Last Chapter
Dan wajahku semakin memerah padam saat kulirik Yesung ssi yang juga sedang tersenyum puas ke arahku.
Aigooo... ada apa denganmu Wookie-ya~~
Perfect Life part 1
By :Ela-Kyuhyunnie
Pairing :Main=Yewook. Slight KyuMin, HaeHyuk
*Yesung PoV*
Sungguh hari yang sangat menyenangkan. Yap, tentu saja, karena hari ini akan kulalui bersama nae Wookie. WookieKU. Sudah lima tahun aku menunggu saat ini. Saat dimana akhirnya aku bisa kembali muncul di hadapan Wookie kecilKU dan memilikinya. Ya, aku sudah memastikan kalau ia akan menjadi milikku, bukan karena perjanjian itu, -perjanjian itu hanya salah satu umpan- tapi lebih karena aku sangat yakin bisa membuat Wookie kecilKU jatuh ke pelukanku.
Ah, sepertinya sangat tidak sopan kalau aku tak memperkenalkan diriku pada kalian semua. Namaku Kim Yesung. Itu adalah namaku yang sekarang. Sedangkan dulu, -9 tahun lalu- namaku adalah Kim Jongwoon. Dan di saat itulah, aku, yang masih berusia 14 tahun, menjadi teman sepermainan Ryeowook, yang akrab kupanggil Wookie, tunanganku saat ini.
Dan berbeda dengan anak seumuranku lainnya, saat itu aku sudah sepenuhnya menyadari kalau aku terpikat pada bocah kecil nan manis yang bernama Kim Ryeowook –namanya saat itu- dan aku sudah mengklaim kalau dirinya akan menjadi istriku saat aku sudah dewasa. Dan sampai saat ini, janji itu masih kupegang teguh, dan kuyakinkan pada kalian semua, janjiku padanya akan menjadi kenyataan dalam waktu yang tak lama lagi.
Memang sangat menyedihkan ketika appaku mendapatkan jabatan yang lebih tinggi, namun kami sekeluarga harus pindah ke London, karena appa akan menjadi kepala cabang perusahaan di London. Mau tak mau, aku yang saat itu belum bisa apa-apa, harus mengikuti appa pindah ke London, meninggalkan Wookie kecilKU. Namun tak pernah sedetikpun selama 9 tahun kehidupanku di London, aku melupakan Wookie kecilKU. Aku terlalu possesif pada apa yang sudah menjadi milikku. Dan Wookie adalah salah satu milikKU yang berharga.
Dan 4 tahun kemudian, saat akhirnya aku –secara perlahan- mulai menggantikan posisi appa di kantor –aku sudah lulus perguruan tinggi di usia 18 tahun omong-omong- berita duka datang menghampiri. Appa, umma dan sopir pribadi kami, Kim ahjusshi, meninggal dunia dalam kecelakaan mobil disaat perjalanan pulang.
Itu adalah saat terburuk dalam hidupku. Di usia yang belum matang, aku harus kehilangan Appa, Umma dan juga salah satu pelayan setia kami di waktu yang bersamaan, dan di saat yang sangat tak terduga pula. Jika saja saat itu aku tak teringat kalau aku masih memiliki Wookie kecilKU, sudah dipastikan aku akan langsung menyusul kedua orangtuaku saat itu juga. Dan dengan berbekal bahwa aku masih memiliki Wookie saja, aku akhirnya bisa melalui kesedihan karena kehilangan keluargaku.
Hal paling mengejutkan yang membuatku cukup shock adalah, saat aku membantu membereskan barang-barang milik Kim ahjusshi, aku menemukan selembar foto. Foto yang membuatku kembali teringat kenangan beberapa tahun lalu. Foto Wookie kecilKU dengan ummanya, yang sepertinya diambil secara diam-diam. Dan saat kubuka buku dimana foto itu diselipkan, ternyata itu adalah sebuah buku harian. Buku harian milik Kim ahjusshi. Dan aku makin terkejut saat mengetahui kenyataan kalau Kim ahjusshi, pelayan setia keluarga kami semenjak kami hidup di London, adalah ayah kandung Wookie kecilKU!
Seharian itu kuhabiskan demi membaca buku harian milik Kim ahjusshi. Tak sopan memang, tapi ini semua menyangkut Wookie kecilKU. Dan semua hal yang menyangkut dirinya, adalah urusanku juga. Jadi, mianhae untuk Kim ahjusshi di alam sana, karena kelancanganku telah membaca buku harian anda.
Dan keesokan harinya, aku segera bertolak menuju Seoul, untuk bertemu Wookie kecilKU, dan mengabarkan hal ini kepadanya. Namun bukan WookieKU yang kutemui, yang ada hanya rumah kosong saja yang kudapati disana. Tak perlu waktu lama untuk mendapatkan info kalau Umma Wookie sekarang tinggal di tempat prostitusi di daerah dekat sana. Yang terpikir dalam benakku saat itu hanyalah, kalau Umma Wookie saja tinggal disitu, bagaimana nasib Wookie kecilKU? Aku tak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri kalau sampai Wookie kecilKU ternyata juga ikut andil di bisnis kotor prostitusi. Aku sangat-sangat tak bisa membayangkan kalau Wookie kecilKU akan melayani ahjussshi-ahjusshi hidung belang di luaran sana!
Dengan perasaan kalut aku segera mendatangi daerah prostitusi tempat umma Wookie tinggal. Namun ternyata tak semudah itu untuk bertemu Umma Wookie, jadi akhirnya kuputuskan untuk menyewa Umma Wookie semalam. Bukan untuk melampiaskan nafsu, tapi hanya untuk bertanya bagaimana keadaan WookieKU sekarang, dan dimana ia berada, karena di daftar 'pelayan' milik prostitusi ini, aku tak bisa menemukan nama WookieKU. Kuharap tidak adanya nama WookieKu di daftar itu merupakan suatu berita bagus.
Kenyataan pahit menamparku dengan keras saat aku membuat umma Wookie mabuk dan akhirnya ia menceritakan segalanya. SEGALANYA. Termasuk saat yeoja gila itu gelap mata dan membuat Wookie melayani satu pria di waktu ia masih kecil! Ingin rasanya aku membunuh yeoja gila yang dengan teganya mengorbankan tubuh anaknya hanya demi uang! Dan ingin rasanya aku membunuh diriku saat itu juga, karena tak bisa melindungi satu-satunya milikku yang masih tersisa. Melindungi satu-satunya alasan hidupku sampai detik ini. Melindungi permata hidupku. WookieKU.
Aku merasakan perasaan jijik yang begitu hebat.
Bukan, bukan perasaan jijik pada Wookie yang telah 'dimasuki' oleh namja lain, tapi perasaan jijik pada diriku sendiri, yang tak bisa melindungi permata kecilku. Ia, Wookie kecilku, permata hidupku satu-satunya, telah tersakiti sedemikian rupa, dan aku tak ada disana untuk membantunya! Betapa tidak bergunanya diriku ini!
Air mataku menetes perlahan saat perasaan menyesal itu datang menyergap dan terus menggerogoti diriku. Andai bisa kuulang waktu, pasti saat aku pindah rumah mengikuti appa, akan kubawa serta Wookie kecilku, agar ia tak perlu mengalami penderitaan yang disebabkan oleh Ummanya sendiri.
Dan di waktu itu aku bertekad, kalau WookieKU telah mengalami penderitaan sebesar itu, aku akan memberikannya kebahagiaan yang sangat banyak, sampai-sampai tak akan ada satu penderitaanpun yang akan melukainya lagi!
Tahun-tahun setelah itu adalah tahun-tahun yang terasa sangat panjang. Aku harus menahan diri sekuat mungkin agar tak langsung menghampiri WookieKU -yang telah tumbuh menjadi pemuda manis- dan memeluknya erat. Aku sudah membuat sebuah rencana untuk mendapakan hati WookieKU seperti dulu. Baru setelah itu, aku akan mengungkapkan siapa diriku sebenarnya.
Berbekal sebuah rencana yang sudah kupikirkan masak-masak, aku mulai melobi Jung Soo ahjusshi, ah bukan, tapi Jung Soo ahjumma, dan juga para penghuni panti disana, termasuk Sungmin yang memang dekat dengan WookieKU. Jangan tanya darimana aku bisa tahu keberadaan WookieKU, karena saat aku mengurus seluruh aset keluargaku, aku menemukan foto seluruh penghuni Blue Sapphire, dan euphoria menghampiriku saat aku mengenali salah satu sosok penghuni disana. Ya, WookieKU ada di panti yang selama ini di sponsori oleh appaku. Sungguh suatu kebetulan yang sangat kusyukuri.
Melobi Jung Soo ahjumma sama sulitnya dengan melobi Sungmin. Aku harus membeberkan semua masa lalu kami, dan juga semua kenyataan yang kuketahui. Dari buku harian Kim ahjusshi, sampai-sampai aku harus mengantar mereka menemui umma kandung WookieKU. Mataku terbelalak tak percaya saat menyaksikan Sungmin mengguyur umma Wookie yang masih mabuk dengan seember penuh air dingin, dan dilanjutkan dengan tiga tamparan keras dari Jung Soo ahjumma yang disertai dengan umpatan-umpatan kemarahan dari Sungmin.
Aku langsung menundukkan badanku penuh terima kasih, karena mereka telah melakukan apa yang tak bisa aku lakukan. Ya, akupun ingin sekali memukul umma Wookie yang sudah menyengsarakan Wookie kecilKU. Tapi, aku seorang namja, dan bagiku, seorang namja pantang untuk memukul seorang yeoja, seberapapun brengseknya yeoja itu. Ajaran yang ditanamkan oleh ummaku, tak bisa kulanggar meskipun aku ingin sekali memukul umma Wookie.
Setelah kejadian itu, kurasa Jung Soo ahjumma dan juga Sungmin sudah benar-benar mempercayaiku. Karena itu, sebenarnya, perjanjian pernikahan antara aku dan WookieKU itu hanya rekayasa semata. Jung Soo ahjumma tak semudah itu memberikan Wookie padaku, jika bukan WookieKU sendiri yang mau menikah denganku. Sedangkan soal tinggal serumah itu murni usulanku sendiri, yang membutuhkan waktu selama satu tahun penuh rayuan via telepon, email hinggaaku yang datang kesana langsung, baru akhirnya Jung Soo ahjumma menyetujuinya. Dengan syarat kalau kami harus tidur terpisah dan setiap pagi aku harus mengantarkan WookieKU ke Blue Sapphire agar Jung Soo ahjumma bisa mengecek keadaan Wookie.
Selain itu, WookieKU juga harus berhenti bekerja mengantarkan surat kabar dan susu tiap paginya dan semua kebutuhan Wookie juga harus terpenuhi. Selain itu aku tak boleh melarang Wookie jika ia masih ingin bekerja di bar. Awalnya aku menolak mentah-mentah syarat yang terakhir itu, karena yang kutahu, bar adalah tempat yang sangat tak aman untuk namja manis seperti WookieKU. Tapi Sungmin berhasil meyakinkanku kalau bar milik Kyu dan dirinya itu 100% aman. Bahkan pernah suatu waktu, saat aku pulang ke Seoul, aku menyamar menjadi orang lain hanya untuk mengecek keamanan WookieKU di bar itu. Baru setelah itu aku menyetujui syarat terakhir itu. Meskipun kurasa sebenarnya syarat terakhir itu hanya syarat egois dari Sungmin yang juga ingin bisa mengecek keadaan Wookie tiap harinya.
Aku cukup bahagia melakukan negosiasi bersama Jung Soo ahjumma dan juga Sungmin, karena dari seluruh syarat yang diberikan, aku bisa tahu kalau mereka berdua sangat menyayangi WookieKU. Rasanya sungguh menyenangkan, mengetahui kalau masih ada orang yang menyayangi dan mengharapkan kebahagiaan WookieKU. Bahkan saat aku bercengkerama dengan bocah-bocah panti, mereka semua berkata kalau mereka semua sangat menyayangi Wookie-hyung mereka. Itulah yang membuatku sangat menyukai Blue Sapphire beserta seluruh penghuninya. Semua orang disana menyayangi WookieKU dengan tulus, dan mengharapkan yang terbaik untuknya.
Ah, sepertinya sudah cukup membeberkan semua hal ini. Yang pasti sekarang ini aku sedang membawa bekalku –buatan WookieKU pastinya—ke kantin, dan akan menghampiri meja dimana WookieKU berada. Tak butuh waktu lama untuk menemukan tempat WookieKU berada, karena ia duduk berempat bersama Hyukkie –sepupu mudaku- , DongHae –kekasih Hyukkie- , Kyuhyun –suami Sungmin- . Setelah kupikir-pikir, Kyuhyun pasti sudah tahu semua rencanaku, karena rasanya Sungmin bukan tipe yang bisa menyembunyikan sesuatu dari suami evilnya itu.
"Kau tahu Wookie, aku sangat senang akhirnya kau tak lagi tinggal bersama kami, karena itu artinya, aku bisa menikmati masakan dan bekal khusus buatan Minnie-chagiku.."sayup-sayup kudengar suara Kyu yang mengajak ngobrol –atau harus kuanggap mengajak bertengkar?—WookieKU. Lihat saja wajah cemberut namun manis yang diperlihatkan oleh WookieKU itu. Aku tersenyum sekilas, dan tanpa perlu dipersilahkan, aku langsung duduk dan menempatkan diri di depan Wookie.
"Aku juga senang, Kyuhyun-ah. Karena dengan begitu, aku juga bisa mendapat bekal eksklusif buatan nae yeobo." Ucapku santai saat kulihat Wookie tak bisa membalas kata-kata Kyuhyun. "Oh, hai Hyukkie, Donghae." Sapaku pada kedua entitas lain yang juga berada disana.
"Hai hyung. Ah, kebetulan hyung ada disini, aku ingin bertanya." Aku menatap Hyukkie, memntanya melanjutkan apa yang ingin ia tanyakan. "Apa hyung benar-benar mencintai Wookie, atau cuma main-main saja? Karena kalau hyung cuma berniat mempermainkan Wookie, biarpun hyung adalah hyungku, aku tak akan pernah memaafkan hyung!" Ucapan Hyukkie membuat senyumku mengembang. Satu lagi kutemukan orang yang juga menyayangi WookieKU.
"Apa kau tak bisa mempercayai hyungmu ini, Hyuk?" jawabku sambil mengacak-acak rambutnya penuh sayang. Sedang korbanku segera menepis tanganku dan merapat manja pada kekasihnya sambil memanyunkan bibirnya lucu.
"Dan Wookie, kurasa sebaiknya mulai saat ini kau mendaftar di klub musik ataupun di klub paduan suara." Ucapku pada Wookie sambil mulai memakan bekalku, sambil tak lupa memuji keenakan rasa masakan WookieKU. Karena rasanya menyenangkan sekali saat kulihat ada semburat merah mewarnai kedua pipinya.
"Wae?"
"Karena selain memang sebenarnya suaramu bagus dan akan sia-sia sekali kalau tak di salurkan bakatmu, mulai sekarang kau berangkat dan pulang sekolah bersamaku, dan kecuali kau mau hanya diam trepaku menungguku menyelesaikan seluruh sisa pekerjaanku, kurasa, itu pilihan satu-satuny yang tersisa. Arrasseo?"
Aku tak mengindahkan seperti apa tanggapannya atas ucpanku barusan. Karena kupikir Wookie-ku bukan tipe namja bodoh, kurasa dia bisa tahu kalau ada kebenaran dalam ucapanku. Selain itu, kalau dia masuk ke klub, dia bisa makin menambah teman-temannya. Bukankah memiliki seribu teman itu belum cukup?
Aku langsung beranjak pergi meninggalkan mereka semua saat bekal makan siangku sudah kuhabiskan, setelah sebelumnya mengecup pipi Wookie-ku dan mengucapkan terima kasih atas bekalnya yang enak. Dan sepertinya tak perlu menjadi peramal untuk menebak seperti apa rekasi yang dikeluarkan oleh Wookie manisku itu. Hmmh, menyenangkan sekali hari ini~ Dan sepertinya, hari-hari setelah ini juga akan sangat menyenangkan.
-TBC-
Apdet cepet nih Chingu~
tapi mian kalau pendek, soalnya author sebenernya lebih suka bikin yang Wookie PoV sih... lebih unyu aja rasanya :3
Dan chapter ini memang kubikin khusus buat nyeritain kisahnya Yesungie-oppa~
Mian lagi karena nggak sempet bales ripiuw yang ada dan kalau-kalau banyak sekali typo di chapter ini, author lagi agak keburu-buru soalnya..heheheh...
akhir kata, Ripiuw yaaaa~
dan Gomawo~~
