Thanks To :
dhearagil,
Alasannya nungguin Murochin muncul lagi ntar XD
Lance Corporal Narin,
Hanya orang-orang kurang panserpis yang bisa liat itu nylip AoAka *termasuk authornya*
21. Nightingale,
Ah... CBSB lagi nunggu ide /bilang aja elu WB/
widi orihara,
Ahaha.. Akashi ya~ #smirk
Yumi Murakami,
Aku itu paling suka bikin Kagami apes seharian. Entahlah, lebih lucu aja kalo dia jadi uke polos yang sengsara dikelilingi semenya.
AkaKaga ya~ #smirk lagi
Seperti kataku diatas, aku kekurangan panserpis AoAka. XD
Nah loh? Belum apa-apa udah ada yang nanya gambang-gambangan :v
Jadi ibunda ya... hmm.. mungkin, tapi bukan buat semuanya. /bocor-bocor/
Calico Neko,
Aku ga bisa lanjutin MuraKaga TAT.. entah kenapa aku malah guling-guling ngakak pas mau bikin bagian mereka. Padahal udah kepikiran.
Haremnya mungkin untuk sementara ini sepoy-sepoy dulu.
Raicho19,
Mukkun belom ada ser-seran ama Kagami, jadi yang lain dulu XD~
Raepnya aku rahasiain... hmmm ohohoho /bu, elu udah gila/
AoKagaKuroLover,
Kagami akan manis pada waktunya.. ahay~ *nari hula*
mey. chan. 5872682,
Wokeh, met baca~ /balesan lu panjang(?) amat/
Guest,
Iya, Douzo~
Shiori and Shiroi,
Iadaaaa! #nutupinbadanpaketangan
Kagami aja yang diraep, daku rela.
Kagami : Gue nggak!
Ahaha... hmmm Boyband lain ya... aku ngutamain GoM dulu deh. Aku juga merasa Kagami itu manis banget kalo ukeh :3 #injeked
rizkhamoechan,
Ok~
Nggak kok, tenang aja. Dia masih maen basket.
Mei-desu,
Wkwkwk... nanti kamu disantet Si Tiger kalo bilang gitu. #Tos!
Meskipun nista, nanti dia dapet nistaan yang enaklah /nggak!/
Yuki Jaeger,
Ok~ ok~ ok~
Cloud the First Tsurugi,
Ok~ silahkan,,
Ahn Ryuuki,
Chap ini udah tanda-tanda *apanya?!*
Bertahap, biar satu persatu anggota kebagian. /Kagami : guenya daging kurban dibagi-bagiin!/
minae cute,
Kise: Kenapa-ssu! Aku juga bisa jadi uke kok! Sumpah-ssu!
Ah, Kise, dia masih 50;50. Tapi kayanya emang seme sih. *ngangkat jempol bareng Kise*
Boleh juga tuh yang Midorima... kalo nggak lucky itemnya itu Leo :v pan Kagami Leo. *niat nyogok Oha-Asa*
dan semua yang udah follow, Fave, Siders
Disclaimer : Tadatoshi Fujimaki-sensei
Genre : Freindship, Romance
Rate : T for now
Warning!
AU, Yaoi, BL, Harem!Kagami, Seirin!Himuro, OOCngeness, Typo dan sebangsanya.
Nick Say FuckerShit For Kagari's present
Kiseki no Sedai Boy Band
.
.
.
*** Kagari Hate The Real World ***
Kagami Taiga : 16 tahun
Kise Ryouta : 17 tahun
Aomine Daiki : 18 tahun
Midorima Shintarou : 18 tahun
Murasakibara Atsushi : 20 tahun
Akashi Seijuuro : 21 tahun
Chapter 4
.
.
.
.
"A –Aominecchi –yame –tehh!"
"A –Ah!"
"Che! Berhenti memberontak Kise,"
"Demo –Ittai!"
.
.
.
Begini, awalnya Kagami hanya ingin lewat saja di depan kamar bertuliskan 'Aomine's' dipintunya untuk pergi ke tempat latihan. Ia berjalan dengan santai-santai saja dengan peta rumah yang sempat diberikan Momoi Satsuki, selaku manager dan satu koper besar berisi CD album Kiseki no Sedai ditangan yang harus ia lihat di tempat bernama latihan itu.
"Kagamin! Aku minta maaf tidak bisa mengajakmu berkeliling ya! Ini peta rumah dan CD album yang harus kau tonton. Oh –dan minta bantuan sama yang lain saja ya kalau kau bingung. Hari ini aku banyak sekali pekerjaan!" katanya dengan tangan penuh tas-tas belanjaan dan heels yang belum terpasang dengan benar dikakinya sampai-sampai wanita itu sempat jatuh di depan pintu rumah.
Yang jelas, meninggalkannya yang masih diam bertampang bingung atas penjelasan super cepat manager wanita itu.
Oh, kembali lagi kemasanya. Tadinya ia hanya lewat di depan pintu kamar Aomine.
Itu tadinya.
Tapi saat telinga sensitifnya mendengar suara-suara aneh dari pintu berwarna biru tua itu. Entah kenapa kakinya berhenti untuk melangkah dan kepalanya menoleh penuh dengan tanda tanya di atas kepalanya. Matanya mengerjap seakan apa yang didengarnya tadi hanyalah khayalan dari pikirannya belaka.
"Ahh! Ini terlalu –sempit! A –Aomi –necchi!"
Tapi sekali lagi, saat suara itu kembali terdengar. Yang pada dasarnya Kagami itu orang yang sangat mudah sekali penasaran tentang sesuatu. Akhirnya ia melangkahkan kakinya mendekati pintu. Dan entah ia beruntung atau memang Si pemilik kamar ceroboh sekali, pintu berwarna biru tua itu tidak tertutup dengan sempurna. Masih menyisakan celah lima senti hingga Kagami bisa melihat ke dalam ruangan.
Matanya dengan cepat jelalatan melihat kanan kiri ke dalam ruangan dari celah kecil itu. Di dalam sana hanya sedikit yang bisa dilihatnya karena pencahayaan yang sangat minim, bisa dibilang remang-remang. Ia menyipitkan matanya sampai sekecil mungkin untuk memperjelas penglihatan.
Meski samar, ia bisa melihat dua siluet di dinding sebelah kanan. Terlihat seperti satu orang tengah menahan satu orang lainnya pada dinding. Pikiran Kagami mulai ruwet dan mikir macam-macam, ia meneguk ludahnya sebelum kembali memastikan apa yang dilihatnya.
"Aku –tidak bi –bisa... Angh~!"
"Diamlah,"
"Ka –kau melukaiku –Aominecchi!"
"Heh, selama itu bukan wajahmu. Kurasa bukan masalah,"
"Ta –AAH! Tidak muat! Ja –jangan dipaksakan!"
Kagami menjatuhkan peta ditangannya, begitu juga dengan koper yang dipegangnya. Dan sialnya, koper itu jatuh ke depan. Mendorong pintu biru tua di depan Kagami untuk terbuka lebih lebar. Koper itu jatuh dengan bunyian kecil yang berhasil membuat dua orang di dalam ruangan menoleh pada dirinya yang berdiri mematung di depan pintu.
Sekarang dua siluet itu terlihat dengan jelas oleh Kagami. Begitu juga dengan ia yang terlihat jelas oleh mereka.
"Ka –Kagamicchi! Tolong aku-ssu!"
Itu tadi teriakan Kise yang saat ini tengah dihimpit dengan tubuh menghadap ke dinding. Wajah model pirang itu terlihat ingin menangis dengan penuh harap menatap kearahnya.
Tapi bukan itu yang membuat Kagami ingin membenturkan kepalanya pada sesuatu yang keras saat ini. Kise, penampilan pemuda itulah yang membuat Kagami tidak bisa berkata apa-apa.
Celana kulit hitam ketat yang dipakainya, pakaian yang juga terbuat dari kulit mengkilap yang nampak tengah diresleting oleh tangan seseorang yang saat ini menahan tubuh pemuda itu. Kelihatan sekali jika pakaian itu sangat amat ketat memeluk tubuhnya dan bisa dipastikan sulit sekali untuk menaikan resleting yang sudah terkunci di tengah punggung Kise itu.
Kagami meruntuk yang ada dipikirannya ternyata salah. Eh –tapi bukan berarti ia memang menginginkan yang dipikirannya itu terjadi! Bukan!
"Aominecchi! Pakaian ini terlalu sempit untukku-ssu!" teriak Kise. Ia nampak kesakitan sekali saat berusaha menggerakan tangannya untuk meraih tangan Aomine yang menahan punggungnya.
Aomine berdecak, "Ukurannya sama dengan Mai-chan. Dan jangan berani kau melawanku setelah apa yang kau lakukan pada heelsku," ucapnya.
"Aku bukan Mai-chan, Aominecchi! Dan aku sudah minta maaf-ssu~"
"Ini hukumanmu. Apa kau tahu berapa lama aku bisa mendapatkan heels itu? Aku harus menggunggu tiga bulan sampai heels itu berada ditanganku. Dan kau mematahkannya dengan sangat mudah," Aomine menarik resleting ditangannya lebih naik. Membuat Kise manahan napasnya karena sesak.
"Dan kau," Aomine menoleh pada Kagami yang masih diam seperti patung di depan pintu kamarnya. "Apa yang kau lakukan di depan kamarku?"
Kagami menelan ludahnya, tidak mungkinkan ia bilang kalau tadi dirinya mengintip karena penasaran dengan suara yang didengarnya dari kamar Si Aho PK. TIDAK MUNGKIN! Mana mungkin ia mengatakan hal itu. Bisa-bisa lidah tajamnya Aomine langsung bicara macam-macam.
Kise yang masih meringis merasakan sesak dan tangannya lecet karena bergesekan dengan dalaman pakaian berbahan kulit tiba-tiba berseru dan menunjuk Kagami. Si pirang jadi ingat sesuatu, "Benar juga! Aominecchi, heelsmu patah juga karena Kagamicchi! Dia yang mematahkannya, bukan aku-ssu!"
"Hah?" Kagami yang tiba-tiba dituduh mengernyit bingung.
Sedangkan Kise bisa bernapas lega saat Aomine berhenti menekan punggungnya, tubuhnya langsung merosot jatuh dan mengatur napasnya. Pakaian kulit yang Aomine paksa untuk ia kenakan benar-benar menyiksanya. Tapi Si pirang tidak bisa menahan senyum saat Aomine berjalan menuju pintu kamarnya. Meskipun harus menerima hukuman, setidaknya ia punya teman untuk dihukum. Itu pikirnya.
Kagami memasang sikap was-was saat Aomine berdiri tak jauh darinya. Pemuda berkulit gelap itu menatapnya dengan datar.
Blam!
Dan pintu kamar di depannya tertutup dengan cepat tepat di depan wajah Kagami.
"Ke –kenapa kau tutup pintunya-ssu!" Kise memprotes saat Aomine malah menutup pintunya tanpa melakukan apapun. Bukankah Aomine sedang marah karena heels edisi terbatas yang dipakai Mai-chan disuatu majalah patah? Dan ia juga sudah bilang jika itu bukan hanya kesalahannya.
"Heh," Aomine berbalik, ia tersenyum penuh arti pada pemuda pirang yang terduduk lesu di lantai, "Sekarang aku sedang ingin menghukummu,"
"Iieeeeeeeeee!" teriak Kise.
.
.
.
.
Dahi Kagami berkedut-kedut kesal. Matanya memandang penuh ketajaman sampai-sampai pintu di hadapannya seperti ingin ia lubangi. Apa-apaan itu tadi? Menutup pintu seenak jidatnya. Kagami meremas-remas udara dengan gemas. Si Aho satu itu, berani sekali dia membanting pintu di depannya!
Oh, seandainya saja tidak ada peraturan yang melarang adu tonjok di dalam rumah ini. Kagami pasti sudah melancarkan niatnya pada Aomine sejak awal. Sayangnya rumah ini punya banyak sekali aturan bodoh yang membuatnya harus sabar-sabar agar tidak lepas kendali.
Bayangkan saja, dihari pertama ia sampai di tempat ini Kagami sudah disuruh menghapal seribu lima puluh dua pasal aturan rumah. Mengerti kan penderitaannya? Aturan rumah mana yang punya banyak sekali pasal begitu? Penjara? Ya, Kagami memang seperti berada di dalam penjara cinta. Lupakan kata terakhir. Sungguh, itu sama sekali bukan pikiran Kagami.
Serius, sampai hari ini. Hari keempatnya berada dan tinggal di rumah ini, Kagami baru bisa menghapal enam dari seribu lima puluh dua pasal. Bunyinya, seingat Kagami itu kira-kira seperti ini. Pertama, semua penghuni rumah harus mandi di bawah pukul enam pagi. Oh, Kagami tidak bisa menghentikan kedua alisnya yang terangkat penuh keheranan saat membaca aturan yang satu ini untuk pertama kalinya.
Yang kedua, harus mengucapkan sapaan pada penghuni lain saat bertemu. Dan untuk apa yang ini juga harus dimasukan ke dalam peraturan. Sumpah, nggak penting banget jika Kagami pikir-pikir.
Lanjut pada pasal ketiga, Jika ingin meninggalkan rumah, penghuni harus memberitahukannya pada Leader selaku Akashi Seijuro ataupun Manager Kepala Momoi Satsuki.
Dan, yang membuat Kagami meruntuk adalah pasal keempat, Dilarang untuk berkelahi ataupun memulai perselisihan di dalam rumah ini. Shit! Artinya ia tidak bisa melakukan pembalasan apapun pada Si Tuan PK menyebalkan itu. Dan jangan tanya apa pasal kelima dan keenam yang Kagami hapal, ia terlalu malas untuk mengingatnya lagi, ditambah masih banyak sekali pasal yang harus ia hapal seluruhnya.
Sudahlah, Kagami tidak mau mengingat lebih jauh lagi mengenai hal itu. Hari ini saja yang harus ia lakukan sudah banyak sekali. Dari menonton semua CD album di dalam koper hitam yang diseretnya, mempelajari gerakan dan tentu saja ia harus mencobanya.
Bagaimana ia bisa berakhir seperti ini, eh? Oh, Kagami tentu saja sangat ingat siapa pelaku yang membuatnya berada dalam situasi ini. Himuro Tatsuya yang katanya akan mengunjunginya, yang entah 'akan'nya itu kapan.
Ponsel dan seluruh peralatan komunikasinya juga disita dengan alasan agar konsentrasinya selama latihan dan mempersiapkan diri tidak terganggu. Setidaknya selama sebulan, itupun masih katanya.
Kagami menghela napasnya lelah, dengan enggan ia membuka pintu dengan tulisan 'Ruang Latihan' di atasnya –yang akhirnya bisa ia temukan setelah berkeliling rumah sambil melihat peta ditangan. Ia berjalan masuk dan menyeret koper ditangannya. Namun matanya mengerjap saat melihat seseorang sudah berada di dalam ruangan penuh lapisan cermin besar itu.
Dengan T-shirt merah yang sudah basah oleh keringat. Orang yang tak lain dan tak bukan adalah pemilik surai merah dan matanya yang aneh karena punya dua warna berbeda.
Kagami meruntuk. Kenapa ia harus bertemu dengan Akashi di sini?
"Taiga, kenapa berdiri saja di sana?"
"A –ah. Tidak apa-apa," jawab Kagami saat Akashi menyadari keberadaannya. Ia menutup pintu ruangan dan berjalan masuk lebih dalam.
Berusaha mengacuhkan Akashi yang terus menatapnya, Kagami menaruh koper yang dibawanya di pojok ruangan dan mulai mengeluarkan beberapa keping CD di dalamnya. Lalu ia menoleh keseluruh ruangan.
"Ada apa, Taiga?" tanya Akashi. Ia menghentikan acara mengelap keringat dilehernya begitu melihat Kagami seperti orang kebingungan.
Kagami menggaruk pipinya, "Aku disuruh untuk menonton semua CD album ini, tapi aku tidak melihat sesuatu yang bisa kugunakan untuk err... menontonnya?" ucapnya tidak yakin.
"Maksudmu DVD player?" tanya Akashi.
Kagami mengangguk.
Akashi berjalan mendekati cermin besar di depannya sampai berhenti tak lebih dari beberapa senti dari cermin itu. Ia menginjak lantai di bawah kakinya lebih keras sebelum menoleh pada Kagami, "Bawa kemari beberapa CD itu," perintahnya. Kakinya mundur beberapa langkah saat lantai yang dipijaknya bergerak naik dan menunjukan kotak mesin DVD yang menyatu dengan lantai.
Kagami tidak bisa menghentikan matanya yang menatap penuh minat pada benda itu. Ok, di rumahnya ia juga punya. Tapi, sebegitu canggihnya kah sampai bisa tersembunyi di lantai begitu?
"Taiga, apa kau mendengarku?"
"O –oh. Ya," Kagami menghentikan pemikirannya itu saat suara Akashi kembali terdengar. Ia bangkit dari duduknya dengan membawa beberapa CD ditangannya dan berjalan mendekati Akashi. Ia menyodorkan empat CD ditangannya pada Akashi, membiarkan pemuda merah itu memilih satu diantaranya.
CD itu dia masukan ke dalam DVD yang setelahnya kembali masuk ke dalam lantai. Kagami mengerutkan alisnya, tidak terjadi apa-apa?
"Kau bisa dance?" tanya Akashi.
Kepala Kagami mengangguk sekali, "Ya, kurasa,"
"'Iya' atau 'kurasa', aku tidak terima dua jawaban," ucap Akashi. Si merah itu menyentuhkan telapak tangannya pada cermin dan ajaibnya cermin di ruangan itu langsung berubah gelap dengan angka-angka dan tulisan kecil muncul dibekas telapak tangan Akashi.
Meski bingung dengan keadaan sekitarnya, Kagami tetap menjawab Akashi, "Mungkin, bisa. Tapi hanya dance biasa, bukan yang breakdance atau sejenisnya," ucap Kagami.
Akashi tak berucap apapun setelahnya, hanya jari telunjuknya saja yang begerak menyentuh cermin berangka di depannya. Tak lama kemudian, cermin gelap di depan Kagami dan Akashi menunjukan sebaris kalimat yang berbunyi 'Akashi Elektra Corporation' dan sebaris kalimat lain di bawahnya, 'Kiseki no Sedai, Suck My Hurt'. Seketika cermin gelap itu menunjukan enam orang yang lima diantaranya Kagami kenali berdiri seperti patung dengan pakaian serba hitam sebelum lantunan musik terdengar dan mereka mulai bernyanyi.
Tapi, yang berambut biru halus itu siapa?
"Perhatikan, terutama gerakan pemuda berambut biru di samping Shintarou," ujar Akashi.
Kagami mengangguk dengan mata yang terus menatap cermin besar yang dengan ajaibnya lagi berubah menjadi layar besar berfungsi seperti televisi di depannya. Itu sebelum tangannya ditarik oleh Akashi.
"Eh?"
"Aku tidak menyuruhmu untuk melihatnya dari jarak enam puluh senti. Kau berencana merusak matamu, Taiga?"
Kagami manut saja saat di ajak berjalan kesisi lain ruangan, tidak lain berada beberapa meter dari layar besar tadi. Kagami duduk saat Akashi terlebih dahulu mengambil duduk dan menyandari kaca gelap di belakangnya.
Matanya kembali fokus pada gerakan keenam orang di dalam layar yang saat ini tengah bergerak lincah seiring dengan musik yang terdengar. Tidak menyadari sepasang mata yang tak teralih untuk tetap menatapnya.
"Apa pendapatmu, Taiga?"
Kagami menoleh saat Akashi tiba-tiba saja bertanya padanya. Namun yang ia dapat adalah Akashi tetap melihat lurus ke depan. "Pendapat, maksudnya?" tanya Kagami tidak mengerti.
"Tentang apa yang sedang kau lihat, tentu. Dan itu bukan aku," ucap Akashi.
"O –oh," Kagami tersenyum kaku, jawaban apa itu?
Kepala Kagami kembali pada posisi semula, melihat ke depan lagi sebelum menjawab ucapan Akashi. "Sedikit, entahlah. Aku merasa gerakannya seperti kadang sesuai musik, tapi kadang juga tidak. Aku tidak mengerti,"
Akashi melirik Kagami sejenak sebelum berdiri dari duduknya, "Bagian mana?" tanyanya seraya berjalan mendekati layar besar di depan.
"Setelah reff pertama, dan saat musiknya sedikit turun," jawab Kagami. Ia memperhatikan secara seksama saat Akashi melakukan sesuatu entah apa yang membuat video yang tengah berputar berhenti dan berganti dengan bagian awal.
"Di sini?"
Kagami mengangguk.
"Kemari," ucap Akashi. Pemuda bersurai merah darah itu berjalan ke tengah ruangan. "Lakukan seperti yang ada di sana," titahnya.
Alis merah bercabang berkerut ringan meski kakinya tetap berjalan mendekati Akashi. Kagami menggaruk tengkuknya, ia memandang bergantian Akashi dan video di layar besar. "Err... yang mana? Gerakan keenamnya lebih banyak berbeda," tanyanya bingung.
"Gerakan siapa yang menurutmu paling kau bisa, Taiga?"
Kagami berpikir sebentar dan melihat kembali keenam figur di dalam layar, "Mungkin, Aomine," jawabnya.
Akashi tersenyum tipis tanpa Kagami sadari, pemilik merah dan emas itu berjalan kembali mendekati layar, "Aku akan memutar ulang, lakukan gerakan Daiki dari awal,"
"O -Okay," Memang Kagami tidak sepenuhnya mengerti, tapi saat video kembali diputar dari awal. Kagami melakukan apa yang diminta Akashi padanya. Ia menggerakan tubuhnya sesuai dengan gerakan satu dari keenam orang di dalam video itu. Gerakan Aomine.
Hanya sesekali Kagami berhenti saat gerakan Aomine terlalu cepat untuk ia ikuti dan kembali menari lagi.
"Salah,"
"Eh?" Gerakan Kagami berhenti sepenuhnya. Manik merahnya memandang Akashi dengan bingung. Salah? Maksudnya gerakannya ada yang salah?
"Apa gerakanku salah?" tanya Kagami.
Akashi berjalan mundur hingga punggungnya menabrak kecil layar kaca di belakangnya. "Saat kau bernyanyi, atau menari pastikan matamu terarah pada penonton. Dalam keadaan ini, aku. Melihat penonton merupakan salah satu cara menyampaikan perasaan dan pesan dalam lagu dan tarian yang kau lakukan. Lakukan lagi dari awal," ujar Akashi. Ia kembali memutar video pada awalnya.
Kagami mengangguk dan kembali melakukannya dari awal, melakukan seperti yang Akashi beritahukan padanya. Ia menatap Akashi dan bergerak sesuai dengan apa yang dilihatnya di layar. Membagi penglihatannya antara gerakan Aomine dan kembali memandang pemilik dwi warna itu.
Jika Kagami boleh jujur, saat ini ia sangat merasa tidak nyaman. Apa lagi dengan dirinya harus menatap pemuda itu. Ukh... apa harus Kagami katakan jika mata Akashi yang terus melihatnya itu membuatnya merasa sedikit –gugup? Bukan apa-apa, hanya saja siapapun pasti akan gugup juga risih jika ditatap oleh seseorang yang tidak terlalu kau kenal dalam waktu lama.
Terlebih melihatnya tanpa berkedip sama sekali. Itu menggangu! Sungguh!
Kagami mengalihkan perhatiannya dari Akashi pada layar, cukup lama karena gerakan Aomine saat ini semakin sulit. Ini bagian reff pertama yang menurutnya sedikit tidak pas dengan musik. Dan Kagami masih merasa tidak pas meski ia sendiri sedang bergerak mengikutinya.
"Hentakan tanganmu di sini,"
"E –eh?"
Kagami tidak bisa untuk tidak terkejut saat Akashi tiba-tiba saja sudah berada di belakangnya dan memegangi kedua tangannya. Menggerakannya sesuai kehendak pemuda itu.
"Dengarkan liriknya baik-baik, bukan musiknya. Kau tidak bisa bergerak seperti Daiki jika masih terfokus pada lantunan musik. Hentakanmu terlalu lembut, lihat baik-baik. Gerakan Daiki berbeda dari personil lain, dia 'kasar'," jelas Akashi. Tangannya berpindah untuk memegangi bahu Kagami dan menekannya ke bawah. Sesuai gerakan yang ada di layar.
"Euh... –aku mengerti," ucap Kagami dengan anggukan kaku. 'Ini terlalu dekat!' dalam hati Kagami meruntuk. Akashi melihatnya saja sudah membuatnya gugup, apa lagi pemuda itu berdiri di belakangnya seperti ini. Kembalilah ketempatmu Akashi, ini sangat menyulitkan untuk Kagami.
Kagami menekuk sebelah kakinya persis setelah Aomine dalam video melakukannya dan berputar ke belakang. –Tunggu! Apa tadi?
Brugh!
Dan ia menabrak Akashi dengan keras sampai keduanya terjatuh duduk di atas lantai. Kagami meringis dan mengelusi pantatnya yang terasa sakit. Matanya melihat Akashi yang juga ikut jatuh karena ulahnya.
"Hati-hati saat kau bergerak, Taiga," ucap Akashi. Pemuda itu terlihat mengelusi siku tangannya yang ia gunakan untuk menahan tubuhnya saat jatuh.
Kagami segera berdiri dan menjulurkan tangannya pada Akashi. "Maaf, apa kau baik-baik saja?" tanyanya cepat. Kenapa ia bodoh sekali sampai membuat mereka jatuh seperti tadi sih?
Akashi menatap tangan yang terjulur padanya cukup lama. Hal yang membuat Kagami semakin tidak tahu harus apa. Mungkinkah Akashi marah? Namun saat Akashi menggenggam tangannya dan menerima bantuannya untuk kembali berdiri, Kagami sedikit bernapas lega. Ia tidak mungkin memulai suasana tidak mengenakan dengan senior sekaligus leadernya dihari keempat dirinya bergabungkan? Itu sangat tidak lucu sama sekali. Bukan pilihan yang ia ambil pula. Terima kasih.
"Mulai dari awal, ulangi lagi. Empat kali, dengan melihat layar dan perhatikan baik-baik. Setelah itu ulangi lagi tanpa melihat sampai aku merasa cukup," ujar Akashi. Ia melepaskan genggaman tangannya pada Kagami dan berjalan kearah layar. Mendudukan dirinya di sana.
Kagami hanya mengangguk dan tidak bertanya lebih lagi. Cukup tadi saja ia melakukan kesalahan. Terserah Akashi saja. Ia mulai kembali menari saat layar kembali menunjukan bagian awal video.
.
.
.
.
.
Kagami membaringkan tubuhnya di lantai dengan lemas. Napasnya memburu, mengambil oksigen cepat-cepat untuk mengisi kembali paru-parunya yang kehilangan pasokan. Sepertinya ia terkena serangan asma dadakan. Ia menatap langit-langit ruangan dengan sesekali meneguk ludahnya. Satu setengah jam. Ia tidak menyangka melakukan gerakan-gerakan tarian seperti itu bisa sangat melelahkan. Bahkan sampai membuatnya tak bisa menggerakan kakinya saat ini. Seluruh tubuhnya keram.
Baru semenit lalu Akashi mengatakan cukup setelah entah keberapa kalinya Kagami mengulang gerakan yang sama terus menerus tanpa berhenti. Bahkan pemilik dwi warna itu seakan tak peduli saat melihat cucuran keringat Kagami sudah membasahi lantai hampir disetiap tubuhnya bergerak mengikuti ritme musik.
Sekarang ia tahu satu hal tentang orang seperti apa Akashi Seijuuro itu. Dia kejam kalau sedang membimbing latihan.
"Taiga,"
Kagami menoleh pada Akashi yang saat ini tengah berjalan sembari membawa lembaran handuk putih ditangannya. Pemuda itu juga terlihat banyak mengeluarkan keringat karena ikut menari untuk mengajarinya. Mungkin dia lebih lelah dari Kagami karena harus ekstra tenaga dua kali lipat untuk memberikan intruksi setiap Kagami salah mengambil langkah.
Wajah Kagami seketika merasakan dingin yang menyejukan dan sesuatu yang menghalangi penglihatannya. Ia menggunakan tangannya untuk menyingkirkan apapun itu dari wajahnya. Alisnya sedikit berkerut saat tahu benda itu adalah handuk yang tadi dibawa Akashi.
"Biarkan handuk itu diwajahmu," ujar Akashi. Ia mengambil duduk di sebelah Kagami berbaring dan menutupi surai merahnya dengan handuk lain yang ia bawa.
"O –oh. Terima kasih," Kagami kembali menaruh handuk dingin berwarna putih itu diwajahnya dan membuang napasnya lega saat rasa sejuk kembali menyapa pori-pori wajahnya. Ia menutup matanya untuk meresapi rasa sejuk dari handuk itu.
"Dari caramu bergerak, apa sebelum ini kau pernah berlatih dengan seseorang?"
Kagami mengangguk, "Aku pernah membantu temanku menjadi backing saat dia kekurangan orang. Sebenarnya aku bisa dance juga karena selalu dipaksa menemaninya untuk mengcover beberapa dance dari BoyBand yang dia suka," jawab Kagami tanpa memandang langsung Akashi ataupun menyingkirkan handuk yang menutupi wajahnya. Lagi pula tangannya sudah sangat lelah sekali untuk sekedar melakukan itu.
"Bagaimana cara dia mengajarimu?" tanya Akashi. Ia melirik Kagami dari celah handuk yang menutupi sebagian wajahnya.
Kagami berpikir sebentar, "Aku tidak yakin, tapi dia tidak terlalu memaksakan untuk bisa gerakan yang dia tunjukan saat itu juga," ucapnya.
"..."
Alis Kagami berkerut saat tak ada tanggapan apapun dari Akashi. Ia memutuskan untuk membangunkan tubuhnya meski masih terasa sakit sekali dibagian pinggang namun sebuah tekanan di bahu kirinya membuat ia kembali terlentang.
Kagami mengerjap, "Akashi?" panggil Kagami bingung. Ia tahu yang menekan bahunya barusan itu Akashi karena tidak ada siapapun di ruangan ini selain mereka berdua. Ia menggerakan tangannya untuk menyingkirkan handuk diwajahnya tapi gerakan Kagami terhenti saat suara berat terdengar begitu dekat ditelinganya.
"Jadi menurutmu aku pemaksa, Taiga?" Tengkuk Kagami merinding saat hembusan napas Akashi menerpa kulit lehernya.
"A –ah. Aku tidak pernah bilang seperti itu," sanggah Kagami. Titik-titik keringat jatuh dikulit lehernya sedikit membuat Kagami tidak nyaman. Seberapa dekat sebenarnya pemuda bersurai merah itu dengannya? Kenapa ia bisa merasakan hawa panas lain yang bukan berasal dari tubuhnya saat ini. Dan kenapa ia merasa suasananya berubah jadi awkward begini?
Kagami meringis saat bahunya diremas kencang hingga ia bisa merasakan kuku-kuku Akashi menembus baju yang dipakainya. Shit! Sebenarnya apa yang terjadi di sini? Ia tak bisa melihat bagaimana Akashi karena penglihatannya terhalang oleh handuk.
"A –Akashi –"
"Ada dua hal yang perlu kau tahu dariku, Taiga," ucap Akashi lagi.
Kagami merasakan bulu kuduknya kembali merinding. 'Ini sebenarnya ada apa?!' batin Kagami sudah histeris.
"Pertama, berikan jawab hanya apa yang aku tanyakan. Aku tidak suka berbelit-belit," tekanan dibahunya semakin kencang. Kagami yakin akan ada bekas cetakan kuku Akashi dikulitnya nanti.
"Kedua –"
Kagami tak lagi merasakan kain handuk menutupi sekitar dagu dan pipinya meski matanya masih tertutupi oleh handuk itu, "Panggil aku Seijuuro saat hanya ada Aku di dekatmu," hawa panas saat Akashi bicara menerpa sebagian wajah Kagami yang tak tertutupi handuk.
Kagami meneguk ludahnya saat akhirnya tahu seberapa dekat jaraknya dengan pemuda bermarga Akashi itu.
.
.
.
.
.
"Murasakibara, bukankah Akashi sudah melarangmu untuk membawa makanan ke ruang latihan? Kau memang ingin Akashi menyitanya –nodayo,"
"Hmm...Aku lapar, Midochin. Apa Midochin mau menggendongku kalau nanti aku pingsan –tteba?"
"Untuk apa aku menggendongmu? Lebah baik kubiarkan kau saja –nanodayo. Pingsan tidak akan membunuhmu, dan Aomine, apa yang kau lakukan pada Kise sampai anak itu mengurung dirinya lagi di kamar?"
"Apa urusanmu? Aku hanya memberinya sedikit pelajaran, dia saja yang terlalu manja,"
"Tapi akan jadi masalah kalau Akashi tahu dia tidak latihan hari ini,"
"Biarkan saja dia kena hukum. Lagi pula kau ibunya sampai mengurusi dia terus?"
"Apa kalian ini masih SD –nanodayo?"
Cklek!
.
.
.
"..."
Tiga orang yang tengah bercakap-cakap-ria tiba-tiba saja mendadak berubah hening saat pintu bertuliskan ruang latihan di atasnya dibuka oleh salah seorang dari mereka. Ketiganya kompak bungkam dengan pandangan mengarah ke dalam ruangan. Tepatnya pada dua orang yang ada di dalam ruangan itu.
Akashi yang tengah mengelap keringat ditangannya dengan handuk dan satu orang lagi yang terduduk diam dengan sebelah tangannya yang menutupi bagian bawah hidung dan bibirnya. Kagami Taiga, personil baru boyband mereka yang menunjukan ekspresi seperti orang terkena shock berkelebihan.
"Sintarou, Daiki, Atsushi, kalian tidak masuk?" Akashi menatap ketiga anggotanya yang terdiam di ambang pintu. Menyadarkan ketiganya dari pikiran mereka masing-masing.
"Kau sudah di sini, Akashi?" Midorima yang pertama bersuara, ia menaikan kacamata berframe ungunya dan meletakan tas ransel hitam bergantungan kunci sebuah lonceng besar yang dibawanya di pojok ruangan. Diikuti oleh Murasakibara yang langsung duduk dan mengunyah keripik kentang dari bungkusan ditangannya.
"Ya, aku mengajari Taiga lebih dulu. Kurasa dia akan lebih cepat menguasai semuanya jika aku sudah menemukan cara yang tepat untuk melatihnya," jawab Akashi.
Ketiga orang yang baru saja datang itu langsung berwajah keheranan saat melihat Kagami tiba-tiba saja berdiri dan berjalan cepat ke arah pintu. Bahkan pemuda bersurai merah gelap itu menabrak Aomine yang menyandar pada pintu dan tanpa berkata apapun langsung pergi dari sana.
"OI!" Aomine berseru kesal. Namun Si penabrak tak menghentikan langkahnya sekalipun dan semakin menjauh. Ia berdecak, "Kenapa dengan Si Bodoh itu?" tanyanya penuh kekesalan. Pertanyaan yang sama pula mungkin berada dibenak teman seanggotanya yang lain.
Tapi mungkin, mungkin Aomine tahu kenapa Kagami bersikap seperti itu.
Tanpa mereka sadari, satu orang diantara mereka tersenyum di balik handuk putih yang digunakan untuk menyeka keringat yang menyucur dipelipisnya. Menyapu helaian merah yang melekat basah pada keningnya.
.
.
.
.
.
.
Kise baru saja keluar dari kamarnya saat melihat Kagami berlari menyusuri koridor dan melewatinya begitu saja. Sepertinya pemuda itu bahkan tidak menyadari kehadiran Si pirang. Merasa ada yang salah dengan pemuda itu, Kise berteriak memanggilnya dan mengikuti Kagami. Ia berhasil menggapai satu tangan Kagami sebelum pemuda itu masuk ke dalam kamarnya.
"Kagamicchi, ada apa-ssu? Kenapa kau berlari seperti tadi?" tanya Kise. Namun Kagami hanya diam dengan wajah yang menunduk, membuat Kise tak bisa melihatnya.
Kise yang khawatir merendahkan tubuhnya dan berusaha untuk melihat wajah pemuda itu.
"Kagami... cchi..." tapi yang terjadi justru Kise memandang tanpa berkedip begitu melihat wajah Kagami yang dipenuhi semburat merah dan mata yang menatap kearahnya dengan setengah kesal, namun tetap berusaha menutupi wajahnya dengan tangan.
"..." Si pirang merasa pikirannya blank seketika. Kenapa... kenapa... kenapa... "GYAHAA! Kagamicchi! Jangan tunjukan wajah seperti itu padaku-ssu!"
Dan Kise mendorong tubuh Kagami memasuki kamar, tangannya dengan cepat menyentuh kenop pintu Kagami dan menutupnya dengan keras.
Selanjutnya Si pirang berlari sekencangnya ke pintu kamarnya sendiri dan menutup pintu itu dengan tak kalah keras.
BLAM!
Kagami cengo. Dengan tangan mengelus-elus pantatnya yang mendarat di lantai dengan begitu 'sreg'nya, Kagami memandang pintu yang baru saja ditutup Kise dengan alis berkerut. Kenapa tiba-tiba Kise berteriak dan mendorongnya seperti tadi?
Untuk sejenak ia melupakan alasan kenapa ia sendiri berlarian di koridor karena kebingungannya dengan sikap Si pirang.
.
.
.
.
.
.
Kucuran air hangat yang membasahi tubuh Kagami membuat pemuda yang baru neginjak umur enam belas tahun itu mengesah lega. Ia menengadahkan wajahnya, membiarkan air menjatuhi wajahnya dengan pijatan-pijatan kecil.
Bibirnya mengeluarkan suara ringisan saat air mulai membasahi bahu kirinya. Ia menoleh dan menyentuh bahunya dengan tangan lainnya. Iris merahnya menyipit ketika melihat bekas yang cukup dalam menggores kulitnya. Bibirnya mengesah. Apa kan ia bilang, bekas kuku Akashi benar-benar tercetak jelas dibahunya.
Jemari Kagami berganti untuk menyentuh bibirnya. Kenapa ia tadi –
"ARRRGH!" Kagami mengacak rambutnya kasar dan membentur-benturkan kepalanya ke dinding. Tenang saja, pelan kok. Kagami masih sayang sama jidatnya kalau nanti sampai benjol. Ia hanya sedang menyalurkan sedikit rasa frustasinya saja. Bukan apa-apa, hanya saja ia benar tidak mengerti kenapa Akashi –ukh... Kagami tidak ingin menyebutkannya. Dan sebaiknya pun ia tidak memikirkannya lagi.
Menggelengkan kepalanya beberapa kali, Kagami kemudian mematikan shower mandinya dan beranjak dari lantai basah ke tempat yang lebih kering. Ia memutuskan untuk berendam saja hari ini. Tubuhnya juga terasa sangat pegal sekali karena latihan. Lagi pula masih ada waktu dua jam sebelum makan malam.
Oh, dan mengenai makan malam. Kagami jadi ingat pasal lain dari aturan di rumah ini. Kalau tidak salah, pasal dua belas. Semua penghuni diwajibkan untuk mengikuti makan malam tanpa terkecuali dan sesuatu tentang, Makan malam dimulai pada pukul tujuh begitulah kira-kira. Jadi sebelum itu, ia bisa sedikit membuat tubuhnya lebih rileks dengan berendam di bathtub.
Kagami mengambil satu botol sabun cair di pinggiran bathtub. Alisnya menukik ringan saat melihat aroma sabun yang tertewa di atas botol. Aroma mawar.
"..."
'HAAAAAAH?'
Apa-apaan ini maksudnya?
Kagami mengambil botol lain dari pinggiran bathtub dan membaca satu persatu kata yang tercetak pada kemasannya. Matanya melotot dikala aroma yang sama tertulis dengan jelas dikemasan botol.
Shampoo mawar. Sabun mawar. Pembersih wajah... SARI MAWAR?!
"Apa-apaan ini?!" jerit Kagami. Ia melempar semua botol yang dipegangnya ke lantai. Kenapa semuanya serba mawar begini? Apa tidak salah? Bukankah kemarin seingatnya semua botol-botol itu sama dengan semua yang biasa ia gunakan? Kenapa tiba-tiba jadi serba mawar semua?
Kagami mengusap wajahnya dengan sangat niat. Ia mengambil kembali botol sabun yang sudah dilemparnya. Terpaksa, hanya untuk kali ini ia akan memakainya. Karena tidak mungkin ia mandi tanpa memakai sabun. Maaf saja, ia tidak sejorok itu.
Setelah acara mandinya selesai, Kagami keluar dari kamar mandi dengan sehelai handuk yang melilit pinggangnya. Wajahnya masih terlihat tidak senang mengenai kenyataan tentang bau tubuhnya yang kini semerbak sewangi mawar. Ia mengutuk siapapun yang sudah mengganti sabun mandinya.
Kakinya melangkah dengan menghentak mendekati lemari pakaian dan membuka lemari berukuran besar di depannya dengan tidak berprikepintu-lemarian. Tangannya mencomot asal satu T-shirt merah dan celana jeans selutut dari sana. Memakainya secepat kilat lalu menggunakan handuk yang tadi melilit pinggangnya untuk mengeringkan rambutnya yang basah.
Kagami kembali menggerutu saat rambutnyapun sama-sama berbau mawar. God! Seharusnya ia tidak usah memakai shampoo itu. Dengan masih menggerutu, Kagami melirik jam dinding berwarna hitam yang tertempel di dinding putih kamarnya. Tiga puluh menit, sebaiknya ia keluar sebelum seseorang mendobrak pintu kamarnya seperti kejadian dua hari lalu atau saat ia berada di kamar Murasakibara.
Klik!
Kagami melepas pintu kamarnya dan memutar tubuh ke belakang. Ia melihat ke bawah dimana Midorima dan Kise sudah duduk disofa dengan televisi, sepertinya menunggu yang lain. Ia juga melihat Murasakibara yang baru saja turun dari tangga dengan bungkusan keripik kentang ditangan, seperti biasanya. Tapi ia tidak melihat Aomine maupun Akashi, entahlah. Mungkin memang belum di sana.
Kagami berjalan menyusuri depan kamarnya dan berbelok ke depan kamar Akashi. Ia meruntuk karena harus berbelok sana-sini hanya untuk sampai ke tangga. Ada apa dengan rumah ini sampai-sampai hanya ada satu tangga saja untuk ke lantai satu? Bukannya lebih praktis kalau di depan kamarnya juga ada satu?
Langkah Kagami terhenti saat melihat Aomine baru saja keluar dari kamarnya dengan sebuah map coklat besar ditangannya. Mata Kagami memicing tajam, masih dendam dengan kejadian yang lalu.
Oh ya, Kagami masih belum memaafkan soal sekuhara itu.
Ia kembali berjalan dengan masih melihat Aomine yang juga berjalan mendekatinya, tepatnya mendekati tangga.
"Oi,"
Kagami melirik pemuda dim yang ia biarkan berjalan satu tangga lebih dulu darinya. "Apa?" tanya Kagami.
"Kau masih berhutang satu maaf untuk heelsku," ujar Si biru tua dengan langkah yang menuruni tangga.
JEGEER!
UAPAH KATANYA?!
Kagami merasakan urat kekesalan dikeningnya sudah lebih dari berkedut tapi hampir meledak. Si Aho itu bilang apa? Berhutang maaf? MAAF?! Bukannya malah terbalik? Harusnya dia kan yang berhutang maaf padanya? Kenapa sekarang malah ia yang harus meminta maaf pada pemuda itu?
Kagami meremas-remas pegangan tangga dengan kesal.
"Minechin, apa itu?" Murasakibara menatap penuh penasaran pada map ditangan Aomine yang baru saja mendudukan dirinya dikursi sebelahnya. Si surai ungu itu memiringkan kepalanya untuk melihat lebih dekat map coklat itu.
"Hasil kerjaku. Aku harus mencetak beberapa untuk tahu mana yang bagus saat nanti dikirim ke majalah," jawab Aomine yang tumben-tumbenan tidak sesinis biasanya. Pemuda bersurai biru tua itu menyeringai tipis, "Kau mau melihatnya?" tanya Aomine.
Murasakibara hanya mengangguk polos penasaran. Mata ungunya melihat bagaimana tangan Aomine membuka lilitan benang pada map itu dan mulai memasukan tangannya ke dalam. Dan saat tangan itu menaruh lembaran kertas berdasar putih yang dipenuhi gambar, mata Murasakibara mengerjap.
"Aaaa... Minechin, kenapa Kisechin diikat?" tanya Murasakibara. Alisnya berkerut bingung saat melihat gambar dikertas itu adalah foto Kise yang tengah terlentang di atas kain biru tua yang sengaja dikerut-kerutkan. Memakai pakaian ketat dari kulit berwarna hitam dan surai pirang panjangnya dibiarkan menyebar disekeliling, sebagian menutupi sedikit dadanya yang menyembulkan 'belahannya'. Wajah Kise terlihat sayu dengan tatapan coklatnya yang begitu tajam menghujam ke depan. Kaki dan tangannya diborgol rantai yang terpisah-pisah.
"IIIIEEEEEEEE!" teriakan membahana itu berasal dari Kise yang dengan cepat dan terpontang-panting melompati sofa yang didudukinya saat mendengar ucapan Murasakibara. Tangannya mengambil lembaran foto di atas meja makan dengan terburu-buru.
"Jangan dilihat! Aominecchi hidoiiiiiii! Kenapa kau mencetaknya-ssu?! Kau sudah janji tidak akan memperlihatkan ini pada siapapun! Kenapa kau malah bilang akan mengirimnya ke majalah juga-ssu!" teriak Kise. Matanya sudah berkaca-kaca dan terarah pada Aomine yang hanya mengorek kupingnya karena polusi suara yang didengarnya.
"Aominecchi!"
Aomine berdecak, "Terserah padaku kan? Aku yang membuatnya. Kau hanya model, jadi diam," ucap Aomine.
"Tapi kau memalukan-ssu!" ucap Kise tak terima. Berita baik, karena Kise Ryouta ternyata punya yang namanya rasa malu.
"Dengar Ryuuki," Aomine menatap malas Kise, "Kau modelku, diam dan tidak ada bantahan,"
Wajah Kise memerah, "A –aku bukan Ryuuki-ssu! Walaupun difoto ini aku Ryuuki, tapi tetap saja tidak boleh! Aominecchi tidak boleh mengirimnya ke majalah-ssu!"
Aomine menyumpal telinganya dengan headset.
"Aominecchi!"
"Kise, kau pikir ini di hutan-nanodayo? Menyerah saja. Lagi pula gemini memang sedang berada di urutan ke tujuh hari ini, di bawah virgo. Kau tidak akan menang melawan Aomine-nodayo," ujar Midorima.
Kise mewek di tempat.
"Kisechin berisik," tambah Murasakibara.
Si pirang pundung di pojokan.
Kagami yang baru sampai di bawah tangga speechless di tempat. Katakan padanya ia masih berada di bumi dan yang ada di depannya ini bukan alien-alien absurd seperti halnya kelakuan mereka.
"Kenapa kau berdiri saja di bawah tangga, Taiga?"
Kagami berjengit pelan saat mendengar suara yang begitu dekat dengan telinganya. Ia menoleh dengan cepat dan menemukan Akashi berdiri tepat di belakangnya. Bulir keringat menggantung dikeningnya saat merah dan emas mengarah padanya sebelum memandang kearah depan dengan kaki yang berjalan melewati Kagami.
"Ryouta, Daiki. Apa kalian lupa apa yang kukatakan?" tanya Akashi. Ia mendudukan dirinya di kursi meja makan.
"Demo, Akashicchi. Aku tidak mau fotonya dikirim ke majalah-ssu," rajuk Kise.
Akashi menghela napasnya, yang paling tua dari anggota Kiseki no Sedai itu sudah terlalu sering mendengar keluhan Kise. "Baiklah, Daiki tidak akan mengirimnya. Sekarang duduk dan kita mulai untuk makan,"
Aomine berdecak kesal namun tak mengatakan ketidak terimaannya dengan ucapan Akashi, pemuda itu hanya memandang Kise dengan picingan tajam yang dibalas dengan wajah mesem-mesem penuh kemenangan dari Si pirang.
"Ha'i!" Kise beranjak dari tempatnya pundung dan mendudukan dirinya di sebelah Murasakibara.
Cara Akashi menyelesaikan ke-absurd-an anggotanya yang lain memang bisa dibilang cukup efektif. Kagami yang melihatnya hanya bisa menanamkan baik-baik catatan kecil dibenaknya, Akashi itu seperti ibu yang bisa mengatur anak-anaknya.
Pemuda merah gelap itu akhirnya berjalan mendekat setelah ketidak jelasan homematenya berhenti. Ia mendudukan dirinya di depan Kise dengan Midorima yang juga baru saja duduk di samping kanannya. Si hijau itu terlihat memakai sesuatu di lengannya, seperti lonceng besar? Kenapa orang ini terus-terusan membawa sesuatu yang tidak lazim setiap hari sih?
Makan malam terasa sangat hening setelah itu, Kise juga tidak berceloteh macam-macam begitu juga yang lainnya. Sama halnya dengan suasana makan dari tiga hari yang sudah Kagami lewati. Sepertinya acara makan memang sudah biasa dalam keheningan, Kagami juga hanya tinggal mengikuti arus dan menikmati makanan yang tersaji di depannya.
Menikmatinya, tentu saja Kagami ingin sekali menikmati makannya jika saja tidak ada berpasang mata yang terus curi-curi pandang kearahnya saat ia makan.
Ada yang salahkah darinya sampai-sampai orang-orang ini terus meliriknya begitu? Kagami mulai risih dan tidak lagi berselera untuk menyantap sup di depannya.
.
.
"Etto... Kagamicchi?"
Kagami menoleh pada Kise yang memanggilnya. Makan malam sudah selesai beberapa menit lalu, tapi Kagami masih memilih diam di tempatnya. Sementara Midorima sudah duluan pergi ke kamarnya, Aomine juga sudah berselonjor nyaman di atas sofa dengan joy stick ditangannya bersama Murasakibara yang malas-malasan bermain dengannya. Dan Si leader, Kagami melihat Akashi pergi menjauh dengan ponsel ditelinganya beberapa saat lalu. Jadi tinggal dirinya dan Kise saja yang berada di meja makan.
"Apa?" tanya Kagami.
Kise beranjak dan mengambil duduk lebih dekat dengan Kagami. Alis pirangnya terlihat menekuk dengan hidung yang kembang kempis mengendus-endus.
"Yappari na," ujar Kise dengan ekspresi seperti mengerti akan sesuatu. Setelah itu wajahnya tampak sumringah dengan senyuman cerah.
Kagami menaikan sebelah alisnya dengan heran. 'Yappari... nani?'
"Aku suka baumu-ssu," ujar Kise. Si pirang itu berdiri dari kursi dan melangkahkan kakinya menuju tangga.
'... Hah?' Kagami mengerjap tidak mengerti, butuh tiga detik untuknya bisa lepas dari tampang melongo. Ia menoleh pada Kise yang saat ini tengah menaiki tangga seraya bersenandung. Ok, Kise positif gila bagi Kagami.
Sepasang iris biru dalam melirik Kagami dari ekor matanya. Bibirnya tertarik cukup tajam untuk membentuk seringai tipis mendengar apa yang diucapkan Kise beberapa saat lalu pada pemuda merah gelap itu.
.
.
.
.
To be continue~
.
Susuna Urutan ruangan dalam rumah Kiseki no Sedai :
Lantai 1 ;
* Ruangan 1 ; Masuk dari pintu langsung di hadapkan pada ruangan luas yang berfungsi sebagai ruang berkumpul, ruang makan, ruang santai dan ruang televisi, Tvnya nempel sama dinding ruangan 3. Bisa dibilang ruang serba guna. Di sebelah kanan ada tangga untuk naik ke lantai 2.
* Ruangan 2 ; Hanya disekat dinding, disebelah kiri ada ruang dapur tanpa pintu. Di dalamnya juga ada kamar mandi, tapi nggak besar.
* Ruangan 3 ; Di sebelah kanan ruang serba guna dan di bawah tangga ada ruangan sebesar lima kali enam belas meter untuk menaruh semua pakaian show, sepatu, aksesoris dan lain-lain. Pokoknya semua kebutuhan untuk tampil. Isinya mirip butik karena saking banyaknya baju-baju yang digantung.
* Ruangan 4 ; Masuk dari pintu, ruang serba guna dan di depannya lagi ada ruang tertutup yang biasa digunakan kalau tiba-tiba ada meeting, keperluan berdiskusi dan lain-lain. Biasanya disebut ruang kerja. Bentuknya, besar empat kali lima, setelah masuk pintu, di dinding dekat pintu ada papan putih untuk menulis, di tengah ada meja oval dengan sepuluh kursi disekelilingnya.
* Ruangan 5 ; Ada di belakangnya ruangan 4, di sebelah kanan ruang 4 ada jalan yang langsung menuju ke ruangan ini. Ruang 5 digunakan khusus untuk manager kepala. Isinya ada dua lemari buku, satu meja dan satu kursi, juga satu set sofa beserta mejanya di bagian kanan dari pintu masuk.
* Ruangan 6 : Masih di jalan yang sama, -jalannya lurus- setelah ruangan 5 ada pintu kaca yang mengarah ke taman yang luasnya sekitar dua belas kali dua belas meter, di taman ada pijakan kaki dari bata yang dibuat seperti huruf 'G', 'O', dan 'M' lalu ada kursi taman di bagian paling jauh dari rumah. Ada empat lampu taman di masing-masing pojoknya. Belok kanan dari taman ada satu ruangan, nah ini nih ruangan ke-6. Ruangan ini penuh alat-alat buat nge-gym. Ruang gym ini ada dua lantai, dibuat transparan dari kaca. Jadi bisa liat pemandangan diluar.
* Ruangan 7 : Ada di sebelah ruang gym alias cuma dibatasin sama jalan setapak dari bata dan ruangan ini nggak nyatu sama rumah. Ruang ini bisa dibilang ruang olahraga, kaya lapangan basket versi internasional, volly, bulu tangkis dan lainnya.
* Ruangan 8 ; Ini ruangan sebelah kanan ruang olahraga. Sama-sama nggak nyatu sama rumah. Ruang ini nih yang namanya ruang latihan. Di dalemnya cuma ada ruang kosong dan dindingnya dilapisin cermin semua. Termasuk bagian pintunya. Kalau nggak terbiasa bisa pusing karena kebanyakan bayangan.
* Ruangan 9 ; Ini tempat agak mojok dikit, tadi kan kalau jalannya ke kanan ada ruangan gym, nah ini kalau belok kiri ada ruangan ke-9. Ini tuh kamar tamu, atau biasanya digunain sama Momoi kalau lagi nginep. Meskipun dia ini manager, tapi dia jarang banget ada di rumah. Dia punya rumah sendiri soalnya.
Lantai 2 :
Catatan ; lantai dua ini khusus buat kamar para anggota Kiseki no Sedai. Jadi dari ujung kanan kiri ampe ujungnya lagi itu kamar semua. Urutannya ;
Ruangan 1 : Dari ujung pas naek tangga, paling pojok itu kamar Midorima. Kamarnya sebelahan ama ruang gym di lantai 2, jadi kalau dia mau ke situ tinggal buka pintu di pojokan dan udah deh nyampe. Kamar dia nggak gede-gede amat alias paling 'sempit' dari yang lain karna Si ijo itu mintanya begitu.
Ruangan 2 ; Di depan kamar Midorima ada kamar Kise, tepatnya di atas ruang kerja di lantai satu. Pintunya juga ngadep langsung ke pintu depan rumah. Kamar Kise makan dua ruangan di lantai bawah, ruang kerja sama kamar tamu. Kebayang nggak tuh luasnya?
Ruangan 3 ; Nah, di sebelahnya kamar Midorima ada kamar Aomine. Ini orang kamarnya rada aneh karena bikin rumah jadi sedikit melenceng dari cetak biru. Kamar Aomine ada tiga ruangan –kamar mandi nggak diitung-. Paling depan, di belakang sama di lantai bawah. Buat apa aja? Itu sih masih rahasia. XD
Ruangan 4 ; Ini kamar Murasakibara, ini orang kamarnya persis depan tangga di sebelah kamar Aomine. Luasnya juga nggak terlalu gede, tapi masih gedean dia dari pada Midorima. Kenapa bisa di bilang nggak terlalu gede? Karena Akashi tau kalau Si bongsor ini paling ga bisa rapiin kamar sendiri.
Ruangan 5 ; Ini nih! Ruang 5 ini punya Si leader alias Akashi. Ruangannya paling luas diantara personil lain karena kamarnya itu bentuknya U. Penjelasannya ; pintunya ada di bagian kanan kalau ngadepnya pas dari pintu masuk rumah. Nah, pas masuk ini nggak langsung ke kamarnya, tapi ruang baca dan nyimpen buku-bukunya dia, dichapter 3 kemaren Aomine sempat masuk ke sini. Setelah ruangan itu baru deh kamar Akashi yang bentuknya manjang sampe ada ruangan lagi di bagian ujung itu kamar mandi. Jangan tanya luas kamar mandinya Akashi kaya apa. -_-
Ruangan 6 : Terakhir ini kamarnya Si macan alias Kagami, tadinya ini kamar Kuroko. Bisa dibilang kamarnya ini nyepi sendiri di sini kiri rumah. Di apit ama kamar Kise dan kamar Akashi. Jadi kamar Kagami itu letaknya ditengah-tengah. Pintunya ada di pojok depan, di deket kamar mandinya Akashi. bentuk kamarnya juga manjang. Tapi nggak segede Kise.
Jadi tengah rumah itu bolong, dari atas bisa liat ke bawah dengan leluasa. Dan masing-masing sisi atas buat jalan kaya koridor dipasangi pembatas. Tangga ke lantai bawah cuma ada satu terkecuali tangga di ruang gym. Dan tentu aja nggak mungkin kan kalo lantai atas dibiarin melompong nggak dipagerin, kalo tiba-tiba ada yang kepeleset n jatuh gimana? /lupakan paragraf ini/
Nah, kebayang nggak tuh gimana bentuk rumahnya dari penjelasanku?
Oia, karena tangga ke lantai 1 cuma 1, karena itu juga Kagami harus muterin kamar Kise atau kamar Akashi baru bisa ke lantai bawah. /Sumpah ngeribetin banget/ dan pas mau ke ruang latihan tadi tuh, Kagami lewat kamar Kise –padahal deketan lewat kamar Akashi- otomatis dia juga lewatin kamar Ahomine sama Mukkun. :3
A/N : Ada yang tau apa yang dilakukan Akashi sama Kagami?
