Standard disclaimer applied
Warning! Alternate Universe, Out Of Character (maybe), Typo(s), Miss-typo(s)
.
.
.
Did You Believe About Fate?
By Chocoaddicted
.
.
.
Enjoy!
.
.
.
Episode empat.
Nyeri.
Itulah yang Sakura rasakan saat ini ketika tepat di depan kedua matanya ia melihat Gaara bermesraan dengan seorang gadis manis berambut cokelat. Ini seperti mimpi buruk baginya, tolong siapa pun bangunkan Sakura dari mimpi buruk ini!
Sakura benar-benar tidak menyangka jika pagi ini ia mendapatkan kenyataan pahit seperti ini. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Berlari ke arah Gaara lalu mengatakan 'Apa yang kau lakukan dengan gadis ini?' atau diam membeku menyaksikan kemesraan mereka yang dapat menggugurkan hatinya yang baru saja berbunga?
Lalu-lalang manusia di sekitarnya tidak Sakura pedulikan, meski banyak di antara mereka yang menggerutu karena Sakura masih berdiri tegak di tengah jalanan. Sakura tidak peduli hal itu, karena saat ini ia merasa… kecewa.
Sakura menarik napas dalam dan menengadahkan kepalanya memandang langit biru di atas sana. Tidak seharusnya ia kecewa seperti ini. Kenapa? Karena ia dan Gaara tidak mempunyai hubungan apapun dan selain itu, ia masih mempunyai kekasih di luar sana.
Puk!
Air matanya hampir menetes jika seseorang tidak menepuk kepala Sakura pelan dengan gulungan kertas yang ia bawa, dan Sakura yakin ini bukanlah mimpi karena ia bisa merasakan benda ringan itu menepuk kepalanya.
Sakura menolehkan kepala dan melihat salah satu temannya berdiri di sampingnya. Laki-laki itu tersenyum ramah sambil memandangnya.
"Kiba," cicit Sakura pelan.
"Apa yang kau lakukan di tengah jalan begini, Sakura-san?" tanyanya.
Sakura menunduk menyembunyikan raut sedih dan putus asanya. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat, menahan perasaan nyeri yang tak kunjung lenyap, bahkan mulai menjalar ke seluruh permukaan hatinya, menggerogoti setiap dinding pertahanan hatinya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Kiba sambil memegang kedua bahu Sakura.
Kiba memang bukan teman dekat Sakura. Mereka hanya saling kenal karena kebetulan Kiba adalah temannya Hinata. Tapi, bukan Sakura namanya jika tidak friendly pada orang yang bahkan baru dikenalnya.
"Aku baik-baik saja," sahut Sakura dengan suara tercekat di tenggorokan.
"Benarkah?" Kiba masih menatap Sakura yang menunduk lesu. Ia sudah melepaskan genggamannya pada kedua bahu Sakura.
Sakura mengangkat kepalanya dan tersenyum getir. "Ya, tidak pernah sebaik ini," katanya. Kiba tercengang melihat mata Sakura yang terlihat rapuh. "aku duluan, Kiba!"
Sakura berjalan meninggalkan Kiba tanpa mendengarkan jawaban Kiba. Kiba hanya menatap prihatin punggung Sakura yang mulai menjauh dari tempatnya berdiri.
Kaki Sakura melangkah tanpa ragu ke arah Gaara dan gadis itu. Ia tidak boleh terbawa perasaan saat ini karena itu bisa membuatnya terlambat datang rapat senat dan kebetulan ruang senat harus melewati stand yang ditunggui Gaara dan gadis itu.
Saat melewati stand, Sakura melirik kedua orang yang masih sibuk bercanda dengan mesra. Bahkan mereka tidak malu bermesraan di tempat umum seperti ini! Kesal. Sakura merasa kesal dan memilih mempercepat langkahnya melewati kedua orang itu yang sedang duduk berhadapan saling memencet hidung.
Dan saat Sakura sudah berjalan agak jauh, Gaara menolehkan kepala melihat sosok kepala berambut merah muda yang sering ia lihat kembali muncul di depannya. Sosok yang beberapa kali secara kebetulan muncul dengan cara yang aneh menurutnya.
Ia mungkin terus memandang ke arah Sakura pergi jika saja gadis di hadapannya tidak menegurnya. "Gaara-kun, apa yang kau lihat?" tanyanya dengan manja.
Gaara kembali memerhatikan gadis di depannya dan tersenyum lembut. "Tidak ada, Matsuri."
Gadis berambut cokelat yang dipanggil Matsuri itu menggembungkan pipinya. "Kau tidak memerhatikan gadis lain 'kan?"
Gaara mengacak rambut Matsuri dengan lembut. "Tidak. Aku hanya mencintaimu." Dan berikutnya Matsuri menghambur dalam pelukan hangat seorang Sabaku Gaara.
.
.
.
Sroooooottt!
Sakura membuang cairan bening dari lubang hidungnya di tisu, kemudian membuang tisu itu sembarangan. Ia kembali mengambil tisu lagi dan melakukan hal yang sama. Matanya bahkan sudah berubah menjadi merah akibat menangis dan terus menangis.
Hinata dan Ino yang ada di sampingnya tak tega melihat sahabat mereka seperti ini. Kasihan sekali, Sakura. Sudah jatuh tertiban tangga pula. Begitulah yang ada di dalam pikiran mereka.
Mereka bertiga sekarang sedang duduk di bagian pojok restoran tempat Ino dan Sakura bekerja. Untunglah pengunjung sudah sepi karena jam kerja restoran sudah berakhir lima menit yang lalu, artinya saat ini waktu menunjukkan pukul 10.05 malam.
Bahu Sakura bergetar dengan isak tangis yang keluar dari tenggorokannya. Betapa pilu hatinya saat ini. Baru tadi siang ia bertemu dengan Gaara dan pacarnya yang membuat hatinya kecewa, sekarang hatinya benar-benar remuk tak tersisa mengingat kejadian satu jam yang lalu.
"Sakura…" Ino dan Hinata mengelus punggung dan kepala Sakura.
.
.
.
"Terima kasih atas kunjungannya! Selamat jalan!" seru Sakura saat satu keluarga kecil baru saja selesai meninggalkan meja mereka menuju pintu restoran. Mereka tersenyum pada Sakura sebagai jawaban.
Sakura segera mengambil botol yang ada di sebuah lemari perkakas di dekat dapur dan langsung meluncur ke meja nomor empat yang baru saja ditinggalkan oleh keluarga kecil itu. Ia membersihkan meja itu, kemudian mendorong trolly yang ia gunakan untuk meletakkan piring, gelas, dll menuju dapur untuk segera dibersihkan.
Bekerja saat ini dapat membuatnya lupa dengan kejadian menyebalkan tadi pagi, setidaknya ia tidak perlu menonjok sesuatu karena kesal yang tidak tersalurkan. Dan bekerja dengan giatlah yang menjadi penyalur hasrat kekesalan gadis bermarga Haruno ini. Aneh memang, tapi beginilah ia. Ketika kesal ia memutuskan untuk melakukan hal lain yang berguna sehingga semangat kekesalannya bisa dialihkan ke arah positif.
Drrrrrt… Drrrrttt…
Baru saja ia mau meletakkan piring-piring kotor itu di tempat cucian piring, getar ponselnya mengalihkan perhatiannya. Gadis ini merogoh kantung celananya dan membuka ponsel ber-casing merah itu. Senyum di bibirnya mengembang dengan lebar tatkala membaca nama si pengirim pesan.
"Sasuke-kun..." gumamnya. Lantas ia langsung membalas pesan singkat Sasuke yang isinya menanyakan apa yang Sakura sedang lakukan.
Drrrrt… Drrrrrttt…
Ponselnya kembali bergetar. Sakura menunda untuk membuka ponselnya karena ia ingin menyelesaikan pekerjaannya dulu. Gadis ini tidak mau mengambil resiko dimarahi oleh bosnya yang super duper galaknya minta ampun.
Mengingat Temari membuat Sakura mengingat Gaara, si adik dari bosnya yang galak namun berkepribadian dingin minta dihajar. Sakura menghembuskan napasnya, kemudian melanjutkan kegiatan mencuci piring.
Setelah mengeringkan tangannya dicelemek yang ia pakai, Sakura ke luar dari dapur dan melihat keadaan restoran yang tinggal beberapa orang saja menikmati makanan mereka. Mahasiswi jurusan Bimbingan dan Konseling ini berjalan menuju suatu meja yang terletak di pojok ruangan.
Sakura menghenyakkan dirinya di kursi tersebut dan mengambil ponselnya dari saku celana. Dengan senyum merekah dan hati berdetak kencang, Sakura membuka ponselnya. Matanya bergerak membaca setiap kata yang berderet di layar ponselnya. Tidak lama kemudian air mukanya berubah menjadi lebih pilu dari tadi pagi. Senyum yang merekah bak bunga mawar di musim semi kini telah layu.
Kristal bening bernama air mata tidak dapat menahan diri untuk keluar dari istananya si kelopak mata. Sakura menangis, menangis dan terus menangis hingga bahunya bergetar. Ia telungkupkan kedua tangannya dan membenamkan wajahnya di sana.
Untunglah Sakura mengambil tempat duduk di pojok, sehingga pengunjung restoran tidak ada yang melihatnya berselimut duka seperti saat ini. Kecuali sahabatnya, Ino. Ino yang sedang mencari-cari Sakura akhirnya menemukan Sakura duduk di pojok restoran dengan wajah yang ia benamkan di tumpuan tangannya.
Ino berkacak pinggang melihat Sakura yang ia pikir sedang tertidur. Namun, alisnya mengkerut karena ia melihat bahu Sakura yang begetar. Ino langsung menggerakkan kakinya menuju Sang Sahabat, dan raut wajahnya berubah kaget saat mendengar isak tangis sahabatnya.
"Sakura, kau kenapa?" tanya Ino cemas yang langsung mendudukkan diri di samping Sakura sambil menatap Sakura.
"Sa-Sasuke-kun…" gumam Sakura di sela isak tangisnya.
Tring… Tring… Tring…
Seorang gadis berambut indigo baru saja masuk ke dalam restoran. Ia langsung menuju meja kasir dan memesan beberapa makanan untuk dibawa pulang. Kepalanya celingukan mencari sosok seseorang yang ia kenal. Setelah menemukannya, ia tersenyum dan segera membayar pesanannya sambil menenteng bungkusan itu menuju sebuah meja di pojokan ruangan.
"Ino-chan, lama tidak berjumpa," ucapnya pada Ino yang sedang mengusap bahu Sakura.
Ino segera menolehkan kepalanya dan melihat Hinata yang sedang berdiri di sampingnya. "Hinata."
Hinata mengernyitkan alisnya saat dilihat muka Ino yang kusut. Ia juga mendengar isak tangis dari seseorang, dan lagi-lagi ia bingung melihat keadaan di depannya. Sakura yang membenamkan kepalanya di atas lipatan tangan dengan bahu bergetar dan isak tangis menyayat hati.
"Sakura-chan, kenapa menangis?" tanya Hinata yang juga sudah duduk di samping Sakura.
"Sa-Sasuke-kun," gumam Sakura terputus-putus karena isakannya.
Ino mencoba membangunkan posisi Sakura sehingga ia dan Hinata dapat melihat jelas wajah Sakura yang sudah basah karena air matanya sendiri. Ino dan Hinata merasa sedih melihat sahabat mereka yang terlihat rapuh sekali. Sakura yang mereka kenal selama ini adalah Sakura yang kuat dan selalu ceria. Kini di hadapan mereka, mereka dapat melihat jelas sisi rapuh seorang Haruno Sakura.
"Kenapa dengan Sasuke?" tanya Ino.
Hinata mengeluarkan tisu dari tas kecilnya dan menyodorkan pada Sakura. Sakura menerima tisu itu dan langsung menghapus air matanya.
"Di-dia hiks… me-mutuskanku. Hiks… Hiks…" Ino dan Hinata tersentak kaget. "di SMS," dan Sakura kembali terisak.
Ino segera menyambar ponsel Sakura yang tergeletak di atas meja dan membaca pesannya.
From: Sasuke-kun
Sakura, hubungan kita sampai di sini saja. Aku sudah tidak kuat lagi dengan hubungan ini. Aku tidak bisa menjadi seperti yang kau inginkan. Aku lelah. Aku ingin kita berakhir. Aku memutuskanmu karena aku sayang padamu dan aku tidak ingin membuatmu terluka lebih dalam. Semoga kita tidak menjadi musuh kelak. Maafkan aku.
"Apa-apaan dia memutuskanmu lewat SMS!" geram Ino. "'aku tidak bisa menjadi seperti yang kau inginkan'? Bukankah selama ini dia yang selalu memaksamu menjadi seperti yang dia inginkan? Lucu sekali Si Uchiha ini memutarbalikkan fakta!" Ino memandang pesan dari Sasuke dengan kekesalan yang memuncak.
Sakura menangis semakin histeris saat mendengar perkataan Ino. Ia merasa takdir mempermainkannya. Ia yang tersakiti saat ini, kenapa seolah Sasuke yang tersakiti? Kenapa seolah Sasuke yang benar dan paling sabar? Dan kenapa Sasuke mengatakan kalau ia memutuskan Sakura karena dia sayang pada Sakura.
Bullshit! Persetan dengan alasan yang dibuat-buat itu! Katakan saja jika ia bosan. Katakan saja jika ia sudah mempunyai gadis lain di hatinya. Tidak usah mengatakan sesuatu yang semu, yang jelas tidak terkandung nilai kebenarannya. Jika ia sayang, seharusnya Sasuke mempertahankan hubungannya dengan Sakura, bukan memutuskannya. Alasan konyol yang tidak masuk akal!
"Sakura-chan…" Hinata mengelus punggung Sakura dengan lembut.
.
.
.
"Sudahlah, Sakura. Jangan menangis lagi. Cowok seperti itu tidak pantas kau tangisi," ucap Ino dengan mengelus rambut Sakura.
"Hiks… aku sial sekali hari ini. Sudah tadi pagi aku melihat Si Cowok Kutub dengan pacarnya mesra-mesraan, eh sekarang aku diputusin!" keluh Sakura dengan aura yang sangat menyedihkan.
Hinata dan Ino yang mendengarnya terlihat tersentak. Mereka berdua bisa mengerti apa yang Sakura rasakan. Kasihan sekali sahabat mereka saat ini, tapi mereka yakin sahabat mereka ini mampu melewati semua ujian ini.
"Sakura-chan, kau percaya takdir 'kan?" tanya Hinata dengan lembut yang mampu membuat Sakura menoleh dan menghentikan tangisnya. "suatu saat nanti takdir akan mempertemukanmu dengan sesosok laki-laki yang akan mencintaimu seutuhnya dengan tulus," hibur Hinata.
"Benar," sahut Ino. "sudah jangan menangis lagi! Mana Sakura yang tegar? Kalau kau menangis seperti ini, kau terlihat jelek sekali, jidat!" canda Ino.
"Geez!" Sakura bersiap menjambak rambut Ino jika suara seseorang tidak membuatnya berhenti.
"Haruno-san, kau lihat kakakku?" ketiga gadis itu segera menoleh ke belakang dan melihat Gaara yang berdiri dengan gaya stoic-nya. Pandangannya lurus menatap Sakura yang kelihatan sangat terkejut. Matanya sedikit menunjukkan ekspresi heran saat melihat keadaan buruk Sakura yang habis menangis.
Gaara memerhatikan Hinata dan Ino yang duduk di samping Sakura, kedua gadis itu terlihat membuka mulut mereka lalu menutupnya lagi. Sementara Sakura membelakangi Gaara—menghapus air mata dan main mata dengan kedua sahabatnya. Gaara dengan sabar menunggu jawaban dari satu-satunya yang ia tahu namanya sebagai pegawai di restoran kakaknya ini.
Setelah merasa air mata terhapus dari pipinya, Sakura memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Gaara. Ia mencoba tersenyum meski rasanya perih di dalam hati.
"Temari-sama ada di dapur. Mari kuantar ke sana," ucap Sakura yang hendak meninggalkan meja tempat ia menangis nanti. Sekilas ia mendengar Ino berucap, "kau gila?" sambil melotot padanya. Sedangkan Hinata hanya menatap nanar pada Sakura, seperti Sakura menawarkan dewa kematian untuk menyabut nyawanya.
Gaara yang melihat reaksi kedua teman Sakura tampak heran dan bertanya-tanya ada apa dengan gadis berambut merah muda di depannya ini?
"Tidak perlu, Haruno-san. Aku bisa ke sana sendiri, terima kasih." Gaara pun beranjak dari tempatnya berdiri meninggalkan Sakura dan kedua sahabatnya yang menghela napas lega.
"Dia dengar pembicaraan kita tidak, ya?" gumam Sakura. Ino dan Hinata mengangkat bahu mereka.
"Aku tidak tahu, tapi jika dia mendengar juga dia tidak akan paham dengan apa yang kita bicarakan. Kau 'kan menyebut 'Cowok Kutub' bukan 'Gaara'," sahut Ino. Sakura terdiam mendengar ucapan Ino dan sedikit banyak ia bersyukur karena menggunakan istilah lain untuk menyebut nama Gaara.
"Hm… kalau kau sudah lebih tenang, aku mau pamit duluan, ya? Neji-nii pasti sudah menungguku—err lebih tepatnya menunggu pizza ini," kata Hinata sambil mengangkat pizza-nya. Sakura jadi merasa tidak enak pada Hinata, pasti kakak sepupunya yang sister complex itu uring-uringan menunggu Hinata pulang.
"Gomen, Hinata. Aku jadi membuatmu lama di sini," sesal Sakura.
"Iie. Aku justru akan merasa menyesal jika sahabatku sedang sedih, aku tidak ada di sampingnya," sahut Hinata yang kemudian berdiri dan diikuti Sakura juga Ino.
Sakura dan Ino mengantar Hinata hingga pintu depan restoran. Saat mereka membuka pintu tampak sebuah sedan hitam berhenti tepat di depan pintu restoran, dan kaca di mobil tersebut diturunkan hingga terlihat wajah tampan sepupu Hinata, Hyuuga Neji. Benar 'kan kata Sakura, Neji itu sister complex tingkat akut. Baru satu jam Hinata ke luar rumah, kakak sepupunya itu sudah mencarinya.
"Lama sekali," ucap Neji pada Hinata.
"Gomen," sahut Hinata yang sedikit menunduk.
"Ini bukan salah Hinata, Neji-san. Gomen,aku yang membuatnya jadi terlambat pulang," kata Sakura sambil membungkukkan badannya sedikit.
"Aa," jawab Neji sambil memandang Sakura dan menggendikkan kepalanya ke Hinata—menyuruhnya masuk ke dalam mobil.
Hinata memutari moncong mobil dan masuk ke dalam sedang mewah tersebut. Sakura dan Ino bisa melihat Hinata melambaikan tangannya pada mereka, mereka berdua pun membalas dengan melambaikan tangan juga.
Neji menutup kaca mobilnya dan sayup-sayup dia mendengar suara Sakura dan Ino yang berteriak, "Hati-hati!"
Di dalam restoran terlihat Gaara yang sedang berdiri di dekat jendela, memerhatikan kedua gadis itu—lebih tepatnya Sakura—yang terlihat berbeda hari ini. Yah, dia memang tidak terlalu kenal dengan gadis itu, tapi entah kenapa kesan yang melekat di hati dan otaknya ketika melihat gadis itu adalah Sakura tipe cewek yang tegar dan ceria.
Gaara tahu dan sadar betul kalau tadi Sakura habis menangis. Ada perasaan ingin tahu lebih kenapa cewek aneh yang mengatakan Gaara 'dingin' itu bisa menangis hingga membuat matanya sembab dan membuat penampilannya kacau.
Gaara menggelengkan kepalanya saat menyadari dirinya sudah mulai terjerat dalam sosok Sakura.
Drrrrt… drrrtttt… drrrrtt…
Ponselnya terus bergetar di dalam saku celana, Gaara segera mengambil ponsel tersebut dan tertera nama kekasihnya di layar ponsel itu. Tak menunggu lama, Gaara langsung menjawab panggilannya.
Sakura dan Ino yang baru masuk kembali ke dalam restoran melihat Gaara yang sedang bertelepon. Ino segera pergi ke dapur karena harus membantu sang koki membersihkan dapur, sementara tugas Sakura adalah membersihkan restoran.
"Aku sedang di restoran kakakku. Iya nanti aku pulang, kau tidak usah khawatir. Iya, aku juga merindukanmu."
Sakura mengurucutkan bibirnya mendengar Gaara yang sedang bicara di teleponnya. Pasti ia sedang bicara dengan pacarnya itu. Oh Kami… Mereka 'kan tadi pagi sudah bertemu, kenapa sudah kangen-kangenan begitu sih? Membuat kuping Sakura terasa terkena radiasi nuklir saja.
Tanpa sadar Sakura sedang mencelup-celupkan alat pel di ember dengan kasar sampai air yang ada di ember keluar ke mana-mana dan menyebabkan lantai sangat basah. Sakura terus menggerutu sendirian saat terakhir kali ia dengar Gaara mengatakan "aku juga mencintaimu" pada pacarnya di seberang telepon sana.
"HARUNO SAKURAAAA!" teriak Temari yang mendelik melihat lantai restorannya banjir buatan dari Sakura.
Tubuh Sakura menegang dan melihat lantai restoran yang sudah basah oleh air pelnya. Dengan menelan ludah, Sakura menolehkan kepala pelan-pelan ke sumber suara.
"Temari-sama kok belum pulang?" tanya Sakura gugup setengah hidup.
Temari berjalan dengan berkacak pinggang dan menghentakkan kakinya ke arah Sakura. "Untung aku belum pulang! Aku tidak bisa membayangkan jika aku di rumah sedangkan kau membuat restoranku banjir!" teriak Temari mencapai nada delapan oktaf.
Apa yang Sakura lakukan? Tentu saja dia hanya nyengir sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf 'V' di depan Temari, dan itu membuat darah Temari berdesir di kepala. Lalu Gaara? Ah~ diam-diam dia menikmati hiburan langsung di depannya ini dengan senyum geli.
.
.
.
Rutinitas harian kembali Sakura lakukan dan kini ia sudah terbiasa dengan melihat pemandangan kemesraan Gaara dengan pacarnya yang ia tahu bernama Matsuri itu. Hampir tiap hari dia melirik Gaara yang ke mana-mana selalu berdua dengan pacarnya. Dan ia tahu Gaara pasti menyadarinya.
Kali ini Sakura menempelkan sebuah permen lollipop besar di loker Gaara, tentu saja setelah ia memastikan keadaan sepi dan tidak ada satu pun yang melihatnya melakukan hal itu. Sejujurnya, di dalam hati kecil Sakura ia merasa bersalah pada Matsuri karena ia menyukai pacarnya. Tapi, hatinya tidak mampu berbohong dan menutupi perasaan suci itu.
Menghela napas berat, Sakura akhirnya meninggalkan loker Gaara dan melangkah dengan berat. Ia sadar, ia tidak boleh terus seperti ini. Sudah dua bulan dia menjadi secret admirer Gaara, dan dia tahu selamanya ia akan menjadi secret admirer saja karena hanya ada Matsuri di hati Gaara.
Sakura juga tidak mau dibilang sebagai perusak hubungan orang lain jika nanti seandainya Gaara berbalik dan melihatnya. Tidak, tidak! Sakura juga seorang perempuan, dia bisa mengerti perasaan Matsuri jika ada gadis lain yang diam-diam menjadi pemuja rahasia pacarnya dan setiap hari menghadiahkan lollipop atau cokelat ke loker pacarnya.
Sakura menengadahkan kepalanya dan memandang langit biru dengan awan yang berarak di atas sana. Mulai saat ini ia memutuskan untuk berhenti menjadi secret admirer seorang Sabaku Gaara. Ia tidak mau menyakiti Matsuri. Dan ia tidak mau menyakiti perasaannya sendiri. Biarlah waktu yang menghapus benih-benih cinta yang mulai tumbuh di hatinya. Biarlah angin yang membawa rasa rindunya pada sosok berambut merah itu. Dan biarlah Ia, Tuhan, Ino dan Hinata yang tahu bahwa Haruno Sakura jatuh cinta pada Sabaku no Gaara.
.
.
.
Satu tahun kemudian…
Demi Kami-sama, Sakura akan menjitak Tenten jika ia bertemu dengannya nanti. Bagaimana Sakura tidak kesal pada temannya yang mempunyai garis keturunan Cina itu jika ia selalu memberitahukan Sakura jika ada rapat senat satu jam sebelum rapat itu dimulai?
Sekarang Sakura berlari menuju ruang senat yang berada di sisi kiri gedung kampus. Yah, ruangan itu memang terpisah dari gedung kampusnya. Sakura harus melewati lorong sebelum berbelok ke gedung senat. Ia kembali melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 10.05 pagi yang berarti rapat sudah dimulai lima menit yang lalu.
"Sial! Awas kau, Tenten!" geram Sakura tanpa melihat ke depan dan insiden tabrakan pun kembali terjadi.
"Kyaaaaa!"
Greb!
Sakura pikir ia akan terjatuh ke belakang, tapi nyatanya ia malah terjatuh ke depan dan menyium parfum aroma maskulin yang biasanya dipakai oleh laki-laki. Kedua tangannya berada di dada bidang lelaki tersebut, sebelah tangan kirinya di genggam oleh lelaki ini.
Sakura mendongakkan kepala untuk melihat siapa cowok baik hati yang menolongnya ini. Rambut merah. Wajah datar. Tato 'Ai'. Astaga! Itu Sabaku Gaara!
Iya, Sabaku Gaara yang 'dulu' pernah jadi orang berarti untuk Sakura. Sabaku Gaara yang setiap hari diberikan lollipop atau cokelat di lokernya oleh Sakura. Sabaku Gaara yang sempat menanyakan identitas Sakura disaat Sakura memutuskan untuk berhenti jadi secret admirer-nya sehingga Sakura tidak menjawab pesan singkat itu. Sabaku Gaara Si Adik kesayangan bosnya yang galak itu.
Deg deg…
Jantung Sakura berdetak kencang menyadari posisinya saat ini dengan Gaara. Sakura berpelukan dengan Gaara. Oh my… dari dulu Sakura selalu mengharapkan hal ini, tapi kenapa ia menjadi tidak enak ya saat bayangan Matsuri melintas di otaknya.
"Go-gomen," ucap Sakura terbata sambil mundur beberapa langkah sehingga Gaara melepaskan genggamannya di pergelangan tangan Sakura.
"Ya," sahut Gaara yang masih berdiri di depan Sakura. Ia memerhatikan Sakura dari ujung rambut hingga ujung kaki. Penampilan Sakura kali ini terlihat berbeda, ia terlihat lebih feminin.
"Arigatou sudah menolongku. Permisi," lanjut Sakura yang merasa risih diperhatikan oleh mantan pujaan hatinya itu.
Gaara memutar tubuhnya dan terus memandang Sakura yang berjalan cepat melewati lorong. Ia memandang telapak tangan kanannya tadi yang ia gunakan untuk menggenggam pergelangan tangan Sakura. Wangi sampo Sakura juga masih jelas tercium di hidungnya dan entah kenapa ia ingin merasakan wangi itu lagi di dekatnya.
.
.
.
Sakura duduk dengan gelisah di kursinya. Bagaimana tidak gelisah jika di samping kanannya adalah Gaara dan di samping kirinya adalah Matsuri. Sakura melirik Tenten yang duduk di seberangnya dipisahkan oleh sebuah meja oval yang besar. Terlihat Tenten yang mengatupkan tangannya memohon maaf pada Sakura yang menatapnya dengan bola mata yang bisa saja keluar.
Jika seandainya ia tidak datang terlambat, tidak mungkin ia duduk di antara pasangan ini yang membuat Sakura menahan rasa nyeri di hatinya. Sakura juga merutuki dirinya yang tidak membaca agenda rapat kalau hari ini rapat besar dengan tiga fakultas lain membahas tentang pelatihan calon pengurus senat berikutnya yang akan diadakan sebulan lagi.
Oke, Sakura memang Ketua Senat di Fakultas Ilmu Sosial, tapi seorang ketua bisa saja lupa dan err… ceroboh 'kan? Sekarang Sakura terjebak sebagai tembok penghalang pasangan ini. Oh, damn it!
"Sebagai ketua pelaksana acara kali ini, kami percayakan kepada Haruno Sakura dan wakilnya Sabaku Gaara." Suara seorang laki-laki yang terlihat malas dengan rambut nanasnya terdengar sampai di telinga Sakura.
"Tunggu!Apa tadi katanya? Aku ketua dan wakilnya Sabaku Gaara?" Sakura mengerjapkan matanya berkali-kali sampai akhirnya ia sadar sepenuhnya jika wakilnya benar-benar Sabaku Gaara yang duduk di sampingnya.
"Oleh karena itu, ketua dan wakil diharap segera menyusun kepanitiaan dan membuat rencana—"
"APA?" pekik Sakura.
"Mendokusai, ada apa Sakura?" tanya kepala nanas itu dengan malas. Ketahuan sekali ia ingin rapat ini cepat-cepat selesai.
"Shikamaru-senpai, kenapa aku?" tanya Sakura dengan menunjuk dirinya sendiri. Sebenarnya ia ingin menanyakan 'Kenapa wakil ketua itu Gaara?'
Shikamaru menyenderkan badannya di kursi dan memandang malas Sakura. "Karena sebagian besar peserta rapat mengusulkan namamu sebagai ketua pelaksana mengingat kau mempunyai jiwa pemimpin yang bagus dari acara Korean Festival kemarin," sahut Shikamaru.
"Tapi itu 'kan acara Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) kami. Itu hanya acara kecil—"
"—Itu acara besar, Sakura. Jangan merendah lagi, kau punya kemampuan yang kompeten untuk menjadi ketua pelaksana," sela seseorang berambut merah yang duduk di samping Shikamaru.
"Tapi, Sasori-senpai—"
"Tidak ada tapi-tapian. Keputusan sudah bulat, dan kau dengar tadi Ketua Umum Senat sudah mengatakan apa?" tanya Sasori sambil melirik Shikamaru yang menggumam 'Mendokusai' lagi.
"Aa…" akhirnya Sakura hanya dapat mengeluarkan satu kata itu dan mendesah. Gaara yang berada di sampingnya melirik Sakura yang kelihatan pasrah menerima keputusan kedua seniornya itu.
.
.
.
Bletak!
"Aduh, Sakura! Kenapa kau menjitakku? Kau sudah feminin begini tapi kelakuanmu tetap kasar, ya?" gerutu Tenten sambil mengelus kepalanya yang baru saja kena jitakan maut Sakura.
"Kau 'kan sekretarisku, kenapa selalu memberitahuku sejam sebelum rapat dimulai?" sungut Sakura yang melipat kedua tangannya di bawah dada. Mereka berdua sedang berjalan menuju kantin.
"Kukira kau sudah membaca agenda rapat," sahut Tenten.
"Kau tahu sendiri aku malas mencatat," jawab Sakura.
"Kalau begitu kenapa kau menyalahkanku?" sungut Tenten.
"Karena kau adalah sek-re-ta-ris-ku Sang Ketua Senat Fakultas Ilmu Sosial, jadi untuk apa aku mencatat?" Tenten memutar kedua bola matanya, selalu saja ia kalah berdebat dengan Sakura.
"Kenapa? Apa salahku, Gaara-kun?" Sakura yang mendengar suara gadis menyebut nama Gaara langsung bersembunyi di balik tembok dan menarik tangan Tentan agar ikut dengannya bersembunyi.
"Geez! Kenapa kau menarik—" Sakura langsung membungkam mulut Tenten dengan telapak tangannya.
"Ssssttt! Jangan berisik!" bisik Sakura dan kembali memasang telinga.
"Ada apa sih, Sakura?" bisik Tenten setelah berhasil melepaskan tangan Sakura yang membungkamnya, namun hanya dijawab dengan Sakura yang meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya menyuruh Tenten diam. Tenten pun diam dan memasang telinganya baik-baik seperti yang Sakura lakukan.
"Maaf, Matsuri. Aku tidak ingin menyakitimu. Lebih baik kita berpisah saja," ucap Gaara.
Sakura membulatkan matanya dengan mulut sedikit terbuka, begitu juga dengan Tenten. Kata-kata Gaara mengingatkannya pada saat Sasuke memutuskannya setahun silam. Apa semua cowok kalau putus seperti itu, ya? Cih! Bullshit! Sakura jadi merasa kesal dengan Gaara.
"Tapi apa salahku?" tanya Matsuri yang mencoba memegang lengan Gaara namun Gaara menghindar. Terlihat raut kekecewaan di wajah manis Matsuri.
"Waktu yang akan menjawabnya," sahut Gaara yang perlahan pergi meninggalkan Matsuri. Matsuri sendiri mulai menitikkan air mata dan terisak.
Sakura dan Tenten yang menguping pembicaraan Gaara dan Matsuri segera menjauh dari tempat kejadian. Mereka tidak ingin jika ada yang melihat mereka sedang menguping dan tersebar gosip tidak baik soal mereka.
Sakura dan Tenten memutuskan untuk memutar jalan untuk ke kantin. Keduanya berjalan dalam diam hingga saat dibelokan lorong, Tenten membuka mulutnya.
"Waktu itu aku melihatnya," kata Tenten agak ragu.
Sakura tetap menatap lurus ke depan sambil memikirkan alasan Gaara memutuskan Matsuri. Namun ia tetap mendengarkan Tenten bicara.
"Melihat apa?" Tanya Sakura.
"Matsuri dan Sasori-senpai berciuman."
Langkah kaki Sakura langsung berhenti mendadak setelah mendengar apa yang Tenten ucapkan. Ia langsung menghadapkan tubuhnya dan memegang pundak Tenten agar cewek bercepol itu berhadapan dengannya pula. "Kau melihatnya apa? Di mana? Kapan?" tanya Sakura dengan menghentakkan tubuh Tenten membuat Tenten mengaduh.
"Aduh, sakit, baka!" Tenten melepas paksa tangan Sakura yang mencengkram bahunya. Dilihatnya Sakura yang terlihat penasaran sekali dengan info yang baru saja Tenten berikan tadi. "Matsuri dan Sasori-senpai berciuman di ruang senat sebulan yang lalu saat Korean Festival."
"Apa?" gumam Sakura tidak percaya.
"Sakura!" seseorang berjalan dengan santai menghampiri Sakura dan Tenten yang berdiri di tengah lorong saling berhadapan. Senyumnya terus terpatri di wajahnya yang tampan itu.
Sakura dan Tenten menoleh ke sumber suara yang menyerukan nama Sakura. Sakura mengerjapkan matanya berkali-kali melihat laki-laki yang sudah berdiri di depannya.
"Sai?"
.
.
.
TBC
.
.
.
a/n: fiksi ini saya edit ulang lagi dan bodohnya author note di episode 4 ini hilang. Saya juga nggak punya back up-annya yang dulu. Hehehe... maaf ya buat readers yang balasan reviewnya hilang di episode ini. Pokoknya terima kasih udah mereview fiksi saya :D
