NCT DREAM UNOFFICIAL COUPLE
PRESENT
MARK
CHENLE
AND OTHER NCT DREAM MEMBERS
U NEVER EVER FIND YADONG IN THIS STORY COZ NO ONE CAN SEXUALIZE URI DREAMIES BABIES UNTIL THEY 40!
Happy Reading tizennie^^
...
...
...
seperti slow motion mark datang di kantin bersama teman temannya, dan tidak menyadari dua orang yang jadi buah bibir Chenle dan Jisung ada juga menyesaki kantin ini, semuanya menjadi kasak kusuk, Mark yang tak tahu apa apa terlihat sibuk mengikuti temannya mencari meja, jam makan siang memang selalu ramai, jadi mereka tampak sabar menemukan meja dan tempat yang tepat,
Sermentara Chenle dan Jisung membelakangi kehadiran Mark dan teman temannya yang sudah mengambil meja, mereka masih sibuk mengambil tempura dan kawan kawannya untuk teman makan ramen.
"Mark? Gwenchana?"
Teman Mark menunjuki dua bocah itu dengan dagunya, sementara Mark masih mencari cari siapa yang mereka maksud
"waee?"
Tak hanya teman Mark namun beberapa disekeliling mereka menunggu reaksi Mark saat melihat Chenle dan Jisung, mereka terlihat sibuk mencari meja dengan membawa nampan mereka masing masing, tapi entah disadari atau tidak, Jisung dan Mark sempat saling melihat satu sama lain,
...
...
...
"siapa cepat dia dapat! Hehe""
Jisung dengan gesit menyalip bangku milik Chenle yang nyaris ia duduki,
"Ungkapan apalagi ituu !?"
Gerutu Chenle sedikit kesal namun mengalah, dan mengambil tempat tepat di hadapan jisung
Jisung hanya terkikik jahil dengan senyum gummynya,
Seakan mengerti maksud teman temannya, Mark mencoba tidak peduli, ia lega karena Chenle duduk membelakanginya, bahkan belum tahu dia juga ada disini , gugup dengan sedikit rasa cemas karena bukan tidak mungkin mereka akan berpapasan, belum lagi ia menjadi sedikit kesal dengan pria berambut biru itu, lagi lagi mereka bertemu,
Chenle begitu senang berada di sekitar Jisung, terlihat dari seringnya ia tertawa, apapun yang Jisung ceritakan padanya akan dia dengarkan dengan saksama, tak habis lelahnya Chenle bercerita dengan Jisung yang selalu menanggapinya dengan tak kalah lucu, Mark yang tadinya tak mau ambil peduli malah sedikit sedikit mencuri pandang lagi ke meja mereka,
"dua orang menggunakan payung, tebak siapa yang basah?"
"Huhh? Apa ini jebakan lagi?"
"tebak saja..."
"aaahhh... Aku tauu! Kalau tebakan ku benar, semua tempura ini milikku?"
"hahaha coba saja" jawab Jisung percaya diri,
"dua orang menggunakan payung di musim panas, sudah jelas tidak ada yang basah, kan tidak hujan hahahaha
"aaaissh... Yaaa... "
"whoooouuuuuu!"
Yaaakkk"
Chenle bertingkah hyper seperti biasa tebakannya kali ini benar dan Jisung menjadi malu, dengan riang gembira tempura itu diambilnya dan tak menyisakan apapun untuk Jisung,
"setidaknya beri aku satu"
"tidak!"
"T.T"
"hahahaa..."
tapi Chenle akhirnya menaruh piring tempura itu di tengah dan mereka makan dengan lahap, tak tahu tatapan cemburu Mark yang sejak dari tadi tak meninggalkan meja mereka,
...
...
...
katakan saja, Mark telah mengakui menyesal memutuskan Chenle, apa yang ia lihat hari ini benar benar melukai hatinya, lebih sesak dari kemarin, terlebih dengan seseorang yang dengan mudahnya membuat Chenle tertawa, mungkin yang paling sakit setelah memutuskan hubungan ini adalah Mark sendiri, Chenle bahkan tidak peduli, pikirannya kacau, hatinya entah kenapa panas sesaat setelah masuk di kantin ini, tawaran kawan kawannya untuk menghiburnya dengan es semangka di kantin malah tidak menghibur sama sekali,
"Mark...? Tidak memakan Es Creammu?"
"sudah mulai meleleh Mark"
"Makan saja punyaku, aku sedang tidak berselera, boleh aku kembali ke kelas?"
teman temannya saling menatap, cukup jelas alasannya, mereka juga sadar telah membawa mark ke tempat yang salah,
Tak berapa lama sebelum Mark hendak beranjak, seseorang yang mengacaukan pikirannya akhir akhir ini berjalan menuju arah meja mereka, bukan, tapi pintu kantin yang searah dari meja tempat Mark dan teman temannya duduk.
Bukankah ini adegan yang paling ditunggu tunggu oleh seisi kantin yang kepo, bahkan teman teman Mark kaget karena ini terlalu cepat dari dugaan mereka, seperti baru saja mereka melihat Chenle mencari tempat duduk, tau taunnya mereka sudah beranjak akan meninggalkan kantin, sudah pasti akan melewati meja mereka,
Chenle sempat tersentak sedikit saat menyadari bahwa mereka akan melewati Mark dan begitu mengenal seseorang yang duduk paling pinggir,
Mata mereka bertumbukan, tepatnya Mark yang berusaha untuk Chenle melihatnya, Chenle diam menunduk tak ada jalan lain, satu satunya jalan menuju pintu kantin adalah melewati deretan meja itu, memutar arah akan terlihat sangat konyol dan Chenle seperti kehabisan gaya, perlahan Jisung menepuk bahunya pelan, menyadari Chenle mengepalkan tangannya kuat kuat karena gugup,
"Kajja.. Kajjaa"
Bisiknya pelan, dan tersenyum, menggantungkan tanggannya di bahu Chenle, bocah itu terlihat tegang, Jisung tahu sekali, bahkan dari awal dia menukar tempat duduknya agar Chenle hanya fokus makan dan tak melihat orang orang di kantin yang heboh melihat kedatangan Mark , namun pada akhirnya mereka memang akan bertemu Mark,
"Mark hyung..."
sapa Chenle akhirnya ia membungkuk sopan dan Jisung mengikut di belakang, tidak ada alasan untuk tak menyapa, hubungan mereka berakhir baik baik, hanya komunikasi mereka yang putus dan baru bertemu lagi setelah hari itu
"hyungdeul..."
Chenle menyapa teman teman Mark juga, dan Jisung mengikuti setiap gerakan Chenle tanpa melepaskan tangannya di pundak Chenle,
Chenle tersenyum menyisakan mata sipitnya yang melengkung lucu, yang nyaris hilang jika ia melengkungkan bibirnya, sedikit salah tingkah entah malu harus melewati barisan sunbae atau, seseorang yang menatapnya dalam, tatapan yang begitu dalam dari Mark, sedikit membuatnya merasa tak berpijak jika ia tak menyadari Jisung menepuk nepuk bahunya untuk tetap terus jalan melewati Mark, mata bening yang indah yang membingkai wajahnya, ia bahkan bisa bercermin saking beningnya, yang tak bosan ia tatap saat mark berbicara, mata yang berbinar lucu bila Mark memujinya manis,
namun itu dulu,
Mark menyempatkan berdiri dan membungkuk dengan sangat sopan, sebenarnya Chenle yang terlalu sopan sedikit melukai hatinya, mereka baru bertemu lagi setelah seminggu dari kejadian itu, belum juga Mark menyapanya Chenle berlalu tanpa memperdulikan mulutnya yang sudah hampir membalas sapaannya, Mark terduduk kaku,
Chenle menyisakan Senyum yang membuatnya tidak bisa tidur saat pertama kali mereka resmi pacaran, senyum Chenle saat Mark mengatakan ingin menjadi pacarnya, senyum Chenle di pagi yang terlalu pagi ketika melihat Mark menghampirinya, senyum Chenle yang membuat moodnya selalu baik.
"si rambut biru itu tinggi sekali yaa...aku baru melihatnya dari dekat "
"tetap kau yang terbaik Mark, dia hanya lebih tinggi"
"bagaimanapun juga, kau yang dikhianati Mark, harusnya tak perlu bersusah payah kau ikut menyapanya, apalagi dia dengan si biru itu"
"kalian sudah salah paham..."
Mark akhirnya bicara setelah agak lama terdiam
"Maksudmu?"
"Chenle tidak memutuskan ku karena Jisung, akulah yang meminta putus karena ingin bersama kalian tanpa di ganggu Chenle"
"MWOOOOOO!"
...
...
...
Mark tidak menyalahkan teman temannya meski teman temannya dengan sangat menyesal meminta maaf hingga membuat Mark meyakinkan dirinya untuk memutuskan Chenle, ini murni dari kesalahan Mark yang terlalu ceroboh,
Sawi sudah menjadi kimchi, bedanya hanyalah, keterlanjuran sawi menjadi kimchi adalah favorit semua kalangan sementara keterlanjurannya hanya berbuah penyesalan,
Pelan pelan mulai dari sekarang ia harus merelakan Chenle atas apapun, padahal semua yang ada pada Chenle semakin membuatnya rindu, cara Chenle tersenyum padanya itu adalah segalanya, matanya melengkung lucu dengan pipi merah muda yang menggmeaskan,
Mark tak yakin akan menemukan pacar perhatian seperti Chenle yang mengerti detail dari semua kecerobohannya sebagai remaja tanggung, tawanya yang unik akan menenggalmakn bola matanya, dan alasan utama ia memutuskan Chenle adalah cerewetnya dan justru itulah yang membuatnya semakin merindukan bocah itu,
Mark memetik pelan gitarrnya, dalam temaran suasana kamarnya, mengingat bagaiman ia dan Chenle waktu itu. Bocah polos itu menyatakan perasaannya tanpa takut di tolak Mark, tapi ia percaya karena ia Zhong Chenle,
Mark terkekeh mengingat kepedean tingkat CEO itu, tanpa sadar ujung matanya mulai basah, ia tak pernah mengucapkan rindu bila Chenle mengatakan rindu padanya, dan sekarang, bila tidak terlambat seribu kali pun Chenle meminta mengucapkan rindu itu, ia mau melakukannya.
...
...
...
Entah kenapa didepan pintu kelas Mark sudah heboh, Mark yang tidak begitu peduli hanya menyempatkan celingak celinguk seadanaya, bahkan belum masuk lelajaran pertama, tahun ketiga malah menjadi jadi dan asik bermain, Mark menggeleng tak habis pikir,
"Mark! Seseorang ingin bertemu"
"mwo? Aku?"
Mark membulatkan matanya heran,
Ia menengok ke arah pintu tempat teman temannya berkumpul, tidak susah menemukan siapa di pintu itu ia jelas berdiri paling tinggi dengan rambut biru yang menyolok, Mark meremas buku pelajarannya, Jisung membungkuk hormat, ia tersenyum tipis berusaha terlihat ramah dari perawakannya yang kaku,
"Mark Hyung apa kau ada waktu?"
...
...
...
Tbc
...
Bonus
Aku membuatnya dengan ringan, karena tak begitu pandai membuat konflik, ceritanya sangat datar, maaf sekali membuat pembaca kehilangan ekspektasi dalam cerita ini
Terima kasih apresiasinya ^
