It's Okay, It's Love
By : Kim Saera
Maincast : Oh Sehun Xi Luhan
Genre : Angst/ Romance
Rated : T
Length : Chaptered
Note : GS. Typo anywhere. Don't like? Go away. Happy reading!
Summary :
Mengapa ketika aku berusaha melepas bayangmu, kau datang secara tiba-tiba? Memberikan daftar kenangan indah (lagi) yang kauberi untukku.-Sehun-
Aku saat-saat kenangan itu ada. Kapan bisa kita ulangi lagi kenangan itu? Kenapa tidak bisa? Saat aku dan kamu berubah menjadi kita. Tanpa ada lagi dingin disaat aku menatap ?-Luhan-
oOo
"Sehunnie, kau kah itu?" isaknya pelan. Chanyeol sungguh tidak tega. "Aku Park Chanyeol, Luhan."
"Hiks.. aku tahu Sehunnie tidak akan datang memelukku lagi.. hiks."
Chanyeol menenangkan Luhan yang menangis. Lama mereka berpelukan hingga akhirnya Baekhyun datang. Matanya menatap Luhan yang sesenggukan di bahu Chanyeol. Dia mendengar Luhan meneriakkan nama Sehun.
Baekhyun terduduk.
Kalau ia tahu, Luhan menjadi seperti ini ia tidak akan merestui hubungannya dengan Sehun. Luhan menjadi Luhan yang dulu.
Baekhyun meneteskan airmatanya. Menatap Luhan penuh kasih sayang. Luhan tersenyum dalam tangisannya, kemudian terjatuh dan pingsan. Terakhir yang Luhan lihat adalah Baekhyun yang menjerit keras. Ya tuhan.
oOo
.
.
.
Chapter 3
.
.
.
Baru bangun, ada rasa ngilu di sekujur tubuh, ada aroma rindu di sepanjang ruang. Yang lapar pagi ini bukan perut. Yang lapar ialah mata ini, yang terhalangan kilometer, untuk sekadar menatapmu. Bila cinta hanya datang sekali, biarkan puisi menjadikan indahnya abadi. Sunyi; abadi dengan keheningan.Yang lahir dari sepi malam adalah doa-doaku, yang jatuh cinta untuk mengamini dirinya sendiri.Jendela itu wajahmu, yang membuat rindu-rindu kecil masuk kedalam ingatan dan memenuhi dadaku.Jarak ini adalah pintu, yang harus kubuka berkali-kali untuk menuju pelukmu.
-Oh Sehun-
Author side
Luhan merasa kepalanya sangat pusing, seperti akan pecah. Dengan malas, dia membuka mata. Sudah pagi rupanya. Luhan menggeliat pelan, mengusap tengkuknya. Menuju kamar mandi.
Luhan melihat pantulan dirinya di cermin. Matanya bengkak, hidungnya merah. Dia sangat rapuh sekarang. Luhan tampak tak memedulikannya, ia bergegas mandi. Mungkin berendam adalah ide terbaik untuk menenangkan pikiran. Luhan mengambil garam mandi beraroma cokelat-nya dan segera berendam. Dia menutup mata, mencoba menenangkan pikirannya. Tapi yang terjadi malah kenangannya bersama Sehun lagi yang terlintas di benaknya.
-Flashback-
"Aku mandi dulu, Hunnie." Luhan beranjak mengambil peralatan mandinya dan berjalan menuju kamar mandi.
"Aku duluan, sayang." Dengan santainya, si albino itu masuk ke dalam kamar mandi. Dia bisa melewati Luhan dengan cepat. Luhan menggerutu. "Oh, kau mau mandi bersamaku?" tanya Sehun dengan senyuman mesum.
"Arasseo. Arasseo. Mandilah duluan. Cepat."
Sehun tertawa. Sudah pasti Luhan tidak ingin mandi bersamanya. Itu memalukan, katanya. Sementara Sehun mandi, Luhan bingung mencari garam mandi cokelat-nya. "Ah, habis. Aku lupa." gerutunya.
Luhan membuka laci meja kamarnya. Mencari-cari apa masih ada persediaan garam mandinya. Kalau habis, ini gawat. Luhan tidak memiliki sabun.
"Ah, ini dia." Katanya girang saat menemukan garam mandi beraroma mawar. Luhan segera keluar kamar. Menunggu Sehun.
Lima menit kemudian, Sehun keluar. Dia mengeringkan rambutnya menggunakan handuk. "Aku cepat kan, deer?" Luhan merona dengan panggilan itu.
"Ya. Dan cepat menyingkir." Luhan segera masuk ke kamar mandi dan berendam.
Selesai mandi, Luhan melihat Sehun sedang menonton tv sambil tiduran. Luhan menghampirinya, Sehun segera bangun. Mengendus aroma tubuh Luhan, menenggelamkan kepalanya di antara ceruk leher Luhan. Menggesek-gesekkan hidungnya. Luhan menggelinjang, "Geli, Sehunnie."
"Aromamu berubah, deer." Sehun menatap Luhan intens yang membuat pipi gadis itu bersemu merah.
"Sabun-garam mandiku habis."
"Jangan ganti sabunmu, aku lebih suka tubuhmu yang beraroma cokelat." Sehun tersenyum sambil mencium bibir Luhan, melumatnya pelan. Sehun menempelkan dahinya dengan dahi Luhan. Tersenyum. "Oke. Ayo beli sabunmu kalau begitu." Ujarnya menarik tangan Luhan keluar apartemen membeli sabun.
-Flasback End-
Luhan segera keluar dari bathub. Memakai handuk kimononya dan mengeringkan rambutnya. Luhan keluar dari kamarnya dan menemukan Chanyeol sedang tidur di sofa dan Baekhyun yang sedang memasak di dapur.
"Kau memasak, Baek?"
"Sudah bangun, Lu?" mereka bertanya bersamaan. Kemudian saling bertatap muka dan tertawa.
"Masak apa? Memang kau bisa?" Luhan yang pertama kali mengakhiri sesi tertawa paginya dengan Baekhyun.
"Yah, kau mengejekku. Aku selalu ikut pelatihan memasak setiap minggu dengan eomma. Dan hasilnya, meskipun tak seenak Kyungsoo tapi aku yakin aku bisa memasak."
"Ah, Kyungsoo. Apa kabar dia dengan Kai sekarang?"
"Jepang terlalu jauh, ya." Baekhyun menghela napas.
Luhan tertawa. "Jauh kalau kau berjalan kaki, Baekki. Tapi kalau kau naik pesawat mungkin sedikit lebih dekat."
"Kau mau mencobanya?" Luhan mengernyitkan dahi. "Berjalan ke Jepang."
"Hahaha. Konyol." Luhan tertawa lepas. Baekhyun sedikit bangga bisa membuat Luhan tertawa lagi.
"Oh, omong-omong. Morning, Baek. Aku tadi belum mengucapkannya kan?"
"Good morning too, Baby deer." Luhan terperanjah. Ia ingat panggilan itu. "Lulu?" Baekhyun menyadari perubahan raut wajahnya.
"Wae?"
"Oh, gwaenchanha?" nada khawatir Baekhyun terdengar jelas di telinga Luhan.
"Eo." Jawabnya singkat. Luhan segera duduk di kursi meja makan dan menelepon seseorang.
"Yeobeoseyo."
"Luhannie. Ya tuhan, aku merindukanmu."
"Bagaimana kabarmu? Aku merindukan masakanmu, Kyungsoo-ya. Kapan kau pulang?"
"Kabar baik, sayang. Dan lebih baik lagi, aku pulang ke Seoul minggu depan. Pekerjaan Kai sudah selesai dua minggu lalu. Dan lebih lebih baiknya, aku sedang mengandung."
"Ya tuhan, selamat." Luhan memekik. "Baekhyun, Kyungsoo mengandung."
Baekhyun berlari tergesa-gesa. Menjerit. "Kyungsoo-ya aku merindukanmu. Bagaimana kabar Kai? Bayimu, berapa bulan?"
Terdengar tawa nyaring di seberang. "Haha, aku juga begitu merindukan kalian. Maaf jarang menelepon, tagihan disini mahal sekali. Bayiku, empat bulan."
"Wahhh, chukkae." Ucap Baekyun riang. Luhan menimpali. "Ya Tuhan, Kyungsoo. Kau tidak perlu memikirkan tagihan."
"Kita harus berhemat, sayang."
Luhan dan Baekhyun hanya geleng-geleng. Begitu dewasa sahabat mereka ini. Meskipun dia yang paling muda di antara mereka bertiga.
"Baekhyun memasak Kyunnie, aku akan membantunya. Kami tutup telponnya dulu, ne?"
"Oh, tentu. Selamat makan, baby-deul. Aku pulang seminggu lagi, jemput di bandara yaa."
"Pasti." Baekhyun dan Luhan bersamaan. Luhan menutup telponnya. Mendengar suara Kyungsoo membuatnya nyaman.
"Oh kau sudah bangun?" tanya Baekyun saat melihat Chanyeol mungucek matanya.
"Selamat pagi, Baekki." Dia menguap. "Selamat pagi, Luhan. Merasa baik?"
Luhan mengangguk. "Lebih baik."
Chanyeol dan Baekhyun tersenyum lega. Luhan tidak tahu betapa repotnya pasangan ini saat kemarin Luhan pingsan. Baekhyun menyuruh Chanyeol agar membawa Luhan ke rumah sakit. Tapi Chanyeol menyuruh Baekhyun agar Luhan dirawat dirumah saja. Benar-benar perdebatan yang serius. Akhirnya Baekhyun mengalah, dan mereka berdua kemudian kelelahan dan langsung ambruk di sofa. Baekhyun di kanan, Chanyeol di kiri. Maksudnya, sofa Luhan ada dua. Jangan salah paham, mereka tidak melakukan apapun.
"Ayo makan." Baekhyun berujar. Menata piring dibantu Luhan.
Chanyeol duduk disamping Baekhyun. "Kalian berpacaran?" tanya Luhan.
"Eo. Iya, Lu." Chanyeol tersenyum lebar.
Luhan tersenyum juga. "Waaahh, senangnya. Chukkae." Sedetik kemudian Luhan mendeath glare Chanyeol. "Ingat. Jangan pernah sakiti Baekhyun-ku, Chan. Sekali kau menyakitinya, kuremukkan semua tulang-tulangmu."
Baekhyun tersenyum geli. "Dia Baekhyun-ku, nona Xiaolu." Chanyeol mengerling nakal.
"Dari mana dia tahu nama itu?" Luhan bingung.
"Fotomu nona." Baekhyun melirik pigura besar dengan foto Luhan yang cantik. Kulitnya putih mulus, rambut keemasan yang dibiarkan tergerai, mata coklat almond-nya yang berbinar-binar, dan senyuman manisnya yang membuat hampir setiap laki-laki meleleh. Dengan tanda tangan dan nama Xiaolu di atas fotonya. "Ayo makan."
"Jalmokeseumnidaa." Luhan.
"Emm, ini enak." Chanyeol.
"Aku benar kan, Xiaolu?" Baekhyun.
Punya banyak teman benar-benar menyenangkan. Iya kan, Luhan?
oOo
Krystal side
Dasar, Oh Sehun. Seenak jidat menyuruhku mencari apartemen sendiri. Kadang bersikap manis, kadang menjengkelkan dan rasanya ingin kuhadiahi mukanya dengan sepatuku.
Tapi aku suka.
Aku tidak suka Sehun yang dingin, aku lebih suka dia yang manis padaku. Kemarin dia manis sekali, bahkan genggaman tangannya erat sekali. Beruntunglah, aku bertemu appa Sehun yang sedang membutuhkan pendonoran ginjal dan berakhir dengan aku yang mendonorkan salah satu ginjalku. Beruntung pula, aku dilahirkan dari keluarga Jung yang berada. Yang membuat pertunangan... oh pertunangan. Aku mencari kalender. Oh Tuhan. Seminggu lagi.
Aku bahkan sudah merasa gugup sekarang.
Aku harus membeli banyak makanan.
Aku keluar dari apartemen dan berjalan dengan santai. Kemudian, mataku membulat. Apa yang sedang bocah itu lakukan di depan apartemen seseorang. Mengintip. Atau menguntit. Atau..
"Oh Sehun?"
Dia terlonjak kaget. Aku ikut menatap pintu apartemen itu. "Kau mengikutiku?" ucapnya dengan tatapan-dingin-yang-menjengkelkan itu.
"Aku tidak mengikutimu. Apartemenku bejarak tiga pintu dari sini." Ucapku menunjuk apartemenku. Matanya membulat. Omo, imutnya.
Dia kemudian pergi dan aku mengikutinya. "Sehunnie, eodiga?"
Dia melotot. "Jangan panggil aku seperti itu!"
"Oh, kenapa? kedengarannya imut." Memang imut kan.
Dia hanya diam. Kemudian, aku merasa ada seseorang di belakang kami. Aku menoleh, mendapati seorang yeoja berambut cokelat panjang yang sedang menatap... Sehun. Apa?
"Luhan?" panggilnya.
"Oh, Sehunnie. Apa kabar?" tanyanya tersenyum.
Apa? Sehunnie? Tunggu. Tidak boleh ada yang memanggilnya seperti itu selain diriku.
"Kau siapa?" tanyaku memberikan ekspresi tersinisku.
"Oh, aku-"
"Temanku." Oh Sehun.
Dia diam sejenak. "Ah, ya. Aku teman Oh Sehun. Senang berkenalan, dan kau pasti-"
"Calon tunangannya." Sambil dengan nada mencibir dan tatapan sinisku.
"Ahh.." dia terlihat menghela napas. "Tapi sayangnya Oh Sehun bukan hanya temanku."
"Apa maksudmu?" tanyaku sambil menoleh ke arah Sehun yang sedang diam dan memasukkan tangannya ke saku celananya.
"Dia sebenarnya pacarku yang direbut." Jawabnya santai. Apa? Pacar? Brengsek.
"Apa maksudmu? Oh Sehun siapa dia?"
"Dan sebenarnya aku masih mencintainya. Hanya saja ada seseorang yang mengrusuhi kenangan manis kami berdua. Aku bukan membenci orang itu, tapi apa aku bisa menyebutnya brengsek? Jalang? Atau perusak hubungan or-"
"Cukup, Luhan." Oh Sehun, aku yang salah lihat atau apa. Tapi tatapannya terlihat sendu.
"Diamlah, kau, brengsek. Aku bicara sedari tadi diputus saja. Orang ini." Sambil menunjukku-_- "Yang menghentikan kita membuat kenangan indah, Hun. Yang membuat asa dan harapanku kandas begitu saja."
"Aku yang sudah tidak mencintaimu, Lu. Jangan salahkan dia." Yuhuu~ dengar itu jalang? Oh Sehun-ku yang membelaku.
Jalang sialan ini yang, namanya siapa? Luhan? Ikan Lohan? Ohoh entahlah, yang penting dia membuat moodku hancur pagi ini. Tapi siapa yang akan menang? Aku. Aku yang akan menjadi tunangan Sehun. Aku yang akan menjadi istrinya. Aku yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya.
"Oh, nona. Kenapa kau putus dengan Oh Sehun? Ah, masalah kasta? Atau ketidak cocokan dirimu dengan Sehun? Ah tapi semuanya sama. Tapi kau dengar? Sehun sudah tidak mencintaimu. Berhentilah berharap dan kau hanya bisa mengenang Sehunmu yang dulu. Atau-"
PLAKK
JALANG SIALAN. Pipiku panas dan aku yakin mataku sudah berkilat marah. Kulihat ke samping dan menemukan Sehun menatap nanar si jalang. "Sehunnie, ini sakit."
"Coba kulihat." Tanganya memegang pipiku.
Aku tertawa dalam hati. "Ah, pelan-pelan, Sehunnie. Ini sakit."
"Sekali kau menyentuhnya lagi. Oh, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan padamu, Xi Luhan. Pergilah dari hadapanku. Cepat."
Sehun, jjang! Kau keren sekali. Aku melihat si jalang itu segera pergi menuju lift, entah aku heran bagaimana dia bisa berada di apartemen mewah disini. Mengunjungi temannya, mungkin?
"Pergilah. Kompres sendiri." Apa? Selalu begitu setelah bersikap manis-_-
"Sehunnie."
"Jangan panggil seperti itu."
"Oh, jadi kau hanya memperbolehkan jalang sialan itu yang memanggilmu."
"AKU TIDAK MAU MENGINGAT PANGGILAN ITU, BODOH." Dia menyentakku. Meninggalkanku yang mematung sendirian dan memasuki lift dengan cepat. Dasar si jalang.
oOo
Author side
Tangan Luhan mengepal. Matanya merah menahan tangis. Ia heran, bagaimana dua orang itu bisa di apartemennya? Apa Sehun sengaja mengajak tunangannya kesana? Untuk memanas-manasinya? Luhan tidak tahu apa yang ada dipikirannya sekarang. Ia hanya mengikuti kakinya sendiri.
Tak lama, Luhan tiba di sebuah cafe, MochiChoco's. Cafe favoritnya dan Sehun. Dia segera duduk dan memesan minuman. Dia terlalu lelah dan sakit untuk menangis. Luhan tidak akan pernah bisa melupakan Sehun. Dia tidak pernah rela melepasnya. Meski Luhan tahu, bukan ia yang melepasnya, tapi Sehun. Ia hanya menatap nanar kursi di depannya dan tersenyum. Mencoba mengingat Sehun yang dulu duduk disitu. Sehun yang dulu tersenyum manis padanya. Ya. Sehun yang dulu.
.
.
Di sisi lain. Sehun berlari mencari Luhan. Ia takut terjadi sesuatu pada orang yang dicintainya itu. Ia berlari ke sungai Han. Tidak ada. Ia berlari ke semua tempat hangout-nya bersama Kai, Baekhyun, Kyungsoo dan Luhan dulu. Nihil. Bahkan, ke tempat yang sering mereka datangi saat nge-date pun dia tidak menemukan Luhan.
Sehun terengah. Membiarkan kakinya membawanya. Sehun berhenti di MochiChoco's, cafe favoritnya dan Luhan. Matanya menangkap seseorang yang sedang tertidur di meja. Masih cantik seperti dulu. Masih memakai gelang couple mereka yang dulu. Masih memesan minuman favorit mereka berdua yang (dulu mungkin). Bedanya, sekarang ia terlihat sangat rapuh.
Sehun duduk pada kursi di depannya. Mengelus pelan surai si rusa. Sehun tersenyum, tulus. "Maaf." Hanya itu yang dikatakannya. Mencium dahi si rusa lama, kemudian pergi.
Langkah Sehun terhenti saat tangannya dicekal seseorang. Rusa-nya. Sehun menatap matanya; mata yang lelah. Seperti sedang memikul beban yang sangat berat. Mereka berdua saling berpandangan, menyampaikan getaran-getaran rindu masing-masing. Dia membuka mulut. Dengan suara serak, si rusa bertanya.
"Kau masih mencintaiku, Oh Sehun?"
.
.
Tbc
A/N :
BIG THANKS yang kemaren udah review, itu bener-bener bikin aku semangat buat nulis ff. Saranghaeyoo{}
Duh, entah kenapa pengen banget apdet cepet karena liat ff jamuran di laptop-_-'
tapi, reviewnya cuman dikit. banyak yang siders ya u,u
gapapa deh, gapapa hiks.. :')
berhubung aku mau un jadi ya apdet cepet gitu, keburu laptop diambil-_-"
yaudah deh. see you next chap yaaa...
