"Apa?" Ran bertanya. Shinichi menelan ludah. Gawat, aku keceplosan! Shinichi makin kelabakkan ketika Ran menatapnya dengan heran. "Siapa, Shinichi? Aku tidak dengar. Suaramu kecil sekali, sih!"

"Ya, itu rahasia!" Shinichi kembali berlagak sok keren, menenangkan diri. Bisa-bisanya ia keceplosan.

"Ooh, kau pelit ya sama aku!" Ran menatap sinis. Shinichi langsung ketakutan. Ran tertawa. "Santai saja Shinichi," ia melirik jam tangannya. "Oh, aku harus pergi. Aku sudah ada janji dengan orang lain. Daah!" Ran segera berdiri. Shinichi menahannya.

"Tunggu dong! Jadi begini sikapmu pada teman kecilmu yang baru kembali?" Tanya Shinichi iseng.

"Bukan begitu, tapi aku bisa terlambat jika tidak berangkat sekarang, Shinichi." Ran berjalan keluar Poirot. Shinichi meletakkan uang 5.000 yen di atas meja, dan mengikuti Ran. "Memangnya kau berjanji dengan siapa?" Shinichi bertanya walau ia sudah tahu jawabannya. Lebih baik kuikuti dia.

"Oh, dengan Dr. Araide." Jawab Ran. Tiba-tiba terngiang kata-kata Sonoko di pikirannya. "Kau harus memancing Shinichi, Ran! Supaya kau tahu bagaimana perasaannya padamu!" Coba kupancing, ah! Ran menarik napas, lalu melanjutkan. "yah, Dr. Araide mengajakku kencan, jadi aku menerimanya. Memang ada apa sih, kau tanya-tanya?" Ran melirik Shinichi. Ia melihat wajah Shinichi memucat.

"Tidak, tapi, kau tidak boleh kencan dengannya!" Shinichi membentak Ran. Ran jadi heran.

"Memangnya kenapa? Yang mau kencan kan aku, kenapa kau yang sewot?" Ran menaikkan alis. Apakah ini pertanda kalau ia menyukaiku juga? Ran bertanya-tanya pada diri sendiri. Shinichi berusaha mencari jawaban, tapi ia malah jadi emosi karena Ran menjawab dengan nada sinis.

"KAU TAHU TIDAK? DIA ITU BRENGSEK, BODOH!" bentak Shinichi lagi. Ran terperanjat, lalu balas berteriak, "KAU TIDAK TAHU APA-APA, DASAR DETEKTIF BODOH! KERJAMU KAN HANYA MEMECAHKAN KASUS, MENINGGALKAN DUNIAMU BEGITU SAJA!"

Shinichi tertegun. "Aku juga tidak mau seperti ini, Ran, tapi…"

"KAU TAK TAHU APA-APA TENTANG DR. ARAIDE, SHINICHI!" Ran tambah emosi. "AKU BENCI KAU!"

Ran berlari meninggalkan Shinichi. Shinichi berusaha mengejar, namun Ran segera menghilang di tengah kerumunan orang. Shinichi tetap mencari, Tetapi ia tidak melihat bayangan Ran sedikitpun.

"Aduuh, sialan!" Shinichi menendang palang besi di dekatnya, dan langsung memegang kakinya karena kesakitan. Siaaal, aku emosi karena ia terlihat senang ingin berkencan dengan Dr. Araide! Batin Shinichi, sambil berusaha untuk mencari Ran.

#

#

"Maaf, aku terlambat!" Ran segera menghampiri Dr. Araide yang sedang menunggunya di sebuah restoran. Dr. Araide tersenyum. "Tidak mengapa, kau kan hanya telat 3 menit!"

"Tetap saja aku terlambat!" Ran memberikan senyum manisnya. Seorang pelayan menghampiri mereka, dan memberikan sebuah menu. Ran memesan makanan, sedangkan Dr. Araide hanya melihat Ran saja.

"Anda tidak memesan makanan, Dr. Araide?" Tanya Ran. Dr. Araide kembali tersenyum. "Kau formal sekali padaku. Panggil saja Araide." Ran langsung menunduk, wajahnya memerah ditatap seperti itu. Lalu ia teringat pada Shinichi. Huh, seandainya sikap Shinichi seperti ini padaku! Wajah Ran langsung kesal. Dr. Araide menyadarinya. "Ada apa, Ran? Sepertinya mood mu tidak bagus?"

"Ah, tidak." Ran tersenyum. Jangan pikirkan Shinichi! Aku sedang kencan dengan Dr. Araide. Jangan pikirkan si bodoh itu! Batin Ran. Lalu ia bercakap-cakap dengan Dr. Araide.

Sementara Shinichi…

"Aduh, Sonoko! Tolonglah, beritahu aku dimana Ran berkencan dengan Dr. Araide!" Shinichi memohon. Lalu Sonoko tersenyum jahil.

"Haha, kau cemburu ya?" wajah Shinichi panas. Sonoko semakin getol menjahilinya. "Hm, aku tidak tahu Ran kencan dimana. Tapi kata Dr. Araide, ia ingin melamar Ran. Kau tahu tidak, bila Ran menerimanya lamaran Dr. Araide… mereka jalan berduaan, malam hari, lalu mereka akan pergi ke suatu tempat, berduaan saja, lalu mereka…"

"AAH SONOKO!" Shinichi berteriak kesal. "AKU SERIUS! KAU TAHU 'KAN DIMANA RAN BERKENCAN! AKU BUTUH INFORMASI ITU SEKARANG!"

"Apa kubilang!" Sonoko tertawa. "Kau pasti cemburu."

Shinichi berusaha berkilah. "Tidak, aku tak cemburu! Tapi aku tak mau kalau dia malah bergaul dengan cowok brengsek…"

Sonoko memotong. "Tidak, kau cemburu. Pasti Ran sudah pernah bercerita padamu, —atau si bocah kacamata itu, kau kan dekat dengannya— bagaimana sifat Dr. Araide. Dia baik hati dan gentleman, jadi kau tak usah mencari-cari alasan, bilang saja kau tidak mau kalau istrimu digaet orang lain! Akuilah!"

"Ok, terserah apapun anggapanmu!" Shinichi mulai merengut kesal. "Tapi satu hal, Ran bukan istriku. Jadi, DIMANA RAN DAN SI DOKTER ITU BERKENCAN, kau tinggal menjawab! Susah sekali sih!"

Sonoko tersenyum, merasa menang. "Sayangnya, aku tak tahu dimana Ran kencan. Ia tidak mau mengatakannya padaku, takut aku mengintai, katanya. Yang jelas ia hanya bilang…" Sonoko berpikir sebentar. "Oh ya! Dia bilang ingin berkencan di tempat kau pernah jalan dengannya, agar ingatan tentangmu tidak hilang, tapi tepatnya tidak jelas, hei! Kudou!"

Shinichi langsung berlari. "TERIMA KASIH, SONOKO!" lalu melesat dan tak terlihat lagi.

"Haha!" Sonoko tersenyum iseng. "Sepertinya akan ada drama seru hari ini!"

Shinichi berusaha berpikir, dimana tempat ia pernah jalan dengan Ran. Ia berlari ke Tropical Land, tempat dimana ia sangat sering jalan dengan Ran, dan mencarinya ke segala penjuru. Namun nihil. Nada. Ia tak menemukan Ran sama sekali.

Lalu ia melihat Ran dan Dr. Araide jalan kaki, menuju ke Tokyo Tower.

Ran! Shinichi mencari mereka. Namun menghilang lagi. Aku ke Tokyo Tower, untuk minta maaf pada Ran sekaligus mengacaukan kencan mereka! Lihat saja nanti, Dokter bodoh! Ran tak akan menjadi milikmu!

Tetap tunggu kelanjutannya ya! Review dari kamu membuatku bersemangat untuk terus update!