Halo, semuanya. terima kasih untuk kalian yang sudah mampir ke tempat yang hina dina ini. Oh, kita dapat satu review. saya baca dulu ya.

untuk Scarlet and Blossom, emang bener kalau masa depan tergantung sang penulis hina dina ini. Chapter ini mengungkap rasa takut. Semua orang memiliki "dosa" tersendiri di balik rasa takut mereka.

Enjoy!

Dynasty Warriors series belongs to KOEI-Tecmo

Contract of Redemption

Fear

Bayangan hitam dari asap dan arang menutup pandangan langit. Tebing tampak menjulang semakin tinggi. Percikan api beterbangan laksana kunang-kunang. Guo Huai terjatuh dari tebing curam begitu lama, dunia seakan bergerak lambat. Seekor burung kuntul besar terbang melingkar menghampirinya, membuat portal yang menangkap sang lelaki paruh baya agar terjatuh di kasur di dalam rumahnya dengan selamat.

Hari demi hari, Zuo Ci menjaga Guo Huai sembari menunggunya kembali tersadar. Sang pertapa sakti terus duduk menunggu di sampingnya tak kenal lelah. Entah apakah lelaki tua renta ini akan tetap bertahan hidup.

Hingga suatu masa, Guo Huai perlahan membuka matanya. Menemukan dirinya sudah ada di rumah dan bukan di dalam peti mati. Ia terbangun dan menemukan Zuo Ci berdiri di sisi ranjangnya.

"Akhirnya kau sadar juga. Aku tak menyangka kondisimu separah ini." Kata Zuo Ci.

Bukan senyuman yang didapatkan sang pertapa sakti, namun tatapan tajam dan wajah masam dari Guo Huai.

"Dengar, aku tidak bermaksud mengkhianatimu. Aku dipaksa untuk melakukannya." Zuo Ci mencoba menjelaskan yang terjadi pada Jiang Wei saat itu.

"Kau bilang bahwa kau ingin aku menyelamatkan Shu..." Ucap Guo Huai lirih. "Tapi kau, uhuk-uhuk...memberikan Jiang Wei yang dia inginkan..."

"Aku Pertapa Sakti. Aku tak bisa memihak siapapun dengan kemampuanku melihat masa depan."

"Kau melakukannya sejak kau mengabdi pada Negeri Shu, BRE-Ohok!"

Guo Huai mengambil belatinya dan menerjang Zuo Ci, namun tubuhnya yang lemah membuatnya hilang keseimbangan dan terjatuh dari ranjangnya. Digenggamnya belati itu dan ditariknya dari sarung kukit menjadi sebilah pedang yang dihentakkan ke lantai untuk membantunya berdiri. Batu merah delima di pedang itu menyala terang, namun hanya mengubah tubuhnya menjadi Prajurit Kegelapan. Ia masih mengenakan jubah tidur putih dengan garis biru di sisinya dan pedangnya masih menyala merah. Tangannya masih bisa mengayunkan pedang itu dengan kuat, namun Zuo Ci bisa melompat menghindarinya.

"Pedangmu menyala. Kau ketakutan." Kata Zuo Ci. "Kau yang menginginkan ini. Jangan sampai Jiang Wei mendapatkan keinginannya."

Guo Huai menjatuhkan pedangnya, lalu duduk bersimpuh dengan kepala tertunduk dan berkata, "Keluar dari rumahku."

"Tapi..."

"AKU BILANG KELUAR!"

Zuo Ci tertegun. Ia harus menjaga Prajurit Kegelapan yang terpilih tanpa sengaja itu untuk tetap berperang mengubah sejarah suram yang dilihatnya di masa depan, namun jiwanya masih terguncang karena kejadian yang meninggalkan bekas luka dalam di hatinya. Zuo Ci membiarkan Guo Huai untuk sendiri dan keluar dari rumahnya.

Sementara itu...

Jiang Wei kembali ke tenda kemahnya, menyusun rencana selanjutnya untuk menaklukkan negeri Wei. Sejurus kemudian, Xiahou Ba dagang menghampiri Jiang Wei dengan kesal.

"Kau tak bilang padaku jika ingin menjadi Prajurit Kegelapan. Yang kau lakukan diluar sana keterlaluan!" Kata Xiahou Ba.

"Ini perang, Xiahou Ba. Sebagian dari kalian akan mati, tapi itu adalah pengorbanan yang pantas." Jiang Wei masih sibuk memperhatikan peta di meja kerjanya.

"Menggambar alat vital pria di wajahku itu pengorbanan?" Xiahou Ba menunjuk bekas luka di pipi kanannya. "Ini penghinaan! Dan lihat dirimu dan setiap kali kau meneriakkan KEBAJIKAN dengan lantang, kau menebar janji palsu!"

Jiang Wei menggebrak meja, lalu menatap Xiahou Ba dengan mata merah menyala dan berkata, "Kau meragukan kepemimpinanku?"

"Kau takut kehilangan anggotamu?" Xiahou Ba balas bertanya dan memiringkan kepalanya.

"Aku bisa mengatasi ini bahkan tanpa keberadaanmu, bocah tengil. Kau-"

"Tidak perlu." Xiahou Ba meletakkan jarinya di mulut Jiang Wei. "Aku berhenti."

Lelaki bertubuh pendek itu melepas baju zirah yang membebani tubuhnya, lalu berjalan keluar dari tenda kemah dan mengendarai kudanya meninggalkan Jiang Wei bersama pasukannya yang tersisa.

Beberapa jam telah berlalu. Xiahou Ba masih berkuda di tengah terik matahari yang menyengat kulit wajahnya. Seekor burung kuntul besar terbang menutupi sinar yang menyilaukan itu dari matanya.

"Tidak biasanya ada burung kuntul besar di saat seperti ini." gumamnya.

Dengan rasa penasaran, Xiahou Ba mengikuti arah burung itu terbang hingga sampai di sebuah rumah yang tampak akrab di ingatannya. Sudah sekian lama Ia tak memasuki rumah itu sejak bergabung dengan pasukan Negeri Shu. Harap-harap cemas, Xiahou Ba turun dari kudanya dan mengetuk pintu rumah tersebut. Diketuklah pintu itu sekali, namun pintunya terbuka sendiri bak rumah tak berpenghuni.

"Paman Guo Huai? Kau ada di dalam?" Sahut Xiahou Ba sambil berjalan perlahan memasuki rumah yang tampak kosong itu. Suaranya menggema ke seisi rumah, namun tak ada yang menjawab. Bulu kuduknya berdiri, berharap tak menemukan tubuh yang tidak bernyawa.

Xiahou Ba meneguk ludahnya, lalu berjingkat dan menemukan sang Prajurit Kegelapan sedang mengepel lantai. Ia teringat kembali ketika melihat Prajurit Kegelapan mengungkap identitas aslinya. Matanya terbelalak menemukan sosok yang sebelumnya menyerang tanpa rasa takut berakhir menggunakan kekuatannya untuk menjalankan tugas rumah.

"... Paman Guo Huai?" Kata Xiahou Ba memastika kejadian yang dia lihat sebelumnya itu benar.

Guo Huai menoleh, matanya terbelalak dan berkata, "Xiahou Ba? Sejak kapan kau ada disana?"

"Aku mengetuk pintu, tapi pintunya terbuka sendiri. Aku juga tadi sudah memanggil Paman." Jawab Xiahou Ba.

"Kau tak seharusnya disini." Guo Huai meletakkan kain pelnya.

"Tapi aku khawatir sesuatu terjadi pada Paman. Paman juga keluargaku disini." Xiahou Ba tersenyum dengan polosnya.

Mendengar kata "keluarga", Guo Huai kembali teringat dengan segala kejadian yang membawanya pada saat itu. Seluruh jenderal dan panglima perang sudah menjadi keluarga baginya, hingga satu per satu mereka semua tewas ketika rentetan penyakit menyerangnya dan menghilangkan kesempatannya untuk menyelamatkan mereka.

"Pulanglah pada keluargamu. Aku baik-baik saja tanpa keberadaanmu." Guo Huai mengambil kain pelnya kembali dan melanjutkan kegiatannya.

"Kenapa Paman malah mengusirku?" Xiahou Ba mengernyitkan alisnya. "Aku hanya berharap Paman menyambutku dengan baik tapi malah disambut dengan kasar?"

"Apa kau mendengar ucapanmu sendiri, Anak Muda?" Guo Huai berjalan menghampiri Xiahou Ba dan memicingkan matanya. "Kau meledek Ayahmu sejak kau bergabung dengan Shu!"

Xiahou Ba terdiam. Ia teringat kembali pada sebuah pertemuan ketika dirinya meninggalkan Wei untuk bergabung dengan keluarganya di Negeri Shu dan berkata bahwa sang Ayah tak pernah ada dalam hidupnya.

"Sejak kepergianmu, satu hal yang kukhawatirkan adalah tidak memenuhi janji Ayahmu untuk menjagamu tetap hidup." Guo Huai membalikkan badannya, kemudian duduk bersimpuh dengan kedua tangannya mencengkeram jubahnya. "Aku takut kita berdua saling berperang, tapi aku lebih takut lagi jika aku tak bisa melakukan apapun untuk menolongmu karena kita berada di pihak yang berbeda."

"Paman tak perlu takut lagi. " Xiahou Ba menunduk dan memegang pundak Guo Huai. "Aku sudah berhenti menjadi tentara Shu. Menurutku, bukan aku yang seharusnya Paman khawatirkan."

Guo Huai kemudian teringat kembali ucapan arwah Xiahou Yuan yang mendatanginya tentang hatinya yang tidak berada di tempat yang benar. Ia menutup diri dari banyak orang sejak rekan-rekan seperjuangannya tewas dalam perang. Ucapan Xiahou Ba ada benarnya, pikirnya.

"Xiahou Ba, antar aku ke istana untuk menghadap Yang Mulia Zhao." Guo Huai merenggut oundak Xiahou Ba dan mecengkeramnya erat, lalu mengambil pedang yang ditancapkannya ke lantai bersama sarungnya.

"Hah? Sekarang?" Xiahou Ba mengerutkan dahinya.

"Tahun depan." jawab Guo Huai dengan nada sarkasme yang kental. "YA SEKARANG LAH!"

Xiahou Ba hanya manggut-manggut dengan tangannya ditarik oleh pemuda yang tampak seumurannya. Wajahnya masih memberikan ekspresi canggung karena pemuda yang menariknya keluar rumah sebenarnya adalah lelaki tua yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di ranjang tidur.

Mereka kemudian naik kuda dan memacunya untuk berlari kencang agar sampai di istana. Tepat pada waktunya, Sima Zhao sedang membariskan pasukannya di sebuah halaman luas dalam persiapan berperang.

Di halaman istana, Sima Zhao dan istrinya mendapat kabar dari sang utusan bahwa Jiang Wei menaklukkan sebagian besar wilayah barat Wei. Wajahnya tampak terkejut karena semua itu dilakukan hanya dalam rentang beberapa hari dan sedang dalam perjalanan ke ibukota Xuchang.

"Jika Jiang Wei sekuat ini, kita pasti harus menyerah." Sima Zhao menggaruk kepalanya bingung.

"Zhao, berpikirlah dengan lurus. Selama kita bisa menjaga wilayah Timur, kita masih aman." Kata Yuanji sambil memeluk suaminya dengan tubuh mungilnya.

"Kita tidak tahu bagaimana Jiang Wei menaklukkan semua wilayah Barat dalam beberapa hari saja. Pasukan kita belum siap." Sima Zhao memijit dahinya, sakit kepala karena harus segera mengambil keputusan.

"Yang Mulia Sima Zhao!" sahut seseorang yang sedang berkuda dari kejauhan bersama orang lain, lalu mendadak melompat turun dan berlari ke pintu masuk istana.

"Xiahou Ba? Kukira dia sudah ada di Shu." Sima Zhao semakin menggaruk kepalanya dengan kuat sambil mengerutkan dahinya. "Dan...siapa yang bersamanya?"

"Zhao, kau baru saja mengundang Prajurit Kegelapan ke acara makan malam." Ucap Yuanji datar.

"Itu lama sekali. Aku sudah lupa." kata Sima Zhao.

"Kita mengundangnya beberapa hari yang lalu." Cibir Yuanji.

Xiahou Ba bersama Prajurit Kegelapan menunduk dengan napas yang terengah-engah.

"Yang Mulia, maaf jika aku datang di saat yang tidak tepat. Tapi kau dan pasukanmu tidak akan mampu melawan Jiang Wei." Kata Prajurit Kegelapan pada Sima Zhao.

"Benarkah?" Kata Sima Zhao.

"Zhao..." Yuanji memberi isyarat pada Sima Zhao.

"Oh, benar. Ehm..." Sima Zhao berdehem sebentar. "Kau melarikan diri sebelum menyantap makan malam yang kurencanakan khusus untukmu, pakaianmu tidak pantas, kau tak menyarungkan pedangmu dan kau membawa seorang pengkhianat ke istana. Apa yang membuatku harus datang menghina pasukanku dan menerimamu kembali?"

"Yang Mulia, aku berhenti menjadi panglima perang untuk Shu atas keinginanku sendiri." Kata Xiahou Ba. "Dia benar. Jiang Wei punya kekuatan gaib di luar nalar kita dan dia takkan segan menggunakannya untuk mengalahkan seluruh pasukan bahkan dengan jumlah amunisi dan pasukannya yang hanya sedikit. Prajurit Kegelapan adalah satu-satunya harapan kita untuk melawannya."

Sima Zhao dan Yuanji berpaling dari mereka. Sudah cukup bagi pembesar kerajaan untuk merasa dikhianati oleh Prajurit Kegelapan dan tingkah lakunya, ditambah ucapan mereka yang tidak masuk akal.

"Yang Mulia, maafkan aku jika aku meninggalkan acara makan malam itu dan melakukan semua ini." kata sang Prajurit Kegelapan yang membuat langkah Sima Zhao berhenti, namun Yuanji memiringkan kepalanya. Meminta suaminya terus berjalan.

"Aku melarikan diri karena bayang-bayang orang yang dahulu berjuang bersamaku. Membayangkan makan malam itu adalah makan malam terakhirku bersama mereka. Aku takut harus kehilangan mereka lagi karena aku tak ada disana untuk menyelamatkan mereka."

Prajurit Kegelapan menitikkan air matanya sambil bersujud pada Sima Zhao, membuatnya berbalik arah untuk menghampirinya.

"Wajahmu yang bingung itu mengingatkanku pada Ayahmu saat masih hidup. Aku bisa menghentikan pertengkaran antara dirinya dan Panglima Zhang He sebelum ajal menjemputnya di medan perang menghadapi Zhuge Liang sendiri tanpa persetujuannya, tapi aku tak kuasa mencampuri urusan mereka meski aku ada di saat itu...di dataran Wuzhang..."

"Kau mengenal Ayahku?" Kedua mata Sima Zhao terbelalak. Ia tak menyangka lelaki yang tampak seumurannya itu mengenal wajah Ayahnya sejak masih hidup. Terlebih lagi, Ia menyebutkan tentang Panglima Zhang He, salah seorang Panglima Perang terkuat Wei.

"Itu benar..." Prajurit Kegelapan bangkit berdiri dan mengusap air matanya. "Ayahmu tampak sangat membencimu, tapi dia sangat menghormati kecerdasanmu."

Ucapan Prajurit Kegelapan semain membuatnya merinding. Semua perkataannya bukan dilandaskan dengan rasa kasihan atau ingin membanggakannya, namun terdengar seperti dirinya pernah mengalami semua kejadian buruk yang jauh melampaui usia dari penampilannya.

"Kau berbohong." Kata Sima Zhao dengan mata terbelalak, meyakinkan dirinya bahwa semua ucapan itu hanyalah bohong.

"Aku tidak berbohong." Prajurit Kegelapan menyarungkan pedangnya, seketika itu juga cahaya merah dari batu delima di pedangnya meredup. Mengubahnya kembali menjadi Guo Huai yang tua renta menunjukkan identitas aslinya.

Semua mata terbelalak dan mulut ternganga. Langkah setiap penghuni istana terhenti. Seluruh pasukan yang berdiri di hadapannya terkesiap. Mereka semua tak menyangka akan kejadian yang baru saja mereka lihat.

"Selama ini...yang menyelamatkanku itu..." Sima Zhao tergagap sementara istrinya jatuh pingsan karena syok berat.

"Ya, dan aku kesini untuk menghadapi ketakutanku menerima kalian di hatiku." kata Guo Huai. "Jangan lari dari masalahmu, sebagaimana yang aku lakukan dahulu."

Sima Zhao meneguk ludahnya. Ia masih tak percaya yang dilihatnya, namun setelah yang dilakukan Prajurit Kegelapan untuk menyelamatkan hidupnya, Ia sudah melihat kemampuan luar biasa di baliknya.

"Kalau begitu, aku akan siapkan kereta tambahan untuk kalian. " Sima Zhao kemudian tersenyum penuh keyakinan dan membalikkan badannya hingga matanya tertuju pada sang istri yang masih pingsan. Ia memanggul Yuanji dengan mudahnya sambil berjalan menghampiri sang utusan untuk menyiapkan kereta kencananya. Namun dua orang di belakangnya masih tak berjalan menyusulnya.

"Kalian sedang menunggu apa? Ayo ikut aku!"

"BAIK YANG MULIA!" Xiahou Ba memapah Guo Huai yang jalannya pelan, menyusul Sima Zhao untuk memasuki kereta kencana yang sudah disiapkannya.

Genderang perang telah berbunyi. Pasukan telah bersiap dengan senjata masing-masing. Mereka berjalan dengan berbaris rapi menyusul rombongan istana untuk menghadapi sisi tergelap Jiang Wei yang tak lama lagi akan menaklukkan mereka dan menghancurkan masa depan yang cerah untuk seluruh negeri.

~TBC~