XIV. Stories of the past

Draco kembali mengingat saat pertama kali ia menjatuhkan tatapannya pada sosok Hermione Granger. Raut wajah yang datar dan sorot mata yang kosong tanpa harapan. Draco tidak bisa mengira kengerian macam apa yang telah gadis itu lihat dengan kedua matanya hingga sinarnya menghilang. Anak kecil yang malang, ratap Draco tanpa rasa iba sedikitpun. Kurus dan tidak terurus. Dengan sekali sapuan mata, anak itu tidak akan dianggap istimewa. Dengan mudah akan dilupakan.

Lalu apa yang membuat Draco terpikat pada Hermione Granger?

Jawaban untuk pertanyaan itu ada setelahnya.

Anak perempuan kurus dan tidak menarik itu ternyata menyembunyikan sesuatu di dalam dirinya. Mungkin dialah bukti insting alamiah manusia yang timbul akibat situasi yang mengancam nyawa. Dia menggunakan cakarnya, giginya, dan segala sesuatu yang mampu dijangkau tangannya untuk mempertahankan diri. Hermione Granger menunjukkan sebuah perlawanan! Satu-satunya yang menampakkan hasrat untuk hidup di antara sekian banyaknya anak-anak yang pasrah akan nasib mereka.

Menakjubkan!

Menarik!

Betapa Draco Malfoy mengagumi tekad anak itu untuk tetap bertahan hidup.


XV. When she laughed

Hermione menaruh tangan di kedua pipinya. Menekuk kepalanya ke belakang saat melihat langit dan tertawa sekeras-kerasnya. Terdengar sinting dan mengerikan hingga para burung-burung yang bertengger di pohon terdekat terbang menghambur ke udara.

Draco, vampir bosan yang telah menjadi penonton dari tragedi di gua itu, menjepit dagunya sendiri, berpikir. Memandang Hermione dengan sudut bibir berkedut dan sepasang permata kelabu yang berkilat. Menilai dan menimbang-nimbang.

Apa yang baru saja Draco Malfoy saksikan bukanlah suatu kejadian biasa yang akan ditemukan dimana saja para penyihir berkumpul. Tidak, tidak seperti itu. Seorang muggle yang di dalam dirinya tidak ditemukan secercah tanda-tanda kepemiliki bakat sihir tiba-tiba memprlihatkan sebuah keajaiban yang luar biasa. Sebagai vampir yang telah hidup selama beratus-ratus tahun lamanya, Draco Malfoy tentu merasa tertarik dan tidak bisa melewatkan perasaan naluriahnya begitu saja. Ya. Draco ingin menghujamkan taringnya di leher anak perempuan itu saking gemetarnya ia oleh ekstasi. Hasrat di dalam dadanya sangat besar. Draco Malfoy sampai tidak bisa menahan senyuman terulas lebar, membelah kedua pipi pucatnya. Ia berjengit saat sakit menusuk wajahnya. Sudah lama sekali ia tak tersenyum selebar itu hingga urat-urat wajahnya terkejut.

Sementara itu, Hermione Granger, dengan bercak-bercak darah menodai kedua tangannya dengan tawa kegirangan yang masih menggelegar, merentangkan kedua tangannya dan tatapan tajam tanpa ampunan tertuju pada bulan yang menggantung di atas awan.

Hermione Granger di dalam kegelapan yang menyelimuti hati telah mengutuk seluruh dunia.

Di balik bayangan, sepasang permata kelabu berubah merah dan melengkung. Lidah merah muda terselip di antara gigi-gigi putih, menyapu taring yang perlahan memanjang.

Kedua tangannya lantas bergerak mencengkeram lengannya sendiri, menahan getaran saat tubuhnya merinding


XVI. Thirst

Lalu mereka 'menandatangani' sebuah kontrak sehidup-semati.

Ketika berhasil mendapatkan Draco di dalam genggamannya, Hermione lantas menunjukkan sosok aslinya. Sorot matanya menajam dan dipenuhi dendam. Ulasan bibirnya keji dan tidak mengenal belas kasih.

Ia membiarkan Draco melesat liar di antara orang-orang yang berteriak dalam teror. Tertawa dan terus tertawa ketika hujan berwarna merah menimpa dirinya. Tetesan yang berbau amis dan hangat. Jantung Hermione Granger meloncat dalam kegilaan. Dimana lagi dia bisa mendapatkan kepuasan semacam ini?

Iris merah sang pelayan berkilat sembari menghentakkan tangan yang merah—sontak cairan yang menodainya menciprat di dinding. Draco menyelipkan jari yang masih diselimuti darah ke dalam mulutnya, menghisapnya dengan suara puas.

Ah, darah ini bukanlah yang ia inginkan. Iris merah menyala terus memandang sang tuan yang tengah memaki seraya menginjak-nginjak mayat seseorang di depannya. Kemurkaan Hermione Granger telah membuat muka anak itu memerah seperti wortel. Makian dan hinaannya bercampur dengan tawa mengejek, menantang semua mayat tak utuh itu untuk kembali mencelanya, memanggilnya 'darah-lumpur' dan semacamnya.

Kelopak mata sang vampir merendah. Iris merah berkilat dan berputar.

Draco sudah terpikat oleh darah manis Hermione Granger.


XVII. Drink the blood!

Seringainya licik dan penuh misteri.

Dalam satu kedipan mata, pria itu telah melesat ke arahnya. Seperti ular yang merayap namum tanpa desisan. Hermione tak sempat melakukan perlawanan saat tangan yang lebih dan bercakar tajam menarik lengannya. Tubuh Hermione ikut tertarik ke depan. Sepasang permata hazel melebar.

Manik merah Draco Malfoy berkilat angkuh dan senang.

Lalu ia membuka mulutnya lebar-lebar.

"! ! !"

Darah seolah terkuras habis dari wajahnya tatkala mata Hermione terpaku pada empat pasang taring yang memanjang. Seputih gading dan berbahaya. Satu tangan menarik kepala Hermione ke samping, sontak anak perempuan itu tersadar. Kedua tangannya mencengkeram kuat lengan pria itu. Buku-buku jarinya memutih, kontras dengan warna hitam jas yang membalut tubuh Draco Malfoy.

Kengerian sekali lagi mengambil alih. "Ja—!"

Ah, suaranya tercekat.

Tatkala pria pucat itu menancapkan taring di lehernya yang dingin.

Itulah kali pertama Draco Malfoy menghisap darah Hermione. Begitu brutal dan tanpa ampun. Senyum sombongnya saat itu seolah ingin mengingatkan Hermione bahwa pria itu bukanlah seorang gentleman yang rupawan dan baik hati.

Melainkan vampir yang haus darah.