Disclaimer: Naruto ©Masashi Kishimoto

Naruto selalu milik Masashi Kishimoto dan semua karakter yang ada dalam cerita juga murni milik Masashi Kishimoto, dan cerita ini hanyalah fiksi belaka buatan saya tanpa maksud komersial atau apapun itu

I Hate Monday! ©DarkBlueWinter

Rating : T

Genre : Mysteri; Horror

Warning : OOC ; Jalan cerita gak nyambung ; Miss-typo ; d.l.l

.

.

RnR please?

.

.

I Hate Monday!

Chapter 4: Yes, I'm weak!

Syattt!

Ada suara sayatan dimana-mana. Aku masih menutup mata, benar-benar pasrah akan jadi seperti apa aku nantinya di tangan temanku sendiri.

Sepersekian detik, aku diseret tak manusiawi. Aku tak tahu kemana, mau diapa. Aku terlalu takut untuk membuka mata. Cairan bening tak bisa kupungkiri keluar dari sela pelupuk mataku yang menutup.

Tiba-tiba leherku dicengkeram erat dan mulutku dibekap. Dadaku ngilu, jantungku tak berhenti berdetak kesetanan. Parahnya tak ada satu kata pun yang dapat terucap dan satu tindakan untuk melawan. Aku merelakan diriku mati saat ini juga.

Jduak!

Satu jitakan mendarat di kepalaku.

"Dasarbodoh!" dan suara familiar terdengar di telingaku, "Sudahku bilang jangan bertingkah gegabah!"

'Suara ini...' aku menerka dalam hati. Suara berat nan dingin barusan memberi sinyal di otakku satu wajah pasti dari pemiliknya. Refleks aku membuka mata dan rupanya dugaanku benar. Empunya adalah Uchiha Sasuke.

"Sasukeee!" teriakku miris dan bahagia bersamaan. Lagi-lagi orang ini menyelamatkanku.

Kuperhatikan raut wajah marah yang ditujukan untukku. Rambutnya acak-acakan, pakaiannya berantakan dan kulitnya lecet serta memar. Bisa kutebak dia bertarung habis-habisan karena ulah bodohku ini.

Aku tertunduk sedih juga malu. Lagi-lagi orang yang terlanjur mendapat label menyebalkan di kepalaku yang menolongku kesekian kalinya. Parahnya dia mempertaruhkan hidup untuk orang yang mengabaikan perintahnya.

Kucengkeram erat-erat tepian rokku berusaha keras agar air mataku tidak memberontak keluar. Tapi rasa bersalah yang sepaket dengan ketakutan berhasil merubuhkan benteng pertahananku. Aku menangis—terisak sejadi-jadinya.

"A-aku... m-maaf... a-aku..." tak bisa kuselesaikan kalimatku. Terlalu kelu bibirku untuk menyampaikan yang mengganjal di hati. Tak tahu harus mulai dari mana mencerna semua kronologi na'as ini.

TAP

Telapak tangan Sasuke mendarat di kepalaku. Detik berikutnya, tangan putih porselennya mengacak-acak rambutku, tidak lama tapi cukup untuk meninggalkan jejak berantakan pada mahkota pirangku.

Aku menatapnya tapi dia membalikkan badan—memunggungiku.

"Aku hanya bisa melakukan itu untuk menenangkanmu. Aku... tidak tahu caranya menghibur orang yang sedih." ujarnya. Terdengar berat dan frustasi.

Sejenak aku terdiam mencerna kalimatnya. Ada rona merah yang seketika muncul di wajahku saat menyadari maksudnya. Tanpa ragu, aku menjatuhkan badanku di punggungnya—maksud memeluk si makhluk putih pucat. Air mata yang memang belum berhenti mengucur kini tertambah derasnya. Perasaanku acak-acakan sekarang. Terharu karena spesies dingin seperti Sasuke mampu menyentuh hatiku, marah karena telah membuat situasi semakin rumit dan juga sedih karena tidak tahu kapan semua ini berakhir.

Kulingkarkan erat-erat tanganku pada leher Sasuke yang sama sekali tidak bereaksi. Aku tidak peduli dengan isi kepalanya tentangku sekarang. Aku hanya butuh menenangkan diri seperti ini atas ketakutan melihat teman-temanku saling membunuh dengan hasrat membunuh yang luar biasa kuat.

Aku hampir saja terlelap namun tubuhku terhempas karena gerakan gesit Sasuke yang tiba-tiba berdiri.

Dorrr

Satu tembakan melayang dari pistol di tangannya. Aku hanya bisa mengaga dibuatnya. Sejak kapan senjata api itu ada padanya? Sejak kapan ada orang lain mengintai kami? Lagi, bagaimana bisa instingnya bekerja baik sekali? Ah Uchiha memang patut diacungi jempol.

Aku memberanikan diri menghampiri korban tembak dari Uchiha Sasuke. Seragam yang sama dengan kami ditambah wajahnya yang familiar. Tidak salah lagi dia adalah murid Konoha Senior High School. Pertanyaannya, mengapa dia mengincar kami? Aku bergidik ngeri menatap sang korban.

"Ambil senjatanya dan cepatlah kemari," lagi-lagi dia memberi perintah, "Kita incaran mereka sekarang." Tambahnya yang melahirkan tanda tanya baru di kepalaku.

"Tidak mau!" aku menolak.

"Tsk! Keras kepala sekali!"

Bak angin, pergerakan Sasuke Uchiha tidak dapat ditangkap ekor mataku. Entah bagaimana bisa pistol dan shotgun milik korban sudah ada di tangannya sekarang.

"Untukmu." parahnya, dia melemparkan pistol ke arahku.

Aku heran namun gesturedarinya berkata bahwa itu senjata untukku.

'Apa-apaan ini?!' umpatku dalam hati.

Aku tidak dilahirkan untuk membunuh. Aku tidak pernah diajarkan membunuh. Terlebih ini kali pertama aku memegang senjata yang membahayakan nyawa. Dan sekarang, Uchiha Sasuke mengisyaratkanku untuk hal ini? Jangan bercanda!

"Apa aku harus melakukannya?Apa aku harus bertempur dengan temanku sendiri? Apa aku harus menodai tanganku dengan darah temanku sendiri?!" akhirnya aku bersuara juga, menumpahkan perasaanku.

"Lupakan saja, mereka bukan temanmu lagi." dan respon Uchiha Sasuke hanya sesimpel ini. Jelas sekali dia menyulut api emosiku.

"Tapi..." Kalimatku menggantung saat seorang laki-laki berlari ke arah kami dengan gergaji di tangannya.

Aku langsung bisa mengenal dirinya lewat segitiga di kedua pipinya. Itu kiba. Taring bengis menghiasi wajahnya. Ekspresinya luar biasa buas.

Syutt!

Dia, pemuda itu—Kiba jatuh tersungkur di lantai setelah suara 'door' terdengar.

Itu Sasuke. Satu tembakan shotgunnya berhasil melumpuhkan pergerakan temannya sendiri. Aku tercengang dibuatnya. Ini kali kedua dia membunuh tanpa raut bersalah. Badanku gemetar menyaksikan.

"K-kenapa?"Tanyaku benar-benar frustasi.

"Sudah kubilang tidak ada teman di sini." Terangnya datar.

Tidak ada ekspresi kasihan pun sedih yang di tunjukkan sang Uchiha terhormat. Sedangkan aku hanya bisa menelan ludah setengah mati menahan agar keseimbanganku terjaga sepenuhnya.

Masih bertanya-tanya aku dalam diam, kenapa dan mengapa. Terlalu banyak hal gila yang tak muat lagi ditampung logikaku. Sampai-sampai aku ikut gila dibuatnya.

Meletakkan ujung pistol di pelipis, menghirup napas untuk terakhir kalinya adalah keputusan bulat tergila yang kubuat sepanjang hidupku.

Tidak bisa lagi aku berlama-lama seperti ini, hidup di dunia liar yang nyata senyata-nyatanya sekolahku sendiri. Aku mangsanya dan temanku binatang buasnya. Daripada aku membunuh atau dibunuh, lebih baik aku yang mengakhiri hidupku sendiri.

Aku sudah siap. Apalagi tidak ada tanda-tanda Sasuke Uchiha akan melakukan pencegahan terhadap hal brutal yang kulakukan ini.

'Klik' Selamat tinggal dunia—aku tersenyum, "Lemah ya, aku~"

.

.

.

TBC

.

.

.

A/N: Akhirnya setelah sekian lama bisa update juga chapter 4 nya hehehe. Saya mohon maaf atas semua typo-typo yang mungkin masih banyak. Kritik dan saran sangat dibutuhkan. Happy reading minna!