Disclaimer : i own nothing, period!
Waktunya Penjelasan
"Jam berapa sepupumu akan datang?" tanya Caroline untuk kesekian kalinya di pagi itu. ia terus berjalan bulak-balik ke depan dan kembali ke ruang tengah. Fiona asyik menonton acara televisi kesukaannya, Jason bermain di dalam boxnya.
"Jam sepuluh, dia bilang dia akan sedikit terlambat," jawab Dudley juga untuk kesekian kalinya. Sedari tadi Dudley membaca halaman koran yang sama, lebih tepatnya memandang huruf yang ada di koran itu. Ia tau Caroline gugup, tapi Dudley lebih gugup.
"Kenapa harus sepupumu yang menjelaskan semuanya sih? Kenapa tidak kamu saja?" nah kan, lagi-lagi Caroline menanyakan hal itu.
Dudley akhirnya melipat koran, menaruhnya di atas meja, "Aku sudah bilang, aku tidak bisa menemukan kata yang tepat dan tidak bisa membuktikan kebenaran tentang ini padamu atau Fio," jelas Dudley. Ia mengambil sebuah majalah keuangan yang ada di bawah meja dan mulai membukanya.
Terdengar suara mobil berhenti, setengah berlari Caroline menghampiri jendela, Dudley pun menurunkan majalahnya.
"Apa itu mereka?" tanya Caroline, masih melihat keluar jendela.
Dudley tergopoh-gopoh menghampiri Caroline, ikut mengintip keluar jendela kemudian menggeleng. "Bukan, itu bukan mereka," lalu ia duduk kembali di sofa, membaca majalahnya.
Caroline melirik jam dinding di ruang tengah, pukul sepuluh lewat limabelas dan sepupu Dudley itu belum juga datang.
Crack!
Dudley menurunkan majalahnya, "Itu mereka," gumamnya.
Caroline menoleh, "Apa? Aku tidak mendengar suara mobil," Caroline kembali melompat mengintip jendela.
Dudley menghela nafas, ia menyimpan majalahnya di bawah meja. "Karena mereka tidak memakai mobil Caroline,"
"Oh. Jadi mereka berjalan kaki? Kalau begitu rumah mereka tidak begitu jauh,"
Dudley tidak menanggapinya, ia berjalan ke arah pintu depan bahkan sebelum bel dibunyikan. Dudley membuka pintu, Harry berdiri di baliknya, tersenyum lebar dengan Hermione di sampingnya.
"Halo paman Dudley!"
Dudley menunduk, Lily tersenyum riang padanya. "Maaf, dia memaksa ikut," ujar Hermione, ia menggeleng-geleng. Harry terkekeh, "Dia punya sifat keras kepala milikmu," guraunya.
Hermione mendelik, "Dan sikap sok pahlawanmu,"
"Hei, aku memang pahlawan. Order of Merlin kelas pertama," Harry nyengir lebar. Hermione mendengus.
"Masuklah," Dudley menyingkir sedikit dari pintu, agar Harry, Hermione dan Lily bisa masuk. Caroline sudah menunggu tidak jauh dari Dudley, ia menyapa keluarga Potter dan mempersilahkan mereka masuk ke ruang tengah.
"Hei, kau pasti Fiona," sapa Harry ramah. Fiona mengangguk malu.
"Hai aku Lily!" tiba-tiba Lily menyelip di antara Harry dan Fiona sambil mengulurkan tangan, yang dibalas Fiona ragu, "Aku Fiona,"
Lily tersenyum lebar, "Jadi. Kudengar kau Kelahiran-Muggle,"
"Kelahiran—apa?" tanya Caroline dan Fiona bersamaan.
Hermione memutar matanya, Harry menggigit bibir. "Kita belum sampai ke sana Lily," kata Hermione.
Lily menoleh pada ibunya, "Kita belum? Dia belum tau kalau dia seorang penyihir?"
Kerutan di dahi Caroline terlihat semakin dalam, "Seorang—Dudley apa maksudnya ini?"
Dudley menghela nafas, "Mungkin sebaiknya kita duduk dulu dan—kita bicarakan dengan tenang,"
Harry, Hermione, Dudley dan Caroline duduk di kursi, sementara Lily memilih duduk di bawah, matanya menatap layar televisi. Fiona duduk di samping Lily, tapi matanya terarah pada kedua orangtuanya juga Harry dan Hermione yang mulai berbicara serius.
"Dia seorang—apa? penyihir? Jangan bercanda, kita tau penyihir itu tidak nyata," Caroline setengah berseru.
"Ini nyata. Harry dan Hermione seorang penyihir, Lily seorang penyihir, dunia itu memang ada. Dad berusaha untuk tidak memperdulikan hal itu, karena itulah Dad bertingkah seperti itu," jelas Dudley, lengannya mengalung di bahu Caroline, mencegahnya berbuat ekstrim.
Hermione berkata dengan tenang, "Biarkan kami membuktikan tentang ini terlebih dulu, setelah itu baru kami akan menjelaskan semuanya,"
Dudley mengangguk, Caroline menggeleng. "Tidak. Tidak perlu. Ini omong kosong!"
"Sekali saja, jika memang tidak ada apa-apa kami akan pergi dari sini," sambung Harry, sama tenangnya.
Caroline terlihat gusar, ia menoleh pada Dudley, yang sekali lagi mengangguk. Walau terlihat tidak yakin, akhirnya Caroline mengangguk.
Hermione bangkit dari kursi dan menghampiri Fiona.
"Hey Fiona, aku Hermione," sapanya, ia mengeluarkan tongkatnya dari balik jubah.
"Apa itu?" tanya Fiona.
"Itu tongkat sihir. Kita akan mendapatkannya saat kita mendapatkan surat Hogwarts kita," celetuk Lily.
Hermione tersenyum, ia menyerahkan tongkat itu pada Fiona, "Coba kau gerakan tongkat ini pada vas ini," Hermione menunjuk vas di atas meja.
Fiona menerima tongkat itu ragu, ia memandang kedua orangtuanya sejenak. Sebelum mengayunkan tongkatnya sesuai dengan instruksi Hermione.
Prang!
Refleks Fiona melempar tongkatnya dan mundur selangkah. "Aku tidak melakukannya," ujarnya berkali-kali.
Harry, Hermione dan Lily tersenyum. Hermione memungut tongkatnya lalu kembali menoleh pada Caroline dan Dudley, "Yap, dia seorang penyihir," ujarnya ringan, ia melempar senyum pada Harry.
Caroline dan Dudley melongo.
"Aku—tidak normal?" bisik Fiona.
Lily langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Fiona, "Kenapa kau berpikir seperti itu?" ia berkacak pinggang. Harry menggigit bibirnya berusaha untuk tidak tertawa melihat sikap Lily yang benar-benar mirip Hermione. Hermione menyikut pinggang Harry gemas.
"Karena—aku memecahkan vas tanpa memegangnya," bisik Fiona lagi.
Alis Lily terangkat, sesaat kemudian banyak benda melayang di sekitar mereka. Mata Fiona melotot melihatnya, "Aku tidak melakukannya," kata Fiona.
Lily mengangkat bahu, "Itu aku yang melakukan. Kau lihat, kita sama! Dan di luar sana masih banyak yang seperti kita. Mum dan Dad juga penyihir, kakakku James dan adikku Sirius juga penyihir. Sepupu-sepupuku juga penyihir, Teddy juga. Kakek nenekku dari pihak Dad juga penyihir,"
"Ada sebanyak itu?"
Lily nyengir, "Itu sih sebagian kecilnya saja, masih banyak lagi penyihir di dunia ini! Begitu kita mulai sekolah di Hogwarts, kita akan bertemu lebih banyak lagi!" ujarnya semangat.
"Apa itu Hogwarts?" tanya Caroline dan Fiona.
"Sekolah asrama khusus penyihir, sekolah tempatku dan Hermione dulu sekolah. Kami bersekolah selama tujuh tahun, hanya pulang saat libur musim dingin dan musim panas setiap tahunnya," jawab Harry.
"Jadi gadis kecilku akan pergi ke sekolah asrama dan aku hanya akan menemuinya setahun dua kali?" tanya Caroline lagi.
Hermione tersenyum, "Dia tidak akan kemana-mana untuk sementara ini. Fiona baru akan menerima suratnya saat usianya menginjak sebelas tahun,"
"Bagaimana jika aku tidak membiarkan putriku pergi?" Caroline tampak kesulitan mencerna semua informasi baru ini.
"Itu akan berbahaya. Fiona tidak akan belajar bagaimana caranya mengendalikan sihir dalam dirinya dan itu bisa sangat membahayakan nyawa orang lain," jawab Harry.
Dudley menghela nafas, "Lagipula tidak mungkin melarang Fiona untuk pergi. Dad pernah melakukan hal itu pada Harry, berusaha untuk mencegahnya pergi ke Hogwarts, tapi pada akhirnya mereka selalu menemukan Harry dimana pun kami bersembunyi. Dan akhirnya Harry tetap pergi, Dad benci itu, dia menganggap Harry sebagai—" Dudley terdiam.
"Paman Vernon menganggapku aib. Parasit dalam rumahnya, dalam kehidupannya yang normal,"sambung Harry. Hermione meremas tangan Harry erat, Harry tersenyum lemah padanya.
Caroline menghela nafas, "Aku masih merasa sulit untuk mempercayai ini semua,"
Harry tersenyum, "Aku tau. Aku sendiri masih tidak percaya, sampai akhirnya aku berada di Aula Besar Hogwarts," ia terkekeh. Harry mengeluarkan tongkatnya, menunjuk pecahan vas lalu berkata pelan, "Reparo," vas pun kembali ke bentuk semula.
Caroline memijit dahinya, "Ini memang sulit di percaya,"
Jam makan siang hampir datang. Caroline masih terkapar di atas sofa, memijiti keningnya yang terasa sangat pening. Dudley tersenyum, ia senang Caroline menerima semua penjelasan Harry dan Hermione dengan baik. Fiona pun tampak tidak bereaksi keras dengan semua ini. Kehadiran Lily membuatnya memahami bahwa dia tidak aneh, tapi istimewa. Berbeda namun bukan dalam hal yang buruk. Ia banyak bertanya pada Lily, Harry dan Hermione.
"Oh! Jadi begitu aku masuk Hogwarts aku akan di seleksi? Apa seleksinya sulit?" tanya Fiona, dunia baru ini tampak sangat menarik baginya. Otaknya di penuhi berbagai pertanyaan. Ketiga Potter menjawabnya dengan sabar, bahkan Harry bergurau "Seperti mendapatkan seorang Hermione lagi," ia terkekeh.
"Sama sekali tidak, kau hanya tinggal duduk di kursi, memakai topi dan topi itu akan menentukan asrama mana yang akan kau tempati," jawab Hermione.
Fiona mengangguk-angguk, "Ceritakan padaku segalanya tenang Hogwarts!" ujarnya riang.
"Hey hey Fiona, kau bisa menyimpan pertanyaanmu untuk lain kali," kata Dudley.
Harry tertawa, "Tidak apa-apa Big D, aku sudah mengalami yang lebih parah," ujarnya sambil melirik Hermione dan Lily, yang mendeliknya penuh dendam.
Ting tong!
Caroline bangkit dari kursinya, "Aku akan membukanya," ujarnya parau.
"Biarkan aku," Dudley hendak bangkit dari kursinya tapi Caroline menggeleng, "Tidak apa-apa, aku juga ingin mencari udara segar," Caroline berjalan lunglai ke arah depan.
"Sepertinya istrimu shock," kata Harry.
Dudley menghela nafas, siapa yang tidak shock mendapati kenyataan bahwa anaknya seorang penyihir!
Hermione menceritakan tentang Hogwarts, Lily dan Fiona mendengarkan dengan seksama. Harry tersenyum, ia selalu senang melihat Hermione berbicara panjang lebar seperti ini.
Tidak lama, Caroline kembali bergabung dengan mereka, diikuti dengan—
"Bibi Petunia?" "Mum?" Dudley dan Harry berkata bersamaan.
Hermione berhenti bicara, ia menoleh, melihat Petunia Dursley untuk pertama kalinya. Hermione sering melihat foto dan lukisan Lily Evans sebelumnya dan ia bisa menyimpulkan betapa besar perbedaan antara Lily dan Petunia. Mereka tidak mirip, sama sekali.
"Harry?"
Hening.
Fiona menghampiri Petunia, menarik-narik bajunya. "Granna, coba tebak? Aku seorang penyihir!" ujar Fiona riang.
Petunia menatap Dudley, "Jadi dugaanmu benar rupanya,"
Dudley mengangguk, "Harry dan Hermione sudah memastikannya. Ya, dugaanku benar,"
Petunia menyadari bahwa ada dua orang lagi selain dirinya, Dudley, Caroline, Fiona dan Harry. Ia menatap seorang wanita berambut cokelat yang berdiri tidak jauh darinya, juga seorang gadis kecil yang juga berambut cokelat namun bermata hijau.
Harry bergerak mendekati Hermione dan Lily. "Bibi Petunia, ini istriku Hermione,"
Hermione mengulurkan tangannya yang disambut Petunia, "Senang bertemu denganmu,"
"Dan putriku Lily,"
Petunia menatap Harry, terkejut. "Lily?"
Harry mengangguk, "Lily Emma Potter. Aku memberinya nama Mum,"
Petunia berganti menatap Lily. "Dia—tidak begitu mirip dengan ibumu, tapi matanya—matamu. Dan aku melihat binar mata yang sama—seperti Lily," Petunia tersenyum canggung.
Hening kembali menghinggapi mereka.
Harry berdeham, "Sepertinya kita harus pergi, aku harus kembali ke kantor siang ini," ujarnya.
Hermione mengangguk, "Aku juga ada keperluan,"
Lily merengut, "Apa kita harus pergi? Aku masih ingin disini," rengeknya.
Hermione mendesah, "Bukankah kau ada janji dengan Dominique?" Lily cemberut, namun tidak membantah. Hermione tau dia tidak suka ingkar janji, apalagi janji dengan sepupunya sendiri.
"Terima kasih Harry—untuk segalanya," ucap Dudley.
Harry mengangguk, "Sama-sama Big D. Oh, kau keberatan kalau kami berangkat dari sini?" tanya Harry, matanya berkilat. Hermione memutar matanya, namun tidak berkomentar.
"Dari perapian?"
Harry menggeleng, "Dari sini. Hei, itu ide bagus, aku akan memasang jaringan Floo di sini," gumamnya, lebih kepada diri sendiri.
"Emm—yah, tentu," jawab Dudley tidak yakin.
"Sampai nanti kalau begitu, Dudley, Bibi Petunia, Caroline, Fiona," Harry menggenggam tangan Hermione dan Lily.
Lily melambai pada Fiona, "Nanti kukirim burung hantu,"
Dahi Fiona berkerut lagi, burung hantu?
Crack! Dan ketiga Potter itu menghilang.
Fiona nyengir, "Sihir memang mengagumkan!"
Sore itu, Fiona sedang asyik bermain dengan Jason di ruang tengah bersama Petunia, sementara Caroline berada di dapur dan Dudley asyik dengan mobilnya di luar. Seekor burung hantu berbulu kelabu memasuki ruangan, menjatuhkan bungkusan di pangkuan Fiona lalu bertengger di pegangan kursi di samping Fiona.
Fiona mengambil selembar surat yang terikat bersama bungkusan itu. sebuah surat, dari Lily.
Hai Fiona, ini aku, Lily Potter.
Mum memberikan buku ini padamu, katanya agar kau bisa belajar lebih banyak tentang Hogwarts dan dunia sihir. Oh ya, Dad bilang burung hantu itu untukmu, untuk hadiah ulangtahun. Juga agar lebih mudah menghubungiku atau kedua orangtuaku. Kau tinggal mengikatkan apapun yang mau kau kirimkan di kaki burung hantu ini dan katakan padanya kemana dia harus mengirimnya, gampang kan? Oh ya. Burung hantu betina, baru berumur beberapa bulan dan belum mempunyai nama, jadi kau bisa memberinya nama sesukamu!
Ngomong-ngomong, selamat ulangtahun ya!
Lily.
Fiona tersenyum, ia menoleh pada burung hantu kelabu itu. "Jadi kau milikku ya?"
Burung hantu itu ber-uhu riang.
Fiona nyengir, ia membuka bungkusan yang terlihat amat tebal itu dan melihat dua buku setebal bantal di balik bungkusan itu. Dua buah buku berjudul Hogwarts: A History dan Apa yang Harus Diketahui Tentang Dunia Sihir: Panduan Praktis untuk Para Kelahiran Muggle.
"Terima kasih, Lily," gumam Fiona, tersenyum.
need your review please! ;D
