Perhatian FF ini mengandung konten 18+, pembicaraan tidak senonoh, dan deskripsi menjijikkan. Harap untuk cukup umur dan hati untuk membacanya.
ah, its slow burn bromance...
Enjoy~
.
.
.
"Nyaaan~..."
"aahh~"
"nakal banget sih~"
"uh~"
"nyaaaaa~"
"aah~ kau suka sekali ya menggodaku~ ah~"
"nnyyaaaaah~~~~"
UHG! BERISIK BANGET SIH!
Aku tendang selimut dan turun dari kasur. Gak tau apa aku lagi enak-enaknya tidur dan harus terganggu sama suara jeleknya ini orang!
Brak!
Aku membuka pintu kamar dengan kasar. Ini cukup menarik perhatiannya. Iya, perhatian werewolf aneh yang suka teriak-teriak gak jelas kalo lagi mainan sama kucing.
Hoseok berbaring di sofa sambil mengangkat kucing bengal kesayangannya diatas dadanya. Ia menoleh kearahku pake muka horor.
"y-yo-yoongi?" panggilnya.
"bisa diem apa enggak sih? Berisik banget!" okay aku marah sama dia. Hoseok malah nyengir kuda, kemudian ia bangun dan memangku kucingnya di pahanya.
"maaf kalo aku ngganggu, hehe." Aku mendengus keras mendengar perkataanya.
Oh, air liurku mulai membanjiri mulutku. Aku lapar.
"Hoseok," panggilku. Ia masih menoleh ke arahku sambil mengelus kucingnya.
"ada makanan gak?" Hoseok berdiri dan kucingnya berjalan meninggalkannya menuju entah kemana. Hoseok berjalan menuju dapur dan aku mengikutinya. Kemudian aku duduk di meja makan.
"aku cuman ada telur busuk, kebetulan kemaren pecah terus... uh, sepertinya sekarang ada belatungnya. Kamu mau?" Hoseok membuka lemari di atas wastafel. Lemari khusus untuk stok makanan busuk. Haha, mau gimana lagi? aku zombie yang cuman bisa makan makanan busuk. Tapi telur yang berbelatung juga enggak jelek kok rasanya.
"apapun itu, tolong berikan padaku. Aku lapar" jawabku. Hoseok mengambil sarung tangan lateksnya dan mengeluarkan telur ayam yang berbelatung itu kemudian ia meletakkannya di depanku. Air liurku sudah mulai susah dikontrol. Telur itu sudah pecah di bagian atasnya, sepertinya sudah agak lama. Sekitar 2 atau 3 hari setelah pecah, anak-anak belatung akan muncul dan semakin lama semakin besar. Mereka akan bergerak-gerak di dalam telur yang mulai membusuk dan baunya ah aroma yang manis. Hoseok menyodorkan mangkuk dan sendok ke arahku.
"aku tidak suka cara makanmu yang agak gila." Kemudian Hoseok duduk di depanku. Aku mengangguk pelan menurutinya. Ada 3 telur disana yang sama-sama berbelatung. Aku ambil satu telur itu. Belatung-belatung di dalam telur sudah lumayan besar, aku bisa merasakannya bagaimana mereka bergerak menggeliat dan membuat kulit telur bergetar. Aku pecahkan sedikit bagian atas telur yang sudah pecah. Kemudian aku tuang semua isinya ke dalam mangkuk. Semua isi telur dan belatung-belatung itu seperti sup makaroni yang bergerak-gerak. Kemudian aku tuang lagi sisanya ke dalam mangkuk. Hoseok dengan cekatan membersihkan semua kulit telur dan wadahnya. Ia mulai menyemprot desinfektan ke lemarinya, mejanya, hampir semuanya. Sementara aku makan makananku. Rasanya seperti makan makaroni karbonara yang super enak. Setelah aku menyelesaikan makanku Hoseok segera mencuci mangkuknya kemudian merendamnya dengan air panas. Aku segera ke wastafel dan mencuci tangan dan mulutku sebisaku. Hoseok punya aturan super ketat masalah sanitasi. Salah satu alasan dia enggak mau lama-lama di flatku gara-gara aku jarang ngebersihin kulkas yang katanya baunya busuk. Seenggaknya kulkasku enggak bau formalin.
Setelah Hoseok membersihkan mejanya ia menghampiriku.
"hyung, baumu busuk luar biasa. Sumpah busuk banget. Mandi gimana? Aku mandiin gimana? Biar enggak bau banget kayak gini?" aku cuman diem berdiri di depan wastafel. Ini anak minta dibacok?
"apa katamu?" tanyaku.
"hyung, aku mandiin mau? Biar gak busuk banget lah badanmu hyung!" katanya dengan ekspresi jijiknya. Dasar muka kuda.
"minta dibacok ya?" tanyaku lagi. werewolf aneh ini malah tambah manyun.
"hyung! Baumu busuk banget tauk! Aku gak tahan! Lagian tadi malem hyung tidur di kasurku! Kasurku bau busuk tauk! Hyung mandinya selama ini kayak gimana sih?! Masak udah 20 tahun lebih belajar mandi masih aja enggak bisa mandi yang bersih!"
Ini anak minta dibunuh sumpah.
Tapi ngeliat mukanya ini anak, kayaknya dia enggak bo'ong deh.
"pinjem kamar mandi ya, mau mandi" Hoseok mengangguk dan memberiku 5 macem sabun sebelum aku masuk kamar mandi. Ia menyiapkan handuk, bajuku, bahkan bak air panas yang wangi pun dia siapkan. Aku sih enggak langsung berendam ke air wangi, aku butuh mandi bilasan pake air panas dan sabun. Baru kemudian aku berendam di bathup. Rasanya nyaman sekali bisa berendam dengan air panas yang wangi.
Ah, iya juga. Hoseok selalu seperti ini waktu aku pinjem kamar mandinya. Menyiapkan segalanya untukku. Aku sendiri agak heran sama dia kadang. Emang dia enggak rugi apa ya? heran, bener heran deh. Samar-samar kedengeran suara bunyi mesin cuci Hoseok dan suara seseorang.
"hyung~" ah sekarang terdengar jelas. Kayak kenal suaranya.
"hyung~ kau punya makanan? Aku lapar, eh ada orang lain di apartemen ini! hyung!"
"heh, diem dikit bisa gak sih? Telingaku ini tersiksa tauk sama suaramu!"
"kan suaraku seksi hyung~"
"ah ya, terserahmu deh!"
"hyung! Ada orang lain di apartemen ini!"
"ada temenku lagi mandi kembang di kamar mandi"
Okay, mereka berisik banget. Suara orang itu berat seperti...
"TAE-TAE! JANGAN SENTUH KOMPORNYA! AKU ENGGAK MAU DAPURKU HARUS DIRENOVASI ULANG GARA-GARA KAMU! RENOVASI DAPUR ITU MAHAL TAUK!"
"nah, hyung~ aku lapar~"
"duduk sana! Gak usah pegang-pegang dapurku!"
"uh! Pelit! Hoseok hyung pelit!"
PRAAANG!
"KIM TAEHYUNG! SUDAH KUBILANG JANGAN SENTUH DAPURKU! ASTAGA! LIAT NIH KERAMIK KOLEKSIKU PECAH SEMUA ASTAGA! INI MAHAL TAUK!"
"nah, salah sendiri di taruh disana"
Okay, Hoseok yang suka tersenyum itu mengeluarkan sumpah serapahnya ke pada Kim Taehyung. Ah iya, aku baru ingat. Dia demonic yang di lift tadi malem. Rasanya enggak berkelas banget. Udah mandi air panas yang wangi, pake kamar mandi yang bagus banget, tapi backsoundnya orang teriak-teriak. Yang taik-lah, yang babi-lah, yang apalah masih banyak lagi. Kayak kebun binatang diborong semua. Jujur aja, ini bukan pertama kalinya aku ndengerin Hoseok nyumpahin orang, tapi tetep aja aneh ngebayangin dia ngomong jorok, mukanya terlalu kontras sama omongannya kadang. Kecuali kalo dia lagi serius.
Brak! brak! brak!
"oi! Cepetan gantian belet kencing nih!" si Taehyung kayaknya mau pipis. Emang demonic bisa pipis ya?
"hah? Demonic kayak kamu bisa pipis sama BAB juga?" suara Hoseok menimpali. Okay, makasih sudah menyampaikan perasaanku
"ya bisalah hyung! Aku juga bisa tegang kok!"
"tegang apaan? Selangkanganmu? Bukannya burungmu kecil ya?"
"nah! Hyung! Burungku besar tauk"
"burung apaan cobak? Burung Beo peliharaanmu itu?"
"hyung! Aku ini udah dewasa tauk! Umurku udah 700 tahun! Aku udah mainan banyak cewek tauk!"
"heee...? bisa-bisanya ada cewek yang mau sama kamu?"
"kenapa? Perlu bukti? Emang situ bisa ena-ena sama aku?"
Hening... mereka ini ngomongin apaan cobak?! Aku yang disini ndengerin jadi malu sendiri cobak. Mereka ini punya mulut enggak difilter sama sekali ya? aku hembuskan nafas panjang dan berdiri. Aku ambil handuk dan memakai baju yang sudah disiapkan Hoseok. T-shirt hitam dan celana jeans. Kemudian aku keluar dari kamar mandi. Aku segera berjalan menuju ke dapur. Begitu aku sampai di dapur, atmosfer awkward menyelimuti seluruh dapur. Goblok banget rasanya ngeliiatin Hoseok duduk hadep-hadepan sama Taehyung dan muka mereka sama-sama merah. Oh plis ya! mereka habis ngomongin masalah selangkangan sama ena-ena tapi masih blushing? Cupu banget mereka! Aku berhenti di depan meja dan ngeliatin mereka berdua yang pada buang muka.
"kalian berdua ini masih perawan semua ya?" sindirku. Mereka berdua noleh kearahku.
"aku enggak perawan!" bantah Taehyung.
"terus apa? Janda tua?" balasku. Dia manyun dan memalingkan mukanya dariku. Dasar labil.
"emang Yoongi hyung udah pernah ena-ena sama siapa?" tanya Hoseok. Aku noleh ke arahnya.
"emang perlu aku kasih tau?" tanyaku. Muka Hoseok malah tambah merah. Dasar newbie.
"k-k-ka-kau! Sedang apa disini?" tanya Taehyung yang masih gagap dan blushing.
"bukan urusanmu dan terserah aku juga kan, mau kesini apa enggak." Muka Taehyung tambah merah dan menoleh ke arah Hoseok dengan mulut menganga. Hoseok merespon dengan menggeleng cepat tapi mukanya juga masih merah.
"bu-bukan! Ini bukan seperti yang kau pikirkan!" balas Hoseok. Mereka ini mikir apaan? Mikir aku ena-ena sama Hoseok? Plis ya plis!
"kalian berdua ini kebanyakan nonton JAV? Otak kalian perlu dimasukin ke mesin cuci tauk" celotehku. Mereka berdua duduk menundukkan kepala. Dasar makhluk-makhluk pervert, mesum, dan penggemar film biru.
Aku mengambil cangkir dan mulai membuat kopi.
"mestinya aku yang tanya kamu ngapain kesini Kim Taehyung?" tanyaku sambil mensetting mesin kopi milik Hoseok. Kopi doublepresso sepertinya pas untuk mengganjal perutku. Sejujurnya aku masih lapar, aku akan pulang ke flatku setelah ini. Taehyung mengatur duduknya dan berdeham kecil. Kemudian ia menoleh ke arahku.
"ada sebuah permintaan yang ingin aku berikan kepada kalian" katanya. Tepat saat kopiku selesai dibuat! Aku bawa cangkir kopiku dan duduk di samping Hoseok.
"maaf Tae, aku dan Yoongi masih mengerjakan permintaan orang lain. Jadi maaf aku tidak menerima permintaanmu." Hoseok menjawab Taehyung dan tersenyum kearahnya.
"hah? Bukannya kamu biasa multitasking?" jawab Taehyung. Aku sruput kopiku sambil mendengarkannya.
"ini penting sekali! Benar-benar penting! Kau tau Hunter sudah bergerak! Mereka akan menghancurkan eksistensi Demonic!" jelas Taehyung dengan emosi. Hoseok hanya diam dan tersenyum hambar. Aku letakkan cangkirku.
"kau tau, memangnya kami peduli dengan kalian? Kamu kemarin bilang kan, Undead yang dipanen Hunter? Kami juga dalam keadaan terdesak" jelasku. Taehyung manyun dan bibirnya maju 5 centi.
"kalian jahat! Kalian enggak peduli sama kami?!" aku dan Hoseok menghela nafas bersamaan.
"kalian aja enggak peduli sama kami para Undead, terus demi apa kita peduli sama kalian?" balas kami berdua dengan bebarengan kayak paduan suara. Taehyung makin manyun dia memalingkan mukanya dan berdiri.
"huft! Terserah kalian deh!" Demonic labil itu pergi meninggalkan dapur dan keluar dari apartemen dengan membanting pintunya keras-keras. Aku dan Hoseok berakhir di depan pintu melongo setelah ngeliat labilnya Demonic itu.
"dia itu masih puber ya?" tanyaku.
"enggak, dia emang labil sejak lahir kayaknya" jawab Hoseok. Aku menoleh kearah Hoseok dan Hoseok menoleh kearahku.
"jadi, info apa yang berasil kamu dapetin dari duplikatku tadi malem?" tanyaku lagi. Hoseok berjalan menuju sebelah TV dan membuka ruang rahasia kami. Kemudian ia masuk ke dalam dan aku mengikutinya. Hoseok beberhenti dan berjalan menuju sofa. Ia berhenti tepat di depan sofa namun tidak duduk diatasnya, ia hanya berdiri di depan sofa sambil menatapku dengan muka serius.
"Hunter berniat menghancurkan basis Guild dan Koloni setelah mereka melemahkan basis Demonic. Guild dan Koloni punya hubungan erat dengan Orde Egyn. Kalau mereka berhasil melemahkan Orde Egyn, mereka bisa punya pintu besar untuk menghancurkan jaringan Demonic. Lebih parah lagi mereka bisa menghabisi seluruh Undead tanpa sisa" jelas Hoseok. Jadi Hoseok udah tau kalo Taehyung bakal kesini. Demonic labil itu masih kerabat dekatnya Leader of Egyn, itu berarti dia masih bagian dari orde Egyn kan? Tapi, butterfly effectnya Hoseok kemarin, kemudian Dullahan... sepertinya Hoseok menyembunyikan sesuatu dariku. Aku tau dia selama ini sering jadi agen ganda untuk siapapun. Werewolf yang punya kemampuan diatas rata-rata, dan kemampuannya sebagai lich. Dia orang yang bisa berada di masa depan dan masa lalu. Tentu saja dia pasti sudah mengetahui apa yang akan terjadi nanti.
"tunggu, menghabisi seluruh Undead? Apa kamu yakin? Taehyung itu dari orde Egyn bukan? Dia masih tangan kanan Great Oriens kan? Orde Oriens enggak akan diem aja kalo orde Egyn di serang kan?" tanyaku.
"aku juga mikir gitu awalnya, tapi aku sudah mengulangi ini sampai 5 kali Yoongi. Taehyung menjadi Leader of Egyn tadi. Dia menggantikan kerabatnya yang sudah jadi sashimi."
WHUT!
Bahkan Leader of Egyn sudah dikalahkan?
"seberapa jelek keadaannya?" aku dekati Hoseok sambil menggaruk tengkukku.
"lebih jelek dari yang kamu tau Hyung. Taehyung pasti sedang bingung luar biasa." Aku berhenti tepat di depan Hoseok dan memalingkan wajahku. Pantes aja dia tadi senyum hambar gitu. Dia sudah ngulangin ini sampai 5 kali? Iyakan? Berarti dia tau sejak awal. Ya, dia tau mulai sejak hari itu! Hari dimana dia membawaku ke Jin-hyung. Apa yang sebenarnya yang sudah dia rencanakan?
Aku berjalan menuju koleksi senjataku dan mengambil shotgun Remington 870-ku. Sebelum Hoseok bergerak atau berbuat apapun aku segera membuat duplikat ruang waktu membuat kekuatan Hoseok tidak aktif dan bergerak cepat aku berbalik menembak kepala Hoseok. Kaliber shotgun ini cukup besar untuk memecahkan kepalanya. Hoseok mati bersimbah darah di lantai. Aku segera mengisi ulang senjataku dan berjalan mendekati Hoseok. Darah dan lukanya mulai menutup. Aku berhenti tepat di depannya sambil mengarahkan senjataku kearah Hoseok. Luka Hoseok sudah sepenuhnya menutup,
1
2
3
4
5
Hoseok bangun
DOR!
Aku menembak lagi kepalanya, jadi dia mati lagi. Aku isi lagi senjataku. Luka Hoseok menutup lagi. Aku arahkan lagi senjataku kearahnya. Kemudian Hoseok bangun.
"Hyung! Tunggu!" teriak Hoseok sambil memegangi kepalanya yang tadi aku pecahkan.
"kenapa? Bukannya kamu mestinya seneng? Aku udah bantuin kamu bayar bayaranmu lho?" balasku.
"aku tau kau marah! Tapi tolong dengerin aku, plis! Dengerin aku!" aku angkat alisku tapi aku tetap tidak meninggalakan pelatuk Remington ditanganku.
"kenapa aku mesti dengerin kamu?" tanyaku lagi.
"hyung! Kau tau aku tidak akan bisa menang melawanmu! Tapi tolong, jangan bunuh aku lagi!"
"halah, kamu kan gak bisa mati" aku tarik pelatukku dan kepala Hoseok pecah lagi untuk ketiga kalinya. Tinggal 2 peluru yang tersisa. Aku gunakan kekuatanku untuk membuat peluru Remington-ku kembali penuh, kemudian aku mengisi ulang tembakanku lagi. Mestinya Hoseok bersyukur aku tidak menggunakan peluru khusus. Luka Hoseok kembali menutup dan ia kembali bangun. Sekarang dia hanya berbaring dan diam menghela nafasnya. Aku tunggu dia sampai mengatakan sesuatu. Setelah ia diam selama beberapa menit, akhirnya ia mulai buka suara.
"hyung, tau gak kalo ternyata Lich bisa mati?" apa maksudnya?
"kita harus bisa nyelametin Dullahan ato kalo enggak kita bisa habis." Aku mendengus keras dan menurunkan senjataku. Aku tatap Hoseok tajam-tajam.
"kau tau? Aku tidak suka kau melakukan segala sesuatunya sendirian Seok. Kenapa kamu gak ngomong dari awal?" tanyaku. Hoseok memalingkan mukanya.
"aku takut hyung tidak percaya padaku" aku gigit bibir bawahku. dasar egois!
"lalu kau pikir aku ini apa? Batu dipinggir jalan? Sampai kamu enggak percaya sama aku? Menurutmu berapa lama aku selalu pengertian sama kelakuan anehmu? Kau itu yang memintaku buat jadi partnermu tapi kamu enggak percaya sama aku?" aku arahkan lagi senjataku ke arahnya.
"Jin hyung itu Lich yang tubuhnya Vampire. Kemampuannya bisa membuat ruang dimensi semu yang tidak terikat waktu dan ruang, lewat dimensi itu dia bisa berpindah tempat dalam sekejap mata, seperti teleportasi. Dullahan itu enggak ada sebenernya, itu cuman propaganda Jin-hyung supaya dia bisa curi-curi info dari Hunter. Selama ini Jin-hyung bergerak dibalik layar mempertahankan basis terbesar Undead. Dia menjalin kerja sama dengan Orde Egyn. Tapi masalahnya, dia tidak akan bisa sendirian. Jin-hyung butuh bantuan kita, 3 lich cukup untuk mempertahankan basis Undead dan Demonic. Cuman... Hunter enggak akan membuat semuanya mudah. Setelah Leader of Egyn dibunuh. Mereka akan membunuh Jin-hyung." Jelasnya panjang kali lebar.
"gimana caranya?" tanyaku dingin.
"mereka akan menarik jiwa Jin-hyung dari tubuhnya. Begitu jiwanya tidak berada di tubuhnya, dia akan mati." aku mulai sedikit ngerti sekarang. Karena jiwa Lich mengontrol tubuh. Selama jiwa masih berada di tubuh, apapun yang terjadi pada tubuh ini pun tidak jadi masalah. Tapi akan jadi masalah kalo jiwanya diluar tubuh. Ya ampun ribet banget sumpah! Kemudian Hoseok sudah mengulangi ini 5 kali...
"okey, kalo gitu 3 petinggi Guild yang tewas itu bukan karena Hunter, tapi karena dirimu. Kamu emang berusaha membuat koneksi antara kita sama Jin-hyung kan?" tanyaku. Oh aku belum menurunkan senjataku by the way.
Hoseok mengangguk pelan.
Dia emang bikin ini semua...
"apa yang terjadi kalo kita gak nyelametin Jin-hyung?" tanyaku untuk kesekian kalinya astaga!
"pertama tidak akan ada lagi Undead dan Demonic, kedua kita akan mati untuk yang sesungguhnya. Gimana menurutmu hyung?" jawab Hoseok.
WHAT
THE
FUCK!
FUCKFUCKFUCKFUCKFUCK!
Aku turunkan senjataku.
Dia pikir ini film apa?!
Kenapa cobak aku mesti hidup lagi jadi Lich! Kenapa mesti aku juga yang harus gini?!
Aku lirik Hoseok tajam-tajam. Bukannya enak malah kalo kita mati? Ya ampun, aku cuman pengen hidup lagi jadi batu! Kenapa malah jadi begini? Plis! KEMBALIKAN AKU KE KEHIDUPANKU YANG SEBELUMNYA! UGH! SIAL!
"bukannya malah enak kalo mati? Jadi kita enggak perlu mikirin sesuatu yang ribet kayak begini?" Hoseok kembali memalingkan mukanya dan memeluk dirinya sendiri. DIA INI KENAPA?! JANGAN KAYAK GINI TAUK! JIJIK! ASTAGA!
Hoseok melepas pelukannya sendiri dan menghela nafasnya dan kembali menatapku.
"hyung, aku melakukannya bukan untukmu, tapi untukku sendiri. Aku mengulangi semuanya untuk diriku sendiri"
WHUT!
"dasar egois" umpatku. Ia tersenyum hambar. Sejujurnya aku mulai meragukan setiap senyuman yang di lempar kepadaku.
Aku tau benar dia itu werewolf yang gengsi abis buat nunjukin perasaannya. Aku sendiri bukan orang yang benar-benar bisa memahami isi hati orang. kebanyakan hanya sekedar tau atau mengerti.
"hyung, aku ini juga pernah jadi manusia dan aku juga punya perasaan egois. Bolehkan kalo sekali aja aku egois?"
Egois... kah?
Aku turunkan senjataku.
Well, setiap orang memang punya keegoisannya sendiri-sendiri. Perasaan itulah yang bisa membuat seseorang bertahan, memiliki kebanggan, memiliki keinginan, dan memiliki impian. Lagi pula, kalo bukan karena keegoisannya sendiri dia tidak akan serius mengulangi hal sama sebanyak 5 kali hanya untuk mengubah takdir sesuai keinginannya.
Kira-kira apa yang dia inginkan ya?
"memangnya apa yang kau inginkan?" Hoseok tersenyum lebar kayak matahari pindah sekejap ke bumi, anjir silau beneran!
"ra-ha-si-a"
Okay aku tarik kata-kataku, aku bunuh dia!
Grep!
Hoseok tiba-tiba bangun dan memelukku.
"hyung, aku ngantuk tidur yuk~ ah, hyung udah mandi jadi harum~"
Kadang sulit bagiku untuk menolaknya. Dia itu werewolf aneh yang kadang sulit di tebak. Kadang ia menjadi super sensitif secara tiba-tiba, kadang ia menjadi depresif. Meskipun dia tersenyum seperti matahari yang bikin mata silau, dia tetap juga punya sisi gelapnya. Aku jarang melihatnya menunjukkan sisi itu, tapi aku pernah tau. Itu sudah cukup sebagai informasi untuk memakluminya. Meskipun kami ini Undead, kami juga punya perasaan. Aku sendiri juga bisa merasakan hal-hal seperti manusia, seperti dulu. Pikiran depresif yang menghantuiku kadang muncul di kepalaku. Dulu aku menyimpan perasaan itu sendirian samapi akhirnya aku terbakar hangus dan mati. Sekarang aku tidak menyimpannya sendirian, kadang Hoseok mau mendengarkanku bercerita panjang lebar atau sekedar menemaniku membaca buku meskipun dia benci dengan flat kecilku. Tapi ia tetap disana sampai aku merasa baikan. Sejujurnya sulit bagiku untuk memahami Hoseok. Bukankah kekuatannya berasal dari keegoisannya? Keegoisannya untuk mengubah takdir?
Aku antar Hoseok ke kasurnya sambil menggosok punggungnya. Aku lirik jam di nakas. Jam 2 pagi, ternyata masih pagi ya? berapa lama aku tidur? Aku harus menimbun bayaran supaya aku bisa menggunakan kekuatanku lebih lama. Hoseok berbaring di kasurnya dan menarik selimutnya sendiri. Aku matikan lampu tidur Hoseok dan berjalan keluar kamar.
"hyung." Aku berhenti melangkah dan menoleh ke arah Hoseok.
"temenin~" katanya. Aku angkat alisku. Yang bener aja ini anak?
"udah gede jangan manja!"
Hoseok menoleh kearahku dengan muka sok-sok mau nangis.
"hyung..."
Kadang aku heran, aku ini yang sudah jadi zombie kenapa masih punya rasa melankolis juga? Apa karena aku dulu masih jadi manusia? Atau gimana? Bodohnya aku, bisa melangkah kearahnya. Hoseok mengangkat selimutnya dan memberiku ruang. Dulu aku juga mempertanyakan ini sebenarnya. Kenapa setiap manusia memiliki emosi? Memiliki perasaan? Pada akhirnya perasaan itu harus di tekan demi ambisi, demi keegoisan yang dibuat sendiri. Ah, aku lupa kalo ambisi itu dibentuk dari emosi juga. Aku baringkan tubuhku diatas kasur dan mulai menarik selimut. Mungkin aku bisa menambah waktu bayaranku disini. Telinga Hoseok sangat sensitif dia akan tau kalo ada hal-hal yang gak beres.
Hoseok menarik kemejaku. Aku menoleh ke arahnya, tapi dia malah munggungin aku. Aku mulai mengalihkan pandanganku ke langit-langit gelap kamar Hoseok. Bau harum melati dimana-mana, seperti hampir membutakan indra penciumanku.
"hyung... " panggil Hoseok lagi.
"apa?"
"jangan tinggalin aku sendirian." Aku cuman diem aja. Aku bingung mau jawab apa. Seseorang plis kasih aku pencerahan? Aku gagal paham dia ngomong apaan!
"hyung, janji ya? jangan pernah ninggalin aku sendirian, aku takut sendirian..."
Aish, ini anak masih penakut aja.. pake bilang...
...
...
...
what the fuck!
Aku bangun.
OI, OI OI! APA MAKSUDNYA NYURUH AKU JANJI KAYAK GITU?! APA AKU HARUS PINDAH DAN TIDUR SERANJANG SAMA INI ANAK?!
YANG BENER AJA!
"oi, apa maksudmu ngomong gitu?" Hoseok berputar ke arahku dan tersenyum.
"hyung pindah kesini boleh gak? Temenin aku tidur disini selamanya?"
Aku turun kasur dan pergi keluar.
Lebih baik aku jadi gelandangan! Anjir!
"hahahahahhahahahahahahahahahahhahahahahahaha hyung~ santei aja lagi... ahahahahahahahahhahahahahahahahha astaga aku gak berhenti ngakak, hahahahahahahahahhahahhahha...ha...ha...ha..."
Suara tawa Hoseok terdengar aneh sewaktu aku mentidurkan kepalaku ke sofa.
Mungkin dia sudah lelah tertawa,
Mungkin juga ia merasakan sesuatu yang lain.
Mungkin kalo aku punya kekuatan membaca pikiran orang, aku bakal tau apa isi otaknya tanpa harus memecah kepalanya dan memakan otaknya.
Sebaiknya aku tidur sekarang sebelum pagi datang.
hai~
fuse desu~
aku harap kalian suka sama FF ini...
aku masukin banyak unsur "saru" disini, hehe.. maafkan...
kuharap kalian para pembaca mau mereview FF ini, kritik saran, ato apapun aku selalu senen membacanya.
maafkan diriku yang enggak bisa bales review yg udah terposting...
hontouni, arigatou gosaimasu...
