Disclamer:

oKuroko no Basuke (c) Fujimaki Tadatoshi.

oBreaking Up is Hard to Do (c) Aimer.

Note: AU. Insya Allah OOC (?). Gender bender. Alternate age; usia karakter rata-rata 23 ke atas. Awas ada typo. EYD yang tak rapih. Majas bertebaran. Bahasa porno /dor/

Pairing: AominexFem!Kise (main) and another pair, that you'll found them later.


Pregnant


IV. Berita

[Kuroko's Happiness]

.

.

.

"Aomine! Jangan lupa siapkan bahan presentasi buat besok!" seru Imayoshi selaku atasan sang calon ayah, Aomine. "Dan aku mau besok kau sudah ada di kantor satu jam sebelum presentasi." Seringai licik terbentuk di bibirnya.

Imayoshi paling senang membuat Aomine panik seperti ini.

Sebagai atasan dia hafal betul kalau Aomine itu tidak bisa datang pagi.

Padahal presentasi-nya itu dimulai jam sembilan. Berarti Aomine harus ada di kantor jam delapan pagi.

Itu memang sudah bisa dibilang bukan terlalu pagi lagi. Tapi namanya juga Aomine. Jam mulai kerja di kantornya itu jam sembilan, dia biasa datang ke kantornya jam sembilan lewat lima belas menit.

Walau pun begitu gajinya tidak dipotong.

Bagaimana bisa? Karena dia selalu menyuruh Ryo Sakurai untuk menggesekan kartu absen miliknya. Dan hal yang lebih menguntungkan adalah, Imayoshi jarang mengecek ruang kerja dimana Aomine berada.

Kalau saja Imayoshi tahu hal itu, mungkin sistem absen kantor akan langsung diganti dengan absen sidik jari.

Aomine menghela napas lalu membalas, "Baiklah, baik."

"Baguslah kalau begitu." Dengan itu Imayoshi meninggalkan ruang kerja anak buahnya dan kembali ke ruang kerjanya.

Begitu sosok bosnya sudah benar-benar menghilang dari pandangan, pria berkulit gelap itu bediri dari posisinya dan mengintip meja kerja yang ada di samping kananya. "Oi, Sakurai. Besok kau tak perlu menggesekan atau apalah itu, kartu absen milikku."

Pria bersurai kecoklatan yang disebutkan namanya mengangguk. "Ba-baik Aomine-san…"

"Oi! Aomine! Hidupkan WiFi-nya!" perintah Hyuga Junpei yang meja kerjanya ada di sebrang meja kerja Aomine.

Meja kerja Aomine tempatnya memang paling strategis. Di ruang kerja itu ada tujuh meja. Nah, dari ketujuh meja itu, mejanya Aomine-lah yang jadi tempat server internet di ruang kerja itu berada.

"Iya… Iya…ah," balas Aomine kemudian dihidupkannya WiFi tersebut. "Udah tuh!" serunya.

Hyuga hanya menggumamkan 'bagus' dan mengangkat ibu jarinya.

Drrt.

Drrt.

~I beg you to~ don't say goodbye~ And kiss me till the nig—

Tanpa berpikir panjang, Aomine langsung menenakan tombol dengan gambar telepon berwarna hijau terangkat.

"Ya halo," kata Aomine.

"Selamat siang Aomine-kun," balas suara di sebrang sana.

Aomine menaikan sebelah alisnya. Mirip suaranya Tetsu, pikirnya. "Siang. Apa ini Tetsu?" tanya pada sang penelpon.

"Ya, ini aku. Maaf aku mengganggumu. Aku hanya mengabarkan sesuatu—"

"Percepat sedikit. Aku ada banyak pekerjaan," gerutu Aomine, kesal.

"Satsuki hamil," balas Kuroko dengan nada datar.

Satu…

Dua…

Tiga…

"APA! SECEPAT ITU!?"

Dua tumpuk kertas memo melayang ke arah wajah Aomine. Yang melempar kertas-kertas memo itu adalah Wakamatsu yang meja kerjanya ada di sebelah kiri Aomine. "AHO! BERISIK AOMINE!"

.::x::.

Makan siang.

At café, near Aomine and Kuroko's offices.

"Jadi Tetsu, Satsuki benar-benar hamil?" tanya Aomine, nada bicaranya bagaikan seorang investigator lalu menyeruput kopi-nya.

Kuroko mengangguk. "Positif." Lalu ia memakan makan siangnya. "Jujur aku sendiri juga awalnya kaget, tapi, ketika Satsuki menunjukan test pack-nya. Aku langsung bahagia," lanjutnya. Walau pun Kuroko bilang dia bahagia, nada bicaranya sama sekali tidak memancarkan kebahagiaan.

Monoton.

Wajahnya juga… expressionless.

Sangat berbeda dengan ekspresi Aomine sewaktu ingin memberitahukan berita kehamilan istrinya ke Kuroko dan Midorima satu minggu yang lalu.

"Ta-tapi bagaimana bisa secepat itu? Apa setelah aku memberitahumu tentang perjuanganku menghamili Ryuka, kau langsung mempraktekan apa yang dimaksud dengan perjuangan itu?" tanya Aomine, penasaran.

Kuroko menggelengkan kepalanya. "Tidak. Ternyata Satsuki sudah hamil dari satu bulan yang lalu. Dia memang sempat bilang padaku kalau dia sudah satu bulan belakangan ini tidak menstruasi," balasnya.

Pria yang menjadi lawan bicaranya mengangguk takzim. "Oho~ Berarti bayimu akan lahir sebulan sebelum bayiku~"

"Itu belum tentu, Aomine-kun. Bisa bisa saja nanti bayiku lahir prematur."

"Prematur itu apa?"

Hening.

Calon ayah yang satu ini memang bodoh. Sepertinya ia tidak pernah mendengar istilah prematur.

"Lahir sebelum waktunya, ya itu sih penjelasan singkatnya."

Sekali lagi, Aomine mengangguk takzim. "Lalu kau mau anakmu nanti perempuan atau laki-laki?"

"Aku belum memikirkan hal itu. Aku dan Satsuki sudah merencanakan untuk tidak melakukan USG. Agar nanti ketika bayinya lahir, akan menjadi kejutan untuk kami," balas Kuroko tenang.

Lalu kedua pria itu memakan makan siang mereka dalam diam.

"Hmm tapi…" Kuroko kembali berbicara. "Kalau bisa sih perempuan."

"Supaya bisa kau hamili, heh?"

"Aku tidak sepertimu Aomine-kun. Aku mau anak perempuan karena alasan tertentu."

"Apa?"

"Entahlah. Ah, waktu makan siang hampir selesai, aku kembali ke kantorku dulu. Sampai bertemu lagi, Aomine-kun." Kuroko melambaikan tangannya dan berjalan menjauh dari kafe tempat ia baru saja menikmati makan siangnya.

Aomine balas melambaikan tangannya. Lalu ia menurunkan tangannya.

Entah kenapa, tiba-tiba saja. Ada sesuatu yang membuatnya gondok.

Nah, iya.

"Tetsu belum bayar makanannya…" Pria berkulit gelap itu menghela napas berat.

.

.

.

.::To be Continued::.


Okki's note: -

Dear reviewers,

Review kalian bikin saya cengar-cengir sendiri. Sampe bingung mau bales apa QwQ Terimakasih udah ngikutin fic ini sampai sekarang~ Terimakasih buat dukungannya! Ini update untuk kalian

Sign,
Okki