah bersahabat sejak dulu. Dilahirkan di tempat yang sama, Disekolahkan di tempat yang sama, dan selalu satu kelas. Seharusnya dari waktu ke waktu mereka bisa bersahabat seperti halnya Shiho dengan Ran.
Kini ia sadar, bahwa selama ini ia bukanlah sahabat yang baik bagi Ran. Dan mulai saat ini, ia berjanji, akan menjadi sahabat yang baik dan berarti bagi Ran.
"Maafkan aku, Ran. Mulai saat ini, aku berjanji. Aku akan menjadi sahabat yang paling terbaik yang pernah kau miliki," tekad Shinichi bulat dalam hati.
"Aku pulang!" sahut Kaito semangat ketika ia sampai di rumahnya.
"Kaito, kau sudah pulang?" teriak ibunya, Chikage, dari arah dapur.
"Iya, Bu!" balas Kaito. Sejenak, Kaito mencium aroma sedap dari arah dapur. Sepertinya, ibunya membuat masakan spesial kesukaannya.
Merasa nafsunya bangkit mencium aroma masakan Chikage, membuat Kaito langsung menuju dapur tempat ibunya memasak.
"Ibu! Kaito lapar nih! Mau makan!" rengek Kaito pada ibunya seperti anak kecil. Kaito memang sudah tidak sabar ingin makan masakan ibunya itu.
"Oh, kau lapar? Oke, kalau begitu langsung dihidangkan saja makanannya ya, Kaito?" tanya Chikage yang dibalas dengan cengiran Kaito.
Tetapi, alangkah terkejutnya Kaito ketika melihat ibunya memasak makanan yang paling ia benci. Ya, apalagi kalau bukan: ikan.
"I... itu... IKAN! GYAAA! Ibu! Tolong singkirkan itu dari hadapanku!" teriak Kaito seperti orang gila begitu tahu ia disajikan ikan untuk makan malamnya.
"KAU INI APA-APAAN SIH? JANGAN SEPERTI ANAK KECIL YA, KAITO! SEKARANG, KAU HARUS MAKAN MASAKAN IBU!" tegas Chikage kepada anak tunggalnya itu.
"Tapi..."
"TIDAK ADA TAPI-TAPIAN! KALAU KAU SAMPAI MEMBUANG MAKANAN ITU, IBU AKAN MEMASAK IKAN UNTUKMU SELAMA SATU BULAN! INGAT, SATU BULAN!" ancam Chikage terhadap Kaito. Dan... tentu saja ancaman Chikage lumayan membuat Kaito bergidik ngeri. Ia tak bisa membayangkan, jika ia harus memakan masakan ikan. Mencium baunya saja Kaito ingin muntah, apalagi memakannya?
Dan, seperti yang diduga. Kaito akhirnya mau menyantap masakan ikan tersebut, meskipun ia harus melawan rasa jijik yang ada di hadapannya. Daripada ia harus makan makanan haram ini baginya selama satu bulan, itu akan membuatnya stress tidak berujung.
Hahahaha... kasihan kau, Kaito...
Berbeda dengan suasana makan malam Kaito yang begitu 'meriah', suasana makan malam di Kantor Detektif Kogoro Mouri terasa 'suram'. Tidak ada yang istimewa dengan makan malam antara ayah dengan anak ini. Makanan yang tersaji pun biasa saja. Dua mangkuk nasi, dua gelas air putih, dengan tumisan kangkung dan tumisan daging sapi. Rasanya? Jangan diragukan lagi. Ran adalah salah satu koki handal yang dimiliki oleh marga Mouri.
Dan hal 'suram' itu bisa ditangkap dari sang empunya rumah, Kogoro Mouri. Ya, sejak pulang sekolah hingga makan malam bersama, wajah Ran tidak menunjukkan keadaan yang baik-baik saja. Sebagai seseorang yang mempunyai naluri ayah, Kogoro merasa bahwa telah terjadi sesuatu di sekolah hingga membuat Ran menjadi diam seperti sekarang ini. Tak ingin berlama-lama dalam diam, Kogoro pun mulai angkat bicara.
"Ran? Apa kau baik-baik saja?" tanya Kogoro pada anaknya yang sedang menyantap hidangan. Namun sayangnya, karena terus berpikir membuat Ran tidak menggubris ucapan sang ayah.
"Ran? Hei, Ran? Kau baik-baik saja?" tanya Kogoro sekali lagi hingga membuat Ran tersentak.
"Eh... Ayah... aku baik-baik saja, kok..." ucapnya dengan lirih.
"Apa kau lagi ada masalah, Ran?" tanya Kogoro yang khawatir melihat keadaan anaknya saat ini yang mempunyai beban pikiran.
"Oh... aku... tidak apa-apa kok..." jawabnya datar.
"Apa terjadi sesuatu di sekolah? Apa... ini ada hubungannya dengan Shinichi?" tanya Kogoro lagi yang sepertinya sukses membuat Ran tersedak.
'DEG!'
Itulah perasaan yang Ran alami saat ini. Tebakan ayahnya betul, saat ini ia sedang memikirkan sesuatu. Memikirkan 'mimpi' antara ia dengan Shinichi. Tapi, ia tak mau kalau hal ini juga menjadi beban pikiran sang ayah.
"Ti... tidak apa-apa kok, Ayah. Aku baik-baik saja..." ucapnya dengan nada ceria yang dibuat-buat.
Setelah itu, Kogoro tidak menanyakan apa-apa lagi. Meskipun Kogoro yakin ada yang disembunyikan oleh anaknya, namun ia tak ingin ambil pusing dengan masalah Ran.
"Ayah, kalau sudah selesai makannya aku langsung cuci piring, ya..." ujar Ran bangkit dari tempat duduknya dan mengambil piring-piring yang ada di atas meja.
"Iya, Ran."
Selama mencuci piring, Ran terus memikirkan 'mimpi' itu. Dia berharap, mudah-mudahan 'mimpi' itu hanya sebatas mimpi saja. Bukan untuk hal-hal yang lain.
"Mudah-mudahan, ini sebatas mimpi saja dan bukan pertanda yang lain," batinnya dalam hati.
Sementara itu di kamar tidur Shinichi, terlihat lelaki itu sedang duduk bersender di ranjang tidurnya. Sejak tadi, ia terus memperhatikan foto itu.
Foto yang tergambar dirinya, Ran, dan Shiho.
Sesekali dia terlihat tersenyum melihat foto itu. Tidak, lebih tepatnya, melihat foto yang tergambar dirinya dan Ran yang sedang merangkul satu sama lain. Sedangkan Shiho, tepat berada di samping Ran.
Entah mengapa, dia merasa rindu. Dia rindu dengan suasana mereka akur untuk pertama kalinya. Meskipun hanya sekejap, tapi dia merasa bahwa akrab dengan Ran itu adalah hal yang menyenangkan.
"Ternyata, bersahabat dengan Ran itu... menyenangkan ya..." gumamnya seraya menatap lembut gambar Ran.
Sesaat Shinichi menatap lekat-lekat foto itu. Dan dia baru menyadari bahwa Ran tersenyum ceria seperti itu, manis rasanya.
"Dilihat-lihat, Ran kalau senyum seperti ini... manis..." batin Shinichi.
Mengetahui apa yang baru saja ia katakan dalam benaknya, membuat pipi Shinichi merona merah.
"A... apa yang baru saja kukatakan?" gumam Shinichi yang salah tingkah.
Namun Shinichi tidak mengelak, bahwa ia senang melihat senyum Ran yang ceria seperti di foto itu.
Jam sembilan malam, waktu dimana para gadis yang masih berada di bangku sekolah untuk tidur. Ya, kebiasaan negara Jepang-khususnya kota Beika-adalah pantang untuk tidur di atas jam sembilan malam. Namun, kebiasaan itu justru tidak diterapkan oleh keluarga Miyano.
Terbukti, di kamar putri bungsu keluarga Miyano, yakni Shiho, terlihat asyik mengobrol dengan sepupunya, Akako Koizumi. Akako Koizumi adalah sepupu dari Shiho. Akako sebenarnya menetap di Hokkaido. Namun, mengingat bahwa ayahnya akan pindah ke Tokyo guna urusan pekerjaannya di bidang televisi, membuat Akako juga harus pindah sekolah dari SMU lamanya.
Atas dasar itulah, ayahnya Shiho, yakni Atsushi Miyano, mengajak Akako dan ayahnya untuk tinggal di rumahnya. Tentu saja Shiho sangat senang mengetahui bahwa Akako akan menetap di rumahnya, Bagi Shiho, Akako adalah sahabat yang baik, sama seperti Ran.
Saat ini, Shiho dan Akako tengah asyik berbincang-bincang mengenai kehidupan sekolah masing-masing.
"Ngomong-ngomong Akako, kau nanti akan sekolah dimana selama disini?" tanya Shiho kepada Akako. Shiho berharap bahwa Akako nanti akan satu sekolah dengan dirinya, di SMU Teitan.
"Oh, masalah itu. Aku nanti akan sekolah di SMU Ekoda. Kau tahu dimana itu?" timpal Akako balik kepada Shiho.
"SMU Ekoda? Kalau itu sih tidak jauh dari sini. Tapi, mengapa kau tidak bersekolah di SMU Teitan saja, kan lumayan nanti kita bisa bareng lagi," ujar Shiho.
"Wah... maaf... maaf... bukan bermaksud untuk menyinggungmu, tetapi aku sendiri tidak tahu keadaan Beika itu sendiri apa, sekolahnya gimana..." sahut Akako.
Sejenak, perhatian Akako teralih pada foto yang tertempel di kaca rias Shiho. Terlihat di sana, foto yang menampilkan Shinichi, Ran, dan Shiho dengan latar belakang Tropical Land.
Shiho yang mengetahui bahwa sepupunya itu memperhatikan foto itu, langsung saja mengambil foto itu dan memberikannya pada Akako.
"Ini! Kau ingin lihat foto ini, kan?" ujar Shiho memberikan foto itu kepada Akako.
Akako lantas memperhatikan foto tersebut dengan saksama. Entah mengapa, tetapi kekuatan indera keenam Akako langsung bereaksi begitu melihat foto itu. Tepatnya, melihat gambar Shinichi dan Ran.
"Shiho, mereka berdua yang ada di foto ini siapa?" tanya Akako.
"Oh, ini. Kalau yang laki-laki itu, namanya Shinichi Kudo. Kalau yang perempuan, itu namanya Ran Mouri. Singkatnya, yang laki-laki itu pacarku sedangkan yang perempuan itu sahabatku," jelas Shiho pada Akako.
Mengetahui jawaban Shiho, Akako kaget. Dia seakan tidak menyangka tentang status Shinichi dan Ran dalam kehidupan Shiho.
"Shiho, yang laki-laki ini... pacarmu?" tanya Akako lagi untuk memastikan dan dijawab dengan anggukan kecil Shiho.
Melihat reaksi Akako yang aneh begitu melihat gambar Shinichi dan Ran, Shiho pun menjadi bingung. Apa ada yang aneh dengan foto Shinichi dan Ran?
"Akako, kenapa wajahmu menyeramkan seperti itu? Apa ada yang salah?" ucap Shiho khawatir melihat reaksi Akako.
Akako terdiam. Dia bingung bagaimana menjawabnya. Beberapa detik kemudian, Akako pun menghela nafas, dan memulai perkataannya.
"Shiho... aku tidak tahu mengapa. Tapi, aku rasa bahwa yang namanya Shinichi Kudo dan Ran Mouri ini..." ucap Akako yang menggantung perkataannya.
"Ya... kenapa dengan mereka, Akako?" kata Shiho yang sudah tidak sabar menanti penjelasan Akako selanjutnya.
"Mereka..."
"Hmm...?"
"Mereka akan terlibat dalam masalah yang besar. Masalah yang dapat mempengaruhi kehidupan mereka selanjutnya," jawab Akako dengan tegas.
Sementara Shiho yang masih bingung akan penjelasan Akako, kini meminta jawaban yang lebih jelas dari mulut sepupunya itu.
"Apa maksudmu? Apa maksudmu dengan masalah besar?" tanya Shiho yang ngotot kepada Akako.
"Ya... pokoknya nanti akan ada masalah besar. Kau harus bilang ke mereka... bahwa mereka harus hati-hati..." ingat Akako kepada Shiho seraya keluar dari kamar Shiho.
Shiho pun tercengang mendengar jawaban Akako. Masalah besar?
"Masalah besar? Memangnya masalah apa?" gumam Shiho dalam hati.
Di luar kamar Shiho, terlihat Akako yang masih berdiri sesaat disana. Memikirkan apa yang dilihatnya barusan melalui mata batinnya ketika melihat foto Shinichi dan Ran.
"Aku tidak mungkin kan, bilang kepada Shiho kalau... sebentar lagi yang namanya Shinichi dan Ran itu... akan segera menikah..." gumam Akako lirih.
BERSAMBUNG...
Kritik, saran, reviewnya ditunggu guys ;)
